Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Wisnu jadi lawan Kala Srenggi


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Wisnu jadi lawan Kala Srenggi...


Secepat Kilat Ki Bujang berganti ajian Ciung macan yang tidak banyak mantra dan gerakan. Dan dengan cepat menyerang Sidiq yang sedang mengambil batu batu di tanah sekitarnya. Ki bujang menyerang sidiq seperti saat menyerang Jagabaya hingga terpental tadi. Dan warga yang melihat pun menjadi sedikit cemas…?!?


Diluar perkiraan Ki Bujang, Sidiq yang tahu perubahan jurus Ki Bujang pun melompat mundur berganti jurus pula. Sambil mundur Sidiq masih sempat melemparkan beberapa batu ke arah Ki Bujang, untuk menahan serangan.


Ki Bujang terpaksa menghindari lemparan batu dari Sidiq. Beberapa detik serangan Ki Bujang tertahan. Sidiq tak ingin membuang kesempatan itu. Dengan gerakan cepat Sidiq langsung mengambil jurus 'Ya'.


Hal itu dilihat oleh Yasin dan dua saudaranya.


"Sidiq anak kamu mewarisi kecerdikan kamu Yasin. Tidak sekedar mengandalkan otot, tapi juga menggunakan akal." Kata Tohari.


"Iya Mas, tampaknya sejauh ini Sidiq masih di atas angin." Sahut Sena.


"Tunggu itu ada yang datang hendak menyerang Sidiq dari belakang." Ucap Yasin khawatir.


Tanpa disadari oleh Sidiq, Kala Srenggi datang menyusul bersama Otang. Dan langsung menyerang Sidiq dari belakang.


Untunglah, Wisnu dan Jafar melihat kedatangan Kala Srenggi bersama Otang.


"Wisnu itu bagian kamu." Kata Jafar.


Wisnu pun dengan cepat menghadang Kala Srenggi dengan tendangan dari samping. Sehingga Kala Srenggi yang tidak menduga mendapat serangan tak mampu menghindar.


Sebuah tendangan keras mengenai rusuk kirinya. Sehingga Kala Srenggi terpelanting ke samping.


Bersamaan dengan itu, Sidiq juga melepaskan jurus 'Ya' pada Ki Bujang. Ki Bujang pun terlempar jauh ke belakang.


Berbeda ketika menerima serangan jurus yang sama dari Lanjar Pamungkas. Serangan jurus yang sama dari Sidiq efeknya membuat Ki Bujang terpental jauh dan merasakan sesak. Sulit untuk bangkit kembali.


Sementara Kala Srenggi menjadi marah besar, merasa dijatuhkan oleh anak kecil. Sehingga dengan menahan Sakit di rusuknya bangkit dan langsung menerapkan Aji Gumbolo Geni.


"Gunakan Lebur Saketi." Teriak Jafar.


Wisnu pun mengikuti perintah Jafar, segera menyambut Aji Gumbolo Geni dengan Lebur Saketi.


Terjadilah benturan dua kekuatan Lebur Saketi milik Wisnu dan Gumbolo Geni milik Kala Srenggi.


Wisnu terdorong ke belakang dan merasakan panasnya Aji Gumbolo Geni. Demikian juga Kala Srenggi terpental ke belakang menahan nyeri di dadanya.


Karena merasa malu tidak bisa mengalahkan Wisnu yang masih bocah. Kala Srenggi pun lari meninggalkan arena pertempuran.


Sementara Otang menolong Ki Bujang dan membawa kabur menyusul Kala Srenggi.


Bahaya yang mengancam dusun tersebut pun telah pergi. Namun dua wanita dusun tersebut sudah berhasil dibawa kabur oleh musuh.


"Terimakasih Mas Sidiq dan semua saja. Akhirnya perusuh itu kabur." Ucap Lanjar Pamungkas.


"Sama sama Paman Jagabaya, apakah semua baik baik saja?" Tanya Sidiq.


"Dua warga kami diculik oleh orang-orang tersebut Mas." Sanusi yang menjawab pertanyaan Sidiq.


"Apa? Dua warga diculik ?" Tanya Sidiq kemudian.


Di saat warga sedang berbicara dengan teman di sebelah nya. Datanglah Yasin, Sena dan Tohari.


"Kamu tidak apa apa Wisnu?" Tanya Yasin yang sedikit khawatir dengan keadaan Wisnu.


"Tidak apa apa Abi Yasin, hanya sempat kaget tadi merasakan panas sesaat." Jawab Wisnu.


"Kenapa bukan kamu saja Jafar, yang menghadapi Kala Srenggi?" Tanya Yasin.


"Jafar yakin Wisnu bisa mengatasi Yah." Jawab Jafar.


Kemudian Lanjar Pamungkas mengajak Yasin dan rombongan untuk bicara di Balai Dusun.


.....


"Apa yang sebenarnya terjadi Pak, kenapa tiba-tiba dusun kami diserang?" Tanya Lanjar Pamungkas.

__ADS_1


"Itu yang masih aku selidiki, dan saat ini kita harus ekstra waspada. Harus gencarkan Siskamling, serta koordinasi dengan Dusun-dusun sekitar." Kata Yasin.


Setelah Yasin merasa cukup memberi penjelasan maka Yasin pun minta ijin untuk kembali ke rumah.


Dengan diantar Lanjar Pamungkas dan beberapa orang sampai ke pintu gerbang Dusun. Yasin beserta saudara dan anak-anak nya pulang ke rumah.


Sidiq berboncengan dengan Jafar, sementara Wisnu ikut bersama Yasin, Sena dan Tohari.


.....


.....


.....


Sementara itu Ki Bujang sudah sampai ke markas persembunyian mereka.


Di sana sudah berkumpul orang-orang yang tadinya bertugas mencari wanita-wanita untuk kebutuhan upacara Pancamakarapuja.


"Kurang ajar, anak Yasin itu ternyata banyak akal. Aku sampai tidak sempat menggunakan aji Gundolo Sosro." Kata Ki Bujang.


"Kamu salah ambil lokasi Ki Bujang, Aku dan Bayu Aji saja dengan mudah membawa empat wanita." Kata Kala Srenggi.


"Mana ngerti aku kalau lokasi itu dekat rumah Yasin." Jawab Ki Bujang.


"Iya sih, tapi aku juga heran munculnya bocah yang sakti juga tadi. Bahkan mampu menandingi Gumbolo Geniku." Kata Kala Srenggi.


"Sudahlah, yang penting acara ritual bisa kita laksanakan lusa. Nanti setelah itu kekuatan kita ajan bertambah dua sampai tida kaki lipat." Ucap Ki Munding.


Semua tersenyum berharap mendapatkan tambahan kekuatan atau kesaktian setelah acara ritual nanti.


"Iya Ki Munding, tampaknya semua sudah siap. Tinggal menunggu waktu 'Purnama Sidi' saja." Ki Marto ikut Menimpali.


"Jangan sampai ada tawanan yang lepas, perketat penjagaan." Ucap Ki Munding Suro.


"Siap Ki Munding, semua tahanan wanita dalam pengawasan. Dan kita juga sudah tempatkan mata mata di jalan jalan menuju kemari." Jawab Ki Marto.


"Harus begitu, semua harus terkontrol dengan baik." Jawab Ki Munding.


"Terus kapan dua murid Ki Munding kembali ke sini?" Tanya Ki Marto.


"Sebelum sore nanti pasti sudah sampai ke sini. Bersama murid kekasihku Wiratmojo." Kata Ki Munding.


"Wiratmojo ?" Tanya Ki Marto.


"Apakah Ki Munding berniat mengeroyok Yasin bersama Wiratmojo?" Tanya Ki Marto kemudian.


Jika terpaksa harus begit bagaimana lagi." Jawab Ki Munding Suro.


"Apakah Ilmu Karang milik Ki Munding tidak cukup?" Ucap Ki Marto.


"Ternyata Yasin itu memiliki Aji Waringin Sungsang. Ajian yang banyak ditakuti oleh golongan seperti kita." Jawab Ki Munding Suro.


"Waringin Sungsang ?" Teriak semuanya kaget.


"Baru dengar ini kami Ki Munding." Ucap Ki Marto.


"Kamu terlalu bangga dengan apa yang kamu miliki. Sehingga tidak tahu dunia luar. Selain Waringin Sungsang ada Gelap Ngampar yang beberapa tingkat lebih tinggi dari Gundolo Sosro. Dan juga masih banyak lagi ilmu lain yang dahsyat." Jawab Ki Munding Suro.


"Maafkan sayt Ki Munding, memang kami kurang wawasan." Jawab Ki Marto.


"Yang penting sekarang persiapkan untuk acara Pancamakarapuja segera. lusa kita segera adakan upacara." Kata Ki Munding Suro.


Mereka pun segera beristirahat agar pagi harinya siap untuk persiapan tempat ritual mereka



Ilustrasi Patung Pemujaan Bhairawa Tantra, Patung yang berdiri di tumpukan tengkorak manusia sebagai simbol kekuatan dan kekuasaan.


.....


.....


.....


Pagi hari di Rumah Yasin


Sambil menyuguhkan kopi Fatimah duduk di samping Yasin suaminya.


"Bagaimana mas sekarang, sudah ada perkembangan kesehatan?" Tanya Fatimah yang tidak tahu peristiwa malamnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah banyak perubahan, meskipun belum tuntas." Jawab Yasin.


"Semalam pada gak tidur ? Kok habis Sholat subuh anak anak tidur lagi ?" Tanya Fatimah.


"Semalam ada insiden di Dusun sebelah, dan anak-anak yang menyelesaikan. Jadi mereka masih capek Mbakyu." Sena yang menjawab Fatimah.


"Insiden apa ?" Tanya Fatimah.


Kemudian Yasin yang menceritakan kejadian yang menimpa Dusun Lanjar Pamungkas. Fatimah mendengarkan dengan serius.


"Jadi semalam kalian juga ikut bertarung?" Tanya Fatimah.


"Tidak, hanya anak-anak saja yang bertarung. Bahkan hanya Sidiq dan Wisnu. Jafar pun hanya ikut nonton." Jawab Yasin.


"Serius Mas Yasin gak ikutan ?" Desak Fatimah.


"Itu saksinya Sena dan Kang Tohari." Jawab Yasin.


"Heran saja Mas Yasin gak ikut terjun." Jawab Fatimah.


"Serius kok Fatimah, suamimu tidak ikut terjun. Tepatnya kami larang karena kondisinya yang masih lemah." Sahut Tohari.


"Kang Yasin, kami mau minta ijin pulang dulu. Takut Dina dicariin Ayahnya. Sudah bolos sekolah hari ini." Tiba-tiba Tabib Ali datang bersama istrinya dan Lita alias Dina. Nama panggilannya di keluarga.


"Kenapa buru buru kang Ali ?" Tanya Yasin.


"Iya, sekalian mau ambil alat Bekam di rumah." Jawab Tabib Ali.


"Kalau begitu biar diantar Sena saja, biar kalian gaj capek. Tapi ngopi ngopi dulu." Jawab Yasin.


Tabib Ali akhirnya mau untuk sejenak menunda buat ngobrol dan ngopi sebentar.


"Sidiq dan Jafar belum bangun Paman Yasin?" Tanya Lita ikutan memanggil Yasin dengan Paman.


"Belum tadi habis Subuh tidur lagi. Mau dibangunin dulu ?" Tanya Fatimah.


"Ganggu enggak Tante ?" Tanya Lita.


" Gapapa panggil Umi saja jangan Tante, Fatimah malu dipanggil Tante, gak biasa soalnya." Kata Fatimah.


"Iya maaf Tan... eeh Umi. Soalnya ada urusan sekolah sebentar." Jawab Lita.


Kemudian Fatimah membangunkan Sidiq, namun Jafar dan Wisnu juga ikut bangun. Menemui Lita juga mama dan Ayah tirinya Lita Tabib Ali.


"Maaf ya Lita, Sidiq bangun kesiangan. Kemarin sudah ijin gak masuk sekolah kok." kata Sidiq.


"Iya gapapa, udah bilang Riska juga belum Sidiq ?" Tanya Lita spontan membuat Sidiq jadi malu.


"Nomor satu kalau itu sih mbak Lita." Jawab Wisnu menggoda Sidiq.


Sidiq hanya melotot pada Wisnu sepupunya itu.


"Sori Diq, Lita keceplosan tapi gapapa kali. Ayah Bunda kamu juga gak marah kok." Kata Lita sambil senyum.


Lita senang bisa menggoda Sidiq ditengah keluarganya. Karena Sidiq tidak berkutik di depan Ayah bundanya. Hanya Lita belum tahu jika Sidiq bukan anak kandung Fatimah.


Kemudian Tabib Ali berangkat ke rumah Lita mengantarkan Lita bersama Sena. Setelah Tabib Ali pergi Sidiq dan Jafar menemui Yasin ayahnya.


"Yah, ada yang Sidiq dan Jafar mau bicarakan." Kata Sidiq.


"Soal apa?" Tanya Yasin datar, Yasin hafal dengan sifat Sidiq. Jadi cenderung lebih lembut jika bicara dengan Sidiq. Takut sifat keras Sidiq semakin jadi jika di kerasi pula.


Kemudian Sidiq menceritakan pengalaman Sidiq dengan Jafar yang dilatih Musashi dengan jurus jurus Ninjutsu. Dan mengutarakan maksud untuk menjenguk Mutsashi dan meminta tambahan jurus untuk persiapan menghadapi musuh yang semakin banyak.


"Jadi yang kamu gunakan untuk melawan Ki Bujang semalam itu jurus jurus Nunjutsu ?" Tanya Yasin.


"Iya Yah, jurus melemparkan senjata rahasia atau yang dinamakan shuriken." Jawab Sidiq.


Akhirnya Yasin pun bersedia mengantar Sidiq dan Jafar menemui Mutsashi. Tentu saja tetap dibawah pengawasan Tohari, karena Kondisi Yasin yang masih lemah.


Maka berangkatlah mereka menuju ke tempat kediaman Mutsashi. Tanpa mereka ketahui jika Mutsashi sudah meninggal karena hara kiri saat bertempur dengan Ki Marto dan anak buahnya...!!!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2