Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pertemuan Fatimah dan Riska Serta Sufi dan Nurul


__ADS_3

...Pertemuan Fatimah dan Riska Serta Sufi dan Nurul...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


Sidiq jadi semakin bergetar, menahan rasa malu...!


"Maaf ada masalah penting, ayah teman Sidiq habis dianiaya Jalu. Dan mohon ijin mau menghadap Abah guru Syuhada. Apakah diperkenankan menghadap sekarang?" Ucap Sidiq.


"Suruh masuk saja sekarang...!" Ucap Kyai Syuhada.


Dan Sidiq pun menemui Pak Lurah Broto Ayah Riska.


Kemudian ayah Riska pun di ajak masuk oleh Sidiq. Untuk menemui Kyai Syuhada. Riska dan ibunya pun mengikuti dari belakang.


Sidiq makin salah tingkah, membayangkan komentar bundanya nanti saat bertemu Riska.


Dan sesampainya di ruang tamu Sidiq pun memperkenalkan Pak Lurah Broto pada Kyai Syuhada.


"Ini Pak Lurah Broto Lurah Desa di wilayah Sekolah Sidiq." Kata Sidiq.


"Owh Pak Lurah,,, ada apa pak berkunjung kemari? " Tanya Kyai Syuhada.


Kemudian Pak Lurah Broto ayah nya Riska menceritakan semua kejadian yang dia alami. Kyai Syuhada pun mendengar cerita ayah Riska dengan serius. Begitu juga, dengan Yasin dan Fatimah serta Tabib Ali dan Arlita istrinya.


"Kalau soal bagaimana menghadapi dan menanggulangi Jalu, itu ayahnya Sidiq yang paham pak Lurah. Kalau soal mengobati sakit akibat pukulan Jalu ada Tabib Ali Akbar, ini ahli pengobatan." Jawab Kyai Syuhada.


"Begitu ya pak Kyai, dengan ayah Sidiq saya sudah kenal. Beliau dulu yang selamatkan anak saya dari penculikan. Kalau dengan pak Tabib saya baru bertemu sekali ini pak Kyai." Jawab ayah Riska.


"Iya pak Lurah, perkenalkan nama saya Ali Akbar biasa dipanggil Tabib Ali. Saya memang suka mengusahakan kesembuhan bagi orang sakit. Tapi sekedar usaha tidak bisa memberi kesembuhan." Kata Tabib Ali.


"Perkenalkan pak Tabib, nama saya Subroto panggilannya Broto. Mungkin saya akan merepotkan pak Tabib, untuk mengobati kepala saya yang sakit." Kata ayah Riska.


"Baiklah pak Lurah, akan saya usahakan." Jawab Tabib Ali.


Kemudian memegang kepala ayah Riska, setelah minta ijin lebih dulu.


Kemudian mengurut sebentar leher belakang ayah Riska. Kemudian memberi bubuk ramuan obat untuk pak Lurah Broto.


"Ini dicampur dengan air hangat, satu sendok teh saja. diminum tiap pagi dan malam hari pak." Kata Tabib Ali sambil memberikan ramuan Herbal pada ayah Riska.


"Terimakasih pak Tabib, sekarang saya sudah agak mendingan. Kepala saya sudah tidak terlalu berat sekarang." Kata Ayah Riska.


"Untuk sekarang minum satu gelas dulu gapapa pak. Biar menghilangkan rasa pusingnya." kata Tabib Ali.


Kemudian Kyai Syuhada memanggil Jafar untuk mengambilkan sir putih hangat. Tabib Ali memberi contoh meracik ramuan obat untuk pak Lurah Broto.


Jafar yang akan kembali ke kamar pun diperintahkan untuk duduk di ruang tamu.


"Kamu jangan pergi dulu Jafar, temani ayah bunda kamu dulu." Ucap Kyai Syuhada.


Jafar pun Duduk, di samping Yasin ayahnya.


Ayah Riska yang barusan minum ramuan obat herbal dari Tabib Ali membuka pembicaraan lagi.


"Terimakasih banyak pak Tabib, dan mohon maaf saya harus bagaimana? Maaf, saya bingung untuk menyampaikan pertanyaan saya." Kata ayah Riska yang maksudnya mau bertanya harus membayar obatnya atau bagaimana.


"Sama sama pak Lurah, pak Lurah tidak harus gimana gimana. Saya suka bisa membantu atau menjadi perantara kesembuhan." Jawab Tabib Ali tersenyum.


"Aduh saya jadi merasa tidak enak merepotkan semua yang ada di sini." Kata pak Lurah Broto ayah Riska.


"Tidak repot pak, yang penting sekarang pak Lurah bicara langsung dengan Kang Yasin. Masalah penanganan orang yang melukai pak Lurah." Jawab Tabib Ali.


Ayah Riska masih agak sungkan dengan Yasin, Karena dulu sempat miss dengan Sidiq juga Yasin. Saat Riska diculik Jalu, dan disekap di markas Ki Marto Sentono.


Yasin pun tahu apa yang di rasakan oleh ayah Riska tersebut. Sehingga Yasin yang mulai membuka pembicaraan,


"Apa kabar pak Lurah, saya turut prihatin atas apa yang menimpa keluarga bapak." Kata Yasin.

__ADS_1


"Alhamdulillah,,, kabar saya baik pak. Terimakasih atas bantuan bapak dulu. Maaf saya tidak sempat berterima kasih." ucap Ayah Riska.


"Tidak usah dipikirkan pak, sudah jadi kewajiban kita saling tolong menolong." Jawab Yasin.


"Saya benar benar malu dan bingung, mau berkata apa?" Ucap ayah Riska.


"Bilang saja pak Lurah, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu pak Lurah?" Tanya Yasin.


Ayah Riska pun menjelaskan kekhawatiran dia pada anak istrinya. Dan minta tolong Yasin untuk menangkap Jalu.


"Itu nanti kita lihat perkembangan berikutnya, dan saya perlu tahu kondisi rumah bapak. Untuk membuat strategi. Jawab Yasin.


" Silahkan pak dengan senang hati jika bapak mau berkunjung ke rumah kami."Jawab ayah Riska.


"Terimakasih, mungkin besok saya akan kerumah Bapak." Jawab Yasin.


Suasana hening sejenak, Sidiq yang jadi kehilangan mood karena malu. Mau mengatakan sesuatu jadi ragu dan hanya gelisah saja.


"Sidiq,,, Bunda lihat dari tadi kamu agak aneh, kenapa?" Tanya Fatimah.


Sidiq pun jadi terkejut di tanya begitu, dan secara spontan menjawab.


"Itu diluar Lita teman saya menunggu mau bertemu dengan Mamanya Lita, istri paman Tabib. " Jawab Sidiq.


"MasyaAllah,,, Lita anakku itu teman sekolah kamu juga?" Ucap Arlita.


"Iya bi, Lita teman sekolah saya dan Riska." Jawab Sidiq,.


"Cepat suruh dia masuk, sekalian semua ajak masuk." Ucap Kyai Syuhada.


Secara Reflek, Riska dan Sidiq Sidiq bangkit bersama mau menyuruh Lita masuk.


"Salah satu saja, biar Putri pak Lurah saja yang memanggil. Kamu disini saja Sidiq, gak usah berduaan terus." Goda Kyai Syuhada membuat Sidiq makin tertunduk malu.


Sesaat kemudian Lita pun masuk bersama Ihsan dan Dina juga.


Dan Terjadilah keharuan ibu dan anak antara Lita dan mamanya. Kemudian Tabib Ali mengajak Lita keluar menemui Vina juga. Sekaligus mengajak Dina juga Riska.


Sehingga diruang tamu Kyai Syuhada tidak lagi begitu ramai.


Dan Ayah ibunya Riska pun mohon diri untuk pulang. Setelah merasa cukup sehat dan bisa setir mobil Sendiri.


"Riska,,, ayah ibu mau pulang apa Riska mau ikut pulang sekarang juga? Atau nanti menyusul?" Tanya ayah Riska.


"Riska mau nginep disini saja yah, ayah pulang sama ibu dulu saja." Jawab Riska.


"Yasudah gapapa, hati hati saja." Ucap ayah Riska.


Kemudian Ayah ibu Riska pun pulang ke rumah nya.


Sementara Riska ikut menemui Lita dikamar Lita.


.....


Sementara diruang tamu Kyai Syuhada tinggal keluarga Sidiq yang ditemani Ihsan dan Kyai Syuhada.


"Jadi itu tadi yang bernama Riska, Pantesan Sidiq jadi salah tingkah. Ada Gadis cantik yang dibawa bawa rupanya." Ucap Fatimah menggoda Sidiq.


Sidiq hanya senyum malu tertunduk tak berani memandang wajah bundanya. "Maksudku membawa ke Pesantren Al-Huda menghindari bertemu ayah bunda malah di Pesantren bertemu ayah bunda, ketahuan juga akhirnya." batin Sidiq.


Sementara Ihsan geli melihat Sidiq tak berdaya jika di hadapan Bundanya.


"Sudah asal gak kelewat batas saja. Sidiq kamu harus bisa menjaga diri dengan wanita." Ucap Yasin.


"Dengerin tuh ayah kamu Sidiq, Abah juga anggap kalian itu hanya cinta monyet. Dan sepertinya Riska pun bukan jodoh kamu." Ucap Kyai Syuhada ikut menggoda Sidiq.


Sidiq tetap tak berani menjawab, meski terkejut dengan ucapan Kyai Syuhada terakhir tadi.


.....


Flashback Saat Yasin dan Fatimah berangkat ke Pesantren Al-Huda.


Fatimah POV


"Mas kita berangkat pagi saja, urusan rumah kita titipkan Sufi dulu." Kataku pada suami ku.

__ADS_1


"Jangan terlalu pagi juga, biar kang Syuhada istirahat dulu. Soalnya kalau malam suka nemuin tamu sampai larut malam. Bahkan kadang sampai pagi." Jawab suami ku.


"Terus jam berapa ke sana nanti?" Tanya Fatimah.


"Menjelang dhuhur saja, sekalian jamaah dhuhur di sana." Jawab suami ku.


Fatimah nurut saja, karena suamiku yang lebih tahu kebiasaan Kang Syuhada. Meski kadang suami ku menjengkelkan, tapi Fatimah juga sangat menghormati dengan cara Fatimah sendiri.


"Mbak Sufi kemarin dengar ada berita kriminal. Ada gadis yang mengalami perkosaan di Desa Sebelah." Kata Sufi uang tiba-tiba datang dari dapur membawa minuman.


"Kamu dengar darimana?" Tanya mas Yasin.


"Dari orang-orang yang belanja mas, semuanya ramai membicarakan itu." Jawab Sufi.


"Kok aneh, kasus perkosaan hampir tidak pernah terjadi di wilayah pedesaan seperti ini...?!? " Kata suami ku.


"Mungkin sudah berbeda mas kondisinya dengan dulu. Sekarang kan Orang-orang makin Nekad." Ucap Fatimah.


"Iya sih, tapi Perkosaan itu kasus yang sangat langka. Bagaimana ceritanya Sufi?" Tanya suami ku sambil menyeruput kopi yang dihidangkan Sufi sepupu jauh suami ku.


"Yang Sufi dengar, gadis itu dibuat linglung dan hanya menuruti permintaan seseorang. Sampai dengan menyerahkan kegadisannya. Dan baru sadar setelah orang tersebut pergi." Jawab Sufi.


Fatimah lihat mas Yasin sampai kaget mendengarnya. Bahkan hampir memuntahkan kopi yang diminumnya.


"Apa,,,? Maksud Sufi gadis itu di gendam? " Tanya Suami ku.


"Kurang lebih seperti itu mas, makanya Sufi masih takut kalau ditinggal di rumah sendirian. Biar Wisnu pulang duku baru mas dan mbak pergi." kata Sufi.


Aku sedikit kecewa, tapi bisa memahami ketakutan Sufi. Karena Sufi memiliki sejarah kelam, pernah diperkosa juga. Yang akhirnya membuat dia terjerumus ke Lembah Dosa.


"Tapi....!?!" Suami ku nau bicara langsung Fatimah potong.


"Sudah mas, kita ikuti permintaan Sufi, yang penting Jafar anak kita sudah jelas baik baik saja." Jawab Fatimah.


Tak lama kemudian muncul Sena dan Nurul, yang datang berdua saja.


Dan Ekspresi kaget dari wajah Nurul dan Sufi membuat suasana jadi sedikit tegang. Aku dan Suamiku serta Sena pun hanya diam menunggu reaksi dua saudara yang pernah bermusuhan tersebut.


"Cia,,,? Ngapain kamu di sini?" Tanya Nurul istri Sena.


Fatimah agak kaget Nurul menyebut Sufi dengan nama Cia. Tapi aku ingat jika Sufi alias Lusy nama panggilan waktu kecilnya adalah Cia.


Sufi hanya tertunduk diam, tak berani menatap Nurul yang masih tampak sedikit menyisakan Dendam.


Kemudian Sufi bersimpuh di hadapan Nurul.


"Cia siap menerima hukuman apapun dari mbak Nurul. Asal Cia masih di perkenankan mengakui mbak sebagai saudara Cia...!?!" Ucap Sufi dengan linangan air matanya.


Nurul diam tidak bergerak dan tidak berkata apapun. Tetap dengan posisi berdiri dan memandang Sufi yang tetap tertunduk.


Kami membiarkan Sufi dan Nurul menyelesaikan masalah mereka Sendiri. Biar tak lagi menyisakan dendam diantara mereka.


"Mbak Nurul...?!? " Cia tahu Cia menjijikkan bagi mbak Nurul. Tapi mbak Nurul tidak usah khawatir, kehadiran Cia di rumah ini dalam rangka mau bertaubat. bukan untuk merusak rumah tangga mas Ahmad Sidiq." Ucap lanjut Sufi.


Fatimah lihat Nurul jadi sedikit luluh, tampak juga linangan air mata menetes di sudut matanya.


Sesaat kemudian Nurul jongkok dan mengangkat tubuh Sufi sampai berdiri.


Diharapkannya wajah Sufi tepat ke arah wajah Nurul. Dan Nurul menatap tajam wajah Sufi.


"Cia...!!! Aku sebenarnya tidak pernah membencimu. maafkan mbak Nurul juga sudah memisahkan ksmu dengan Zulfan adikku." Ucap Nurul sambil memeluk Sufi.


Keduanya pun berpelukan sambil menangis.


Fatimah, mas Yasin dan Sena pun tersenyum lega. Nurul dan Sufi bisa kembali rukun.


Mungkin inilah salah satu tugas suamiku, "Nglumpokke balung pisah. " atau mengumpulkan saudara yang terpisah sesuai perintah Abah guru Thoha...!!!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2