
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Jafar dapat tugas baru...
"Tidak mungkin anak Yasin kembar, kalau kembar berarti anak dia tiga laki laki. Karena waktu itu istrinya hamil. Dan Yasin punya anak dari wanita lain saat itu berumur dua tahunan,” kata Ajar Panggiring.
Â
“Rupanya Ki Ajar ini betul betul paham dengan keluarga Yasin,” kata Gagak Seta.
“Iya, kita jadi lebih tahu siapa dan bagaimana Yasin,” Sahut Jaladara.
“Sudah aku bilang, aku dulu beberapa kali berhadapan langsung dengan Yasin. Dulu kami sebenarnya seimbang, hanya dia lebih licik,” ucap Ki Ajar Panggiring.
Â
Ki Ajar Panggiring kemudian mengajak Gagak Seta dan Jaladara kembali ke tempat persembunyian mereka. Mereka mempersiapkan untuk kembali melakukan ritual, Ajar Panggiring berniat menyelidiki pertahanan Yasin melalui khodam kiriman.
…..
Â
Sementara itu, Jafar seusai melatih Beladiri di Pesantren Al-Huda. Menemui Nisa adiknya. Karena Jafar sangat mengkhawatirkan keselamatan adik gadisnya itu.
“Nisa, tunggu sebentar,” ucap Jafar pada Nisa.
Mereka sudah tidak kikuk lagi, karena seluruh Santri sudah tahu jika mereka kakak adik kandung. Tidak seperti awal awal dulu. Di mana Jafar dan Nisa dikira bukan kakak adik kandung.
Â
“Ada apa Mas Jafar,” jawab Nisa.
“Kamu jangan sering keluar dari pondok, di luar baru tidak aman sekarang,” kata Jafar.
“Nisa kan bisa jaga diri Mas,” Bantah Nisa yang sifatnya cenderung mirip Sidiq.
“Kali ini beda, musuh ayah yang punya ilmu Panggiring Sukma sekarang bangkit lagi,” Kata Jafar.
“Apa itu, serem amat namanya?” jawab Nisa.
"Pokoknya kamu nurut saja kalau dibilangin,” ucap Jafar.
“Gak bisa dong, harus tahu alasannya?” jawab Nisa ketus.
“Dasar kamu, dari dulu selalu bandel dibilangin,” kata Jafar.
“Ya harus lah, Mas Jafar sendiri juga sering keluar kok, sekarang melarang Nisa keluar dari pondok. Kalau ada keperluan bagaimana?’ jawab Nisa.
Jafar hanya geleng geleng menghadapi Nisa adiknya tersebut.
“Begini Nisa, kalau kondisi aman gak papa keluar ke warung atau beli jajan. Tapi saat ini baru bahaya,” ucap Jafar.
“Dari dulu kan, memang selalu ada bahaya Mas, gak hanya sekarang saja?” bantah Nisa.
Â
Kembali Jafar dipaksa harus memutar otak untuk menasehati adik kesayangannya tersebut.
“Kamu tahu gak sih, kalau Mas Jafar tu khawatir sama kamu?” kata Jafar.
“Gak, yang Nisa tahu Mas Jafar tu cuek sama Nisa. Yang Care sama Nisa kan Mas Sidiq bukan Mas Jafar dari dulu juga,” jawab Nisa.
“Ampun deh, menghadapi kamu tuh, Mas Jafar sampai pusing tau gak,” kata Jafar kali ini sedikit membentak Nisa.
“Tuh kan, kalau sama Nisa suka bentak bentak. Mana Pernah Mas Sidiq bentak Nisa?” jawab Nisa.
Jafar jadi berpikir, “Selama ini memang Mas Sidiq terlalu memanjakan Nisa. Aku yang sekarang jadi repot begini,” kata Jafar dalam hati.
“Nisa…Mas Jafar dan Mas Sidiq semua sayang sama Nisa. Hanya berbeda cara. Kalau Mas Sidiq memanjakan kamu, kalau Mas Jafar gak mau kamu terus jadi anak Manja jadi harus ada yang keras sama kamu,”
Â
Kemudian Jafar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dari awal mengikuti Farayaka sampai dengan menangkap Farayaka dan mengajaknya kembali ke rumah. Sidiq dan teman temanyalah yang menghantar Farayaka. Namun Jafar tidak menceritakan kondisi ayahnya yang saat ini sudah tidak seperti dulu lagi, dalam olah kanuragan.
Â
“Kenapa gak bilang dari tadi saja,” ucap Nisa.
“Gimana mau bilang, kamu bantah terus dari tadi,” jawab Jafar.
Saat kakak beradik itu sedang berbincang, datanglah Vina bersama santriwati lain.
__ADS_1
“Jafar, kamu diminta menghadap Abah guru, bersama Nisa adik kamu,” kata Vina.
Â
Melihat Vina yang datang memberi kabar, Jafar jadi ingat saat dikerjain Sidiq dan Lita kakaknya Vina. Jafar jadi merasa kikuk sendiri.
Â
“Mas Jafar, kok diam saja dibilangi Mbak Vina?” tanya Nisa mengagetkan Jafar.
“Iya…maaf, Iya Vina sebentar lagi kami menghadap,” jawab Jafar.
“Kok gugup, baru mikirin yang lain ya?” goda Vina.
Jafar jadi semakin malu, dalam benaknya berkecamuk berbagai perasaan. Jafar jadi semakin malu dihadapan Vina. "Jangan jangan Vina udah dikasih tahu Mbak Lita, kata Jafar dalam hati.
“Apaan sih Vina, dari kemarin di sekolah ngomongnya begitu terus,” jawab Jafar.
“Habis,kamu sekarang banyak melamun, owh iya, bagaimana tadi bisa bertemu Kakak kamu Sidiq?” tanya Vina.
“Iya, bahkan ketemu dengan Mbak Lita dan Mbak Riska juga. tapi semua sudah beres kok,” jawab Jafar.
“Syukurlah, Mbak Dina juga sudah kasih tahu Vina kok, ya sudah Vina ke kamar dulu. Kamu segera menghadap Abah guru sana,” kata Vina.
Vina pun segera meninggalkan Jafar dan Nisa.Makin pucatlah wajah Jafar, apa maksudnya Vina sudah bilang ke Vina? pikir Jafar.
Â
“Eheem…Mas Jafar ada apa sama Mbak Vina?” tanya Nisa.
“Gak ada apapa kok. Kenapa memangnya?” tanya balik Jafar.
“Kayaknya ada sesuatu sekarang,” kata Nisa tanpa ekspresi apapun. Membuat Jafar makin merasa kesal dengan Nisa.
“Udah ah, ayo menghadap Abah gurus sekarang juga,” ajak Jafar.
“Langsung gak mandi dulu?” tanya Nisa.
“Nanti saja Mandinya, kan disuruh sekarang juga,” ucap Jafar.
Mereka pun segera menghadapa Kyai Syuhada Abah guru mereka.
Â
…..
Di ruang tamu Kyai Syuhada
Â
“Iya Bah, terus sebaiknya Nisa mengaku bernama siapa?” tanya Nisa.
“Kalau kamu di luar, mengakulah sebagai Nusaibah,” kata Kyai Syuhada.
Baik Jafar maupun Nisa sendiri kaget mendengarnya, siapa itu Nusaibah Jafar dan Nisa sangat paham. Seorang wanita tangguh di saman Rasulullah. Yang beberapa kali juga ikut berperang melawan kaum Musrikin. Namun Jafar dan Nisa tidak berani menanyakan hal tersebut, kecuali menurut saja.
Â
“Iya Bah, Nisa akan mengaku sebagai Nusaibah,” jawab Nisa.
“Ya sudah, kamu sekarang boleh kembali ke kamarmu, Abah gantian akan bicara dengan Jafar kakakmu,” kata Kyai Syuhada.
Nisa pun segera mohon diri untuk kembali ke kamarnya.
Â
…..
Â
“Jafar, jangan takut capek. Malam ini kamu kembali ke rumah Ayah bundamu. Tapi sebelum subuh sudah harus sampai di pesantren ini,” kata Kyai Syuhada.
“Apa yang harus Jafar Lakukan di rumah Bah?” tanya Jafar.
“Kehadiranmu di butuhkan disana, nanti kamu akan tahu sendiri harus bagaimana,” jawab Kyai Syuhada.
“Apa perlu Jafar mengajak Mas Sidiq Bah?” tanya Jafar.
Kyai Syuhada diam sebentar, baru kemudian menjawab.
“Saat ini belum perlu, mungkin suatu saat kamu dan Sidiq memang harus bersama sama,” jawab Kyai Syuhada.
Â
Jafar pun mengikuti semua perintah dan wejangan Abah gurunya. Kyai Syuhada segera meminta Jafar berkemas untuk pulang ke rumahnya. Dengan meminta agar Jafar jangan terlalu malam sampai dirumahnya.
Â
Jafar pun segera mandi dan berkemas untuk bernagkat ke rumahnya.Demi menjalankan amanah dari gurunya tersebut. Setinggi apapun Ilmu,jika tidak tawadhu’ pada guru, ilmunya tidak akan berkah,Itu prinsip Jafar. Sehingga ketika diperintah guru maka akan selalu siap adanya.
__ADS_1
…..
…..
…..
Â
“Siapkan dupa dan kembang setaman juga kembang tujuh rupa. Aku akan segera mengirim Prewanganku untuk mengamati dan menggangu orang yang ada di rumah Yasin,” kata Ki Ajar Panggiring.
Â
Gagak Seta dan Jaladara pun segera malaksanakan permintaan Ki Ajar Panggiring. Keduanya membantu semua yang diperintahkan Ki Ajar Panggiring.
Â
Setelah semua siap, Ki Ajar panggiring memulai dengan menyalakan Dupa dan Kemenyan jawa. Kemudian duduk bersila, diikuti oleh Gagak Seta dan Jaladara. Ki Ajar Panggiring merentangkan kedua tangannya ke samping, kemudian mengatupkan kedua telapak tangnya di depan dada.
Â
“… ( mantra pembuka dimensi) Eyang Jambrong, eyang Joyo Maruto Eyang Sukmo lelono…( menyebut beberapa nama Khodam yang akan dipanggil ) kawulo nyuwun pitulungan panjenengan. Kawulo bade mendet Sukmanipun lare, supados saget dumugi papan mriki…”
Â
Ki Ajar Panggiring membaca Mantra pemanggil Khodam, yang akan diminta menggagnggu rumah Yasin dan memenggil Farayaka atau Sufi untuk dijadikan alat mereka.
Â
Tak lama kemudian seperti angin kencang datang tiba tiba. Namun hanya disekitar tempat itu saja. Beberpa detik kemudian bermunculan banyak makhluk Astral dengan berbagai wujud.Gagal Sta dan Jaladar sempat merinding, melihat begitu banyaknya makhluk Astral yang ikut hadir tersebut.
Â
“Opo ngger Ajar Panggiring?” sosok menyerupai Joyo Maruto datang.
“Saya mau mengambil salah satu keluarga Yasin eyang, akan saya jadikan alat untuk membalas dendam kepada Yasin,” jawab Ki Ajr Panggiring.
“Agak berat, tapi gak papa dicoba. Tapi besok carilah anak Yasin yang perempuan. Disitulah titik lemah Yasin dan istrinya, jika sudah menyangkut anak gadisnya, mereka akan nurut melakukan apa saja.” Jawab Sosok tersebut.
Â
“Jadi Yasin punya anak gadis Eyang?” tanya Ki Ajar Panggiring.
“Iya, dan selama ini memang mereka rapi dalam menyembunyikan. Sehingga bisa terus aman sampai sekarang.” Ucap Sosok Joyo Maruto tersebut.
“Bisakah saya manfaatkan untuk memanggil orang tuanya agar menurut eyang?” tanya Ki Ajar Panggiring.
Â
“Carilah dulu, anak yang bernama Nisa, satu padepokan dengan Jafar kakaknya. Dua anak Yasin dan Fatimah istrinya dalam satu padepokan tersebut. Melalui dia, itu kelemahan Yasin dan Fatimah istrinya,” ucap Sosok yang menyerupai Joyo Maruto tersebut.
Â
“Baik eyang, tapi biarkan malam ini para prewangan tetap menyambangi rumah Yasin,” ucap Ki Ajar Panggiring.
“Baiklah, biar aku yang perintahkan. Hei Baju barat kalian dengar permintaan Muridku, berngkatlah searang juga,” perintah Sosok Joyo Maaruto tersebut.
Semua makhluk Astral itupun secept kilat, hilang dari pandangan Ki Ajar Panggiring. Beberapa detik kemudian, Sosk Joyo Maruto itupun ikut lenyap.
“Kita tinggal tunggu hasilnya sekarang,” ucap Ki Ajar Panggiring.
“Iya ki, tap yang menarik adalah info tentang anak gadis Yasin itu Ki?” kata Gagak Seta.
“Iya Ki Ajar, besok harus kita cari anak tersebut,” sahut Jaladara.
“itu soal gampang, seorang gadis kecil apa susahnya menangkap,” ucap Ajar panggiring dengan sombongnya…!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏...
Rekomendasi Novel
Â
Â
Â
__ADS_1
Â