Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Berita duka mengejutkan


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Sesampai dirumah, Fatimah segera mengajak Nisa dan Sidiq keluar. Sesuai permintaanku tadi, sementara aku dan Jafar menunggu  tamu itu sambil mengobrol.


“Yah maafkan Jafar, tadi di sekolah di panggil bu Guru karena mas Sidiq berkelahi dengan teman nya yang akan meminta uang jajan Jafar.” Tiba tiba Jafar justru membuka obrolan masalah lain. Mungkin Jafar mengira aku memintanya menemani aku aku akan menginterogasi dia. Jafar berpikir ayahnya sudah dengar masalahnya di sekolah tadi. Aah Jafar Jafar, kamu terlalu lembut nak. Ada baiknya kamu belajar sedikit tegas sama kakak kamu Sidiq…!!!


“Ga papa nak, semua sudah terjadi dan ayah harap kamu juga bisa sedikit tegas tapi jangan sampai seperti kakakmu Sidiq yang terlalu keras. Dan ajarkan sedikit kesabaran pada kakak mu Sidiq.” Jawabku.


“Iya yah.” Jawab Jafar.


“Ayah gak akan bahas soal itu saat ini. tapi sebentar lagi akan ada orang yang ingin bertemu dengan kita nak. Dan orang itu melihat apa yang kamu lakukan saat membantu ayah waktu di pantai dulu.” Kataku pada Jafar.


Jafar Nampak kaget tindakannya di ketahui orang lain.


“Ada yang tahu yah ?” tanya Jafar.


“Iya  nak, tapi kamu tenang saja ayah gak akan biarkan kamu kenapa kenapa.” Hibur ku pada Jafar.


“Jafar gak takut yah, Jafar hanya malu.” Jawab Jafar.


“Gak usah malu nak, itu semua sudah digariskan Allah jika kamu memiliki kelebihan dalam hal itu. saat kamu dalam kandungan ibunda mu sudah di didik dengan suasana yang pahit waktu itu. ayah sering kali meninggalkan bunda mu Maka sangat mungkin Allah memberikan sesuatu kepada kamu yang sudah terlatih dari dalam kandungan dulu.” Ucapku pada Jafar.


“Iya yah, jadi ayah pingin Jafar bagaimana ?” Tanya Jafar lanjut.


“Jadilah dirimu sendiri  Jafar, jangan menjadi orang lain. Ayah bangga kamu jadi anak yang sabar, dan itu adalah sifat nenek kamu dari bunda mu Fatimah yang menurun padamu. Sedangkan sifat mas mu Sidiq lebih banyak menurun dari Ayah yang keras. Tapi kalian bisa saling mengisi dan melengkapi satu sam lain.” Jawabku pada Jafar.


“Apa mas Sidiq juga tahu jika Jafar tiap malam dilatih olah kanuragan yah ?” Tanya Jafar kemudian.


“Sejauh ini belum, tapi suatu saat juga akan tahu. Bukankah kalian dilatih dalam waktu yang bersamaan meski dalam posisi kalian tidak terjaga ?” kataku pada Jafar.


“Jadi mas Sidiq pun beneran ikut dilatih juga yah ?” Tanya balik Jafar.


“Iya, dan Ayah melihat langsung kalian berdua semalam keluar ari rumah dalam keadaan tertidur secara fisik.” Jawabku.


Jafar hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Mungkin juga Jafar sedang memikirkan soal kakaknya Sidiq yang juga ikut di latih bersamanya.


Saat kami sedang berbicara serius tiba tiba datanglah tamu yang tadi menelpon aku saat di kios.


“Assalaamu’alaikum…!” sapa tamuku itu.


“Wa’alaikummussalaam… silahkan masuk pak kami sudah menunggu bapak dari tadi.” Jawabku mempersilahkan orang tersebut masuk ke rumah.


“Nak bikini kopi buat tamu kita ya !” pintaku pada Jafar.


“Iya yah.” Jawab Jafar langsung berangkat ke dapur membuat kopi untuk ayahnya dan tamu. Satu sisi aku bangga punya anak yang begitu penurut seperti Jafar. Namun sisi lain aku suka kasihan karena kesabarannya malah seringkali jadi bahan bullyan teman temannya. Masih untung punya kakak Sidiq yang keras dan selalu siap berjibaku melindungi adik yang disayanginya itu.


“Wah jadi ngerepotin bapak nih.” Ujar tamuku itu basi basi.


“Gak papa pak, sudah kewajiban tuan rumah menghormati tamu.” Jawabku.

__ADS_1


Keluarga yang lain kemana pak kok hanya berdua saja ?” Tanya orang itu.


“Sengaja saya minta keluar rumah dulu pak, maaf sepertinya pak Suhadi ya namanya, saya agak lupa. Punya keperluan khusus hanya pada Jafar anak saya tadi ?” ucapku kemudian.


“Iya pak betul sekali, saya memang ada sedikit keperluan pada anak bapak jika di perkenankan nati.” Jawab tamuku yang bernama pak Suhadi.


“Selama itu tidak membahayakan anak saya dan untuk kemaslahatan tentu saya ijinkan pak.” Jawabku.


Pak Suhadi terdiam sejenak, masih Nampak keraguan pada wajahnya untuk menjawab pertanyaan ku.


“Putera bapak itu punya kelebihan apakah bapak yang melatihnya sendiri ?” Tanya balik orang itu.


Aku jadi agak bingung menjawabnya, soalnya tidak sesederhana itu untuk menjelaskan semua ini. bisa bisa malah aku dikatakan membuat cerita palsu, pikirku.


“Tidak pak, saya sendiri baru menyelidiki dari mana dia bisa mempunyai ilmu kanuragan seperti itu.” jawabku sedikit berdiplomasi. Karena memang beneran baru menyelidiki.


“Owh begitu, saya kira bapak sendiri yang mengajarkan hal itu.” jawab pak Suhadi.


“Bukan pak, terus tujuan bapak ingin menemui anak saya Jafar untuk keperluan apa ya ?” tanyaku pada pokok masalah.


“Jujur saja pak, saya ini juga mempunyai padepokan olah kanuragan dan saya tertarik untuk mengajak anak bapak bergabung di padepokan kami.” Ucap pak Suhadi.


Aku jadi gak enak mau menjawab jika keberatan, namun tidak mungkin juga membiarkan anakku Jafar bergabung di padepokan pak Suhadi.


“Owh begitu rupanya, tapi anak saya itu masih terlampau kecil pak. Dan dia itu sangat pemalu bahkan tidak ada yang tahu jika dia memiliki kemampuan seperti itu. dia sangat tertutup termasuk kepada kami orang  tuanya.” Jawabku.


“Kok bisa begitu ya pak ?” Tanya orang itu.


Sebelum aku menjawab Jafar datang membawa dua gelas kopi, satu untuk ku dan satunya buat tamu kami pak Suhadi.


“Saya juga tidak tahu pak kalo soal itu, mari diminum dulu pak sebelum dingin.” Kataku mempersilahkan pak Suhadi untuk minum lebih dahulu.


“Iya pak terimakasih,  nak Jafar kelas berapa ?” Tanya Pak Suhadi pada Jafar.


(Saya masih kelas satu pak baru mau naik kelas dua ini.)jawab Jafar dalam bahasa jawa halus.


“Lah kok malah pinter basa jawa juga ?” kata pak Suhadi.


“Iya pak, anak saya saya ajarkan bahasa Jawa semua. Jangan sampai lupa degan bahasanya sendiri.” Jawabku.


“Sekarang jarang pak orang tua yang mendidik anaknya dengan bahasa  jawa.” Sahut orang itu.


“Betul, lama lama orang jawa akan belajar bahasa jawa dari orang manca negara pak. Karena orang manca Negara malah banyak yang belajar bahasa dan budaya daerah kita.” Jawabku.


“Kembali ke soal saya tadi, apa mungkin jika saya yang kesini untuk menimba ilmu pak ?” Tanya pak Suhadi.


“Sebenarnya padepokan bapak itu padepokan seperti apa dan tujuanya untuk apa pak ?” tanyaku pada pak Suhadi.


“Jujur saja pak, saya termasuk salah satu orang yang merasa  prihatin dengan pergeseran moral yang terjadi di sekitar pantai selatan pak. Dimana banyak pelaku ritual sesat dan pelaku maksiat yang saat ini semakin meraja lela.” Kata pak Suhadi.


Aku agak terkejut mendengarnya, dan secara spontan aku ingat dengan peristiwa ketika di tempat pak Zulkifly. Dimana aku bertemu dengan anak buah dalang Anyi anyi yang mengatakan. “Suatu saat dalang Anyi anyi akan lepas dari kurungan penjara apa bila orang sudah tidak lagi punya control social, tidak lagi menghiraukan orang berbuat maksiat.” Inti dari perkataan nya seperti itu. namun baru sekarang aku mengerti jika itu semua sudah menunjukkan gejala gejala ke arah situ.


“Mungkin suatu saat saya bisa diajak berkunjung ke padepokan bapak, barangkali kita bisa bekerja sama untuk maslah itu. Namun dalam hal ini, jangan langsung libatkan anak saya yang masih terlalu kecil pak.” Kataku pada pak Suhadi.


“Jika pak Yasin berkenan seperti itu tidak papa. Namun saat ini juga kami sering menghadapi kendala kendala diluar kemampuan kami pak. Banyak terror bagi kelompok kami  yang hendak mempertahankan moral. Yang dilakukan oleh kelompok pemodal yang banyak uangnya.” Kata Pak Suhadi.


“Maksutnya terror bagaimana pak ?” tanyaku.


Pak Suhadi terdiam sesaat sebelum menjawab, seakan sedang larut dalam kesedihan.


“Sudah ada korban dari kelompok kami yang sampai meninggal dunia pak.” Jawab orang itu.

__ADS_1


“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,,, semoga dia Syahid pak. Untuk sementara mungkin bapak bisa bergabung dengan adik sepupu saya yang juga tinggal di wilayah pantai selatan pak dan dia juga punya padepokan juga.” Kataku dengan pak Suhadi yang akan aku kasih alamat Sena agar ikut membantu perjuangan pak Suhadi.


“Rasanya di sepanjang pantai Selatan semua padepokan yang satu tujuan sudah bergabung dengan kami pak. Jika tidak bergabung berarti padepokan itu berseberangan dengan kami.” Jawab pak Suhadi.


“Tapi padepokan Adik sepupu saya gak mungkin berseberangan dengan bapak, jika tujuan utamanya seperti itu.” kataku pada pak Suhadi.


“Apa nama padepokan nya Pak ?” Tanya pak Suhadi.


“Padepokan ‘JALMO SEJATI’ “ kataku pada pak Suhadi.


Pak Suhadi kaget mendengar aku menyebut nama padepokan itu. bahkan Nampak melotot , memandangi wajahku. Kemudian bergantian memandang wajah Jafar anakku.


“Tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi…!” katanya.


“Apa yang tidak mungkin terjadi pak ?” tanyaku pada pak Suhadi.


“Bapak pasti bercanda saja kan, kalo benar padepokan ‘JALMO SEJATI’ punya adik sepupu bapak siapa nama pemimpinya sekarang ?” Tanya pak Suhadi.


Aku justru heran dengan perubahan sikap pak Suhadi ini, kenapa gak percaya samapi segitunya bahkan terkesan seperti marah kepadaku.


“Pemimpin nya adik sepupu kami, Sena adalah sepupu istriku dan istrinya nurul adalah sepupu ku pak !” jawabku membuat pak Suhadi menganga mendengar jawabanku.


“Jadi benar dia adalah sepupu bapak ?” Tanya pak Suhadi memastikan.


“Betul, memangnya kenapa pak ?” tanyaku makin heran.


“Apakah bapak belum tahu berita itu ?” Tanya pak Suhadi kemudian.


“Berita apa pak ?” aku makin penasaran dengan orang ini.


Pak Suhadi justru menangis sesenggukan, seakan tak mampu mengucapkan kata kata. Aku terpaksa meminta Jafar menyingkir dulu agar aku lebih leluasa bertanya pada pak Suhadi.


“Seperti yang saya sampaikan tadi pak, bahwa di kelompok kami sudah ada korban. Yang menjadi korban itu adalah adik iparnya pak Sena, adik kandungnya bu  Nurul.” Kata pak Suhadi, bagaikan mendengar ribuan halilintar aku mendengarnya.


“Maksutnya Bapak Zulfan yang menjadi korban ?” tanyaku setengah membentak.


“Betul pak, belum juga tujuh harinya saat ini.” ucap pak Suhadi.


“Kok gak ada yang kasih kabar ke saya pak ?” kataku geram. Mengapa Zulfan meninggal aku tidak di kasih tahu. Ada apa ini, apa salahku pada Sena dan Nurul…???


*****


Episode kali ini pendek dulu ya reader


Semoga bisa lanjut nanti malam.


Terimakasih


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2