
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Aku jadi termenung, Abi dan umi saat ini masih di Turki Vina harus curhat sama siapa lagi. Apa Vina harus menemui kak Dina ? udah lama juga Vina gak ketemu, tapi Vina kurang yakin sih sama kak Dina. Dia sayang Vina tulus atau terpaksa saja, mengingat aku dan dia beda ayah.
“Astaghfirullah, bukankah ini berarti aku suudzon sama kak dina.” Kataku dalam hati.
Kak Dina, maafkan Vina sudah suudzon denganmu apa kak dina juga kangen sama Vina ???
Kenapa aku jadi ingat kak Dina ya, padahal dia kan agak ketus kalau sama Vina. Meski kadang juga perhatian, kenapa aku gak bisa seperti Jafar dan kakaknya ya. Meski beda ibu tapi mereka bisa rukun, kalau aku sama kak dina kok agak jauh hubungannya. Hanya kalau ada Umi kita bisa bersama, tapi saat ini umi jauh jadi gak pernah ketemu kak Dina.
Apakah aku termasuk adik yang tidak baik, gak pernah menemui kakaknya, tapi Vina bukan gak mau sih. Vina hanya takut kalau ketemu malah jadi perang mulut sama kak Dina. Sayang sekali kak Dina orangnya agak jutek sama Vina. Padahal Vina pengen diakui sebagai adik kak Dina, biar gak merasa sendiri di sini.
“Heh Vina, kok kamu malah nangis begitu sih ?” Aya membuyarkan lamunanku. Dan terpaksa aku menceritakan kalau sebenarnya aku punya saudara lain ayah pada Aya.
“Ya ampun Vina, kamu lebaran juga selalu di sini kenapa gak kunjungi kakak kamu ?” Tanya Aya.
“Vina takut Aya, kak Dina orangnya galak banget.” Jawabku.
“Meski galak, tapi seorang kakak tetap tidak akan tega sama adiknya meski kalian beda Ayah.” Ucap Aya.
“Kamu gak tahu kak Dina sih, kalau bicara suka bentak bentak gitu Aya.” Kataku ke Aya.
Saat baru ngobrol tiba tiba kak Yuni dan kak Santi memanggil Aku.
“Vina tolongin kita dong Vin !” kata kakak seniorku seperti ketakutan aku jadi bingung kenapa dengan kakak seniorku ini.
“Ada apa ya kak, kok kayaknya bingung begitu ?” tanyaku.
“Ini Vina kakak mau minta tolong ke Vina, boleh kan ?” tanya kak Yuni ragu ragu.
“Jelas boleh lah kak, kalau Vina bisa pasti Vina bantuin. Kita kan sudah kayak keluarga di pesantren ini.” jawabku.
“Tolong bilang ke Jafar, kalau HP ku ketinggalan di counter kakaknya Jafar tadi.” Ucap kak Yuni. Aku jadi tahu ternyata Kak Yuni dan kak Santi yang ke tempat kakaknya Jafar tadi. Berarti mereka mengincar kakaknya Jafar bukan Jafar, batinku. Aku pun jadi tersenyum, agak lega mereka tidak mengincar Jafar.
“Kok bisa kak, bagaimana ceritanya ?” tanyaku.
“Aduh panjang ceritanya Vin, tolong kamu bilangin saja gih begitu ke Jafar.” Kata Kak Yuni.
“Kenapa gak bilang sendiri saja kak, Vina juga gak terlalu dekat sama Jafar kan.” Kataku pengen tahu jawaban mereka.
“Gak ah, aku malu Vin kalau kamu kan teman satu kelas juga dengan Jafar.” Ucap Kak Yuni.
“Iya gapapa, tapi bilangnya juga besok kalau mau berangkat sekolah kak. Kan gak boleh ketemu antara santri dan santriwati di luar urusan ngaji.” Jawabku.
“Aduh Vin, gak bisa di WA atau bagaimana ?” desak kak Yuni.
“Ya ampun kak Vina itu gak simpan nomor Jafar ataupun cowok lain. Gak boleh sama Abi dan Umi Vina.” Jawabku.
“Yaah masak segitunya sih Vin ?” tanya kak Yuni kecewa.
“Beneran kak, silahkan diperiksa HP Vina kalau gak percaya.” Jawabku.
“Gak Vin, bukan begitu kok. Ya sudah besok juga gak papa tapi jangan sampai lupa ya Vin.” Kata kak Yuni.
“InsyaAllah kak.” Jawabku.
“Owh iya satu lagi Vin, sampaikan maaf saja sama Jafar dan kakaknya kita tadi hanya bercanda saja kok.” Kata Kak Yuni.
“Iya kak iya Insya Allah besok Vina sampaikan ke Jafar.” Jawabku gak tau maksut kakak kakak seniorku itu.
Dan adzan maghrib pun berkumandang, aku kemudian minum menemani Aya yang sedang berbuka puasa. Sementara aku sendiri gak puasa, namun menunggu Aya juga untuk makan dan minum. Aya kemudian kangsung bersiap ke masjid untuk sholat, sementar aku yang baru libur tidak sholat iseng lihat kea rah teras tempat Jafar dan ning Nia tadi.
Mereka juga Nampak sedang berbuka puasa, tapi kok aneh seperti saling diam begitu. Apakah mereka sedang marahan, aku malah jadi makin penasaran. Tapi gak mungkin juga kalau aku nyamperin Jafar, meski ada amanah dari kak Yuni. Mau gak mau harus besok pagi aku menyampaikan pesan kak Yuni ke Jafar.
Aku memandangi mereka hingga mereka selesai berbuka puasa dan berjalan menuju ke tempat wudhu. Kemudian Jafar masuk ke masjid untuk sholat maghrib. Dan aku pun segera kembali ke kamarku sendirian, karena yang lain menjalankan Sholat.
*****
Persiapan Jafar mau Ziarah kubur
Jafar POV
“Kenapa Nia tadi jadi canggung ya ? Apa dia marah ke Jafar ?” aku jadi merasa tidak enak banget hari ini. banyak sekali kejadian yang luar biasa hari ini. Dari ketemu mbak Siti di tempat kerja mas Sidiq, bertemu kakaknya Vina yang beda ayah yang ternyata teman mas Sidiq. Ketemu Mbak Yuni dan mbak Santi juga di tempat kerja mas Sidiq udah gitu pulangnya harus ribut dengan orang yang suka dengan kak Nadhiroh. Eeh tapi kenapa tadi orang itu nyebut kak Nadhiroh yang bilang kalau pacaran sama Jafar ya ? aah itu paling juga Cuma akal akalan orang itu saja, batinku.
“Aduh aku hampir lupa kalau ada amanah dari mbak Lita kakaknya Vina, berarti besok aku harus bilang ke Vina saat berangkat sekolah. Kasihan juga mbak Lita yang kangen sama Vina tapi gak tahu Vina dimana. Vina memang keterlaluan gak mau jenguk kakaknya.” Kataku dalam hati.
Dan aku pun segera mempersiapkan diri untuk kembali berangkat Ziarah lagi, entah sampai kapan aku juga belum tahu.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke pemakaman keluarga abah guruku, yang jadi satu dengan pemakaman umum warga. Dengan niat yang tulus mendoakan kedua orang tua abah guru dan keluarganya. Serta melaksanakan apa yang jadi perintah abah guru, karena taat itu wajib meski ziarahnya gak wajib.
Di pesantren memang santri satu dengan yang lain diberi amalan wajib ( Oleh abah Guru ) yang berbeda beda. Ada yang diwajibkan tiap malam tahajud, ada yang puasa senin kamis ada yang wajib Dhuha. Sesuai dengan keadaan santri yang bersangkutan. Dan wajib disini yang menjadi wajib adalah taatnya pada guru. Sedangkan amalnya sendiri adalah tetap sunah.
__ADS_1
Perlahan lahan aku akhirnya sampai juga di komplek pemakaman kedua orang tua abah guru. Dan seperti biasanya aku segera menuju ke makam kedua orang tua abah guruku untuk mendoakan mereka.
*****
Author POV
Kita tinggalkan sejenak Jafar juga Vina yang sama sama ingin bertemu untuk menyampaikan amanah. Jafar dapat amanah dari Lita teman Sidiq yang kakak Vina beda Ayah. Sementara Vina mendapatkan amanah dari Yuni dan Santi karena HP nya ketinggalan di counter Sidiq. Sekarang kita lihat perjalanan Jalu yang mencari teman sesame pelaku kebatinan atau penganut kebatinan yang bernama Gede Paneluh.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, dari wilayah Jogja ke wilayah jawa tengah di sekitar pegunungan merbabu. Jalu akhirnya sampai juga di padepokan Gede Paneluh, yang langsung disambut juga oleh Gede Paneluh.
“Apa kabar adi Jalu, lama tak berkunjung ke sini ?” tanya Gede Paneluh kepada Jalu.
“Pangestu ( restu ) kakang aku baik baik saja kang. Hanya masih ada ganjalan hati yang mengganggu pikiranku.” Jawab Jalu.
“Pasti soal ayahmu kan adi Jalu ?” kata Gede Paneluh.
“Apalagi kang selain itu, yang membuat ak risau.” Kata Jalu.
“Jangan membuat kamu lantas menjadi sedih adi, tapi kamu harus bisa menerima kenyataan ini.” kata Gede Paneluh.
“Bagaimana kakang ?” tanya Jalu penasaran.
“Sejujurnya, aku sudah mendapatkan ‘wisik’ ( berita gaib ) jika ayahmu memang sudah tidak ada lama karena kalah bertarung.” Kata gede Paneluh.
Jalu menghela Nafas sebentar.
“Kalau ayahku meninggal sebenarnya Jalu sudah punya firasat kakang. Tapi kalau karena kalah bertarung aku baru tahu kali ini jika itu yang jadi penyebabnya.” Jawab Jalu. Sebelumnya Jalu hanya mengira jika ayahnya meninggal di tempat istrinya yang lain selain ibunya Jalu karena sakit. Dan Jalu juga ibunya sengaja tidak dikasih tahu.
Namun setelah Jalu mencari informasi ke tempat istri istri ayahnya juga tidak mendapatkan kabar apapun. Bahkan Jalu sempat berpikiran jika ayahnya disembunyikan salah satu istrinya. Meski akhirnya tidak mendapatkan bukti.
“Memang begitulah kenyataan yang harus kita terima adi Jalu.” Ucap Gede Paneluh.
“Apakah musuh ayahku itu yang bernama Yasin itu kakang ?” Tanya Jalu.
“Tidak salah lagi adi Jalu, memang dia yang telah membunuh ayahmu.” Jawab Gede Paneluh.
“Sehebat apakah orang itu, sehingga sampai detik ini aku bahkan tidak bisa menemukan orangnya. Atau mereka sampyuh ( Mati bareng saat bertempur ) kakang.” Tanya Jalu.
“Tidak adi Jalu, orangnya sampai sekarang masih segar bugar.” Jawab Gede Paneluh.
“Dimana dia sekarang kakang, aku tidak terima dan akan menuntut balas kepadanya.” Kata Jalu.
“Sabar dulu adi Jalu, dengan kemampuan kamu saat ini. kamu hanya akan jadi santapan ringan bagi orang itu.” Jawab Gede Paneluh.
“Terus dia berada dimana sekarang kakang. Minimal aku bisa tahu dulu keberadaan nya, sambil nanti mencari cara untuk membalaskan dendam.” Kata Jalu.
“Itulah adi, setiap kali aku menerawang keberadaan nya seakan ada kabut tebal yang menghalangi pandangan batinku.” Jawab Gede Paneluh.
“Berarti memang orang itu sangat hebat ya kakang ? Sampai kakang tidak mampu menembus untuk melihat gaib orang itu.” anya Jalu.
“Iya kang, aku mengandalkan kakang. Tapi bagaimana dengan ayahku apa kakang bisa menembus keberadaan kuburnya ?” tanya Jalu.
“Iya di, aku sudah mengetahui kuburan ayahmu.” Jawab Gede Paneluh.
“Dimana itu kakang ?” Tanya Jalu.
“Di seputaran bukit Turgo di sisi utara, kamu cari disitu ada batu besar yang dijadikan tenger ( Tanda / Nisan ). Dan ada dua kuburan di situ, satu kuburan ayahmu satunya kuburan teman ayahmu yang juga terbunuh saat itu.” jawab Gede Paneluh.
Jalu menjadi geram mendengar itu, membayangkan jika ayahnya berdua dikalahkan satu orang rasanya tidak percaya.
“Apa mungkin ayah berdua dikalahkan oleh satu orang saja kakang ?” tanya Jalu.
“Sepertinya orang itu juga tidak sendiri, ada banyak kekuatan yang membantunya.” Kata Gede Paneluh.
“Kekuatan manusia ?” tanya Jalu.
“Itu yang kakang belum bisa menembus adi Jalu.” Kata Gede Paneluh.
“Menurut kakang, saat ini apa yang harus Jalu lakukan ?” tanya Jalu.
“Kamu harus mandi dan berendam di tujuh tempuran ( Pertemuan dua sungai yang menjadi satu ) kemudian kamu baru mencari kuburan ayah kamu ambil ‘susuk’ emas yang ditanam di dalam dada ayahmu untuk menyempurnakan ilmu kamu.” Jawab Gede Paneluh.
“Tujuh tempuran kakang ?” tanya Jalu.
“Iya, dan harus selesai dalam selapan ( Tiga Puluh Lima hari ) mulainya malam jumat kliwon dan terakhir nya juga malam jumat kliwon.” Jawab Gede paneluh.
“Seperti biasa kan kakang, mulai jam dua belas malam sampai kokok ayam jantan yang kedua ?” tanya Jalu memastikan.
“Iya betul adi Jalu, dan jangan lupa tiap berendam nyalakan dupa dan taburkan kembang tujuh rupa di sekitar tempuran.” Jawab Gede Paneluh.
“Baiklah kakang, terimakasih atas informasi dan sarannya. Jalu mau langsung pulang sekarang saja.” Kata Jalu hendak berpamitan.
“Jangan Adi Jalu, saat ini tidak baik jika kamu pulang, tunggulah sampai besok pagi ketika matahari sudah Nampak.” Jawab Gede Paneluh.
“Iya kang kalau begitu mala mini aku menginap saja disini.” Kata Jalu.
“Satu hal lagi, jika kamu mau menghadapi orang yang bernama Yasin, maka kamu harus ajak aku, aku tidak akan tega membiarkanmu menghadapi orang itu sendirian.” Kata Gede Paneluh.
“Aku ikut saja apa saran kakang, yang penting bisa membalaskan dendam.” Jawab Jalu.
Jalu hanya mengikuti kata Gede Paneluh karena Jalu sudah sangat mempercayai Gede Paneluh dan tidak berani membantah.
__ADS_1
*****
Pagi hari sebelum Jafar berangkat sekolah
Jafar POV
Setelah semuanya siap aku pun segera melangkahkan kaki untuk berangkat menuju sekolah. Agak sedikit merasa aneh melihat teman teman satu pesantren yang tidak seperti biasanya. Ada yang tersenyum tapi juga ada yang agak sinis memandangku pagi itu.
“Ada apa lagi ya, apa karena kemarin sore sama Nia itu jadi mereka ada yang sinis. Mungkin mengira aku pacaran dengan Nia.” Kataku dalam hati.
Aku tidak mau larut dalam prasangka, mending langsung jalan saja berangkat ke sekolah. Ternyata sampai di luar gerbang Pesantren aku melihat Vina sudah berjalan pelan di depanku.
“Tunggu Vina…!” teriakku memanggil Vina.
Vina tidak menjawab hanya berhenti dan melempar senyum saja. Cantik sih si Vina ini tapi aku lebih suka Nia, batinku. Eeh mikir apa aku ini, kok malah jadi mikir cewek begini, batinku.
“Vin aku ada amanah yang harus aku sampaikan padamu sekarang.” Kataku pada Vina setelah aku dekat.
Vina malah jadi kaget mendengar ucapanku.
“Lah kok bisa sama sih, Vina juga ada amanah yang harus aku sampaikan ke kamu Jafar. Makanya Vina jalan duluan pelan pelan sambil nunggu kamu.” Kata Vina.
Sekarang ganti aku yang kaget, masak bisa kebetulan begini, batinku.
“Lah kok bisa, ya sudah kamu dulu yang bicara.” Kataku pada Vina.
“Iya deh, jadi kemarin sore kak Yuni dan kak Santi menemui Vina. Minta tolong untuk menyampaikan ke kamu kalau HP kak Yuni ketinggalan di counter kakak kamu.” Kata Vina.
Aku jadi menahan tawa, karena kemarin menangkap basah Yuni dan Santi menemui mas Sidiq. Mungkin karena penasaran saja dengan cerita kak Nadhiroh tentang mas Sidiq. Memang Jafar akui, kalau mas Sidiq memang lebih disukai para Gadis karena sifat humorisnya. Beda denganku yang agak kaku atau merasa malu dekat dengan gadis apalagi kalau baru ketemu. Sedang mas Sidiq dengan orang yang baru bertemu sekali pun langsung bisa bikin candaan.
“Owh jadi kemarin HP kak Yuni ketinggalan di tempat kerja mas Ku ?” Jawabku sambil tertawa.
“Lah kok malah tertawa, apanya yang lucu ?” Tanya Vina bingung.
“Ya ada aja cerita lucu yang bikin aku tertawa.” Jawabku.
“Gak asik kamu Jafar, gak mau gantian cerita ke Vina.” Ucap Vina.
“Gak boleh dong buka aib orang Vina.” Jawabku.
“Aib….? Aib apaan masak kayak gitu saja Aib. Vina tahu kok kalau kemarin mereka mendatangi kakak kamu. Dan itu bukan Aib meski juga kurang pantas saja menurut Vina. Vina juga denger kalau kakak kamu itu orangnya asik diajak ngobrol gak kayak kamu yang kaku dan mahal bicara.” Kata Vina malah menghina aku.
“Biarin saja, aku sama mas ku memang beda gayanya kok. Tapi kami tetap rukun meski berbeda gaya dan penampilan.” Kataku memancing sebelum masuk membicarakan Lita kakak Vina.
“Gitu saja ngambek, yasudah cerita dulu kamu.” Ucap Vina.
Kemudian aku menceritakan kejadian saat Yuni dan Santi menemui mas Sidiq yang tidak tahu jika aku juga ada di situ. Sampai akhirnya mereka malu dan buru buru lari, mungkin karena itulah HPnya ketinggalan. Aku menceritakan secara komplit kepada Vina, sampai dengan saat mereka menoleh kepadaku karena disuruh mas Sidiq. Dan kemudian buru buru kabur, karena malu denganku. Aku bercerita dengan semangat agar Vina juga bisa ikut tertawa. Namun sampai aku selesai jangankan tertawa, senyum pun tidak. Bahkan Vina malah Nampak jadi bingung, dengan ceritaku.
“Kamu ngomong apa sih Jafar ?” tanya Vina bikin aku kesal sudah cerita banyak malah dibilang seperti itu.
“Lah katanya tadi disuruh cerita ?” jawabku agak dongkol.
“Haah… maksud Vina kamu tadi katanya juga mau menyampaikan amanah, makanya Vina suruh cerita amanah dari siapa dan apa amanah nya. Eeh malah ngomongin orang lain, kan gak nyambung.” Jawab Vina.
Aku jadi malu sendiri, ini aku memang bego atau bagaimana sih kok jadi begini. Kirain Vina minta diceritakan kejadian kemarin, pikirku. Apa karena aku memang kurang bisa bergaul gak kayak mas Sidiq ya, batinku.
“Kirain tadi minta dikasih tahu kejadian di counter mas Sidiq kemarin.” Jawabku malu.
“Bukan maksud Vina amanah itu yang katanya mau Jafar sampaikan ke Vina.” Kata Vina.
“Owh itu, aku kemarin di tempat mas Sidiq ketemu teman mas Sidiq yang bilangnya adalah kakak kamu, namanya Dina Arlita.” Kataku ke Vina.
Spontan Vina kaget dan mendadak berhenti berjalan.
“Apa kak Dina adalah teman kakak kamu, jangan bilang kak Dina itu pacar kakak kamu Jafar…!” ucap Vina tegang. Aku jadi makin bingung, kemarin mbak Lita kakak Vina juga bertanya serupa. Menanyakan apa aku pacaran sama Vina. Sekarang Vina juga bertanya apakah mbak Lita pacaran sama mas Sidiq. Ada apa dengan ini semua, apakah ada perseteruan antara kakak beradik ini. tapi kemarin mbak Lita bilang dia kangen dengan Vina. Mana yang benar ini, aku malah jadi makin tidak mengerti.
“Bukan kok, pacar masku sahabat dekat kakak kamu Dina namanya mbak Riska.” Jawabku.
Vina jadi tampak agak lega, namun aku yang jadi makin penasaran.
“Terus kak Dina bilang apa saja kemarin jelek jelekin aku gak ?” tanya Vina.
“Astaghfirullahal ‘adzim…. Kok kamu suudzon begitu sama kakak kamu Vina ?” tanyaku pada Vina.
“Astaghfirullah,,,, maaf Jafar maksudku gak gitu. Vina sama kak Dina memang dulu sering cekcok tapi Vina juga tahu kalau kak dina tetap peduli sama Vina.” Jawab Vina.
“Nah gitu dong, Kemarin kakak kamu bilang sangat kangen kamu hampir empat tahun gak ketemu gak ada kontak. Dan ingin main ke pesantren untuk menemui kamu Vina.” Kataku pada Vina.
Aku melihat Vina jadi menangis sesenggukan, entah apa yang terjadi dengannya. Aku sama sekali tidak bisa menebak isi hati Vina.
“Apakah kamu serius Jafar, apakah kak Dina juga kangen sama Vina. Jangan jangan kamu hanya mengarang cerita saja agar aku baikan sama kak Dina ?” kata Vina membuat aku semakin bingung, ada apa ini. mana ada beberapa santri dan santriwati yang lewat lihat Vina nangis di dekatku lagi, bisa bisa mengira Vina aku apa apakann lagi, pikirku bingung….????
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...