Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ancaman besar buat Nisa 2


__ADS_3

 Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Ancaman besar buat Nisa 2...


Sebuah siasat licik sedang direncanakan oleh Ki Ajar Panggiring, kali ini keselamatan Nisa dan Yasin benar benar terancam. Sampai Kyai Syuhada sendiri merasakan kesedihan saat melihat Isyaroh, ketika di Gerbang Pesantren. Kyai Syuhada bisa merasakan akan adanya bahaya besar yang mengancam keluarga Yasin.


 


“Kita harus mencari cara, mencari anak yang bernama Nisa. Kemudian mengambil sampel rambutnya,” kata Gagak Seta.


“Paling mudah melalui teman dekatnya, siapa tahu bisa kita bujuk,” sahut Jaladara.


“Gunakan ilmu gendam, agar teman si Nisa mau mengambilkan rambutnya,” Kata Ki Ajar Panggiring.


“Tapi bisasanya orang semacam dia kan selalu memakai penutup rambut. Bagaimana cara mendapatkan rambutnya?” tanya Gagak Seta.


“Betul Ki Ajar, itu salah satu kendala besar,” sahut Jaladara.


“Aku juga tahu itu, tapi biasanya ada rambut rontok yang menempel pada penutup kepala mereka,” kata Ki Ajar panggiring.


“Terus apa hubungannya Ki Ajar, kan gak mungkin membuka kerudung penutup kepalanya?” tanya Gagak Seta.


“Jangankan membuka, memegangpun pasti gak bisa. Gadis begitu biasanya gak mau disentuh sembarangan,” sahut Jaladara.


“Usahakan dia harus mengganti kerudung itu, kemudian usahakan juga kerudung itu jatuh ke tangan kamu,” ucap Ki Ajar.


 


Gagak Seta dan Jaladara terdiam. Mereka mendapatkan ide yang berbeda satu sama lain. Gagak Seta berniat mengambil kerudung Nisa entah bagaimana caranya. Sementara Jaladara merencanakan akan membuat Nisa terpaksa mengganti kerudungnya. Bisa jadi pura pura menyuruh seseorang menumpahkan sesuatau ke kerudungnya. Kemudian mengganti dengan kerudung yang baru, namun itu harus memanfaatkan sahabat Nisa sendiri.


 


“Kayaknya aku akan merebut kerdung anak itu saja,” ucap Gagak Seta.


“Kehadiran kita bisa berbahaya kalau langsung mendekatinya. Kita minta seseorang saja untuk menumpahkan sesuatau ke kerudung Nisa. Agar dia harus ganti kerudungnya,” kata Jaladara.


“Lalu bagaimana nanti tehnisnya?” tanya Gagak Seta.


“kita melibatkan teman sekolah Nisa, sekalian mengambilkan kerudung Nisa,” jawab Jaladara.


“Susah membujuk orang yangmau begitu,: kata Gagak Seta.


“Kita ancam keluarganya, kalau sampai tidak bisa membawa kerudung Nisa. Kita ancam kita habisi keluarganya,” jawab Jaladara.


“Hmm…idemu kasar dan liar, tapi kayaknya masuk juga,” kata Gagak Seta.


“Nah mulailah selidiki dimana anak gadis Yasin sekolah, usahakan serapi mungkin. Lawan kita bukan orang sembarangan,” ucap Ki Ajar Panggiring.


 


Kemudian Ki Ajar Panggiring meminta anak buah Ki Marto Sentono untuk mencari informasi tentang Nisa.


*****


 


Saat itu Sidiq dan Ihsan memutuskan untuk kembali pulang ke pesantren. Meski dengan memendam kecewa Sidiq akhirnya menuruti Ihsan, mengurungkan niatnya datang sendiri ke tempat yang dia curigai tersebut.


 


“Ya sudah kalau begitu kita pulang saja,San,” kata Sidiq.


“Tapi ingat, jangan nekat datang sendiri. Keberadaan Jafar sangat dibutuhkan bersamamu,” kata Ihsan.


“Iya, aku juga tidak akan gegabah kok,” jawab Sidiq.


 


Sidiq pun mengajak Ihsan kembali ke pesantren. Namun hatinya gundah dengan keselamatan Nisa adiknya.


 


“Aku harus segera menghubungi Jafar. Keadaan rumah semoga bisa diatasi oleh Wisnu,” kata Sidiq dalam hati.


 


Sesampainya Sidiq dan Ihsan di Pesantren, tak lama kemudian sudah terdengar kumandang adzan Maghrib. Mereka berdua segera melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.

__ADS_1


*****


*****


*****


 


Selama beberapa waktu Nisa diawasi oleh beberapa santri putri selama dua puluh empat jam bergantian. Beberapa kali pula Pondok Pesantren Al-Huda di ganggu oleh kedatangan makhluk halus. Sehingga semua waspada sewaktu waktu, bahkan Sidiq pun terkadang ikut membantu menjaga keamanan di Pesantren Al-Huda.


 


Selain itu Sidiq dan Jafar pun mencoba mendekati markas Ki Ajar Panggiring. Sidiq dan Jafar mencoba mendekati markas tersebut untuk mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh Ki Ajar Panggiring.


 


“Pengawasan dan pertahanan mereka sangat kuat Mas. Hampir semua jalan menuju ke tempat mereka ditunggu oleh penjaga,” ucap Jafar.


“Kali ini, mungkin kita harus pulang dulu. Persiapan alat untuk memanjat, mau gak mau kita harus manjat lewat tebing,” jawab Sidiq.


“Terlalu tinggi Mas, itu bisa berbahaya bagi kita,” kata Jafar.


“Kalau begitu, apa perlu meminta bantuan dari anak buah Farayaka?” tanya Sidiq.


“Belum saatnya kalau menurut Jafar,” jawab Jafar.


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Sidiq.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, kecuali bertahan,” jawab Jafar.


“Kita bisa meminta bantuan untuk menghancurkan mereka bukan?” kata Sidiq.


“Pengalaman kita kemarin, selalu gagal menuntaskan saat menyerbu markas mereka,” jawab Jafar.


 


Sidiq berpikir dan mengakui kebenaran perkataan Jafar. Beberapa kali mereka gagal menangkap tokoh utama saat penyergapan ke markas musuh. Kemudian Sidiq dan Jafar segera melangkah pulang.


*****


Sidiq dan Jafar kembali ke Pesantren Al-Huda lebih dahulu untuk melaporkan hasil pengintaian mereka.


“Maaf Bah, kami berdua tidak bisa mendekati ke markas mereka. Karena tiap jalan masuk dijaga ketat,” kata Jafar.


“Apa kalian tidak bisa melumpuhkan penjaga tersebut,” tanya Kyai Syuhada.


“Di Samping itu juga sengaja kami menunggu kehadiran Jin Raja Khodam itu sekalian Bah, Biar masalah selesai sampai tuntas,” jawab Jafar.


 


Sebenarnya memang seperti itulah yang diharapkan Kyai Syuhada. Sengaja menguji kesabaran Sidiq dan Jafar. Kyai Syuhada pun merasa puas dengan perkembangan Sidiq terutama. Yang tidak lagi mudah terbawa emosi.


 


“Memang sepert itulah yang Abah harap, kalian tidak terpancing emosi. Tidak selamanya kita harus menggunakan kekerasan, tunggu timing yang tepat agar meminimalisir korban,” kata Kyai Syuhada.


“Iya Bah,” jawab Sidiq dan Jafar bersamaan.


“Ingat satu hal, carilah keturunan dari kerabat Begawan Sanjaya. Ajak dia meninggalkan dunia kejahatan,” kata Kyai Syuhada.


“Lalu bagaimana dengan keamanan santri santri di sini, terutama Nisa adik kami Bah. Jika mereka tidak segera tertangkap?” tanya Sidiq.


 


Kyai Syuhada pun terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Sidiq.


 


“Abah juga tidak berani, menjamin Nisa pasti selamat. Abah hanya berani membantu untuk menjaga saja,” jawab Kyai Syuhada.


 


Jawaban Kyai Syuhada membuat Sidiq dan Jafar semakin gelisah. Bahkan Sidiq makin tidak sabar ingin segera menyelesaikan ancaman yang diarhakan kepada Nisa adiknya.


 


“Sidiq, kamu banyak berdoa saja, semoga akan berkhir dengan Indah. Sekarang kamu boleh kembali ke pesantren Al-Hikmah,” kata Kyai Syuhada.


 


“Iya Bah, kalau begitu Sidiq pamit dulu,” ucap Sidiq berpamitan dengan Kyai Syuhada dan Jafar.


*****


Pagi harinya, saat para Santri hendak berangkat ke Sekolah. Kyai Syuhada memanggil Nisa secara khusus.

__ADS_1


 


“Nisa, kamu mau berangkat sekolah sekarang?” tanya Kyai Syuhada pada Nisa.


“Iya Bah,” jawab Nisa singkat.


“Ya sudah kamu hati hati ya, jangan sampai kamu menempuh bahaya sendirian,” kata Kyai Syuhada, seakan mengkhawatirkan Nisa.


“Iya Bah, Nisa akan hati-hati,” jawab Nisa.


Nisa pun segera melangkah pergi ke sekolah. Begitu juga dengan Santri lain yang masih sekolah, semua sudah keluar meninggalkan Pondok Pesantren.


 


Nisa berjalan sendirian dengan agak gelisah, perasaan Nisa was-was. Beberpa hari selalu ada upaya untuk menangkapnya. Mana harus berjalan kaki melangkah ke sekolah sendirian. Bahkan Nisa merasa sedikit tidak enak dengan Sidiq kakaknya, karena hitungan wakut Ujian akhir Sidiq yang inggal beberpa hari. Tapi harus sering mondar mandir Al-Hikmah dan Al-Huda.


*****


“Diq, kamu senin besok sudah masuk masa Ujian. Sementara waktu kamu konsentrasi Ujian dahulu,” kata Kyai Nurudin.


“Iya Bah, tapi sebenarnya Sidiq gak tega dengan bahaya yang mengancam Nisa,” jawab Sidiq.


“Iya Abah juga tahu, tapi kamu juga harus pikirkan diri kamu juga. di samping itu, kamu harus yakin jika semua yang terjadi adalah kehendak Allah,” kata Kyai Nurudin.


“Tapi Bah, kali ini bahaya yang mengancam Nisa tidak bisa disepelekan,” jawab Sidiq.


“Abah tahu, tapi semua akan berakhir dengan baik, meski memang ada sandungan ban benturan terlebih dahulu,” jawab Kyai Nurudin.


 


Sidiq pun tidak berani membantah semua yang diucapkan oleh Kyai Nurudin. Sebagai Santri dia hanya bisa menuruti. Karena mengakui jika pertimbangan dan perhitungan gurunya lebih akurat, dibanding perhitungan Sidiq sendiri. Di mana perhitungan Sidiq masih seringkai didominasi oeh hawa Nafsu amarahnya.


*****


*****


*****


Seorang mantan anak buah Ki Marto Sentono melapor kepada Gagak Seta dan Jaladara.


 


“Saya sudah mendapatkan anak yang dimaksud. Ternyata sekarang anak itu mengganti nama menjadi Nusaibah. Tidak lagi menggunakan nama Nisa,” kata orang tersebut.


“Pantas saja, dicari tidak pernah ketemu,” jawab Gagak Seta.


“Kamu sudah lihat anaknya seperti apa?” tanya Jaladara.


“Sudah, tadi berangkat sekolah sendirian saja. Kurasa tidak sulit menangkap anak itu hidup hidup,” kata anak buah Ki MArto sentono yang gabung dengan Ki Ajar Panggiring.


“Bagaimana Adi Jaladara?” tanya Gagak Seta.


“Kalau bisa kita tangkap langsung, ya kita tangkap langsung saja,” jawab Jaladara.


“Kalau begitu, besok kamu antar kami menemui gadis itu,” kata Gagak Seta.


“Tapi cari jalan yang sepi jadi bisa langsung menangkap anak tersebut nanti,” sahut Jaladara.


“Baik, besok pagi saya antarkan ke jalan yang biasa dilewati gadis tersebut,” jawab orang yang memberi laporan.


 


Gagak Seta dan Jaladara segera mengatur siasat bagaimana mengkap Nisa. Mereka berusaha menangkap langsung kalau gaglmaka akan merebut kerudung Nisa dan mengambil sample rambut Nisa. Yang akan dijadikan media oleh Ki Ajar panggiring.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


Rekomendasi Novel



 



 

__ADS_1


 


__ADS_2