Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq akan masuk pesantren


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Kemudian pak Suhadi segera memeriksa kaki Yasin yang bengkak nya semakin besar.


“Ini harus segera di hentikan pak, sebelum racun semakin menjalar….!!!” Ucap pak Suhadi.


Kemudian Yasin segera di papah dan di bawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis.


Dan sampai dirumah Sakit Yasin langsung mendapat perawatan Medis dan menurut dokter bengkaknya harus segera di operasi, karena ada cairan beracun di dalamnya. Ika terlambat bisa bisa harus di amputasi kata dokter….!!!


Akhirnya Yasin mendapatkan perawatan dan akan menjalani Operasi untuk mengeluarkan racun di kakinya. Di Samping juga di berikan suntikan seru anti racun untuk menghambat menjalarnya racun ke jantungnya.


Sebelum operasi dilaksanakan, lebih dahulu Fatimah di datangkan untuk menandatangani persetujuan. 


“Kenapa bisa sampai seperti ini mas ?” tanya Fatimah.


“Aku berhadapan dengan salah satu pimpinan Sekte menyimpang yang menyebut penganut aliran Bhairawa Thantra, dia sangat tangguh kalo tidak di bantu Eyang Hadiyan mungkin aku tidak akan mampu melawan dia.” Jawab Yasin.


“Aliran itu masih ada ?” tanya Fatimah pada Yasin.


“Kenyataanya masih ada, meski tidak semua berani menunjukkan dirinya.” Jawab Yasin.


Fatimah yang mendengar itu jadi iris, karena sedikit banyak Fatimah juga pernah mendengar searah perjuangan ulama ulama zaman dahulu dalam men syiarkan agama Islam termasuk perjuangan menyadarkan masyarakat dari ritual yang mengorbankan manusia.


Pada saat itu dala  mendekati  masyarakat tidaklah dengan cara frontal. Ritual mereka yang memakai tumpeng dan ‘ingkung’ (Daging manusia utuh seperti kambing guling) diganti dengan ingkung Ayam. Kemudian bacan mantera diganti dengan kalimah thoyibah Tahlil. Menari telanjang di tiadakan, minuman keras diganti air putih atau the dan seterusnya. Sehingga muncul budaya Tahlilan, budaya yang sebelumnya mengorbankan manusia sebagai tumbal dan berisi pemujaan kepada makhluk diganti dengan budaya yang berisi dzikir ( Ingat dan menyebut Asma Allah ). 


Dalam acara Tahlilan itu juga di selipkan wejangan wejangan tentang ajaran Islam, yang tertarik mau Masuk Islam di persilahkan, sedang yang tidak mau juga tidak ada paksaan. Karena Prinsip Laa Iqroha fiiddin ( Tidak ada paksaan dalam memeluk agama sangat dipegang kuat oleh Para wali Songo dalam berdakwah.


Jadi dalam ‘budaya Tahlilan’ itu berisi Dzikir dan juga ada nilai Tarbiyah atau pendidikan Islam meski dari hal yang sangat dasar sekali. Dari perintah wajib sholat dan puasa, karena masyarakat waktu itu susah menyebut kata Sholat. Mereka tahunya menyembah Sang Hyang…… maka kata Sholat diganti istilahnya dengan Sembahyang oleh para Wali. Agar mudah di ucapkan, sesuai lidah Indonesia khususnya jawa.


Sedangkan Shoum  (Puasa ) karena masyarakat kenalnya ‘upawasa’  (Tidak makan dan minum ) dalam kepercayaan mereka maka sampai sekarang pun lebih di kenal kata Puasa.


*****


“Fatimah gak nyangka penganut aliran itu sih d sampai sekarang mas ?” kata Fatimah.


“Aku juga begitu tadinya, namun peristiwa tadi cukup jadi bukti jika penganut aliran itu masih ada.” Jawab Yasin.


Setelah waktu operasi tiba Yasin pun segera di bawa masuk ke ruang operasi, Fatimah hanya menunggu dengan harap harap cemas. Dan berdoa agar semua racun dapat di keluarkan. Di samping itu, Fatimah juga terpikir kata kata Yasin suaminya tentang masih adanya penganut aliran yang sudah ratusan tahun sebelumnya itu.


“Semoga saja ritualnya sudah tidak seperti dulu lagi.” Ucap Fatimah dala hati.


Jelas saja Fatimah resah akan munculnya penganut aliran itu, karena bisa jadi ancaman bagi orang tua yang punya anak gadis. Terutama yang baru hampir / belum masuk masa haid. Fatimah terbayang Nisa anak gadisnya, juga Jafar  serta Sidiq berharap mereka berdua nanti mampu menjaga dan melanjutkan langkah ayahnya. Terutama Jafar dan Sidiq Fatimah berharap bisa melindungi dan menjaga Nisa adiknya.


Operasi kaki Yasin pun berjalan lancar, meski Yasin belum bisa berjalan karena kakinya habis di bedah untuk menyedot racun yang ada. Dengan sedikit memaksa Yasin akhirnya diijinkan pulang, namun harus control ke ruah sakit rujukan. Karena Yasin berniat segera pulang ke rumahnya.


Yasin dan Fatimah di antar pulang oleh pak Adnan, dan di rumah Sena sudah di tunggu oleh semua anggota keluarga Sena. Juga ketiga anak Yasin yang sedih mendengar ayahnya terluka.


Sementara Rofiq dan Arum menyiapkan tempat dibantu Candra dan Khotimah untuk istirahat Yasin. Yasin yang sudah duduk di tepian ranjang sambil meluruskan kakinya yang habis dioperasi. Kemudian membuka obrolan.


“Sudah semuanya tenang saja, lukanya sudah di tangani dokter gak usah kuatir begitu.” Ucap Yasin.


“Mas Ahmad, Nurul kan sudah bilang jangan sampai ada korban lagi. Cukup Zulfan adikku yang jadi korban…!” ucap Nurul istri Sena sambil menangis.


“Gak papa Nurul, toh semua selamat dan kalo tindakan Birowo tidak di hentikan aku takut akan timbul banyak korban lagi. Baik korban seperti Zulfan maupun korban acara ritual sesat mereka.” Jawab Yasin.

__ADS_1


“Tapi as Ahmad sendiri kan akhirnya jatuh sakit juga…!” ucap Nurul.


“Hanya luka sedikit tidak mengapa Nurul, bahkan Sena suamimu juga kamu sendiri kan juga terluka. Luka kakiku tidak lebih sakit dari melihat kalian terluka.” Ucap Yasin pada Nurul. Sena pun mendekati Yasin dan memeluk Yasin penuh haru.


“Alhamdulillah Yaa Allah… kami di pertemukan dengan saudara saudara kami yang sangat baik. Mas Yasin jangan buru buru pulang kenapa ? Sena dan Nurul juga pingin merawat mas Yasin sampai sembuh.” Ucap Sena.


“Makasih Sena, tapi aku juga banyak tugas di rumah dan kasihan anak anak ku kelamaan libur sekolahnya nanti.” Jawab Yasin.


Hari itu suasana bahagia bercampur haru menyelimuti semua orang yang ada di rumah Sena. Rasanya berat bagi mereka untuk berpisah pulang ke rumah asing masing. Namun mau tidak mau semua harus kembali beraktifitas seperti biasanya. Demi menjalankan peran dan tugas masing masing.


Tidak terkecuali Yasin yang harus tetap menjalankan profesinya nanti setelah kakinya benar benar sembuh. Sehingga saat tiba waktunya semua pulang pun, Sena dan Nurul merasa kembali kesepian. Sena pun berniat akan menitipkan anaknya nanti kepada Yasin, agar ada kesempatan mereka saling bertemu. Dan tiap tahun sekali bisa mengadakan pertemuan keluarga besar mereka.


Sesampai di rumah Yasin lantas masuk ke kamar di bantu Fatimah karena kaki nya belu bisa untuk menapak.


*****


Beberapa hari kemudian.


“Alhamdulillah, kasus yang menimpa keluarga Sena sudah tertangani secara tuntas. Semua yang terlibat sudah di tangani tinggal menunggu proses pengadilan.” Ucap Yasin kepada Fatimah.


“Sukurlah mas, tapi kenapa kaki mask ok belum sembuh sembuh juga ya ?” ucap Fatimah.


“Sabar saja, semalam aku bermimpi bertemu Abah Thoha. Dan aku di kasih tahu ini akibat aku mengedepankan emosiku saat ,melawan Birowo waktu itu, sehingga kakiku terkena racun dari ajian Birowo.” Jawab Yasin.


“Maksutnya gimana mas ?” tanya Fatimah.


“Beliau mengingatkan aku peristiwa ketika Sayidina Ali bin abi Tholib perang tanding. Kemudian pedang musuh terjatuh dan meludahi  Sayidina Ali. maka Sayidina Ali tidak jadi membunuhnya. Dan saat musuh nya bertanya kenapa, sayidina Ali menjawab Kalo tadi aku ingin membunuhmu karena Allah. Tapi saat kamu meludahi aku, kalo aku membunuhmu mungkin itu bukan karena Allah tapi karena emosiku. Sehingga lawa tersentuh dan akhirnya asuk Islam. Itulah kesalahanku kemarin, sehingga kata Abah Thoha ini adalah kafarot yang harus aku jalani.” Jawab Yasin.


“Tapi masih bisa sembuh kan as ?” tanya Fatimah kuatir.


“Insya Allah masih bisa, meski mungkin butuh waktu.” Jawab Yasin.


Begitulah keseharian Yasin selama berbulan bulan dengan kondisi kaki yang pincang, meski selalu control secara medis dan berupaya secara alternative juga. Namun belum juga bisa pulih, meski sudah bisa jalan tanpa tongkat penyangga namun belum bisa berjalan secara sempurna.


Yasin dan Fatimah menerima itu dengan ikhlash, mereka tetap bersemangat dalam menjalani hidup. Sampai suatu ketika Fatimah mendapat petunjuk lewat mimpi untuk dapat menyembuhkan kaki Yasin. Fatimah harus mengolesi dengan Klembak yang di goreng dan setelah dingin minyaknya dioleskan ke luka yasin yang tidak mau kering itu. dan Fatimah melakukan itu selama sekitar satu minggu hingga kaki Yasin bisa pulih seperti sedia kala.




*****


Tiga tahun kemudian


Saat Yasin sudah mulai mendidik anak anak kecil mengaji. Yasin dan Fatimah berencana memaskukkan anak anaknya sendiri ke pesantren. Karena kecenderungn anak kalo diajari orang tuanya suka kurang serius dan kurang bisa belajar mandiri.


“Mas sudah saatnya Sidiq di masukkan ke pesantren, biar SMPnya masuk Madrasah tsanawiyah di pesantren saja.” Ucap Fatimah.


“Iy kmu carikan saja pesantren yang cocok dengan Sidiq. Dan untuk Jafar dan Nisan anti kita masukkan di pesantren yang berbeda dengan Sidiq. Aku gak mau Sidiq yang over protected terhadap Nisa jadi sering ribut seperti yang sudah sudah.” Kata Yasin.


“Iya juga Sih, kayakny Nisa juga lebih aman ika sama Jafar. Tapi ketiga anak itu sangat dekat as, apa mereka mau di pisahkan nanti ?” Tanya Fatimah.


“Harus mau lah, kan demi mereka juga dan masih tetap bisa berteu saat seua pulang kerumah.” Jawab Yasin.


“Tapi jangan pakai membentak ya mas kalo bicara sama anak anak.” Ucap Fatimah. Karena Fatimah masih melihat sisi keras suaminya, meski saat ini sudah tidak pernah lagi menggunakan cara cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Namun Fatimah masih melihat sikap keras suaminya tidak sepenuhnya hilang.


Meski sekedar ucapan anmun tetap menunjukkan sikap kerasnya. Sehingga Fatimah masih ragu jika suaminya masih dengan cara keras dalam menasehati anak anaknya terutama Sidiq yang memang agak bandel dan suka berante juga.


“Iya, gak usah kuatir.” Jawab Yasin singkat.


Saat sedang berbincang bincang tiba tiba Jafar dan Nisa asuk hanya berdua tidak dengan Sidiq.


“Assalaamu ‘alaikum, ayah.. Bunda…!” ucap Nisa yang sudah tumbuh menjadi  gadis kecil.


“Assalaamu ‘alaikum Ayah, Bunda…!” ucp Salam Jafar yang sudah kelas 5 SD.


“wa’alaikummussalaam, anak anak Ayah bunda, mas mu Sidiq kemana kok gak bareng kalian ?” tanya Fatimah.

__ADS_1


“Mas Sidiq tadi bilngnya mu kerumah teman di mau main gitar untuk acara perpisahan SD nya besuk.” Jawab Nisa.


“Lain kali di tanya, temnnya siapa rumhnya mana y Nisa…!” ucp Yasin pada Nisa.


“Ah Ayah, siapa lgi klo bukan Ichal temen main gitar mas Sidiq…!” jawab Nisa tegas. Sementara Jafar hanya senyum saja melihat Nisa adiknya yang selalu berdebat dengan ayahnya.


Yasin lebih memilih diam jika Nis sudah begitu, karena Nisa tidak mau mengalah jika berdebat.


“Maklum Nisa, ayah kan sudah tua jadi gampang lupa.” Ucap Fatimah ikut komentar.


“Yeee Ayah sudah tua ya Bunda, udah pikun jadi suka marah marah gak jelas.” Ledek Nisa pada Yasin ayahnya.


Dari ketiga anak Yasin hanya Nisa lah yang paling berani dengan ayahnya. Dan Yasin pun paling pusing menghadapi Nisa. Karena selalu saja punya argumen yang tepat untuk menjawab.


“Ayah gak lupa kok, Cuma ngingetin saja.” Kilah Yasin.


Begitu gambaran suasana keluarga Yasin dan Fatimah yang tidak pernah sepi dari canda tawa anak anak. tidak hanya anak anak mereka sendiri tapi juga anak anak lain yang ikut mengaji. Termasuk ponakan ponakan Yasin dan Fatimah.


Sejak peristiwa pertarungan dengan Birowo memang Yasin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak anak. bahkan untuk urusan bisnisnya sudah di tangani Amir hanya kadang kadang saja Yasin ikut terjun ke lapangan. Itu juga tidak tentu sebulan sekali.


Dan setiap sore Yasin selalu mengajak anak anak yang tinggal di ruahnya untuk berolah raga setelah sholat Asar sampai menjelang maghrib. Kemudian di lanjutkan dengan mengaji Al-Quran, dan sholawat serta seminggu sekali mujahadah tiap malam jumat.


Aktifitas Yasin saat ini lebih banyak pada urusan ibadah dari pada urusan duniawi apa lagi soal kekerasan sudah tidak pernah lagi. Bahkan untuk latihan pencak Silat  anak anak pun di serahkan jafar dan Sidiq untuk membimbing adik adik sepupunya dan anak anak tetangga yang pingin ikut.


Meski tergolong belia tapi Jafar dan Sidiq sudah cukup di kenal di kampung sebagai jago bela diri. Bahkan orang dewasa pun berpikir beberapa kali jika harus melawan Sidiq ataupun Jafar.


Bahkan beberapa kali ketika ada orang yang mau mengancam Yasin Ayahnya justru Sidiq dan Jafar lah yang menghadapinya Baik sendiri maupun  berdua Sidiq dan Jafar.


Yasin lebih banyak melakukan kegiatan kegiatan keagamaan dan kegiatan social kemasyarakatan.


*****


“Sudah hampir maghrib, Sidiq belum pulang juga. Jafar kamu susul Sidiq sana suruh pulang mandi dan sholat maghrib…!” kata Yasin kepada Jafar.


“Iya Yah…!” jawab jafar yang hampir tidak pernah membantah.


Kemudian Jafar segera berangkat ke rumah Ichal teman Sidiq main gitar yang katanya sedang berlatih untuk acara perpisahan nanti.


Jafar berjalan kaki menuju ke rumah Ichal teman Sidiq yang jaraknya cukup jauh. Namun bagi Jafar itu gak masalah karena Jafar memang senang berjalan kaki dan lari kecil untuk melatih fisik dan stamina.


Dan ketika sampai di rumah Ichal, ternyata di sana masih ramai dengan anak anak yang ikut bergabung latihan bernyanyi.


“Mas Sidiq disuruh pulang sama Ayah, sudah hampir maghrib !” ucap Jafar kepada Sidiq.


“Iya bentar lagi, satu lagu lagi ya kita pulang barengan saja.” Jawab Sidiq.


“Apaan kamu Sidiq, begitu saja takut terusin saja kenapa biar adik kamu pulang duluan. Kalo adikmu disini juga ngapain kayak robot gitu. Selalu di remot dari rumah.” Ucap salah satu orang yang ikut nyanyi.


“Jaga omongan kamu, kamu gak tahu saja siapa adik nya Sidiq !” ucap Ichal yang tahu siapa Jafar. Sementara Jafar sendiri hanya kalem gak menanggapi itu semua. Bagi Jafar dia kesitu untuk mengajak Sidiq pulang, bukan untuk yang lain.


Namun dasar anak ABG di nasehati Ichal begitu malah semakin menghina Jafar dengan mengatakan Jafar yang kayak Banci dan sebagainya. Sehingga justru Sidiq yang tidak terima dan memukul anak itu, dan anak itu pun langsung kabur mengadu kepada orang tuanya….!!!


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2