
Jalu mendekati Jaka Santosa
“Carilah ke sekolah Sidiq, kalau perlu aku bantu kamu nanti
Jaka biar ayahnya kembali muncul. Aku sudah mendapatkan lawan tanding yang pas
untuk melawan Yasin…!” ucap Jalu memprovokasi Jaka…!!!
“Maksut kamu lawan tanding bagaimana ?” Tanya Jaka.
“Saat ini kita harus mengakui Yasin bukan lawan kita,
makanya kita harus cari lawan yang sekiranya mampu mengalahkan dia. Dan kita
harus bekerjasama serta menyatukan kekuatan kita.” Ucap Jalu.
“Kamu serius bilang begitu, bukannya kemarin saja saat
pagelaran akbar kamu melarikan diri bersama saudara kamu ?” Tanya Jaka.
“Kemarin suasana tidak memungkinkan aku ikut terjun
langsung. Karena malamnya masih harus melakukan ritual. Disamping itu aku harus
selamatkan kakang Gede Paneluh yang terluka tidak bisa jalan.” Jawab Jalu
mengklarifikasi kesalah pahaman Jaka.
“Baiklah sementara aku pegang kata kata kamu, kita harus
bersatu dan saat ini ki Marto sentono pun sedang dalam masa penyembuhan akibat
terluka kemarin.” Ucap Jaka.
“Aku sudah berbicara dengan Kakang Gede Paneluh apa yang
sebaiknya kita lakukan dan untuk membantu gurumu ki Marto Sentono.” Kata Jalu.
“Apa itu ?” Tanya Jaka.
Kemudian Jalu menceritakan dari saat dia memanggil roh
ayahnya bersama Gede Paneluh. Serta menceritakan untuk mencari Raja Jin dalang
Anyi anyi. Jalu pun menawarkan kepada Jaka untuk mengunjungi makam ki Joyo
Maruto kakak seperguruan Marto Sentono. Untuk mendapatkan warisan Ilmu dari
Joyo Maruto yang beraneka ragam Ilmu yang dikuasai. Termasuk ilmu pengobatan
dengan perantara Khodam jin yang bisa menyembuhkan orang dalam waktu singkat.
Sementara Jaka pun pernah mendengar itu dari gurunya langsung
saat mengometari tanganya yang patah karena pertempuranya dengan Jafar beberapa
waktu sebelum Pagelaran akbar. Akhirnya Jaka pun sepakat untuk bekerja sama dengan
Jalu termasuk juga akan mengajak kakaknya Gandung Santosa.
Kemudian Jaka mengajak Jalu untuk menemui ki Marto sentono
Guna menyampaikan usulan Gede Paneluh. Mengunjungi makam ki Joyo Maruto seperti
saat Gede Paneluh dan Jalu mengunjungi makam Maheso suro. Bahkan Jalu
menceritakan jika makam Maheso Suro itu berdampingan dengan Makam Mentorogo
Ayah Jaka dan Gandung.
Jaka pun tertarik untuk melakukan hal yang sama dengan Jalu
dengan bantuan Gede Paneluh sebagai mediasi yang akan memanggil Roh Mentorogo. Dengn
demikian Jaka dan Jalu benar benar sudah bersatu menyusun sebuah kekuatan dan
Strategi baru untuk membalas perbuatan Yasin dan anak anaknya.
Lebih dari itu mereka sepakat juga untuk membuatserangan
serangan secara sporadic kepada anak anak Yasin dan keluarga Yasin di rumahnya.
Bukan hal yang sulit bagi mereka mencari keberadaan Yasin setelah tahu siapa
Yasin sebenarnya. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya dengar namanya saja,
sampai tidak tahu jika sedang berhadapan dengan Yasin yang menyusup dengan mengaku
bernama Zain alias Jaka Gledek.
…..
…..
…..
Di lain tempat Jafar sedang diwejang oleh abah Gurunya serta
diminta kembali melanjutkan melakukan Ziarah ke makam Orang tua abah gurunya.
“Apa yang terjadi di padepokan kemarin bukan sebuah akhir
perjuanganmu. Namun itu baru awal dari perjuangan kamu yang sesungguhnya. Oleh
karena itu kamu harus lebih giat lagi dalam belajar dan mempelajari Kitab
kitab.” Ucap Abah Gurunya Jafar.
“Iya Bah, lantas apa yang harus Jafar kerjakan saat ini bah
?” tanya Jafar.
__ADS_1
“Lanjutkan Acara ziarah yang sempat tertunda, dan nanti aka
aku kasih jadwal untuk tugas Ziarah ke beberapa makam Ulama.” Ucap abah gurunya
Jafar.
“Iya bah, tapi Jafar mau tanya satu hal bah ?” kata Jafar.
“Soal apa ?” kata abah gurunya Jafar.
“Sebenarnya ziarah ke Ulama atau para Aulia itu bagaimana
bah. Maaf Jafar hanya pengen tahu saja Bah ?” ucap Jafar.
Abah gurunya Jafar Kyai Nurudin paham dengan maksut Jafar
bertanya begitu. Karena hal tersebut memang menjadi kontroversi bagi sebagian
orang yang Anti Ziarah ke makam Ulama.
“Kamu pasti ragu kan, kenapa kita perlu Ziarah kubur ke
makam para Aulia dan orang orang Solih ?” Tanya Abah gurunya Jafar.
“Iya bah, jujur Jafar mau tahu agar tidak salah melangkah.”
Jawab Jafar.
“Iya abah ngerti kok, kalau kamu mengucap salam kepada ahli
kubur bagaimana ?” Tanya abah gurunya Jafar.
“Assalaamu’alaikum Yaa ahlad diyar minal mu’minin wal
muslimiin. Wa inna Insya Allahu bikum laahiquun……!” Jafar mempraktekan ucapan
salam kepada Ahli kubur di depan abah gurunya.
Jafar belum paham apa maksut abah gusunya menanyakan ha itu
yang dianggap hal yang pasti bisa dan biasa dilakukan setiap muslim.
“Nah, sekarang abah mau tanya kenapa saat menyebut ‘Wainna
Insya Allahu bikum laahiqun..’ pakai kata Insya Allah. Padahal mati itu kan
pasti. Kenapa pakai Insya Allah ?” tanya Abah gurunya Jafar.
“Iya ya bah, Jafar baru sadar kenapa pakai Insya Allah,
padahal menyusul mereka (mati) itu kan pasti. Apa Jafar salah memakai kata
Isnyaa Allah ( =Bila Allah menghendaki ).” Tanya Jafar.
“Tidak salah, tapi kamu yang belum paham. Soal mati itu
pasti, tapi apa kita bisa mati dalam keadaan Iman atau tidak itu belum pasti.
Makanya ketika kita ziarah ke makam orang Solih mengucap Salam seperti itu.
orang Solih yang kita ziarahi itu. kalau soal matinya memang sudah pasti…!”
jawab abah gurunya Jafar.
“Iya bah, Terimakasih bah Jafar sudah paham sekarang kenapa
kita harus sering ziarah kubur ke makam orang Solih. Karena dari membaca Salam
nya saja sudah menjadi doa permohonan seperti itu.” Kata Jafar yang langsung
paham dengan keterangan abah gurunya tersebut.
Sehingga tak ada keraguan lagi bagi Jafar melakukan Ziarah
ke makam orang orang Solih. Meskipun beberapa orang menganggap itu Syirik,
karena hanya kurang paham saja. Mereka belum tahu secara dalam makna Ziarah dan
ucapan salam kepada ahli kubur yang diziarahi, pikie Jafar.
…..
Di Pondok Al-Hikam Sidiq juga sedang diwejang oleh Kyai
Nurudin abah gurunya Sidiq.
“Abahmu ini memang tidak begitu mengenal ayah kamu Sidiq.
Berbeda dengan abah gurunya adik kamu kang Syuhada. Yang banyak mendengar
tentang ayah kamu dan pernah beberapa kali melihatnya saat ayah kamu di
pesantren dulu.” Ucap abah gurunya Sidiq.
“Jadi abah juga dengar bagaimana ayah Sidiq dulu waktu di
pesantren ?” tanya Sidiq.
“Abah hanya diberitahu kang Syuhada abah guru adik adik
kamu. Jika Ayah kamu dulu mirip dengan kamu sifatnya. Tempramental tapi dia
sangat cerdas, bahkan dalam ilmu Mantiq (Logika) hampir tidak ada yang bisa
mengalahkan ayahmu dulu di pesantren. Nah itu yang harus Sidiq tiru, bukan
sifat tempramentalnya.” Ucap abah gurunya Sidiq.
Sidiq hanya mendengarkan samba tertunduk, mengakui sifat
tempramentalnya yang masih tinggi. Dan Sidiq termotivasi untuk bisa mencontoh
kecerdasan Ayahnya. Seperti saat membantu Jafar agar bisa mengetahui keberadaan
__ADS_1
ki Marto sentono yang memakai aji halimun Welut putih. Sebuah cara yang sangat
Sederhana tapi begitu efektif. Bahkan sidiq menyadari Jafar adiknya yang
memiliki kecerdasan seperti ayahnya sat menjebak Lady Ninja dan berhasil
membuat dia merasakan asap beracun miliknya sendiri.
“Iya Bah, bahkan Jafar adik Sidiq yang memiliki kecerdasan
seperti ayah Sidiq.” Kata Sidiq Jujur.
“Kamu juga sebenarnya memiliki kecerdasan itu Sidiq. Hanya
saja saat ini masih tertutup Hijab (=dinding / penghalang ).” Kata Abah gurunya
Sidiq.
“Bagaimana cara membuka Hijab tersebut bah ?” Tanya Sidiq.
Kyai Nurudin abah gurunya Jafar tersenyum sebelum menjawab.
“Bersihkan hati kamu Sidiq, karena hati itu seperti kaca.
Dan dosa atau maksiat itu seperti debu yang mengotori kaca. Jika tidak selalu
dibersihkan akan menutupi kaca dan menjadi buram tidak bening lagi.” Jawab abah
gurunya Sidiq.
“Bagaimana caranya bah ?” Tanya Sidiq.
“Belajar ikhlas, singkirkan dan buang jauh jauh sifat iri
dengki berupa Riya’ ( Pamer = menunjukkan kelebihan dengan maksut sombong )
Ujub ( Merasa lebih baik dari orang lain = tidak terucap tapi hanya dalam hati
) hal itulah yang menjadi Hijab masuknya Nur ( cahaya ) ilahiyah. Sehingga akan
sulit menerima ilham ( petunjuk berupa ide atau pemahaman).” Jawab Abah gurunya
Sidiq.
Sidiq pun memahami maksud dari perkataan abah gurunya
tersebut. sekaligus menyadri kelemahnnya selam ini. Serta berusaha memperbaiki
kelemahnnya tersebut dengan bersikap lebih sabar menahan diri.
Begitulah seorang Kyai dalam mendidik murid muridnya dengan
penuh kesabaran dan melalui proses selangkah demi selangkah tidak terburu buru
dalam merubah sifat anak muridnya.
…..
Yasin POV
Hatiku masih merasa was was terhadap anak anakku, pasca
kejadian di padepokan itu. apalagi anak yang bernama Ari itu sudah tahu jika
aku adalah Yasin yang mereka buru. Aku punya firasat jika mereka akan menjadikan
anak anakku sebagai pelampiasan dendam mereka. Bahkan mungkin juga istri dan
anak didikku di rumah.
Sudah tentu mereka justru semakin merasa dendam karena tahu
sudah aku bohongi kemarin dengan mengaku sebagai sahabat Mentorogo dan orang
dekat Joyo Maruto. Aku harus ekstra hati
hati lagi saat ini, di rumah hanya aku yang laki laki. Isna dan Utari juga
harus aku gembleng dengan Jurus suci Hijaiyah minimal bisa melindungi diri
mereka sendiri. Selain aku juga harus melatih anak anak pesantren Al-Huda dan
Al-Hikmah.
“Mas lagi mikir apa sih kok kayak melamunkan hal yang berat
banget. Kan baru saja menyelesaikan sebuah kasus yang cukup Besar ?” Tanya
Fatimah istriku.
“Kasus itu belum tuntas dan malah menjadi awal permasalahan.
Karena para petinggi padepokan itu semuanya lolos. Termasuk Jalu yang kemarin
membunuh warga tak bersaah di Desa sebelah.” Jawabku.
“Terus apa rencana selanjutnya ?” Tanya Fatimah.
Aku serig tidak tega karena selalu saja harus berhadapan
dengan masalah yang membahayakan jiwa istriku juga. Tapi aku juga tidak mungkin
menghindar dari semua ini.
“Doakan saja aku bisa menemukan cara yang terbaik buat
menyelesaikan maslah ini. Saat ini aku juga sedang berpikir bagaimana rencana
selanjutnya.” Jawabku pada Fatimah.
Karena aku sendiri juga belum menemukan cara menghadapi
semua kemungkinan yang akan terjadi. Namun aku yakin jika mereka musuh musuhku
__ADS_1
pasti sedang merencanakan sesuatuuntuk mencelakai aku dan keluargaku…!?!”
Bersambung