Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pertempuran di markas Ki Munding Suro 3


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Pertempuran di markas Ki Munding Suro 3...


Bojleng bojleng dajjal Laknat…Sudah saatnya kamu akan menjadi bangkai malam ini…!” Ucap Ki Munding Suro yang sangat dendam dengan Yasin…!!!


“Bojleng bojleng dajjal Laknat…Sudah saatnya kamu akan menjadi bangkai malam ini…!” Ucap Ki Munding Suro yang sangat dendam dengan Yasin…!!!


Sebenarnya Yasin sadar, dengan Kondisinya saat ini dia tak akan mampu melawan empat orang tersebut. Sehingga Yasin menutupi itu semua dengan berlagak santai, seperti tidak sedang dalam keadaan sakit. Sambil mencari akal untuk memberi kode minta bantuan.


“Sengaja aku tidak ikut masuk tadi, karena dua anakku sudah aku persiapkan untuk melawan kalian. Dan sudah aku bekali dengan Golok Hitam yang aku ambil dari Birowo dulu. Ketika dia aku kalahkan dengan mudah.” Kata Yasin mencoba menjatuhkan mental lawan lawannya.


Bahkan Yasin sambil menyalakan rokok dengan santai. Namun sebenarnya Yasin juga sedang berusaha menyiapkan bom molotov yang disiapkan sebelumnya, Bom molotov dari botol Minuman dan botol air mineral. “aku harus pukul mereka dengan jurus ‘Ya’ lebih dulu agar mereka terpental. Baru aku lempar bom molotov nanti.” Pikir Yasin.


“Bersiaplah kamu sekarang juga untuk meninggalkan dunia ini.” Ucap Ki Munding Suro.


Yasin melompat mundur menyiapkan jurus ‘Ya’ dan dengan cepat memukulkan telapak tangannya ke tanah dan sapuan angin kencang menerjang keempat orang tersebut. Ki MUnding Suro yang juga masih belum pulih total tenaganya ikut terpental juga.


Meskipun Yasin sendir merasa kelelahan setelah menggunakan jurus tersebut. Namun dengan sekuat tenaga Yasin menyalakan tiga bom Molotov  dan dilempar ke arah empat orang tersebut. Sehingga ledakan bom Molotov tersebut terdengar oleh Sidiq, Jafar dan Tohari juga Sena.


…..


“Sidiq…kamu masih pasang peledak lagi ?” Tanya Tohari pada Sidiq.


“Tidak Wak, bukan Sidiq.” Jawab Sidiq.


“Celaka…Ayah dalam bahaya Ki Munding dan tiga muridnya tadi kabur pasti menemukan Ayah di luar sana.” Sahut Jafar.


“Yasudah Kalian Berdua cepat bantu ayah kalian biar aku dan Kang Tohari yang selesaikan mereka.” Kata Sena sambil melayangkan serangan ke arah anak buah  Ki Marto yang masih tersisa.


Sidiq dan Jafar pun menjadi sangat marah, dengan luapan emosi dia menghantam setiap orang yang akan menghalangi langkahnya untuk menolong Yasin Ayahnya. Melihat sepak terjang Sidiq dan Jafar, semua anak buah Ki Marto jadi ketakutan. Setiap kawan mereka yang mendekat langsung terpental dan jatuh pingsan. Sehingga tak satu orang pun yang berani mengejar Sidiq dan Jafar.


Sementara Tohari juga tidak ingin berlama lama melayani anak buah Ki marto berikut Ki Marto sentono sendiri yang sudah ikut bergabung.


Tohari berencana untuk membuat satu gerakan yang membuat mereka jadi syok dan kabur atau menyerah.


Tohari akhirnya memilih sasaran yang tepat yaitu Ki Marto untuk menerima Aji Gelap ngampar agar yang lain jadi ketakutan. Meskipun tidak akan menggunakan tenaga penuh.


Dan dengan cepat Tohari menghantam Ki Marto Sentono dengan Aji Gelap Ngampar.


Ki Marto yang terkena Aji Gelap Ngampar pun terpental dengan baju yang koyak dan hangus.

__ADS_1


“Guru…!!!” teriak anak buah Ki Marto berlari menghampiri Ki Marto yang jatuh Pingsan.


“Bagi yang ingin mengalami Nasib seperti Ki Marto silahkan maju ke sini…!” Ucap Tohari.


Semua terdiam tak ada yang bergerak, namun dian diam Jalu, Bayu Aji dan Jaka menggunakan Ilmu Halimun mereka dan hendak menyerang Tohari dengan sembunyi sembunyi.


Sayangnya mereka tidak tahu jika Sena sudah menggunakan kenestesisnya untuk antisipasi menghadapi ilmu Halimun. Sehingga Sena dapat merasakan gerakan tiga orang yang menggunakan ilmu halimun tersebut.


Kemudian Sena segera mengambil tiga buah senjata milik anak buah Ki Marto yang terjatuh dan melemparkan ke arah tiga orang tersebut. jeritan kesakitan dari tiga orang tersebut saat tubuh mereka tergores dan tertusuk senjata yang dilemparkan Sena.


“Mau sembunyi dengan apa lagi sekarang jika darah kalian sudah mengalir begitu ?” Ucap Sena mengejek Jalu dan kawan kawan yang menggunakan Aji Halimun tersebut.


“Bagaimana ini, kita sudah ketahuan, karena kita semua terluka darah kita mengalir.” Ucap Jaka.


“Kita kabur dulu saja…!” Jawab Jalu.


Namun pembicaraan mereka terdengar Oleh Sena dan Tohari.


“Sena…tangkap yang bernama Jalu. Biar kasusnya segera diproses hukum.” Ucap Tohari.


Sena pun kembali menyerang tiga orang tersebut meski mereka menggunakan Ilmu Halimun. Sena berhasil mengenai sasaran dengan tepat ketiga orang tersebut. dan suara mengaduh Jalu yang jadi patokan Sena, dan segera melanjutkan menyerang ke arah Jalu. Toahri pun tidak tinggal diam, dengan penerangan lampu yang seadanya, Tohari mampu melihat kucuran darah dari musuh musuhnya. Sehingga cukup bagi Tohari untuk menyerang mereka dengan melihat aliran darah yang keluar.


Sehingga Jaka dan Bayu Aji memilih kabur melarikan diri, merasa tak akan mampu menghadapi Tohari. Hanya Jalu yang tak sempat Kabur karena terus didesak oleh Sena. Dengan menggunakan Kenestesisnya Sena mampu membuat Jalu tak berkutik di hadapan Sena.


Dan Terakhir Tohari yang melihat Jalu dari luka yang mengalirkan darah itu ikut ambil bagian.


Melihat itu Sena segera membantu Tohari meringkus Jalu. Dan Tohari memberikan pukulan dulu sampai Jalu pingsan. Kemudian sosok yang masih tidak terlihat itu segera diikat dan dibawa keluar.


Sena dan Tohari mengkhawatirkan keadaan Yasin.


“Semoga Sidiq dan Jafar tadi dapat segera membantu ayahnya.” Ucap Sena.


“Aku Yakin mereka bisa datang dengan cepat, semoga saja Yasin bisa menggunakan akalnya untuk bertahan menghadapi mereka.” Sahut Tohari.


“Semoga saja, sepertinya Mas Yasin gak akan kehabisan Akal.” Ucap Sena.


Kemudian keduanya pun mencari keberadaan Yasin.


….


Kembali pada pertarungan Yasin melawan Ki Munding Suro dan ketiga Muridnya.


“Kurang ajar, anak dan bapak sama saja selalu menggunakan cara cara licik.” Teriak Ki Munding Suro.


“Menghadapi manusia Licik seperti kalian memang harus dengan cara licik juga.” Jawab Yasin.


“Kamu jangan senang dulu bisa membuat kami terpental, sebentar lagi aku akan antar kamu menjemput ajal.” Bentak Ki Marto dengan Geram.


“Owh iya… kayaknya Malaikat maut sudah dari tadi mengincar kamu bukan aku.” Jawab Yasin

__ADS_1


“Sudah Guru waktu kita sudah sangat mepet,Jangan sampai ada bala bantuan yang datang. Habisi saja sekarang dengan Ilmu karang.” Teriak Wiratmojo yang juga dendam dengan keluarga Yasin.


“Aku belum siap menggunakan ilmu karang, sejak beradu dengan Aji Waringin Sungsang miliknya dulu.” Bisik Ki Munding Suro.


“Kalau begitu biar aku saja guru, guru dan Adi Gagak Seta serta Jaladara awasi jangan sampai ada yang membantu orang itu.” Jawab Wiratmojo.


“Mana Ilmu Karangmu orang tua, apa sudah berpindah jadi karang Gigi ?” Ucap Yasin meledek. Untuk memancing Ki Munding Suro.


Yasin merasakan ada yang tidak beres juga pada Ki MUnding Suro yang tidak langsung menggunakan Ilmu Karangnya.


“Kata Guru, untuk menghadapi kamu cukup aku yang gunakan Ilmu karang, karena gak ingin kamu langsung mati. Biar kami puas menyiksa kamu dulu.” Ucap Wiratmojo.


“Hah Ilmu karangmu masih karang muda yang Lunak, mana mungkin mau menghadapi Aji Waringin Sungsang. Tapi Baiklah, aku gak akan gunakan Aji Waringin Sungsang jka yang maju hanya Kamu.” Jawab Yasin. Yasin mempersiapkan diri dengan Aji lembu sekilan, karena belum mampu secara Fisik menggunakan Aji Waringin Sungsang.


“sepertinya ilmu karang orang ini masih lemah. Aku coba hadapi dengan Lembu sekilan saja, sebelum Bantuan datang.” Kata Yasin dalam hati.Wiratmojo pun segera membuka jurus Ilmu karangnya, sementara Yasin mempersiapkan diri dengan Lembu Sekilannya.


“Tunggu kakang…!” Teriak Gagak Seta.


“Biar Kami bantu dengan Karang hitam kembar kami.” Sahut Jaladara.


“Iya biar cepat ayo lakukan sekarang juga keburu yang lain datang.” Teriak Wiratmojo.


Namun tiba tina sebelum  Wiratmojo dan dua adik seperguruan mereka bergerak tiba tiba ada selarik sinar yang menghantam mereka. Dan sinar itu datangnya bukan dari arah Padepokan Ki Marto melainkan dari arah yang berlawanan.


Wiratmojo dan kedua adik seperguruan itu pun jadi terpental.


“Kita kabur sekarang saja, belum saatnya hadapi dia.” Teriak Ki Munding.


Maka mereka berempat pun Kabur meninggalkan Arena. Tinggalah Yasin yang bingung siapa yang menolongnya. Kemudian Yasin batuk batuk, dan ada darah kental keluar dari mulutnya. Rupanya saat menggunakan jurus ‘Ya’ tadi membuat Yasin terkuras tenaganya. Karena peredaran darahnya yang masih terganggu. Dan Akhirnya Yasin pun jatuh pingsan, di tempat itu.


Beberapa detik kemudian barulah Sidiq dan Jafar datang dan mendapati Yasin Ayahnya yang tergeletak Pingsan.


“Ayah…!!!” Teriak Sidiq dan Jafar bersamaan, Namun Yasin tetap belum bisa bangun dari pingsan nya.


Seorang Yasin, harus jatuh bukan karena musuh tapi karena kelelahan yang sangat dalam kondisi lemah memaksakan diri untuk ikut bertempur…!?!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2