
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
"Aku akan undang seseorang yang bernama Gede Paneluh, biar dia yang akan membongkar siapa orang yang mengaku bernama Zain tadi. Jika terbukti dia musuh maka harus dihabiskan saat itu juga.” Jawab Marto sentono.
Kemudian marto sentono pun merencanakan sesuatu untuk menjebak Yasin agak tidak dapat menyembunyikan jati dirinya Lagi.dengan Bantuan Gede Paneluh yang ahli teluh dan Santet…???
“Paman Zain bilang lusa akan kesini lagi guru, apa perlu kita tanya secara langsung saja ?” Tanya Jaka yang masih belum yakin dengan ucapan gurunya.
“Tidak usah, dan kalian semua jangan sampai berubah sikap pada orang itu. Agar dia tidak curiga. Begitu juga masalah ini cukup kita yang tahu. Anggota lain tidak boleh ada yang tahu.” Kata Marto Sentono.
“Kenapa begitu guru ? makin banyak yang tahu kan makin mudah menyelidiki.” tanya Bayu Aji ikut berkomentar.
“Pikiran kamu yang Naif, namanya rahasia itu semakin sedikit yang tahu semakin bagus. Kalau banyak yang tahu bukan rahasia namanya.” Jawab Marto Sentono.
Aji Bayu pun hanya diam saja, tidak berani membantah gurunya. Disamping tidak punya argument lain juga.
“Terus apa yang harus kita lakukan guru, kalau kita tidak boleh berubah Sikap.” Tanya Jaka kemudian.
“Bersikaplah seakan akan tidak tahu apa apa, dan nanti di detik detik menjelang pertarungan Peran Zain akan kita Ganti dengan jago yang lain. Sehingga apa yang direncanakan tidak akan berjalan sesuai rencana dia.” Jawab Mentorogo.
“Siapa yang akan menggantikan kang Jaka Guru ?” Bayu Aji bertanya kemudian.
“Tentu saja Gandung Santosa kakaknya Jaka Santosa, nanti akan hadir di saat yang tepat.” Jawab Marto sentono.
“Apa kakang Gandung sudah dihubungi guru ?” Tanya Jaka.
“Sudah, dan saat ini masih memerdalam ilmunya juga.” Jawab Marto Sentono.
“Tapi kemampuan kang Gandung tidak lebih baik dari aku Guru.” Jawab Jaka.
“Memang tapi setidaknya dia tidak mengalami patah tangan seperti kamu. Dan Aku tetap sesuai rencana masuk arena dengan Aji welut putih, seperti rencana sebelumnya.” Jawab Mentorogo.
Marto Sentono memang berencana menggunakan aji welut putih dan menghilang agar tidak Nampak. Kemudian akan masuk ke arena untuk membuat Sidiq / Jafar tidak berdaya. Dengan tidak jadinya Yasin disuruh maju menghadapi Sidiq/Jafar Marto Sentono berharap rencana Yasin yang mengaku sebagai Zain jadi gagal total. Dan mau melihat tindakan apa yang akan dilakukan Yasin kemudian.
Marto Sentono belum tahu jika Sidiq ( yang sebenarnya Jafar ) itu keduanya adalah anak Yasin. Marto Sentono hanya menduga Yasin adalah penyusup yang punya tujuan lain. Atau sekedar ingin menghancurkan Padepokan miliknya, Yasin dicurigai sebagai anggota Padepokan lain yang menjadi saingan saja.
>>>>>
>>>>>
>>>>>
Seiring waktu berjalan, hari dimana Yasin berjanji akan kembali ke padepokan tersebut pun telah tiba. Dan semua anggota Padepokan baru saja selesai melakukan ritual khusus kemudian bersama sama membenahi Padepokan yang kemarin sempat rusak karena Jafar sekaligus untuk persiapan pagelaran Akbar. Yang akan mempertandingkan murid Padepokan dengan Sidiq dan Jafar.
Yasin dan Rofiq kembali datang ke padepokan tersebut. Yasin yang tidak tahu jika dirinya sudah dicurigai oleh Marto Sentono dan semua tampak masih sama dengan saat dia pertama kali datang. Bahkan Jaka yang masih sedikit ragu dengan keterangan gurunya pun menyambut Yasin/ Zain seperti menyambut teman ayahnya. Ditemani juga oleh Bayu Aji, yang berusaha tetap bersikap biasa.
“Selamat datang kembali paman Zain dan paman Rofiq. Senang sekali bisa berjumpa lagi disini.” Sapa Jaka.
“Terimakasih Jaka, bagaimana lukamu apa sudah sembuh ?” tanya Yasin.
“Sudah semakin baik paman, tinggal menunggu pulih sempurna saja.” Jawab Jaka.
“Berada dimana Guru Marto Sentono sekarang ?” Tanya Yasin.
“Owh Guru sedang semedi paman, mungkin tidak bisa diganggu dulu saat ini.” Jawab Jaka.
“Owh begitu, gapapa aku hanya mau ikut bantu bantu saja di sini sekarang. Tampaknya masih cukup berantakan.” Kata Yasin.
“Iya paman, itu ulah pemuda yang bernama Sidiq Sekartadji kemarin. Yang menghancurkan seluruh bagian depan Padepokan ini.” Sahut Bayu Aji.
“Jadi begitu, apa waktu itu padepokan gak banyak orang ?” tanya Yasin.
“Banyak paman, tapi semua malah bubar karena Sidiq mengamuk sampai kakang Jaka terluka.” Jawab Bayu Aji.
“Aku lihat kamu cukup kuat Jaka, bagaimana ceritanya tangan kamu bisa dipatahkan oleh anak muda itu ?” tanya Yasin.
“Awalnya kita bertarung, sehari sebelumnya paman. Sebenarnya Jaka Yakin kaki Sidiq patah waktu itu. karena terkena ilmu Tameng Wojo saya. Tapi ternyata hanya terkilir saja, kemudian datang kesini lagi sehari setelahnya dan mengamuk disini.” Jawab Jaka.
“Apa kamu tidak menggunakan ilmu tameng wojo sampai tangan kamu bisa patah ?” tanya Yasin.
“Pakai juga paman, tapi Sidiq pun mengeluarkan ilmunya juga tapi Jaka tidak tahu ilmu apa sampai bisa mematahkan tangan Jaka bahkan terluka dalam juga.” Jawab Jaka.
Rofiq hanya banyak diam mendengarkan Yasin berbicara dengan Jaka dan Bayu Aji.
“Owh begitu, Jaka gak tahu Ilmu apa. Gerakanya seperti apa Jaka ?” Tanya Yasin.
“Waktu itu Sidiq menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kaki kanan diangkat sedikit dan kaki kiri ditekuk kemudian langsung menyerang Jaka dengan lompatan dan pukulan tangan ke Jaka. Dan ternyata Jaka terpental dan tangan Jaka patah dan muntah Darah.” Jaka menceritakan kejadian saat menghadapi Jafar yang dikira sidiq.
Yasin jadi heran mendengar cerita Jaka, “Itu kan lebur saketi, dan itu pasti Jafar bukan Sidiq. Tapi kenapa mereka mengira itu Sidiq. Atau Jafar balas dendam karena kakaknya kakinya patah, dan mereka mengira itu Sidiq yang balas dendam. Karena mereka belum tahu Jafar.” Kata Yasin dalam hati.
“Kok aneh sekali ilmu nya ya, baru dengar ini aku Jaka.” Kata Yasin berbohong.
“Iya Paman, Jaka juga baru lihat sekali itu.” Jawab Jaka.
“Apa waktu itu anak yang bernama Sidiq itu tidak bicara apapun langsung mengamuk saja disini ?” tanya Yasin.
“Tidak paman, dia bilang coba kalau kemarin aku tidak terkilir sudah aku hajar kamu dari kemarin. Dan setelah saya pingsan dia menantang semua yang ada disini siapa yang mau maju menghadapi Sidiq Sekartadji akan aku buat seperti Jaka. Begitu kata teman teman saya paman.” Jawab Jaka.
Yasin jadi tambah bingung, kalau retorika bahasanya memang Sidiq, tapi lebur Saketi itu hanya Jafar yang punya selain Khotimah. Dalam kebingungan itu Yasin tidak terasa mengucapkan kalimat karena Heran.
“Kok aneh sekali, apa yang sebenarnya terjadi ?” kata Yasin meski pelan tapi didengar Jaka dan Bayu.
“Apanya yang aneh paman ?” Jaka bertanya pada Yasin.
“Owh ini, harusnya kamu tidak sampai patah tangan begitu. Boleh aku lihat lukanya, barangkali aku bisa bantu obati ?” Tanya Yasin mengalihkan perhatian. Sekaligus mau menanamkan kepercayaan dengan sedikit membantu Jaka.
Jaka agak ragu untuk menjawab, namun akhirnya Jaka percaya kepada Yasin. Jaka pun membuka tangannya yang kemarin terkena lebur saketi.
Yasin melihat bekas luka Jaka, “ini jelas lebur Saketi, bisa dipastikan perbuatan Jafar. Masih banyak saraf yang terkunci karena pukulan Jafar kemarin. Aku akan buka sebagian saraf yang terkunci agar tangan Jaka bisa lebih nyaman. Dengan begitu dia akan yakin kalau aku di pihaknya, meski tidak akan semua aku buka cukup sebagian dulu.” Kata Yasin dalam hati.
Kemudian Yasin berdoa pelan tanpa didengar Jaka dan Bayu Aji dan sedikit menekan simpul saraf yang terkunci agar terbuka sebagian. Jaka sempat meringis kesakitan, namun merasa lebih nyaman setelah di obati Yasin.
“Bagaimana sekarang, apa terasa lebih nyaman ?” tanya Yasin.
__ADS_1
Jaka menggerak gerakkan tangannya, dan merasakan gerakannya lebih nyaman dari sebelumnya.
“Iya paman, makasih paman Jaka harus lapor ke guru kalau tangan Jaka sudah agak baikan diobati paman Zain.” Ucap Jaka langsung berjalan menuju ke ruang khusus milik gurunya di ikuti Bayu Aji.
Yasin hanya memandangi, Jaka dan Bayu Aji sampai kejauhan, “ada yang tidak beres rupanya, tadi bilangnya gurunya tidak bisa diganggu. Tapi sekarang mau lapor ke gurunya.” Kata Yasin Dalam hati.
“Ngapain kamu malah sembuhkan dia Zain, gue jadi bingung sama lo Zain…!?!” ucap Rofiq berbisik.
“Hanya untuk meyakinkan, kayaknya kita dicurigai bang.” Bisik Yasin.
“Maksutnya ?” tanya Rofiq. Namun sebelum Yasin menjawab ada salah satu anggota yang melihat mereka berbisik bisik.
“Paman, kenapa disini berdua saja ? Apa ada hal penting untuk dibicarakan berdua saja ?” tanya salah satu anggota Padepokan yang kemarin ikut meneroyo Yasin.
“Owh gak kok,, tadi saya habis bicara banyak dengan Jaka terus aku obati dan sekarang sedang melapor gurunya kalau sudah semakin baik. jadi aku dan temanku berencana mencarikan obat besok untuk Jaka.” Jawab Yasin
“Iya paman kasihan kang Jaka, sekarang belum bisa ikut latihan dan kegiatan lain.” Ucap orang itu.
“Apa yang bisa kami bantu untuk kerjakan sekarang ?” Tanya Yasin.
“Gak usah paman, biar kami saja yang kerjakan.” Ucap orang itu.
“Gapapa badanku malah pegel pegel kalau hanya berdiam diri, itu saluran air patah juga biar aku saja yang menyambung.” Kata Yasin.
“Baiklah paman, itu paralonnya pecah dan harus ganti tadi barusan saja belinya.” Kata orang itu.
“Yasudah sini biar aku yang ganti, sekalian lem dan gergajinya ambilin.” Ucap Yasin.
Orang itu pun mengambil dua paralon panjang dan diserahkan ke Yasin kemudian kembali ke tempatnya bekerja bersama teman temannya.
Yasin mengajak Rofiq untuk mengganti paralon saluran air yang pecah. Awalnya Rofiq pun ogah ogahan tapi terus didesak Yasin agar mau membantu. Rofiq pun terpaksa mau membantu Yasin.
Saat memasang / mengganti paralon Yasin naik tangga dan sengaja menaruh ujung paralon di sela sela dinding ruang khusu Marto Sentono. Dan sambil pura pura sedang mengukur paralon yang akan diganti, Yasin menempelkan telinganya ke lubang paralon yang salah satu ujungnya ada diatas ruang khusus Marto Sentono. Sehingga melalui paralon tersebut Yasin masih bisa mendengar meski agak lamat lamat pembicaraan di ruang khusus Marto Sentono.
*****
Isi pembicaraan yang Yasin dengarkan :
Jaka : “Benar Guru, tadi paman Zain yang mengobati.”
Marto Sentono : “Aneh sebenarnya apa tujuan orang itu, kalo niat jahat masak ngobatin kamu juga.”
Jaka : “Kayaknya memang tidak berniat jahat ke kita guru”
Marto Sentono : “Baiklah, kita Uji besok saat hari H kita kasih kesempatan melawan anak muda itu”
Jaka : “Saya setuju guru, paman Zain pasti bisa menang nanti.”
Bayu Aji : “tapi kita kasih batas waktu maksimal sepuluh menit guru. Kalau gak bisa kalahkan mundur saja. Ganti kakang Gandung Santosa kakaknya kakang Jaka dengan tetap dibantu guru menggunakan aji welut putih.”
Marto sentono : “Nah itu baru ide yang bagus, tapi Zain tidak merasa curiga kan dengan kalian tadi ?”
Jaka & Bayu Aji : “Tidak Guru”
Yasin merasa cukup kemudian melanjutkan memasang paralon utuh itu untuk mengganti paralon yang pecah. Kemudian Yasin pun turun hendak mencuci tangan yang kotor terkena lem paralon. “Boleh juga ide kamu Marto Sentono, kita lihat nanti siapa yang strateginya lebih baik. Aku atau kamu yang bisa berhasil menjalankan rencana dengan baik.” kata Yasin dalam hati. Setelah dapat mendengarkan pembicaraan Rahasia Marto Sentono dan murid muridnya.
Saat hendak cuci tangan Yasin di panggil oleh Jaka dan Bayu Aji.
“Itu habis pasang paralon air yang kemarin pecah, biar tidak banyak air yang menetes, kan sayang kalo tiap hari menetes.” Jawab Yasin. Meski Yasin paham, jika bayu Aji agak curiga.
“Lah kenapa paman Zain yang mengerjakan kan banyak anggota lain yang lebih muda “ tanya Jaka.
“Gak papa Jaka, paman kan juga mau ikut berpartisipasi di padepokan kita ini.” Jawab Yasin berkilah.
Rupanya pembicaraan itu juga didengar oleh Marto Sentono, kemudian Marto Sentono pun keluar ikut bergabung.
“Kenapa gak nyuruh yang lain saja, kamu kan bakal jadi wakil padepokan nanti untuk melawan pemuda sakti itu.” kata Marto Sentono.
“Gapapa ki Marto, hitung hitung nebus kesalahan karena terlambat bergabung sampai putera sahabatku Mentorogo terluka. Owh iya Jaka, ayah kamu dulu juga pernah cerita punya anak laki laki satu lagi, kalau gak salah namanya Gandung. Dimana dia sekarang, apa sehat sehat saja dia ?” tanya Yasin. Sok tahu, padahal hasil nguping baru saja.
“Haah paman tahu aku punya kakak laki laki juga, rupanya paman cukup Akrab dengan ayah Jaka.” Jawab Jaka. Bayu Aji dan Marto sentono pun jadi makin bimbang siapa Zain sebenarnya.
“Tunggu,,, kamu ini sebenarnya apanya Mentorogo kalau kamu bilang lawan latih tanding jelas gak mungkin. Karena Mentorogo tidak pernah latih tanding.” Tanya Marto Sentono.
“Awalnya memang kakang Mentorogo tidak pernah latih tanding. Tapi semenjak dipanggil gurunya ki Joyo Maruto jadi sering latih Tanding. Dan sempat diajari ilmu kelabang sayuto juga oleh ki Joyo Maruto bersama murid murid barunya juga ki Ajar Panggiring. Karena waktu itu melawan musuh yang sangat berat katanya.” Jawab Yasin mengarang cerita sebagian.
Semua terdiam, karena Yasin mengetahui persis nama guru dan ilmu andalan Joto Maruto guru Mentorogo.
“Setahuku, tidak banyak yang tahu ilmu itu apa kamu juga ada hubungan dengan kakang Joyo Maruto ?” tanya Marto Sentono.
Yasin berpikir sejenak sebelum menjawab, agar tidak salah bicara.
“Aku agak bingung mau menjelaskan dari mana, dengan ki Joyo Maruto kalau dibilang ada hubungan darah juga tidak. Tapi dari kecil aku sudah dianggap anak oleh ki Joyo Maruto. Jadi aku sedih ketika melihat Jasad ki Joyo Maruto yang tertembus Pedang sampai ke jantungnya waktu itu. Jadi niatku bergabung kesini memang karena aku tahu ada hubungan dengan ki Joyo Maruto. Kalau soal ilmu kanuragan aku sudah merasa cukup sebenarnya, gak pengen belajar lagi.” Jawab Yasin panjang lebar.
“Hmmm… masuk akal sih, tapi aku juga pengen tahu ilmu lain kakang Joyo Maruto yang kamu tahu apa saja ?” tanya Marto Sentono.
“Banyak sekali susah disebutkan, dari Suro Maruto sampai ke ilmu ‘Panggiring Sukma’ yang sangat mengerikan itu. belum lagi ilmu ilmu lain yang tidak terlalu istimewa.” Jawab Yasin dengan lancar, karena semua ilmu Joyo Maruto itu pernah dirasakan Yasin semua saat bertempur dulu. Namun Marto Sentono menduga jika Yasin benar benar orang dekat Joyo Maruto kakak seperguruannya.
“Kamu bisa tahu sejauh itu, kenapa kakang Joyo Maruto tidak pernah cerita tentang kamu padaku ?” tanya Marto Sentono.
“Gak sebatas itu saja, sampai ke prewanganya saja aku dulu dikenalkan. Yang namanya mbah Jambrong juga pernah dipertemukan ( Novel Isyaroh \= Yasin menyelamatkan Laras ). Sayang beliau sudah gak ada, kalau masih sakit seperti Jaka tadi gak sampai jam jam an sudah bisa pulih.” Ucap Yasin semakin membuat Marto sentono Yakin jika Yasin yang mengaku sebagai Zain tersebut adalah orang dekat Joyo Maruto.
“Aku gak nyangka, kakang Joyo Maruto punya simpanan anak murid seperti kamu bahkan aku kemarin curiga sama kamu aku kira kamu penyusup.” Ucap Marto Sentono.
“Wkakaka…. Buat apa aku jadi penyusup, aku gak punya padepokan bukan saingan. Musuh juga bukan bahkan kita juga baru saling ketemu. Aku hanya sedikit menyesal belum menerima ajian kelabang sayuto dan ajian welut putihnya ki Joyo Maruto. Kalau ilmu pengobatan tadi sudah aku praktekan ke Jaka anak sahabatku Mentorogo.” Jawab Yasin.
“Maaf Paman, kenapa ayah juga gak pernah cerita atau menyebut nama paman ya, sehingga kita memang kemarin juga jadi agak curiga ?” tanya Jaka.
“Apa Jaka sudah pernah bertemu dengan semua sahabat ayah kamu ?” tanya Balik Yasin.
“Belum paman, bahkan hanya dengan nama saja tapi orangnya tidak pernah ketemu.” Jawab Jaka.
Yasin berpikir sejenak untuk meyakinkan Jaka.
“Kamu pernah dengar nama Maheso Suro, ki Soma dan Anggada ?” tanya Yasin.
“Pernah paman, di akhir akhir pertemuan dengan beliau sering sebut nama nama itu.” jawab Jaka.
“Kalau nama Jaka Gledek pernah dengar belum ?” kata Yasin mulai mengarang nama.
“Kalau itu belum paman ?” jawab Jaka.
__ADS_1
“Wah ayah kamu memang suka begitu, padahal justru aku yang sering disuruh mencoba ilmu tameng wojonya, malah aku yang pernah diceritakan sama kamu.” Jawab Yasin pura pura Sedih.
“Jadi paman ini dulu gelarnya Jaka Gledek ?” tanya Jaka.
“Betul sekali, makanya ayah kamu juga sering cerita kalau anaknya juga bernama Jaka tapi nama belakangnya Santosa nama dia sendiri.” Ucap Yasin imajinasinya mulai keluar.
Sementara Rofiq dari jarak agak jauh hanya membatin, “dasar tukang ngibul, pada mau aja dikibulin Zain.” Kata Rofiq dalam hati sambil menahan tawa.
Begitulah cara Yasin membangkitkan kepercayaan kepada musuh musuhnya agar tidak curiga kepadanya sampai pada waktunya membuka diri nanti. Agar dapat tuntas dalam penyelidikan, mencari keturunan dari musuh musuhnya yang akan balas dendam.
Kemudian Yasin pun berpamitan untuk pulang, dan semua sudah Yakin jika Yasin alias Zain ada di pihak mereka. Dan di tengah perjalanan Yasin bilang ke Rofiq.
“Bagiaman kalau abang pulang sendiri, aku harus menemui anak anakku Jafar dan Sidiq.” Ucap Yasin.
“Ok, gak masalah aku bisa naik ojek dari sini ke rumah. Kamu segera temui saja anak kamu.” Jawab Rofiq.
Yasin pun segera berputar arah menuju ke pesantren Sidiq lebih dahulu.
>>>>>
>>>>>
>>>>>
Flashback Sehari sebelumnya
Author POV
Sepulang dari sekolah dan mengantar Riska sampai depan rumah,saat sidiq hendak berangkat bekerja tiba tiba Sidiq berhenti. Sidiq melihat Muksin sedang berjalan kaki entah mau kemana. Sidiq jadi teringat cerita tentang adiknya yang ‘informasinya’ dipukuli oleh Muksin. Sehingga amarah Sidiq yang sebelumnya sudah reda karena Jafar. Tiba tiba meledak lagi begitu melihat Muksin.
Sidiq pun segera mengejar muksin dan tahu tahu sudah di depan Muksin sampai Muksin kaget.
“Eeh kang Sidiq, mau kemana kang ?” tanya Muksin.
“Gak usah sok akrab lo, gue tahu lo benci sama adik gue dan gue kan ?” kata Sidiq tanpa basa basi.
“Maaf kang gak kok kang jangan salah paham kang ?” jawab Muksin ketakutan.
“Lo bilang apa, Salah paham ? Lo pikir gue goblok, dari awal gue udah bisa rasakan lo benci gue dan adik gue. Terus kemarin lo pukuli adik gue sampai gak bisa bangun, lo bilang salah paham ?” bentak Sidiq.
Muksin semakin pucat melihat Sidiq marah, meski Muksin juga punya ilmu kanuragan tapi menyadari dia memang salah jadi menambah dia ketakutan.
“Ceritanya gak begitu kang, itu Fitnah kalau ceritanya seperti itu.” jawab Muksin. Yang maksudnya jika Jafar sampai gak bisa bangun itu adalah fitnah. Namun Sidiq justru makin marah, merasa dituduh memfitnah. Sebuah kesalahpahaman kecil yang akan berakibat besar.
Sidiq yang sudah sangat marah, tidak lagi menggunakan akal sehatnya. Sidiq langsung memukul Muksin beberapa kali tanpa perlawanan.
“Ayo balas jangan hanya diam saja…!” Tantang Sidiq.
“Ampun kang, saya mengaku salah dan sudah minta maaf sama Jafar adik kang sidiq kok.” Jawab Muksin.
“Kamu pikir cukup dengan maaf saja cukup, nih gantinya kamu memukul adikku Jafar…!” kata Sidiq melayangkan tinjunya ke rahang Muksin. Hingga Muksin terangkat dan gigi depan tanggal satu saking kerasnya. Namun Muksin tidak membalas karena merasa bersalah sebelumnya.
“Ayo lawan, aku tahu kamu juga bisa melawan, ayo cepat lawan aku,,, pukul aku balik sekarang…!” bentak Sidiq sambil mengepalkan tangannya hendak memukul Muksin lagi.
Namun tahu muksin hanya diam tidak melawan Sidiq pun menurunkan tangannya lagi.
“Kali ini, kamu aku ampuni tapi jika kamu mau balas dendam silahkan aku tunggu. Atau aku dengar kamu sentuh adik adikku di sana aku akan buru kamu kemanapun.” Ancam Sidiq.
Muksin hanya diam saja, satu sisi merasa bersalah di sisi lain Muksin juga tahu kemampuan Sidiq diatasnya jauh. Saat melihat Sidiq melawan tiga preman bersenjata bersama Jafar. Sudah bikin Muksin ciut nyali.
Sidiq meninggalkan Muksin dan berangkat bekerja, untung saja Sidiq masih ada rasa tidak tega Muksin tidak membalas. Jika saja muksin membalas mungkin akan lebih dari itu akibatnya.
…..
Selepas pulang dari bekerja, sidiq kaget di pesantrennya banyak sekali motor. Sidiq mengira jika itu adalah tamu abah gurunya.Namun ternyata mereka adalah teman teman santri Muksin yang mencari Sidiq karena telah dianggap menganiaya Muksin. Dan berniat untuk mendamaikan secara kekeluargaan.
“Kang Sidiq ya “ tanya salah satu orang yang datang tersebut.
“Iya, kamu siapa ya ?” tanya Sidiq.
“Saya dari pesantren Al Huda, teman Muksin dan Jafar adik kang Sidiq. Nama saya Khoirul kang, kang Sidiq diminta datang ke pesantren Al-Huda sekarang juga.” Kata Khoirul.
“Urusan apa ?” Tanya Sidiq.
“Urusan dengan kang Muksin.” Jawab Khoirul.
“Urusan itu saya rasa sudah impas, karena kemarin dia juga memukuli adikku Jafar. Aturan kan boleh membalas yang Setimpal.” Jawab Sidiq debat sesame Santri.
“Nah itu dia kang, balasan kang Sidiq itu berlebihan tidak setimpal. Makanya maksut saya kesini mau menyelesaikan baik baik. berhubung kita sama sama Santri juga kang, kan malu kalau sampai Ribut.” Jawab Khoirul.
“Ada kang Kholis tidak di sini ?” tanya Sidiq.
“Tidak kang, kang kholis baru ngobatin kang Muksin karena lukanya cukup parah tolong kang Sidiq lihat sendiri saja keadaan kag Muksin.” Kata Khoirul.
Waduh bisa runyam begini urusanya, dasar pengecut begitu saja ngadu ke pesantren, kata Sidiq dalam hati.
“Aku konsultasi dengan abah guru dulu, gak bisa seenaknya main pergi saja.” Jawab Sidiq.
“Saya tadi sudah Sowan, abah guru kang Sidiq baru keluar mungkin pulangnya malam. Yang ada bu nyai, dan saya sudah minta izin ajak kang Sidiq.” Jawab Khoirul.
Sidiq pun tak bisa menghindar lagi, Sidiq mengajak Ihsan untuk ikut ke pesantren Jafar. Ihsan sebenarnya agak ngeri juga, namun tidak berani juga menolak Sidiq. Maka berangkatlah Sidiq diantar Ihsan ke pesantren Al-Huda. Sidiq tidak takut dirinya kena hukuman, tapi takut jika Jafar dan Nisa yang jadi pelampiasan nanti….!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1