Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Misteri Jodoh Manusia 1


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Misteri Jodoh Manusia 1...


Fatimah terdiam tidak menjawab pertanyaanku, mungkin juga ada sedikit perasaan khawatir jika suatu saat aku terpaksa harus berhadapan dengan musuh secara fisik.


“Kok kamu malah diam saja Fat, apa kamu keberatan ?” Tanyaku pada Fatimah…!


“Fatimah sih terserah Mas Yasin saja, yang penting saat ini adalah menyiapkan anak anak kita menghadapi tantangan hidup kedepan.” Ucap Fatimah.


“Aku ingat Eyang Sidiq Ali dulu,menurut cerita beliau meninggalkan kemampuan Kanuragan dan hidup tenang bersama keluarga.” Jawabku pada Fatimah.


“Apa maksud Mas Yasin mengajak kita pindah dari tempat ini dan mau meninggalkan semua bentuk kekerasan ?” Tanya Fatimah.


“Kira kira begitu, tapi nanti setelah kita berhasil menikahkan Farhan dan Sufi. Setelah itu biar mereka tinggal di sini, meneruskan usaha kita. Aku mau kita tinggal di tempat Lain yang lebih tenang menikmati masa hidup kita.” Jawabku pada Fatimah.


“Mas yakin gak akan menyesal meninggalkan semua ini ?” Tanya Fatimah.


“Insya Allah tidak, Aku hanya merasa sedih ketika harus melukai seseorang.” Ucapku pada Fatimah.


“Iya Fatimah paham Mas, tapi menyelamatkan banyak orang dengan melukai seseorang itu kadang menjadi satu pilihan.” Jawab Fatimah.


Aku jadi terdiam sesaat, dalam hatiku bertanya, apakah eyang Sidiq Ali dulu sekedar mundur dari kekerasan atau membuang semua ilmu kanuragan. Aku jadi agak bimbang, mungkin yang terbayang padaku hanya kematian Eyang Jafar Sanjaya yang dibunuh dengan keji oleh bekas Santrinya sendiri. Sehingga aku seperti mengalami Trauma jika ingat itu.


“Itulah yang sedikit mengganjal dalam hatiku Fat.” Jawabku.


“Fatimah setuju MAs Yasin berniat meninggalkan dunia kekerasan, tapi sebenarnya kurang sepakat melepas semua kanuragan. Bagaimanapun juga Mas Yasin masih dibutuhkan anak dan saudara yang lain.” Jawab Fatimah.


“Saat ini kan Sidiq dan JAfar sudah cukup mumpuni Fat. Jadi aku rasa mereka berdua sudah cukup menggantikan aku.” Jawabku.


“Mas Yasin pikirkan kembali masak masak, di tempat yang paling tenang sekalipun tidak menutup kemungkinan muncul bahaya.” Ucap Fatimah.


“Iya sih, aku juga tau itu. Tapi aku pasrah saja kalau memang harus bertemu musuh sekarang.” Jawabku.


“Gak boleh begitu Mas, Ingat apa kata Syaikh Nawawi Al-Bantani. Ulama dari Banten yang hidup lama di Mekah ?” kata Fatimah.


“Apa yang beliau katakan ?” Tanyaku tidak paham dengan maksud Fatimah.


“Tentang niat orang yang berperang melawan musuh musuh Islam waktu itu. Beliau berkata, jika niat maju perang karena ingin mati syahid itu salah. Maju perang harus berniat untuk menang, bukan untuk mati Syahid. Kalau kemudian kalah dan mati baru itu namanya Syahid. Bukan sengaja maju perang biar mati.” Ucap Fatimah.


Aku terdiam sesaat, kenapa aku baru ingat itu ya ? Berarti aku yang salah dalam memaknai arti pasrah dan tawakal. Bagaimanapun Agama butuh orang yang kuat untuk melindungi yang lemah.


“Iya aku baru ingat sekarang.” Jawabku.


Aku jadi ingat pesan Abah Guru waktu itu, “pasrah bukan menyerah, pasrah itu menyerahkan hasil akhir usaha kita. Bukan pasif menunggu hasil saja, karena manusia diwajibkan ikhtiar.” Ucapan tersebut kembali terngiang di telingaku.


“Yasudah Mas istirahat dulu, sebenarnya Fatimah tahu kok kalau Mas Yasin baru down karena merasa tidak mampu melawan Ki Munding Suro kemarin. Jadi agak putus asa saja saat ini.” Kata Fatimah menghiburku.


“Tapi bukain dong totokannya.” Kataku.

__ADS_1


“Gak…besok saja biar betul betul pulih dulu.” Kata Fatimah yang kemudian memelukku. Sayangnya aku hanya bisa diam tak bisa balas memeluk istriku tersebut.


“Gak Adil kalau begini Fat, kan aku gak bisa balas peluk kamu.” Godaku pada Fatimah.


“Biarin yang penting fatimah bisa peluk. Udah istirahat dulu ga usah macem macem.” Ucap Fatimah.


Akhirnya kami pun tertidur, meski aku sebentar sebentar bangun membayangkan apa yang terjadi di pihak musuh kemarin. Rasa khawatir atau was was tidak bis lepas begitu saja, sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan. Meski akhirnya aku terlelap juga sampai pagi hari dan dibangunkan Fatimah untuk sholat subuh. setelah membuka totokannya.


…..


Beberapa waktu kemudian


Author POV


Setelah penyerbuan dan penangkapan beberapa tokoh musuh kehidupan di wilayah sekitar menjadi kembali normal. Sidiq dan Jafar pun kembali beraktifitas dan bersekolah. Meski Jafar masih menyelesaikan Riyadhoh dibawah bimbingan dan pengawasan Abah Guru nya.


Yasin pun sudah sembuh, seperti semula bahkan rasa percaya diri yang sempat down lambat laun pulih kembali. Sena dan Todari sudah kembali ke rumah masing masing, hanya tinggal Farhan dan Sufi yang berada di rumah Yasin selain anak anak didik Yasin. Wisu, Isna dan Utari yang masih setia menemani Yasin dan Fatimah.


“Sufi…saat ini siapa yang berhak menjadi wali nikah kamu ?” Tanya Yasin pada Sufi.


“Sufi juga bingung Mas, karena Sufi sudah lama terputus hubungan dengan kerabat Sufi. Sejak kedua orang tua Sufi meninggal dunia.” Jawab Sufi.


“Coba kamu usahakan cari, terpaksanya gak ada ya kamu menikah dengan Farhan tanpa wali.” Ucap Yasin.


“Iya Mas, akan Sufi usahakan.” Jawab Sufi.


“Dan kamu Farhan, sudah mantap menikah dengan Sufi ? Jika sudah kalian boleh berembuk membicarakan mas Kawin. Selebihnya aku yang akan mempersiapkan acara pernikahan kalian nanti.” Jawab Yasin.Yasin membicarakan pernikahan Sufi dan Farhan, Yasin ingin agar Farhan mengakhiri masa lajangnya segera. Dan Sufi pun akan lebih aman dalam didikan Farhan.


Setelah mereka sepakat dan menentukan hari dan tanggal pernikahan, Yasin pun meminta mereka mereka untuk memulai hidup baru dengan berdagang. Sebagai ikhtiar mencari nafkahnya, agar memiliki aktivitas produktif dalam kehidupan sehari harinya.


…..


“Mas katanya Paman kamu Farhan mau menikah dengan Bibi Sufi, benarkah ?” Tanya Riska kepada Sidiq.


“Aku dengar juga begitu, kenapa memangnya Ris ?” Tanya balik Sidiq.


“Gak papa sih, hanya saja Ayah Riska tadi minta Riska menanyakan kebenaran berita ini.” Jawab Riska.


“Ayah kamu ?” Tanya Sidiq Heran.


“Iya Mas, sebenarnya Ayah Riska…!?” ucapan Riska terhenti seperti ragu ragu melanjutkan.


“Ayah kamu kenapa ?” Tanya Sidiq penasaran.


Riska hanya terdiam, sambil melihat ke kanan dan ke kiri ruangan perpustakaan.


“Riska…ditanya Sidiq kok malah tengak tengok ?” Ucap Lita.


“Iya maaf, Riska agak ragu mengatakan karena sudah di wanti wanti Ayah untuk tidak bilang sebenarnya.” Jawab Riska.


“Lah memang ada apa sebenarnya Riska ?” Tanya Sidiq.


“Bagaimana ya, Riska jadi gak enak nih kalau mau terus terang sama Mas Sidiq.” Jawab Riska.


“Bilang saja, daripada bikin penasaran begini.” Jawab Sidiq.


“Iya nih Riska, sudah membuka pembicaraan ya harus dilanjutkan. Kecuali kamu gak bilang apa apa tadi.” Sahut Lita.

__ADS_1


“Sebenarnya Ayah Riska berharap Paman Farhan menikah dengan Bulik ku Laras. Karena Bulikku Laras sudah ditinggal suaminya lama dan gak pernah diurus.” Jawab Riska.


Sidiq dan Lita hanya diam saja, karena merasa itu bukan kewenangan mereka.


“Kenapa gak dari dulu lo bilang begitu Riska ?” Tanya Lita.


“Riska mau bilang Mas Sidiq kan kemarin baru sibuk banget sapa bolos sekolah beberapa hari. Jadi gak sempat saja.” Jawab Riska.


“Iya ya, terus baiknya bagaimana nih Sidiq ?” Tanya Lita.


Sidiq pun agak bingung untuk menjawab.


“Aduh aku juga bingung nih, gak mungkin juga aku bilang ayah kalau sudah begini. Tapi sebenarnya kenapa ayah kamu ingin paman Farhan menikahi tante Laras ?” Tanya Sidiq pada Riska.


“Karena kata Ayah Bulikku itu nyaman dengan Paman kamu Farhan. Dan Anaknya juga sering nanyain Paman Farhan karena hanya paman kamu Farhan yang bisa mengendalikan anak bulik ku.” Ucap Riska.


Sidiq jadi termenung, ada rasa tidak enak juga dengan Riska kenapa gak dari dulu Riska bilang. Mungkin bisa diatur oleh ayahnya. Namun sekarang rasanya sudah sangat terlambat karena persiapan pernikahan Sufi dan Farhan sudah sangat matang.


“Semoga Tante Laras nanti dapat jodoh pengganti yang lebih baik Riska. Kalau saat ini pernikahan paman Farhan dan bibi Sufi sudah sangat matang.” Jawab Sidiq menghibur Riska.


“Aamiin…!” Sahut Lita.


“Aamiin mudah mudahan saja, doakan saja. Riska kasihan sama bulik Riska yang menderita dari dulu.” Jawab Riska. Membuat Sidiq semakin merasa tidak enak, namun bagaimana lagi semua sudah direncanakan masak masak. Dan itu adalah hasil musyawarah para orang tua, pikir Sidiq.


“Owh iya, bagaimana rencana kita setelah ini. Ujian kelulusan tinggal beberapa saat lagi. Ada yang punya rencana kuliah di luar kota ?” Tanya Lita mengalihkan pembicaraan.


“Aku sih gak, pengen tetep di pesantren cari tempat kuliah yang bisa dijangkau pulang pergi dari pesantren saja.” Jawab Sidiq.


“Kalau kamu Riska ?” Tanya Lita kemudian.


Riska terdiam sesaat, agak berat menjawab pertanyaan Lita tersebut.


“Riska sebenarnya juga pengen kuliah di jogja saja. Tapi Ayah menghendaki Riska Kuliah di Jakarta.” Jawab Riska sedih.


Sidiq pun ikut sedih, karena artinya akan terpisah lama dengan Riska kekasihnya.


“Kenapa Harus di Jakarta Riska ?” Tanya Sidiq.


“Ayah masih khawatir disini sering timbul masalah, dan agak khawatir dengan Riska. Karena Riska dulu pernah diculik dan hampir jadi korban juga.” Jawab Riska.


Sebuah alasan yang masuk akal juga, sebagai orang tua tentu ingin anaknya dalam kondisi aman. Meski Riska sendiri merasa lebih aman jika di dekat Sidiq.


“Apa itu bukan karena ayah kamu mau menjauhkan kita Riska ?” Tanya Sidiq.


Lita dan Riska jadi kaget mendengar pertanyaan Sidiq tersebut. Keduanya saling bertatapan mata seakan saling meminta pendapat…!!!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2