Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Penyelidikan Yasin dan Pak Yadi


__ADS_3

...Penyelidikan Yasin dan Pak Yadi...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


Pak Yadi kaget dan terbelalak, tidak menduga jika dirinya dipindahkan lagi tugasnya di Yogyakarta akan dihadapkan dengan musuh musuh lama atau keturunannya.


“Berarti ini akan adi Nostalgia kita dong pak, ajak pak Sena dan lainya juga pak.” Kata pak Yadi.


“Maaf pak, tapi adik saya Zulfan sudah tidak ada, jadi korban pengeroyokan waktu itu.” Kata Yasin jadi sedih ingat Zulfan. Dan itu juga yang membuat Yasin ragu mengajak saudaranya ikut bergabung saat ini…!


“Inna lillahi… kok saya gak dengar ya pak ?” Ucap Pak Yadi.


“Iya pak, saya saja dengarnya setelah pemakaman itupun tanpa sengaja.” Jawab Yasin.


Kemudian Yasin menceritakan kejadian yang Menimpa Sena dan Zulfan. Dengan sedikit sedih mengingat peristiwa tersebut, karena Yasin terlambat mengetahui dan menolong mereka. Sampai dengan kemunculan Bhirowo dan juga Gembul musuh lama mereka.


Sambil menikmati kopi yang dihidangkan obrolan pun melebar kemana mana.


“Bapak ingat pernah berkata mau bikin kedai kopi setelah anak ketiga lahir ?” tanya Pak Yadi.


“Wah ingat saja pak Yadi ini, gak tahu pak mungkin juga anak anak saya saja besok yang akan melaksanakan keinginan saya tersebut.” Jawab Yasin.


“Jadi bagaimana pak nanti kita kesana jam berapa ke TKP.” Tanya pak Yadi kembali ke Topik awal.


“Asal Lokasi disterilkan dulu dari orang luar pak. Soalnya saya memang baru dalam buruan musuh lama saat ini.” Jawab Yasin yang terpaksa menceritakan kejadian beberapa waktu sebelumnya kepada pak Yadi.


“Bisa pak, nanti kita kondisikan kalau perlu bapak ganti penampilan juga boleh.” Jawab Pak Yadi sambil bercanda. Tapi  Yasin merasa ada benarnya juga demi kelancaran misi kali ini.


Dengan posisi Yasin sekarang memang rawan diketahui jika keluar dengan seperti biasanya. Bisa bisa jati dirinya ketahuan sebelum waktunya nanti.


“Betul pak, saya rasa itu juga perlu dilakukan, bagaimanapun saya masih dalam penyamaran saat ini.” jawab Yasin ke pak Yadi.


“Terus jam berapa pak bapak siap kesana ?” Tanya pak Yadi lagi.


“Jika sudah disterilkan saja pak, jam nya menyesuaikan saja.” Jawab Yasin.


Kemudian pak Yadi berpamitan, Menuju ke TKP meski mayat sudah dibawa untuk diautopsi. Pak yadi pun segera memerintahkan warga untuk membubarkan diri agar bisa lebih leluasa melaksanakan olah TKP.


>>>>> 


>>>>> 


>>>>> 


Sementara itu Jalu yang sudah sampai di rumahnya segera menghubungi Ari untuk melakukan pengawasan kepada Riska. Dan mengatakan jika Sidiq musuh Ari adalah anak dari musuhnya yang dia buru. Sehingga Ari kembali bersemangat untuk membuat ulah di sekolah. Serta merasa diatas angin karena mendapat dukungan penuh dari Jalu. Terlebih lagi mendengar akan adanya rencana menculik Riska Gadis yang di idamkannya tersebut.


Sehingga Ari pu segera mengumpulkan gengnya untuk berunding menculik Riska di hari yang akan ditentukan oleh Jalu.


“Agar tidak meninggalkan jejak, sebaiknya kita justru berbaik baik dengan Riska cs saja boss. Nanti pada Saatnya kita bisa jebak Riska kalau sudah percaya sama kita lagi.” Ucap Herman.


“Boleh juga usul kamu, tapi bagaimana caranya aku kemarin sudah terlanjur bikin masalah baru lagi di kantin.” Ucap Ari.

__ADS_1


“Ya mau gak mau pura pura minta maaf boss, buat mereka jadi menganggap kita sudah berubah. Kalau perlu traktir mereka sebagai permintaan maaf kita.” Kata Herman.


“Iya bos aku setuju dengan Herman.” Sahut Fadholi.


“Ok, gak masalah, nanti istirahat kedua kalian atur saja aku yang akan bayar nanti.” Jawab Ari.


Kembali Ari dan anak buahnya merencanakan sesuatu kejahatan untuk menjebak Riska.


Dan sampailah waktu istirahat kedua tiba, Herman bersama Jefri dan Fadholi mendatangi Riska dan kawan kawannya lebih dahulu.


“Siang Ris, ada salam maaf dari bos Ari. Dia salah sangka mengira Sidiq yang merusak Padepokan dan melukai anggota padepokan tersebut.” Ucap Herman pada Riska dan kawan kawannya.


“Terus apa hubungannya dengan Riska, minta maaf nya ya ke mas Sidiq saja sana. Kan salahnya bukan ke Riska.” Jawab Riska dengan sedikit Ketus.


“Iya kalau itu sudah pasti, tapi maksudnya kan karena salah paham itu kamu jadi kena akibatnya. Soal meminta maaf ke Sidiq kami akan melakukan itu juga.” Jawab Herman.


“Buktikan dulu omongan kalian, baru kami lihat nanti.” Lita ikut menyahut percakapan tersebut.


“Ok akan kami buktikan kok, dan sebagai tanda keseriusan kami hari ini jajan kalian semua kami yang traktir.” Ucap Herman.


“Gak perlu, kami bisa bayar sendiri kok…!” Jawab Riska.


“Jangan begitu Ris, aku tahu kamu bisa bayar sendiri. Ini hanya ungkapan maaf kami saja, gak seberapa memang. Kami juga sudah bosan ribut terus mau konsen ke sekolah saja saat ini.” Ucap Ari yang tiba tiba muncul.


“Tidak perlu begitu juga, kalian menjauh dari kami itu sudah lebih dari cukup.” Jawab Riska yang masih merasa marah, karena ulah Ari dan teman temannya hubungan dia dengan Sidiq menjadi Jauh.


“Akutahu kok Ris, kamu masih marah padaku karena dimarahi ayahmu karena ucapanku. Aku ngaku salah deh, aku nanti akan jelaskan ke ayahmu setelah aku minta maaf ke Sidiq.” Jawab Ari pura pura.


“Terserah kamu saja, tapi yang jelas saat ini aku masih malas melihat kalian semuanya. Sebaiknya kalian pergi saja sana.” Ucap Riska.


“Ok ok, kami pergi saja kami tidak mau mengganggu kalian kok. Dan akan kami buktikan jika kami serius akan menemui Sidiq dan menjelaskan ke ayah kamu nanti.” Ucap Ari kemudian mengajak teman temannya pergi meninggalkan Riska dan lainnya.


“Masalahnya bukan hanya sekali mereka berulah merugikan Riska Din. Jadi secara pribadi Riska sangat sulit percaya omongan mereka.” Jawab Riska.


“Iya Dina juga ngerti, tapi cukup gak didengerin saja gak usah ngusir kakayk tadi daripada timbul masalah baru lagi.” Ucap Dina.


“Riska masih sulit begitu Din, jujur saja lihat kehadiran mereka masih membuat Riska sangat marah.” Jawab Riska.


“Sudah sudah, kita lihat dulu perkembangannya. Kalau mereka serius mau sadar ya kita terima berteman dengan mereka. Tapi kalau hanya muslihat yan kita lawan sama sama saja nanti.” Kata Lita menengahi Riska dan Dina.


…..


…..


…..


“Bos kenapa kita malah pergi tinggalkan mereka ?” Tanya Jefri.


“Kita perlu menanamkan kepercayaan dulu setelah kemarin Riska sangat marah karena dilarang oleh ayahnya dekat dengan Sidiq. Jadi kita harus mengalah sedikit saat ini.” Jawab Ari.


“Terus Rencana selanjutnya bagaimana ?” Herman mempertanyakan rencana Ari.


“Bang Jalu bilang, kita jangan buru buru bahkan harus sabar menunggu waktu yang tepat. Agar beberapa menit sebelum Sidi bertarung baru tahu jika Riska kita culik. Agar tidak konsen dan mudah dikalahkan lawan.” Ucap Ari.


Yang lain pun hanya mengikuti apa yang semua ucapan Ari. Tanpa berani membantah karena memang tidak punya posisi Tawar.


Masih ada beberapa hari bagi Ari dan kawan kawannya untuk bisa menjebak Riska. Jika memang perlu dengan kekerasan pun tetap harus mereka lakukan nanti demi membawa Riska ke hadapan Jalu.


Ari pun harus menahan diri sampai dengan hari yang ditentukan Jalu. Sebelum itu Ari harus nurut dan nurut kepada kemauan Riska dan kawan kawannya untuk mendapat sedikit simpati dan kepercayaan.

__ADS_1


*****


*****


*****


Sementara itu Yasin pun sedang menuju ke TKP pembunuhan memenuhi undangan Pak Yadi.


“Apakah bapak bisa menerawang apa yang terjadi semalam dengan pandangan batin bapak ?” Tanya pak Yadi.


“Insua Allah Saya akan mencoba pak doakan saja nanti bisa berhasil menembus gaib yag terjadi semalam.” Jawab Yasin ke Pak Yadi.


Kemudian Yasin yang menggunakan tapi Laken lebar dan berkacamata dan menutupi wajahnya dengan Slayer agar tidak tampak wajahnya. Yasin segera ditunjukkan ke lokasi dimana mayat itu ditemukan. Dan segera mengamati sekeliling tempat tersebut.


Mata Yasin yang masih jeli menemukan beberapa kuntum bunga seperti bunga sesaji. Dan kemudian menemukan bekas bakaran kemenyan atau dupa. Serta melihat ada beberapa tetesan darah di sekitar jalan turun menuju ke sungai.


“Bagaimana pak Yasin ?” Tanya pak Yadi,


“Rasanya memang ada kaitannya dengan apa yang saya ceritakan tadi pak. Ini ada hubungannya dengan sebuah proses ritual kepercayaan tertentu.” Jawab Yasin.


“Maksud pak Yasin dua orang itu tumbal ?” Tanya pak Yadi.


“Belum sampai ke kesimpulan itu pak. Maksud saya ini ada hubungannya dengan orang orang padepokan itu. baik secara langsung maupun tidak langsung.” Jawab Yasin.


“Maksudnya bagaimana pak ?” tanya Pak Yadi gak Sabar saja.


 


Kemudian Yasin berdiam sejenak membuka Lathoif Nafsinya, dan sempat kaget melihat kemunculan ular besar yang ternyata tempatnya adalah tepat di depannya jongkok.


Kemudian Yasin memberi ucapan salam secara pelan untuk mengajak dialog dengan makhluk tersebut.


“Assalaamu ‘alaikum….!” Ucap Yasin pelan. Namun makhluk itu tidak mau menjawab sampai salam Yasin keTiga tidak mau menjawab hanya mengeluarkan Desisan  ular pada umumnya.


“Kamu manusia maunya seenaknya sendiri” ucap Taksaka ular besar tersebut.


“Apa Maksudmu dan apa yang barusan terjadi semalam ?” Tanya Yasin.


Kemudian Taksaka menceritakan apa yang terjadi semalam, meski cerita Taksaka itu tidak bisa dijadikan bukti di pengadilan paling tidak bisa untuk mencari bukti pendukung.


Kemudian Yasin menceritakan hal tersebut kepada pak Yadi, perihal adanya orang yang melakukan ritual khusus. Kemudian orang tersebut bertemu dua warga setempat dan ada salah paham. Kemudian orang tersebut membunuh dua warga tersebut dengan tangannya.


Dan orang tersebut tidak langsung adalat anak dari Maheso Suro musuh Yasin dan pak Yadi dulu.


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2