Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Aliran darah Yasin Ada yang terbalik


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Aliran darah Yasin Ada yang terbalik...


"Biar saya saja Guru yang menghadapi bocah tengik ini…!” Sahut Otang yang sudah tidak sabar. Otang yang terlalu meremehkan Wisnu langsung menyerang Wisnu yang sedang bicara dengan Ki Bujang…!


Farhan yang melihat Otang menyerang Wisnu tak tinggal diam, kaki Farhan pun diayunkan kedapan menghadang langkah tang. Sehingga Otang menghentikan serangan ke Wisnu, menghindari tendangan Farhan.


Namun dengan cepat Otang memutar tubuhnya dan berbalik menyerang Farhan yang menghalangi usahanya menyerang Wisnu.


“Baiklah jika kamu juga ingin menemani anak tersebut ke akhirat, aku penuhi permintaan kamu.”  Ucap Otang.


“Silahkan kalau kamu punya kemampuan.” Jawab Farhan yang tidak mempunyai style slengean seperti Yasin. Sehingga Farhan dalam bertarung pun lebih banyak diam tak bersuara.


Secara kemampuan dan pengalaman bertarung ternyata Farhan kalah jauh dengan Otang. Sehingga beberapa kali Farhan harus tersurut mundur terkena serangan Otang. Otang yang merasa di atas angin pun jadi lupa diri dan meremehkan keadaan.


Farhan yang sudah beberapa kali terkena serangan Otang tidak surut semangatnya. Farhan mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya. Meningkatkan jurus yang dimainkan dan sudah tidak merasa sungkan ketika harus meakukan pukulan dan tendangan yang berbahaya. Berbeda di awal tadi yang asih agak setengah hati. Karena Farhan memang bukan seorang petarung seperti Yasin.


Farhan agak ragu awalnya ketika harus memukul Lawan, namun dengan beberapa kaki terkena tendangan dan pukulan justru memompa jiwa bertarung Farhan. “Kalau aku tidak memukul, maka aku yang akan di pukul, kalau aku tidak membunuh maka aku yang akan dibunuh. Ini Qoidah orang berperang sudah harus dipakai.” Kata Farhan dalam hati.


Di luar dugaan Otang, Farhan pun berubah menjadi ganas dan serangannya cukup mematikan. Sehingga beberapa saat Otang justru dibikin repot oleh Farhan. Beberapa kali pula Otang menerima balasan dari Farhan berupa tendangan dan pukulan tangan Farhan.


Wisnu masih mengamati pertarungan Farhan Pamannya dengan Otang. Sekaligus mengamati Ki Bujang yang berhadap hadapan dengannya.


“Hei Bocah, jangan hanya nonton saja. Siap siaplah untuk ku kirim ke Neraka sekarang Juga.” Seru Ki Bujang yang langsung menyerang Wisnu dengan cepat. Wisnu sempat kaget, pengalaman bertarung Wisnu pun masih Nol dibanding Sidiq dan Jafar. Hanya saja Wisnu masih memiliki darah pendekar dari Khotimah ibunya yang didapat dari Yuyut Siti Aminah.


Sehingga Wisnu cepat menyesuaikan diri dengan keadaan, beberpa jurus Wisnu terdesak. Namun beberpa jurus kemudian Wisnu pun mulai bisa mengimbangi serangan Jawara tua Ki Bujang dari Kulon tersebut.


“Ternyata jurus jurus orang ini tidak bisa diremehkan, bagaimana Mas Sidiq dan Mas Jafar bisa mengalahkan orang ini.” Pikir Wisnu.


Wisnu yang masih sangat Muda memanfaatkan tenaga dan stamina nya untuk mengimbangi serangan serangan Ki Bujang tersebut. Ki Bujang pun cukup repot meladeni gerakan gerakan Wisnu yang lincah. Ketika Ki Bujang melancarkan serangan Wisnu yang dihadapanya, tau tau Wisnu pun sudah berada disampingnya dan balas melancarkan pukulan. Sehingga Ki Bujang harus menghindar kesamping atau ke belakang menghindari serangan Wisnu yang cukup berbahaya.


Wisnu juga bukan anak yang bodoh, sehingga kondisi tersebut dapat di pahami Wisnu dengan cepat. Sehingga kelemahan Ki Bujang karena faktor usia itu dimanfaatkan Wisnu untuk menguras tenaga Ki Bujang.


Tapi sayangnya Ki Bujang lama lama mengetahui siasat Wisnu tersebut. dan dengan gerakan melompat mundur Ki Bujang berteriak.


“Cukup hentikan semuanya…!” Ucap Ki Bujang.


Otang dan Farhan pun iku menhentikan pertempuran.


“Ada apa guru, kenapa harus berhenti sekarang ?” Tanya Otang.


“Aku tidak ada waktu banyak untuk bermain main. Aku akan Habisi mereka berdua dengan Gundolo Sosro.” Terika Ki Bujang.


Farhan agak ngeri mendengar ilmu tersebut, teringat ketika Yasin melawan raja Khodam yang memiliki ilmu tersebut.

__ADS_1


“Wisnu hati hati dengan Ilmu itu.” Kata Farhan berbisik pada Wisnu.


“Iya Paman, Wisnu juga pernah merasakan ilmu itu.” Jawab Wisnu.


Farhan tetap khawatir jika Ki Bujang benar benar menggunakan ilmu tersebut. Tapi apa daya Farhan juga tidak memilik cara mencegah Ki Bujang. Karena memang itu bukan bidang spesialis Farhan.


Wisnu sudah bertekat menghadapi kembali ilmu Gundolo Sosro tersebut seperti ketika membantu Sidiq melawan Ki Bujang dulu. Wisnu memasang kuda kuda Lebur Saketi untuk menghadapi Ki Bujang dari Kulon yang menggunakan Gundolo Sosro.


Ki Bujang tinggal satu gerakan lagi sudah bersiap menghantam Wisnu dengan Gundolo Sosronya. Namun tanpa diduga sebuah batu melayang mengarah ke kepala Ki Bujang dari Kulon. Sehingga Ki Bujang dipaksa untuk menghindar dan melompat mundur beberapa langkah.


“Kurang ajar…siapa yang mau berbuat curang, kemarilah hadapi aku sekarang juga.” Teriak ki Bujang.


“Kamulah yang tidak tahu malu, sudah tua mau melawan anak anak dengan Ilmu andalan.” Sebuah suara menyahut membuat Ki Bujang kaget.


Sesaat kemudian muncul sesosok lelaki tua yang tidak lain adalah Kyai Nurudin yang sudah berada, melihat dan mengamati pertempuran dari tadi.


“Siapa kamu Kisanak ? Mengapa ikut campur urusan kami ?” Ucap Ki Bujang pada Kyai Nurudin.


“Semua yang menjadi urusan keluarga saudaraku Yasin berarti menjadi urusanku juga.” Jawab Kyai Nurudin.


“Jangan sombong, sebentar lagi tubuh kamu akan hangus terbakar terkena Gundolo Sosro milikku.” Bentak Ki Bujang. Dan dengan cepat Ki Bujang menyiapkan kembali ilmu Gondolo Sosro yang dimilikinya.


Akan tetapi Kyai Nurudin tidak tampak mempersiapkan jurus tertentu ataupun ilmu tertentu. Bahkan masih terlihat memutar tasbihnya sambil mengucapkan kalimat kalimat Dzikir.


“Kalian menyingkir dahulu, ini biar jadi urusanku.” Ucap Kyai Nurudin Abah gurunya Sidiq.


Farhan dan Wisnu pun menyingkir sambil tetap mengawasi Otang agar tidak berbuat licik.


Di halaman depan rumah Yasin yang tidak luas tersebut kini berhadapan Kyai Nurudin yang menghalangi rencana jahat Ki Bujang dengan muridnya tersebut.


Ki Bujang melompat tinggi dan melemparkan Aji Gundolo Sosro ke arah Kyai Nurudin. Dan terdengar benturan keras, ketika Ki Bujang berhasil mendaratkan pukulan Gundolo Sosro pada Kyai Nurudin. Tubuh Ki Bujang terpental Mundur, serangannya tidak berpengaruh pada Kyai Nurudin Bahkan tidak mampu menggeser tubuh Kyai Nurudi.


Melihat ada seorang berilmu tinggi di hadapannya, Ki Bujang langsung kembali memasang kuda kuda menyiapkan kembali kemampuan batinnya. Kyai Nurudin pun tetap melakukan hal sama, Jurus pertahanan yang akan menjadikan musuh kelelahan sendiri.


Namun hasilnya juga tetap sama saja, Kyai Nurudin tidak bergeming sementara Ki Bujang terpental lagi. Ki Bujang pun menyadari kemampuannya jauh dibawah Kyai Nurudin. Sehingga memberi kode kepada Otang untu kabur.


Namun sayangnya saat Otang Hendak kabur, kakinya terlempar batu segenggaman tangan. Otang jatuh dan tak bisa berdiri.


“Bade kabur kamana Maneh, sok lamun bisa kabur…!” Ucap Kyai Nurudin yang Asli Banten tersebut.


“Ampun Ajengan, moal kabur deui…!” Jawab Otang ketakutan.


Sementara Ki Bujang justru dibiarkan kabur oleh Kyai Nurudin. Otang segera diringkus oleh Farhan dan Wisnu. Satu lagi musuh Yasin yang bisa ditangkap, mengurangi jumlah musuh sehingga mengurangi kekuatan lawan. Meski musuh terkuat yang dari bangsa Jin belum muncul tapi minimal tidak mengganggu untuk persiapan anak anak Yasin dalam penggemblengan.


Beberapa saat kemudian Yasin dan rombongan pun datang setelah menyerahkan Jalu dan Bayu Aji ke pihak Yang berwajib. Untuk diproses secara hukum atas apa yang dilakukan Jalu, juga keterlibatan Bayu Aji dalam penculikan dan pelecehan sexual kepada para wanita dan mengakibtakan satu orang meninggal dunia.


“Alhamdulillah akhirnya kamu bisa selamat sampai di rumah Kang Yasin. Kami disini khawatir karena keadaan kamu yang belum sehat sepenuhnya.” Ucap Kang Nurudin.


“Abah Guru, sudah lama di sini ?” Tanya Sidiq.


“Sudah dari tadi, kamu gak papa kan Sidiq ?” Tanya Kyai Nurudin.


Obrolan pun dilanjutkan di dalam rumah Yasin, semua masih terjaga dan ikut mendengarkan petuah petuah dari Kyai Nurudin.

__ADS_1


“Jafar gak ikut pulang Mas ?” Tanya Fatimah.


“Iya, langsung dibawa Kang Syuhada, ada Suluk khusus bagi Jafar. Dan minimal empat puluh hari gak boleh ditemui juga.” Jawab Yasin.


Fatimah sebenarnya agak kecewa, namun Fatimah yakin itu demi kebaikan Jafar juga. Jadi mau gak mau memang harus dilepas.


“Tapi besok liburan sekolah biar Nisa yang ikutan pulang Mas, kalau kita belum boleh jenguk Jafar.” Kata Fatimah.


“Iya itu soal gampang, biar Kang Ali memeriksa aliran darahku dulu.” Jawab Yasin.


“Kang Yasin tadi sempat mengeluarkan tenaga dalam ya ?” Ucap Tabib Ali disela sela obrolan. Ketika memeriksa peredaran darah Yasin.


“Iya, tapi hanya sekali kok Kang Ali. Itupun terpaksa karena harus mempertahankan diri.” Jawab Yasin.


“Bukan…bukan itu maksudku Kang Yasin.” Kata Tabib Ali.


“Lalu apa maksudnya Kang Ali ?” Tanya Yasin.


“Dampak positif dari kamu mengeluarkan tenaga itu banyak darah beku yag terbuang keluar. Apa kang Yasin tadi sempat muntah darah ?” Tanya Tabib Ali.


“Iya Kang, habis menggunakan jurus dan tenaga dalam rasanya darahku seerti terpompa cepat. Jantungku berdetak kencang, kemudian batuk dan muntah darah.” Jawab Yasin


“Itu kan Bahaya…!?!” teriak Fatimah.


“Bahaya bagaimana ?” Tanya Yasin kebingungan.


“Kalau darah beku tidak bisa terdorong keluar, pembuluh darah bisa pecah dan stroke Mas.” Ucap Fatimah.


Semua terdiam, tidak mampu membayangkan jika yang terjadi adalah seperti yang diucapkan Fatimah. Bagaimana menyesalnya semua yang berada disitu.


“Itulah, makanya aku agak kaget ketika Kang Yasin mengeluarkan tenaga dalam tapi dampaknya Justru Positif.” Ucap Tabib Ali.


“Tunggu Kang Ali…jangan jangan…!?!” Ucapan Fatimah terpotong, tidak berani melanjutkan ucapannya.


“Astaghfirullahaladzim…Cepat kamu totok urat besar suami kamu. Iya benar aliran darahnya ada yang terbalik semoga belum terlambat…!” Ucap Tabib Ali.


Fatimah pun segera menotok urat besar yang ada di leher Yasin, sehingga Yasin menjadi kaku dan segera dibawa ke kamar untuk dibaringkan. Ada satu pembuluh darah yang aliran darah antara arteri dan vena yag terbalik. Untung saja segera diketahui oleh Fatimah dan Tabib Ali, sehingga dapat segera diberi pertolongan pertama…!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2