
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
Aku jadi ingat ketika padepokan Sena dan Nurul adik sepupuku di serang dan menewaskan Zulfan. Sehingga aku harus berjibaku dengan seorang tokoh hitam yang sangat sakti. Tapi ini seorang anak yang menyerang padepokan. Siapa lagi anak itu, masih muda sudah bikin ulah macam macam, gerutu ku dalam hati. Aku jadi berniat mencari informasi lebih lanjut,jika mungkin akan memberi pelajaran anak yang bikin kacau tersebut. Kapan bisa keluar menjenguk anak anakku sekalian cari informasi hal tersebut, batinku…???
“Owh iya aku mau minta anak Sena dan nurul buat menemani Isna juga. Tapi nanti sajalah kayaknya Isna juga sudah mulai bisa adaptasi.” Batinku.
Sena yang sepupu jauh Fatimah istriku beristrikan Nurul ponakan ku juga. Bagaimana kondisi mereka sekarang ya, sejak anak anakku masuk pesantren malah gak ada yang ikut denganku lagi. untung saat ini ada Isna yang bisa jadi teman ngobrol Fatimah kalau aku keluar rumah begini.
“Aku mau nongkrong di angkringan sebentar ah, sambil cari info tentang padepokan tadi.” Kataku dalam hati.
Aku segera memperlambat motor dan berhenti di sebuah warung angkringan. Sebuah warung yang khas dengan tenda dan bangku kayu. Dan hampir semua seragam menggunakan tungku arang dan tiga ceret. Biasanya minuman di angkringan terasa nikmat karena air yang mendidih terus, bukan disimpan di termos, kurang matang buat bikin minum.
“Mas jahe susu, gak usah ditambah gula.” Pintaku ke penjual angkringan.
“Tumben pak jalan jalan sendiri ?” tanya si penjual sambil membuat susu jahe untukku.
“Iseng saja mas, mumpung baru longgar jalan jalan sendiri, anak gak pada di rumah semuanya.” Jawabku.
“Sudah dengar belum pak, ada sebuah Padepokan yang dihancurkan anak anak muda ?” kata penjual itu.
“Baru sekilas orang ngobrol tadi, belum tahu pastinya. Berapa anak yang melakukan ?” Jawabku, dan bertanya balik.
“Wah kurang tahu pak, tapi mungkin juga banyak pak, yang anggota Padepokan luka parah dua orang. Yang luka ringan banyak sekali katanya.” Ucap penjual itu.
Dalam menerima berita burung haruslah pintar dalam menyaring, istilah sekarang mungkin Saring sebelum Sharing. Jangan sampai ikut menyebarkan berita tidak jelas hanya karena ingin dianggap Up Date berita terkini terus.
“Owh begitu, daerah mana mas padepokan yang dihancurkan itu ?” tanyaku.
“Ini pak masih tetangga kecamatan juga dengan kita, di Desa xxx pak.” Jawab penjual itu.
Desa itu kan tidak terlalu jauh dengan Pesantren Sidiq. Kalau tidak salah satu wilayah dengan Padepokan Joyo Maruto yang dulu aku hancurkan. Astaghfirullah,,, jangan jangan itu padepokan yang hampir sama dengan padepokan Joyo Maruto dulu.
Apa mungkin ada penerus yang melanjutkan kembali saat ini, pikiranku mulai menerawang jauh ke masa silam. Dimana aku pernah menyelamatkan seorang Gadis yang hampir menjadi tumbal. Aah aku agak lupa namanya,,, emmm eeh iya kalau gak salah namanya Laras. Waktu itu masih SMA mungkin saat ini sudah jadi seorang ibu rumah tangga, pikirku.
“Owh iya mas, tau gak nama padepokan itu apa ?” tanyaku.
“kalau gak salah pakai nama Maruto atau Marto… apa gitu pak saya juga gak begitu jelas.” Jawab penjual itu.
Hampir saja aku tersedak mendengar nama padepokan itu, tapi aku terus berpikir. Bisa saja penjual ini salah sebut saja. Tidak mungkin padepokan Joyo Maruto bangkit lagi, batinku.
“Itu padepokan apa Mas, pencak silat kebatinan atau apa ?” tanyaku lanjut.
“Kabarnya dua duanya pak, ya kebatinan dan kanuragan juga. Katanya mengajarkan ilmu Tameng Wojo begitu pak…!” kata penjual itu.
Tameng Wojo ? mendengar itu aku segera menghabiskan minuman kemudian membayar dan segera pulang. “apakah ini sebuah ‘Isyaroh’ yang harus aku kupas lagi. secara spontan aku jadi mengkhawatirkan sesuatu yang aku takutkan selama ini.
Bersatunya beberapa kekuatan hitam yang akan membawa pengaruh buruk dalam tatanan kehidupan. Dimana itu akan memancing bebasnya dalang Anyi anyi dari penjara yang aku buat dulu. “Apakah secepat ini akan terjadi. Pikiranku jadi kalut, aku harus segera sampai ke rumah dan bicara dengan Fatimah.
Singkat cerita aku sudah sampai rumah saat Isna baru selesai mengajar mandi dan bersiap Hendak Mandi.
“Asslaamu ‘alaikum, Umi mana Isna ?” tanyaku buru buru.
“Adak ok bi, kayaknya baru mandi tadi. Mungkin hampir selesai sekarang.” Jawab Isna.
“Yasudah, kamu mau mandi juga ?” Tanyaku.
“Iya bi, apa ada sesuatu ?” tanya Isna.
“Gak kok, bilangin ke umi saja abi tunggu disini segera.” Kataku pada Isna.
“Iya bi, Yasudah Isna siap siap mandi dulu bi.” Jawab Isna.
Kemudian Fatimah muncul setelah ganti baju sehabis mandi. Wangi aroma sabun mandinya masih terasa segar.
“Duuh udah cantik nih Istriku…!” Godaku.
“Hmmmhh… gak mempan dengan rayuan kamu…!” jawab istriku.
“Ada berita penting nih Fat.” Kataku serius kali ini.
Fatimah pun duduk disamping ku dan bertanya
“Soal apa lagi mas ?” tanya dia lembut.
“Soal pesan Yuyut dahulu, tentang anak turun keluarga besar kita yang harus bahu membahu. Saat kita berkumpul di rumah Khotimah dan Chandra.” Kataku mengingatkan Fatimah.
“Kenapa ?” tanya Fatimah.
“Ada kemungkinan anak turun musuh besar ku dulu akan banget dan mencari aku. Dan mereka akan mengincar Jafar untuk diambil darahnya sebagai sebuah sarat.” Jawabku.
“Maksudnya gimana mas ?” tanya Fatimah.
“Kan dulu menurut Khatimah yuyut pesan kalau kita harus ekstra mengawasi Jafar karena Jafar punya cirri aneh dan akan ada yang mengincar Jafar ?” Ucapku pada Fatimah.
“Aduh Fatimah harus bagaimana mas , Fatimah juga baru ingat sekarang ini….!?!” ucap Fatimah istriku gugup.
“Sabar gak usah gugup, bukankah ujian itu akan datang pada hamba hamba Nya yang dicintai. Untuk mengangkat derajat nya asal bisa Sabar dan ikhlas menerima.” Jawabku pada Fatimah.
“Kasihan Jafar mas, dulu masih kecil juga sudah dilatih yuyut tiap malam sekarang apa lagi ?” kata Fatimah.
“Tenang dulu, aku ayahnya juga gak akan diam begitu saja jika itu berhubungan dengan manusia. Kita berdoa saja agar semua baik baik saja.” Kataku.
“Iya mas, terus jadi kapan nih mau jenguk Jafar dan Nisa ?” tanya Fatimah.
Kali ini aku serahkan sama Fatimah saja pikirku.
“Terserah kamu bisanya kapan aku ikut saja.” Kataku.
__ADS_1
“Tapi bagaimana dengan Isna mas ? Aku juga gak tega biarkan dia di rumah sendirian.” Ucap Fatimah.
Justru aku baru ingat jika saat ini ada Isna yang harus aku jaga juga.
“Iya juga ya, eeh tadi bagaimana dia ngajar ngajinya udah ada kemajuan ?” tanyaku ke Fatimah sengaja mengalihkan pembicaraan dulu.
“Sudah ada kemajuan, udah gak galak lagi anak anak juga pada ketawa tadi Isna bisa lucu juga. Kayaknya anak anak juga gak takut lagi, terus soal Jafar gimana ?” Kata Fatimah.
“Kalau aku sendiri dulu bagaimana yang jenguk Jafar ?”tanyaku ke Fatimah
“Ya gak papa sih, tapi tetap nanti kita jadwalkan ke sana bersama.” Jawab Fatimah.
“Iya boleh, ini darurat juga soalnya.” Jawabku.
Kemudian aku juga segera mandi persiapan sholat maghrib, dilanjutkan aktifitas lain seperti biasanya.
*****
Author POV
Sementara itu di tempat lain Sidiq yang sedang terluka dan baru belajar jalan dengan tongkat penyangga. Kemauan Sidiq yang kuat untuk sembuh membuat Sidiq tidak pedulikan rasa sakit saat mencoba menapakkan Kakinya yang patah.
Meski tetap dengan menahan rasa nyeri yang ada, Sidiq menapakkan kaki nya pelan pelan. Sekedar untuk melemaskan sendi, saraf dan melancarkan aliran darahnya. Ingat dengan pesan Jafar adiknya, jangan dipaksakan tapi juga jangan terlalu dimanja. Rasa sakit yang timbul untuk proses penyembuhan tetap harus ditahan. Meski tidak boleh memaksakan agar sambungan tulang tidak bergeser.
Hari pertama Sidiq menjalani proses terapi dibantu Ihsan setelah pulang dari sekolah. Karena hari itu Ihsan pulang lebih awal.
“Hati hati Diq, jangan sampai tulang kamu mengalami geser nanti malah jadi cacat.” Kata Ihsan.
“Iya San, spalk dan ikatannya kuat banget sehingga gak khawatir geser.” Jawab Sidiq.
“Syukurlah, tapi kamu istirahat dulu gih ada yang mau aku bicarakan.” Kata Ihsan.
“Ada info penting kah ?” tanya Sidiq sambil duduk dan meluruskan kaki nya yang patah.
“Penting banget Diq, ini soal adikmu Jafar.” Jawab Ihsan.
“Ada apa dengan adikku ? Apa dia juga diganggu Jaka juga ?” tanya Sidiq tegang.
“Tidak tapi justru sebaliknya Diq, Jaka dan satu orang teman satu padepokan nya malah dihajar habis sama Jafar.” Jawab Ihsan.
“Bagus lah kalau begitu, adikku memang pendiam bahkan dari dulu banyak mengalah dengan orang lain. Tapi kalau sudah marah, aku saja tidak mampu menahan dia.” Jawab Sidiq.
“Bukan soal itu Diq, tapi dampak dari tindakan Jafar itu ada anggota padepokan lain yang mendatangi ke sekolah kita.” Jawab Ihsan mulai ragu ragu mengatakan.
“Kok bisa mendatangi ke sekolah kita ?” tanya Sidiq.
Ihsan pun agak ragu untuk mengatakan yang terjadi sebenarnya.
“Ini hanya menurut Anggota padepokan itu Diq, bukan omongan ku saja. Yang datang ke padepokan dan melukai Jaka itu kamu. Jadi kami kemudian menyimpulkan jika Jafar kesana tidak mengatakan dirinya siapa kemudian orang padepokan tahunya itu kamu. Jadi mereka mencari kamu ke sekolah.” Lanjut Ihsan dengan hati hati berbicara.
“Bisa jadi begitu sih, tapi gak mungkin adikku mau celakai aku lah San. Pasti dia punya alasan berbuat begitu.” Jawab Sidiq.
“Iya sih aku juga gak bilang adik kamu mau mencelakai kamu, dan itu gak mungkin tapi….?!?!” Ihsan berhenti bicara, keraguan kembali hadir dalam diri Ihsan untuk melanjutkan cerita.
“Riska, Lita dan Dina sempat ngobrol dengan Jafar. Katanya Jafar akan buat perjanjian dengan padepokan Jaka untuk melanjutkan pertempuran. Dan sengaja membiarkan mereka mengira Jafar adalah kamu Diq.” Jawab Ihsan.
Sidiq terkejut mendengar cerita Ihsan tersebut, kemudian mencoba mencari tahu apa alasan Jafar begitu.
“Jafar bilang tidak alasannya apa ?” tanya Sidiq.
“Menurut Jafar, suatu saat mereka juga akan menjadi musuh kalian dan Jafar melakukan itu semua atas perintah eyang kalian.” Jawab Ihsan.
Sidiq hanya terdiam saat mendengar jawaban Ihsan. Sebelumnya Sidiq dan Jafar sempat membicarakan perjalanan spiritual mereka berdua yang ditemui leluhur mereka dan meninggalkan pesan pesan khusus. Dan Jafar sudah berkonsultasi dengan abah gurunya tentang itu, sampai meyakinkan Sidiq bahwa Tasbih yang dipegangnya adalah benar pemberian eyang mustolih leluhurnya.
“Iya aku jadi ingat cerita Jafar tadi San, sepertinya memang hampir tiba waktunya kita tidak hanya aku dan Jafar saja, harus menunjukkan semangat juang kita sebagai santri.” Jawab Sidiq.
“Maksud kamu apa Diq ?” tanya Ihsan.
“Kamu ingat saat kita ke pesantren Jafar dan bertemu abah gurunya Jafar ? beliau bilang kita generasi muda harus siap melanjutkan perjuangan pendahulu kita.” Kata Sidiq.
Ihsan mencoba mengingat saat dia dan Sidiq ke pesantren Jafar dan bertemu dengan abah gurunya Jafar waktu itu.
“Owh iya Diq, Aku juga ingat itu Diq, tapi apakah seperti ini maksud beliau Diq. Apakah memang kita juga harus bergerak secepat ini ?” tanya Ihsan.
“Aku memang tidak berani memastikan, tapi melihat apa yang terjadi memang sepertinya begitu San. Orang orang Padepokan itu kan memang rese, suka bikin ulah dan bikin resah.” Jawab Sidiq.
Ihsan pun mengangguk dan mengiyakan apa yang disampaikan Sidiq tersebut. kemudian Ihsan mulai berpikir, jika dirinya selama ini kurang serius dalam mengikuti kajian kajian kitab di pondok. Sehingga Ihsan baru sadar dan ingat pernah disindir juga oleh abah gurunya Jafar saat berkunjung ke sana bersama Sidiq waktu itu. Ihsan jadi berniat untuk sungguh sungguh dalam mengaji saat itu. dengan kejadian yang menimpa Sidiq serta melihat Sidiq menerima atas apa yang menimpanya membuat Ihsan jadi sadar untuk sungguh sungguh belajar.
*****
Jafar POV
Badanku terasa lelah setelah melakukan perjalanan cukup jauh dan melakukan fight dua kali di padepokan Marto Sentono tadi. Aku berniat istirahat sebentar di kamar setelah memasukkan sepeda motor Nia ke tempat Parkir. Namun di tempat parker ternyata aku sudah dihadang Kang Muksin yang agaknya kurang suka denganku.
“Dari mana kamu, mentang mentang jadi Santri nDalem pergi seenaknya sendiri pakai motor ning Nia lagi ?” Tanya kang Muksin langsung dengan pertanyaan interogasi.
“Owh saya sudah ijin abah dan diizinkan untuk memakai motor ning Nia karena ada ada urusan keluarga kok kang.” Jawabku tenang. Ingat pesan mas Sidiq tentang kang Muksin yang kayaknya gak suka padaku dan mas Sidiq.
“Urusan keluarga apa ?” tanya kang Muksin.
“Eeemm maaf kang kalo itu Jafar gak bisa cerita, soalnya memang urusan pribadi keluarga Jafar saja.” Jawabku. Agak jengkel akibat masih terbawa suasana sebelumnya di padepokan dan ingat mask u yang sampai terluka begitu.
“Haalah so lo Jafar, perlu kamu tahu jika saat ini banyak yang gak suka padamu sejak kamu tinggal di nDalem.” Kata kang Muksin.
Yaa Allah, ini yang Jafar takutkan dari awal akan adanya orang orang yang tidak suka jika Jafar yang masih terlalu Yunior ini dekat dengan keluarga nDalem. Apalagi tinggal di nDalem seperti saat ini, tapi Jafar juga gak mungkin menolak perintah abah guru sebagai pembimbing Jafar memperoleh Ridho- Mu.
Aku tidak menjawab kata kata kang MUksin agar tidak menambah masalah baru lagi, ada hal yang lebih penting dari ini semua, pikirku. Tapi aku tidak menduga jika kang Muksin begitu marah dan justru memukul Jafar dari belakang, hingga Jafar sampai terjatuh di parkiran.
“Kurang ajar kamu gak menghormati senior kamu. Di tanya hanya diam saja…!” Kata kang Muksin sambil memukulku dari belakang. Sampai aku tersungkur jatuh di tempat parkir motor.
Dan ternyata adegan tersebut dilihat beberapa orang santri dan santriwati yang kebetulan lewat. Sehingga mereka menjerit tahu aku jatuh karena dipukul dari belakang oleh kang Muksin.
Sehingga banyak orang yang kemudian datang dan mengerumuni aku yang masih belum bangun. Sebenarnya aku bukan kesulitan bangun karena sakit, hanya kaget dengan tindakan nekad kang Muksin tadi. Sekeras kerasnya mas Sidiq orang yang aku kenal dekat tidak akan melakukan hal tersebut. apalagi memukul orang dari belakang.
__ADS_1
Kemudian aku bangun, dan memegang tengkukku yang dipukul kang Muksin tadi.
“Ada apa Jafar ?” Tanya kang Kholis yang tiba tiba sudah di sampingku.
“Gak tahu kang, kang Muksin tiba tiba memukul aku dari belakang aku jadi kaget dan jatuh.” Jawabku.
“Muksin lagi… tapi kamu merasakan sakit tidak Jafar ? kalau sakit kita obati dulu mana yang dipukul ?” Kata kang Kholis.
“Gapapa kok kang hanya kaget saja, tidak menyangka akan jadi begini.” Jawabku.
Tiba tiba Vin datang bersama Nisa adikku, dan Nisa langsung marah mendengar aku dipukul kang Muksin.
“Mas Jafar kenapa mas, kenapa dipukul kang Muksin ? balas dong mas Jafar biar dia kapok…!” seru Nisa keluar sifat kerasnya, seperti mas Sidiq juga anak ini, batinku. Aku justru jadi tersenyum melihat sikap Nisa adikku yang jadi emosi begitu.
“Sabar Nisa, mungkin kang Muksin hanya salah paham saja. Nanti juga dia bakal menyesal telah berbuat khilaf.” Kataku menenangkan Nisa.
“Gak bisa begitu dong mas, namanya salah ya harus dihukum gak bisa dibiarkan saja.” Protes Nisa.
Aku yang sudah hafal dengan watak Nisa adikku yang mirip mas Sidiq itu jadi agak kesulitan member pengertian. Karena aku juga gak mungkin biang jika ada masalah yang jauh lebih besar yang harus aku dan mas Sidiq hadapi nanti. Dari pada mengurusi hal sepele begini, hanya buang buang waktu, tenaga dan pikiran saja, batinku.
Untunglah Vina teman sekelas ku ikut menasehati Nisa adikku tersebut.
“Nisa kamu gak boleh bikin mas Jafar jadi marah dong. Kalau mas Jafar bisa memaafkan kang Muksin kan lebih baik. jangan malah dikomporin begitu Nisa.” Kata Vina.
“Tapi Nisa yang gak terima mbak, atas perlakuan kang Muksin yang licik, kalau mau tanding dengan mask u gapapa kalau memukul mas Jafar saat tanding.” Jawab NIsa.
Vina yang memang tidak ikut Ekstra beladiri mana tahu ucapan Nisa adikku jadi Vina pun hanya diam saja.
“Nisa gak boleh bilang begitu dong, mas Jafar juga gak papa kok gak sakit gak apa. Hanya kaget saja.” Kataku pada Nisa. Baru Nisa jadi sedikit mereda amarahnya.
“Sudah sudah semua bubar, biar Muksin aku nanti yang mengurusi.” Ucap Kang Kholis santri senior yang bijak tersebut.
Semua bubar dan kembali ke kamar masing masing, hanya tertinggal kang Kholis, NIsa dan Vina yang mendampingi Nisa adikku.
“Kamu yakin gapapa Jafar, gak ada yang perlu diobati ? Owh iya bagaimana kondisi kakak kamu Sidiq ?” Tanya Vina.
Tapi Vina tidak menyadari pertanyaan dia itu justru membuat Nisa adikku jadi kaget.
“Memang kenapa mas Sidiq mas ?” tanya Nisa.
Aku jadi bingung mau bilang apa dan harus menjawab Nisa dulu atau menjawab Vina dulu. Untung saja kang Kholis bijak dan menanggapi masalah itu.
“Sebaiknya kita bicara di aula saja, gak enak di sini ada dua cowok dan dua cewek kan.” Kata kang Kholis seketika membuat kami baru sadar jika disitu hanya tinggal berempat saja.
“Astghfirullah… iya maaf Vina juga sampai gak sadar. Yuk Nisa kita ke aula saja yang lebih terbuka agar tidak jadi Fitnah.” Ajak Vina ke Nisa adikku.
Sementara aku dan kang Kholis masih di situ, membicarakan kang Muksin.
“Kemana Muksin tadi Jafar ?” tanya kang Kholis.
“Gak tahu kang, sudah gak usah diperpanjang saja. Karena masih ada banyak urusan yang jauh lebih penting dari masalah ini.” kataku pada kang Kholis.
“Yasudah, tapi bukan berarti urusan Muksin dibiarkan begitu saja. Aturan pondok harus ditegakkan kalau tidak nanti yang lain kan ikutan melanggar aturan semaunya sendiri.” Jawab kang Kholis.
Kemudian aku dan kang Kholis pergi ke aula, rencana istirahat pun jadi tertunda. Sampai di aula Vina dan Nisa sudah menunggu bahkan ada beberapa santriwati lain yang ikut mendampingi. ( Satu kondisi yang biasa diterapkan di pondok,jika harus ada pertemuan laki laki dan perempuan. Jumlah perempuan harus lebih banyak dari laki laki agar tidak timbul fitnah. Tidak boleh berpasang pasangan atau jumlah laki laki sama dengan jumlah perempuan ).
Singkat cerita aku ditanya dan diminta menjelaskan kronologis kejadian tadi oleh kang Kholis di depan Vina dan Nisa juga beberapa santriwati yang lain. Aku Pun terpaksa bicara jujur apa adanya, tidak bermaksud menjatuhkan kang Muksin tapi sebatas menceritakan peristiwa sebenarnya. Dan dari situ akhirnya diputuskan jika Muksin harus dikenakan takzir atau hukuman.
Kemudian aku juga terpaksa menceritakan kondisi mas Sidiq kepada Nisa dan Vina.
*****
Author POV
Nisa yang tidak terima Jafar kakaknya diperlakukan seperti itu oleh Muksin mengadu kepada Vina. Yang dianggap dekat dengan Jafar karena teman satu kelasnya. Nisa tetap meminta agar Jafar tidak hanya diam saja terhadap Muksin. Salah satu kemiripan sifat Nisa dengan Sidiq, sehingga membuat Vina bingung dan mengadu kepada Lita kakaknya Vina.
Sehingga Lita pun menyampaikan kepada RIska apa yang dia dengar dari Vina dengan bahasa Lita sendiri. Riska pun yang tidak tahu pasti kronologis sebenarnya, hanya mendengar dari Lita yang juga tidak tahu langsung menyampaikan kepada Sidiq dengan pemahaman Riska sendiri.
Entah awal mula pergeseran beritanya seperti apa, yang jelas berita yang dipahami Sidiq adalah Jafar dipukuli Muksin sampai tidak bisa bangun. Jelas saja Sidiq yang temperamental dan merasa baru saja ditolong Jafar jadi naik pitam.
Sehingga berniat membalas perlakuan Muksin kepada Jafar adiknya. Meskipun kakinya Sidiq juga masih belum pulih betul.
“Jangan Nekat Diq, kaki kamu masih belum pulih lagian kamu juga belum tahu pasti berita aslinya seperti apa.” Kata Ihsan.
“Tapi aku tetap gak terima San, kamu tahu adikku seperti apa kan. Dia gak suka ribut apalagi dengan teman sendiri. Kalau kemarin bikin heboh di padepokan juga karena membela aku. Masak sekarang aku mau diam saja.” Jawab Sidiq.
“Kamu tanya Jafar adik kamu dulu saja, ceritanya bagaimana,kayaknya gak mungkin adikmu dipukuli sampai gak bisa bangun begitu Diq.” Ucap Ihsan.
“Adikku suka mengalah apalagi sama teman satu pesantren. Dan yang namanya Muksin memang dari awal aku tahu dia gak suka dengan adikku dan aku.” Jawab Sidiq dengan penuh emosi. Sehingga Ihsan pun tak berani lagi berkata jika Sidiq sudah seperti itu.
“Tapi hati hati Diq, ingat kesehatan kaki kamu lebih penting. Ihsan Yakin Jafar adik kamu itu kuat jadi tidak akan apa apa dia.” Ucap Ihsan, sedikit menenangkan Sidiq.
Namun Sidiq tetap berencana mencari Muksin untuk membalas dendam atas tindakannya ke Jafar.
Sayangnya waktu itu baik Nisa maupun Jafar sendiri tidak mengira jika Vina memberitahu Lita kakaknya dan sampai ke Sidiq dengan versi cerita yang sudah berbeda. Meski Jafar maupun Nisa maksudnya tidak ingin membebani sidiq yang sedang sakit. Tapi akibatnya justru jadi timbul salah paham pada diri Sidiq, sehingga Sidiq berencana membalas dendam jika sudah bisa berjalan tanpa tongkat penyangga. Dan hal itu hanya disembunyikan Sidiq tak seorangpun yang tahu. Sehingga kemungkinan akan terjadi salah paham antar anak anak dua pesantren yang bisa memecah belah persaudaraan selama ini…!!!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1