
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Ilmu Pemecah Ombak vs Jurus 'YA'...
Keduanya pun sudah tak sabar untuk segera menemui Sidiq dan Jafar untuk melakukan pertempuran satu lawan satu. Dengan tambahan ilmu Batara Karang dan Prewangan Taksaka Naga dan Naga Taksaka mereka sangat yakin mampu mengalahkan Sidiq dan Jafar.
Seperti anak yang baru mendapat mainan baru, Gagak Seta dan Jaladara mencoba ilmu barunya.
“Ilmu ‘Pemecah Ombak’ ini pasti lebih hebat dari jurus kedua anak itu,” ucap Gagak Seta.
“iya kang, aku yakin kita bisa kalahkan dua bocah itu sekarang,” sahut Jaladara.
Gagak Seta dan Jaladara mencari Sidiq dan Jafar, mereka sangat bernafsu untuk mengalahkan dan membunuh Sidiq dan Jafar. Keyakinan yang berlebihan pada Gagak Seta dan Jaladara, bisa jadi akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Dua saudara itu kembali beristirahat di sebuah gubuk, pagi menjelang subuh mereka merasakan kantuk dan lelah. Hingga kembali lelap, setelah bermain main dengan ilmu barunya.
…..
Di sekolah Sidiq
Riska dan Sidiq sedang berada di perpustakaan sekolah, menghadapi ujian akhir mereka lebih sering membaca buku daripada nongkrong di kantin.
“Mas katanya di rumah kamu ada cewek cantik ya ?” tanya Riska.
“Kata siapa, kok kamu tahu?” tanya balik Sidiq kaget.
“Gak penting jawab dulu bener apa gak?” desak Riska.
“Iya tapi bukan siapa siapa, dia pewaris Klan Ninja yang dulu itu,” jawab Sidiq.
“Tapi Mas Sidiq suka juga kan?” ucap Riska cemburu.
“Eeh…cemburu nih? Cemburu artinya cinta loh?” goda Sidiq.
“Dasar…baru nyadar?” gerutu Riska.
“Aduh kamu makin cantik kalau begitu, Sidiq jadi tambah suka deh,” goda Sidiq.
“Iih…gombal,” ucap Riska malu malu.
“Ehemm…aku yang dengar saja jadi meleleh nih,” sahut Lita yang tiba tiba datang.
“Eskrim kepanasan kali meleleh,” jawab Sidiq.
“Enak saja samakan aku dengan Eskrim,” gerutu Lita.
“Memang sama kok?” jawab Sidiq.
“Apanya yang sama?” ucap Lita melotot.
“Sama sama dingin,” jawab Sidiq asal.
“Kurang ajar lo Diq, sama teman sendiri juga,” bentak Lita.
“Ssst…jangan berisik, ini perpus bukan pasar…!” kata Sidiq.
Lita pun baru sadar, jika dirinya bicara terlalu keras. Kemudian reflek menutup mulutnya sendiri.
“Kamu sih, mancing Lita berteriak,” ucap Lita.
“Kamu saja yang gak bisa kontrol, biasa teriak,” jawab Sidiq.
“Mulai kan, jangan mancing gitu napa?” gerutu Lita.
“Udah dong, kita kan mau belajar bukan mau debat,” sahut Riska.
“Iya aku juga ngerti kok, kita mau bahas pelajaran apa sekarang?” tanya Sidiq.
“Aku lagi gak mood nih, kita ngobrol ringan saja. Nanti di rumah Riska saja belajarnya,” kata Lita mendadak jadi murung.
“Kenapa Lita?” tanya Riska.
“Aku dapat kabar dari Vina, mamaku mau kembali ke Turki lagi,” ucap Lita sedih.
__ADS_1
“Kenapa? Kirain mau tinggal di Indonesia?” tanya Riska.
“Mau Lita juga begitu, tapi Ayah Vina bilang mau selesaikan pekerjaan di sana dulu,” jawab Lita.
“Berarti kan ada harapan kembali tinggal disini lagi” tanya Sidiq.
“Iya sih, tapi entah kapan, kan mengurus surat Migrasi juga butuh waktu,” kata Lita.
“Sabar Lita,” ucap Riska memeluk dan menenangkan Lita.
Sidiq tidak tega melihat Lita sedih, tapi sifat isengnya yang dikeluarkan untuk membuat candaan. Agar Lita bisa tersenyum lagi.
“Wah aku jadi iri nih sama Lita,” ucap Sidiq.
“Iri? Kok malah iri ?” tanya Lita kaget.
“Iya, kamu sedih dapat pelukan dari Riska, lah aku dapat apa?” gurau Sidiq.
“Yee Mas Sidiq jangan aneh aneh lah, malu kali.” Kata Riska.
“Kan aku hanya bilang, aku dapat apa. Kenapa harus malu, dapat senyummu juga udah seneng kok,” goda Sidiq membuat Lita jadi tersenyum geli, lupa dengan masalahnya.
“Iih…Mas Sidqi ah, suka bikin wanita jadi meleleh saja,” jawab Riska tersipu.
“Lah kok ikutan meleleh, Kayak Eskrim lagi dong,” ucap sidiq sambil senyum.
“Berarti Mas Sidiq anggap Riska dingin juga?” protes Riska.
“gak Lah,kalau kamu sama Eskrim sama sama Manis, bukan sama dinginnya,” jawab Sidiq.
“Bisa aja ngeles, tapi masak Riska hanya disamakan dengan Eskrim sih?” tanya Riska.
Sidiq menahan tawa mendengar ucapan Riska.
“Ya sudah beda, kamu beda sama Eskrim?” jawab Sidiq.
“Berarti gak manis, kalau beda sama Eskrim?” Riska balik menggoda Sidiq.
“Iya, memang beda?” jawab Sidiq.
“Terus apa bedanya?” desak Riska.
“Kalau Eskrim manis…!” jawab Sidiq di jeda, biar Riska Penasaran.
“Kalau Eskrim manis, Kalau Riska…manis banget,” jawab Sidiq menahan tawa, melihat wajah Riska yang tegang.
Riska pun makin tersipu, sehingga tanpa sadar tangan Riska mendarat di dada Sidiq memberi hadiah cubitan.
“aduh, sakit Ris jangan,” ucap Sidiq Spontan.
Meski sebenarnya bukan sakit, tapi Sidiq merasa bergetar disentuh Riska. Walaupun tidak langsung menyentuh kulitnya.
Lita jadi tertawa melihat tingkah Sidiq dan Riska tersebut.
“Diq, jujur nih, Lita sudah anggap kalian saudara. Lita gak bisa bayangkan sebentar lagi, masihkah kita bisa bercanda seperti ini,” ucap Lita.
“Bisa saja, kenapa tidak. Walaupun mungkin tidak sesering sekarang. Kan Vina adik kamu juga teman Jafar Adikku,” jawab Sidiq.
“Kalau Riska Mas?” tanya Riska.
“Apanya?” tanya balik Sidiq.
“Kalau sama Lita kan kalian disatukan dengan Vina dan Jafar yang teman sekolah, kalau kita lulus apa yang menyatukan kita?” tanya Riska.
“Lah kan Ayah kamu itu calon mertuaku juga,” jawab Sidiq asal.
Tawa pun kembali terdengar dari ketiga orang tersebut. hubungan Sidiq dan Riska kini semakin dekat. Meskipun sebentar lagi mereka harus berpisah, karena Riska diminta kuliah di luar kota. Itu sebenarnya yang membuat RIska khawatir. Saat Riska jauh, Sidiq tertarik dengan gadis lain, apalagi ada Farayaka yang menurut kabar sangat cantik
Riska diam diam membayangkan, jika nanti sudah lulus sekolah. Apakah masih bisa terus bersama Sidiq atau tidak. Tanpa sadar Riska memandangi wajah Sidiq yang sedang membaca buku. Hal itu diperhatikan Lita, namun Lita hanya diam saja. Karena Riska pernah curhat, bagaimana nanti setelah lulus sekolah.
Sidiq sendiri pun sebenarnya terbayang hal yang sama, Sidiq hanya pura pura membaca buku saja. Padahal dalam hatinya memikirkan seperti apa yang dipikirkan Riska. “Ya Allah, jika memang Riska jodohku, pertemukan kami nanti di saat yang tepat menurut Mu. Tapi jika dia bukan jodohku, semoga tidak ada yang tersakiti hatinya diantara kami,” doa Sidiq dalam hati.
…..
…..
…..
Di tempat Lain, Jafar pun sedan berbincang bincang dengan Vina. Mereka berbicara di dalam kelas, bukan di kantin. Karena Hari senin mereka biasa berpuasa Sunnah.
“Apa kabar neng Nia?” tanya Vina pada Jafar.
__ADS_1
“Eeh apa?” Jafar kaget tiba-tiba Vina bertanya padanya.
“Kamu ngelamun ya? Mikirin siapa hayo?” tanya Vina lagi.
“Enggak kok, gak mikir siapa siapa,” jawab Jafar.
“Kok ditanya sampai gak dengar?” kata Vina.
“Ya gak dengar saja, bukan karena mikirin orang lain?” jawab Jafar.
“Orang lain? Memang siapa orang lain dan yang bukan orang lain?” tanya Vina.
“Maksudku, ya mikir diri sendiri,” jawab Jafar gugup.
Vina hanya tersenyum, melihat ekspresi Jafar tersebut. Dalam hati Vina berkata, “Semoga saja yang kamu maksud bukan orang lain itu aku, Jafar.”
Beberapa saat kemudian teman teman satu kelas mereka berdatangan. Semua sudah hafal dengan Jafar dan Vina yang jarang ke kantin karena sering puasa. Sehingga ketika mendapati mereka berdua di kelas pun tidak timbul Gosip. Di samping mereka duduk berjauhan, Jafar juga terlihat dari pintu kelas yang terbuka. Sementara Vina di sisi yang agak jauh.
Mereka kembali mengikuti pelajaran sekolah sampai selesai, sampai saat pulang sekolah.
…..
Jafar dan Vina pulang sekolah bersama, mereka kembali melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.
“Tadi Vina tanya, kabar ning Nia bagaimana, kan kemarin kamu pulang ke rumah?” kata Vina.
“Iya, kayaknya baik baik saja kok, kan ada teman dia Utari, putri Abah gurunya Mas Sidiq dan adik sepupuku Wisnu,” Jawab Jafar.
“Kok kayaknya, memang gak ngobrol?” tanya Vina.
“Gak sempat, di rumah Cuma sebentar,” jawab Jafar.
Jafar tidak paham apa maksud Vina, sementara Vina pandai menyimpan semuanya dan tetap sabar menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu Jafar. Jika ada rencana perjodohan diantara mereka. Meskipun itu juga baru sebatas rencana saja.
Saat mereka melewati sebuah kebun yang cukup sepi, kembali Jafar mendapat rintangan dari musuh. Yang tidak lain adalah Jaladara. Di waktu yang bersamaan Gagak Seta juga sedang menanti kemunculan Sidiq.
“Aah orang itu lagi, Vina kamu lari secepatnya. Orang itu berbahaya, tidak usah berhenti sebelum sampai ke Pesantren,” ucap Jafar.
“Kamu sendiri bagaimana Jafar ?” tanya Vina.
“Udah gak usah mikirin aku, cepat ambil jalan lain saja,” ucap Jafar.
Vina pun mengikuti ucapan Jafar, segera menyimpang jalan menghindari Jaladara.
“Akhirnya, aku bisa menemukanmu juga, bocah…!” ucap Jaladara.
“Kebetulan juga, aku kemarin mencarimu tapi hanya menemukan guru dan kakak seperguruan kamu. Sekarang kamu datang menyerahkan diri,” jawab Jafar.
“Mulut besarmu itu akan segera terkatup rapat, bocah,” bentak Jaladara.
“Bukannya kamu yang akan diam tak berkutik lagi, setelah kakak seperguruan kamu, kemarin?” ucap Jafar.
“Kita cari tempat, jangan di jalan ini sekarang,” ucap Jaladara langsung melesat pergi.
Jafar pun tidak melepaskan Jaladara begitu saja. Karena Jafar memang ditugaskan menangkap orang tersebut. Jafar segera menyusul Jaladara, dan keduanya sudah berada di sebuah tempat yang terbuka. Kini keduanya sudah saling berhadapan.
“Lekas pakai jurus kamu, hadapi ilmu ‘Pemecah Ombak’ milikku sekarang,” Ucap Jaladara.
Jafar pun tak mau lama lama berpikir, dengan sigap menyiapkan Jurus Suci Hijaiyahnya. Dan langsung mengambil jurus ‘Ya’. Kini keduanya sudah siap untuk saling menyerang.
Jaladara yang sudah tidak sabar segera melompat menyerang Jafar dengan ilmu Pemecah Ombak. Jafar pun sudah siap menyambut dengan Jurus ‘Ya’. Sehingga terjadi benturan keras dari pertempuran tersebut.
Tubuh Jaladara dan Jafar sama-sama terpental ke belakang…!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Rekomendasi Novel :
__ADS_1