
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
"Kok pakai acara begituan segala ?” Tanya Fatimah.
“Ya gak papa kan doa bersama itu baik.” Jawabku.
Aku gak mau cerita jika di sana pegawainya sering di ganggu makhluk astral, taku Fatimah masih Trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Yang beberapa kali juga sampai mengancam keselamatan nyawaku…!!?”
“Maksud nya kenapa harus ngajak mas ?” Tanya Fatimah.
“Ya gak papa kan namanya juga relasi bisnis, biasa di ajak mengikuti acara begitu.” Jawabku asal sebenarnya.
“Iya sih, tapi kan jauh mas perjalanan dua jam lebih loh ?” kata Fatimah.
“Baru juga dua jam lebih, lagian gak sampai malam banget kok, santai saja !” ucapku. Dan Fatimah pun terdiam.
Kemudian aku menemani Jafar dan Sidiq yang lagi pada makan, sementara Fatimah mencari Nisa diajak pulang untuk mandi.
“Enak gak kue nya ?” tanyaku pada Sidiq dan Jafar.
“Enak kok yah, ayah mau ?” Tanya Sidiq.
“Gak usah buat Sidiq sama Jafar saja.” Jawabku.
“Mahal ya yah ?”Jafar menyahut pelan.
“Gak juga kok, kenapa Jafar suka ?” tanyaku pada Jafar.
“Suka sih yah, tapi gak mau kalo mahal harganya.” Jawab Jafar.
“Jafar ayah mau nanya sama Jaar !” kataku pada Jafar.
“Nanya apa Yah ?” Tanya Jafar.
“Beneran ada yang suka minta uang Jafar di sekolah ?” tanyaku pada Jafar.
“Gak papa kok yah, kan kasihan kalo dia gak pada jajan dan di rumah gak sarapan. Kalo Jafar kan di rumah sarapan terus. Di buatin bunda tiap pagi.” Jawab Jafar.
Hatiku tersentuh dengan jawaban Jafar, dari mana dia mendapat pemikiran seperti itu.
“Jafar kasihan atau Jafar takut sama anak anak itu ?” tanyaku ke Jafar.
“Jafar gak takut kok yah, kan ada mas Sidiq yang lindungi Jafar.” Jawab jafar.
Sidiq hanya diam saja tidak menyahut, mungkin masih ingat kejadian tadi jadi dia sedikit merasa bersalah.
“Jafar, mengasihani orang lain itu bagus, tapi jangan sampai mengorbankan diri sendiri. Kalo uang jajan diminta semua Jafar jajan apa ?” tanyaku.
“Gak jajan yah, dikelas aja main sama temen temen. Banyak juga kok yang gak pada bawa uang jajan.” Jawab Jafar.
Aku harus mencari cara agar Jafar bisa sedikit tegas dan Sidiq sedikit meredam emosinya. Tapi bagaimana caranya, pikirku. Kenapa Sidiq begitu keras sifatnya, sementara Sidiq begitu lembut dan mengalah. Bagaikan sisi mata uang yang berbeda tapi saling melengkapi, batinku.
Yang paling mengherankan aku adalah sifat Jafar itu menurun dari siapa, aku jelas dan mengakui punya sifat yang keras bahkan cenderung emosional temperamental. Ibunya Jafar, Fatimah pun tidak lembut lembut amat. Lantas menurun dari siapakah sifat Jafar tersebut ? sebuah teka teki besar buatku, Jika Nisa pun masih mewarisi sifat ku dan ibunya juga. Namun sifat Jafar ini Yaa Allah….!?! Kalo bukan karunia-Mu ini gak mungkin Yaa Allah, ank ku Jafar begitu lembut hatinya.
Tak terasa aku sampai menitikkan air mata, Jafar anak ku yang semasa di kandung ibunya harus beberapa kali mengalami hal kurang baik. ketika harus aku tinggal kemana mana bahkan saat dia lahir pun masih sering aku tinggalkan dan lebih sering di asuh oleh neneknya..?!?
Owh iya, sifat ibu mertuaku memang lembut banget, jauh lebih lembut dari istriku Fatimah. Beliau juga lebih dulu tahu jika aku sudah mempunyai anak dari wanita lain selain Fatimah anak kandungnya. Namun beliau tetap mempertahankan aku sebagai menantunya. Bisa menerima aku apa adanya.
Meskipun Fatimah juga pada akhirnya juga bisa menerima aku apa adanya, namun harus melalui proses perenungan panjang dan harus di bantu oleh Isti teman kami satu pesantren dulu. Owh rupanya gen lembut neneknya ( Ibu Fatimah ) lah yang banyak menurun ke Jafar.
Beberapa saat kemudian Fatimah datang bersama Nisa yang wajahnya dekil habis mainan tanah pasir, biasalah anak anak. Pulang k rumah badan dan baju kotor penuh noda, sehingga wajah Nisa jadi belepotan debu dan tanah.
“Ayah temen temen Nisa pada suka tadi, besuk minta lagi ya yah…!” pinta Nisa.
Dasar anak anak baru bisa minta dan minta gak ngerti orang tuanya harus berjuang keras mencari nafkah, batinku sambil senyum. Bukan bermaksut menggerutu hanya lucu melihat tingkah Nisa anakku yang seperti itu. bahkan Fatimah pun hanya bisa senyum senyum saja melihat tingkah anak cewek nya tersebut.
“Aah kalo begitu sangat mirip sama bundanya deh.” Gurauku pada Fatimah.
__ADS_1
“Maksud nya apanya mas, wajahnya yang cemong cemong atau tingkahnya nih ?” jawab Fatimah sedikit sensi dengan ucapan ku.
“Diih kok kamu jadi sensi gitu sih ?” kataku pada Fatimah yang cemberut.
“Habisnya mas tuh ngomongnya selalu gitu, kalo kebiasaan anaknya yang kurang baik disamakan dengan bundanya.” Jawab Fatimah.
“Ya wajarlah disamain sama bunda nya. Kalo disamain tetangga kamu nanti tersinggung…???” jawabku sambil tertawa.
“Iih dasar…!” gerutu Fatimah sambil membawa Nisa ke kamar mandi.
“Sidiq sama Jafar habis ini juga mandi ya !” pintaku pada anak anakku.
“Iya Yah…! dedek Jafar dulu saja mandi sana.” Jawab Sidiq menyuruh adiknya mandi duluan.
“Mas Sidiq gak mandi ?” Tanya Jafar.
“Aku kan kakakmu jadi belakangan saja, biar adiknya yang duluan.” Kilah Sidiq yang sebenarnya masih asik bermain.
“Iya deh, habis dik Nisa Jafar duluan.” Jawab Jafar.
“Tadi ayah hampir berantem lo dik, sama ayahnya temen Sidiq, yang kemarin mau minta uang kamu.” Cerita Sidiq ke Jafar.
“Udah tua kok berantem sih mas ?” komentar Jafar polos.
“Itu bapaknya Cheko yang mulai duluan. Kamu tahu gak bapaknya Cheko di badannya ada gambar ularnya loh tadi..!” lanjut Sidiq.
“masa badan dikasih gambar, apa gak punya kertas gambar ya. Pantas anaknya gak pernah dikasih uang jajan, kasihan ya mas ?’ ucap Jafar.
Aku yang mendengar percakapan Sidiq dan Jafar hanya menahan geli mendengar ocehan Sidiq dan komentar Jafar yang polos. Sampi akhirnya Fatimah datang bersama Nisa yang sudah bersih dan wangi, sehabis mandi.
“Iih anak ayah udah cantik dan wangi sekarang ya ?” sapaku pada Nisa.
“Iya dong yah, Nisa kan emang cantik yah.” Sahut Nisa bangga kalo dibilang cantik.
“PD amat kayak bunda kamu Nisa !” jawabku bergurau.
“Mulai kan, kalo jelek aja sama kayak bundanya, kalo bagus ini anak ayah, iih dasar…!” gerutu Fatimah.
Begitulah hari hariku bersama Fatimah dan anak anak kami, selalu saja kami isi dengan candaan ringan yang kadang terkesan kayak orang berantem. Namun itulah ekspresi kebahagiaan dan keharmonisan kami sebagai keluarga. Kadang juga Fatimah yang mengejek aku dengan kekuranganku namun tidak bermaksut mengungkit, hanya sebatas bercanda saja. Karena diucapkan saat sedang berdua dengan kalimat canda saja.
Sampai saat maghrib tiba aku ajak anak anakku ke Masjid untuk ikut jamaah sholat maghrib berjamaah. Dan dilanjutkan mengaji bersama anak anak lain sampai Isya. Dan setelah Isya kami melaksanakan mujahadah singkat, kemudian menemani Sidiq dan Jafar belajar.
Sedangkan Nisa ikut ikutan mengganggu kakak kakaknya yang sedang belajar, dengan pura pura memegang buku dan alat tulis lain.
“Ya gak papa, biar bisa bergaul dengan teman teman sebayanya juga.” Kataku.
Kemudian Nisa tertidur dan Fatimah menidurkan Nisa di kamar Nisa. Sementara Sidiq juga sudah kelihatan mengantuk dan berangkat tidur di kamarnya. Sedangkan Jafar justru masih terlihat segar belum kelihatan mengantuk sama sekali.
Bahkan ketika Fatimah istriku sudah masuk kamar pun Jafar masih belum juga berangkat tidur.
“Jafar kamu gak ngantuk ?” tanyaku pada Jafar.
“Belum yah, sebentar lagi masih belum kerasa mengantuk.” Jawab Jafar.
Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri Jafar anakku itu, ada sebuah ‘misteri’ yang tersembunyi. Dan belum bisa aku pecahkan. Hampir tiap malam Jafar selalu tidur belakangan, bahkan selalu tidur paling akhir entah apa yang dia kerjakan. Sehingga timbul keinginanku untuk menyelidik apa yang dia lakukan saat yang lain tertidur. Namun sejauh ini belum juga dapat aku laksanakan.
Lama menunggu Jafar aku pun terasa mengantuk juga, sehingga aku berangkat tidur duluan menyusul Fatimah dan meninggalkan Jafar yang masih asik dengan buku buku nya.
Sesampai di kamar pun Fatimah sudah terlelap mungkin kecapaian juga siangnya menjaga ruko dan setelahnya mengurus rumah tangga dari mulai mencuci memasak dan memandikan Nisa anak bungsu kami.
Aku pun terlelap setelahnya dan terbawa kea lam mimpi.
Dalam mimpi tersebut aku di temui oleh kakek Mustolih, kakek ku yang level Tujuh di atasku. Kakek mustolih berpesan kepadaku.
“Ngger wus wayahe, Sliramu neruske perjuangane mbah mbahmu, omah kui manfaatno dinggo mulang ngaji bocah bocah.” Kata mbah Mustolih padaku.
[ngger sudah saatnya, kamu meneruskan perjuangan kakek kakek kamu. Rumah itu gunakan untuk mengajar ngaji anak anak.]
“Kulo tasih ajrih eyang, mangkeh menawi lepat amargi kulo rumaos dereng saget punopo punopo.” Jawabku.
[Saya masih takut eyang, nanti kalo salah karena saya merasa belum bisa apa apa.]
“Lah opo rumangsamu kowe kui Nabi kok wedi luput, luput iku wis panggonanane manungso ngger. Sik penting gelem sianau, lan gelem ngakoni menowo luput lan enggal dibenerke.” Kata kakek Mustolih.
[lah apa menurutmu kamu itu Nabi kok takut salah, salah itu sudah tempatnya manusia ngger. Yang penting mau belajar, dan mau mengakui kalo salah dan segera memperbaiki.]
“Nanging kulo khawatir mangkeh dipun wastani sombong menawi kulo mucal ngaos lare lare wonten griyo eyang.” Kataku kemudian.
[tapi saya takut nanti dikira sombong kalo mengajar ngaji di rumah kek.]
__ADS_1
“Lah yo kui jenenge malah sliramu sombong ngger.” Jawab kakek Mustolih.
[la ya itu justru kamu sombong ngger.]
“Kersanipun eyang kados pundi, kok malah mastani kulo sombong ?” tanyaku.
[maksut eyang bagaimana, kok malah bilang saya sombong]
“Sliramu wedi diarani sombong iku podo karo pingin dianggep tawadu, pingin dianggep andap asor. Iku saktenen luwih sombong ngger.” Kata kakek Mustolih.
[kamu takut dibilang sombong itu sama saja kamu pingin dianggap tawadu ( nurut ), pingin dianggap rendah hati. Itu justru lebih sombong ngger.]
“Mboten eyang, ananging kulo rumaos dereng sepinteno mengertos ilmu agami Eyang.” Bantahku pada kakek Mustolih.
[Tidak eyang, tapi saya merasa belum seberapa mengerti ilmu agama eyang.]
“Sanajan mung sak ayat kudu mbok sampekno, balighuany walau ayah iku dawuhe kanjeng Rasul Muhammad saw kudu mbok laksanaake.” Kata kakek Mustolih.
[ meski hanya satu ayat harus kamu sampaikan, Balighuany wa lau ayah ( sampaikan meski hanya satu ayat ) itu perintah Rasulullah Muhammad Saw harus di laksanakan.]
“Punopo kulo saget mekaten Eyang ?” tanyaku lagi.
[Apakah saya bisa begitu eyang]
“Ora bakalan iso tanpo idzin e Allah, mulane kudu tansah nyuwun marang Allah supoyo biso nglakoni barang kang apik lan ninggalke barang kang ora becik. Laa haula wa laa quwata illa billah. Ora ono doyo ninggalake maksiat lan ora ono doyo nglaksanaake ibadah, kejobo oleh palilahe Allah.” Kata kakek Mustolih.
[gak bakalan bisa tanpa ijin dari Allah, laa haula wa laa Quwwata illa billah. Tidak ada daya meninggalkan maksiat dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ibadah,kecuali mendapat ijin dari Allah.]
“Injih eyang, ananging jujur kulo tasih kirang ilmu eyang.” Jawabku.
[iya eyang, tapi jujur saya masih kekurangan ilmu ( Agama ) ]
“Ilmu ojo mbok anggep koyo bondo dunyo, yen bondo dunyo dicakke kurang utowo entek. Ananging ilmu yen di amalke soyo tambah ora soyo kurang. Ilmu sitik mbok amalke bakale tambah ngilmu mu.” Kata kakek Mustolih.
[Ilmu jangan kamu anggap seperti harta dunia ( uang ), kalo uang kamu gunakan berkurang atau habis. Tapi ilmu yang sedikit kamu amalkan ( ajarkan ) akan bertambah bukan berkurang. Ilmu mu sedikit kamu amalkan akan bertambah ilmu kamu.]
“Wus meh wancine sliramu ninggalake kabisanmu olah kanuragan, wus ora wancine nganggo koyo ngono kui meneh. Ananging wektu iki sliramu kudu luwih nyaket marang gusti Allah kanti amal amal Soleh, ngger.”
[Sudah hampir waktunya kamu meninggalkan olah kauragan, sudah gak waktunya memakai hal itu lagi. Akan tetapi kamu harus mendekat kepada Allah dengan amal amal soleh ( perbuatan baik ).
Begitu pesan kakek Mustolih di dalam mimpiku saat tidur, dan tahu tahu aku sudah dibangunkan Fatimah karena sudah hampir masuk waktu subuh.
Aku pun segera bangun dan segera bersih bersih dan mengambil air wudhu. Kemudian melihat Jafar lebih dahulu, ternyata masih tidur terlelap. Dan badannya berkeringat tidur tanpa berselimut, padahal cuaca cukup dingin.
“kenapa Jafar seperti kelelahan begitu tiap kali aku lihat saat dia tidur, apa yang dia lakukan malam harinya.” Kataku dalam hati. Bahkan dengan Fatimah istriku pun aku tidaklah bercerita tentang hal ini.
Biarlah ini aku selidiki sendiri, Fatimah sudah dibuat pusing oleh Nisa anak gadisku yang pandai berdiplomasi sampai kadang Fatimah pun dibuat tidak bisa berkata apapun menghadapi Nisa.
Biarlah soal Sidiq dan Jafar ini aku yang mengurus sendiri, meski kadang kau suka ngejek Fatimah saat bercanda. Namun dalam hati kecilku aku kagum denganya. Selama menjadi istriku tidak pernah sekalipun menuntut sesuatu yang berlebihan. Bahkan mengambil uang di dompetku pun tidak pernah berani.
Ketika aku suruh mengambil pun selalu dompetnya diserahkan ke aku, tidak berani mengambil sendiri meski sudah aku ijinkan. Itulah kekagumanku pada istriku Fatimah, dibalik kami yang sering saling ejek masing masing menyimpan kekaguman terhadap pasangannya.
*****
Setelah subuh aku bangunkan semua untuk melaksanakan Sholat subuh. dan selalu Jafar yang paling susah di bangunin, sudah itu habis subuh pun selalu tidur lagi seperti sangat kelelahan.
Aku selalu memperhatikan tingkah aneh Jafar tersebut, bukan mengistimewakan dari lainnya. Akan tetapi karena Jafar seperti menyimpan sebuah misteri yang harus aku pecahkan.
Dan yang membuat aku kaget lagi ketika aku memegang tangan Jafar yang keras berotot, lebih keras dan lebih berotot dari tangan Sidiq. Padahal justru Sidiq lah yang kadang memintaku mengajarinya pencak silat. Sementara Jafar diajarin pun tidak pernah mau sama sekali.
“Buat apa.” Selalu begitu jawabnya ketika aku mengajaknya ikut latihan bersama Sidiq. Malah Nisa anak gadisku yang kadang ikut latihan pencak Silat….???
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya, episode awal belum masuk ke konflik.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1