
Akhir pertempuran ( Last Episode )
Di saat Yang Sama Dalang Anyi Anyi pun mengerahkan seluruh tenaga hendak menghabisi Sidiq dan Jafar yang sudah terjatuh. Sehingga yang terjadi kemudian meluncur Nisa dan dalang Anyi Anyi yang sudah siap untuk saling menggempur.
Disaat yang sangat kritis itu, datanglah Jaladara dan berteriak kepada Nisa.
“Gadis cantik, serang arah pusar makhluk itu dengan tumitmu,” teriak Jaladara.
Mendengar itu Nisa pun semakin mantap, karena memang sudah bersiap menyerang Dalang Anyi Anyi dengan tumitnya. Seperti yang dipesankan Yasin Ayahnya, dan kali ini ditambah teriakan Jaladara yang menyuruh mengarah ke arah pusar.
Dalang Anyi Anyi sendiri kaget dengan teriakan Jaladara tersebut, sehingga berusaha merubah posisi serangannya. Namun Sidiq dan Jafar tidak membiarkan hal itu terjadi. Sidiq dan Jafar menyerang sisi kanan dan kiri Dalang Anyi Anyi. Sehingga Dalang Anyi Anyi tidak bisa bergeser, dan tak bisa menghindari serangan tumit kaki Nisa.
Tumit kaki Nisa pun mengenai bagian perut bawah Dalang Anyi Anyi, bersamaan dengan kumandang adzan yang dilantunkan oleh Tujuh orang secara hampir bersamaan. Akibat yang timbul pun diluar dugaan semuanya.
Langit yang tadinya terselimuti mendung hitam secara perlahan mendung itu mulai menghilang. Beberapa saat kemudian langit kembali cerah dan matahari tampak terik, meski sudah bergeser kebarat. Waktu sudah melewati masuknya waktu sholat dhuhur.
Lokasi pertempuran berubah menjadi terang benderang, Dalang Anyi Anyi terpuruk jatuh tak berdaya. Meski antara Sidiq, Jafar dan Nisa masih bingung apa yang harus dilakukan. Mereka masih menunggu arahan dari para sesepuh yang ada di situ. Namun dengan jatuhnya Dalang Anyi Anyi dan hilangnya awan Hitam yang menjadi sumber kekuatan Dalang Anyi Anyi cukup menenangkan mereka.
Usai melantunkan Adzan Tohari langsung melompat ke arah anak anak Yasin. Kemudian diikuti oleh Yasin dan semua yang melantunkan adzan.
“Segera ikat dan penjarakan Jin itu,” kata Kyai Syuhada.
Yasin, Sena dan Tohari kemudian segera membaca doa, diantaranya beberapa ayat dari Surat Jin. Kemudian wujud dalang Anyi Anyi berubah menjadi sangat kecil, hanya sebesar korek api. Sesaat kemudian wujud Dalang Anyi Anyi itu seperti terbungkus sinar putih yang membelenggunya.
“Akan kita buang kemana Raja Khodam ini Kang?” tanya Yasin kepada Kyai Syuhada.
“Kita kembalikan ke laut, agar tidak mudah lepas lagi,” jawab Kyai Syuhada.
“Apakah dia tidak akan mampu bangkit lagi nanti?” tanya Yasin.
Kyai Syuhada terdiam sesaat, sebelum menjawab pertanyaan Yasin.
“Bagaimana Kyai, apakah masih ada kemungkinan Raja Jin itu akan bangkit lagi nanti?” tanya Sena.
“Sudah kodrat, Jin itu tetap akan bangkit nanti. Karena semua tindak kemaksiatan akan memberi energi baginya, dan anak buahnya akan terus menyebarkan pengaruh. Sehingga manusia akan selalu ada yang berbuat maksiat,” jawab Kyai Syuhada.
Semua menjadi cemas, namun apa yang bisa dilakukan? Selama dunia masih berputar, kemaksiatan, dan kejahatan akan selalu ada dan terus berjalan. Meskipun Dalang Anyi Anyi kembali dipenjarakan, tapi anak buahnya yang tak terhitung terus membujuk manusia berbuat keji dan munkar. Setiap mereka berhasil membawa manusia kepada kesesatan, mereka akan bertambah kuat.
“Apakah itu akan terjadi dalam waktu dekat atau lama Kang?” tanya Yasin.
“Wallahu a'lam bisshowab, hanya Allah yang tahu. Hanya saja, kemungkinan Raja Khodam itu akan bangkit saat dunia ini sudah mendekati hari Akhir,” jawab Kyai Syuhada.
“Kemunculannya lagi, atau kebangkitannya kemudian akan diikuti kemunculan Dajjal. Setelah itu beberapa saat kemudian barulah Ya’jut dan Makjut. Karena Dalang Anyi Anyi itu adalah Dajjal kecil atau anak buahnya Dajjal,” sambung Kyai Nurudin.
Yasin dan lainnya pun menjadi merinding mendengar itu. Tak seorang pun berharap menemui hal tersebut, kemunculan Dajjal sangatlah mengerikan. Setiap orang yang bertemu dengannya hanya ada dua kemungkinan. Mati mempertahankan Iman, atau tetap hidup menjadi pengikut Dajjal dan meninggalkan iman.
“Allahu Akbar…!” semua bertakbir mendengar penjelasan dari Kyai Nurudin.
“Sidiq, Jafar dan Nisa kalian harus tetap istiqomah dalam ibadah. Kejadian kali ini masih tergolong peperangan kecil. Peperangan yang besar adalah, mengalahkan Nafsu diri sendiri,” kata Kyai Syuhada.
Apa yang disampaikan Kyai Syuhada itu sebenarnya adalah ucapan Rasulullah Muhammad Saw. Usai perang Badar Beliau bersabda seperti itu kepada para sahabat. Pada masa sekarang ini, hal itu sangat terasa. Bahwa peperangan melawan musuh yang kelihatan itu masih mudah, dibandingkan dengan berperang melawan hawa nafsu sendiri yang tidak di sadari.
Hal itu lah yang dimanfaatkan Iblis untuk menjerumuskan manusia. Bisikan Iblis kepada manusia untuk memperturutkan hawa nafsunya. Semua bisa dipertaruhkan untuk mendapatkan “Harta, Tahta dan Wanita” bagi seorang pria. Demikian juga dengan wanita yang menuruti bisikan Iblis, akan silau dengan gemerlapnya dunia. Karena secara manusiawi wanita suka dengan kemewahan.
Tiba tiba Jaladara ikut berbicara, dan mengatakan jika Gagak Seta kakaknya sudah meninggal dunia.
“Maaf semuanya, aku harus melakukan upacara kremasi jenazah Gagak Seta sekarang,” kata Jaladara.
Kagetlah Yasin dan orang-orang yang di situ, kecuali Kholis dan Ihsan. Karena hanya mereka yang sudah tahu jika Gagak Seta sudah tewas saat bertempur melawan Ihsan dan Kholis.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, maaf kami baru tahu Jaladara,” ucap Yasin.
Semua pun lantas mengiringi Jaladara kembali ke tempat Gagakseta yang sudah terbujur kaku. Tampak kesedihan Jaladara, melihat kakaknya yang sudah terbujur kaku. Kemudian Jaladara bersiap mengkremasi jenazah Gagak Seta sesuai kepercayaan Gagak Seta.
“Maafkan kami yang tidak bisa membantu, karena keyakinan yang berbeda,” kata Kyai Syuhada.
Jaladara pun melakukan upacara Kremasi dibantu oleh anak buah Ki Ajar Panggiring yang menjadi tawanan mereka. Sementara Jasad Ki Ajar Panggiring sendiri masih berada di lokasi pertempuran.
“Bagaimana dengan jasad Ki Ajar Panggiring? Karena kita tidak tahu kepercayaan yang dianutnya,” kata Kyai Nurudin.
__ADS_1
“Ki Ajar menganut Kapitayan, biar aku dan anak buahnya nanti yang menguburkan jenazahnya,” kata Jaladara.
“Paman Jaladara sanggup melakukan itu?” tanya Sidiq.
“Tidak usah khawatir, meski aku sedang berduka tapi aku masih kuat untuk menguburkan mayat Ki Ajar Panggiring nanti,” jawab Jaladara.
Begitulah akhir pertempuran yang terjadi, setelah semua beres, anak buah Ki Ajar Panggiring yang sudah ada diberi opsi. Mau bertaubat atau mau masuk bui, mereka memilih bertaubat dan mengikuti Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin untuk dididik secara Islam. Karena sebagian juga ber KTP Islam, meski tidak menjalankan Syariat. Sedang yang menganut aliran kepercayaan dan tetap mau memeluk kepercayaan tetap dipersilahkan. Akan tetapi dalam pengawasan, jika melakukan ritual Pancamakarapuja maka akan ditangkap dan dijebloskan dalam penjara.
“Tuan Yasin, Kami akan kembali ke tanah leluhur kami. Tapi tujuh tahun lagi, Farayaka akan kunjungi tuan Yasin. Saat Farayaka sudah dewasa,” kata Farayaka. Kemudian bersama anak buahnya meninggalkan tempat itu.
Sidiq dan Jafar melepas kepergian Farayaka dengan haru.
“Jangan Sedih, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti,” kata Farayaka sambil tersenyum manis.
Jaladara pun tetap memilih memegang kepercayaan leluhurnya. Namun berjanji tidak akan menggunakan ritual Pancamakarapuja seperti Ki Munding Suro. Karena Ki Munding Suro sendiri sebenarnya, yang mengikuti aliran Bhairawa Tantra. Jaladara sendiri tetap berpegang kepada Ajaran seperti yang dianut Begawan Sanjaya. Mereka pun berpisah kembali ke rumah masing masing.
Sidiq, Jafar dan Nisa diijinkan pulang ke rumah beberapa hari. Sekalian beristirahat setelah melakukan pertempuran panjang. Bersama Sena Yasin dan ketiga anaknya, kembali ke rumahnya. Sedangkan Tohari tidak ikut pulang ke rumah Yasin, karena membawa Dalang Anyi Anyi untuk di larung di laut selatan. Karena ada cara khusus yang hanya bisa dilakukan Tohari.
*****
Di rumah Yasin
Yasin POV
“Alhamdulillah…akhirnya kita berhasil menyelesaikan tugas ini,” ucapku kepada anak-anak.
“Kamu ini kebangetan Mas, anak dalam bahaya gak bilang sama Fatimah,” Gerutu Fatimah yang sangat marah kepadaku.
“Maafkan aku, aku gak tega jika kamu terbebani masalah seperti itu,” jawabku.
“Tapi gak seharusnya juga, Mas Yasin merahasiakan dari Fatimah. Fatimah yang mengandung Jafar dan Nisa, Fatimah yang bertaruh nyawa melahirkan mereka,” gerutu Fatimah.
“Bunda jangan marah sama Ayah, semua itu salah Nisa. Karena melupakan pesan Ayah,” kata Nisa.
Akhirnya Fatimah pun luluh, karena Nisa mampu memberi pengertian kepada Bundanya. Juga dibantu oleh Sidiq dan Jafar. Aku jadi sangat terharu, kepada ketiga anakku tersebut.
“Maaf Mas Yasin, kenapa tidak melibatkan Farhan dalam urusan sebesar itu?” gantian Farhan yang protes kepadaku.
“Boleh gak Sufi, ikut bicara?” tanya Sufi.
“Boleh saja, kenapa?” tanyaku.
“Sufi khawatir, kalau kalau rahim Sufi rusak. Karena dosa Sufi di masa lalu. Sehingga tidak mampu memberi keturunan kepada Mas Farhan,” kata Sufi meneteskan air mata.
“Maksud kamu apa Sufi?” tanya Sena yang ikut penasaran.
“Mas Sena pasti sudah tau dari Mbak Nurul, masa lalu Sufi. Jadi tidak perlu Sufi jelaskan lagi,” jawab Sufi.
“Tidak, bukan itu maksudku. Tapi kenapa kamu bilang takut tidak mampu memberi keturunan” tanya Sena.
“Sudah gak usah diperpanjang Sufi, kita kan bisa mengadopsi anak,” ucap Farhan.
“Beda dong Mas, kalau bukan anak kandung,” kata Sufi.
“Terus maunya Sufi bagaimana?” tanyaku penasaran.
Sufi terdiam sesaat, ragu ragu untuk mengatakan niatnya.
“Jawab Sufi, jangan hanya diam saja begitu?” kata Fatimah.
“Sufi sadar, dan Sufi ingin Mas Farhan tetap punya keturunan,” kata Sufi terhenti.
Aku semakin bingung dengan maksut Sufi, kemudian aku minta penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Kemudian Sufi mengatakan, jika sudah pernah berbicara dengan Farhan. Sufi meminta Farjan menikah lagi dengan perempuan lain yang bisa memberi keturunan. Namun Farhan tidak setuju, dan masih berharap Sufi bisa mengandung nantinya.
“Sufi? Kamu sadar apa yang kamu ucapkan itu?” tanya Fatimah heran.
“Sufi Sadar Mbak, sangat Sadar, asalkan Sufi tetap menjadi istri Mas Farhan. Sufi juga ingin punya Anak, tapi usia Sufi dan keadaan Sufi yang begini,” kata Sufi.
Sufi pun menceritakan, jika dari hasil pemeriksaan dokter alat reproduksi Sufi memang mengalami gangguan. Akibat saat masih di lembah dosa dulu, sering melakukan hubungan secara tidak wajar. Semua menjadi sedih karenanya, terutama aku sebagai sepupu jauh Sufi.
__ADS_1
“Aku gak bisa komentar apapun soal itu, bagaimana kalian saja,” kataku.
Sufi tetap ngotot meminta agar Farhan menikah lagi, dengan alasan Sufi tetap mengharapkan kehadiran anak Farhan. Meskipun tidak dari rahimnya sendiri. Aku sampai meneteskan air mata, mendengar ucapan Sufi.
“Bagaimana aku mau menikah lagi Sufi, aku bisa menikah denganmu saja harus dibantu Mas Yasin,” kata Farhan.
“Makanya, Sufi sekarang yang minta kepada Mas Yasin. Agar bisa menikahkan kamu lagi, agar aku juga bisa merasakan menggendong anakmu Mas,” ucap Sufi.
Fatimah ikut menangis mendengar perkataan Sufi, aku benar benar tidak bisa berpikir lagi. Apa yang harus aku lakukan, semua serba sulit. “Kenapa pembicaraan jadi ke masalah ini,” kataku dalam hati.
“Kalian tunggu saja lah, siapa tahu Sufi masih bisa punya keturunan. Kalau memang tidak bisa, ya terserah kalian mau bagaimana,” kataku mengakhiri pembicaraan.
Setelah itu, hampir tiap hari selalu ada pembahasan tentang hal itu. Sampai Sidiq, Jafar dan NIsa kembali ke Pesantren pun Sufi selalu membahas tentang itu, dan memintaku mencarikan istri kedua bagi Farhan. Aku jadi bingung untuk menjawab permintaan Sufi.
*****
Setelah beberapa waktu, karena Sufi terus mendesak aku jadi teringat dengan Laras, sepupu Pak Lurah Broto. Dimana dahulu ingin menjadi istri Farhan, kemudian aku menyampaikan hal itu kepada Fatimah. Dengan berat hati, akhirnya Fatimah pun menyetujui. Maka berangkatlah kami ke rumah Pak Lurah Broto, untuk meminang Sufi jadi istri kedua Farhan.
Singkat cerita, baik Laras, maupun Pak Lurah Broto sendiri sepakat. Kemudian segera melangsungkan pernikahan sederhana antara Laras dan Farhan. Sufi pun hadir dalam pernikahan tersebut, Dia tampak tegar, tidak menyesal sama sekali dengan keputusannya. Saat akad Nikah, aku mendengar percakapan Sidiq dan Riska.
“Mas Sidiq, sekarang posisi kita adalah saudara. Jadi sekarang ini, kita bukan sebagai kekasih lagi,” ucap Riska.
“Kenapa begitu Ris?” tanya Sidiq lirih.
“Jujur, Riska tidak mau mengalami nasib seperti Bibi Sufi,” Jawab Riska langsung pergi meninggalkan Sidiq. Jafar menghibur Sidiq agar tidak sedih, “Kalau sudah jodoh pasti akan ada jalan Mas,” kata Jafar
“Iya, gapapa kok, kamu sendiri bagaimana Jafar?”
“Aku tetap memilih untuk tidak pacaran,” jawab Jafar.
Sidiq pun tersenyum, “Kayaknya aku juga mau begitu saja,” sahut Sidiq.
Usai pernikahan, Laras pun ikut ke rumahku karena sudah syah menjadi istri Farhan. Aku menyekat rumahku sementara, untuk Farhan dan kedua istrinya tersebut. Sebelum Farhan memiliki rumah sendiri, karena Farhan sudah berniat tidak kembali ke wilayahnya ingin tinggal dekat aku dan Fatimah.
Setelah beberapa bulan dari pernikahan Farhan dan Laras, Laras pun hamil. Farhan sangat bahagia, bahkan Sufi pun ikut merasa bahagia, karena keinginannya mempunyai momongan dari Farhan terlaksana. Meskipun lahir dari rahim Laras, bukan rahim Sufi sendiri.
Sufi ikut memperhatikan Laras, agar menjaga kandungannya. Sampai dengan Laras melahirkan. Sufi pun ikut tegang saat Laras mau melahirkan. Setelah Laras melahirkan, Sufi lah yang banyak mengurus bayi Laras. Hingga suatu saat, Sufi merasa sakit. Saat usia bayi perempuan Laras yang diberi nama, Putri Larasati berusia dua bulan.
Laras ikut panik dan mengajak Farhan memeriksakan Sufi.
“Tenang gak usah panik Laras,” kataku pada Laras.
Aku mengantarkan mereka ke rumah sakit, agar Sufi segera tertangani. Dalam perjalanan Sufi pingsan, sehingga aku mempercepat laju mobil agar cepat sampai. Sufi pun segera mendapatkan pertolongan, masuk ke ruang IGD. Kami semua menunggu di luar ruangan, sampai seorang dokter keluar.
“Suami Ibu Sufi Alias Ibu Lucia Sufitri Prihati?” tanya dokter tersebut.
“Saya dokter,” jawab Farhan.
“Selamat ya Pak, istri bapak Hamil dua bulan,” ucap dokter tersebut.
...TAMAT...
...Terima kasih atas dukungan dari reader semua....
...Banyak sekali kekurangan dalam cerita ini....
...Semoga di cerita berikutnya, mampu memberikan...
...Cerita yang lebih baik....
...Salam terbaik untuk reader semuanya....
...TERIMA KASIH...
__ADS_1