
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Sidiq pun segera fokus kepada pekerjaannya, dan melupakan soal Riska untuk sementara. Karena Sidiq juga harus melakukan Ziarah setiap malamnya. Sampai dengan dapat bertemu dengan kakeknya SIdiq Ali dan kedua orang tua abah gurunya.
“Ya Allah Sidiq serahkan semua ini hanya kepadaMu.” Doa Sidiq dalam hati. Merasakan saat bertemu dengan Jalu tadi merasakan getaran aneh yang penuh dengan aura mistis yang negative…!!!
Sidiq menyibukkan diri dengan pekerjaannya, sekaligus untuk menghilangkan pikiran tentang kejadian sebelumnya dengan Riska juga pertemuannya dengan Jalu yang tanpa sengaja. Namun ternyata sulit bagi Sidiq untuk tidak memikirkan pertemuannya dengan Jalu barusan. Sidiq membayangkan jika Jalu adalah benar Sawung Panjalu kemudian hendak mencari ayahnya. Apa yang harus dilakukan nanti, sementara bayangan wajah Riska juga kadang masih hadir mengganggu konsentrasinya dalam bekerja.
“Mau gak mau aku harus konsentrasi dalam menjalankan tugas abah guru nanti. Harus secepatnya dapat bertemu dengan eyang Sidiq Ali dan kedua orang tua abah guru.” Batin Sidiq.
Meski pikiran Sidiq dipenuhi bermacam permasalahan namun Sidiq tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Dengan sekuat tenaganya Sidiq membuang semua pikiran yang mengganggu konsentrasi kerjanya. Sampai beberapa kali Sidiq harus menggeleng gelengkan kepalanya, seakan dengan begitu bayangan pikiran yang mengganggunya bisa menjauh dari pikirannya.
*****
Author POV
Di tempat lain Nisa yang sedang menghadapi Nia putri dari abah gurunya juga merasa bingung untuk menentukan Sikap. Di satu sisi dia harus hormat kepada putrid kiainya tersebut, namun di sisi lain Nisa merasa sikap Ning Nia tersebut berlebihan dan sedikit meresahkan Nisa.
“Kenapa harus Ning Nia yang seperti itu, bukan yang lain saja agar Nisa bisa bersikap tegas.” Kata Nisa dalam hati.
Nisa ingin berkeluh kesah dengan Jafar kakaknya, namun semenjak Jafar ikut tinggal di rumah abah gurunya jadi sulit untuk di temui. Sementara Nia justru sering menemui Nisa, ada saja alasan Nia menemui Nisa. Dan ujung ujungnya selalu saja membuat keributan kepada Nisa.
“Kalau begini terus bagaimana mungkin aku bisa tenang, sementara ning Nia selalu saja membuat perdebatan bahkan cenderung mengajak bertengkar.” Nisa bergumam kepada diri sendiri.
Nisa yang baru saja pulang dari sekolah bahkan belum sempat makan siang itu pun merebahkan diri di kamarnya. Sebuah kamar yang diisi oleh tiga santriwati. Dan Nisa adalah yang paling muda disitu, kedua teman Nisa sudah masuk ke kelas Aliyah atau setingkat SLTA.
“Nisa, kamu gak makan dulu kan baru pulang sekolah.” Tanya Fitri teman satu kamar Nisa.
“Belum terasa lapar mbak, nanti saja. Tadi sudah jajan di sekolah, jadi masih kenyang.” Jawab Nisa.
“Baru ada masalah apa Nisa ? Kok kayaknya menyimpan masalah yang berat banget.” Tanya Fitri teman sekamar Nisa.
“Gak kok mbak, mungkin karena capek saja. O iya mbak Siti belum pulang sekolah ?” tanya Nisa mengalihkan pembicaraan.
“Sudah, tapi katanya tadi mau keluar beli peralatan mandi.” Jawab Fitri.
“Nisa juga mau ke warung nanti, perlengkapan Nisa juga sudah hampir habis.” Kata Nisa.
“Makan dulu saja Nisa. Nanti barengan saja kalau mau ke warung. Mbak juga mau beli peralatan wanita, sudah hampir masuk tanggal nih.” Ucap Fitri.
“Boleh, nanti nunggu mbak Siti pulang biar gentian keluarnya.” Jawab Nisa.
“Yang penting kamu makan dulu gih, nanti lapar. Eem Nis,,, kakak kamu Jafar itu belajar beladiri dimana kok bisa sejago itu ?” tanya Fitri.
Semenjak latih tanding antara Jafar dan Kholis waktu itu, memang nama Jafar makin dikenal. Karena menjadi bahan pembicaraan hampir semua santri. Baik laki laki maupun perempuan, bahkan beberapa diantaranya menjadi menaruh hati kepada Jafar. Karena selain wajah Jafar yang cool ditambah dengan kemampuan beladiri Jafar yang hebat semakin membuat Jafar dikagumi banyak santriwati. Hal itu juga diketahui oleh Nadhiroh yang dari awal menyukai Jafar.
Sehingga Nadhiroh menjadi merasa dapat banyak saingan, meski sebenarnya antara Jafar dan Nadhiroh sendiri tidak ada hubungan khusus. Hanya Nadhiroh yang agak berlebihan dalam mengartikan kebaikan hati Jafar.
“Assalaamu’alaikum…!” Siti teman sekamar Nisa dan Fitri datang.
“Wa’alaikummussalaam warahmatullahi wabarakatuhu…!” jawab Nisa dan Fitri bersamaan.
“Aku dengar loh dari luar !” Ucap Siti.
Nisa hanya diam saja, paham apa yang dimaksud Siti. Berbeda dengan Fitri yang pura pura gak paham maksut Siti.
“Dengar apa Ti ?” Tanya Fitri.
“Itu tadi, kamu nanyain kakaknya Nisa. Kamu naksir Jafar ya Fit ?” goda Siti.
Fitri jadi memerah wajahnya, sementara Nisa hanya senyum melihat dua seniornya membicarakan Jafar kakaknya.
“Biasa saja kok, aku hanya heran Kakaknya Nisa jago banget beladirinya.” Jawab Fitri beralibi.
“Cuma itu saja gak ada yang lain ?” goda Siti.
__ADS_1
“Ya itu saja, memang yang lain apa Ti ?” tanya Fitri.
“Selain jago beladiri kan ganteng juga kakaknya Nisa Fit…!” ucap Siti.
“Aah jangan jangan kamu yang Naksir Ti, terus nuduh aku.” Balas Fitri.
“Ya gak lah Fit, Jafar kan adik kelasku masak iya aku mau naksir dia. Nanti dikira doyan brondong lagi.” Jawab Siti.
“Kirain mau menyaingi Nadhiroh.” Jawab Fitri.
“Udah ah mbak, jadi bareng ke warung gak nih  mbak Fitri ?” tanya Nisa.
“Eeh iya lupa, gara gara Siti nih.” Jawab Fitri.
“Lah kok gara gara Siti, bukanya gara gara kakaknya Nisa ?” balas Siti.
“Iih kamu ini, awas aku bilangin nanti ya sama Jafar.” Ucap Fitri.
Nisa menahan tawa melihat seniornya saling melempar candaan tersebut. Nisa juga tahu jika Fitri memang ada sedikit kekaguman kepada Jafar Kakaknya, meski belum berani mengatakan itu sebagai rasa sayang pada lawan jenis.
Fitri dan Nisa pun akhirnya berangkat ke warung, sementar Siti dikamar mereka bergantian menjaga kamar dan menata belanjaan ke dalam lemari Siti. Masing masing anak memang memiliki lemari sendiri dalam satu kamar.
Nisa dan Fitri meninggalkan Siti menuju ke warung d depan Pondok pesantren. Mereka segera membeli peralatan yang dibutuhkan. Baik Nisa maupun Fitri tidak menyadari jika mereka ada yang mengawasi.
“Itu Nisa, mau kemana dia ? Nia mau ikutin ah, awas kalau sampai bikin kesalahan Nia akan hukum kamu Nisa. Biar kakak kamu jadi malu, punya adik kena hukuman.” Kata Nia dalam hati.
Namun Nisa dan Fitri hanya pergi ke warung di depan pondok yang masih terpantau dari dalam pondok. Sehingga Nia tidak punya alasan untuk menghukum Nisa.
“Ah kirain mau keluar melewati batas larangan keluar.” Gerutu Nia yang kecewa.
Di dalam pesantren Jafar dan NIsa memang ada aturan, kecuali pergi ke sekolah dilarang keluar dari pondok sampai melewati radius 20 m dari pondok. Agar mudah untuk memantau keamanan, kecuali keluar dengan izin pengurus.
“Nia tunggu disini saja lah, sekalian mau nanya ke Nisa.” Kata Nia dalam hati.
An beberapa saat kemudian NIsa dan Fitri pun kembali ke kamarnya, melewati Nia.
“Assalaamu’alaikum Ning Nia…!” ucap Nisa dan Fitri.
“Owh ini dari beli peralatan mandi dan lain lain.” Jawab Nisa.
“Nanti sore jangan lupa ikutan latihan beladiri ya Nisa, mungkin aka nada latih tanding nanti.” Ucap Nia.
Nisa jadi agak kaget, bahkan Fitri pun sangat kaget karena bukan jadwalnya latih tanding. Melainkan masih jadwal latihan fisik dan gerakan saja.
“Bukanya nanti jadwalnya fisik dan latihan gerakan Ning Nia ?” tanya Fitri.
“Aku yang minta diadakan latih tanding nanti” Ucap Nia yang berharap Nisa akan dilawankan santri yang lebih senior untuk mengukur kemampuan Nisa.
Nisa hanya membatin, “ Latih tanding ? Wah bisa bisa Nisa nih yang akan diajukan latih tanding. Tapi bakalan lawan Siapa Nanti.” Kata Nisa dalam hati.
“Tapi apakah boleh nanti sama kang Kholis ning Nia ?” tanya Fitri lagi.
“Aku yang minta pasti boleh lah, kan sebentar lagi akan ada turnamen antar pesantren.” Jawab Nia asal.
Nisa dan fitri hanya diam saja, karena mereka tahu jika jadwal turnamen antar pesantren masih cukup lama. Dan belum tentu ada cabang pencak silat dalam turnamen itu. Tapi Nisa dan Fitri pun memilih untuk diam saja daripada harus berdebat dengan Ning Nia. Mereka pun segera melangkah menuju ke kamar mereka.
*****
“Ning Nia kenapa yak ok kelihatan gak suka banget sama Nisa ?” tanya Nisa kepada Fitri dan Siti.
“Gak tahu tuh, beda banget sama kakaknya. Kakaknya baik banget dan kalem gak kayak Ning Nia.” Jawab Fitri.
“Namanya siapa kakaknya Ning Nia ?” tanya Nisa.
“Wah kok Nisa jadi penasaran jangan jangan Nisan anti naksir sama kakaknya Ning NIa Gus Jamal.” Jawab Fitri.
“Gak lah mbak, Nisa kan masih kecil belum ngerti yang gituan.” Jawab Nisa.
“Kirain saja udah mulai suka dengan cowok Nis.” Ucap Fitri.
“Eeh jangan ajari anak anak yang gak bener dong Fit, biar Nisa fokus ke ngaji saja.” Sahut Siti.
“Iya mbak Siti, Nisa mau Fokus ngaji saja biar ayah dan bunda Nisa tidak kecewa nanti. Yang lain gak mikirin dulu.” Jawab Nisa.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu, biar kamu jadi anak yang Solehah.” Kata Fitri.
“Aamiin, makasih doanya mbak.” Jawab Nisa.
“Istirahat dulu ah, nanti Habis Ashar ngaji sebentar dilanjut latihan beladiri.” Kata Siti.
“Owh iya, tadi ketemu Ning Nia katanya nanti aka nada latih tanding pas latihan beladiri.” Kata Fitri.
“Bukannya nanti hanya latihan Fisik dan Gerakan saja ?” tanya Siti.
“Gak tahu tuh, tadi Ning Nia bilang dia akan minta diadakan acara latih tanding.” Ucap Fitri.
Siti hanya diam saja, meski dia merasakan sikap Nia yang kadang berlebihannamun dia juga tidak berani mengingatkan.
“Ya sudah, semoga bukan kita yang diminta latih tanding. Soalnya badanku juga masih agak capek, kemarin latihan Fisik total sama kakaknya Nisa, sampai pegal semua badanku.” Ucap Siti.
“Iya mudah mudahan saja.” Ucap Fitri.
Sementara Nisa merasa dirinya yang akan ditunjuk untuk latih tanding nanti. Namu Nisa juga tidak terlalu khawatir. Sejak kecil sudah sering ikut berlatih dengan Jafar dan Sidiq kakaknya. Sehingga tidak khawatir jika memang harus latih tanding, meski haru melawan Seniornya. Karena memang di situ Nisa dan seangkatanya yang paling Yunior.
Dan berjalanya waktu sampailah pada waktu Ashar, mereka pun segera ambil air wudhu untuk sholat jamaah.
Dan setelah selesai mengaji ba'da ashar, mereka pun segera menuju ke lapangan Pesantren untuk siap siap latihan pencak silat. tak lama kemudian Kholis pun datang sendirian, karena Jafar sedang ada tugas lain sehingga tidak ikut menemani Kholis melatih beladiri atau pencak silat.
Kemudian Kholis pun membuka acara dengan doa dan dilanjutkan prolog . dalam prolog Kholis pun menyampaikan bahwa. Atas permintaan Ning Nia akan diadakan latih tading, dan yang ditunjuk adalah Nisa. Sedangkan lawannya belum dipilihkan.
Itu memang rencana Nia, yang akan menguji kehebatan Nisa melawan santri seniornya. Namun Nisa pun hanya mengangguk ketika ditanya siap gak untuk melakukan latih tanding. Nisa mewakili santriwati baru dan akan dipilihkan lawan secara acak. Entah siapa yang akan muncul nanti maka Nisa pun harus siap untuk menghadapi dalam latih tanding tersebut.
“Kenapa kang Kholis mengikuti begitu saja kemauan Ning Nia.” Batin Nisa.
*****
Â
Siti dan Fitri sebenarnya agak bingung dengan itu, namun Fitri pun ingat jika Nia memang ingin sekali menguji kemampuan Nisa.
Kejadian yang sebenarnya terjadi adalah ketika Nia meminta kang Kholis untuk mengadakan latih Tanding. Kholis menceritakan hal itu pada abah gurunya, namun abah gurunya malah membiarkan keinginan Nia.
“Biarlah, mungkin itu jalan bagi Nia untuk menyadari kesalahan yang diperbuat.”Ucap Abah Guru mereka.
“Maksut abah guru bagaimana ?” Tanya Kholis.
“Abah ingin Nia mendapat pelajaran agar merasa rendah hati, dan menurut pandangan ku yang bisa begitu hanya Jafar dan Nisa adiknya.” Jawab abah guru Jafar dan Nisa.
“Maksud Abah guru bagaimana ?” tanya Siti ikut menyahut.
“Ikuti saja perintahku, nanti buatlah agar Nia dan Nisa berhadapan sebagai lawan latih tanding.” Jawab Abah gurunya Fitri.
Dan setelah berdoa bersama selesai, maka segera dicari lawan latih tanding dengan Nisa dan sesuai perintah abah guru yang kemudian dimunculkan adalah nama Nia sendiri.
Hal itu membuat Nia sendiri merasa kaget yang muncul adalah nama dirinya untuk latih tanding dengan NIsa. Meski masih sedikit khawatir Nia pun segera berjalan memasuki area latih tanding untuk berhadapan dengan Nisa.
Sementara Nisa sendiri juga segera bersiap untuk menghadapi Nia.  Mereka berdua sudah saling berhadapan sebagai lawan tanding yang syah. Dan Nia pun segera saja melangkah ke arena latih tanding. Â
Nia sedikit heran ketika melihat,Nisa berjalan dengan tenang menuju ke arena latih tanding. Nisa tidak menunjukkan rasa ragu ataupun gentar sedikitpun. Hal itu menimbulkan beberapa pertanyaan bagi santri dan santriwati yang lain. Apakah Nisa juga hebat seperti Jafar, atau berbeda. Sehingga acara latih tanding itu pun menjadi sangat mendebarkan bagi mereka. Satu adalah seorang Ning dan satunya adalah adik Jafar yang banyak disukai oleh santriwati.  Siapa yang harus di dukung pun mereka juga jadi semakin bingung dalam bersikap…???
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
Vote nya ya Reader tercinta.
...🙏🙏🙏🙏...
Â
Â
__ADS_1