
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Pantas saja, semua ini masih ada kaitannya dengan para penjahat yang dulu. Dan Gembul memang spesialis penyedia dan pencari wanita penghibur. Yang tidak segan segan menggunakan segala cara dalam menjerat mangsa nya. Ini sih gak bisa dibiarkan begitu saja, harus aku usut sampai tuntas.
“Nanti sehabis tahlil kita bahas lagi bang, kebetulan ada saksi mata yang melihat peristiwa itu. jadi nanti bisa kita sinkronkan dengan kesaksian orang yang melihat peristiwa itu.” kataku pada Rofiq.
Segera aku mengambil air wudhu dan menjalankan sholat Maghrib. Setelah sholat aku mencari Aji Santika yang  tadi siang bicara denganku. Namun sayangnya Aji Santika sedang pulang ke rumahnya. Kemudian aku menemui Khotimah dan Candra.
“Khot, aku bisa minta tolong tidak ?” tanyaku pada Khotimah.
“Minta tolong apa mas ?” tanya Khotimah.
“Besuk kamu ajak Fatimah kesini bersama anak anak, biar sekolahnya libur dua sampai tiga hari menunggu tujuh harian.” Kataku pada Khotimah.
“Apa gak kasihan anak anak kalo libur sekolah sampai tiga hari ?” tiba tiba Candra menyahut.
“Ini karena kondisi mas, sebenarnya juga kasihan, tapi gak papa lah nanti bisa menyusul pelajaran yang ketinggalan kalo Cuma tiga hari saja.” Kataku pada Candra.
“aku sih gak keberatan ngajak anak istrimu kesini, yang penting mereka jangan sampai ketinggalan pelajaran sekolah.” Ucap Candra.
“Iya mas, aku usahakan nanti secepatnya anak anak bisa sekolah lagi. Habis acara Tujuh harian nanti langsung pulang. Meski mungkin aku kembali lagi kesini mengingat kondisi Nurul dan Sena masih di rumah sakit.” Kataku pada Candra.
“Mas juga harus jaga diri, kalo perlu minta bantuan saudara yang lain jangan hanya berdua saja.” Kata Khotimah. Yang mengkhawatirkan aku dan Rofiq suami Arum yang kini jadi adik iparnya Khotimah.
“Tenang saja Khot, semua sudah di tangani pihak yang berwajib. Aku hanya membantu memberi informasi yang dibutuhkan saja.” Jawabku pada Khotimah.
“Serius kamu gak akan ikut campur terlalu jauh dalam masalah ini, bapaknya Sidiq ?” tanya Candra padaku.
“Iya, ini kan Negara hukum jadi biar di tangani secara hukum saja.” Kataku pada Candra. Dalam hati aku bilang, “kalo pelaku pembunuh Zulfan tetap akan aku tangkap sendiri.” Kataku dalam hati.
“Sukurlah kalo kamu sekarang bisa menahan diri, aku ikut khawatir dengan keadaan kamu soalnya. Yang dulu dulu kamu terkenal sangat temperamental.” Ucap Candra.
“Bertambahnya usia kan juga mempengaruhi sifat seseorang mas. Aku juga gak pernah lagi menggunakan cara cara kekerasan kok.” Kataku pada Candra.
Allahu Akbar…. Allahu Akbar…..
Suara kumandang adzan Isya sudah terdengar, kemudian kami bersiap untuk menjalankan sholat Isya berjamaah. Kemudian bersiap untuk melaksanakan Tahlil, untuk mengirimkan doa kepada almarhum Zulfan.
Aku sangat iba setiap kali melihat anak dan istri Zulfan, anak anak Zulfan mau aku minta untuk aku rawat. Namun tidak boleh oleh kakek neneknya, alasannya karena tiap kali lihat anak itu seperti melihat sosok Zulfan. Namun aku tetap berniat, suatu saat aku akan meminta ijin lagi untuk merawat anak anak Zulfan. Biar tidak terlalu ingat ayahnya, jika ada banyak teman di rumahku nanti. Mereka bisa bermain dengan Jafar Panji dan Wisnu juga Nisa dan Sidiq. Jika mereka semua sudah jadi di titipkan ke aku, kebetulan juga anak anak Zulfan cukup dekat denganku, pikirku.
Dan setiap melihat mereka amarahku terhadap pelaku pembunuhan itu pun semakin memuncak. Aku sadar itu memang sifat asliku yang temperamental, yang sewaktu waktu spontanitas marah masih saja keluar. Dan kali ini aku merasa harga diri seorang laki laki di injak injak, apa lagi kasus ini juga melibatkan Gembul. Musuh besar aku dan Rofiq. Jelas saja emosi kami berdua semakin tidak terbendung. Adapun kami kelihatan tenang sekedar menutupi agar yang lain tidak tahu gejolak hati kami berdua.
Acara Tahlil pun di mulai dengan tata cara dan kebiasaan setempat. Karena biasa beda tempat berbeda tata caranya. Baik dari formula bacaan maupun nada bacaan berbeda di tiap daerah. Yang penting tujuan utamanya adalah sama.
Seusai acara Tahlilan saat kami sedang mengobrol datang rombongan Polisi yang ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Dan atas ijin pak lik Dimyati aku yang dipersilahkan menemui Polisi tersebut.
“Bapak apanya pak Sena ?” tanya Salah satu Polisi.
“Saya kakak sepupu Istrinya Sena.” Jawabku.
Kemudian aku di tanya seputar identitas diri dan pada akhirnya di mintai KTP Asliku untuk di foto.
“Apakah bapak bersedia kami jadikan saksi dari pihak keluarga, dan sekaligus nanti kami minta keterangan lebih lanjut tentang keluarga ?” Tanya Polisi itu lagi.
“Saya bersedia pak, sepanjang itu untuk mengungkap kasus ini. karena saya selaku keluarga Korban meninggal ingin pelakunya segera tertangkap dan di adili.” Jawabku tegas.
“Kalo begitu apakah besuk siang bersedia kami panggil bersama saksi yang lain ke kantor Polisi ?” Tanya Lanjut Polisi itu.
“Saya bersedia pak, bahkan saya menyediakan diri selama 24 jam jika dibutuhkan nanti saya siap.” Jawabku.
Akhirnya Polisi itu mohon diri setelah mendapatkan keterangan dariku. Kata polisi itu selama beberapa hari kemarin agak kesulitan untuk mencari saksi, karena semua ketakutan untuk menjadi saksi. Akibat ancaman yang mengatakan siapa saja yang mencoba melarang di bangun nya tempat hiburan malam tidak akan berumur panjang.
Silahkan kalian mengancam penduduk yang ketakutan, tapi YAsin tidak akan pernah takut dengan ancaman kalian. Bisa bisa kalian lah yang akan aku bikin menangis ketakutan, kataku dalam hati yang sudah di penuhi amarah.
Rombongan Polisi itu pun mencatat nomor Ponselku sebelum meninggalkan rumah Sena. Dan aku baru menyadari jika ada beberapa kali panggilan masuk dan chat dari istriku di rumah. Aku tiak menyadari karena Ponsel ku aku silent dari semenjak maghrib tadi.
Ternyata istriku menanyakan tentang Kondisi Sena dan Nurul saja, kemudiaan aku jawab bahwa Nurul dan Sena sudah Sadar dan baru tahu jika Zulfan meninggal. Sehingga mereka pun tidak bisa mengikuti upacara pemakaman Zulfan karena masih tak sadar dan di rumah sakit sampai sekarang.
Kemudian aku juga minta kepada Fatimah untuk memintakan ijin Sidiq dan Jafar untuk mengikuti acara Tahlilan Tujuh hari meninggalnya Zulfan, serta membantu mensuport  Nurul. Karena aku tahu Fatimah dan Nurul cukup dekat sejak Fatimah tahu Nurul adalah adik sepupuku.
Malam itu aku lewati dengan menahan segala rasa amarahku kepada pelaku pembunuhan. Dan aku sudah mengatur strategi untuk mencari Gembul dan mengorek keterangan siapa saja yang terlibat dalam incident yang menewaskan Zulfan adik sepupuku itu. di tambah Rofiq yang ingin membalaskan dendam masa lalunya.
Meski ini sebenarnya tidak seharusnya kami lakukan, namun jika tidak menemui Gembul dengan cara kami. Maka akan sulit untuk bisa mengorek keterangan yang sebenarnya, karena kami tahu siapa dan bagaimana Gembul yang licin bagai belut itu.
*****
Esok pagi setelah  subuh dan sarapan pagi, aku mengajak Rofi untuk joging sambil mencari informasi dari versi orang netral masyarakat di kampung. Aku mencari Rofiq yang tiba tiba menghilang setelah sarapan pagi.
“Suami kamu di mana Rum, mau aku ajak Joging.” Tanyaku pada Arum.
“Tiduran lagi tadi habis sarapan.” Jawab Arum.
“Bangunin gih, bilangin mau aku ajak joging jangan molor saja gak sadar apa perut udah makin buncit gitu.” Kataku pada Arum untuk Rofiq.
“Iya bentar, tapi jangan diajak yang aneh aneh !” jawab Arum.
__ADS_1
Aku tidak menjawab melainkan terus meninggalkan Arum menuju ke ruang depan menunggu Rofiq.
Sambil menunggu aku aku melakukan pemanasan dengan lari lari kecil di tempat, agar melemaskan otot otot persendian.
Tak lama kemudian Rofi datang sudah dengan pakaian olah raga nya.
“Joging kemana Zain ?” tanya Rofiq  padaku.
“Asal jalan saja sambil cari cari siapa tahu nanti dapat umpan buat mancing ikan.” Kataku dengan bahasa sandi kami untuk menggambarkan jika mendapat informasi tentang pelaku penganiayaan dan pembunuhan tersebut.
“Ok tapi jangan lupa, ikan bagian ku jangan di ambil.” Jawab Rofiq, meminta agar Gembul menjadi bagiannya.
“Masih punya keberanian bang ?” godaku pada Rofiq memancing emosinya.
“Sialan lo, meski sekarang lo lebih jago tapi bukan berarti bisa remehkan aku Zain.” Kata Rofiq.
“Udah kita buktikan dengan adu lari saja, siapa yang masih lebih prima dalam olah fisik.” Jawabku pada Rofiq.
Kemudian kami berdua melakukan joging, menyusuri jalan kecil menuju ke jalan raya yang mengarah ke jajaran pantai selatan di sisi barat. Sepanjang jalan banyak juga orang yang melakukan Joging dan bersepeda.
“Cukup ramai juga ya Zain jalan sini kalo pagi ?” tanya Rofiq.
“Awas jaga mata, nanti ku adukan ke bini lo kalo jelalatan !” godaku ke Rofiq.
“Kampret lo, kayak lo gak jelalatan saja !” balas Rofiq sambil tertawa.
Sudah hampir lima kilo meter kami berlari, ternyata fisik Rofiq masih ok juga meski perutnya sudah tampak maju melebihi dadanya.
“Gimana kabar Isti bang, sudah punya anak berapa. Aku dah lama gak kontak dia ?” tanyaku pada Rofiq.
“Tunggu Zain, kamu perhatikan orang di depan kita itu. kayaknya aku kenal dia seperti anggota kita dulu. Ngapain dia di sini ?” kata Rofiq member tahu adanya seseorang yang di curigai. Melupakan pertanyaan ku tentang Isti adiknya.
“Kita perlambat saja bang lari kita, kalo perlu kita sembunyi dulu. Bukankah dia berlari ke arah kita sekarang ?” kataku pada Rofiq.
“Ayuk, kita istirahat di warung itu sebentar sambil ngawasin dia. Nanti bila memungkinkan kita kejar dan kita tangkap di tempat yang sepi.” Ajak Rofiq.
“Boleh, sekitar dua kilo meter ke belakang adalah jalur sepi. Nanti kita sergap di sana saja jika memang dia anggota kita dulu.” Jawabku.
Kemudian Aku dan Rofiq menuju warung yang dimaksud Rofiq tadi, sambil memesan minum dan menunggu target hingga dekat.
Sambil minum tanpa mengurangi kesiagaan mengawasi orang itu. kami mendengar obrolan orang orang di warung yang membicarakan peristiwa yang menimpa keluarga Sena.
Ada juga pro kontra rupanya, namun aku tak ambil pusing soal itu. selama hanya sebatas obrolan saja, meski ada yang menyalahkan sikap Sena dan lainnya yang menolak wacana pembangunan tempat hiburan malam di sekitar wilayah itu.
Aku dan Rofiq lebih fokus pada Target yang kami incar, dan saat melintas tepat di depan warung Rofiq menatap dengan tajam orang tersebut.
Kemudian memberi kode khusus padaku jika memang itu adalah orang yang dia maksud.
“Kita santai dulu bang, biar nanti tepat pada waktunya kita sampai tujuan.” Ucapku pada Rofiq. Memberi isyarat jika mau mengejar orang itu tunggu sampai di tempat yang sepi, maksud ku.
“Iya kita habiskan dulu minum kita, biar kuat untuk berlari lagi.” Jawab Rofiq.
Dan jarak orang itu belum terlalu jauh, tampaknya dia juga melakukan Joging saja. Namun aku sedikit curiga dengan tingkah laku orang itu yang sebentar sebentar menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang.
Dan beberapa langkah di depan orang itu memperlambat larinya serta berjalan biasa. Ternyata seseorang telah menunggunya di simpang tiga, dan orang itu mengikuti orang yang menunggunya berjalan biasa menuju ke sebuah gubug di tengah pekarangan kosong yang hanya di tumbuhi semak belukar.
“Dia menemui seseorang, jangan jangan gerombolan itu masih berpencar di sekitar sini dan mengawasi rumah Sena !” kataku pada Rofiq.
“Bisa jadi, agaknya ada scenario besar yang akan mereka mainkan. Bisa jadi juga orang yang di warung tadi itu pun mata mata atau salah satu dari mereka !” ucap Rofi kemudian.
“Sangat mungkin, tapi kita Fokus pada orang itu saja. Naiknya kita sembunyi sembunyi dekati mereka, untuk mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.” Kataku pada Rofiq.
“Bagaimana caranya, sekitar gubuk itu tidak ada tempat sembunyi. Hanya rumput rumput kecil yang tidak bisa menutupi tubuh kita.” Ucap Rofiq.
“Sebentar kita cari cara agar bisa mendekat ke tempat itu, minimal aku sendiri karena kalo bang Rofiq pasti sudah di kenali. Kalo aku mungkin belum, karena dia mungkin masuk jadi anggota bang Rofiq saat aku sudah pensiun dulu.” Kataku pada Rofiq.
“Iya juga ya, tapi kalo nama kamu dia sudah dengar.” Ucap Rofiq.
“Gak masalah, yang penting belum pernah lihat wajahku saja.” Kataku.
“Kayaknya sih belum.” Ucap Rofiq.
Kemudian aku berpikir bagaimana mendekati tempat itu tanpa di curigai. Apa yang harus aku lakukan agar bisa mendekati mereka dan mencuri dengar pembicaraan nya, kataku dalam hati.
Tiba tiba aku di kejutkan oleh warga setempat yang menegur kami berdua.
“Habis lari pagi ya pak ?” tanya orang itu.
“Iya pak, maaf mengganggu jalannya ya pak ?” jawabku.
“Gak papa kok, saya hanya mau mencari rumput buat makan kambing saya.” Jawab warga dusun tersebut.
Tiba tiba aku punya ide untuk pura pura mencari rumput mendekati gubuk tersebut.
“Eeh pak maaf, saya boleh minta tolong sebentar tidak ?” tanyaku pada bapak bapak tersebut.
“Ada apa ya pak ?” Tanya bapak tersebut.
“Begini pak, saya ini Polisi yang sedang menyamar untuk menyelidiki kasus pembunuhan beberapa hari lalu. Bapak juga mendengar kan ?” tanyaku membuat orang itu malah ketakutan.
“Saya tidak tahu apa apa pak, saya hanya warga dusun biasa. Tiap hari hanya mencari rumput untuk makanan ternak saya.” Ucap orang itu.
“Iya pak saya juga tahu, kelihatan wajah bapak sangat polos dan jujur.” Kataku.
“Terus maksud pak polisi bagaimana ?” tanya orang itu.
“Bapak lihat dua orang itu kan, nah orang itu pasti bukan orang sekitar sini. Dan saya harus menyelidiki mereka. Jadi saya minta tolong pinjam keranjang rumput dan sabitnya. Sekaligus pinjam pakaian dan caping bapak. Biar saya yang mengambilkan rumput untuk bapak, agar saya bisa mendekat ke sana." Kataku pada orang itu.
__ADS_1
Tanpa kesulitan aku pun bisa meminjam pakaian bapak itu dan meminjam perlengkapan dia mencari rumput. Sementara bapak itu aku persilahkan ngobrol dengan Rofiq. Aku pura pura mencari rumput, agak susah juga karena memang tidak pernah. Bahkan rumput yang bagaimana yang harus diambil pun aku tidak tahu. Tapi gak papa lah yang penting bisa mendekati orang orang itu.
*****
Author POV
setelah mendapatkan peralatan mencari rumput Yasin pun segera bergerak mendekati Gubuk itu pura pura mencari rumput. Semakin lama Yasin semakin mendekati Gubuk itu untuk mendengar pembicaraan mereka. Dan seperti yang di duga, memang dua orang itu adalah anggota kelompok orang orang yang menyerang keluarga Sena.
Dan Yasin sempat mendengar sebagian pembicaraan mereka.
“Jadi bagaimana rencana selanjutnya, kalo saat ini jelas mereka sedang mengadakan tahlilan karena orang yang kemarin kena tusuk itu tewas seketika.” Ucap salah satu orang itu.
“sementara kita hanya disuruh mengawasi mereka, dan kalo bisa susup kan orang ke acara tahlilan itu untuk mengetahui siapa saja yang datang. Kemudian kita laporkan, jika itu pribadi kita teror keluarganya dan jika dia anggota Padepokan sejenis kita habisi seluruh isi padepokan itu.” jawab orang satunya.
“Sssst tunggu ada orang tuh !” kata orang pertama tadi.
“Biarin Cuma orang cari rumput kok.” Jawab Satunya.
“Lihat dulu, dia agak kaku seperti baru belajar cari rumput. Jangan jangan dia memata matai kita saja.” Bisik yang satunya.
“Masak sih, kita dekati saja kita tanya dia orang dusun mana, kalo gak bisa jawab kita tangkap dan kita hajar. Kalo perlu kita habisi saja sekalian, nanti mayatnya kita buang saja. Kata salah satu orang tersebut.
“Yaudah ayu kita dekati.” Jawab satunya.
Kemudian kedua orang tersebut mendekati Yasin, untuk memastikan apakah benar mencari rumput atau memata matai mereka. Sebenarnya Yasin pun mendengar bisikan mereka, namu sudah terlanjur basah maka dia tetap nekat dan siap dengan segala kemungkinan.
“Hei ngapain kamu di sini ?” bentak salah satu orang itu.
Namun Yasin diam saja pura pura tidak dengar dan meneruskan mencari rumput. Sehingga kedua orang itu pun marah dan semakin mendekati Yasin dan berdiri dihadapan Yasin hanya berjarak satu meteran. Sehingga Yasin terpaksa mendongak karena kaki orang itu tepat dihadapannya.
“Kamu ngapain di sini ???” bentak orang itu lagi.
Yasin pura pura bengong dan pura pura budek…!
“Apa mas,,, yang keras saya gak dengar…!” teriak Yasin yang pura pura agak budek.
“Dasar Budek, kamu cari rumput atau ngapain di sini. Rumah kamu dimana hayo ngaku…!” bentak seorang diantaranya.
Sebenarnya Yasin gak hanya pura pura Budek, namun sekaligus memberi isyarat pada Rofiq dengan berteriak.
“Owh iya pak,,, saya punya kambing lima. Kalo mau beli bisa lihat di rumah saya dulu mari saya antar sekarang…!” teriak Yasin.
Kedua orang itu justru kebingungan dengan jawaban Yasin yang sengaja di bikin gak nyambung.Â
“Orang ini gak sekedar budek tapi juga kurang waras kayaknya.” Bisik salah satunya.
“Udah kita tinggalkan saja, kita pergi dari sini sekarang.” Jawab Satunya. Ketika orang itu hendak melangkah pergi Yasin memegangi tangan salah satu orang itu.
“Rumah saya di sana, katanya mau lihat dan beli Kambing.” Kata Yasin menghalangi orang itu pergi.
“Siapa yang mau beli kambing, dasar orang Gila. Aku gak mau beli kambing aku gak doyan kambing ngerti gak ?” bentak orang itu.
“Gak papa, lihat dulu uangnya nanti kalo sudah cocok baru di bayar…!” Ucap Yasin tanpa melepas pegangan tangannya pada orang tersebut.
“Lepasin tanganku kalo tidak aku pukul kamu sekarang ?” bentak orang yang tangannya di pegang Yasin dengan erat itu. sambil mengacungkan tangan satunya hendak menampar wajah Yasin.
Namun tangannya tiba tiba tertahan karena di tahan seseorang.
“Jangan main tampar sembarangan, atau kamu juga mau aku hajar sekarang juga ?” ucap seorang yang menahan tangan orang itu.
Orang yang hendak menampar Yasin itu pun menoleh dan melihat wajah orang yang menahan tangannya.
“Bang,,, bang Ro…. Rofiq, ngapain disini bang ?” ucap orang itu.
“Harusnya aku yang nanya ngapain kamu disini ?” ucap orang itu yang ternyata adalah Rofiq yang secara diam diam mendekati Yasin mendengar Yasin berteriak.
Sementara orang yang satunya hendak kabur melarikan diri, namun kakinya cepat di tendang oleh Yasin hingga jatuh tersungkur. Dan….
Brrruuuuukk…
Suara tubuh orang itu jatuh mencium tanah. Segera Yasin meringkus orang itu, dengan mengunci kedua tangannya hingga tak dapat bergerak.
“Udah gak usah banyak mulut, ayo ikut aku ke kantor Polisi sekarang juga…!” kat Yasin yang sudah tidak pura pura Tuli lagi.
“Apa salah saya ?” tanya orang yang di tangkap Yasin.
Yasin semakin kuat menekan tangan orang itu yang di tekuk ke belakang hingga menjerit kesakitan.
“Kamu pikir aku budek beneran apa, aku sudah dengar apa yang kalian bicarakan tadi, ayo ikut atau ku patahkan tangan kamu sekarang ?” bentak Yasin.
Mau gak mau dua orang itu hanya bisa menuruti Yasin an Rofiq di gelandang ke kantor Polisi….!!!
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Akan masuk awal Konflik.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
Â