Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ki Martono tahu Sidiq dan Jafar anak Yasin musuh besarnya


__ADS_3

Ki Martono tahu Sidiq dan Jafar anak Yasin musuh besarnya


 Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


“Jurus ini bersumber dari Al-Quran, diambil dari karakter huruf Hijaiyah dari Alif sampai dengan Ya. Ada makna dari tiap tiap huruf yang dilambangkan dengan gerakan gerakan Jurusnya nanti. Seperti Huruf Alif yang artinya Ulfathan atau keramahan, kemudian Ba dari kata Barokah, selanjutnya Ta dari kata Taubatan…!” Yasin menghentikan sejenak penjelasanya karena merasakan ada sesuatu yang mendekat dan tak tampak oleh mata telanjangnya….!?!


Yasin segera membuka lathoif nafsinya, untuk melihat apa yang mendekati mereka tersebut. dan alangkah terkejutnya Yasin mengetahui jika yang mendekati mereka adalah sosok abah Gurunya yang sudah almarhum ‘Abah Guru Thoha’.


Yasin hendak mengucapkan salam dan member hormat kepada Abah Gurunya tersebut. Namun Abah gurunya member isyarat melarangnya, dan tersenyum meminta Yasin melanjutkan penjelasannya tentang Jurus Suci Hijaiyah.


“Dilanjut Bi, Isna jadi penasaran dengan Jurus Suci.” Kata Isna.


“Iya Abi, Utari juga penasaran sekali penjelasan Abi Yasin sangat menarik.” Sahut Utari.


“Nisa juga yah, cepetan yah jangan bikin penasaran dong…!” protes Nisa.


Sementar Sidiq, Ihsan dan Jafar masih setia menunggu kelanjutan dari penjelasan Yasin tersebut.


“Iya baiklah, Ayah lanjutkan sampai huruf Jim dulu habis itu kita latihan gerakan dasarnya dulu. Berikutnya huruf  ‘Tsa’ bermakna Tsawaban atau pahala dan kemudian huruf ‘Jim’ dari kata Jamalan yang artinya keindahan. Yang pasti untuk mempelajari Jurus suci ini, harus banyak mengkhatamkan Al-Quran supaya lebih barokah. Dan bukan sekedar bersifat untuk Beladiri saja, tapi Jurus Suci ini juga dipergunakan untuk membantu orang lain. Seperti menyembuhkan orang yang kerasukan, mengusir Jin jahat yang mengganggu dan pada level tertentu juga bisa untuk membantu menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah. Pada Jurus ‘Syin’ dari kata Asy-Syifa yang artinya obat.” Kata Yasin mengakhiri penjelasan awal.


Kemudian Yasin memberikan contoh gerakan dari mulai Jurus ‘Alif’ yang bermakna keramahan. Semua masalah harus dimulai dengan keramahan bukan dengan kemarahan. Dengan menunjukkan gerakan kaki dan tangan yang menggambarkan sebuah keramahan. Bersifat bertahan bukan menyerang.


Setelah itu mengajari gerakan jurus ‘Ba’ yang bermakna Barokah dengan gerakan gerakan kaki dan tangan menggambarkan langkah menuju barokah. Dengan dominasi tangan yang menggambarkan doa memohon kepada Allah untuk sebuah keberkahan. Begitu seterusnya, malam itu sampai kepada jurus ‘Jim’ Yasi mengajarkan kepada anak anak muda tersebut.


Kemudian Yasin menyuruh semua melakukan gerakan gerakan yang telah diajarkan tersebut. sementara Yasin sendiri mengamati dari jarak yang cukup, sambil memberikan penghormatan kepada Abah Thoha abah gurunya Yasin. Tanpa diketahui oleh anak anak yang sedang berlatih tersebut.


“Jangan biarkan anak anak itu menjadi rapuh, baik rapuh jasmaninya maupun rapun iman-nya. Didiklah mereka kuat lahir batin agar bisa bermanfaat dalam ‘Amar Ma'ruf Nahi Munkar.” Begitu ucapan abah Thoha abah gurunya Yasin yang kemudian meninggalkan Yasin.


Yasin pun lantas mendekati anak anak yang sedang berlatih dan membenarkan gerakan gerakan mereka. Sampai benar benar sesuai dengan gerakan yang benar, dan meminta semua untuk melakukan itu berulang ulang bersamaan dan satu persatu juga.


Yasin mengamati anak anak tersebut dengan cukup bangga, karena mereka juga cukup berbakat. Bahkan gadis yang bernama Utari itupun sangat bersemangat dalam mengikuti latihan tersebut. Putri dari Abah gurunya Sidiq yang sepantar dan akrab dengan Isna putri abah gurunya Jafar.


Setelah dirasa cukup mereka pun diminta berhenti dan istirahat di dalam rumah setelah cuci tangan dan cuci kaki. Dan mereka semua mengobrol bersama dibawah pengawasan Yasin dan Fatimah.


“Kang Sidiq itu ternyata punya adik cowok yang mirip banget, namanya siapa adik kamu kang ?” Tanya Utari.


“Kenalan sendiri saja dong Ri, ka nada orangnya ?” Jawab Sidiq sambil tersenyum. Sidiq yang dari awal memang selalu memanggil Utari langsung dengan namanya. Berbeda dengan Jafar yang awalnya memanggil Nia dengan sebutan ‘Nning’.


“Nama saya Jafar mbak.” Jawab Jafar kalem


“Mbak…? Memang aku udah tua kali dipanggil mbak ?” jawab Utari.

__ADS_1


“Terus kamu maunya dipanggil siapa, Sayang gitu…!?!” sahut Isna menggoda Utari.


“Yee gak gitu juga keles, maksudku panggil nama aja gak usah pakai mbak. Hmmm kamu cemburu ya, jangan jangan kamu yang naksir Jafar, secara kalian kan pernah tinggal di satu tempat bersama.” Ucap Utari gentian menggoda Nia alias Isna.


Yasin dan Fatimah yang mendengar percakapan mereka tersebut hanya senyum senyum saja.


“Kamu kali yang Naksir, kalo Nia sama kang Sidiq saja kayaknya lebih macho. Jafar sih kurang Macho bagi Nia.” Jawab Nia disambut tawa semuanya.


Dalam hati Sidiq berkata, “gak lah Nia, adikku mungkin yang suka kamu meski saat ini masih bimbang pilih kamu atau Vina.” Batin Sidiq.


Sementar Jafar pun membatin, “sayang mas Sidiq sudah punya mbak Riska, kalau belum mungkin mas Sidiq juga bisa suka sama kamu Nia.”


Begitulah suasana keakraban yang terbangun di rumah Yasin, Yasin dan Fatimah sekarang tidak lagi kesepian. Ada anak anak yang selalu menemani dan ikut berlatih beladiri di rumahnya.


…..


Namun di pihak lain, kelompok Padepokan Marto sentono pun sedang menyiapkan sebuah rencana terkait dengan tertangkapnya Arsyad dan Muksin. Yang pada akhirnya diketahui sebagai anak pesantren Al-Huda. Hingga akhirnya mereka bisa menarik kesimpulan dari peristiwa Bagas yang bermasalah dengan Jafar, mengira Sidiq adalah Jafar kemudian sampai perkelahian dengan Prasetyo yang akhirnya menyeret Jaka dan membuat Jaka patah tangannya.


“Owh jadi kesimpulannya, Anak Al-Huda itu kakak beradik dan bisa jadi yang kesini itu adalah satunya. Karena Jaka Yakin yang satunya sudah Jaka patahkan kakinya.” Ucap Jaka.


“Bisa jadi seperti itu, mungkin mereka adalah anak kembar jadi sulit membedakan mereka.” Jawab Aji Bayu.


“Ini tidak isa dibiarkan saja, pertarungan harus dipercepat sebelum anak yang satu kakinya sembuh. Dan undang segera Gandung Santosa juga gede Paneluh, untuk persiapan sesuatu yang diluar perkiraan kita. Gunakan dua Cantrik ( Santri ) tersebut sebagai tawanan untuk mengancam mereka agar mau mempercepat pertempuran.” Ki Marto Sentono ikutan berkomentar. Akhirnya mereka pun tahu jika ada dua pemuda yang menjadi musuh Padepokan tidak hanya satu.


“Paman Zain harus tahu, besok kan beliau jadwal datang kesini. Jadi harus kita beritahu berita ini.” Ucap Jaka.


“Hmm… iya, sekalian besok tanyakan rumahnya dimana. Biar kalau ada sesuatu yang mendesak bisa kita datangi ke rumahnya. Biar gak harus menunggu jadwal dia kesini.” Ucap Ki Marto Sentono.


Kemudian dibawalah Muksin dan Arsyad kehadapan ki Marto Sentono.


“Kamu Cantrik Al-Huda, kamu tau gak siapa yang merusak padepokan ini. Yang namanya Jafar atau yang namanya Sidiq.” Tanya ki Marto Sentono.


“Kami tidak tahu, dan jika tau juga gak akan memberitahu pada kalian.” Jawab Muksin dengan berani.


Ki Marto sentono marah besar mendapat jawaban seperti itu. kemudian mengibaskan tangan kanannya tanpa menyentuh tubuh Muksin dan Arsyad, namun kedua anak muda itu terpental ke belakang dan darah mengucur dari hidung keduanya.


“Bocah tengik, kamu pikir aku ini siapa berani membentak begitu, cuiih….!” Umpat ki Marto Sentono sambil meludah.


Muksin dan Arsyad yang kesakitan berusaha bangkit, dan keduanya bertekad tetap tutup mulut apapun yang akan terjadi.


“Sudah kamu bilang saja, Syukur syukur kamu bisa bilang apa kelemahan orang tersebut aku kasih hadiah besar nanti.” Ucap Jaka Santosa.


“Lebih baik kami mati dari pada harus buka rahasia Gus Jafar dan Gus Sidiq.” Jawab Muksin.


“Kamu memang pantas untuk mati….!” Ucap Jaka sambil mengangkat satu tangannya yang tidak sakit. Namun dicegah oleh gurunya ki Marto sentono.


“Jangan… dia masih berguna bagi kita…!” ucap ki Marto Sentono.


Jaka pun segera menurunkan tangannya, tidak jadi memukul Muksin dan Arsyad.

__ADS_1


“Beruntung guru melarang aku membunuh kamu, jika tidak sekali pukul hancur kepala kamu…!” Ancam Jaka Santosa.


Namun Muksin dan Arsyad dalam kondisi terdesak seperti itu justru malah semakin berani dan tidak takut mati. Bahkan merasa lebih baik mati mempertahankan kebenaran daripada hidup sebagai pecundang.


“Kamu pikir kami takut, kalian akan terima akibatnya nanti.” Jawab Arsyad yang tidak mau kalah.


“Masih berani bermulut besar sudah terikat begitu juga. Lebih baik kamu pikirkan permintaan terakhir kamu apa sebelum kami habisi nanti.” Ucap Bayu Aji yang ikut emosi mendengar ucapan Arsyad tersebut.


“Permintan terakhirku ingin melihat kalian dihajar gus Jafar dan Gus Sidiq nanti…!” ucap Muksin.


Namun diluar dugaan Arsyad dan Muksin ki Marto Sentono malah menyahut datar.


“Turuti saja permintaan terakhir mereka, mungkin bagi mereka mati bersama Gus nya adalah kebanggan bagi mereka. Lepaskan saja ikatan mereka, dan masukkan ke kamar khusus agar tidak bisa kabur nanti.” Ucap ki Marto Sentono dengan sombongnya.


Yang dimaksud kamar khusus adalah Kamar yang dikelilingi oleh parit yang berisi banyak ular berbisa. Sehingga sulit keluar dari tempat itu, karena kalau tangga tidak diturunkan harus menyeberangi parit yang penuh ular tersebut. Di situlah Muksin dan Arsyad di tawan, dan nanti Sidiq atau Jafar salah satunya harus menyelamatkan mereka keluar dari situ.


“Tapi Guru ?” Protes Jaka.


“Sudah ikuti saja, aku punya rencana khusus.” Jawab ki Marto Sentono.


Akhirnya muksin dan Arsyad dibawa  ke kamar yang dimaksut dan dilepaskan ikatannya.


Sementara ki Marto Sentono berbisik kepada Jaka.


“Tinggalkan mereka berdua, aku akan gunakan aji welut putih dan menguping pembicaraan mereka disini. Aku ingin tahu rahasia tentang pemuda itu.” Ucap ki Marto dan kemudian tubuhnya hilang dari pandangan mata manusia biasa.


“Kita harus tetap menjaga Rahasia gus Jafar dan Gus Sidiq. Apapun resikonya, aku dengar ayah gus Sidiq dang us Jafar yang bernama Abah Yasin itu seorang pendekar pilih tanding. Pasti beliau tidak akan tinggal diam jika kedua gus itu melawan mereka semuanya.” Ucap Muksin kepada Arsyad. Tidak menyadari jika Marto sentono masih berada di situ hanya tak tampak oleh mata mereka.


Sementara ki Martono sangat terkejut mendengar ucapan Muksin tersebut. dan kemudian menampakkan wujud dirinya di hadapan Muksin dan Arsyad. Hingga Muksin dan Arsyad yang kemudian kaget, merasa ucapannya didengar oleh ki Marto.


“Hmmm… Jadi dua anak tersebut anak dari Yasin yang telah membunuh kakak seperguruanku kakang Joyo Maruto. Kebetulan kalau begitu, aku akan tawan dua anak itu agar ayahnya muncul dan akan kuhabisi dia nanti bersama seluruh kekuatan padepokan ini.” Kata Marto Sentono.


Muksin dan Arsyad pun hanya diam seribu basa, menyesali ucapannya yang rahasia terdengar oleh ki Marto Sentono. Namun apa daya keduanya tidak akan mampu berbuat apapun juga, hanya penyesalan yang ada. Sementara ki Marto Sentono kembali menemui Murid muridnya, untuk mengatur strategi baru, menjebak Yasin. Tidak menyadari jika Yasin itu adalah Zain yang dianggap sebagai sahabat dekat Mentorogo ayah Jaka, dan orang dekat Joyo Maruto…!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2