Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pertemuan Gede Paneluh dan Jalu dengan Raja Khodam Dalang Anyi anyi


__ADS_3

Pertemuan Gede Paneluh dan Jalu dengan Raja Khodam Dalang


Anyi anyi


Jalu yang sedang mabuk Asmara seperti mendapatkan Surga dunia bahkan lupa dengan tujuanya datang ke tempat itu. Seandainya saja tidak di peringatkan oleh Gede Paneluh. Jalu yang ditemani oleh ‘Sosok wanita wanita


cantik hampir saja lupa diri dan enggan untuk meninggalkan tempat itu.


“Adi Jalu,,, sudah saatnya kita kembali kea lam kita. Akan ada waktunya lagi bermain main ke Istana ini.” Kata Gede Paneluh mengajak Jalu menemui Dalang Anyi anyi.


“Rupanya teman kamu ini baru gila lawan Jenisnya, baiklah kamu aku beri ‘Susuk Pemikat Sukma’ wanita manapun yang kamu inginkan akan dapat kamu miliki. Asalkan wanita itu tidak terlindungi oleh Mantra mantra


Suci. Berapapun wanita yang kamu inginkan akan dapat terpenuhi.” Kata Dewi Lanjar kemudian melemparkan tusuk kondenya dan masuk ke tubuh Jalu tanpa menyakiti Jalu.


“Terimakasih Dewi, atas pemberian Susuk Pemikat sukmanya.”


Ucap Jalu.


“Ambil sehelai rambut wanita yang kamu inginkan, bungkus dengan kain putih dan sebut namaku tiga kali maka wanita itu yang akan mendatangi kamu nanti.” Ucap Dewi Lanjar sosok Jin yang berparas cantik. Namun wujud sebenarnya tidaklah seperti yang dilihat oleh mata Jalu dan Gede Paneluh.


Karena wajah aslinya bertelinga runcing dan bertaring panjang serta memiliki ekor seperti buaya. Bahkan mulutnya yang tampak mungil sebenarnya adalah bermoncong seperti mulut buaya.


Sungguh betapa lemah dan mudah tertipunya manusia dengan Panca Inderanya. Sehingga jika tidak berpegang teguh kepada Iman akan sangat mudah tertipu oleh gemerlapnya dunia. Sudah banyak bukti orang tidak bisa


membedakan mana ‘NUR’ ( Cahaya ) dan mana ‘NAAR’ ( Neraka ). Sekilas tampak sama menerangi namun Nur ( Cahaya Ilahiyah ) tidak membut Nafsu berkobar. Sedangkan penerangan dari Naar ( api Neraka ) membuat Nafsu jadi tidak terkendali, merasa menjadi yang paling super bahkan memandang rendah kepada semua orang.


Merasa hanya dirinyalah yang benar, dirinya yang besar tidak ada orang yang seperti dirinya. Sungguh itu adalah kesalahan yang Fatal. Karena hanya Allah yang punya sifat Al-Mutakabir ( Yang berhak Sombong ) sedangkan ‘Insan’ atau Manusia adalah tempat salah dan lemah. Sesuai dengan arti dari kata Insan itu sendiri.


Setelah memberikan Jalu Susuk Pemikat Dewi Lanjarpun membawa Gede Paneluh dan Jalu pada dalang Anyi anyi yang dalam posisi terbelunggu rantai besar yang mengeluarkan cahaya terang. Sehingga tubuh dalang  Anyi anyi tidak dapat bergerak.


“Ayyyyiii…ayyyyiii…ayyyyiiii ada anak manusia datang kemari, sepertinya sudah semakin dekat hari kebebasanku, Ayyyyiii….ayyyiii…ayyyiii….!” ucap dalang Anyi anyi dengan cirikhas atau logat bicaranya.


“Apakah kamu yang bergelar Dalang Anyi anyi ?” Tanya GedePaneluh.


“Ayyyii…Ayyyiii… ayyyiii… tak pantas kamu menyandang gelar Paneluh jika tak mengenali aku, ayyyii.. ayyyyiii… ayyyiii…!” jawab dalang anyi anyi.


“Paneluh, semua prewangan di tanah Jawa ini dialah yang mengatur. Semua tunduk kepadanya, dialah dalang  Anyi anyi cepat kalian beri hormat padanya…!” perintah dewi Lanjar.


“Ampun ki, maafkan atas kebodohan kami berdua yang belum pernah bertemu aki dan tidak mengenal aki.” Ucap Gede Paneluh diikuti Jalu.


“Ayyyii…ayyyiii… ayyyyiii… aku mencium bau darah Joyo Maruto dan Maheso suro pada kalian berdua, Ayyyiii…Ayyyiii… ayyyiii….!” Kata dalang Anyi anyi.


“Benar ki, saya ponakan ki Joyo Maruto dan sahabatku ini adalah anak dari ki Maheso suro.” Jawab Gede Paneluh.


“Ayyyii… ayyyyiii… ayyyiii… dasar manusia manusia bodoh. Kamu bukan ponakan Joyo Maruto tapi kamu adalah Anak hasil bubungan Gelap Joyo maruto dengan ibu kamu, Ayyyii… ayyyiii… ayyyiii…!” Ucap dalang anyi anyi.


Jika hal itu terdengar banyak orang tentulah Gede Paneluh akan menjadi sangat malu. Untung saja disitu hanya ada Jalu saja. Sehingga rahasia besar yang dia tutp tutpi selama ini tidak khawatir menyebar. Karena Jalu pasti akan menjaga rahasia dia rapat rapat, pikir gede Paneluh.


“Jadi ki Dalang tahu semuanya ?” Tanya gede Paneluh.


“Ayyyii… ayyyiii… ayyyiii… Tidak tahu apa bukan aku ? Meski aku terkurung disini tapi aku masih bisa melihat dunia luar. Tahu juga kalau


kalian habis ditipu bicah tengi yang dipanggil Yasin. Ayyyii… ayyyiii… ayyyiii…!” ucap Dalang anyi anyi.


“Iya ki, dan kami ingin membalas atas semua itu bagaimana caranya ki ?” tanya gede Paneluh.


“Ayyyii… ayyyiii… ayyyiii… tanpa mengeluarkan dari air kamu tidak akan bisa menangkap ikan. Tanpa memisahkan Yasin dari kerabat nya kamu tidak akan mengalahkan. Tanpa merusak perilaku masyarakat dan kerabatnya kamu


tidak akan memisahkan Yasin dari kerabatnya. Terutama leluhur leluhurnya yang ikut berperan serta memenjarakan aku disini. Ayyyii… ayyyiii… ayyyiii…!” ucap dalang anyi anyi.

__ADS_1


Kemudian dewi Lanjar melakukan ritual pengangkatan Sumpah kepada Gede Paneluh dan Jalu. Untuk berjanji setia dan menjadi pengikut mereka dengan segala konsekuensi yang ada. Jika melanggar maka bukan sekedar Nyawa taruhannya, tapi ancaman sampai ke keluarga dan anak turunnya juga.


Gede Paneluh paham dengan apa yang dimaksut oleh Dalang Anyi anyi tersebut. Kemudian Gede Panelluh mengajak Jalu berpamitan pada dalang Anyi anyi dan dewi Lanjar. Kemudian dikawal oleh anak buah dewi Lanjar Gede Paneluh tahu tahu sudah berada kembali ke tempat semula mereka melakukan ritual.


Bahkan Asap kemenyan yang mereka bakar pun masih menyala.Yang artinya petualangan mereka di alan Jin tidak lewat semalam. Meski mereka merasakannya seperti Tiga hari Tiga malam berpesta sebelum membuat sebua perjanjian dengan Kaum Jin tersebut.


“Masih tengah malam kakang, rasanya kita seperti Tiga hari Tiga malam di tempat tadi ?” Tanya Jalu.


“Tidak usah heran, di alam mereka tidak mengenal batasan ruang dan waktu.” Jawab Gede Paneluh.


Jalu hanya diam meskipun tidak paham dengan jawaban Gede Paneluh. Merekapun kemali ke rumah Jalu dalam kondisi yang segar bugar. Bahkan Gede Paneluh maupun Jalu seperti mendapatkan sebuah kekuatann baru setelah keluar dari Istana dewi Lanjar tersebut. Beberapa Khodam sudah dipasang pada keduanya.


Sekaligus menjandi pengintai keduanya jika berbuat yang melanggar perjanjian dengan dewi Lanjar.


…..


…..


…..


Di pesantren Sidiq


Sidiq POV


“Maaf bah, Sidiq merasakan firasat yang tidak enak dengan Ayah bunda di rumah.” Tanyaku pada Abah guruku.


“Berdoalah serahkan semua kepada Allah, semua yang terjadi adalah atas kehendak Nya.” Jawab Abah guruku singkat.


“Iya bah, malam ini Sidiq mohon ijin mau mulai ziarah lagi bah. Melanjutkan apa yang sudah Sidiq awali dahulu.” Ucapku.


“Berangkatlah, jangan lupa perbanyak sholawat setiap saat agar mudah terkabul apa yang kamu mintakan.” Jawab Abah guruku.


“Iya bah, kalau boleh tahu kenapa sholawat bah bukan kalimah dzikir yang lain ?” Tanyaku penasaran.


“Maksutnya bacaan paling Ikhlash bagaimana bah ?” tanyaku.


“Kalau kamu berdoa itu untuk kepentingan diri kamu, bahkan kamu istighfar juga berharap ampunan Allah atas dosamu itu juga kebutuhanmu. Tapi bacaan Sholat itu adalah wujud rasa syukur terimakaih kita atas kelahiran


baginda Rasulullah Saw. Yang telah membawa jalan kebenaran dan kita nanti syafaatnya kelak di yaumul Akhir.” Jawab abah Guruku.


Aku jadi sadar bahkan merasa malu, selama ini banyak berdoa hanya memikirkan kebutuhan diriku sendiri. Kurang mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah berupa kenikmatan lain yang tanpa aku minta pun sudah diberikan.


“Maaf bah, apa kalau kita berdoa untuk kebutuhan kita itu kurang bagus bah ?” Tanyaku lagi.


“Tidak mau berdoa itu sombong, berdoa saja tanpa ikhtiar itu malas. Keduanya harus dilakukan sesuai porsinya masing masing Sidiq.” JawabAbah Guru.


“Bagaimana Proporsinya bah antara doa dan usaha ?” Tanyaku lagi.


Aku selalu memanfaatkan wakyu sedang bersama abah guruku untuk bertanya semua hal yang aku belum paham. Agar lebih memahami apa yang beliau terangkan saat mengajar kitab kitab Kuning. Dari kitab Aqidah dasar


Sulam taufiq, yang bila beru belajar itu saja akan mudah mengkafirkan dan mensirikan orang lain jika tidak dilanjutkan dengan tingkatan selanjutnya.


Kemduain juga Kitab Fiqih Dasar, seperti Safinantun Najah, Fathul Qorib dan lain lainya. Namun itu juga harus berlanjut ke jenjang berikutnya. Jika tidak maka akan mudah menyalahkan amaliah orang lain, yang berbeda dengan kita.Semua itu adalah bukti ‘Keluasan’ Ilmu Allah yang tidak sesempit pengetahuan manusia. Aku juga baru sadar atas kesalahan dan kekurang pahamanku selama ini. dan mungkin itu juga yang membuat aku menjadi temperamental. Karena baru sebatas melihat kulit belum bisa memahami isinya.


“Usaha atau Ikhtiar, kemudian Doa itu ada dilingkup Tawakal Sidiq.” Ucap Abah guruku.


“Maksunya Bah ?” Tanyaku belum paham.


“Jika orang kebanyakan mengatakan Usaha dulu sekuat tenaga keumdian berdoa setelah itu tawakal. Itu sebenarnya kurang tepat bagi kita kalangan  Santri. Karena Tawakal itu nomor satu, kemudian berdoa setelahnya baru Usaha sebagai bentuk basariyah ( Manusiawi ) kita.” Jawab abah guru.

__ADS_1


“Apakah maksutnya usaha itu kurang penting bah ?” Tanyaku.


“Bukan, tapi justru seberapa besar usaha kamu itu menunjukkan seberapa besar doa dan tawakal kamu. Jika benar dalam menempatkan sesuai proporsi tadi.” Jawab abah guruku.


Aku terdiam sejenak mencoba memahami kata kata beliau. ‘semakin besar usaha menunjukkan semakin besarnya doa dan tawakal ?’ aku masih agak bingung mencerna. Namun karena waktu sudah cukup malam akupun pamit untuk berziarah ke makam. Sambil terus memikirkan apa makna dari kata kata abah guruku tersebut.


…..


Di pesantren Jafar


Nisa POV


“Udah lega ya sekarang Nis, kakak kakak kamu sudah terlepas dari mara bahaya dan saat ini semua santri malah jadi hormat sama kakak kamu Jafar.” Ucap Mbak Vina kepadaku.


“Kayaknya gak begitu juga deh mbak, iya Nisa tetap bersyukur mas Jafar dan mas Sidiq lepas dari mara bahaya. Tapi bukan bearti itu semua akhir dari masalah mbak.” Jawabku ke mbak Vina yang akhir akhir ini seringkali


mendekati aku dan mengajak ngobrol aku, meski kita berbeda kamar tidur.


“Maksutnya bagaimana Nisa ?” tanya mbak Vina.


“Kan kemarin tidak ada yang tertangkap kecuali teman sekolah Mas Sidiq saja. Pembesar pembesar padepokan itu gak ada yang tertangkap.” Jawabku pada mbak Vina.


Mbak Vina menjadi termenung mendengar jawabanku tersebut. sehingga beberapa saat mbak Vina hanya terdiam. Waktu yang sudah cukup malam dan udara pegunungan yang dingin membuat aku dan mbak Vina jadi mengantuk.


“Udah mulai ngantuk nih Nis, tidur di kamar mbak Vina saja yuk. Mbak NVina sendirian teman sekamar mbak Vina baru ada acara keluar.” Ajak mbak Vina. Aneh banget ini mbak Vina sekarang sering banget ngajak Nisa


kemanapun. Apa jangan jangan… Aah gak ah aku gak boleh berpikiran yang gak gak, batinku.


Aku pun berjalan mengikuti mbak Vina menuju ke kamar mbak Vina, Namun langkahku tertahan sejenak. Sepintas aku melihat bayangan hitam yang bergerak mencoba menaiki  tembok  Pesantren di area yang penerangannya kurang terang.


“Ayo Nisa…!” ucap mbak Vina.


“Sebentar mbak, ada yang mencurigakan.” Bisikku ke mbak Vina.


Mbak Vina pun penasaran kemudian mengikuti aku mengintip bayangan hitam yang mencurigakan tadi.


“Itu mungkin pencuri Nis, kita lapor keamanan saja yuk Vina takut.” Ucap mbak Vina.


“Sebentar mbak, kayaknya bukan sekedar pencuri deh. Dan kayakya


itu bukan laki laki mbak, lihat deh postur tubuhnya mirip cewek kan ?” kataku pada mbak Vina.


“Iya ya, masak cewek kok jadi pencuri begitu ?” Ucap mbak Vina.


Aku jadi bingung menjelaskan, karena aku jelas melihat itu adalah perempuan berpakaian ala Ninja. Tap kenapa juga ada Ninja menyatroni pesantren ini. atau jangan jangan itu orang suruhan padepokan itu dan berpakaian ala Ninja saja biar gak ketahuan wajahnya.


“Mbak Vina masuk kamar duluan saja, Nisa mau lihat dulu dia maling atau bukan.” Kataku.


“Jangan Nisa, kamu gak boleh biar yang laki laki saja. Kita Lapor saja yuk sekarang Vina takut banget…!” ucap Mbak Vina.


“Lapor siapa mbak malam malam begini, bisa bisa malah kita kena ta’zir ke tempat cowok nanti.” Jawabku.


Namun belum sempat aku dan mbak Vina melanjutkan pembicaraan, tiba tiba terdengar keributan sepert orang yang sedang berkelahi.


Sosok bayangan hitam itu ternyata sedang berkelahi denganseseorang, tapi perkelahian yang kurang adil. Karena sosok hitam itu membawa Pedang panjang sedangkan lawannya hanya menggunakan tongkat atu besi biasa. Benturan dua senjata beradu dengan keras, namun belum jelas kelihtan siapa yang sedang bertempur tersebut. sampai akhirnya ada beberapa cowok yang bangun dan membawa batrei menerangi dua orang yang sedang bertempur tersebut.


“Astaghfirrullah… itukan Jafar kakak kamu Nisa yang sedang berkelahi dengan Pencuri itu. Kakak kamu hanya pakai tongkat musuhnya pakai pedang. Kasihan Jafar kakak kamu Nisa…!” teriak mbak Vina membuat bangun


penghuni kamar yang dekat sehingga pada keluar kamar.

__ADS_1


Sebenarnya aku sendir kaget setelah tahu yang bertempur adalah mas Jafar. Tapi yang paling membuat aku kaget adalah adanya Ninja yang datang ke pesantren ini mau apa dia, dan siapa yang dia cari ???


Berambung...


__ADS_2