
...Jafar berhasil lumpuhkan Marto Sentono...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Dan ternyata memang ki Marto Sentono mendekati Jafar secara diam diam. Ki Marto Sentono yang tidak kasat mata itu mendekati Jafar Pelan pelan dan tahu tahu sudah mendekap tubuh Jafar dengan erat. Sehingga Jafar tak mampu menggerakkan tangannya. Dan hal itu diketahui oleh Gandung Santosa, sehingga Gandung Santosa memukul kepala Jafar seperti sedang bermain main saja tanpa mendapatkan perlawanan sedikitpun dari Jafar….!?!
Jafar menyadari ada
Orang tak kasat mata yang mendekap dirinya, “Ini rupanya yang dimaksud ayah, jika aku atau mas Sidiq melawan orang yang tak kasat mata disuruh menggiring ke dekat tower air.” Kata Jafar dalam hati.
Dan tak mau jadi bulan bulanan Gandung Santosa Jafar segera menendang Gandung Santosa sekuat tenaga. Kemudian berusaha menginjak Kaki Marto Sentono dengan ujung tumitnya, dengan memperkirakan posisi kaki Marto Sentono sedikit di belakang Kaki Jafar Sendiri.
Dan ternyata injakan Jafar hanya mengenai ujung Jempol kaki Marto Sentono, namun saking kerasnya ijakan Jafar justru membuat Marto sentono menjerit kesakitan. Sehingga dekapan Marto Sentono lepas. Jafar dapat memanfaatkan keadaan dengan berbalik dan memukul tepat ke arah suara Marto sentono. Tak ampun lagi Marto Sentono yang tak kasat mata mulutnya berdarah dipukul Jafar.
Secara otomatis keberadaan Marto Sentono bisa diketahui Jafar dari darah yang mengalir dari mulut Marto Sentono. Jafar Pun kembali memukul wajah Marto Sentono dan sebuah pukulan mendarat lagi di wajah Marto Sentono. Namun Gandung Santosa yang tadi terpental segera mendekati Jafar hendak menyerang Jafar.
Jafar terpaksa menghentikan pukulannya ke Marto Sentono dan ingat pesan Ayahnya. Kemudian Jafar berlari mendekati tower air sesuai pesan dari ayahnya. Meski belum tahu apa maksut pesan ayahnya tersebut.
Sementara hal itu digunakan Marto Sentono untuk mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Agar tidak kelihatan lagi. Sehingga Marto Sentono kembali tidak bisa dilihat oleh Jafar.
“Dekati anak itu, aku akan sekap dia lagi dan kita habisi saja anak itu segera.” Bisik Marto Sentono pada Gandung Santosa.
Tanpa menjawab Gandung Santosa pun mendekati Jafar yang berada di bawah tower Air padepokan tersebut.
…..
Ada dua moment yang dalam waktu bersamaan saat Jafar dipukul oleh Gandung Santosa dan dalam dekapan Marto Sentono.
Saat Sidiq melihat itu hampir saja dia berlari untuk membantu Jafar adiknya. Namun begitu Jafar dapat mengatasi hal tersebut maka Sidiq pun mengurungkan niatnya. Dan kembali berkonsentrasi menunggu saat tepat untuk menolong Riska.
Dan di tempat lain dari jarak agak jauh, Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin sedang mengamati pertempuran itu juga.
“Siasat apa lagi yang dipakai Yasin kenapa membiarkan Jafar dikeroyok dan yang satu pakai halimun begitu.” Ucap kyai Nurudin.
“Kita lihat dulu saja, Yasin itu banyak akal kang pasti ada rencana tersendiri.” Jawab Kyai Syuhada.
“Iya tapi kadang sulit memahami apa rencananya kang. Jadi timbul khawatir juga melihat Jafar begitu. Tadi saja saat Jafar melempar belati aku kaget, ternyata memang Yasin sudah membuat rencana agar bisa melukai tukang teluh itu dengan pura pura menangkuis swerangan Jafar. Ituka ide gila kang bagiku.” Kata Kyai Nurudin.
“Tentunya saat Ayah dan anak itu tadi saling sekap mereka telah mengatur semua rencana tanpa diketahui karena yang lain mengira mereka bertempur beneran.” Jawab Kyai Syuhada.
“Tunggu kang, itu Jafar malah lari menjauh kenapa ?” Tanya kyai Nurudin.
“Kita Lihat saja lah, sekiranya perlu turun tangan baru kita kesana. Aku Yakin Yasin juga bisa melihat keberadaan Marto Sentono. Meski MartoSentono menggunakan halimun welut Putih.” Jawab Kyai Syuhada.
Keduanya pun hanya memperhatikan saja dari jauh, sambil tetap waspada jika memang harus ikut terjun membantu Yasin dan anak anaknya.
…..
…..
__ADS_1
Sementara Jafar Yang sudah berhadap hadapan dengan Gandung Santosa masih berpikir dimana keberadaan Marto Sentono. Karena sampai saat itu JAfar belum bisa melihat keberadaanya. “Ayah kemarin bilang di bawah Tower air ini wujud ki Marto bisa terlihat meski samar samar. Tapi kenapa aku belum juga bisa melihatnya ?” Tanya Jafar dalam hati.
“Mau lari kemana kamu bocah, tak akan ada tempat lari dan sembunyi lagi bagimu.” Ucap Gandung Santosa.
“Aku tidak lari, hanya cari tempat yang lebih luas saja. Takut ada korban lain yang terkena imbas. Karena kamu licik main keroyok dan pakai ilmu halimun.” Jawab Jafar mengulur waktu dan mencari keberadaan Martosentono.
Sementara Yasin yang melihat Marto Sentono dengan mata batinnya mendekati Jafar dengan mengendap, segera mengambil double sticknya.
“Langsung hajar saja anak itu Gandung, apa perlu aku bantu aku belum kalah tadi.” Teriak Yasin seakan berharap Gandung segera menghabisi Jafar. Tidak seorang pun yang tahu apa maksud Yasin. Termasuk Jafar sendiri ikut bingung dengan maksut ayahnya tersebut. Karena Jafar merasa belum bisa melihat keberadaan Marto Sentono.
“Boleh Paman, mungkin paman masih penasaran dengan anak ini silahkan saja.” JAwab Gandung Santosa.
Sementara Marto Sentono sendiri semakin mendekati Jafar dengan mengendap endap. Marto Sentono mengakui Jafar bukan anak sembarangan karena sudah merasakan sakitnya pukulan Jafar.
Yasin segera melompat dan menyerang Jafar lagi, dan Jafar tidak menghindar hanya menangkap Tangan Yasin Ayahnya.
“Kamu jangan keluar dari tempat ini, sekarang tending ayah lagi ayah akan melompat ke atas agar kamu tahu keberadaan Marto Sentono.” Bisik Yasin sambil mendekap dan kemudian mendorong tubuh Jafar hingga Jatuh.
Jafar pun mengikuti perintah ayahnya, Jafar menendang Yasin saat Yasin melompat kerahnya. Dan yang terjadi adalah Yasin memanfaatkan kaki Jafar sebagai pijakan untuk melompat dan pura pura terlempar ke atas dan mengayunkan double sticknya memukul Tower Air hingga tower air pecah dan menyemburkan air.
Dari semburan air yang seperti kabut itulah membuat basah semua yang ada dibawahnya termasuk juga baju Marto Sentono sehingga keberadaan Marto Sentono bisa dilihat Jafar. Jafar baru paham maksut ayahnya tersebut. namun Jafar kembali kaget karena tiba tiba ayahnya sudah mendorong tubuhnya lagi hingga terdorong ke samping. Dan Yasin pun segera berakting seakan mencekik Jafar.
“Waktumu tidak banyak gunakan lebur saketi lumpuhkan Marto Sentono segera. Sekarang giliran kamu lempar ayah keluar dari Arena ini.” Bisik Yasin cepat kepada Jafar agar tidak terdengar Gandung dan Marto Sentono.
Jafar Pun segera menangkap tangan Yasin dan melempar ayahnya tersebut keluar Arena. Dan sekaligus mempersiapkan jurus Lebur Saketi untuk menghadapi Marto Sentono. Dan sekali hentakan Jafar menyerang tubuh Marto Sentono yang tidak menyadari jika dirinya dapat terlihat oleh Jafar melalui tetesan air dari rambut dan Bajunya tersebut.
Mendapat serangan Tiba tiba Marto sentono pun tidak menduga sama sekali, sehingga tubuhnya terhempas ke belakang dan membentur salah satu dinding kamar Padepokan. Seketika itu juga aji welut putih Marto Sentono ‘badar’ ( Terlepas ) sehingga tubuhnya kembali Nampak kelihatan oleh manusia biasa.
Gemparlah seluruh padepokan Guru yang mereka bangga banggakan dikalahkan oleh seorang Pemuda yang masih belia. Sementara Gede Paneluh masih dirawat karena kakinya tertembus belati. Jalu yang melihat gelagat tidak baik justru langsung melarikan diri, karena masih harus menyelesaikan ritual terakhir malam harinya.
Sementara tubuh Marto Sentono yang tergeletak tidak berdaya segera ditolong oleh Gandung dan Jaka kemudian dibawa lari untuk mendapatkan perawatan.
Dan dengan gerakan super cepat dengan Sayeti anginnya Sidiq menyelamatkan Riska dan membopongnya ke tempat yang Aman. Riska dititipkan kepada Kholis, sementara Sidiq membantu Jafar menghalau kerumunan anggota Padepokan yang menyerang Jafar dan mengeroyok Jafar.
Melihat kegaduhan itu Yasin segera menghampiri Sidiq dan Jafar yang menghadapi puluhan anggota Padepokan.
“Minggir kalian semua, dua pemuda itu bukan lawan kalian biar aku yang hadapi mereka.” Ucap Yasin.
Sehingga puluhan warga Padepokan itu melangkah mundur menjauh memberi kesempatan kepada Yasin. Satu satunya orang yang dianggap mampu menandingi Jafar dan Sidiq dan yang masih berada disitu. Yasin segera melompat mendekati Sidiq, sambil pura pura menyerang berbisik pelan.
“Hantam ayah dengan jurus ‘Ya’ saat ayah tepat dihadapan kerumunan orang orang itu. biar mereka pingsan. Jangan sampai terluka parah.” Perintah Yasin yang kemudian melompat mundur menghindari serangan Sidiq dan Jafar.
Yasin melompat tepat di hadapan puluhan anggota padepokan tersebut.
“Kalian jangan melawan mereka itu sangat berbahaya, sebagian lari saja kalau perlu.” Ucap Yasin.
Dan sebagian besar anggota padepokan itu pun berlari meninggalkan padepokan tersebut untuk ikut bergabung dengan Gandung dan Jaka yang membawa ki Marto Sentono.
Sementara Sidiq sudah bersiap melancarkan serangan dengan jurus ‘Ya’ sesuai perintah Yasin ayahnya.
Dan sejurus kemudian seperti sapuan angin kencang dari arah Sidiq menerjang Yasin dan beberapa anggota padepokan yang masih tersisa tersebut. Dan semua pun pingsan terkena serangan Sidiq tersebut. kecuali Yasin sendiri yang memang sudah mengatur semuanya itu.
Sidiq dan Jafar pun sudah tidak sabar menghampiri Ayahnya, kedua anak tersebut memeluk Yasin dan mencium tangan ayahnya.
“Maafkan kami ya ayah, kalau tadi menyakiti ayah.” Ucap Sidiq dan Jafar.
“Tidak papa anak anakku, kalian sudah berperan baik sekali hari ini.” jawab Yasin. Sementara itu Riska tampak Heran melihat Sidiq dan Jafar jadi sangat hormat dengan orang yang barusan bertempur dengan keduanya tersebut.
__ADS_1
“Maaf mas, itu kenapa mas Sidiq dan Jafar mlah jadi memeluk musuhnya begitu ?” Tanya Riska pada Kholis.
Kholis hanya tersenyum mendengar pertanyaan Riska tersebut.
“Kamu tahu tidak siapa yang menjadi lawan Sidiq dan Jafar itu non ?” Tanya Kholis.
“Tidak tahu, tapi yang jelas dia kan orang padepokan ini juga…!?!” ucap Riska.
“Salah non, beliau itu ayahnya Sidiq dan Jafar yang menyamar dan pertempuran tadi sudah direncanakan semuanya…!” Jawab Kholis.
Riska pun sangat terkejut, bahkan sedikit menyesal tadi sempat mengumpat dan menyumpahi Ayahnya Sidiq dan Jafar tersebut karena di anggap musuh Sidiq dan Jafar beneran.
Riska pun berlari menghampiri Yasin dan meminta maaf atas kesalahannya telah berburuk sangka dan mengumpat saat mengira Yasin beneran berkelahi dengan Jafar dan Sidiq tadi.
“Maafkan saya, saya Riska sudah salah menilai tadi saya kira Om beneran musuh Mas Sidiq dan jafar jadi Riska tadi sempat mengumpat dan mengata ngatai om.” Ucap Riska kepada Yasin.
“Kamu mengumpat om bagaimana tadi, apa Jafar tadi gak bilang saat melepaskan tali ikatan kamu kalau aku ini ayahnya.” Jawab Yasin sambil Senyum.
“Maaf yah, tadi Jafar juga buru buru takut ketahuan musuh kan.” Jawab Jafar.
Riska hanya tertunduk malu mendengar jawaban Yasin dan Jafar.
“Gak papa Ris,namanya juga gak tahu kok.” Ucap Sidiq menghibur Riska.
Sebenarnya Riska mau menegur Sidiq juga, namun masih sungkan sehingga ucapan Sidiq tersebut malah membuat Riska jadi salah tingkah.
Untung saja obrolan tersebut terhenti karena kedatangan Rofiq Muksin dan Arsyad menjemput mereka.
“Kelamaan bang, udah selesai semua masak baru datang.” Ucap Yasin ke Rofiq.
“Tadi ada insiden kecil, saat mau ke padepokan ini Rombongan Polis datang dan kejar kejaran dengan beberapa orang yang lari. Jadi gak mungkin bisa lewat, bisa bisa kena tembakan polisi dong Zain.” Jawab Rofiq.
“Owh iya, terus sekarang pak Yadi dan lainya kemana ?” tanya Yasin.
“Masih mengejar beberapa orang yang dicurigai.” Jawab Rofiq.
“Yasudah lah, yang penting semua selamat. Sekarang kamu antar anak ini bang, kembalikan ke orang tuanya. Kasihan pasti mereka menjadi Cemas.” Ucap Yasin.
“Tidak,,, tadi pak Yadi bilang yang akan mengembalikan anti pak Yadi dan akan mengajak Sidiq sebagai saksi sekaligus pembersihan nama Sidiq yang tadi dianggap sebagai pelaku penculikan.” Jawab Rofiq.
“Gus Sidiq… itu orang yang kemarin menculik pacar Gus Sidiq !” terak Muksin menunjuk ke Ari yang hendak kabur.
Sidiq yang melihat Ari langsung mengejar Ari mau menangkapnya…..!!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1