Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pancamakarapuja vs Waringin sungsang


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Pancamakarapuja vs Waringin sungsang...


Berangkatlah Sena ke rumah Yasin bersama Istrinya dan Tohari. Baik Sena maupun Tohari belum tahu jika Yasin pun sedang pusing menghadapi Ki Munding Suro yang sangat berbahaya???


"Jadi ingat saat kita membantu Yasin melawan Joyo Maruto dulu ya Sena?" Kata Tohari.


"Iya Kang, beberapa malam tidur di alam terbuka. Seperti orang kemah saja ya?" Jawab Sena.


"Jangan cerita yang itu Mas, Nurul masih trauma jadi ingat yang menimpa kita dan Zulfan." Jata Nurul pada Sena.


"Iya maaf, aku yang memulai." Tohari yang menjawab.


"Nurul yang Minta maaf kang, mengganggu keasyikan Kang Tohari." Jawab Nurul.


"Gak kok, Aku yang Harus nya jaga perasaan kamu." Sahut Tohari.


Mereka jadi lebih sering berdiam hanya sesekali ngobrol untuk menjaga perasaan Nurul. Karena Nurul belum bisa menghilangkan Trauma saat Zulfan terbunuh.


Sampai mendekati rumah Yasin, mereka pun hanya sesekali bicara. Itupun diluar permasalahan yang sedang mereka hadapi.


Baik Sena sebagai suami Nurul, maupun Tohari sepupu Nurul sama sama menjaga perasaan Nurul. Hingga sampai di rumah Yasin.


.....


.....


.....


"Kenapa gak kasih kabar dulu Kang Tohari dan Sena. Kalau kasih kabar kan suamiku gak keluar." Kata Fatimah menemani Tohari, Sena dan Nurul di dampingi Sufi.


"Gak papa, aku tahu suamimu pasti sedang sibuk. Rencananya juga kami akan menginap di sini kok." Jawab Tohari.


"Alhamdulilah kalau gak buru buru, biasanya menjelang maghrib Mas Yasin baru sampai rumah. Apa perlu Fatimah telpon kasih tau jika ada tamu?" Tanya Fatimah.


"Tidak perlu mbak, takut malah mengganggu Mas Yasin. Tapi kalau nanti malam terpaksa Sena pinjam Mas Yasin dulu." Ucap Sena sambil bercanda.


"Ah bisa saja Sena, memang Suami Fatimah barang bisa dipinjamkan." Jawab Fatimah.


"Kalau boleh tahu perginya ke mana suami kamu Fatimah?" Tanya Tohari.


Fatimah kemudian menceritakan jika Yasin suaminya. Sedang di rumah seorang Lurah yang mengalami teror dari lawan. Sampai merembet ke sepupu Lurah tersebutlah Dan ternyata sepupu Lurah tersebut adalah Laras. Orang yang dulu hampir jadi korban tumbal Joyo Maruto.


"Siapa mbak, Laras yang dulu mau jadi korban Joyo Maruto?" Tanya Sena.


"Iya, memang Sena juga kenal?" Tanya Fatimah.


"Hayo Mas Sena jangan ikutan genit kayak Mas Ahmad!" Protes Nurul.


"Gak kok, kan dulu Sena dan Pak Yadi ikut bebaskan Laras juga. Jadi tahu siapa Laras." Jawab Sena.


"Memang Mas Ahmad genit po Mbak Nurul?" Tanya Sufi.


Nurul kaget ditanya Sufi begitu, Nurul sedikit salah tingkah. Karena Sufi tahu jika Nurul pernah mengagumi Ahmad Sidiq Alias Yasin.


"Ya rada-rada genit gitu, meskipun hanya sebatas candaan. Mas Sena senyum senyum sendiri kenapa mencurigakan deh. Jangan jangan ada sesuatu dengan Laras?" Kata Nurul.


"Bukan, bukan begitu aduh aku jadi gak bisa nahan tawa malah kalau ingat kejadian itu." Jawab Sena sambil memegang perutnya menahan Tawa.


"Kenapa kami ngakak sendiri Sena?" Tanya Tohari.


"Iya nih Mas Sena mencurigakan banget." Ucap Nurul agak cemburu.


"Nanti dulu Nurul, perutku sakit gak kuat nahan tawa!" Jawab Sena makin ngakak membuat semua jadi heran dan makin penasaran.


"Awas kalau ngarang cerita nanti." Ancam Nurul.

__ADS_1


"Gak, ini serius maaf mbakyu Fatimah Sena cerita apa adanya." Ucap Sena, Tanpa menunggumu jawaban Sena oun cerita kejadian saat Yasin membopong Laras untuk menyelamatkan dari kebiadaban Joyo Maruto.


Saat itu Laras yang semi bugil harus dibopong Yasin untuk menyelamatkan. Karena Laras posisinya pingsan.


Dan Yasin mau menjebak Sena untuk gantian membopong Laras. Agar gantian memegang tubuh Laras yang hanya ditutup jaket Yasin bagian atas.


Tapi keburu Pak Yadi yang menjemput Yasin, sehingga Pak Polisi yang kena jebakan Yasin bukan Sena.


Semua jadi tertawa mendengar cerita Sena tersebut.


"Jangan jangan Mas Sena kecewa ya gak jadi membopong Laras?" Goda Nurul.


"Gak lah jangan cemburu gitu, Tanya saja Mas Yasin nanti. Dia marah marah gak berhasil ngerjain Sena." Ucap Sena kembali ngakak.


Tak lama kemudian Yasin dan Farhan pun datang.


.....


Malam hari usai mujahadah, Tohari mengajak Yasin untuk bicara berempat dengan Sena dan Farhan. Karena tidak ingin pembicaraan mereka didengarkan Nurul dan para wanita lainnya.


"Yasin, aku dan Sena mau bicara dengan kamu dan Farhan. Tapi sebaiknya kita bicara di luar rumah saja." Kata Tohari.


"Iya Kang, kebetulan aku juga mau menyampaikan sesuatu juga." Jawab Yasin.


"Perlu Fatimah buatkan minum gak?" Tanya Fatimah.


"Gak usah, nanti saja biar kami bikin sendiri. Kalian istirahat saja." Jawab Tohari.


Tohari pun mengajak Yasin dan Sena keluar menuju ke lapangan belakang rumah Yasin.


"Isna, Utari dan Wisnu nanti kalau sudah belajar langsung istirahat saja ya." Kata Fatimah sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Sufi dan Nurul pun menyusul Fatimah istirahat di kamar masing masing.


"Iya Umi...!" Jawab ketiganya kompak.


"Eh Abi Yasin kayaknya baru hadapi masalah ya?" Ucap Isna.


"Sepertinya begitu, menurut kamu bagaimana Wisnu?" Kata Utari.


"Tapi lawan Abi Yasin itu berat berat, dulu saja kita berdua hampir celaka. Jika tidak dibantu Paman Sena." Kata Isna.


"Tapi kan sekarang kita bertiga mbak, minimal kan ada tambahan kekuatan." Jawab Wisnu.


"Iya sih, tapi kalau musuh Abi Yasin terlalu berat ya kita menghindar saja." Sambung Utari.


Mereka pun melanjutkan belajar pelajaran sekolah nya. Dan setelah itu Isna dan Utari berangkat tidur. Hanya Wisnu yang masih buka buka buku.


....


Sementara Tohari tertua dari empat saudara sepupu tersebut memimpin musyawarah di tanah terbuka.


"Keadaan di wilayah Sena tinggal kondisinya makin parah. Tiap hari aku dan Sena harus Patroli. Dan yang lebih bahaya kemaksiatan yang ada bisa membebaskan dalang Anyi anyi yang kamu penjarakan dulu." Kata Tohari.


"Kamu gak hubungi Padepokan Pak Suhadi dan Pak pihak Kepolisian Sena?" Tanya Yasin.


"Sudah Mas, tapi mereka melakukan kejahatan secara acak. Dan kami sering terlambat bergerak karenanya.", Jawab Sena.


" Bagaimana kalau kita selesaikan bersama satu persatu?" Tanya Farhan.


"Sulit Farhan, baik di sini maupun di sana sama sama butuh pengawasan dan perlindungan." Jawab Tohari.


"Tapi Yasin pikir juga ada benarnya Farhan. Jika kit berpencar kesulitan lebih baik bersatu melawan satu musuh dulu." Jawab Yasin.


"Maksudnya?" Tanya Tohari.


"Untuk urusan di sini butuh waktu lama, jadi kita konsen di tempat Sena." Kata Yasin.


"Apa gak bahaya buat keluarga kamu?" Tanya Tohari.


"Kuharap bisa cepat selesai, sukur gak Sampai dua hari." Jawab Yasin.


"Itu dia masalahnya, sampai sekarang saja belum bisa temukan markas musuh." Jawab Sena.


"Kamu gak gunakan indera ke enam kamu Sena ?" Tanya Yasin.

__ADS_1


Sena terdiam sejenak seakan baru ingat belum gunakan cara itu.


"Iya Mas, Sena belum gunakan." Jawab Sena.


"Kalau begitu, besok InsyaAllah kita ke sana. Tapi aku minta tolong Sena dan kang Tohari malam ini temani aku mencari dan mengintai markas musuh." Kata Yasin.


"Malam ini, jauh gak? " Tanya Sena.


"Lebih jauh markas Joyo Maruto dulu kok." Jawab Yasin.


"Terus Farhan?" Tanya Tohari.


"Biar dia Istirahat saja, persiapan jadi pengantin." Goda Yasin.


"Aah Mas Yasin godain Farhan terus." Gerutu Farhan.


Sena dan Tohari pun ikut tertawa melihat Farhan malu malu mau menikah dengan Sufi. Kemudian berangkatlah mereka mencari Markas Ki Marto Sentono.


.....


Dalam perjalanan Yasin menjelaskan kehadiran Ki Munding Suro dan siapa serta bagaimana Ki Munding Suro.


Di luar dugaan Yasin, Tohari dan Sena Sampai teriak kaget.


"Ki Munding Suro?" teriak Sena dan Tohari.


"Iya, kenapa kaget begitu ?" Tanya Yasin.


"Orang itu jugalah yang sedang kita buru saat ini!" Jawab Tohari.


"Apa,,,,?" Yasin tak bisa melanjutkan bicara gantian dia yang terbelalak kaget.


"Ki Munding Suro itulah yang menebar walat sehingga banyak timbul Korban." Jawab Sena.


"Gak mungkin lah, Tunggu kits menepi dulu Sena. Ini harus di bicarakan khusus gak bisa sambil jalan." Ucap Yasin.


Sena pun menepikan Mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.


"Kenapa Mas?" Tanya Sena.


"Jika benar yang jadi perusuh fi wilayah kamu itu Ki Munding Suro yang ajan aku cari. Lebih baik jangan kalian Hadapi." Ucap Yasin.


"Lah kenapa memang?" Tanya Tohari.


"Orang itu punya Ilmu Karang, sekali sentuh bisa hancurkan sesuatu yang disentuhnya." Jawab Yasin.


"Ilmu Karang? Lantas bagaimana kamu mau lawan dia ?" Tanya balik Tohari.


"Jika terpaksa aku harus Gunakan Waringin Sungsang." jawab Yasin.


"Hmmm... memang hanya ilmu ciptaan Sunan Kalijaga itu yang bisa hadapi ilmu karang." Kata Tohari.


Semua terdiam, ada perasaan ngeri juga mendengar lawan punya ilmu Karang yang dikira sudah punah.


.....


Sementara itu Ki Munding Suro sudah mendapatkan setoran beberapa wanita yang akan dipaksa ikut dalam upacara Ritual Pancamakarapuja.


"Bagus kalian boleh istirahat atau langsung pulang ke rumah." Ucap Ki Munding Suro.


"Kami mau langsung mau pulang saja Guru. Di sana juga ada orang yang berpatroli mengawasi kami." Jawab murid Ki Munding yang tinggal nya di wilayah Sena.


"Baiklah, hati hati di jalan saja untuk orang yang mengawasi kalian biar aku yang urus." Kata Ki Munding Suro.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2