Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Munculnya Raja Khodam


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Munculnya Raja Khodam...


"Mereka seperti diluar kendali dan ada yang menguasai jiwa-jiwa mereka,” bisik Sidiq.


“Iya, apakah Ki Ajar memang sudah mencapai puncak ilmunya kita harus bagaimana sekarang” tanya Jafar.


“Harus bagaimana ini, apa mungkin kita memerangi pasukan Farayaka?” tanya Sidiq.


“Bagaimana lagi tak ada cara lain,” jawab Jafar.


Jafar dan Sidiq bimbang menghadapi anak buah Farayaka yang dalam pengaruh Ki Ajar Panggiring. Saat itu Farayaka yang telah berhasil melukai Gagak Seta juga sangat terkejut melihat anggota Klan Lady Ninja nya mengepung Sidiq dan Jafar. Farayaka hendak mendekat ke tempat Sidiq dan Jafar. Namun dicegah oleh Kholis.


“Jangan mendekat ke sana, mereka dalam pengaruh seseorang,” kata Kholis.


“Tapi itu membahayakan Sidiq dan Jafar,” jawab Farayaka.


“Kita ke tempat Sesepuh kita saja, agar dicari cara menyadarkan mereka,” kata Kholis.


Kemudian Kholis mengajak Farayaka menemui Kyai Syuhada yang sedang mengobati Yasin agar cepat sadar. Di samping Yasin yang sedang pingsan, Nisa terus menangisi Ayahnya yang terluka dan pingsan.


“Nisa, kamu jangan menangis begitu. Biar Abah guru bisa konsentrasi mengobati Ayahmu,” kata Kholis menghibur Nisa.


“Iya, kamu adiknya Sidiq dan Jafar kan. Jangan sedih ya, Ayah kamu pasti kuat kok,” Farayaka ikut menghibur Nisa.


“Semua salah Nisa, terlalu ceroboh,” ucap Nisa di sela isak tangisnya.


“Sudahlah Nisa, kamu berdoa saja agar Ayahmu cepat sadar. Ayahmu tidak apa, hanya butuh waktu untuk memulihkan kesadarannya.” Ucap Kyai Syuhada.


Kholis dan Farayaka kemudian melaporkan keadaan yang menimpa anak buah Farayaka yang dalam pengaruh Ki Ajar Panggiring. Kyai Syuhada terkejut mendengar keterangan dari Kholis dan Farayaka.


“Bukankah, tadi Ki Ajar Panggiring jatuh ke jurang? Kenapa tiba tiba bisa muncul begitu saja” tanya Kyai Syuhada.


“Betul Bah, tapi begitulah yang terjadi saat ini,” jawab Kholis.


Kyai Syuhada terdiam sejenak, seakan mencoba menelaah apa yang terjadi sebenarnya.


“Kalian jagalah Ayah Nisa sebentar, Abah akan coba lihat apa yang terjadi,” kata Kyai Syuhada.


Tanpa menunggu jawaban, Kyai Syuhada pun segera meninggalkan mereka untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Kyai Syuhada segera mencari Kyai Nurudin yang mengawasi jalannya pertempuran.


“Apa yang kamu lakukan, kenapa melihat kehadiran Raja Khodam itu hanya diam saja” tegur Kyai Syuhada kepada Kyai Nurudin.


“Aku baru saja memastikan Kang, tadi sempat ragu juga. tapi sekarang aku juga yakin, raja Khodam tersebut memanfaatkan raga Ki Ajar Panggiring. Serta menggunakan Panggiring Sukma, untuk menguasai jiwa para Lady Ninja tersebut,” kata Kyai Nurudin.


“Kamu awasi saja dulu, jangan sampai Dalang Anyi Anyi turun langsung ke pertempuran dahulu. Aku akan cari cara sadarkan para Lady Ninja tersebut,” kata Kyai Syuhada.


“Insya Allah Kang, aku akan awasi mereka semua,” jawab Kyai Nurudin.


Kyai Syuhada pun kembali ke tempat Yasin yang ditunggui oleh Kholis, Farayaka dan Nisa.


“Kholis, carikan air dan daun bidara cepat,” kata Kyai Syuhada.


“Iya Bah,” jawab Kholis langsung bangkit berdiri mencari air dan daun bidara.


Kemudian Kyai Syuhada kembali memijat bagian tertentu tubuh Yasin untuk melancarkan aliran peredaran darah Yasin. “ Kenapa Sena saudara Yasin belum muncul juga, kehadirannya sangat dibutuhkan saat ini,” kata Kyai Syuhada dalam hati.

__ADS_1


*****


Sementara itu, Sidiq dan Jafar sedang berusaha menghadapi pasukan Lady Ninja yang menyerang mereka. Meskipun tidak berniat untuk menyakiti para Lady Ninja tersebut. hanya sesekali saja Sidiq maupun Jafar melayangkan pukulan untuk mencegah serangan serangan Lady Ninja tersebut.


“Semoga segera datang bantuan, untuk menyadarkan mereka,” kata Sidiq kepada Jafar.


“Mudah mudahan Mas, Guru kita pasti sudah menyiapkan sesuatu,” jawab Jafar sambil menghindari serangan Akino yang hampir saja mencelakai Jafar.


“Hati-hati, jangan sampai lengah, gunakan jurus ‘Ya’ jika keadaan benar benar terpaksa,” kata Sidiq.


“Belum saatnya Mas, Jafar kira masih bisa kita hadapi bersama. Sambil menunggu bantuan datang,” kata Jafar.


“Agaknya Ki Ajar menggunakan ilmu Panggiring Sukma, sehingga Lady Ninja menyerang kita,” kata Sidiq.


“Jafar kira juga begitu, apakah Mas Sidiq kerepotan jika Jafar keluar arena sebentar untuk menggunakan Stambul Al-Quran. Agar mereka terlepas dari pengaruh Jin yang menguasai jiwa mereka” tanya Jafar, dengan terpaksa harus memukul beberpa Lady Ninja anak buah Farayaka.


Bahkan beberapa Lady Ninja sudah menggunakan Shuriken juga untuk menyerang Sidiq dan Jafar. Untunglah keduanya sudah tahu cara menghindari lemparan Shuriken tersebut. Sehingga tidak sampai mengenai tubuh mereka.


“Kalian, tidak mungkin bisa bertahan jika hanya menghindari, aku ingin melihat kalian membunuh mereka atau kalianlah yang akan dibunuh mereka, Ha…ha…ha…!” ucap Ki Ajar Panggiring.


Namun Sidiq dan Jafar tidak mau terpengaruh oleh ucapan sosok Ki Ajar Panggiring tersebut. Keduanya tetap hanya menghindari serangan Lady Ninja tersebut. Hanya sekali kali melancarkan  pukulan ringan untuk mendesak mundur Lady Ninja tersebut.


Sosok Ki Ajar Panggiring yang sebenarnya merupakan wujud Dalang Anyi Anyi tersebut terus mengawasi pertempuran. Seperti sedang menunggu kemunculan seseorang yang dia tunggu. Raja Khodam tersebut berharap, munculnya Yasin untuk membalas dendam atas apa yang pernah Yasin lakukan dahulu.


Ketika Raja Khodam tersebut harus dilarung di laut selatan, karena dikalahkan oleh Yasin yang dibantu Sena dan Tohari. “Kenapa manusia yang bernama Yasin itu tidak juga muncul?” tanya Raja Khodam tersebut.


Sidiq dan Jafar hampir saja terdesak, karena hanya menghindar dan menghindar saja. Serangan yang dilakukan sebatas menjauhkan Lady Ninja agar tidak berada dalam jangkauan serangan mereka semua. Sidiq dan Jafar memecah pasukan Lady Ninja itu agar tidak terfokus mengepung dalam satu jangkauan serangan.


“Kita harus berpencar, agar kelompok Lady Ninja tersebut juga terbagi dua kelompok,” kata Sidiq.


“Aku justru khawatir, jika mereka malah fokus menyerang salah satu dari kita saja. Sehingga memaksa kita harus gunakan kekuatan, dan itu artinya harus ada korban,” jawab Jafar.


“Tapi kita bisa semakin terdesak jika begini terus,” kata Sidiq.


“Tunggu sebentar lagi, semoga saja bantuan segera datang,” jawab Jafar.


Sebenarnya Sidiq sudah sangat marah, karena beberapa kali nyaris terkena senjata Lady Ninja yang menyerangnya. Namun Sidiq juga masih sadar, karena Lady Ninja tersebut dalam pengaruh Ki Ajar Panggiring. Sehingga Sidiq masih berusaha tidak menggunakan kekuatan penuh dalam melawan Lady Ninja tersebut.


Keadaan pun berbalik, pasukan Lady Ninja tak mampu mengimbangi kecepatan Sidiq dan Jafar. Hal itu juga disadari oleh sosok Ki Ajar Panggiring, sehingga Ki Ajar Panggiring tersebut berniat terjun langsung menghadapi Sidiq dan Jafar.


Namun sebelum semua itu terjadi, tiba tiba muncul sosok laki laki sebaya Yasin yang tidak lain adalah Sena yang menebarkan Air dan daun bidara yang sudah dibacakan doa oleh Kyai Syuhada.


Percikan air berisi doa tersebut mengenai semua pasukan Lady Ninja, bahkan Sidiq dan Jafar pun merasakan percikan air tersebut sampai kaget.


“Perasaan panas, tidak ada mendung kenapa kita terkena tetesan Air?” kata Sidiq.


“Iya, Jafar juga terkena tetesan Air,” jawab Jafar.


“Sidiq, Jafar tinggalkan Lady Ninja tersebut. Biar Paman yang hadapi mereka semua,” teriak Sena mengagetkan Sidiq dan Jafar.


“Paman Sena? Kapan datang kemari Paman?” tanya Sidiq.


“Sudah, nanti saja bicaranya kalian minggir dulu. Biar Paman yang sadarkan mereka terlebih dahulu,” kata Sena yang tiba tiba sudah berada di samping Sidiq dan Jafar.


“Jadi yang menabur air tadi Paman, ya?” tanya Jafar.


“Iya Jafar, menyingkirlah dahulu. Kali ini adalah tugasku yang akan menghadapi mereka,” kata Sena.


Sidiq dan Jafar pun menyingkir dari arena pertempuran. Sementara pasukan Lady Ninja menjadi semakin beringas melihat kehadiran sena. Namun Sena yang sudah diberi tahu oleh Kyai Syuhada bagaimana menghadapi Lady Ninja tersebut tetap tenang. Semua serangan Lady Ninja tersebut dapat dielakan oleh Sena. Menggunakan Kinestesis atau indera keenamnya. Sena mampu merasakan desiran angin yang berbahaya, sehingga secara reflek bisa menghindari seluruh serangan Lady Ninja.


Bersamaan dengan memercikan air ke wajah Lady Ninja yang mendekatinya. Sehingga satu persatu Lady Ninja yang terkena percikan air tersebut menjadi sadar dan ingat siapa dirinya. Sehingga satu persatu Lady Ninja yang sudah sadar menghampiri Sidiq dan Jafar.


Sampai dengan semua Lady Ninja sadar, dan menghampiri Sidiq dan Jafar. Mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Sidiq dan Jafar pun menceritakan, jika itulah salah satu ilmu yang dimiliki musuh. Yang mampu mengendalikan seseorang untuk mencelakai orang lain.


Sementara Sena yang sudah selesai menyadarkan semua Lady Ninja hendak menghampiri Sidiq dan Jafar. Namun langkahnya terhenti ketika di hadapannya tiba-tiba berdiri sosok Ki Ajar Panggiring.


“Mau kemana kamu.kamu pikir bisa seenaknya meninggalkan arena?” tanya Soso Ki Ajar Panggiring.

__ADS_1


“Owh kamu…kenapa harus sembunyi di balik wujud manusia?  Apa kamu malu punya muka Bopeng dan jelek?” jawab Sena.


“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…kamu cukup jeli juga rupanya, Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…!” Suara dalang Anyi Anyi meski masih dalam Wujud atau menggunakan Jasad Ki Ajar Panggiring.


“Bau busuk mu yang tidak dapat menipuku,” jawab Sena, meniru gaya Yasin saat menghadapai Raja Khodam tersebut.


“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…kamu tidak usah meniru gaya Yasin, suruh saja Yasin ke sini. Aku akan balik penjarakan dia sekarang, Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…!” suara Raja Khodam tersebut.


Sena berusaha menanggapi ucapan dalang tersebut, dan berusaha menahan sepak terjang  Raja Jin tersebut. Untuk memberi waktu kepada Yasin memulihkan tenaganya, karena meski sudah sadar tadi tapi masih tampak lelah.


“Aku akan menunggu kehadiran Yasin, aku tidak mau berurusan dengan anak anaknya yang masih bau kencur tersebut,” kata Raja Jin tersebut, kembali menggunakan gaya bicara Ki Ajar Panggiring.


*****


Beberapa saat sebelumnya


Saat Kholis datang membawa Air dan daun bidara sesuai permintaan Kyai Syuhada. Saat itu pula Sena datang bersama Ihsan.


“Asalaamu’alaikum Kyai Syuhada,” ucap Sena.


“Wa’Alaikummussalaam…Alhamdulillah kamu sudah datang. Aku dan yang lain sudah lama menunggu kehadiran kamu,” jawab Kyai Syuhada.


“Mas Yasin kenapa Kyai? Apakah habis bertempur lagi?” tanya Sena.


“Begitulah, tapi kali ini memang agaknya harus begitu,” kata Kyai Syuhada.


Kemudian menjelaskan dari awal penculikan Nisa anak gadis Yasin sampai dengan proses pertempuran Yasin melawan musuh lama Ki Ajar Panggiring. Kemudian Kyai Syuhada, kembali mengobati Yasin sampai sadar.


“Alhamdulillah, kamu sudah sadar Kang,” kata Kyai Syuhada.


Nisa yang tahu Ayahnya sudah sadar langsung bersyukur dan memeluk Ayahnya sambil menangis. Namun kali ini adalah tangisan bahagia seorang anak.


“Maafkan Nisa Yah, gara gara Nisa Ayah jadi begini,” kata Nisa.


“Sudah sudah, semua sudah kehendak Allah Nisa, Ayah tidak apa apa,” kata Yasin sambil terbatuk batuk.


“Bagaimana Mas, apakah kesehatanmu sudah makin baik sekarang?” tanya Sena.


“Alhamdulillah…rasanya malah lebih segar sekarang. Meski masih terasa lemas saja,” jawab Yasin.


“Itu memang butuh waktu kang, dua jenis racun yang berada dalam tubuhmu saling berperang. Sehingga saling bisa menawarkan racun satu dengan yang lain,” kata Kyai Syuhada.


Singkat cerita Kyai Syuhada meminta Sena untuk menaburkan air dan daun bidara yang sudah dibacakan doa. Untuk menyadarkan pasukan Lady Ninja, sementar Yasin beristirahat memulihkan tenaga. Sena pun segera berangkat melaksanakan perintah Kyai Syuhada.


Setelah beberapa saat, Yasin pun berniat untuk menyusul Sena. Bagaimanapun Yasin tidak akan membiarkan yang lain berjuang. Sementara dirinya hanya berdiam diri saja.


“Kang, ijinkan aku menyusul adikku Sena,” kata Yasin.


“Jangan Yah, Ayah kan baru saja sadar,” protes Nisa.


“Iya Bi, Abi Yasin di sini dulu saja,” Ihsan pun ikut menahan agar Yasin tidak meninggalkan tempat.


“Apa kalian rela jika Pamanmu Sena celaka?” kata Yasin.


Kholis dan Farayaka tidak berkomentar apapun. Hanya menunggu perkataan Kyai Syuhada.


“Biarkan Ayahmu membantu pamanmu, Nisa. Tapi tetap dalam pengawasan kita, dan kamu Kang, jangan terlalu memaksakan diri. Ada saatnya kamu nanti mundur dan dilanjutkan kedua anak lelakimu,” kata Kyai Syuhada.


“Iya Kang, aku sadar aku hanya sekedar memulai saja. Nanti penyelesaiannya tetap kedua anakku. Meski kita yang tua juga membantu dari belakang. Semoga saja Raja Khodam tersebut dapat kembali tertangkap dan dipenjarakan,” kata Yasin.


Berangkatlah Yasin menyusul Sena untuk menghadapi Raja Khodam Dalang Anyi Anyi.


Sesampai di Arena pertempuran Yasin langsung berdiri di samping Sena.


“Aku sudah datang, apa maumu Jin Laknat? Apakah mau aku penjarakan kembali?” kata Yasin.


Kehadiran Yasin yang tampak segar membuat Sidiq dan Jafar sangat senang. Tidak menyangka Ayahnya dapat kembali berdiri tegak di hadapan musuh.

__ADS_1


“Mas Yasin yakin sudah sanggup bertempur?” tanya Sena.


“Sudah, tenang saja kita kembali bernostalgia,” jawab Yasin.


__ADS_2