
Reader Tercinta
Selamat Hari Santri 🙏
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
"Aku jadi penasaran dengan cerita Nadhiroh, bahkan baru tahu Jafar punya kakak cowok yang wajahnya juga mirip.” Kata Luluk santriwati yang agak pendiam tapi punya tekad dan pendirian yang kuat. Dia bersikeras membuktikan ucapan Nadhiroh, tidak peduli Sidiq sudah punya pacar. Luluk tetap akan menemui Sidiq dan mengenal Sidiq. Jika perlu akan mengajak Sidiq berkenalan dan berteman, sebagai awal pendekatan, pikirnya….!!
“Memang bagaimana ceritanya kamu bisa ketemu kakaknya Jafar Nadh ?” tanya luluk datar. Menyembunyikan ekspresi penasarannya.
“Pulang sekolah aku jalan jalan bentar sambil beli buku, habis beli buku aku lihat di seberang jalan ada cowok aku kira Jafar. Terus aku samperin mau nanya ngapain kok main di dalam counter. Tapi ternyata bukan Jafar. Jadi aku pura pura tanya soal HP saja.” Jawab Nadhiroh.
“Terus kamu sekalian betulin HP kamu ?” tanya luluk.
“Ya gak lah, uangku saja tinggal buat ongkos pulang. Cuma nanya doang tapi malah langsung di betulin setelah tahu aku satu pesantren dengan Jafar adiknya.” Jawab Nadhiroh bangga. Seakan merasa dapat restu dari Sidiq.
“Memang kamu bilang kalau satu pesantren dengan Jafar ?” tanya santriwati lainya.
“Jadi awalnya aku nanya ke dia, apa punya saudara yang namanya Jafar. Ya gitu deh, orangnya asik banget diajak ngobrol. Tapi sayang pas lagi ngobrol pacarnya datang dan hampir saja cemburu. Jadi Nadhiroh gak enak juga tadi.” Cerita Nadhiroh penuh semangat.
“Memang dekat sama sekolah kamu tempat kerja kakaknya Jafar itu ?” tanya Luluk mencoba mencari lokasi tempat kerja Sidiq.
“Lumayan deket, kan luluk juga Cuma jalan kaki ke sana. Paling hanya beberapa ratus meter dari sekolah Luluk.” Jawab Luluk.
“Nama Counternya apa lu ?” tanya yang lain.
“Aduh sampai gak lihat nama counternya, yang jelas dekat pasar juga di komplek ruko gitu.” Jawab Nadhiroh.
“Hmm pasti kamu sudah terpesona sama kakaknya Sidiq, jadi gak sempat lihat nama counternya. Eeh pacarnya cantik gak Nadh ?” tanya Luluk.
“Cantik sih, tapi bukan dari kalangan santri dia gak pakai jilbab. Rambutnya sebahu putih dan kayaknya agak cemburuan gitu.” Jawab Luluk.
“Kok gak pakai Jilbab, kenapa kakaknya Jafar pilih yang ga pakai Jilbab sih ?” Komentar yang lain.
“Ya siapa tahu memang maksudnya mau membimbing dia, belum tentu juga yang pakai Jilbab lebih baik dari yang gak pakai kan ?” ucap Luluk sok menasehati temannya.
“Iya sih, semoga saja memang begitu.” Jawab santriwati itu.
“Idiih sok peduli banget kamu, memang kakaknya Jafar apanya kamu ?” goda Luluk.
“Yah siapa tahu nanti jadi kakak iparku.” Jawabnya sambil tertawa.
“Awas ada yang cemberut nanti…!” Goda Luluk sambil melirik ke Nadhiroh.
“Ah gak kok, aku sadar kalau Jafar masih terlalu muda. Jadi aku gak pantas kalau sama Jafar, dan kayaknya dia juga dingin saja gak ada perasaan ke Nadhiroh.” Jawab Nadhiroh.
“Salah kamu dulu pertama menegur malah sok marahin dia, mana nyalahin ngobrol sama cewek yang ternyata adik kandungnya, wkakaka…!” goda Luluk.
“iya kan belum tahu kalau Nisa itu adik kandung Jafar.” Jawab Nadhiroh.
“Udah hampir Isya nih, nanti habis ngaji kita tanya ke Nisa aja yuk.” Usul salah satu santriwati.
“Gak ah, Nadhiroh malu dulu sering nanyain tentang Jafar sekarang mau nanyain kakaknya Jafar.” Ucap Nadhiroh.
Kumandang adzan Isya menghentikan obrolan mereka, dan segera mempersiapkan diri untuk sholat Isya dan mengaji. Begitulah obrolan para Santriwati, meskipun sisi manusiawi mereka sebagai gadis remaja tetap ada. Dan ketertarikan dengan lawan jenis juga bisa jadi topic obrolan mereka, namun saat mendengar adzan tanpa disuruh mereka berhenti mengobrol untuk melaksanakan Sholat.
Soal obrolan mereka yang mengarah kepada urusan laki laki dan perempuan itu adalah hal yang masih wajar dan manusiawi. Namun bedanya para santriwati itu tetap tahu batas batas kewajaran dan lebih mengutamakan tujuan mereka untuk mengaji dan sekolah. Sehingga mereka mampu mengendalikan hasrat yang timbul dari nafs*nya sebagai manusia normal.
Meski sisi manusiawi mereka juga tetap mendapat porsi sendiri, akan tetapi kontrol diri dengan iman merekalah yang membuat mereka berbeda dengan yang tidak mau belajar agama. Kalau soal ketertarikan dengan lawan jenis itu memang sudah kodrat tidak bisa dilawan. Hanya perlu dikontrol ( wanahanafsan ‘anil hawa \= dan menahan diri dari Hawa Nafs* ). Yang jadi masalah jika tertarik dengan sesama jenis, karena itu masuk ke dalam sebuah penyimpangan ‘sex oriented’. Dan itu harus disembuhkan dengan keinginan sembuh dari orang yang bersangkutan.
*****
Di waktu yang sama di Pesantren Sidiq
Usai mengaji setelah Sholat isya Sidiq dipanggil oleh abah gurunya sebelum berangkat ziarah ke makam.
“Sidiq, kamu ikut aku sebentar.” Kata abah gurunya Sidiq.
“Iya bah.” Jawab Sidiq singkat.
Kemudian Sidiq di ajak ke tanah lapang bukan ke kamar tamu abah gurunya. Sehingga Sidiq menjadi agak terkejut, kenapa justru diajak ke lapangan. Mana udara juga cukup dingin, batin Sidiq.
“Kamu dingin ?” tanya abah gurunya.
“Iya bah, belum pakai jaket soalnya.” Jawab Sidiq.
“Kamu kumpulkan kayu bakar, kita buat api unggun dulu biar agak hangat.” Kata abah guru nya Sidiq.
“Iya Bah.” Jawab Sidiq yang kemudian mengumpulkan kayu bakar dan dibawa menghadap abah gurunya.
“Ini bah, mau dibakar dimana ?” tanya Sidiq.
“Bakar disini saja biar gak dingin, kita ngobrol sambil menghangatkan badan.” Jawab gurunya.
Sidiq hanya mengikuti kata kata gurunya, meski dalam hati bertanya. Kenapa gak di dalam rumah saja biar gak perlu bikin api unggun, kata Sidiq dalam hati. Kemudian Sidiq mulai menyalakan api unggun setelah diberikan korek oleh gurunya. Dan beberapa menit kemudian menyalalah api unggun itu yang cukup membuat udara sekitarnya menjadi hangat.
“Bagaimana sekarang sudah hangat ?” tanya abah gurunya Sidiq.
“Iya bah, sudah gak kedinginan lagi sekarang.” Jawab Sidiq.
__ADS_1
“Api dan air itu besar sekali manfaatnya Sidiq. Tapi jika tidak terkendali akan menjadi bencana.” Kata abah gurunya Sidiq. Sidiq hanya diam tidak tahu maksud dari kata kata gurunya tersebut.
“Iya bah, sekarang Sidiq sudah gak kedinginan lagi.” Komentar Sidiq.
“Kamu belum paham maksudku ?” Tanya abah gurunya Sidiq.
“Maksut abah bagaimana ?” tanya Sidiq.
“Api itu ibarat Naf*u manusia Sidiq, jika tidak terkendali maka akan menjadi bahaya. Manusia memang diberi Naf*u, baik ***** untuk makan ataupun ***** yang lain termasuk naf*u dengan lawan jenis atau syahwat. Tapi semua itu harus dikendalikan, seperti api unggun ini. harus jauh dari rumah agar tidak menimbulkan kebakaran. Dan menghangatkan diri pun tidak boleh sampai menyentuh karena bisa terbakar.” Kata abah guru Sidiq.
Sidiq jadi pucat, merasa tersindir karena tadi siang sudah memeluk dan mencium pipi Riska pacarnya. Sidiq jadi malu bercampur takut mendengar nasehat abah gurunya itu. meski abah gurunya juga tidak menasehati dengan marah, tapi member sebuah gambaran agar Sidiq berpikir sendiri kesalahanya.
“Kebakaran itu terjadi dari api yang kecil dan tidak terkendali, sedangkan kalau Banjir itu terjadi karena Air yang banyak tapi tidak mendapatkan saluran yang cukup. Kamu harus bisa memecahkan sendiri apa maksut dari kata kata abah ini. Dan sebelum kamu bisa, kamu gak akan bisa menyelesaikan tugas kamu dalam ziarah kubur.” ucap abah gurunya Sidiq. Yang kemudian menyuruh Sidiq segera berangkat ziarah ke makam karena sudah cukup malam.
Sidiq pun yang tidak bisa berucap apapun segera bersiap menuju ke makam untuk melaksanakan tugas Ziarah dan berdoa dim aka tersebut.
Sesampai di makam, setelah mengucap salam untuk ahli kubur Sidiq pun segera menuju makam kedua orang tua abah gurunya. Namun Sidiq tidak langsung berdoa, tiba tiba terngiang kata kata abah gurunya tadi.
...“Kebakaran itu terjadi dari api yang kecil dan tidak terkendali, sedangkan kalau Banjir itu terjadi karena Air yang banyak tapi tidak mendapatkan saluran yang cukup. Kamu harus bisa memecahkan sendiri apa maksut dari kata kata abah ini. Dan sebelum kamu bisa, kamu gak akan bisa menyelesaikan tugas kamu dalam ziarah kubur.”...
“apa makna yang terkandung dari kata kata abah guru tersebut ? kalau kebakaran dari api yang kecil, insyaAllah Sidiq Paham. Tapi kata berikutnya tentang air dan banjir itu apa maksudnya ya ?” Sidiq bertanya dalam hati sebelum memulai berdoa.
Cukup lama Sidiq merenung, namun belum juga menemukan jawabannya, akhirnya Sidiq pun memanjatkan doa untuk ahli kubur dan dikhususkan untuk kedua orang tua abah gurunya.
Sidiq pun menjalankan itu seperti malam malam berikutnya, Ziarah kubur yang mengingatkan bahwa kita juga akan meninggal seperti mereka. Kemudian mendoakan mereka, agar ketika kita meninggal juga didoakan anak cucu kita. Karena maksut dari ‘orang yang meninggal itu tergantung amal perbuatannya sendiri.’ Salah satunya justru itu. kalau kita biasa mendoakan orang tua dan leluhur kita maka saat kita meninggal pun Insya Allah akan didoakan anak cucu kita. Tapi jika kita tidak pernah mendoakan leluhur kita, jangan harap anak cucu kita juga mendoakan kita, karena kita sendiri tidak pernah mengamalkan.
Itulah maksudnya, orang yang meninggal itu tergantung amal perbuatannya. Selama masih di alam Barzah ( setelah mati ) masih bisa didoakan selama belum masuk ke akhirat ( Padang mahsyar ) kalau sudah di alam akhirat bharu berlaku, Orang lari dari saudaranya, dari ibunya dan bapaknya, dari istri dan suaminya karena sibuk dengan urusanya sendiri ( Qs ; ‘Abassa 34 -37 ). Saat itulah tidak akan ada lagi yang menolong kecuali amal perbuatan kita sendiri.
Sidiq pun berusaha fokus untuk berdoa, rasa penyesalan akan kesalahan yang dilakukan telah berani memeluk dan mencium Riska tadi siang dia singkirkan. Diganti dengan rasa syukur dia masih mampu mengendalikan diri, atas pertolongan Allah sehingga tidak sampai terlalu jauh. Itu adalah nasehat Yasin ayahnya, yang melarang orang terlalu memikirkan kesalahan seakan lupa dengan rahman dan rahimnya Allah. Selama kita niat untuk bertaubat insya Allah akan dimaafkan, karena memang tidak ada orang yang bisa lepas dari kesalahan. Bahkan juga digambarkan Rasulullah pun pernah ditegur Allah karena bersalah dalam awal surat ‘Abassa’.
Kadang orang terjebak dengan rasa bersalah sehingga merasa masalahnya sulit diampuni. Hal itu justru tidak baik karena melupakan salah satu sifat Allah yang Maha Pengampun. Meski tidak bisa dijadikan alasan orang ‘sengaja’ melanggar dan berbuat dosa. Akan tetapi sekedar sebagai Husnudzon ( prasangka baik ) kita kepada Allah Swt. Karena larut dalam rasa bersalah itu sendiri ‘kadang’ adalah bisikan setan yang justru membuat kita malas beribadah, karena merasa kotor dan sebagainya. Justru itu merupakan sebuah kesombongan, karena namanya manusia tak bisa lepas dari dosa.
Sidiq terus melantunkan doa doa yang diajarkan oleh abah gurunya, meski kadang masih juga teringat dosa yang dilakukan hingga air matanya menetes. Namun Sidiq selalu berusaha menghilangkan itu semua dan hanya berharap ampunan dan Ridho Allah semata.
Sampai akhirnya Sidiq pun selesai melantunkan doa doa yang diijazahkan kepadanya. Setelah selesai Sidiq tidak langsung pulang namun merenung sebentar kembali memikirkan apa maksud dari nasehat abah gurunya tadi sebelum berangkat Ziarah.
*****
Keesokan Harinya di pesantren Jafar dan Nisa
Nisa POV
“Kenapa semalam mbak mbak pada menanyakan mas Sidiq, bakan mau lihat foto mas Sidiq ya ? Kapan mereka tahu aku punya saudara mas Sidiq ?” kata Nisa dalam hati setelah selesai mandi pagi.
“Nisa, kamu melamunkan apa kok dari tadi bengong saja ?” tanya Siti pada Nisa.
Nisa jadi kaget tersadar dari lamunannya.
“Owh itu, iya sih Siti juga heran kok pada tahu kamu punya kakak satu lagi yang namanya Sidiq.” Jawab Siti.
“Yang aku dengar sih itu berawal dari Nadhiroh.” Ucap Fitri yang merasa sedikit bersaing dengan Nadhiroh karena sama sama menyukai Jafar.
“Bagaiman ceritanya, dari mana Nadhiroh tahu Nisa punya kakak yang Namanya Sidiq ?” tanya Siti sebelum Nisa yang bertanya.
Kemudian Fitri pun menceritakan apa yang dia dengar semalam saat banyak santriwati yang mencari Nisa dan bertanya banyak hal tentang Sidiq. Keterangan Fitri itu membuat Nisa juga Siti jadi maklum, karena Nisa memang tahu jika sekolah Nadhiroh dekat dengan tempat kerja Sidiq.
“Owh iya, Nisa baru ingat kalau mas Sidiq itu bekerja dan dekat dengan sekolahnya mbak Nadhiroh.” Kata Nisa.
“Pantas Nadhiroh bisa ketemu dengan kakak kamu Nisa, tapi katanya kakak kamu Sidiq sudah punya pacar ya Nis ?” tanya Fitri.
“Gak tahu mbak, beberapa hari yang lalu ke sini tapi hanya ketemuan di luar pondok. Dan Nisa hanya sebentar terus disuruh masuk pondok lagi. Yang menemani mas Jafar, entah mereka ngobrol apa saja.” Ucap Nisa.
“Haah ke sini ? memang sering kesini juga kakak kamu Sidiq ?” Tanya Siti kaget karena tidak pernah bertemu sebelumnya dan agak penasaran dengan Sidiq.
“Sering sih, minimal sebulan sekali kesini kasih uang jajan buat Nisa.” Jawab Nisa.
“Wah kakakmu sayang banget kayaknya sama kamu Nisa ?” kata Siti.
“Gak cuma sayang mbak, tapi sangat melindungi Nisa dari Nisa kecil. Sampai gak ada yang berani gangguin Nisa waktu itu.” Jawab Nisa.
“Berarti kakak kamu Sidiq itu juga jago beladiri seperti Jafar juga ?” tanya Siti.
“Iya mbak, mereka dari dulu sudah sering berantem dengan orang yang lebih dewasa demi keluarga.” Jawab Nisa tanpa sadar keterangan Nisa itu menambah simpatik para seniornya kepada Sidiq. Mungkin Nisa hanya menganggap mereka penasaran saja dengan Sidiq karena tahu Jafar jago beladiri. Tanpa Nisa ketahui ada hal lain yang membuat para seniornya itu jadi ingin tahu tentang Sidiq.
Untung saja mereka juga tahu jika Sidiq sudah punya pacar, sehingga ada beberapa yang kemudian mundur teratur atau hanya sekedar simpatik saja. Namun ada juga beberapa yang gak peduli jika Sidiq sudah punya pacar, toh belum resmi nikah, prinsipnya. Sebuah dinamika yang biasa terjadi pada kehidupan anak anak muda. Tanpa memandang strata apapun, karena itu sebuah kodrat alamiah.
“Kereen dong kakak kamu Nisa.” Puji Siti tanpa sadar.
“Bagi Nisa iya mbak, karena mas Sidiq itu adalah Pahlawan kedua setelah Ayah Nisa.” Jawab Nisa polos tanpa beban. Tidak menyadari akibat kepolosannya itu bisa membuat orang lain jadi Baper.
“Senang ya punya kakak cowok yang bisa melindungi begitu, Siti jadi pengen juga tapi sayang Siti anak sulung dan adik adik Siti cewek semua.” Kata siti.
“Kalau aku punya kakak cowok tapi cuek sama Fitri, boro boro melindungi yang ada malah rese kalau sama Fitri.” Sahut Fitri.
Saat mereka tengah ngobrol datang Nia mencari Nisa.
“Nisa kamu sudah mau berangkat sekolah belum ?” tanya Nisa.
“Belum Ning Nia ?” jawab Nisa.
“Panggil mbak saja sekarang, ikut aku sebentar yuk, Nia ada perlu sama Nisa sebentar.” Kata Nia.
“Owh iya ning Nia, sebentar sekalian bawa tas sekolah Nisa biar nanti gak harus balik ke kamar lagi.” Ucap Nisa.
__ADS_1
“Mbak saja, jangan Ning lagi.” Ucap Nia.
“Owh iya lupa, iya mbak Nia…!” jawab Nisa kemudian mengikuti Nia setelah mengambil tas sekolahnya.
Fitri dan Siti hanya saling pandang, mereka heran dengan perubahan Nia kepada Nisa yang berbalik seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Namun keduanya hanya bisa saling pandang saja, tidak berani bertanya ataupun berkomentar.
*****
Nia mengajak Nisa masuk ke ‘ndalem’ kemudian mengajak Nisa sarapan bersama Nia sambil ngobrol mengutarakan maksud Nia mengajak Nisa sarapan bersama.
“Jadi begini Nisa, Nia mau pindah sekolah dan tidak tinggal disini lagi. Jadi Nia harus bilang sesuatu yang selama ini Nia pendam.” Kata Nia.
“Apa itu mbak Nia ?” tanya Nisa sedikit kaget.
“Jujur saja, sebelumnya aku gak suka sama kamu sampai puncaknya aku mengatur acara latih tanding itu. namun sejak peristiwa itu aku justru jadi sadar atas kesalahanku selama ini. jadi aku harus minta maaf sekaligus berterima kasih kepadamu Nisa.” Kata Nia dengan wajah serius membuat Nisa jadi kikuk.
“Gak usah dibahas mbak, Nisa Ikhlash kok melakukan itu semua.” Jawab Nisa.
“Iya Nia tahu, tapi tetap saja aku harus berterima kasih.” Jawab Nia.
“Memang mbak mau tinggal dimana nanti ?” tanya Nisa balik.
“Di rumah adik angkatan pesantren nya abi Nis, katanya sih gak jauh dari sini juga ?” jawab Nia.
NIsa terkejut, karena Nisa tahu jika adik pesantren abah gurunya yang rumahnya tidak jauh itu hanya ayahnya. Sedangkan abah gurunya Sidiq kakaknya itu murid dari adik abah guru abinya Nia juga ayahnya Nisa. “apa maksut abah guru mbak Nia akan dititipkan di rumah Ayah ?” kata Nisa dalam hati.
Saat sedang melamun lewatlah uminya Nia dan menegur Nisa.
“Eeh Nisa,,, nah gitu dong Umi senang lihat Nisa mau makan bareng Nia anak umi. Nisa mau kan nanti tinggal di kamar Nia saja kalau Nia sudah jadi pindah.” Tanay uminya Nia.
“Makasih bu nyai, tapi Nisa sama teman teman Nisa saja gak enak kalau tinggal di nDalem.” Jawab Nisa polos.
“Lah kenapa gak enak, kan umi yang minta ?” sahut uminya Nia.
“gapapa sih bu Nyai, tapi Nisa lebih tenang kalau tinggal sama teman teman Nisa saja.” Jawab Nisa.
“Yaah sayang sekali kalau begitu, tapi sering sering temenin umi ya nanti kalau Nia sudah gak di rumah.” Kata uminya Nia.
“InsyaAllah bu Nyai, Nisa usahakan nanti.” Jawab Nisa.
Kemudian Nisa kembali melanjutkan obrolan dengan Nia sebelum berangkat sekolah.
…..
…..
…..
Sementar itu Jafar pun sudah siap untuk berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Jafar melangkahkan kakinya dengan langkah santai, pandangannya pun lurus kedepan. Sampai tidak menyadari ada orang yang diam diam mengikuti Jafar sejak dari dalam pesantren. Tentu saja seorang santri juga yang diam diam menunggu Jafar hendak menyampaikan sesuatu kepada Jafar.
Setelah agak jauh dari pesantren, orang tersebut mempercepat jalanya untuk mengejar Jafar. Barulah Jafar merasakan jika ada yang mengikutinya dari tadi. Kemudian Jafar membalikkan badan nya melihat siapa yang mengikutinya tersebut.
“Vina…? Ngapain ngikutin aku dari tadi ?” tanya Jafar.
“Maaf ada yang ingin Vina sampaikan, kalau di pondok Vina gak berani takut dikira ikut bersaing mengejar kamu.” Jawab Vina teman sekelas Jafar.
“Ya sudah sekalian bareng saja yuk, kita kan satu sekolah.” Kata Jafar.
“Gak berani, takut nanti ada yang marah sama Vina. Sebentar saja Vina Hanya mau ngasih tahu kalo ada orang yang mau jahat sama kamu Jafar.”Kata Vina.
“Jahat sama aku ? Memangnya aku salah apa ?” tanya Jafar.
“Ada cowok yang menganggap kamu merebut mbak Nadhiroh dari dia. Dan dia jadi sakit hati serta mau balas dendam sama kamu Jafar.” Kata Vina.
“Merebut ka Nadhiroh, aku sama dia kan gak ada hubungan ?” Ucap Jafar.
“Iya, Vina juga tahu, kalau Jafar lebih menyukai ning Nia kan.” Ucap Vina.
Jafar jadi memerah wajahnya ketika Vina mengatakan seperti itu, “dari mana Vina tahu kalau aku ada perhatian dengan Nia.” batin Jafar.
“Kata siapa Vina ?” tanya Jafar.
“Ada deh, tapi yang perlu Jafar tahu jodoh Jafar itu bukan ning Nia.” Ucap Vina.
“Aah sok tahu kamu, Jafar saja gak mikirin soal itu kok sekarang ini masih pengen fokus sekolah dan ngaji.” Jawab Jafar.
“Lihat saja nanti Jafar, kalau jodoh kamu memang bukan ning Nia.” Kata Vina kembali mengingatkan Jafar. Namun Jafar juga tidak menanggapi secara serius ucapan Vina.
Jafar hanya mengucapkan terimakasih atas innformasi yang diberikan Vina, sementar Vina sendir kembali memperlambat langkahnya dan berjalan di belakang Jafar. Sambil mengamati Jafar dari belakang.
“Kamu boleh pacaran sama siapa saja Jafar, tapi akulah yang kelak akan menjadi istri kamu.” Ucap Vina sambil tersenyum….!!!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1