
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Yasin melawan Ki Bujang...
Hanya sayang, waktu dan kondisi Yasin yang belum memungkinkan melawan mereka...?
"Aku tahu, keadaan kamu sedang tidak baik. Jangankan melawan kami bertiga, lawan salah saru dar kami saja kamu gak akan mampu," ucap Ki Bujang.
Yasin berusaha menutupi kondisinya, namun dari tarikan dan hembusan nafasnya Ki Bujang bisa tahu. Ki Bujang tahu jika Yasin masih dalam tahap pemulihan tenaganya.
"Jangan bangga dulu, aku masih tetap yakin bisa mengalahkan kalian," jawab Yasin.
Meskipun Yasin sadar jika dirinya dalam kondisi yang tidak baik, namun tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun. Rasa tawakal Yasin justru meningkat seiring bertambahnya usia dan pengalaman dan perjalanan spiritualnya.
Pengalaman beberapa kali menempuh bahaya dan hampir menewaskan dirinya, membuat Yasin semakin yakin jika hidup itu di tangan Allah. Tidak menggantungkan pada sesuatu selain Allah.
“Kamu terlalu yakin dengan kemampuan kamu,” ucap Ki Bujang.
“Tidak, aku tidak yakin kepada kemampuanku. Tapi aku yakin dengan kekuasaan Allah semata,” jawab Yasin.
“Ha ha ha… ucapan orang yang putus asa memang seperti itu,” jawab Ki Bujang disambut tawa kedua temannya.
“Kalian jangan tertawa dulu, aku siap membantu saudaraku melawan kalian yang hanya berani keroyokan,” ucap Farhan yang tiba-tiba datang membantu Yasin.
“Farhan…kamu gak usah ikutan biar aku sendiri yang hadapi mereka,” kata Yasin.
“Tidak Mas, kali ini aku tidak akan biarkan Mas Yasin berjuang sendirian. Farhan akan bantu sampai titik darah penghabisan,” jawab Farhan setengah berbisik.
“Baiklah, kami tidak akan main keroyok. Kalian pilih saja lawan salah satu diantara kami,” ucap Ki Bujang.
“Terserah kalian, siapa yang akan maju lebih dulu,” jawab Yasin tenang.
“Gede Paneluh, atau Lembayung yang akan mencoba melawan orang lemah itu ?” tanya Ki Bujang pada kedua sahabatnya.
“Aku punya dendam khusus pada laki-laki itu, biar aku yang akan menghabisinya,” jawab Lembayung.
Lembayung merasa di atas angin tau kondisi Yasin yang sedang tidak maksimal kekuatannya. Lembayung tidak tau jika Yasin tidak sekedar mengandalkan fisik tapi punya seribu akal untuk hadapi lawan.
__ADS_1
“Biar Farhan yang hadapi dia Mas,” ucap Farhan yang marah dengan musuh musuh Yasin tersebut.
“Tidak Farhan, jangan kotori tangan kamu dengan pertempuran tidak penting ini. Aku masih sanggup hadapi mereka,” jawab Yasin.
Farhan hanya bisa menurut, meski tetap bersiap jika sewaktu waktu Yasin terdesak. Sementara Lembayung sudah berjalan maju untuk melawan Yasin. Yasin pun segera menyambut Lembayung yang penuh kesombongan tersebut.
“Bersiaplah untuk menghadap leluhurmu sekarang,” ucap Lembayung yang langsung bersiap untuk menyerang Yasin.
Yasin yang sadar belum bisa menggunakan banyak tenaga mencari cara untuk bisa menghemat tenaganya. “Sebentar lagi aku akan pulih, tapi kali ini aku harus menghadapi musuh secara fisik. Harus hemat tenaga kalau tidak terpaksa aku hanya akan gunakan jurus ringan saja.” Yasin berkata Dalam hati.
“Majulah, tak perlu banyak bicara,” Jawab Yasin.
Lembayung jadi sedikit ragu melihat sikap Yasin yang santai tanpa beban. “Apa orang ini sudah pulih kembali tenaganya, tapi kata Ki Bujang dari nafasnya orang ini masih sakit.” Lembayung jadi berhati hati menghadapi Yasin.
Sebuah serangan dilancarkan Lembayung kepada Yasin. Sebuah pukulan keras diarahkan ke dada Yasin. Yasin hanya bergeser sedikit tanpa menangkis atau membalas serangan.
“Mana seranganmu, kenapa tidak membalas ?” tanya Lembayung.
Yasin tidak menjawab bahkan hanya berdiri dalam posisi siap menerima serangan berikutnya. Membuat Lembayung jadi semakin penasaran dengan Yasin.
Sementara Farhan sambil mengawasi Ki Bujang dan Gede Paneluh ikut mengawasi kiprah Yasin. Sedikit heran juga dengan gaya bertarung Yasin yang tidak seperti sebelumnya. “Rupanya Mas Yasin sedang hemat tenaga, dan mencari titik lemah lawan.” Farhan menyimpulkan jika Yasin sedang menghemat tenaganya.
Sementara di pihak Ki Bujang pun heran dengan gaya bertarung Yasin yang sekedar bertahan saja.
“Betul, tapi aku agak curiga dia hanya mengulur waktu sementara menunggu bantuan dari saudara dia yang lain,” kata Ki Bujang.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Ki Bujang ?” tanya Gede Paneluh.
“Biar menyingkat waktu kamu hadapi orang yang satunya itu, jangan sampai dia ikut membantu Yasin,” Perintah Ki Bujang pada Gede Paneluh.
“Baiklah aku akan hadapi yang satunya,” jawab Gede Paneluh.
Kemudian Gede Paneluh pun menghampiri Farhan, dan Farhan pun bersiap jika Gede Paneluh akan menyerangnya secara tiba-tiba.
“Kamu melawan aku, daripada sama sama hanya menjadi penonton,” kata Gede Paneluh.
Tanpa berlama lama Gede Paneluh pun segera menyerang Farhan. Untungnya Farhan sudah sedikit bisa menyesuaikan diri setelah bertempur dengan Otang dan Ki Bujang dulu bersama Wisnu. Setidaknya tidak sungkan lagi untuk memukul lawan secara fisik, tidak seperti sebelumnya.
Yasin lah jadi khawatir dengan keadaan Farhan yang belum biasa bertarung. Sementara yang Farhan hadapi adalah Gede Paneluh yang sudah cukup pengalaman. Dan kelasnya justru di atas Lembayung yang jadi lawan Yasin.
“Aku harus segera melumpuhkan orang ini, dan menggantikan Farhan melawan orang tersebut.” Yasin berusaha segera melumpuhkan Lembayung. Lembayung melancarkan tendangan ke arah Yasin dengan membabi buta. Karena merasa serangannya tidak satupun yang mengenai Yasin secara akurat.
Emosi Lembayung mengurangi kewaspadaannya, sehingga satu kesempatan yang ada dimanfaatkan Yasin untuk menangkap kaki Lembayung. Kemudian dengan mengeluarkan tenaga yang ada, Yasin melemparkan Lembayung tepat ke arah Gede Paneluh yang sedang menghadapi Farhan.
Sehingga benturan kedua orang tersebut tidak bisa dihindari. Gede Paneluh yang sedang bernafsu menghadapi Farhan kurang waspada. Sehingga saat tubuh Lembayung terlempar ke arahnya tidak menyadari. Sehingga benturan yang cukup keras pun terjadi.
__ADS_1
Tubuh Gede Paneluh dan Lembayung sama sama beradu punggung dan keduanya jadi terjatuh. Sayangnya Yasin sendiri merasakan pusing dan kesemutan karena mengeluarkan tenaga yang cukup besar. Sehingga merasakan kesemutan di seluruh tubuhnya. Farhan segera menghampiri Yasin untuk melihat keadaan Yasin.
Jatuhnya Lembayung dan Gede Paneluh membuat Ki Bujang pun naik darah. Sehingga ingin segera mengeluarkan aji pamungkasnya untuk menyerang YAsin yang masih merasakan pusing tersebut.
“Kamu gak papa Mas ?” Farhan mengkhawatirkan keadaan Yasin yang tampak pucat dan jadi gemetar.
“Gapapa…!” belum sempat Yasin selesai bicara, terdengar teriakan Ki Bujang dengan amarah yang memuncak.
“Sudah waktunya saat ini bagimu, kamu akan mati di tanganku. Tenaga kamu sudah terkuras, sekarang rasakan Aji Gundolo Sosro milikku.” Ucap Ki Bujang.
Yasin jadi agak bimbang, karena kondisinya yang seperti itu. sementara tidak mungkin juga Farhan yang menghadapi Ki Bujang dengan Ilmu Gundolo Sosro nya.
“Farhan…kamu lari saja harus ada yang selamat diantara kita. Dan kamu baru saja menikah dengan Sufi, larilah sekarang juga…!” ucap Yasin menyuruh Farhan lari.
“Tidak Mas…apapun yang terjadi harus kita hadapi bersama,” jawab Farhan.
“Jangan bandel, aku mungkin bisa menahan ilmu itu. tapi gak yakin bisa menyelamatkan kamu,” kata Yasin.
“Kalian jangan berisik, sekarang terimalah Aji Gundolo Sosro milikku…!” Ki Bujang langsung melompat menyerang Yasin dan Farhan sekaligus.
Pada saat kritis tersebut, ada sebuah benda meluncur cepat dan menghantam Ki Bujang hingga terpental jatuh. Dan sesaat kemudian mendarat lah sosok pemuda dengan sangat enteng dan berdiri di hadapan Yasin dan Farhan.
“Ayah gak papa kan, untung saja Jafar tidak terlambat datang ?” tanya orang itu yang tak lain adalah Jafar anak kandung Yasin.
Sementara Ki Bujang dan lainya kabur melarikan diri begitu melihat Jafar anaka Yasin yang datang.
“Jafar? Jafar anak ayah benarkah kamu Jafar ?” tanya Yasin.
“Iya Ayah, Jafar sudah selesai menjalankan Riyadhoh dan diutus Abah guru menolong Ayah yang katanya dalam bahaya,” Jawab Jafar.
Yasin dan Farhan jadi terharu karena bangga Jafar datang di saat yang sangat tepat. Yasin pun segera memeluk tubuh anaknya tersebut.
Sementara Farhan hanya diam, namun air mata Farhan mengalir membasahi pipi, melihat pemandangan haru di depannya…!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1