
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Jafar kalahkan dua murid Ki Munding Suro...
Yasin agak ragu melepas Jafar bertarung melawan kedua orang tersebut, namun semua sudah terucap jadi mau gak mau Yasin membiarkan Jafar melawan kedua orang tersebut. Meski tetap dengan kewaspadaan penuh jika sesuatu terjadi pada Jafar…!!!
“Hai bocah…segeralah katakan apa permintaan terakhir kamu sebelum aku hancurkan tubuhmu dengan Karang Hitam kami berdua.” Ucap Gagak Seta.
“Betul…supaya kamu tidak mati penasaran.” Sahut Jaladara.
“Aku hanya minta satu hal saja.” Jawab Jafar datar.
“Apa itu cepat katakan.” Jawab Gagak Seta.
“Iya, asal jangan minta pertarungan ini dibatalkan kami akan penuhi.” Sahut Jaladara.
“Aku minta kalian persiapkan dua stel kain kafan buat membungkus mayat mayat kalian.” Jawab Jafar santai.
Ternyata Jafar yang pendiam itu tidak lantas memiliki sifat slengean Yasin ayahnya. Meskipun berbeda pembawaan dengan Sidiq kakaknya. Namun Jafar tetap menuruni sifat Yasin yang sering membuat emosi lawan jadi naik. Sehingga kontrol psikologi lawan jadi berkurang. Dan ternyata Jafar pun saat ini meniru apa yang sering dilakukan Yasin.
Yasin jadi tersenyum geli mendengar perkataan Jafar, teringat dirinya dulu ketika berhadapan dengan musuh. Apalagi Jafar yang melakukan itu, seandainya Sidiq mungkin Yasin sudah gak kaget mendengarnya.
“Kurang ajar kamu bocah, tidak tahu berhadapan dengan siapa kamu rupanya.” Ucap Gagak Seta.
“Sudah hampir Mati juga masih bisa besar mulut rupanya.” Sahut Jaladara.
“Bukanya kalian yang menawarkan tadi.” Jawab Jafar dengan tenang seakan tak merasa gentar sedikitpun menghadapi dua murid Ki Munding Suro tersebut. Padahal Jaladara saja bisa menandingi Ki Bujang dari Kulon.
Gagak Seta dan Jaladara segera menggabungkan ilmu mereka Karang Hitam sebagai ilmu yang bisa digabungkan untuk melawan musuh.
Telapak tangan Gagak Seta dan Jaladara disatukan sementara tangan satunya lagi disilangkan di dada mereka. Beberapa menit kemudian keduanya bersiap melancarkan serangan ke Jafar. Jafar pun sudah bersiap dengan jurus Lebur Saketi nya untuk menyambut serangan dua bersaudara tersebut.
Ketika Gagak Seta dan Jaladara melompat menyerang Jafar Jafar pun menyambut serangan kedua orang tersebut dengan lambaran ilmu Lebur Saketi.
Suasana berubah menjadi hening, semua mata tertuju kepada JAfar dan dua bersaudara tersebut. Seorang pemuda belia yang melawan dua orang yang lebih dewasa sekaligus. Baik dari kubu lawan maupun dari kubu Jafar semua tegang termasuk Yasin Ayah Jafar.
Namun sedikit yang membuat Yasin tenang dia ingat kata kata Tohari jika Jafar saat ini kekuatan batinnya sudah melebihi dirinya. Sehingga sedikit bisa memberi rasa tenang kepada Yasin.
Dua ilmu yang dipadukan melawan ilmu Lebur Saketi milik jafar pun beradu di udara. Dan efek yang timbul sangat mengerikan. Ketiga tubuh mereka yang bertempur itu terpelanting semuanya. Beruntung Jafar memiliki tatar bayu sehingga dengan gerakan yang hampir tak terlihat mata. Jafar mampu menyeimbangkan tubuhnya. Bahkan dengan sekali gerakan mampu menyarangkan dua pukulan ke arah Gagak seta dan Jaladara dalam waktu yan sangat singkat.
Sehingga tubuh Gagak Seta dan Jaladara semakin jauh terpental. Gagak seta dan Jaladara tidak menduga sama sekali akan mendapat perlawanan yang kuat dari Jafar. Pemuda yang masih belia tersebut. bahkan sedikit terkesan meremehkan Jafar, sehingga kurang waspada.
Tubuh Gagak seta dan Jaladara yang meluncur deras akan membentur tanah itu tiba-tiba disambar seseorang yang baru datang dengan kecepatan yang luar biasa pula.
“Kalian jangan senang dulu, sekarang kalian bisa mengalahkan ketiga muridku. Tapi tunggulah sebentar lagi. Mereka yang akan menghabisi kalian semua.” Ucap Ki Munding Suro yang datang tiba-tiba.
__ADS_1
Tohari segera melompat menghadapi Ki Munding Suro karena Yasin belum pulih betul kesehatannya.
“Hai orang tua…jika kamu mau ikut campur maka aku lah lawan kam sekarang.” Ucap Tohari.
“Belum saatnya anak muda, akan tiba waktunya nanti kita akan bertarung antara hidup atau mati.” Jawab Ki Munding Suro.
Ki Munding suro lantas mengajak semua Muridnya untuk pergi. Namun sebelum melangkah pergi Ki Munding Suro mengatakan sesuatu kepada Yasin.
“Aku masih mau melanjutkan pertempuran kita yang kemarin tertunda. Aku yang akan hancur atau kamu yang akan jadi debu.” Kata Ki Munding Suro.
“Aku siap untuk memerangi kesesatan yang kamu lakukan. Tidak peduli aku kalah ataupun menang.” Jawab Yasin Kalem.
Kemudian Ki Munding Suro dan murid muridnya pun langsung pergi menjauh dari tempat tersebut.
“Alhamdulillah… hari ini kita masih dilindungi Allah Swt. Namun kita tetap harus selalu waspada.” Kata Tohari.
“Iya kang, bahaya akan terus selalu mengancam dan kejahatan memang tidak akan pernah lenyap dari muka bumi ini.” Jawab Yasin.
Mereka pun akhirnya kembali ke rumah Yasin. Yasin ingin segera Sidiq menyelesaikan laku spiritualnya agar segera menguasai ilmu Waringin Sungsang. Karena Sidiq dan Jafar lah yang kelak akan melanjutkan perjuangan Yasin.
…..
…..
…..
Dirumah Yasin
Wisnu sedang menemani Sidiq yang sedang melatih diri dan mempersiapkan lahir batinnya untuk mempelajari ilmu Waringin Sungsang. Salah satunya dengan membaca kalimat toyibah dan kalimah hauqola, untuk menghilangkan ego atau kesombongan diri.
Bacaan tahlil, Laa ilaha illallah...dibaca berkali kali dan dalam hati mengakui jika :
Tiada yang mampu menolong selain Allah.
Tiada yang mampu melindungi Selain Allah.
Tiada yang pantas dicintai kecuali Allah
Dan masih banyak lagi penjabaran kalimah toyyibah Tahlil yang kebanyakan orang hanya tahu satu makna tersurat. Tiada sesembahan yang Haq untuk disembah selain Allah. Namun kurang meresapi makna yang tersiratnya.
Sehingga banyak ahli membaca Kalimah Toyyibah Tahlil namun melakukan hal hal yang bertolak belakang dari makna tersirat yang ada.
Menganggap ada sesuatu yang bisa menolong selain Allah, merasa ada sesuatu yang bisa melindungi selain Allah. Sehingga perbuatan dan tingkah lakunya banyak yang dilakukan atas dasar pertimbangan “Penilaian” manusia semata. Lupa dengan konsep Kalimah Toyyibah dengan makna tersiratnya tersebut.
Sidiq digembleng Yasin untuk tidak sekedar mengucapkan saja. Akan tetapi harus bisa merasakan bahwa semua yang ada, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Sehingga tidak lagi ada keraguan dan was was yang menghantui dan membuat keyakinan kepada Allah menjadi luntur atau pudar. Karena semua itu adalah bujuk rayu Iblis untuk melemahkan Iman seseorang.
Wisnu mengawasi Sidiq yang dengan serius melafalkan dan menghayati setiap kali membaca kalimah Toyyibah tersebut. Wisnu juga heran seorang Sidiq yang dia kenal keras dan tempramental itu begitu khusyuk bahkan sampai berkali kali meneteskan air mata karena mengakui sebagai seorang Hamba.
“Ternyata hati Mas Sidiq itu juga lembut, tidak seperti penampilan luarnya.” Kata Wisnu dalam hati.
Beberapa saat kemudian Isna dan Utari memanggil Wisnu dan diajak keluar sebentar.
“Wisnu…ikut Mbak sebentar yuk…!” ajak Isna.
“Kemana Mbak ?” Tanya Wisnu.
“Ikut saja sebentar ini.” Kata Isna.
__ADS_1
Wisnu pun segera mengikuti Isna dan Utari, meninggalkan Sidiq yang baru khusyuk khusyuknya.
Sesampainya di lapangan tempat mereka biasa berlatih Isna dan Utari mengajak Wisnu untuk duduk sambil ngobrol membicarakan situasi yang tengah terjadi.
“Menurut kamu, kenapa Abi Yasin sampai harus diobati oleh Tabib Ali ?” Tanya Isna.
“Setahu Wisnu karena kemarin Abi Yasin habis bertempur dengan orang yang memiliki Ilmu Karang.” Jawab Wisnu.
“Kayaknya tidak hanya sekedar itu deh Wisnu, Sampai kang Sidiq juga harus diajarkan Ilmu Waringin Sungsang. Pasti sesuatu terjadi pada Abi Yasin, kalau tidak mana mungkin langsung menurunkan Ilmu ke Kang Sidiq.” Kata Utari.
“Maksud Mbak Tari Abi Yasin terluka parah ?” Tanya Wisnu kemudian.
Isna dan Utari hanya diam sejenak, agak ragu juga mereka untuk menyatakan pendapat mereka.
“Jujur Mbak agak khawatir atau curiga seperti itu Wisnu.” Jawab Utari.
“Terus apa yang bisa kita lakukan Mbak ?” Tanya Wisnu.
“Mau gak mau kita harus ikut membantu menjaga Umi Fatimah jika Abi Yasin sedang keluar rumah.” Jawab Isna.
Obrolan mereka terhenti ketika Yasin dan lainnya sudah sampai ke rumah. Mereka segera masuk kedalam rumah untuk mengetahui keadaan Yasin dan Jafar yang baru saja melakukan pertempuran dengan pihak musuh.
…..
…..
…..
Sementara di tempat lain Ki Munding Suro dan murid muridnya juga sudah sampai di tempat persembunyian mereka.
“Kenapa kalian nekat menemui Yasin dan keluarganya. Bukankah sudah aku bilang belum waktunya Wiratmojo.” Kata Ki Munding Suro.
“Ámpuni saya guru, Saya mengaku terburu buru tidak sabar untuk mengalahkan salah satu dari mereka.” Jawab Wiratmojo.
“Kamu tahu akibatnya kan, semua pulang dalam keadaan terluka seperti ini. Padahal nanti malam kita kan melakukan Ritual Pancamakarapuja.” Ucap Ki Munding Suro.
Semua hanya tertunduk tak berani bicara bahkan mengangkat muka.
“Sudahlah Ki MUnding, mending semua kita obati dengan Sewu Prewangan, biar Gede Paneluh yang melakukan ritual tersebut.” Jawab Ki Marto.
“Baiklah, sekarang siapkan uborampe untuk pengobatan. Agar nanti malam mereka bisa ikut ritual.” Ucap Ki Munding Suro.
Dengan segera Ki Marto menyuruh semua untuk mempersiapkan ritual pengobatan menggunakan kain kafan yang dulu dicuri oleh Jalu. Semua yang terluka diobati satu persatu oleh Gede Paneluh. Dan hanya dalam waktu singkat mereka pun sembuh dari luka luka yang dialami ketika bertempur sebelumnya.
Namun semua jadi terkejut karena bola mata Wiratmojo, Gagak Seta, Jaladara dan Jalu berubah menjadi merah menyala. Seperti bukan mereka yang sebelumnya, bahkan pandangan matanya pun berubah menjadi semakin bengis dan seakan haus darah.
“Aku sudah tidak sabar ingin segera melakukan Pancamakarapuja, bau darah gadis suci dan daging Gurihnya sudah sangat tercium aromanya…!” Ucap Wiratmojo seperti serigala yang haus darah…!!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...