
...Reuni dengan Pak Yadi...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Ada benarnya juga perasaan Jafar tadi, aku pun sekarang juga merasa was was begini. Aah sudahlah aku persiapan sholat jumat dulu saja. Segera aku Mandi keramas agar hilang semua gangguan dan bisikan setan yang membuatku was was. Jika itu adalah bisikan setan, namun jika itu adalah firasat dari hati semoga tidak terjadi hal yang membahayakan keluargaku, batinku berdoa…!
Aku segera mengajak anak anakku juga Ihsan untuk pergi ke Masjid melaksanakan Sholat Jumat.
…..
…..
…..
Aku segera pulang setelah selesai Sholat, karena kepikiran Isna. Tapi ternyata Isna sudah di rumah saat aku sampai.
“Loh sudah pulang Isna ?” tanyaku.
“Iya bi, Abi berangkat tadi Isna pas sampai depan Masjid.” Jawab Isna.
“Syukurlah, tadi rencana Abi mau Jemput Isna. Besok aku antar jemput lagi saja sementara.” Kataku pada Isna.
“Kenapa bi, apa ada sesuatu ?” tanya Isna.
“Gak hanya takut kamu pacaran saja pulang sekolah.” Gurauku agar Isna tidak panik kalau aku jujur kondisi yang agak kurang bersahabat.
“Iih abi, gak lah bi Isna juga masih ingin sekolah dulu.” Jawab Isna.
“Yah jadi beli Bakso gak ?” Tiba tiba Nisa datang menagih jajan.
“Iya nanti nunggu mas Sidiq, Mas Jafar dan Ihsan sekalian.” Jawabku.
Tak lama kemudian Sidiq datang bareng Ihsan sementara Jafar berjalan dibelakang mereka.
“Pantas Jafar banyak dibilang Kaku, jalan saja pandangan lurus ke depan terus beda sama Sidiq kakaknya yang suka tengak tengok kiri kanan menyapa siapa saja yang dilihat.” Kataku dalam hati.
Anak tiga juga tiga karakter, batinku namun aku bersyukur mereka selalu rukun meski berbeda karakternya.
“Ayo yah, Nisa sudah pengen makan Bakso nih !” protes Nisa.
Aku pun menuruti keinginan Nisa, mengajak semua jajan bakso kecuali Fatimah lebih memilih dirumah sambil jaga warung.
“Bungkusin gak Fat ?” tanyaku.
“Gak lah, kemarin juga habis makan bakso kok. Masakan Fatimah gak ada yang makan nanti.” Jawabnya.
“Tenang buat nanti sore saja kan bisa.” Jawabku.
Aku kemudian meninggalkan Fatimah sendiri, berjalan sama anak anak menuju warung bakso terdekat.
*****
*****
*****
Author POV
Sepeninggal Yasin dan anak anaknya, Fatimah menunggu warung kelontongnya sendirian sambil baca baca buku. Sesekali berhenti karena melayani pembeli yang datang belanja.
“Eeh bu Fat sudah dengar belum di desa Sebelah ada pembunuhan, dua orang dibunuh di pinggir sungai kepalanya pecah semua. Seperti habis dipukul benda keras…!” Ucap seorang ibu yang belanja.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… siapa buk korbannya ?” Tanya Fatimah.
__ADS_1
“Penduduk setempat bu, yang baru saja membuka pintu air untuk giliran mengairi sawah.” Jawab ibu itu.
“Yaa Allah Fatimah jadi merinding bu, kok ada saja kejadian begitu ya. Terus sudah dilaporkan ke Polisi belum ?” Tanya Fatimah.
“Sudah bu, sudah dalam penyelidikan Polisi sekarang.” Jawab ibu itu.
“Semoga pelakunya cepat tertangkap biar kondisi aman lagi.” ucap Fatimah.
“Aamiin bu,,, Orang jadi pada ketakutan sekarang bu Fat. Terutama yang suka keluar malam buat mengairi sawah. Lah kayak suamiku yang tiap malam harus mengairi sawah kan juga jadi ngeri bu.” Ucap ibu yang belanja tersebut.
“Banyak berdoa saja bu, semoga suaminya tidak kenapa napa. Dan jangan sampai merembet ke Desa kita, apalagi dusun kita ini.” Jawab Fatimah.
“Iya bu,,, tapi apa suami ibu udah dengar ini ?” tanya ibu itu.
“Belum sih kayaknya, tadi gak bilang apa apa malah sekarang lagi pada jajan sama anak anak.” jawab Fatimah.
“Sebenarnya banyak warga yang berharap suami ibu bisa Patroli seperti dulu lagi bu. Soalnya di kampung kita ini yang berani dan bisa melawan penjahat kan hanya suami ibu.” Kata ibu itu.
“Itu kan dulu bu, kalau sekarang suami saya sudah tua sudah pensiun dari hal tersebut.” Jawab Fatimah.
“Terus bagaimana dong bu Fat, kan warga jadi pada ketakutan begini.” Kata ibu tersebut.
“Gini saja, mulai sekarang jangan sampai sendirian kalau mengairi sawah. Ramai ramai biar mencegah tindak kejahatan.” Jawab Fatimah.
Sampai sudah selesai belanja ibu tersebut masih saja ngobrol dengan Fatimah. Bahkan hingga Yasin dan anak anaknya kembali ke rumahnya.
“Eeh bapak baru pulang jalan jalan pak ?” tanya ibu tersebut.
Yasin agak kaget disapa begitu, karena tidak biasanya ibu tersebut begitu. Apalagi saat dirinya terpuruk kemarin, bertemu pun pura pura gak lihat.
“Iya bu, ini anak saya Nisa ngajak jajan Bakso.” Jawab Yasin.
“Owh Nisa, tambah cantik saja lah yang dua ini siapa pak kok cantik cantik juga ?” tanya ibu itu menanyakan Isna dan Utari.
“Ini anak sahabat saya bu, sekolah disini dan tinggal bersama kami. Saya juga sudah lapor pak RT kok bu.” Jawab Yasin.
“Iya pak gapapa kok, tapi sebenarnya ada yang mau saya sampaikan pak.” Ucap ibu itu.
“Di Desa sebelah ada peristiwa pembunuhan pak semalam. Korbannya dua orang yang piket mengairi sawah untuk warga.” Kata Ibu tersebut.
“Sudah ditangani pihak Yang berwajib apa belum bu ?” tanya Yasin.
“Sudah pak, hanya dampaknya warga sini juga pada ketakutan. Soalnya takut merembet kesini seperti peristiwa dahulu itu pak.” Jawab ibu itu.
Secara manusiawi Yasin sebenarnya agak jengkel dengan orang tersebut. Saat keluarganya terpuruk dalam hal ekonomi hampir tiap hari digunjing oleh ibu tersebut, yang dibilang gak mau kerja lah, hanya mengharap bantuan lah. Belum lagi tuduhan tuduhan yang menyakitkan lain. Tapi ketika ada masalah larinya ke Yasin juga, untung saja Yasin ingat nasehat abah gurunya saat di pesantren dulu. “Kalau menolong orang jangan berharap orang itu menolong kamu juga saat kamu sedang susah. Biarlah amal kamu Allah yang membalas, jangan berharap imbalan apapun dari manusia karena hasilnya akan kecewa.” Kata kata abah gurunya Yasin itu dipegang betul oleh Yasin. Dan memang begitulah kenyataan hidup.
Jika sedang dibutuhkan orang, semua akan mendekat karena punya Pamrih. Tapi saat tidak lagi dibutuhkan jangankan dekat bertemu saja malas apalagi saat sedang terpuruk seperti Yasin beberapa saat sebelumnya.
“Ya kita lihat dulu bu, semoga saja kejadian itu tidak merembet kemari dan bukan merupakan kejadian berantai. Semoga itu hanya kasus pribadi saja yang tidak berkepanjangan.” Jawab Yasin tetap dengan sabar.
“Tapi kalau ternyata jadi kasus yang merembet bagaimana pak ?” desak ibu itu.
“Biar Polisi nanti yang menangani bu, yang penting kita tetap harus waspada saja.” Jawab Yasin.
Akhirnya ibu itu pun pulang dengan sedikit kecewa, karena berharap Yasin mau berpatroli seperti dahulu saat Yasin menghadapi musuh musuhnya dan melawan serigala jadi jadian Jelmaan Mentorogo Cs. “dianggap aku ini SATPAM dusun apa, main nyuruh nyuruh saja.” Batin Yasin yang sebenarnya jengkel dan masih sedikit sakit hati ingat ketika dirinya jadi bahan gunjingan kemarin.
“Yah, ayah gak bertindak yah ? Siapa tahu itu ada hubungannya dengan yang kita hadapi saat ini.” Tanya Sidiq.
“Ayah mau fokus dengan satu masalah saja Sidiq, lagian itu bukan ranah kita karena TKP nya juga d Desa lain bukan disini.” Jawab Yasin.
Belum selesai mereka berbincang datang seseorang berpakaian Polisi dikawal oleh dua anak buahnya.
“Assalaamu ‘alaikum…!” Sapa orang tersebut.
“Wa’alaikummussalaam…!” Jawab Yasin sambil memandangi Polis tersebut.
“Pak Yasin lupa dengan saya ?” tanya orang tersebut.
“Sebentar,,, lupa lupa ingat sih…! Kalau tidak salah bapak ini pak Yadi kan ?” ucap Yasin, setelah memperhatikan dan mendengar suaranya baru ingat jika Polisi itu adalah pak Yadi. Yang dulu pernah ikut berjuang menghancurkan Padepokan Joyo Maruto bersama Sena saudaranya.
“Betul sekali pak, maaf sekali saya lama tidak sowan kesini. Karena pasca peristiwa dulu itu tak lama kemudian saya dipindah tugaskan di kota Lain pak.” Kata Pak Yadi.
__ADS_1
“Owh pantas,,, gak pernah kelihatan sama sekali. Saat ini sedang liburan tau bagaimana ini pak ?” Tanya Yasin.
“Mas, tamunya ajak masuk rumah dulu masak ngobrolnya di luar sih…!” ucap Fatimah.
“Aduuh maaf sampai lupa pak, mari silahkan masuk dulu pak…!” ucap Yasin pada Pak Yadi.
Kemudian pak Yadi dan dua anak buahnya itu masuk ke rumah Yasin.
“Saya sekarang kembali bertugas di kota ini pak, jadi mohon maaf pak jujur saja saya kesini kembali mau minta bantuan dan pertolongan pak Yasin lagi. maaf pak, kalau saya kesini selalu merepotkan pak Yasin dari dahulu.” Kata pak Yadi.
“Tidak Usah sungkan pak, kita kan sudah seperti saudara dari dahulu. Apa yang sekiranya bisa saya bantu ?” tanya Yasin.
“Bagaimana ya saya harus memulai bicara nya ?” ucap Pak Yadi.
“Sudah pak, sampaikan saja jangan ragu ragu pak.” Kata Yasin.
“Saya mau minta bantuan pak Yasin, membantu menyelidiki kasus pembunuhan yang agak unik pak ?” kata pak Yadi.
“Unik bagaimana pak ?” tanya Yasin.
“Lukanya yang Unik pak, kalau dilihat jelas penyebab kematian adalah benda tumpul dank eras. Tapi dari bekas lukanya itu membentuk bekas kepalan tangan manusia pak. Apa mungkin pukulan tangan manusia bisa menyebabkan kepala seseorang bisa pecah ?” tanya Pak Yadi.
Yasin terdiam sesaat, mencoba merunut satu demi satu peristiwa yang terjadi sebelumnya sejak dia datang ke Pesantren Sidiq dan harus menemui Sidiq ke Al-Huda. Kemudian peristiwa jika Sidiq mengalami patah Kaki hingga Jafar mengamuk di padepokan. Dan akhirnya Yasin berhasil menyusup ke padepokan tersebut dan mendengar beberapa rencana Marto Sentono yang akan mengumpulkan kerabat dan sahabatnya. “apakah akan membawa keturunan Maheso Suro juga, yang punya ajian seperti itu ?” kata Yasin dalam hati.
“Saat ini saya belum bisa memberi keterangan lebih lanjut pak Yadi, butuh waktu untuk saya menyelidiki baik secara lahiriyah maupun secara Batiniyah.” Jawab Yasin.
“Iya pak gak papa pak, tapi sebagai gambaran sebelum kejadian ada seseorang yang menitipkan mobil ke salah satu warga dekat TKP pak. Dan alasanya orang itu mau memancing, dan memang membawa Tas besar yang katanya adalah alat alat Pancing.” Kata Pak Yadi
“Lokasi tepatnya dimana itu pak ?” Tanya Yasin.
“Di pinggir sungai pak, Pas di Tempuran sungai dekat dusun XXXX itu pak.” Jawab Pak Yadi.
“Di Tempuran Sungai pak ?” Tanya Yasin kaget.
“Iya pak, ada apa dengan Tempuran Sungai ?” Tanya pak Yadi.
“Ah Gak kok,,, saya belum bisa membayangkan pak.” Jawab Yasin.
“Maaf ini pak, jadi maksut saya kalau pak Yasin tidak keberatan bisa ikut saya melihat TKP bagaimana ?” tanya pak Yadi.
Yasin agak bimbang, apabila itu ada kaitanya dengan orang yang diundang Marto Sentono tentu akan ada orang yang ikut mengawasi di TKP juga dengan pura pura melihat. Dan bisa jadi akan ketahuan jika Yasin adalah dirinya dan itu merusak rencana yang sudah dia siapkan.
“Sebentar pak, saya tidak mau kesana dalam kondisi ramai penonton. Bagaimana jika kita kesana berdua atau bertiga saja, agar saya bisa fokus dan itu harus malam hari untuk menghindari keramaian.” Kata Yasin.
“Boleh pak, nanti saya ajak satu personil saja buat jaga jaga, yang ke TKP langsung cukup kita berdua saja.” Jawab Pak Yadi.
“Betul pak, dan satu lagi pak sementara jangan panggil saya Yasin pak. Tapi panggil saya dengan sebutan lama saya Zain saja. Karena saat ini Yasin sedang menjadi buruan seseorang.” Jawab Yasin.
“Baik pak Ya.. Eh Pak Zain,,, pak Zain siapa yang memburu ?” tanya pak Yadi.
“Kerabat dari Musuh lama kita, dan ada kemungkinan juga berhubungan dengan peristiwa ini pak.” Jawab Yasin.
Pak Yadi kaget dan terbelalak, tidak menduga jika dirinya dipindahkan lagi tugasnya di Yogyakarta akan dihadapkan dengan musuh musuh lama atau keturunannya.
“Berarti ini akan adi Nostalgia kita dong pak, ajak pak Sena dan lainya juga pak.” Kata pak Yadi.
“Maaf pak, tapi adik saya Zulfan sudah tidak ada, jadi korban pengeroyokan waktu itu.” Kata Yasin jadi sedih ingat Zulfan. Dan itu juga yang membuat Yasin ragu mengajak saudaranya ikut bergabung saat ini…!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1