Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Penyelamatan Nisa 2


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Penyelamatan Nisa 2...


"Diam kamu, aku yakin anak ini tidak akan punya pilihan lain. Adikmu tetap akan selamat,” kata Ki Ajar.


“Baik, aku akan bawa Jaladara, buat jaminan. Jika kalian ingkar maka, semua akan merasakan akibatnya,” jawab Jafar.


Jafar segera membawa Jaladara pergi dari markas Ki Ajar Panggiring. Jafar tidak ingin ada satu orang pun yang mengikutinya. Maka ketika ada seorang yang diam diam mengikuti, dengan sigap Jafar menendang sebuah batu ukuran sedang. Batu tersebut diarahkan orang yang mengikutinya, sehingga orang tersebut jatuh kesakitan.


“Jangan coba coba mengikuti aku,” kata Jafar.


“Orang tersebut hanya diam, tidak menjawab. Namun juga tak berani mengikuti Jafar lagi. Jafar segera berbalik arah, setelah yakin tidak ada yang mengikuti. Dibawalah Jaladara ke tempat Sidiq, yang telah bersama sama Yasin dan Kholis. Yasin pun segera menghampiri Jafar, diikuti oleh Sidiq dan Kholis.


“Kenapa kamu bawa dia Jafar? Bukan membawa Nisa saja?” tanya Sidiq heran.


“Maunya sih bawa Nisa sekalian, tapi keburu Nisa terancam pedang. Sehingga aku terpaksa bawa orang ini untuk jaminan keselamatan Nisa,” jawab Jafar.


“Jaminan keselamatan Nisa bagaimana Jafar. Coba kamu jelaskan,” kata Yasin.


“Ki Ajar membuat sebuah kesepakatan, sampai besok siang aku harus bisa bawa Ayah ke tempat mereka. Kalau tidak Nisa akan dibakar hidup hidup, Jafar jadi bingung,” jawab Jafar.


Semua tegang mendengar keterangan Jafar, terutama Sidiq yang sampai menggigit kuat gerahamnya.


“Kenapa tidak kita serbu sekarang juga?” kata Sidiq.


“Jangan, itu justru membahayakan Nisa nantinya,” kata Yasin.


“Lalu bagaimana rencana ayah?” tanya Jafar.


“Ikat orang itu dulu, lepaskan titokanmu Jafar,” kata Yasin.


Kemudian Jafar mengikat Jaladara dengan kuat, sebelum membuka totokannya.


“Ah lega sekarang, kenapa gak dari tadi saja buka totokan kamu? Ada yang mau aku bicarakan dengan kalian,” kata Jaladara dengan santai, seakan gak punya salah.


“Kurang ajar, sudah tertangkap masih saja banyak bicara,” bentak Sidiq.


“Sabar Diq, tidak boleh main kasar. Ingat Nisa juga ada di tangan musuh saat ini,” kata Yasin.


Sidiq pun luluh, tangan yang sudah siap memukul Jaladara itu diturunkan kembali.


“Kalau sampai adikku kenapa napa, kamulah orang pertama yang akan aku cari,” bentak Sidiq.


“Sabar anak muda, aku dan kakakku Gagak Seta yang menculik adikmu. Tapi itu semua karena kami tidak tahu, jika kalian adalah keturunan Begawan Sanjaya,” ucap Jaladara.


Yasin dan kedua anaknya terkejut, mendengar ucapan Jaladara.


“Darimana kamu tahu jika kami keturunan, begawan Sanjaya. Terus apa hubungan kamu dengan begawan Sanjaya?” tanya Yasin.

__ADS_1


“Ha ha ha…aku adalah keturunan Gandring Kasmo, adik sepupu Begawan Sanjaya. Dari anak Gadismu aku tahu kaliyan keturunan Nyai Endang Pertiwi,” kata Jaladara membuat Yasin dan kedua anaknya terkejut.


“Lalu kalau sudah tahu demikian, apa rencanamu sekarang?” tanya Yasin kepada Jaladara.


“Aku tahu kita berbeda, semuanya berbeda. Keyakinan berbeda, jalan hidupmu berbeda, aku mau kita jalan masing masing saja. Tidak usah saling mengurusi keyakinan kita,” jawab Jaladara.


“Mana bisa begitu, kamu sudah menculik adikku. Sekarang mau lepas tangan begitu saja?” protes Jafar.


“Percayalah, aku akan bantu kalian. Tapi setelah adikmu lepas, kita tidak usah saling berurusan lagi,” kata Jaladara.


“Dengan apa aku bisa percaya denganmu?” tanya Jafar.


Sementara Yasin mencoba mengamati Jaladara dengan mata batinnya. Memang Jaladara diikuti oleh banyak Khodam yang mengerikan, namun Yasin tidak melihat tanda kebohongan dari ucapan Jaladara.


“Orang ini memang bersekutu dengan Jin, tapa ucapannya seperti jujur. Aku harus waspada, tidak boleh gegabah,” kata Yasin dalam hati.


“Tunggu Jafar, biar Ayah yang bicara,” kata Yasin.


Jafar pun kemudian diam, memberi kesempatan kepada Ayahnya untuk bicara dengan Jaladara.


Yasin terlebih dahulu memegang pundak Jaladara, sehingga Jaladara heran apa yang dilakukan Yasin padanya. Kemudian Yasin bicara Pelan dengan Jaladara.


“Apa yang kamu pikirkan sekarang?” tanya Yasin sambil membaca doa doa khusus untuk menundukkan Khodam yang mengikuti Jaladara.


“Apa yang kamu lakukan padaku, kenapa aku merasa jadi sangat lemah saat ini?’ jawab Jaladara.


“Aku hanya mau bicara denganmu saja, buka dengan makhluk astral yang mengikuti kamu,” kata Yasin.


Jaladara tertunduk, merasa kehilangan banyak kekuatan setelah pundaknya disentuh Yasin.


“Aku mau pulang saja bersama kakakku Gagak Seta, tapi kalian jangan senang dulu. Meski aku tidak akan menjadi lawan Kalian Raja Khodam  milik Begawan Sanjaya dulu sudah bergabung dengan Ki Ajar Panggiring,” kata Jaladara.


Sidiq dan Jafar baru sedikit percaya dengan ucapan Jaladara. Karena Jafar dan Sidiq juga pernah mendengar hal itu dari Kyai Syuhada langsung. Bahkan mengatakan jika ada musuh yang masih keturunan kerabat Begawan Sanjaya.


“Sebenarnya apa yang membuat kamu tidak mau melawan kami. Karena Begawan Sanjaya adalah leluhur Jauh kita. Termasuk juga leluhurmu Ki Gndring Kasmo,” tanya Yasin.


“Kalau dari aliran darah memang sudah sangat jauh, tapi ikatan sumpah yang leluhurku buat yang tidak berani kami langgar,” jawab Jaladara.


“Sumpah? Sumpah dengan siapa dan sumpahnya bagaimana?” tanya Yasin.


Kemudian Jaladara, menceritakan, jika dulu Ki Gandring dan Begawan Sanjaya sempat berseteru. Akibat Nyai Endang Pertiwi menjadi Istri Kyai Mustholih. Bukan karena perbedaan umur yang sangat jauh. Tapi karena Endang ( anak Begawan ) adalah Gelar yang terhormat waktu itu. kenapa harus mengikuti keyakinan Kyai Mustholih, sudah begitu Kyai Mustholih sendiri sudah beristri pula.


Namun pasca pertarungan, keduanya membuat kesepakatan yang intinya Tetap membiarkan Endang Pertiwi memilih jalan hidupnya. Soal perbedaan keyakinan antara keturunan Ki Gandring dengan keturunan Endang Pertiwi tidak boleh menjadi permusuhan. Meski semua harus berjalan sesuai dengan keyakinan yang dianut masing masing.


“Jadi karena itu, kamu tidak mau melawan kami?” tanya Yasin.


“Kamu tahu, sumpah kami akan kami pegang teguh. Bukan karena takut kepadamu atau kedua anakmu,” jawab Jaladara.


Kemudian Yasin mencoba menguji Jaladara., Yasin memerintahkan Jafar melepas ikatan Jaladara.


“Jafar, coba kamu lepas ikatan Jaladara,” Perintah Yasin.


“Tapi Yah?” jawab Jafar agak ragu.


“Ikuti saja kata Ayah?’ ucap Yasin.


Jafar pun menuruti perintah Ayahnya, ikatan Jaladara dilepas semua. Namun demikian Jafar dan Sidiq tetap bersiaga dengan segala kemungkinan.

__ADS_1


“Kenapa kamu melepaskan aku? Bukankah aku bisa saja membunuh kalian dengan ilmu karang yang aku miliki?” kata Jaladara.


“Lakukan saja jika kamu mau, aku juga memiliki Aji Waringin Sungsang untuk menghadapi ilmu karangmu,” jawab Yasin santai.


“Aku percaya, sekarang apa yang ingin kalian lakukan padaku?” tanya Jaladara.


“Aku sebenarnya muak lihat kamu, menurutku lebih baik kamu kembali ke markas mu saja. Aku gak ingin melihat wajahmu, wajah orang yang telah menculik anak gadisku,” kata Yasin.


Sidiq,  Jafar dan Kholis semakin bingung dengan apa yang dikatakan Yasin. Namun ketiganya percaya, jika Yasin sedang merencanakan sesuatu. Meski belum tahu rencana apa itu.


“Kamu serius, tidak takut aku membantu mereka membunuh anak kamu?” tanya Jaladara.


“Kalau itu sampai terjadi, maka aku yang akan menghukum kamu dan kakakmu berikut seluruh keluarga dan kerabatmu,” jawab Yasin.


Jaladara pun dilepaskan pergi, setelah agak jauh barulah Kholis bertanya pada Yasin.


“Maaf Abi Yasin, bagaimanapun orang itu adalah musuh yang telah menculik Nisa. Bagaimana mungkin dilepaskan begitu saja?” tanya Kholis.


“Aku tidak melepaskan dia begitu saja. Aku hanya ingin melihat kebenaran ucapannya tadi,” jawab Yasin.


Semua mendengar jawaban Yasin menjadi heran, rencana apalagi yang akan diterapkan Yasin.


“Lalu bagaimana Yah , langkah kita selanjutnya?’ tanya Sidiq.


“Kamu dan Ayah buntuti dan amati gerak gerik Jaladara. Sedangkan Jafar pergi ke tempat Farayaka, Kholis ke Pesantren. Minta bantuan ke sana, ke markas Farayaka dan kedua Pesantren Al-Huda dan Alhikmah.


Barulah semua bisa memahami siasat yang akan diterapkan Yasin. Diam diam Yasin dan Sidiq akan mengawasi Jaladara, sementara Jafar dan Kholis meminta bantuan ke tempat Farayaka dan dua Pesantren anaknya.


“Lalu bagaimana siasat besok Yah, bukankah Ayah yang harus menggantikan Nisa?” tanya Jafar.


“Maka dari itu, butuh siasat dan tambahan bantuan personil. Farayaka dan anak buahnya, naik lewat tebing dengan ilmu dan peralatan Ninja. Sehingga  tidak diketahui kehadirannya, kemudian menyerang markas Ki Ajar, tepat saat Nisa dilepaskan dan aku akan menggantikan posisi Nisa,” jelas Yasin.


“Apa itu tidak berbahaya Yah?” tanya Sidiq.


Tidak ada cara lain, dan saat itu kalian juga harus membantu membawa Nisa pergi dan serahkan kepada Kyai Syuhada. Kemudian sebagian lagi membantu menangkap Ki Ajar Panggiring, hidup atau mati,” kata Yasin.


Sidiq kembali kagum dengan siasat Ayahnya tersebut, semakin mengakui jika masih harus banyak belajar kepada ayahnya. Kemudian mereka pun berpisah, Yasin dan Sidiq menyusup ke Markas musuh. Sedangkan Jafar dan Kholis kembali ke Pesantren dan Jafar langsung ke tempat Farayaka. Sementara, Kholis menghubungi pihak Pesantren Al-Hikmah juga.


Mereka berjanji bertemu di satu tempat, untuk mematangkan rencana. Sedangkan Jafar diberi tugas memberi penjelasan kepada Farayaka dan anak buahnya.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2