
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Sidiq & Jafar berbagi tugas 1...
Ihsan segera kembali ke tempat Sidiq dan melaporkan kepada Sidiq hasil pengamatannya.
“Jadi ini, kenapa kita diminta Abah Guru ke Pesantren Al-Huda. Apa sebaiknya kita hadapi sekarang saja?” ucap Sidiq Emosi.
“Jangan Diq, kita punya tugas khusus dari Abah Guru kita. Menemui Kyai Syuhada,” kata Ihsan.
“Tapi menurutku, kita diperintah Abah Guru kita untuk menghalangi dua orang itu,” jawab Sidiq.
“Apa kamu lupa, kalau Kyai Syuhada yang akan memberi penjelasan apa yang harus kita lakukan. Begitu yang di pesan Abah Guru,” kata Ihsan.
Sidiq baru ingat dengan pesan Kyai Nurudin, dalam hati Sidiq berkata. “Pantas Abha Guru menyuruh aku mengajak Ihsan, agar ada yang mengingatkan aku jika lepas kendali,”
Sidiq pun akhirnya bisa menahan emosinya, kini rasa khawatir Sidiq bertambah. Sidiq sangat menyayangi Nisa adik perempuannya dari kecil. Bagi Sidiq keselamatan adik adiknya adalah tanggung jawabnya. Meski mereka lahir dari ibu yang berbeda.
“Baiklah San, segera selesaikan makan dan kita segera berangkat. Jangan sampai kedahuluan dua orang itu,” kata Sidiq.
Ihsan dan Sidiq pun segera menyelesaikan urusan mereka di warung. Kemudian segera melanjutkan perjalanan ke Pesantren Al-Huda untuk menemui Kyai Syuhada. Satu hal yang jadi pemikiran Sidiq, kenapa Kyai Nurudin tidak menyebut nama Jafar adiknya. Padahal jelas Jafar yang tinggal di pesantren Al-Huda bersama Nisa.
Tak ingin larut dalam pemikiran dan prasangka, Sidiq pun kembali fokus kepada tugas yang dijalankan. Menemui Kyai Syuhada dan siap menerima perintah dari Kyai Syuhada, dengan atau tanpa Jafar.
…..
Sementara itu Jafar yang sudah berada di rumahnya, sedang berbincang khusus dengan Ayah dan Bundanya.
“Apa kata Abah gurumu Jafar? Kenapa kamu diutus pulang ke rumah semalam?” tanya Yasin.
“Abah tidak mengatakan banyak, hanya bilang jika Ayah butuh bantuan Jafar, malam ini,” jawab Jafar.
“Apa ada hubungannya dengan kejadian kejadian sebelumnya, Jafar?” tanya Fatimah.
“Jafar tidak tahu Bunda, Jafar hanya mengikuti perintah Abah guru saja,” jawab Jafar.
“Sepertinya, Abah gurumu dan Abah gurunya Sidiq sudah saling koordinasi,” ucap Yasin.
“Maksudnya bagaimana Yah?” Jafar penasaran dengan keterangan Ayahnya.
“Fatimah, kamu jangan kaget dan khawatir, kalau aku bicara terus terang,” kata Yasin.
Jafar pun semakin penasaran, sementara Fatimah malah jadi sedikit khawatir. Seakan Yasin suaminya menyimpan rahasia besar.
“Ada apa sih Mas, kok kayaknya ada sesuatu yang sangat genting,” tanya Fatimah.
“Pihak musuh sudah tahu, jika kita punya anak Gadis bernama Nisa,” ucap Yasin.
Baik Fatimah maupun Jafar jadi terperanjat kaget, saat itu mereka semua jadi kepikiran dengan Nisa.
“Terus, kenapa malah Jafar disuruh kemari?” tanya Fatimah.
“Itulah, kelebihan dari Kang Syuhada dan kang Nurudin,” jawab Yasin.
“Kelebihan bagaimana? Kan yang jelas diancam Nisa, kenapa malah Jafar yang diminta pulang kerumah?” kata Fatimah.
__ADS_1
“Sidiq saat ini yang diminta menggantikan posisi Jafar di sana,” ucap Yasin.
“Mas Sidiq? Bukannya baru sore tadi Mas Sidiq sampai ke Pesantren Al Hikmah?” tanya Jafar.
“Iya, dan langsung disuruh ke Pesantren Al-Huda,” jawab Yasin.
“Terus kenapa Jafar malah yang disuruh pulang Yah, bukan Mas Sidiq saja?” tanya Jafar.
“Karena kamu baru disuruh hemat tenaga, lawan kamu nanti adalah Jin Raja Khodam yang akan muncul,” jawab Yasin.
“Maksunya, dua murid Ki Munding Suro yang melawan hanya Mas Sidiq?” tanya Jafar.
“Tidak, Sidiq akan di bantu oleh Ihsan dan Kholis malam ini,” jawab Yasin.
“Tapi bagaimana dengan Nisa nanti Mas?” tanya Fatimah.
Yasin agak bingung menjawab pertanyaan Fatimah. Dalam bayangan Yasin, atau berdasarkan pandangan mata batin dan Isyaroh yang dia terima. Nisa memang akan mendapatkan ujian yang berat, meski endingnya juga akan selamat. Namun tetap saja itu menimbulkan keguncangan di keluarga Yasin. Seperti halnya saat Riska, ditawan di Markas Ki Marto Senotono dulu. Namun kali ini adalah Nisa anak kandung Yasin dan Fatimah. Sehingga berat sekali bagi Yasin menerima hal tersebut.
Apa yang dilakukan Yasin hanyalah berupaya hal tersebut tidak sampai terjadi. Yang dikhawatirkan Yasin adalah Fatimah dan kedua anak lelakinya. Terutama Sidiq yang emosinya kadang masih labil.
“Kita berdoa saja, semoga Nisa tidak kenapa napa,” jawab Yasin.
“Iya Yah, terus bagaimana dengan keselamatan keluarga yang dirumah ini Yah?” tanya Jafar.
“Tiap malam kita, melakukan Mujahadah khusus untuk memohon perlindungan,” jawab Yasin.
“Kalau begitu, Ayah segera mulai saja Mujahadahnya. Biar Jafar yang berjaga, jika ada sesuatu.” Kata Jafar.
“Jangan keluar dari rumah, cukup kamu jaga dalam rumah saja. Jika sesuatu terjadi, awasi Farayaka, jangan sampai dia lepas kendali lagi,” kata Yasin.
“iya Yah,” jawab Jafar singkat.
Jafar agak kurang srek, mengawasi Farayaka. Namun karena itu perintah Ayahnya Jafar hanya mengikuti saja. Yasin dan Fatimah pun segera bersiap melakukan mujahadah malam. Sementara Jafar bersiap menjaga segala kemungkinan yang terjadi.
…..
Â
Jafar yang berjaga terkejut, hampir saja melangkah keluar. Namun untungnya masih ingat pesan Yasin ayahnya, agar tida keluar rumah. Sehingga Jafar melihat kondisi Farayaka sesuai dengan pesan ayahnya.
Jafar menengok ke kamar Farayaka, sepintas tidak ada yang mencurigakan. Namun beberapa detik kemudian tampak Farayaka keluar dari kamarnya. Berjalan seperti orang tak sadar seperti sebelumnya.
Untunglah Yasin sudah selesai berdoa, sehingga cepat memerintahkan Isna dan Utari menenangkan Farayaka. Dengan membacakan doa doa pengusir Jin jahat yang merasuk ke Farayaka.
Â
Farayaka akhirnya bisa kembali sadar, namun belumlah Farayaka betul betul pulih. Sufi yang kemudian berteriak teriak, bukan atas kehendaknya sendiri. Yasin segera memerintahkan Jafar untuk menggunakan Stambul Al-Quran. Membaca doa doa dalam Al-Quran untuk membantu mengusir para khodam yang mengganggu keluarga tersebut.
Farhan pun sibuk menenangkan Sufi istrinya yang sudah dirasuki Khodam jahat. Sementara Yasin membantu dengan menggunakan mata batinnya melihat keadaan sekitar rumahnya.
“Jafar, diluar masih banyak makhluk Astral. Coba lakukan sesuatu untuk mengusir makhluk yang di sini. Ayah akan usir yang di luar,” kata Yasin.
“Jangan Yah, biar Jafar yang keluar. Takutnya ada yang mengikuti mereka yang berwujud manusia,” jawab Jafar.
“Kemungkinan tidak ada kalau yang wujud manusia, tapi kalau yang wujud Jin tapi menyerang seperti manusia ada,” jawab Yasin.
“Baiklah Yah, Jafar siap untuk menghadapi semua kemungkinan,” ucap Jafar.
Kemudian Jafar pun melangkah hendak keluar rumah. Namun ditahan sementara oleh Yasin.
“Tunggu Jafar, Ayah akan bantu buka mata batinmu,” kata Yasin.
Kemudian YAsin membaca doa tertentu kemudian mengusap wajah Jafar.
__ADS_1
“Keluarlah kamu sekarang, jangan kaget jika lihat sosok sosok yang menakutkan,” kata Yasin.
“Iya Yah, mohon doa restunya saja,” jawab Jafar.
Jafar pun segera membuka pintu dan melangkah keluar. Seperti kata Yasin Ayahnya, begitu Jafar membuka pintu tampak banyak sosok makhluk astral di sekitar rumahnya.
“Hmm…benar kata Ayah, banyak sekali sosok Gaib di sekitar rumah. Beginikah Ayah dulu menghaddapi mereka? Ternyata tidak semudah yang aku duga,” kata Jafar dalam hati.
“Siapa yang menyuruh kalian, dan apa maksudnya mengganggu keluargaku?” tanya Jafar.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jafar, hanya suara tidak jelas yang keluar dari mulutnya. Yang lebih menyerupai suara auman dan desisan Ular. Jafarpun sedikit kebingungan menghadapi makhluk astral, karena itu pertama kali Jafar berhadapan secara langsung. Berbeda ketika berhadapan dengan Manusia sepeti yang biasa Jafar alami.
“Dasar kalian makhluk jelek, tak bisa diajak komunikasi,” ucap Jafar.
Kemudian Jafar memejamkan mata sebentar, dan saat membuka mata dihadapannya muncul seperti layar yang menunjukkan ayat ayat Al-Quran yang harus dia baca.
Kemudian, Jafar segera membaca Ayat ayat tersebut untuk mengusir makhluk makhuk astral tersebut.
Di tengah Jafar membaca Ayat-Ayat Al-Quran, kemudian muncul satu sosok yang seperti tidak terpengaruh oleh bacaan doa Jafar. Sementara yang lain berusaha menjauh dari Jafar, karena tidak kuat mendengar lantunan Doa dari Jafar.
Satu sosok tersebut, malah sengaja menunggu Jafar berdoa dengan sedikit meremehkan Jafar.
“Mana Ayahmu, bilang kalau takut, jangan anak yang disuruh maju,” ucap sosok tersebut.
“Cukup akau saja yang melawan kalian, tidak perlu melibatkan Ayahku,” jawab Jafar
“Kamu masih terlalu bocah, aku rasa kamu tidak pantas menamgbil pera ini. Biar Ayah kamu saja yang keluar,” jawab Sosok tersebut.
“Aku rasa, aku cukup mampu membuat kamu bertekuk lutut,” jawab Jafar.
Kemudian Sosok itu membentak Jafar.
“Kamu pikir aku akan takut denganmu?” jawab Jafar.
Jafar pun bertarung dengan Makhuk itu, terlihat di awal Jafar agak terdesak. Namun pada saat berikutnya Jafar sudah mulai bisa mengontrol diri, sehingga semua serangan sososk itu bisa diantisipasi.
Pada saat berikutnya, Jafar justru berhasil mendesak sosok itu. Namun datang lagi sosok yang tiba-tiba ikut menyerang Jafar dan berkata.
“Mundur kalian semua, biar aku yang hadapi anak itu.” Sosok yang mirip dengan Joyo Muruto.
Â
Bersambung….
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
Â
Â
__ADS_1