Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Yasin Gantikan posisi Nisa


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Yasin Gantikan posisi Nisa...


Sidiq dan Kholis pun mendekati sosok tersebut, Sidiq langsung menghardik orang tersebut.


“Apa maumu sebenarnya, aku tahu kamu mengawasi kami dari tadi?” tanya Sidiq.


Namun sosok tersebut tidak bergeming, bahkan tetap membelakangi Sidiq dan Kholis.


“Kamu anak Yasin, aku tahu kamu punya ilmu yang cukup tinggi. Mungkin juga kamu bisa mengalahkan aku,” jawab sosok tersebut yang ternyata adalah Jaladara.


“Rupanya kamu Jaladara, apa maksudmu menghadang kami?” tanya Sidiq.


“Kamu boleh curiga denganku, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku dan kamu masih dalam satu garis keturunan,” kata Jaladara.


“Satu garis keturunan, bukan berarti tidak menutup kemungkinan berseteru,” jawab Sidiq.


“Memang, dan aku mungkin juga akan berbeda dengan Gagak Seta kakakku dalam hal ini,” ucap Jaladara.


“Langsung saja, apa tujuan kamu menghadang kami saat ini?” tanya Sidiq.


“Seperti yang aku katakan tadi, Aku yang menculik Adikmu. Aku akan bantu bebaskan adikmu, sebagai tanggung jawabku,” ucap Jaladara.


“Aku tidak bisa begitu saja percaya padamu,” Tegas Sidiq.


“Saya tidak butuh kamu percaya, kita buktikan saja besok,” jawab Jaladara.


“Tunggu, jangan pergi dulu…!” ucap Sidiq.


“Aku tidak mau terlibat pertengkaran denganmu, bisa jadi malah mengundang pengikut Ki Ajar Panggiring,” jawab Jaladara.


Sidiq pun diam, “Ada benarnya juga ucapannya. Tapi aku tidak boleh begitu saja percaya dengannya,” kata Sidiq dalam hati.


Sidiq pun membiarkan Jaladara pergi, kemudian melanjutkan menyuju tebing bersama Kholis. Kholis pun merasa heran dengan sikap Jaladara yang kelihatan berbeda.


“Tetap harus hati hati dengan orang itu, karena aku masih belum bisa percaya dia berubah baik,” kata Kholis.


“Iya Kang, aku juga tida percaya begitu saja,” jawab Sidiq.


Kedua pemuda itu pun segera mencapai tempat yang diperkirakan tempat Jafar dan pasukan Lady Ninja muncul. Sidiq menunjukkan tempat yang sebaiknya digunakan untuk menunggu Jafar. Serta berusaha agar tepat waktu untuk membantu menyelamatkan Nisa.


*****


Sementara itu Jafar dan pasukan Lady Ninja dibawah pimpinan Farayaka sudah bergerak mendekati tempat tersebut. Jafar berjalan di depan sebagai pemandu arah, diikuti oleh Farayaka di belakangnya.


“Jafar, jika sudah dekat kasih tahu ya. Biar kita siapkan peralatan mendaki,” ucap Farayaka.


“Iya, ini sudah dekat. Mungkin tinggal dua puluh meter lagi kita harus mendaki bukit,” jawab Jafar.


Farayaka kemudian memerintahkan semua untuk bersiap menggunkan penutup muka. Setelah itu meminta dua bersaudara Kano dan Akino untuk memimpin pasukan dan membuat jalan naik ke kebukit.


Setelah berada di kaki bukit itu, Kano dan Akino mulai memanjat dengan menggunakan cakar besi dan membawa tali untuk membantu yang lain agar lebih mudah menaiki bukit tersebut.


Jafar pun diberikan peralatan memanjat berupa Cakar besi dan sepatu Ninja yang ujungnya juga ada alat pengait untuk naik bukit tersebut. Dengan cepat Jafar pun mampu beradaptasi dengan alat tersebut. tidak ada kesulitan yang berarti. Sekitar tujuh pasukan Lady Ninja anak buah Farayaka berhasil naik sampai ke atas bukit tersebut.


“Di mana adik kamu ditawan?” tanya Farayaka yang sudah berpakaian serba hitam, untuk menyesuaikan dengan gelapnya malam.


“Kita harus berjalan lagi, untuk mendekati tempat tersebut,” jawab Jafar.


“Apa kita akan bergerak sekarang?” tanya Farayaka.


Semua anggota Lady Ninja hanya menunggu perintah Farayaka untuk bergerak. Dengan sekali perintah, mereka akan langsung bergerak mengikuti perintah Farayaka.

__ADS_1


“Jangan, kita istirahat sebentar sambil memulihkan tenaga setelah berjalan cukup jauh,” jawab Jafar.


“Iya, kamu juga harus ritual pagi tentunya,” kata Farayaka. Menyebut Sholat subuh dengan ritual pagi.


“Jafar…!” terdengar sapaan memanggil Jafar.


Semua Lady Ninja langsung bersiap diri dan menghunus Senjata khas masing masing.


“Tenang, itu kawanku ada di pihak kita,” kata Jafar yang melihat kedatangan Kholis.


Para Lady Ninja pun kembali menyimpan senjatanya.


“Kang Kholis? Apa Kang Kholis ditugaskan menjemput kami di sini?” tanya Jafar.


“Betul, sekaligus diminta menyampaikan siasat dari Ayahmu Jafar,” jawab Kholis.


Kholis pun menyampaikan apa pesan Yasin dan siasat yang akan dipergunakan untuk menyelamatkan Nisa.


“Jadi, kita nanti bergerak sesuai rencana kemarin. Menunggu Nisa dibebaskan dan Ayah akan menggantikan posisi Nisa, diikat di tiang kayu itu?” tanya Jafar.


“Betul, waktunya memang sangat pendek. Jadi harus benar benar tepat waktu,” kata Kholis.


“Iya, berarti dalam membuat kekacauan pun harus benar benar tepat waktu. Agar bisa memperpanjang waktu menyelamatkan Ayah dan Nisa,” jawab Jafar.


“Apa kamu sudah menyiapkan rencana khusus untuk itu?” tanya Kholis kembali.


“Tentu, dan ini cara yang biasa dipakai Ayah dahulu. Dengan menggunakan ledakan di beberapa titik, nanti para Lady Ninja yang akan melakukan itu,” jawab Jafar.


“Menurut Ayahmu, titik titik yang harus dibuat kacau sudah ditentukan. Untuk memberi peluang Nisa diselamatkan Sidiq dulu. Kemudian baru kita semua membantu Ayahmu melawan dan menangkap Ki Ajar bersama anak buahnya,” sahut Kholis.


“Iya Kang, nanti tunjukkan saja tempat itu. Sekarang kita istirahat sebentar, sambi nunggu waktu subuh,” kata Jafar.


Semua pun segera beristirahat, meski mereka sekedar duduk dan bermeditasi bukan berbaring tidur. Jafar dan Kholis pun ikut beristirahat, setelah melaksanakan sholat subuh.


*****


*****


*****


“Sidiq, mengakulah sebagai Jafar. Kita berdua masuk ke markas Ki Ajar sekarang,” kata Yasin.


“Iya Yah,” jawab Sidiq.


Setelah memohon ijin kepada Kyai Nurudin Abah gurunya Sidiq juga kepada Kyai Syuhada. Sidiq dan Yasin berjalan menuju ke tempat Ki Ajar Panggiring. Sementara Kyai Syuhada menunggu di tempat itu, untuk menunggu Nisa. Sedangkan Kyai Nurudin bersiap mengawasi jika ada yang mengejar Sidiq nantinya.


Berjalanlah Sidiq dan Ayahnya untuk menemui Ki Ajar Panggiring. Ada kekhawatiran dalam diri Sidiq, satu sisi menyelamatkan Nisa adiknya. Tapi di sisi lain harus membawa Ayahnya masuk dalam bahaya besar. Dengan kondisi Ayahnya yang tidak seperti dahulu lagi. Sejak pertempurannya dengan Ki Munding Suro, memang Yasin kehilangan hampir separuh kemampuannya.


Tampak Ki Ajar sudah menunggu kedatangan Yasin, Ki Ajar didampingi oleh Gagak Seta dan Jaladara. Sidiq sempat kaget melihat ada Jaladara di samping Ki Ajar Panggiring. “Apa omongan orang itu bisa dipercaya?” kata Sidiq dalam hati.


“Akhirnya, kita bertemu lagi Yasin. Setelah sekian tahun tidak pernah bertemu lagi,” ucap Ki Ajar Panggiring.


“Aku juga tidak menyangka, setahuku ilmu khodam yang kamu miliki sudah aku musnahkan dahulu,” jawab Yasin.


“Ha…ha…ha…itulah kesalahanmu. Jika dulu kamu bunuh aku, kamu tidak akan mengalami hal ini,” ucap Ki Ajar Panggiring.


Nisa yang dalam kondisi terikat, dan mulutnya juga ditutup hanya menitikkan air mata. Tidak bisa bicara, meski ingin berteriak memanggil Ayahnya. Yasin bisa melihat kesedihan Nisa, namun juga tidak ingin terburu buru. Yasin masih mengukur dan menghitung waktu. Agar Jafar dan Pasukan Lady Ninja benar benar sudah siap membuat kekacuan.


“Tapi selama ini, kamu tidak pernah berhasil mengalahkan aku. Meski kamu licik menggunakan warangan dan hampir membutakan mataku waktu itu,” kata Yasin mengulur waktu dengan mengungkit masa lalu Ki Ajar Panggiring. (Pertarungan Yasin dan Ki Ajar Panggiring sebelumnya dalam Novel Isyaroh).


“Justru itu, inilah saatnya aku harus balas dendam denganmu,” jawab Ki Ajar Panggiring.


“Sayang sekali, otakmu penuh dengan kelicikan. Sehingga harus menculik anak gadisku yang masih kecil,” kata Yasin.


Yasin berbicara, memancing agar Ki Ajar Panggiring membalas semua ucapan Yasin. Sementara Yasin mengamati keadaan sekitar. Ketika Yasin melihat pada sebuah pohon, mata Yasin menangkap sebuah sosok yang berpakaian serba Hitam. Kemudian sosok berpakaian serba hitam tersebut memberi tanda acungan Jempol pada Yasin. Sebuah kode, jika Lady Ninja sudah bersiap semuanya.


“Kamu pikir kamu tidak licik, saat membuat kakang Mentorogo jadi cacat dulu,” bentak Ki Ajar Panggiring.


“Baiklah, aku mengaku kalah sekarang. Asal Anak gadisku kamu lepaskan, aku tidak akan melawanmu,” ucap Yasin.


“Ikat orang itu segera,” perintah Ki Ajar Panggiring.

__ADS_1


“Biar aku saja yang mengikatnya Ki Ajar,” sahut Jaladara.


“Tunggu…harus bersamaan dengan anak gadisku dilepaskan. Sidiq, lepaskan Nisa sekarang,” kata Yasin.


“Aku yang punya aturan disini, kamu yang lebih dahulu harus diikat. Baru anak gadismu aku lepaskan nanti,” jawab Ki Ajar Panggiring.


“Betul, kamu gak bisa menawar lagi,” sahut Jaladara kemudian langsung mendekati Yasin, dan berusaha mengikat Yasin. Namun sambil mengikat Yasin, Jaladara berbisik. “Tali yang aku gunakan sudah aku lukai, sekali kamu hentakkan nanti akan langsung putus,” bisik Jaladara pelan pada Yasin.


Jaladara pun membisikan sesuatu kepada Sidiq, “Hari ini kamu akan lihat, seorang Jaladara bukan seorang pendusta, meski pernah memusuhi kalian,” bisik Jaladara.


Sidiq hanya diam, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sekaligus menunggu bukti dari omongan Jaladara.


Setelah Yasin diikat kedua tangan dan melingkari tubuhnya. Kemudian Yasin dibawa ke tempat Nisa terikat.


“Tunggu, aku sendiri yang akan melepaskan Adikku. Aku tidak percaya kepada kamu,” teriak Sidiq kepada Jaladara.


Jaladara yang membawa Yasin dalam keadaan terikat itu pun berhenti sejenak. Kemudian Sidiq berjalan mendekati Nisa yang dalam keadaan terikat serta mulutnya tertutup kain. Saat Sidiq melintas di samping Jaladara, Sidiq pun membalas bisikan Jaladara. “Aku sudah siapkan Pasukan Gagak Hitam, yang akan menggempur. Jangan sampai kamu salah tempat,” bisik Sidiq pada Jaladara.


Sidiq segera mendekati Nisa dan melepaskan semua ikatan Nisa. Juga membuka kain yang menutup mulut Nisa. Nisa pun haru dan langsung memeluk Sidiq kakaknya.


“Nisa gak mau, Ayah menjadi korban…!” isak tangis Nisa tak bisa terbendung.


“Tenang Nisa, semua akan baik baik saja. Ada Jafar, Kang Kholis bahkan Abah guru kita juga yang membantu,” jawab Sidiq berbisik pada Nisa.


“Sungguhkah Mas?” tanya Nisa.


“Iya, Bahkan Jafar bawa pasukan Lady Ninja juga. Kamu gak usah khawatir, kita segera pergi menemui Abah Syuhada,” kata Sidiq.


Nisa pun segera mengikuti Sidiq, namun saat berpapasan dengan Yasin. Nisa tak mampu menahan haru, Nisa memeluk Yasin Ayahnya yang dalam kondisi terikat.


“Sudah cepat pergi Nisa, Insya Allah Ayah tidak apa apa,” kata Yasin.


Jaladara segera melepaskan pelukan Nisa, sambil berbisik. “Maafkan aku, kamu harus pergi sekarang dengan kakakmu. Aku yang jamin ayahmu akan tetap selamat, aku menyesal telah menculik kamu,” kata Jaladara berbisik.


Kemudian Nisa pun segera dibawa pergi oleh Sidiq. Nisa pun diserahkan kepada Kyai Syuhada, dan Sidiq kembali untuk menolong Ayahnya.


 Sementara Jaladara membawa Yasin ke tiang kayu perapian. Jaladara sudah selesai mengikat Yasin dengan tali di tiang kayu.


“Cepat menyingkir Jaladara, kayu akan segera kita bakar. Aku khawatir, ada rencana lain yang dipersiapkan,” kata Ki Ajar Panggiring


“Aku hanya bisa bantu sampai disini, ikatan ditubuhmu bisa kamu putuskan, tapi harus berusaha melepaskan diri  dari ikatan di tiang ini,” kata Jaladara.


“Apa tidak diberi waktu menyampaikan permintaan terakhir Ki Ajar?” tanya Jaladara.


“Tidak usah, biar arwahnya jadi arwah penasaran nanti. Dialah pebunuh guru dan saudara seperguruanku. Cepat tinggalkan tempat itu,” ucap Ki Ajar Panggiring.


Ki Ajar Panggiring yang dendamnya kepada Yasin sudah memuncak, segera melemparkan obor yang sudah disiapkan. Bahkan Saat Jaladara belum meninggalkan kayu perapian tersebut. Sehingga Jaladara harus melompat menghindari kilatan api dari kayu yang sudah dibubuhi minyak tersebut.


“Kurang ajar, Ki Ajar yang kurang Ajar…hampir saja aku tersengat api,” gerutu Jaladara. Merasa sangat marah, karena perlakuan Ki Ajar Panggiring. Sementara Yasin berjuang melepaskan tali ikatan. Meski ikatan ditubuhnya sudah lepas, tapi masih harus melepaskan tali ikatan yang di tiang tersebut. Sambil menahan rasa panas yang sudah mulai terasa, karena kayu di sekelilingnya sudah mulai terbakar.


Kemudian terdengarlah suara dentuman tiga kali di tiga titik yang berbeda. Pasukan Lady Ninja bersama Jafar dan Kholis bergerak menyelamatkan Yasin dari kepungan Api. Namun agak kesulitan karena Api sudah semakin membesar.


“Lempari dengan senjata yang ada, jangan sampai Yasin bisa lolos,” perintah Ki Ajar Panggiring pada anak buahnya.


Anak buahnya pun bersiap untuk melempari Yasin dengan batu ataupun senjata tajam yang ada. Ki Ajar khawatir Yasin bisa melepaskan diri dari ikatan.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2