
Reader tercinta, beberapa episode sebagai cooling down saja. Setelah adegan kekerasan Yasin, dan selanjutnya Kiprah Yasin akan diganti Sidiq dan Jafar.
Dengan tidak meninggalkan jiwa muda Sidiq dan Jafar yang diwarnai Romantika cinta remaja.
Selamat membaca, semoga terhibur.
..........
Maka berangkatlah aku ke rumah mamah Arum, kangen juga dengan mamah dan Panji adik ku dari mamah Arum dan om Rofiq. Semoga saja mamah Arum sekeluarga sehat sehat selalu, bagaimanapun aku punya dua keluarga yang sama sama menyayangi aku dan aku pun sangat menyayangi mereka semuanya.
Aku bermaksud mengutarakan kepada mamah Arum niatku untuk melanjutkan keinginanku untuk melanjutkan kuliah nanti setelah lulus. Agar bisa membantu memberikan tambahan dana untuk memasuki perguruan tinggi. Setelah itu aku akan berusaha sendiri untuk membiyayai dengan bekerja paruh waktu. Juga akan mencari peluang usaha lain sambil kuliah nanti.
Minimal bisa mengurangi biaya sukur sukur bisa membiayai diriku sendiri, kalau memungkinkan ingin ikut membantu biaya adik adikku juga. Agar mereka juga tenang dalam melanjutkan belajar di sekolah. Apalagi adikku Jafar juga akan segera memasuki perguruan tinggi sehingga membutuhkan biaya yang besar juga.
*****
Author POV
Sepeninggal Sidiq Fatimah pun segera membuka warung tempat usahanya yang sekarang. Setelah melaksanakan sholat dhuha terlebih dahulu. Kemudian Fatimah pun membuka warung kecilnya, yang berisi jajanan anak anak serta sedikit kebutuhan dapur yang pembelinya adalah warga sekitar saja.
Sementara itu Yasin sudah sampai di tempat pak Zul dan segera menemui pak Zul untuk memberikan perawatan tanaman buahnya. Serta merombak tanaman yang sudah tidak di kehendaki oleh pak Zul. Cukup lama Yasin tidak melihat tempat itu, memang kondisinya kurang terawat. Meski pengunjung rumah makan pak Zul cukup ramai. Namun sayang tidak ada petugas khusus yang menangani tanaman tersebut. Hal itu menjadikan tanaman jadi kurang terawat dan beberapa malah layu dan mengering.
“Lumayan ramai pak, rumah makannya apa karena hari minggu atau memang setiap harinya ramai seperti ini ?” tanya Yasin pada pak Zul.
“Alhamdulillah, hampir tiap hari ramai. Bahkan rumah makan sebelah juga ramai pak, karena tempat ini sekarang jadi salah satu tujuan kuliner sekaligus rekreasi.” Jawab pak Zul.
Yang dimaksud rumah makan sebelah adalah rumah makan yang dulu pemborongnya sempat dipegang Rahardian sebelum dia meninggal. Sampai dengan muncul konflik dengan pak Zul karena pak Zul merupakan teman Yasin musuh besar Rahardian.
Yasin jadi teringat peristiwa demi peristiwa yang kemudian menjadi sebuah peristiwa besar hingga menewaskan Rahardian. Setelah Yasin dan Ponco berhasil menyelamatkan anak dan istri Steve.
Kemudian Yasin menyibukkan diri dengan mulai memotong tanaman yang menjalar dan menyirami tanaman yang sekiranya akan di pertahankan.
Sementara tanaman yang sudah tidak dikehendaki oleh pak Zul, terutama tanaman anggur yang dulu ditanamnya. Oleh Yasin dirombak dan diambil batang batangnya untuk dibawa pulang. Yasin akan kembali membuat bibit tanaman dan mempersiapkan bahan untuk di grafting.
Yasin tampak semangat bekerja, selain mendapatkan hasil berupa upah langsung, Yasin juga mendapatkan bahan Grafting untuk memulai usaha pembuatan bibit tanaman anggurnya. Tidak dirasakan teriknya mentari yang menyengat kulit tubuhnya. Dalam benak Yasin dia hanya memikirkan bahwa ini adalah sebuah kesempatan untuk dapat kembali bangkit memulai usahanya.
Dengan penuh semangat Yasin pun memilah potongan batang anggur yang sudah dihilangkan daun daun nya. Kemudian diikat dan dikemas secara khusus untuk dibawa pulang nanti. Tanpa Yasin ketahui jika ada beberapa pasang mata yang mengawasi Yasin yang sedang bekerja tersebut.
Hampir setengah hari Yasin berputar putar memeriksa dan merawat serta membongkar tanaman di rumah makan pak Zul tersebut. Keringat Yasin pun tampak membasahi hampir sekujur tubuhnya. Pak Zul yang melihat kerja Yasin tersebut pun kemudian mendekati Yasin dan memintanya untuk beristirahat sejenak.
“Istirahat dulu pak, sudah hampir dhuhur kita minum dan ngobrol ngobrol dulu.” Sapa pak Zul.
“Iya pak, sebentar lagi tinggal sedikit lagi sudah beres, nanggung kalo berhenti sekarang.” Jawab Yasin.
Pak Zul melihat hasil kerja Yasin, memang tinggal sedikit lagi semua tanaman disitu akan beres. Kerja Yasin memang sangat cepat. Tidak ada lagi tanaman yang menjalar liar sampai menghalangi jalan dan semua tanaman yang kering juga sudah dirapikan dan diganti dengan tanaman yang baru. Bahkan semua tanaman juga sudah tampak hijau, karena daun daun yang layu semua sudah dibuang oleh Yasin.
Pak Zul pun puas dengan hasil kerja Yasin yang tetap bekerja secara profesional tersebut, Yasin memang tipe seorang yang ulet dan gigih, bagi Yasin tidak ada pekerjaan yang rendah. Meski sebagian orang meremehkan profesi tukang tanaman atau tukang kebun sebagai pekerjaan kasar atau rendah. Namun dengan sepenuh hati Yasin melakukan pekerjaan itu sehingga hasilnya tampak memuaskan.
Setelah beres Yasin pun menerima ajakan pak Zul untuk istirahat dan minum sebentar sambil menunggu waktu dhuhur. Karena mau pulang juga tanggung sebentar lagi masuk waktu dhuhur, jadi Yasin memilih untuk sekalian sholat dhuhur di situ.
Dan di saat Yasin sedang beristirahat sambil ngobrol dengan pak Zul, tiba tiba dikejutkan dengan hadirnya Steve dan Ponco yang tanpa diduga muncul di tempat itu juga.
“Assalaamu ‘alaikum…!” sapa Ponco kepada Yasin dan pak Zul.
Pak Zul yang pernah bertemu dengan Ponco dan Steve pun jadi kaget dengan kemunculan dua orang tersebut. pak Zul tidak tahu persis apa yang sudah terjadi dulu yang membuat Steve dan Ponco meninggalkan Rahardian dan berbalik berpihak ke Yasin.
“Wa’alaikummussalaam… eeh Ponco dan Steve, kok tau aku ada di sini ?” jawab Yasin sambil berdiri menyalami Ponco dan Steve.
Ponco dan Steve pun tidak langsung menjawab, melainkan menyalami Yasin dan tidak lupa saling memberi hormat ala pendekar seperti awal mereka kenal. Sehingga Yasin menjadi agak kikuk, karena sudah lama meninggalkan dunia kekerasan dan tidak pernah lagi menggunakan kemampuan bela dirinya atau kanuragannya.
“Aah sudahlah saudara saudaraku, aku sudah lama tidak pernah menggunakan jurus jurus beladiri. Mungkin juga saat ini sudah lupa itu semua.” Ucap Yasin kepada Ponco dan Steve.
“Tidak saudara Yasin, aku yakin kamu tidak akan lupa. Meski lama tidak menggunakan tapi aku yakin kamu pasti masih tetap ingat dengan semua jurus yang kamu punya.” Ucap Steve menyahut ucapan Yasin.
Yasin hanya tersenyum dan mempersilahkan Steve dan Ponco ikut duduk di tempatnya istirahat bersama pak Zul.
“Kalian ini kan yang dulu ikut pemborong sebelah yang tewas itu. kalian sekarang bersahabat dengan pak Yasin ?” tanya pak Zul pada Steve dan Ponco.
“Iya pak, panjang ceritanya. Dan maaf jika kami dulu pernah membuat ribut di tempat ini.” Jawab Steve.
“Aah sudahlah, itu kan masa lalu yang penting sekarang kalian tidak bermusuhan dan memusuhi kami.” Ucap pak Zul. Kemudian dijawab oleh Ponco.
__ADS_1
“Tidak pak, kami semua sudah saling bersahabat dan saya sudah lama tidak bersama orang yang dulu memusuhi bapak dan pak Zain.” Jawab Ponco.
“Baguslah kalau begitu, saya jadi tenang sekarang tidak ada keributan lagi.” Kata pak Zul.
Kemudian mereka terlibat obrolan di masa lalu mereka saat masih berseteru karena Steve dan Ponco menjadi anteknya Rahardian waktu itu. Sehingga harus berseberangan dengan Yasin dan menjadi musuh Yasin.
Yasin yang mendengarkan cerita Ponco dan Steve hanya senyum senyum kecil saja. Baginya kejadian masa lalu tidak perlu dikenang terus. Karena Yasin juga menyadari punya masa lalu yang buruk juga sehingga enggan membicarakan masa lalu.
“Pak Zul, bolehkah kami bertiga berbicara sebentar jika boleh kami akan mencari tempat lain untuk bicara bertiga. Antara saya Ponco dan saudara Yasin.” Ucap Steve pada pak Zul.
“Tapi bukan ada permasalahan kan ?” tanya pak Zul.
“Tidak pak, tenang saja kami saat ini sudah menjadi sahabat sehingga tidak ada lagi permusuhan diantara kita.” Jawab Steve.
“Baiklah, saya rasa kalian bertiga bisa bicara disini saja. Biar aku kembali ke tempat kerja untuk mengawasi anak anak.” Jawab pak Zul menghindari pembicaraan yang bukan urusan dan kewenangan pak Zul.
Yasin sendiri agak terkejut mendengar Steve hendak bicara bertiga dengannya. Bukan suudhon hanya merasa heran apa yang akan Steve dan Ponco bicarakan. Karena Yasin merasa semua permasalahan sudah selesai tidak meninggalkan masalah lain bagi mereka bertiga.
“Sebenarnya ada masalah apa kok kayaknya penting banget ?” tanya Yasin kepada Steve dan Ponco.
Steve dan Ponco saling berpandangan sebentar untuk merundingkan siapa yang akan mulai berbicara. Dan Ponco mempersilahkan Steve untuk memulai bicara dengan Yasin.
“Begini saudara Zain, tapi sebelumnya kami mohon maaf dan semoga kamu tidak tersinggung.” Ucapan Steve terhenti sejenak, agak bingung untuk memulai bicara dengan Yasin yang berkarakter keras dan agak mudah tersinggung. Meski Steve dan Ponco tahu jika Yasin juga tidak akan marah jika tidak menyinggung harga diri dan perasaannya.
“Katakan saja Steve, aku gak akan marah untuk sesuatu yang tidak prinsip. Apalagi saat ini aku juga merasa sudah tua, jadi memang harus banyak menahan diri dan bersabar.” Ucap Yasin datar. Sedikit menumbuhkan keberanian Steve untuk berbicara.
“Iya saya tahu, tapi tetap saja aku harus bilang begitu agar tidak terjadi miss antara kita yang sudah bersahabat.” Jawab Steve.
“Sudah gak usah kuatir, katakan saja kalaupun aku tersinggung aku akan menghentikan ucapan kamu agar tidak kamu teruskan.” Jawab Yasin mulai penasaran apa maksut Steve.
“Intinya aku dulu sebelum berangkat ke Jepang memberi mandate kepada teman untuk menjual rumahku. Dan sudah terjual, sebagian uangnya aku jadikan modal usaha. Dan sebagian lagi aku titipkan sahabatku untuk diambil Ponco. Maksudku mau buat kasih hadiah kamu dan Ponco. Tapi Ponco lupa mengambil hingga orangnya meninggal.” Ucap Steve.
“Owh hanya soal itu, aku pikir soal apa kenapa mau bilang begitu saja ragu ragu.” Jawab Yasin kalem.
“Ya gak sekedar itu saja Saudara, maksudku saat ini aku masih pegang buku rekening tabungan tersebut. dan bermaksud untuk menyerahkan kepadamu. Dan aku mohon kamu jangan menolaknya, karena ini adalah sekedar ucapan terimakasih dariku dan anak istriku yang sudah kamu bantu waktu itu.” ucap Steve.
“Sudahlah, lupakan saja peristiwa dulu jangan diungkit lagi. Kan kita sama sama sudah melupakan peristiwa itu.” Jawab Yasin.
“Maksudnya “ tanya Yasin.
“Aku ingin memberikan ucapan terimakasih kepadamu, seperti rencana ku dulu. Dan aku minta kamu bersedia ikut aku besok ke bank bersama Ponco.” Ucap Steve.
“Sudahlah Steve kamu gak usah berbuat seperti itu. kamu dan anak istrimu selamat dan sudah beralih profesi saja aku sudah bersyukur, tidak perlu ada embel embel apapun baik hadiah ataupun apa.” Ucap Yasin.
Baik Steve maupun Ponco jadi agak bingung menghadapi Yasin yang tetap bersikeras dengan sikapnya itu.
“Apakah salah jika orang mau melaksanakan janji nya meski itu belum terucap baru terbersit dalam hati ?” tanya Steve kepada Yasin.
“Tidak sih, tapi aku merasa tidak pernah mengharap apapun dari kamu. Jadi bagiku itu bukan sebuah keharusan Steve.” Ucap Yasin.
“Iya memang bagimu, tapi bagiku itu sebuah keharusan karena aku yang punya janji tersebut. dan sebagai sahabat kamu mau tidak membantuku melaksanakan janji aku tersebut ?” ucap Steve memojokkan Yasin.
“Itu sih kamu maksa namanya,bagiku persahabatan itu tidak bisa diukur dengan uang Steve.” Jawab Yasin.
“Kamu pikir aku mengukur kamu dengan uang ? Kan aku bilang sekedar melaksanakan janji sebagai ucapan terimakasih saja.” Sanggah Steve yang mulai agak jengkel dengan sikap Yasin tersebut.
“Begini saudara Zain, maksud Steve itu dia ingin melaksanakan janji dirinya. Dan itu kan wajib dilaksanakan, jujur saja aku pun awalnya juga menolak. Namun mengingat itu adalah janji Steve maka aku juga menerima. Ku harap saudara Zain pun mau menerimanya.” Ucap Ponco ikut bicara. Yasin agak bimbang dengan ucapan Ponco itu. Karakter Yasin memang agak tinggi gengsinya, meskipun sebenarnya dia juga butuh. Namun dia tidak mau menunjukkan bahwa dirinya dalam kesulitan kali ini.
“Memang kamu cerita apa sama Steve Ponco ?” Tanya Yasin kepada Ponco. Yasin kuatir Steve tahu keadaan keluarganya dari cerita Ponco, sehingga Steve berbuat demikian.
“Owh ini gak ada kaitannya dengan itu saudara Zain, Steve dulu memang pernah meninggalkan pesan kepadaku tapi aku lupa. Dan baru kemarin kita bertemu lagi dan Steve menanyakan pesan yang Steve bilang, dan aku baru ingat kemarin setelah sekian tahun.” Jawab Ponco.
Yasin berpikir sejenak, apakah benar ucapan Ponco seperti itu. Atau sekedar cerita agar Yasin mau menerima bantuan dari Steve saja.
“Kenapa tidak diurus ke keluarganya jika orang yang kamu beri amanah sudah meninggal. Malah mau melibatkan aku datang ke bank ?” ucap Yasin.
Agak susah bagi Steve dan Ponco membujuk Yasin, sehingga Steve pun harus menceritakan kronologis dari saat memberi pesan ke Ponco hingga pertemuannya kembali kemarin. Sehingga dengan susah payah Steve pun berhasil meyakinkan Yasin. Dan akhirnya Yasin pun mau mengikuti Steve dan Ponco ke bank. Dengan catatan melihat kapan uang yang dimaksud dimasukkan ke bank. Jika memang itu sudah beberapa tahun yang lalu Yasin baru mau, namun jika barusan saja itu hanya rekayasa Steve dan Ponco saja. Steve pun tidak keberatan karena memang yang terjadi sesungguhnya adalah seperti itu. Sehingga Steve tidak kuatir jika nanti Yasin melihat print out dari buku tabungan Steve tersebut.
Setelah itu pun Yasin segera melaksanakan sholat dhuhur dan segera pulang untuk menemui Fatimah istrinya juga Sidiq anaknya setelah berpamitan, dan menerima bayaran atas hasil kerjanya. Dalam perjalanan pulang Yasin pun masih kepikiran dengan apa yang diucapkan Steve dan Ponco tadi. Masih ada kekhawatiran jika itu hanya sebuah rekayasa saja.
Sementara ada tiga orang yang memperhatikan gerak gerik Yasin dan kawan kawannya tanpa disadari mereka.
__ADS_1
“Itukan Zain, jadi tukang kebun dia sekarang. Kapan kapan kita sambangi kerumahnya, toh dia gak kenal dengan kita kita.” Ucap salah seorang di antaranya.
“Buat apa, gak usahlah cari penyakit saja. Senior senior kita saja bisa dikalahkan semuanya, termasuk Guru kita ki Soma dan Maheso Suro yang tidak ketahuan batang hidungnya sampai sekarang.” Jawab satunya. Ternyata mereka adalah anak buah Maheso Suro saat masih menjadi kaki tangan keluarga Rahardian.
“Gak masalah, dia juga sudah mulai tua mungkin juga tenaganya juga sudah gak sekuat dahulu.” Sanggah orang pertama.
“Yang jelas aku masih menaruh dendam kepadanya, karena dialah yang telah memenjarakan aku. Tapi aku sadar kalau aku menghadapi sendiri pasti akan kalah sama dia.” Ucap orang ketiga yang tidak lain adalah Damar. Orang yang dulu mau menikahi Arum ibu kandungnya Sidiq, tapi Arum nya tidak mau dan lebih memilih Rofiq.
“Nanti kita atur dulu, yang jelas kita butuh siasat untuk mengalahkan dia sekarang.” Jawab orang pertama yang mengajak menyambangi rumah Yasin. Mereka bertiga pun segera meninggalkan rumah makan pak Zul, sambil menyelidiki kemana arah perginya Yasin.
*****
Sesampai di rumah Yasin
Author POV
“Assalaamu ‘alaikum….!” Ucap salam Yasin saat masuk ke rumahnya.
“Wa’alaikummussalaam… udah pulang yah ? Bunda baru belanja, sebentar lagi pulang kok yah.” Ucap Sidiq yang sudah kembali dari rumah mamah nya.
“Belanja ? Belanja apaan, bukannya kemarin sudah belanja juga ?” ucap Yasin.
“Iya yah, belanja buat kebutuhan warung. Katanya biar jualannya makin komplit agar semakin menarik pembeli nanti.” Jawab Sidiq.
“Owh, kirain belanja buat dapur. Memang bunda kamu pegang duit banyak ?” tanya Yasin.
Sidiq agak ragu ragu mau menjawab, mau bilang jika tadi ditinggali ATM oleh Steve dan ternyata isinya cukup besar. Sehingga sebagian diambil Sidiq dan diberikan kepada bundanya. Sebagian diberikan oleh oleh buat jenguk Arum mamah nya dan Panji adiknya serta Rofiq ayahnya Panji.
“Ayah jangan marah dulu ya, Sidiq mau cerita.” Ucap Sidiq.
Yasin jadi heran, dan dia menduga ini pasti ada kaitannya dengan Steve tadi.
“Apa bunda kamu dikasih uang sama om Steve ?” Tanya Yasin menyelidik.
“Bukan bunda Yah, tapi Sidiq.” Jawab Sidiq yang kemudian menceritakan kronologis kejadiannya. Yasin pun mendengar dengan seksama cerita Sidiq. Dan sambil menunggu Fatimah istrinya pulang belanja, Yasin meminta Sidiq membuatkan kopi untuknya. Dalam hati Yasin berpikir, “apakah ini memang jalan yang harus aku lewati. Atau ini memang sudah waktunya aku kembali bangkit dari keterpurukan ekonomi selama ini. Aku jadi kembali ingat Yuyut, yang pernah memberitahuku soal akan mengalami keadaan seperti ini.” ucap Yasin dalam hati.
Dan setelah Sidiq datang membawa Kopi Yasin pun mulai menyeruput kopi buatan anaknya tersebut. dan Sidiq yang sudah hafal kopi kesukaan ayahnya tersebut dengan cepat pula membuatnya. Namun Sidiq tidak berani memulai berbicara pada ayahnya, karena dilihatnya ayahnya baru memikirkan sesuatu yang tampaknya berat. Sehingga Sidiq pun hanya duduk menemani ayahnya.
*****
Flashback Jafar dipanggil Kiainya
“Kamu yang namanya Jafar ?” tanya seorang Santri kepada Jafar.
“Iya kang, ada apa ya ?” tanya Jafar.
“Kamu dipanggil pak Kyai disuruh menghadap.” Ucap Santri tersebut langsung meninggalkan Jafar.
Jafar yang baru pertama kali diminta menghadap Kiainya tersebut merasa gugup. Karena jarang sekali Kiainya memanggil santrinya secara Pribadi jika tidak ada masalah atau sesuatu yang sangat serius. Namun Jafar dengan segenap keberaniannya menyiapkan diri menghadap sang Kyai. Jika memang punya salah Jafar pun sudah siap untuk menerima sanksi yang berlaku di Pesantren tersebut, yang biasanya sanksinya diminta menghafal surat dalam al-quran atau diminta menghafal kitab tertentu. Sesuai dengan kadar kesalahan yang dibuatnya.
Dengan langkah mantab Jafar pun melangkah masuk ke ‘nDalem’ ( rumah induk sang Kyai ).
“Assalaamu ‘alaikum…!” ucapan salam Jafar.
“Wa’alaikummussalaam…!” jawab seorang gadis putri sang Kyai.
Jafar terkejut ketika yang membukakan pintu adalah seorang gadis, sehingga keberanian yang tadi muncul justru kembali hilang dan agak gugup dalam berkata.
“Ada apa kang, kakang santri sini juga kan ?” ucap Gadis tersebut. yang dalam dunia pesantren anak gadis Kyai disebut ‘Ning’ (baca Neng ) dan jika laki laki dipanggil Gus.
“Eee saya tadi katanya disuruh menghadap pak Kyai, gak tahu disuruh apa.” Jawab Jafar agak gugup.
“Pasti punya salah, sampai dipanggil Abi begitu. Ya sudah tunggu dulu saja, Nia panggil Abi. Eeh nama kamu siapa kang ?” tanya Puteri Kyai tersebut, membuat Jafar semakin gugup.
“Jafar Sidiq Amin.” Jawab Jafar singkat sambil agak gemetar.
Kesalahan kamu pasti besar sampai gemetar begitu.” Ucap Nia putri Kyai tersebut.
Jafar semakin pucat, bahkan tidak berani menatap lurus ke depan. Wajahnya hanya tertunduk menatap lantai saja. Dalam hati Jafar berkata, “ Aduh kenapa aku jadi gugup begini, sudah gugup dipanggil kyai ditambah gugup bertemu putri Kyai yang cantik banget tadi.” kata Jafar dalam hati. Sambil tetap tertunduk, sampai tidak tahu jika sang Kyai sudah berada di hadapan dia.
__ADS_1
“Eheeem…. Kamu yang namanya Jafar ?” Sapa Kyai itu tiba tiba. Membuat Jafar hampir pingsan karena kaget.