
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
'Siapa nama orang yang telah mematahkan tangan kamu, biar aku balas dia nanti ?” kataku seperti ikut tidak terima.
“Seorang pemuda yang masih belia tapi pukulanya sangat luar biasa, dia bernama Sidiq Sekartadji paman.” Ucap Jaka.
Spontan aku jadi sangat terkejut, masak iya Sidiq anakku yang melakukan ini dan telah menyerang padepokan ini ???
“Siapa ?” tanyaku kaget.
“Sidiq Sekartadji paman, dan kami nani akan mengadakan pertempuran ulang. Apakah paman bersedia menggantikan aku melawan pemuda itu ?” Tanya Jaka anak Mentorogo.
Sebenarnya aku kasihan juga melihat Jaka, ayahnya sudah tewas aku bunuh bahkan sebelumnya mengalami luka bakar yang parah saat mau menyerang rumahku. Sampai aku tidak pernah lihat wajah asli Mentorogo, karena begitu Nampak wajahnya sudah rusak terbakar hingga akhirnya harus mati di tanganku.
Tapi jelas aku juga gak mungkin berhadapan dengan anakku sendiri, Sidiq anak yang harus lahir tanpa ditunggui ayahnya. Dan hanya dibesarkan ibu kandungnya, sementara aku ayah biologisnya sampai tidak tahu jika aku sudah punya anak waktu itu.
“Kamu jangan meremehkan pemuda itu, meski pemuda tapi olah kanuragannya sudah mumpuni. Sudahlah begini saja kamu aku angap anggota Padepokan ini bahkan aku jadikan tamu istimewa jika mau menghadapi pemuda itu.” Ucap ki Marto Sentono yang tiba tiba sudah disampingku.
Aku berpikir bagaimana mensiasati ini semua, disaat aku mencoba menyusup masuk malah langsung disuruh menghadapi lawan dimana lawannya adalah anak kandungku sendiri. Agak lama aku termenung, akhirnya mendapatkan sebuah ide untuk mengelabui mereka semua. Agar aku tetap bisa menyusup dan menyelidiki lebih jauh tentang padepokan ini.
“Baiklah aku sanggup menghadapi pemuda yang bernama Sidiq Sekartadji tersebut. tentukan saja waktu dan tempatnya.” Jawabku.
Rofiq hampir protes tapi aku beri isyarat untuk diam. Kemudian semua bersorak gembira seperti mendapatkan semangat baru.
“Saksikan kalian semua, ini jagoan baru kita yang akan menghadapi pemuda yang melukai Jaka. Disamping itu nanti juga akan aku undang sahabat sahabat lamaku. Untuk menyaksikan pagelaran akbar nanti. Beri semangat untuk jagoan baru kita Zain…!” teriak Marto Sentono diikuti oleh semua murid muridnya.
Bahkan semua member hormat padaku dan Rofiq, serta mengarak aku dan Rofiq sampai ke pendopo utama Marto Sentono. Kami dijamu bak tamu istimewa di padepokan tersebut. semua menghormatiku dan Rofiq seperti pahlawan bagi mereka. Dan akhirnya aku pun pamit pulang, dan diperkenankan keluar masuk padepokan setiap hari dua puluh empat jam. Atas izin langsung dari Marto Sentono, bahkan saat aku keluar padepokan masih dikawal dan dibukakan pintu dengan hormat.
Aku dan Rofiq pun segera meninggalkan padepokan tersebut, menuju ke rumah Rofiq. Di perjalanan pulang Rofiq tidak hentinya mengomel atas keputusanku tersebut.
“Gila kamu Zain, masak mau melawan anak kandungmu sendiri. Kamu masih waras gak sih, bagaimana jika Arum dan istrimu tahu nanti. Apa kamu sekarang sudah jadi gila hormat…!?!” omel Rofiq di jalan gak bisa dipotong sebentar sekalipun.
“Nanti dirumah aku jelaskan, jangan asal nyerocos saja. Memang aku gak waras apa mau melawan anakku sendiri bang.” Jawabku.
“Tapi kamu bilang sendiri tadi kalau kamu sanggup melawan sidiq, awas kalau Arum denger terus kamu dilempar ulekan sambal nanti.” Kata Rofiq masih saja ngomel.
“Kamu bisa diam dulu gak sih bang, nanti dirumah aku jelaskan rencanaku jangan di jalan kenapa. Bawel amat sih jadi orang, kayak perempuan hamil muda saja.” Gerutuku pada Rofiq.
Baru setelah aku bilang begitu Rofiq diam tidak ngomel lagi, meski masih kelihatan manyun wajahnya. Bodo amat, nanti juga bakalan aku beri tahu rencanaku, pikirku.
>>>>>
>>>>>
>>>>>
Sampai di rumah Rofiq dan Arum
Belum juga turun dari motor Rofiq sudah ngomel ngomel lagi tidak jelas.
“Jelasin sekarang kalau tidak maka aku gak mau kenal lagi sama kamu. Dulu kamu yang ajak aku sadar kembali ke jalan yang benar tapi sekarang malah kamu sendiri yang jadi gak benar.” Omel Rofiq.
“Udah,,, udah belum ngomelnya ? dari tadi ngomel mulu gak jelas ujung pangkalnya. Kalau ngomong itu gentian gak di borong sendiri sampai orang lain gak dikasih kesempatan ngomong, bukan tanya baik baik dulu langsung ngomel ngomel. Dari a sampai z gak bisa diputus kayak kereta panjang gerbongnya gak pernah putus. Harusnya kau dari tadi dikasih kesempatan bicara biar jelas, belum turun dari motor udah ngomel panjang. Ajak masuk rumah bikini kopi dulu kek baru diajak ngomong, bukanya…..!” omonganku diputus Rofiq.
“Kayaknya panjangan kamu deh ngomongnya Zain, dasar kampret lo sengaja nyindir gue ya ?” ucap Rofiq masih agak jengkel. Dalam hati aku tertawa meniru omelan Rofiq yang gak putus tadi, dan Rofiq sadar jika sedang aku sindir.
“Ada apa sih pulang pulang malah pada ribut ?” tanya Arum yang muncul tiba tiba di depan pintu.
"Suami kamu tuh, dari tadi ngomel melulu apa kurang kamu kasih jatah kok jadi kayak gitu ?” Godaku.
“Dasar kampret kamu Zain ngomongnya ngelantur kemana mana.” Kata Rofiq sambil menendang kakiku.
“Makanya jadi orang jangan suka ngomel bikin sebel aja kamu ini bang.” Jawabku sambil tertawa.
“Yasudah masuk dulu, Rum bikini minum buat tamu gak diundang ni…!” kata Rofiq masih kelihatan Jengkel. Sementara kulihat Arum hanya tersenyum melihat aku dan suaminya berlaku seperti anak kecil tersebut. Aku sengaja berbuat begitu untuk mengurangi rasa canggung terhadap Arum, karena bagaimanapun dia adalah ibu kandung Sidiq anakku.
Setelah sampai di ruang tamu aku disuguhi kopi hitam biasa yang tanpa gula.
“Ini yang punya kamu mas yang gak pakai gula.” Kata Arum langsung beranjak mau pergi ke dapur.
“Arum jangan pergi dulu kamu juga perlu dengar, ini ada kaitanya dengan Sidiq.” Ucap Rofiq.
Aku jadi agak ribet menjelaskan, kalau ada Arum tentunya bisa salah paham nanti. Wah gara gara Rofiq nih, jadi gak bisa bicara sesama lelaki, batinku.
“Ada apa dengan Sidiq mas ?” tanya Arum panik.
“Sebentar, duduk yang tenang dulu biar aku jelaskan sejelas jelasnya.” Jawabku.
Kemudian Arum duduk di samping Rofiq, dan memintaku untuk cerita apa yang terjadi.
“Udah sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan Sidiq, kan belum lama ini juga pulang dan main kesini juga.” Tanya Arum.
Aku kemudian menceritakan ketika masuk ke Padepokan untuk menyelidiki tentang padepokan tersebut. Dan karena ada syarat yang sangat mustahil aku penuhi kemudian aku ditawari pilihan lain bertarung dengan tiga muridnya sekaligus. Dan aku menang, tapi kemudian aku akan dijadikan jago untuk melawan orang yang melukai murid tertua disitu yang juga anak dari musuh lamaku Mentorogo. Dan yang melukai itu adalah Sidiq.
“Terus mas akan melawan Sidiq beneran, mas tega melawan anak kandungmu sendiri ?” protes Arum.
“Wah kamu sama saja dengan suami kamu, nyerocos saja kalau bicara. Aku kan belum selesai dengerin dulu baru komentar nanti.” Sahutku.
“Yasudah cepet lanjutin…!” Pinta Arum gak sabaran.
“Aku memang menyanggupi, tapi bukan berarti aku benar benar akan menghadapi Sidiq dengan adu jotos, aku juga masih waras Rum.” Jawabku ke Arum.
“Lah terus bagaimana nanti ?” tanya Arum.
Aku terpaksa menjelaskan rencanaku gara gara Rofiq dan Arum. Kemudian secara garis besar aku menjelaskan bahwa aku menyanggupi agar tetap bisa masuk ke padepokan itu. untuk mencari tahu masih berapakah kerabat musuhku dulu yang mungkin akan balas dendam padaku, saudara dan teman temanku. Yang mungkin juga akan sampai mencelakai keturunannya juga.
Dan pada hari yang ditentukan saat Sidiq datang untuk melanjutkan pertempuran maka aku akan pura pura melawan Sidiq. Karena disitu akan dihadiri beberapa kroni Marto Sentono pemilik padepokan. Dan aku akan pura pura kalah serta pura pura terpukul hingga terlempar sehingga aku punya kesempatan untuk memukul beberapa orang yang membantu Marto Sentono.
Setelah itu baru aku akan menghadapi marto Sentono sendiri sementara Sidiq meloloskan diri. Biar ini jadi urusanku bukan urusan anakku.
Setelah mendengar penjelasanku barulah Rofiq dan Arum paham apa maksudku.
“Kenapa gak bilang dari tadi aja Zain, kalau seperti itu aku kan bisa ikut membantu.” Ucap Rofiq.
__ADS_1
“Bilang dari tadi gimana, bang Rofiq saja ngomong gak jelas gak ada putusnya begitu kok. Lagian mau bantu ngapain dengan perut segede itu, Istri kamu aja gak segede itu.” Godaku.
“Suek lo Zain, ngatain perut gue segala. Kan sekarang gak pernah lagi fisik jadi ya begini deh, perut jadi makin subur.” Jawab Rofiq sambil tertawa.
“Jadi intinya begitu saja, dan rencana ini sangat Rahasia. Bahkan Sidiq dan Jafar pun jangan sampai tahu dulu. Aku mau lihat sampai dimana mereka dan apakah ini Sidiq bersama Jafar atau Sidiq sendiri masih aku selidiki. Dan lusa aku akan kesana lagi, mau ikut gak bang ?” tanyaku pada Rofiq.
“Boleh saja kalau kamu samperin kesini.” Awab Rofiq.
“Baiklah besok aku samperin lagi kesini.” Kataku sambil nyeruput kopi dan menyalakan rokok.
“Masih ngerokok kamu mas ?” Tanya Arum.
“Masih, tapi aku merokok juga Cuma satu satu kok.” Jawabku.
“Satu satu, apa dari sana tadi sudah berapa batang kamu habiskan ?” protes Rofiq.
“Yak an tetep satu satu gak sekaligus lima batang dirokok.” Jawabku santai membuat Rofiq jadi jengkel lagi.
“Dasaar…!” ucap Arum sambil melangkah Pergi sambil menahan tawa.
“Kampret bener lo Zain dari dulu gak pernah berubah aja…!” ucap Rofiq.
“Santai bang,hidup itu dinikmati saja gak usah dibikin stress.” Jawabku.
“Tapi lo kayak gak inget dosa aja, hidup lo santai banget.” Kata Rofiq.
“Justru karena gue ingat dosa bang jadi hidup gue santai gini ?” jawabku.
“Kok bisa ?” tanya Rofiq.
“Bisa lah, gue ingat Dosa tapi gue juga ingat Allah Maha Pengampun jadi gak terlalu khawatir kehabisan stok ampunan. Kecuali dosa pada manusia, baru bisa kehabisan stok ampunan.” Kataku sambil ngakak.
Tiba tiba Panji anak Rofiq dan Arum datang dan langsung menyalami ayahnya dan aku.
“Abah Yasin sudah lama ?” tanya Panji.
“Sudah habis jalan jalan sama papa kamu, Panji dari mana ?” tanyaku.
“Dari latihan pencak Silat bah, melanjutkan yang dulu di tempat abah Yasin.” Jawab Panji.
“Kenapa gak latihan di tempat abah Yasin lagi saja Panji ?” ucapku.
“Mamahnya yang keberatan kalau aku pergi hanya sendirian di rumah.” Rofiq yang menjawab.
“Owh begitu, tapi sekali tempo ajak lah kerumah biar silaturahmi tetap jalan bang.” Kataku pada Rofiq.
“Iya Insya Allah nanti aku jadwalkan kesana lagi. sekarang ada berapa yang ikut kamu ?” tanya Rofiq.
“Kalau yang mukim hanya satu kalau pemuda ya masih seperti dulu sama anak anak yang ngaji Diniyah masih cukup banyak.” Jawabku.
Setelah cukup lama ngobrol aku ingat jika belum sholat ashar, kemudian aku minta ijin untuk sholat ashar. Dan segera pulang setelah itu.
>>>>>
>>>>>
>>>>>
Setelah subuh aku mencoba lari pagi santai menguji kakiku yang kemarin patah, sebelum berangkat ke sekolah lagi.
“Sudah lebih dari tujuh hari, dan kakiku sepertinya sudah betul betul pulih. Bagaimana ya, apa aku lanjutkan mencari Muksin yang sudah memukuli Jafar adikku.” Kataku dalam hati.
Antara perasaan dendam dan ingat kata kata Jafar, fokus pada masalah Jaka dan Padepokanya. Aku jadi bimbang juga saat ini, tapi saat aku sakit Jafar yang menolong dan merawatku. Masak Jafar dipukuli orang aku diam saja, kakak macam apa aku ini, pikirku.
Aku jadi semakin bimbang saja, aah bagaimana nanti saja lah. Aku sekalian mau coba jurus jurus dari eyang Jafar Sanjaya dan ilmu sayeti angin dari eyang Hadian. Kemudian aku mencoba jurus jurus baru dari eyang Hadiyan setelah agak puas aku mengamalkan ajian ilmu sayeti angin dari eyang Hadian.
Aku coba untuk berlari, aku agak kaget seketika badanku jadi seringan kapas dan bisa lari secepat angin. Juga kakiku sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun. Asik kali kalau buat nyoba jurus dengan Muksin nanti. Pikiran nakalku kembali hadir, dan rasa ingin membalas dendam kembali muncul.
Sayangnya belum puas bermain jurus sudah agak siang, jadi aku segera mandi dan mau berangkat ke Sekolah. Seminggu gak ketemu Riska kangen juga nih, hanya chtingan dan kadang VC aja gak lihat wajahnya langsung tetap beda, batinku.
Akupun segera mandi dan bersiap berangkat ke sekolah, setelah semua siap aku pun melangkahkan kakiku menuju ke sekolah. Semalam juga udah janjian sama Riska, pasti sudah menunggu di depan rumahnya. Aku membayangkan berjalan berdua bersama Riska lagi seperti biasanya. Hanya berjalan bersama saja rasanya sudah asik, batinku.
…..
…..
…..
“Hai melamun saja, ayo berangkat sekolah tidak ?” tanyaku ke Riska yang duduk melamun di teras rumahnya.
“Eeh mas Sidiq, Riska udah nunggu dari tadi kirain belum bisa berangkat sekolah hari ini. Gimana udah sembuh beneran nih ?” Tanya Riska.
“Udah dong, kamu lihat sendiri sekarang udah bisa jalan sempurna.” Jawabku.
Kemudian kami pun berjalan berdua berangkat ke sekolah, dan berpisah di pintu gerbang masuk. Aku segera melangkah menuju ke kelasku, dan sudah pada kumpul semua di kelas. Rupanya mereka juga sudah tahu jika aku hari ini sudah berangkat ke sekolah.
“Selamat datang kembali ke sekolah Sidiq…!” sapa Alan ketua kelasku disambut sorak dan tepuk tangan yang lainya.
“Owh iya, makasih ya atas doa dan perhatian teman teman semua Sidiq hari ini sudah bisa masuk ke sekolah.” Jawab Sidiq.
“Hari ini, kita akan adakan pesta kecil kecilan nanti di kantin bersama teman satu kelas. Tenang saja Diq, kamu tetap boleh ajak Riska dan Lita juga kok.” Kata Dina.
“Apaan sih Din, kayak yang lagi ulang tahun sja pakai pesta pestaan begitu.” Jawabku malu.
Semua teman sekelasku menyalami aku yang baru sembuh dan bisa masuk ke sekolah lagi. dan semua memaksa aku ikut acara di kantin nanti saat jam istirahat.
Aku pun terpaksa mengikuti kemauan teman satu kelasku mengadakan pesta kecil di kantin sekolah. Ternyata sudah dipesankan nasi kuning beserta lauk pauk di kantin. Entah uang dari mana atau iuran mereka aku tidak tahu. Tapi ada perasaan bangga pada diriku diperhatikan seperti itu.
Riska dan Lita pun ikut hadir juga disitu, ikut gabung dengan teman teman satu kelasku dan bergembira menyambut kedatanganku.
“Riska tadi udah khawatir mas Sidiq gak jadi berangkat hari ini, untung saja saja jadi berangkat.” Kata Riska.
Pantas tadi melamun, rupanya Riska khawatir aku gak adi berangkat ke sekolah, pikirku.
“Insya Allah kalau sudah janji sedapat mungkin aku tepati.” Jawabku.
“Aduh aku jadi meleleh nih…!” sahut Lita menggoda aku dan Riska.
“Jangan di godain Lita, kan seminggu gak ketemu kalau gak disini juga paling sudah kayak tete tubies ‘ Berpelukaaaannn…!” kata Dina ikut menggoda kami.
Aku hanya senyum saja digoda mereka, akan tetapi beda dengan Riska yang protes.
__ADS_1
“Gak lah, kita gak seperti itu kok ya Mas Sidiq kita kan tetap jaga jarak.” Jawab Riska.
“Udah biarin saja mereka kan hanya bercanda.” bisikku pada Riska.
Riska pun akhirnya juga ikut terdiam hanya menikmati candaan teman teman.
Hari pertama aku masuk sekolah setelah izin sakit pun cukup membuat aku terhibur. Sejenak melupakan masalah yang sedang terjadi. Sampai akhirnya aku pulang sekolah dan kembali bekerja di tempat biasanya bersama Riska.
>>>>>
>>>>>
>>>>>
Author POV
Flashback Saat Yasin pulang dari rumah Rofiq
Saat yasin pulang dari rumah Rofiq, dia langsung menemui Fatimah, dan saat itu Isna sedang mengajar ngaji anak anak. dan anak anak yang belajar juga sudah mulai menyukai Isna atau Nia yang sudah tidak galak tapi suka diselingi candaan dalam mengajar.
“Udah pulang mas, capek gak perlu di bikini kopi ?” tanya Fatimah ke suaminya.
“Iya capek, tapi sekarang hilang begitu lihat wajah istriku yang manis begini.” Jawab Yasin menggombal.
“Mulai deh genitnya, Fatimah tahu kok ujung ujungnya nanti…!” jawab Fatimah sambil melangkah ke dapur bikin kopi.
Sesaat kemudian sudah datang lagi membawa kopi.
“Bagaimana penyelidikannya mas, apa sudah ada informasi ?” tanya Fatimah sambil menghidangkan kopi untuk suaminya.
“Owh pantas, aku disambut dengan mesra ternyata ada maunya begini. Tawarin untuk minum dulu kek bukan malah dihujani pertanyaan.” Goda Yasin ke Fatimah istrinya.
“Ya gak gitu mas, namanya seorang ibu pasti penasaran kabar anak anaknya lah.” Desak Fatimah.
Yasin menyeruput Kopi panas terlebih dahulu sebelum menjawab.
“Sudah ada berita, memang ini ada ancaman dari kerabat musuh musuh lamaku. Jadi aku sekarang harus lebih sering menengok anak anak. dan jadwal kesana bersama kamu lihat situasi dan kondisi dulu nanti.” Jawab Yasin berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya takut Fatimah jadi panik.
“Terus bagaimana Mas ?” tanya Fatimah lagi.
“Aku menyusup ke padepokan saudara seperguruan Joyo Maruto. Pura pura jadi muridnya, untuk penyelidikan lebih lanjut. Dan tadi sempat ketemu anak dari orang yang dahulu di hajar Rofiq, Mentorogo.” Jawab Yasin.
“Hati hati mas, Mentorogo itu kan yang dulu bisa menghilang itu ?” ucap Fatimah.
Yasin kaget jadi ingat, jika kemungkinan salah satu dari mereka mempunya ilmu itu juga. Dan itu sangat membahayakan Sidiq, pikir Yasin..
“Iya ya, bisa jadi juga diantara mereka juga ada yang punya ilmu itu.” Jawab yasin.
“Makanya mas, mas harus hati hati mulai sekarang.” Kata Fatimah.
“Iya Fat.” Jawab Yasin singkat, Yasin lebih mengkhawatirkan Sidiq dan jafar jika nani mereka ke padepokan itu. dan Yasin pun harus merubah rencananya tadi, karena ingat aka nada kemungkinan kecurangan dari pihak Marto Sentono.
Yasin pun dipaksa harus memutar otak mencari strategi yang tepat menghadapi mereka nanti. Karena rencana awal berbahaya jika ada yang punya ilmu Welut putih seperti Mentorogo.
>>>>>
Dan di padepokan Marto sentono pun sedang mengumpulkan murid murid kepercayaan.
“Kalian jangan senang dulu, merasa ada yang membantu kita saat ini.” Ucap Marto Sentono kepada beberapa murid kepercayaan.
“Kenapa Guru, bukankah kemampuan paman Zain tadi sangat mumpuni. Sekali gebrakan adi Bayu Aji dan dua lainnya langsung terjatuh ?” ucap Jaka.
Marto Sentono diam sesaat, sebagai orang tua yang banyak pengalaman Marto Sentono cukup Jeli melihat keanehan pada diri Yasin tadi.
“Aku belum percaya seratus persen atau bahkan lebih ke curiga kepada orang itu. Yang mengaku lawan latih tanding Mentorogo ayahmu Jaka.” Ucap Marto sentono.
“Alasanya apa guru ?” Tanya Jaka yang jadi bingung.
“Seandainya dia memang lawan latih tanding ayah kamu Mentorogo pasti ketika melihatmu dia bakal tahu kamu anaknya. Karena wajah kamu Mirip dengan ayah kamu Mentorogo Jaka.” Jawab Marto sentono.
Jaka Santosa pun baru sadar akan hal itu, jika memang tamu tadi lawan latih tanding ayahnya kenapa gak mengenali dia yang wajahnya sangat mirip. Namun Jaka masih kurang yakin keterangan gurunya tersebut.
“Mungkin bisa saja paman Zain itu tidak menduga saja, atau bisa jadi juga hanya menganggap mirip saja guru.” Bantah Jaka.
“Aku ini orang tua, jadi paham betul mana yang asli mana yang palsu Jaka.” Ucap Marto Sentono.
“Maksut guru ?” tanya Jaka.
“Aku tahu Mentorogo ayahmu itu tidak punya awan latih tanding dari dulu. Ayahmu itu sama denganku punya ajian welut Putih yang bisa membuat orang tak terlihat. Juga ilmu tameng Wojo, jadi nyaris tak butuh lawan latih tanding. ” Jawab Marto Sentono.
“Tapi paman itu menyebut adik seperguruan ayahku ki Ajar panggiring juga Guru ?” ucap Jaka.
“Nah itu yang kamu tidak tahu Jaka, Ajar panggiring dengan Mentorogo ayah kamu itu hanya bertemu beberapa kali sebelum ayah kamu lenyap ditelan bumi. Mana mungkin mereka jadi lawan latih tanding ayah kamu.” Jawab Marto Sentono.
“Lantas bagaimana Guru apa langkah yang harus kita ambil sekarang ?” tanya Jaka.
“Kita selidiki lagi, siapa itu Zain dan temannya.” Jawab Marto sentono.
“Caranya Guru ?” tanya Jaka.
“Aku akan undang seseorang yang bernama Gede Paneluh, biar dia yang akan membongkar siapa orang yang mengaku bernama Zain tadi. Jika terbukti dia musuh maka harus dihabiskan saat itu juga.” Jawab Marto sentono.
Kemudian marto sentono pun merencanakan sesuatu untuk menjebak Yasin agak tidak dapat menyembunyikan jati dirinya Lagi.dengan Bantuan Gede Paneluh yang ahli teluh dan Santet…???
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1