
Yasin menjemput anak anaknya.
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
“Wah ini waktu Puspa Tajem, makin yakin itu tadi abah guru beneran. Kebetulan aku sudah dapat ijazah mengajar jurus Suci Hijaiyah.” Pikir Yasin….???
Kemudian Yasin bangun untuk menjalankan sholat sunnah, Fatimah dibiarkan saja masih tertidur. Dan saat Yasin sudah selesai Sholat barulah Fatimah bangun dan pergi ke kamar mandi dan dapur.
“Kok gak bangunin sih mas ?” Kata Fatimah sambil memberikan Kopi pahit kebiasaan suaminya.
“Aku lihat kamu nyenyak banget, jadi gak tega bangunin kamu tadi. Niatnya juga mau bikin kopi sendiri tadi.” Jawab Yasin.
“Jadi gak mau nih dibuatin kopi sama Fatimah ?” jawab Fatimah menggoda.
“Ya bukan begitu, maksudku kalau kamu gak bangun saja.” Kata Yasin.
“Kirain,,, maunya dibikinin orang lain.” Ucap Fatimah.
“Aah kamu ini sekarang malah makin tua makin cemburuan saja.” Ucap Yasin.
Sebelum Fatimah menyahut tiba tiba Isna ikut bangun dan menyahut.
“Tuh kan Umi sama Abi, kayak yang masih pacaran saja….!” Kata Isna sambil senyum senyum.
“Itu Umi yang gede cemburu saja sekarang Isna.” Jawab Yasin sambil menyeruput kopi buatan Fatimah.
“Bagus dong Abi, kan cemburu artinya cinta.” Jawab Isna.
Yasin dan Fatimah pun hanya tersenyum mendengar jawaban Nia.
“Wah kamu sudah tahu apa itu cinta, jangan jangan kamu sudah mulai punya pacar Isna ?” Tanya Yasin.
“Gak kok bi…!” Jawab Isna sambil melangkah ke kamar mandi. Kemudian keluar lagi dan melaksanakan sholat sunah juga.
Fatimah dan Yasin kemudian ngobrol diruang tamu.
“Semalam aku ditemui abah guru Thoha, diberi ijazah dan diperintahkan untuk mengajarkan jurus Suci Hijaiyah dari Alif sampai dengan Ya.” Kata Yasin.
“Kepada siapa ? Kepada Isna ?” Tanya Fatimah.
“Salah satunya iya.” Jawab Yasin.
“Kepada siapa lagi ?” Tanya Fatimah.
“Aku juga belum paham, tapi nanti aku mau berangkat pagi ke Al-Huda. Sekalian berunding dengan kang Syuhada. Barangkali beliau juga mendapat suatu nasehat yang berkaitan dengan ini.” Jawab Yasin.
“Fatimah ikut mas, sekalian jemput anak anak beberapa hari biar dirumah.” Pinta Fatimah.
“Iya boleh, tapi bilang ke Isna nanti suruh berangkat sendiri pakai motor. Kita sewa mobil saja nanti kalau mau jemput anak anak.” Jawab Yasin.
“Boleh juga, soal Isna nanti Fatimah kasih tahu dia kalau kita mau keluar sebentar,” Jawab Fatimah.
Saat subuh tiba mereka pun bersama sama menjalankan sholat jamaah Subuh.
*****
*****
*****
Pagi setelah Subuh Fatimah member tahu Isna agar berangkat sekolah sendiri memakai motor karena Fatimah dan Yasin akan bepergian sebentar. Tidak mengatakan jika akan menjemput Jafar dan saudara saudaranya.
__ADS_1
“Isna kamu nanti berangkat sendirian ya sekolahnya, Abi dan Umi mau berangkat pagi pagi ke rumah saudara.” Ucap Fatimah.
“Wah Umi sama Abi mau jalan jalan Isna gak diajak nih ?” jawab Isna.
“Bukan jalan jalan Isna, tapi abi dan umi ada perlu sebentar, siang juga udah sampai rumah kok nanti.” Kata Fatimah.
“Iya mi, Isna hanya bercanda saja kok…!” kata Isna.
Hubungan Isna dan Fatimah juga Yasin sudah seperti anak dan orang tua kandungnya. Yang selalu diisi dengan obrolan santai dan candaan. Bukan tanpa maksut, akan tetapi biar Isna nanti jika dirumah tidak lagi menempatkan diri sebagai ‘Ning’ yang merasa harus dihormati santri. Itulah maksut Kyai Syuhada menitipkan Isna atau Nia kepada Yasin dan Fatimah.
Karena hanya dengan cara seperti itu Isna bisa merasakan arti sebuah kasih sayang kepada sesama. Dengan melihat dan merasakan secara langsung bukan sekedar pelajaran teksbook saja (baca atau dengarkan kyai baca Kitab ). Dan Yasin juga Fatimah bisa menangkap itu sehingga mudah merubah Isna yang dulunya angkuh dan sedikit sombong menjadi sosok yang lembut dan pengertian.
Isna yang dahulu selalu dilayani, di rumah Yasin tidak jarang justru kadang membantu Fatimah menyediakan makan dan membuatkan minum buat Yasin. Sebuah perubahan yang cukup pesat pada diri Isna. Seperti dahulu Yasin diajarkan oleh Abah gurunya arti Sabar, tidak hanya dengan dibacakan Kitab saja. Melainkan juga diuji dengan situasi yang menuntut kesabaran, karena kelemahan Yasin waktu itu sangat tidak Sabaran ( Tempramental ). Juga dengan Ikhlas dan semua hal yang kaitannya dengan hati. Di dalam Pondok Pesantren semua diajarkan bukan sekedar mendengarkan atau membaca Kitab saja. Melainkan juga diuji dengan keadaan yang ada.
Dan setelah matahari mulai tampak, berangkatlah Yasin dan Fatimah ke Al-Huda, sedangkan Isna Persiapan berangkat ke sekolah.
>>>>>
>>>>>
>>>>>
Sementara itu di Pondok Al-Huda, Jafar member tahu ke Nisa jika akan dijemput ayahnya. Beberapa hari mereka akan tinggal dirumah bersama. Namun saat kembali ke Pondok mereka diminta setoran hafalan Kitab dan Surat surat alquran agar tidak lantas tidak mengaji sama sekali.
“Kamu ijin dulu minta tolong teman kamu Nisa, ayah akan jemput kita pagi pagi soalnya.” Ucap Jafar.
“Iya mas, mas Sidiq juga kan ?” Jawab Nisa.
“Iya lah, semua bahkan aku diminta mengajak beberapa orang untuk ikut.” Jawab Jafar.
“Haah ajak orang lain juga, kenapa mas ?” Tanya Nisa.
“Gak tahu la, pokoknya kamu siap siap saja.” Ucap Jafar kemudian pergi meninggalkan Nisa. Nisa Pun segera berkemas dan pamitan kepada teman sekamarnya juga kepada Vina yang sekarang dekat dengan Nisa.
…..
Sidiq, Jafar dan Nisa berkumpul di ruang tamu Ndalem di temani oleh Abah gurunya Jafar. Ketiganya diberi wejangan khusus oleh abah gurunya Jafar kyai Syuhada.
“Leluhur kamu dulu sangat Agamis sekaligus juga Nasionalis. Mereka mencintai Agama dan bangsa ini termasuk budaya bangsa ini.” Kata Abah gurunya Jafar.
“Iya, perlu kamu ketahui jika Islam masuk ke Indonesia khususnya tanah Jawa. Masyarakatnya sudah mengenal atau mempunyai budi pekerti yang luhur. Dalam agama kita namanya Adab dan Akhlak, sehingga sangat mudah menerima Islam karena Rasulullah diutus Allah untuk memperbaiki Akhlak.” Jawab Kyai Syuhada.
“Apa tidak terjadi benturan bah dengan kepercayaan yang ada sebelumnya ?” Jafar ikut menyahut.
“Tidak Jafar, para Aulia ( Jamak dari Wali ) sangat bijak dalam menyampaikan ajaran Islam. Tidak pernah memaksa, karena dakwah itu artinya mengajak bukan memaksa. Sehingga tetap menghormati kepercayaan yang ada waktu itu.” jawab Abah Gurunya Jafar.
Kemudian Kyai Syuhada menjelaskan secara panjang, bagaimana Islam dapat berkembang di Tanah Jawa dan Indonesia pada umumnya. Dengan pendekatan budaya yang ada, dan tetap menghormati sesama manusia meski berbeda keyakinan.
Mengajarkan esensi Islam bukan sekedar kulitnya saja. Sehingga banyak yang tertarik dan kemudian masuk Islam. Bukan dengan sekedar doktrin halal haram, surga dan neraka atau sesuatu yang justru bisa memecah belah persatuan. Apabila belum memiliki dasar iman yang kuat dan pemahaman yang cukup.
Digambarkan juga tentang metode pendekatan Budaya, cara bertoleransi dan sebagainya. Seperti kisah Sunan Kudus yang meminta pengikutnya agar tidak menyembelih Lembu. Karena pada masa itu Lembu dianggap Dewa oleh sebagian masyarakat sekitar. Supaya tidak ‘menyakiti perasaan’ masyarakat sekitar. Meskipun secara Fiqih (Hukum Islam) Lembu itu halal.
Baik Sidiq, Jafar maupun Nisa mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Kyai Syuhada. Mereka sangat tertarik dengan kisah kisah pendahulu mereka. Yang member kesan Islam yang ramah bukan Islam yang mudah marah.
“Luar biasa ya Bah, orang ‘alim zaman dulu ?” Nisa mengomentari abah gurunya.
“Coba kalian pegang Nasehat orang jawa ini, ‘Ojo Gumunan lan Ojo Kagetan’ ( Jangan Mudah takjub dan jangan mudah terkejut ) nasehat sederhana yang sangat besar dampaknya dalam kehidupan.” Ucap Kyai Syuhada.
Sidiq bersaudara hanya bengong belum memahami makna Nasehat tersebut, namun ketiganya malu untuk bertanya. Dan Ayah bunda mereka pun akhirnya datang menemui Kyai Syuhada.
“Assalaamu ‘alaikum….!” Sapa salam dari Yasin dan Fatimah bersamaan. Dan dijawab bersamaan pula oleh semuanya.
Kemudian Anak anak Yasin menyalami ayah bundanya, dengan penuh rasa hormat. Bahkan Nisa sampai menangis dalam dekapan Fatimah ibundanya.
Tidak berlama lama Yasin dan Fatimah segera berpamitan pulang, karena tidak tega jika Isna pulang sekolah hanya sendirian di rumah. Setelah menceritakan mimpinya bertemu Abah Guru Thoha semalam.
“Baiklah hati hati di jalan, jangan Lupa laksanakan ‘Amanah’ abah guru. Setelah nanti kamu gembeng anak anak di rumah kamu maka tugas kamu membantu aku dan Kang Nurudin mengajarkan anak anak Santri.” Ucap Kyai Syuhada.
“Insya Allah kang, doakan saja biar aku bisa menjalankan Amanah ini.” Jawab Yasin.
“Aamiin… kali ini aku belum bisa mengirim Santriku kerumah kamu. Karena yang akan aku kirim justru sedang ditawan di padepokan ki Marto Sentono. Dan itu tugas pertama kalian nanti untuk membebaskan mereka.” Ucap Kyai Syuhada.
Yasin yang Kaget mendengar itu kemudian mengusulkan agar hari ini saja sekalian membebaskan Arsyad dan Muksin.
__ADS_1
“Kenapa tidak sekarang saja kang, apa tidak kasihan anak anak santri kamu disana nanti ?” Tanya Yasin.
“Tidak usah khawatir, mereka tidak akan kenapa kenapa. Dan mereka nanti yang akan mencari anakmu, dan mempercepat jadwal pertempuran yang direncanakan. Dengan menawan dua santriku itu sebagai alat untuk menekan mental kalian.” Kata Kyai Syuhada.
“Hmmm… aku paham kang maksut kang Syuhada, aku juga akan siapkan strategi khusus menghadapi itu nanti bersama anak anakku Sidiq dan Jafar.” Kata Yasin.
“Kalu itu bagian kamu kang Yasin, aku serahkan sepenuhnya kepadamu.” Ucap Kyai Syuhada.
Sidiq pun darah mudanya hampir saja keluar, jika tidak mengingat di hadapannya ada ayah bundanya serta abah grunya Jafar. “kurang ajar orang orang Padepokan itu lagi, ingin rasanya aku hancurkan sekarang juga.” Kata Sidiq dalam hati.
Yasin dan Fatimah segera meninggalkan Pondok Al-Huda bersama anak anaknya. Sementara Kyai Syuhada member pesan khusus kepada Yasin.
“Nanti kang Nurudin akan ke rumahmu juga, membawa beberapa Santrinya untuk ikut membantu kalian besok. Bisa bisalah kamu mengatur strategi nanti.” Ucap Kyai Syuhada berbisik pada Yasin.
“Iya kang, akan aku usahakan semampuku nanti.” Jawab Yasin kemudian langsung berangkat meninggalkan Pondok Al-Huda.
…..
Yasin agak buru buru karena takut Isna sendirian saja dirumah, bagaimanapun Isna adalah tanggung jawabnya juga. Sehingga Yasin mengendarai Mobil dengan agak kencang, membuat Fatimah jadi agak ketakutan.
“Tidak usah ngebut lah mas, Fatimah ngeri jadinya.” Ucap Fatimah. Sementara Sidiq malah senyum senyum melihat Ayahnya ngebut menjalankan mobilnya.
“Kita harus cepat sampai rumah, kasihan Isna kalau di rumah sendirian nanti.” Jawab Yasin.
“Isna itu siapa Yah….!?!” Tanya Nisa heran. Meski Nisa sebenarnya sudah menduga jika Nia putrid abah gurunya dititipkan di rumahnya. Namun Nisa belum tahu jika ayahnya memanggil Nia dengan nama Isna. Karena nama lengkap Nia adalah Kurnia Isnaeni.
“Ada yang belajar di rumah namanya Isna.” Jawab Yasin singkat, agak kaget merasa hampir keceplosan. “biar mereka tahu sendiri saja nanti.” Batin Yasin.
“Cewek ya Yah, wah bisa bisa mas Jafar tertarik tuh. Cantik gak yah ?” ucap Nisa menggoda Jafar.
Jika dengan orang tuanya, keberanian Sidiq kalah jauh dengan Nisa meski sekedar bercanda sekalipun. Sehingga Sidiq hanya diam saja sambil senyum melihat Jafar digoda Nisa.
Sementara Jafar sendiri mencubit Nisa karena jengkel.
“Auw sakit mas, main cubit saja kalau sama Nisa…!” bentak Nisa.
“Makanya jangan suka jahil jadi orang…!” balas Jafar ke Nisa.
Yasin dan Fatimah hanya senyum senyum saja melihat Jafar dan Nisa anaknya bertengkar begitu. Mereka berpikir itulah keakraban anak anak mereka, yang akan jadi kenangan Indah setelah sama sama dewasa.
Namun Fatimah merasa ada yang aneh pada diri Sidiq yang tampak agak murung tersebut. Sehingga Fatimah pun menegur Sidiq.
“Sidiq kamu kenapa murung begitu,biasanya kalau Nisa dan Jafar berantem kamu jadi penengahnya kan ?” Kata Fatimah.
Sidiq terkejut ditanya Fatimah begitu, dan seperti baru sadar dari lamunan. Namun sebelum menjawab sudah didahului oleh Nisa dengan gaya slengean seperti Sidiq.
“Mas Sidiq baru patah hati Bunda, Nisa tahu kok kan dibilangi sama mbak Vina, ha ha ha…!” tawa Nisa keras menggoda Sidiq kakaknya.
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1