Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ancaman besar buat Nisa 1


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Ancaman besar buat Nisa 1...


"Akan ada apa ya, kenapa Abah Guru tampak sedih. Apakah akan terjadi sesuatu pada Nisa adiknya Jafar?” tanya Kholis dalam hati.


Kholis pun menyimpan pertanyaan besar dalam hatinya. Nisa Adik kandung Jafar, anak yang mempunyai kemampuan olah kanuragan tinggi. Nisa sendiri juga cukup, kenapa masih juga harus dibantu dan diawasi,pikir Kholis.


Namun begitulah manusia, semakin tinggi ilmunya akan semakin besar juga ujiannya. Karena Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba Nya, melebihi batas kemampuannya. Kholis pun akhirnya sadar, jika setiap orang pasti akan menerima ujian sesuai batas kemampuannya.


“Assalaamu’alaikum…kang Kholis nunggu siapa di sini?” ucap Vina yang baru pulang dari sekolah.


“Wa’alaikummussalaan…eeh ini gak nunggu siapa siapa. Jafar udah pulang belum?” tanya balik Kholis.


“Sudah, tapi tadi mampir belanja buat kebutuhan Ndalem dulu katanya,” jawab Vina.


“Owh ya sudah, aku tunggu Jafar di sini saja,” jawab Kholis.


“Lah tadi katanya gak nunggu siapa siapa?” tanya Vina.


“Iya, maksudku tadi gak nunggu siapa siapa. Tapi sekarang mau nunggu Jafar,” jawab Kholis yang baru kepikiran masalah khodam kiriman jadi kurang konek.


Vina pun berlalu, tidak bertanya lebih jauh. “Ada apa dengan kang Kholis dan Jafar, kenapa jadi aneh begitu?” kata Vina dalam hati. Kemudian Vina pun menuju ke kamarnya, sekalian mau mencari Nisa. Barangkali Nisa tahu apa yang terjadi.


Namun sayangnya justru Nisa belum kembali dari sekolah. Sehingga Vina terpaksa harus menunggu kepulangan Nisa.


*****


Sementara Kholis masih berada di sekitar pintu Gerbang Pesantren. Sambil menunggu Jafar, sekaligus melarang santri agar tidak keluar dari pesantren dahulu. Sesuai perintah Kyai Syuhada, untuk menjaga segala kemungkinan buruk.


Beberapa saat kemudian datanglah Jafar membawa belanjaan untuk keluarga Kyai Syuhada.


“Jafar, kalau sudah taruh belanjaan nanti langsung ke sini ya,” kata Kholis.


“Iya Kang, ada apa ya?” tanya Jafar.


“Nanti saja, pokonya penting,” jawab Kholis.


Jafar pun segera membawa belanjaan ke rumah Kyai Syuhada, kemudian  kembali menemui Kholis.


“Tampaknya ada hal yang darurat Kang?” tanya Jafar.


“Iya, tadi Abah Guru meminta semua tidak boleh keluar dari pondok dulu. Kecuali sekolah dan harus langsung pulang,” kata Kholis.


“Bagaimana jika mereka ada kebutuhan mendesak Kang?” tanya Jafar.


Kholis jadi bingung dengan pertanyaan Jafar. Tidak terbayang apa yang ditanyakan Jafar, namun hal itu juga sudah pasti terjadi.


“Iya juga ya, tapi bagaimana ini perintah Abah?” jawab Kholis.


“Begini saja Kang, sementara jika ada  yang ada keperluan kita yang membelikan. Selanjutnya kita usahakan nanti untuk keperluan santri kita dirikan warung untuk koperasi Kang,” jawab Jafar.


Kholis terkejut dengan ucapan Jafar, tidak menyangka jika Jafar mampu berpikir seperti itu.


“Lalu apa langkah yang harus kita lakukan Jafar?” tanya Kholis.


“Kita data, semua kebutuhan santri, termasuk berapa frekwensi penggunaannya. Kemudian kita sediakan semua kebutuhan santri. Jadi Santri cukup beli di Koperasi tidak usah keluar pondok,” jawab Jafar.


“Tapi bagaimana dengan warga yang jualan disekitar pondok?” tanya Kholis.


“Kita bisa kerja sama, warga yang jualan kita minta titip barang ke pondok. Bagi untung, yang tidak  tercover kita belanja sendiri,” jawab Jafar.


 

__ADS_1


Sekali lagi, Kholis kagum dengan Pola pikir Jafar yang sistematis. Kebutuhan santri terpenuhi, tapi tidak mengurangi rejeki warga sekitar yang berjualan.


 


“Kamu sangat bijak Jafar, aku tadi sempat khawatir jika warga sekitar sampai kehilangan penghasilan,” kata Kholis.


“Jangan sampai lah kang, mereka juga butuh makan kok. Dan ini hanya sementara kan. Kalau kondisi aman kita pikirkan lagi nanti jalan keluarnya,” jawab Jafar.


“Iya, betul. Terus sekarang kita juga harus bikin jadwal ronda, dan jaga Gerbang, agar santri tidak banyak keluar masuk Pesantren,” kata Kholis.


“Kalau itu, kang Kholis saja yang buat. Jafar ikut saja Kang,” jawab Jafar.


“Baiklah, nanti akan aku buat. Aku sesuaikan dengan kegiatan para santri juga,” jawab Kholis.


“Iya, sementara, kita dulu saja yang jaga, sebelum  jadwal dibuat,” jawab Jafar.


“Kalau begitu, nanti tugaskan beberapa Santri, satu untuk mendata kebutuhan santri. Yang kedua untuk negosiasi dengan warung sekitar pondok,” kata Kholis.


“Kalau itu biar Jafar saja Kang, yang melakukan negosiasi pada warga,” kata Jafar.


“Baiklah, sepertinya memang tugas itu pas buat kamu Jafar. Kamu punya kemapuan negosiasi yang bagus,” jawab Kholis.


Hari itu, Jafar dan Kholis mulai menjalankan rencana mereka. Menjaga keamanan para santri, sekaligus rencana membuat koperasi dan bekerja sama dengan warga sekitar yang berjualan di sekitar pondok.


Jafar melakukan negosiasi dengan para pedagang sekitar Pondok Pesantren. Dengan menjelaskan kondisi yang sedang terjadi. Serta menjelaskan tetap memberi kesempatan bagi warga yang jualan. Bahkan yang jual makanan matang sekalipun dipersilahkan menitipkan dagangannya ke Koperasi dengan sistim konsinyasi. Sehingga dengan kemampuan Jafar melakukan negosiasi mampu memberikan “win win Solution” tidak ada warga yang merasa keberatan.


Bahkan Kyai Syuhada pun mengagumi pola pikir Jafar yang begitu cepat dapat menemukan Solusi yang tepat bagi semuanya.


“Anak ini memang luar biasa, sudah akhlaq nya bagus, cerdas, ditambah penampilan fisik yang bagus pula. Pantas jadi pembicaraan para santri putri, memang cukup langka orang seperti Jafar,” kata Kyai Suhada dalam hati.


“Bagaimana Bah, apakah ide kami bisa diterima?” tanya Jafar, setelah menyampaikan idenya kepada Kyai Syuhada.


“Iya, Abah sangat setuju dengan ide kalian Jafar. Kamu sekalian hitung nanti, berapa biaya untuk mendirikan koperasi Pondok. Tapi ambil untungnya jangan banyak banyak, biar warga dapat untung lebih banyak. Tujuan kita bukan cari untung, asal cukup buat operasional santri yang jaga saja,” kata Kyai syuhada.


“Iya Bah, nanti kami akan hitung lagi, agar maslahat bagi semua,” jawab Jafar.


Kyai Syuhada jadi semakin kagum dengan Jafar, kemampuan Jafar dalam memecahkan masalah dinilai sangat bagus. “Beruntung nanti yang akan jadi istrinya Jafar, seandainya saja,,,?” kata hati Kyai Syuhada yang membayangkan jika Jafar bisa jadi menantunya. Kyai Syuhada jadi teringat Nia anaknya yang ikut di rumah Yasin ayahnya Jafar.


*****


“San, menurutmu apa yang harus aku lakukan saat ini?” tanya Sidiq ke Ihsan sahabatnya.


“Kamu Fokus ke ujian sekolah dulu deh, Diq. Bukan apapa, bagaimanapun Nisa adik kamu kan ada Jafar yang melindungi. Juga banyak Santri lain yang ikut peduli,” jawab Ihsan.


“Bukan hanya itu, kan aku dan Jafar juga diberi tugas mencari markas musuh. Apalagi menurut Abah Syuhada saat ini sudah ada tanda-tanda kemunculan Raja Khodam, Dalang Anyi Anyi,” kata Sidiq.


“Iya sih, atau kita coba untuk mencari informasi keberadaan mereka lebih dahulu?” usul Ihsan.


“Informasi dari mana? Sedang Abah Syuhada sendiri sulit menembus mereka. Satu satunya jalan harus dicari secara Fisik,” jawab Sidiq.


“Ya sudah, kita cari sambil jalan jalan saja. Siapa tahu bisa mendapatkan informasi atau bahkan bisa langsung menemukan mereka,” jawab Ihsan.


“Iya, tapi bagaimana caranya?” kata Sidiq kemudian.


“Kita coba sekarang saja, sambil jalan jalan kan masih ada waktu,” kata Ihsan.


“Aku ijin Abah Guru dulu, boleh apa tidak,” jawab Sidiq.


Kemudian Sidiq menemui Kyai Nurudin untuk meminta ijin dan mengatakan jika mendapat tugas mencari masrkas musuh. Kyai Nurudin pun mengijinkan, namun beliau berpesan kepada Sidiq.


“Jik tidak berdua dengan Jafar, kamu jangan ambil tindakan sendiri. Begitu pula dengan Jafar, jika tidak bersamamu jangan ambil tindakan sendiri,” kata Kyai Nurudin.


Iya Bah, Sidiq hanya sekedar mengawali untuk penyelidikan saja,” jawab Sidiq.


“Ya sudah, tapi tetap harus hati hati dan waspada,” kata Kyai Nurudin.


Kemudian berangkatlah Sidiq bersama Ihsan, menyusuri daerah daerah yang sekiranya jarang dijamah orang. Karena tempat  seperti itulah yang biasanya dipakai untuk bersembunyi orang orang tertentu.


Sidiq dan Ihsan menyusuri lembah lembah dan bukit yang sekiranya jarang di jamah oleh manusia. Setiap kali mendapati Bukit dan lembah yang mencurigakan, Sidiq mengajak Ihsan berhenti, kemudian menyusuri tempat yang dicurigai dengan berjalan kaki.


Saat Sidiq menaiki sebuah bukit, Sidiq melihat ada kepulan Asap di sebuah bukit yang agak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


“San. Kamu lihat. Itu kan bukit yang hampir tidak  pernah didekati manusia. Karena terkenal angker,” kata Sidiq.


“Iy betul, tapi kenpa Diq? Tanya Ihsan.


“Aku curiga bukit itulah tempat mereka bersembunyi,” Jawab Sidiq.


“Iya, tapi ingat, pesan Abah Guru kamu gak boleh bertindak sendiri, seperti itu,” ucap Ihsan mengingatkan Sidiq.


“Iya aku ingat, tapi aku hanya ingin memastikan saja. Benar tidak itu markas mereka,” jawab Sidiq.


“Jangan sekarang, itu resiko kita ketahuan dan bisa berbahaya,” kata Ihsan.


“Tidak San, kita hati hati ke sana nanti jangan sampai ketahuan,” bantah Sidiq.


“Gak usah, Diq…! Kita bahkan tidak tahu siapa saja dan berapa jumlah mereka,” Ihsan tetap ngotot gak mau.


Sidiq terdiam sesaat, rasa penasaran Sidiq sangat tinggi sehingga kadang membuat Sidiq kurang waspada. Nasehat Ihsan pun kadang tidak di dengarnya, Sidiq masih sering dikuasai darah mudanya yang menggelora.


*****


Benar adanya jika tempat yang di lihat Ihsan dan Sidiq itu adalah markas Ki Ajar Panggiring dan dua murid Ki Munding Suro. Bahkan mereka berhasil merekrut beberapa orang bekas murid  Ki Marto Sentono. Kepulan asap yang mereka lihat itu sebenarnya adalah pagar gaib yang dipasang Ki Ajar Panggiring yang bekerja sama dengan Raja Khodam dalang Anyi Anyi.


“Bagaimana Ki Ajar, sepertinya penjagaan di Padepokan itu sangat kuat,” kata Gaka Seta.


“Betul Ki Ajar, kemarin saja kami hampir tertangkap oleh mereka,” sahut Jaladara.


“Kita jangan datang kesana, tapi kita undang anak Yasin yang gadis itu kemari,” jawab Ki Ajar Panggiring.


“Bagaimana caranya Ki Ajar?” tanya Gagak Seta.


“Usaha kita memanggil Gadis yang dirumah Yasin saja bisa digagalkan Ki Ajar,” sahut Jaladara.


“Harus dengan cara beda, kita harus bisa dapatkan sehelai rambut Gadis itu. tugas kalian untuk mendapatkan sehelai rambut anak tersebut,” kata Ki Ajar.


“Tapi bagaimana kami bisa kesana Ki Ajar, kan Katanya kita gak perlu ke sana?” kata Gagak Seta.


“Iya Ki Ajar, daripada mengambil rambut mending anaknya sekalian yang kita bawa,” sahut Jaladara.


“Kalian yang berpikirnya masih sempit, untuk mendapatkan rambut anak itu tentu saja tidak harus berhadapan langsung. Bisa melalui orang lain, bisa juga dengan cara lain terserah kalian,” ucap Ki Ajar Panggiring.


Gagak Seta dan Jaladara berpikir sejenak, mencari cara mendapatkan sampel rambut Nisa.


“Tapi kan, anaknya saja kita belum tahu Ki Ajar,” kata Jaladara.


“Kita hanya tahu, namanya Nisa, wajahnya saja kita gak pernah lihat Ki Ajar,” sahut Jaladara.


“Kalian berusaha lah, aku juga tetap berusaha. Saat ini aku sudah kirim ratusan Khodam, jika bisa masuk ke tempat itu maka bisa mengambil sehelai rambutnya. Atau bisa merasuki salah satu anak di sana. Nanti melalui anak tersebut bisa mengambil rambut Nisa,” kata Ki Ajar Panggiring.


Gagak Seta dan Jaladara mengangguk angguk, rupanya rasa dendam Ajar Panggiring betul betul besar pada Yasin. Dengan berusaha menculik Nisa, Ajar Panggiring berharap akan melakukan pertukaran. Nisa dilepaskan dengan syarat Yasin yang harus menjadi pengganti Nisa ditawan oleh Ajar Panggiring. Soal Sidiq dan Jafar diserahkan kepada Gagak Seta dan Jaladara.


Sebuah siasat licik sedang direncanakan oleh Ki Ajar Panggiring, kali ini keselamatan Nisa dan Yasin benar benar terancam. Sampai Kyai Syuhada sendiri merasakan kesedihan saat melihat Isyaroh, ketika di Gerbang Pesantren. Kyai Syuhada bisa merasakan akan adanya bahaya besar yang mengancam keluarga Yasin.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


Rekomendasi Novel




 

__ADS_1


__ADS_2