
Karya Author tidak akan ada kemajuan
tanpa ada saran dan kritik dari reader
Yuk bantu Author berkarya lebih baik
dengan tulis kesan pesan juga saran dan kritik
di kolom komentar.
Terimakasih, selamat membaca.
...🙏🙏🙏...
...........
Aku mencari kesempatan untuk bisa menyerang kaki kirinya, dan ada kesempatan saat aku berhasil menghindari serangan tangan nya. Jaka terhuyung ke depan, aku segera memutar tubuh dan menendang paha kaki kirinya. Jaka menjerit dan terguling, namun aku tidak menyangka kakinya pun terasa keras seperti besi juga. Sehingga aku pun kesakitan dan terjatuh menahan sakitnya kakiku yang seakan jadi mati rasa. Seperti habis menendang tiang listrik yang kokoh, dan ternyata itu bukan kelemahan jaka. Karena jaka cepat bangkit berdiri dan hendak menyerangku lagi yang masih menahan Kebas di kakiku…!!!
Aku coba gerakkan kakiku namun seperti kebas dan mati rasa, “apakah tulang kakiku retak.” Kataku dalam hati. Sementara Jaka semakin mendekati aku, tapi aku masih belum bisa berdiri. Harus mencari cara agar aku tidak celaka, karena Jaka memang sangat kuat. Entah apa ilmu yang dipakainya, yang jelas badanya keras bagi besi.
Kupaksakan bangkit dengan bantuan dua tanganku yang menyangga tanah untuk mengangkat kakiku agar bisa berdiri lagi. sampai sampai tanganku agak melesak di tanah yang berpasir, karena di wilayah pegunungan. Namun aku masih belum bisa berdiri, tapi aku jadi mendapat ide setelahnya.
Aku biarkan Jaka mendekatiku yang masih belum bisa bangkit berdiri.
“Hanya segitu saja ternyata kemampuan kamu, aku kecewa sekali tidak perlawanan darimu. Tapi sudah kepalang tanggung, kamu tetap harus aku binasakan sekarang juga.” Kata Jaka yang berdir tak jauh dariku.
Aku hanya diam saja, tidak membalas kata kata Jaka yang tersenyum bangga karena mampu membuat aku tak dapat bangkit berdiri. Beberapa saat itu aku manfaatkan untuk mengatur jalan darahku agar kaki kiu bisa digerakkan.
Namun Jaka sudah lebih dahulu mendekati aku dan siap memukul tubuhku dengan tangannya yang keras bagai besi tersebut. aku tidak mau menyerah begitu saja, tanganku yang berada di tanah berpasir itu langsung menggenggam pasir dan aku lemparkan ke arah mata Jaka dengan kecepatan penuh.
Karena Jaka terlalu yakin akan dapat memukulku dengan tangan nya, tidak menduga akan mendapat serangan dariku sehingga beberapa butir pasir berhasil masuk ke matanya hingga kesakitan. Dan begitu Jaka merasa kesakitan karena matanya kemasukan pasir. Aku berguling menjauh dari Jaka yang mengamuk memukul ke sembarang arah.
Namun temannya yang tadi datang ke counter secara mendadak ikut menyerang aku yang belum bisa berdiri. Sehingga aku dipaksa harus berguling lagi menghindari serangan, dengan menahan sakit di kakiku saat berguling.
“kalau begini terus bisa habis aku, karena aku masih belum bisa berdiri.” Batinku.
Aku berguling lagi menghindari serangan teman Jaka, sampai aku terbentur ranting pohon. Sampai kaki kananku yang sakit terasa makin sakit, terganjal batang pohon tersebut. Sekaligus menghentikan gerakanku, sehingga teman Jaka tadi dengan bernafsu menghampiri aku bermaksud menyerangku.
Saat Teman jaka sudah semakin dekat aku segera mengambil batang kayu tersebut. dan dalam posisi yang belum bisa bangkit berdiri aku memukulkan batang Kayu tadi ke arah kaki teman Jaka.
Bruuuk…
Suara tubuh teman Jaka jatuh ke tanah diiringi teriakan kerasnya. Dia pun kini tak dapat bangkit berdiri sama denganku. Pukulan dengan batang kayu tadi rupanya membuat tulang kakinya patah. Batang kayu yang aku gunakan cukup keras sehingga tetap utuh. Kemudian aku gunakan sebagai penyangga kakiku, agar bisa bangkit. Dan dengan satu kaki aku berjalan dibantu dengan batang kayu buat penyangga.
Aku tinggalkan mereka, dengan tertatih tatih aku berjalan menuju ke pesantren. Dengan menahan sakit yang sangat aku memaksa berjalan pulang. Meski harus beberapa kali berhenti karena tak kuat menahan sakit di kakiku. Dan akhirnya aku terpaksa menghubungi Ihsan agar menjemputku dan menceritakan apa yang terjadi.
Untung saja Ihsan belum ikut berjamaah maghrib, sehingga dia hanya sholat sendiri dan langsung pergi menjemputku.
Dan setelah Ihsan sampai, dengan susah payah aku naik ke motor Ihsan kembali ke pesantren. Di kamarku aku segera memeriksa kakiku dengan lampu penerangan yang cukup. Ternyata kakiku bengkak akibat benturan dengan kaki Jaka tadi. Pantas rasanya sakit banget, dan aku sampai tidak mampu bangkit berdiri.
“Kamu nekad sih Diq, tahu lawan begitu gak ngajak teman ?” ucap Ihsan.
“Maaf San, gak ada waktu tadi soalnya. Memang aku juga terlanjur emosi juga sih tadi. Aduh… kayaknya aku gak bisa sholat dengan berdiri San, dan gak bisa Ziarah mala mini.”Kataku pada Ihsan.
“Yasudah sholat sambil duduk saja, mau gak mau adik kamu harus dikasih tahu Diq, minimal agar dia bisa jaga diri. Bisa jadi adik kamu juga diancam seperti kamu.” Kata Ihsan.
Aku berpikir kata kata Ihsan itu memang benar, dan aku menyetujui usul Ihsan. Ihsan aku minta member tahu Jafar agar hati hati sementara aku sholat maghrib dalam keadaan duduk.
*****
Jafar POV
“Ada apa mas Ihsan jam segini kirim Chat, baru juga habis sholat maghrib baru mau makan.” Kataku dalam hati sambil membuka Chat dari Mas Ihsan teman Mas Sidiq.
“Assalaamu ‘alaikum Jafar…
Maaf mengganggu waktunya, Ihsan hanya kasih kabar saja. Jika Sidiq kakinya terluka tidak bisa berdiri, tadi habis disamperin musuh dan berkelahi. Ada kemungkinan juga akan menyerang kamu. Jadi kamu hati hati saja.” Chat mas Ihsan padaku.
Aku sangat terkejut, siapa gerangan yang bisa melukai Mas Sidiq sampai tidak bisa berdiri. Berarti bukan orang sembarangan.
“Kondisi mas Sidiq bagaimana dan dimana sekarang mas ?” balasku pada Mas Ihsan.
“Di pondok, tapi masih belum bisa berdiri. Ini baru sholat sambil duduk saja.” Jawab chat nya mas Ihsan.
Aku jadi was was, aku harus melihat langsung keadaan mas Sidiq takut terkena senjata beracun atau bagaimana. Aku harus ijin abah guru jenguk mas Sidiq dan ijin tidak ziarah malam ini.
Aku langsung minta izin pada abah guruku untuk jenguk mas Sidiq. Dan beliau mengijinkan dan menyuruh aku menggunakan motor yang biasa dipakai Nia belajar motor. Karena Nia sudah tinggal di tempat lain sambil sekolah dan ngaji.
Setelah mohon doa restu dari abah guru akupun segera menuju ke tempat mas Sidiq tanpa memberitahu Nisa. Takut jadi pengen ikut, mengingat Nisa sangat dekat dengan mas Sidiq dan takut kalau ada apa apa di jalan malah bisa repot.
Dengan agak ngebut karena rasa khawatir terhadap Mas Sidiq aku melajukan motor menuju ke pesantren mas Sidiq. Kurang dari satu jam aku pun sudah sampai di gerbang pesantren mas Sidiq. Aku segera menuju ke rumah abah gurunya mas Sidiq untuk minta ijin menemui mas Sidiq.
Dan aku pun disambut baik oleh abah gurunya mas Sidiq, yang kemudian meminta salah satu santri mengantarkan aku ke kamar mas Sidiq.
“Assalaamu ‘alaikum…!” aku mengucap salam mengetuk kamar mas Sidiq.
“Wa’alaikummussalaam,,, masuk saja aku baru gak bisa berdiri.” Suara mas Sidiq yang tidak tahu jika aku yang datang. Aku Pun membuka pintu dan masuk ke kamar mas Sidiq yang sedang ditunggui mas Ihsan.
“Jafar,,,? Kok kamu ke sini ?” Tanya mas Sidiq kaget.
“Mas Sidiq kenapa gak bilang Jafar kalau kena musibah begini ?” Tanyaku kemudian melihat kaki mas Sidiq. Kaki kanan mas Sidiq yang kanan bengkak seperti terkena pukulan benda tumpul yang sangat keras.
Mas Sidiq hanya terdiam, tampaknya seperti menahan sakit di kakinya. Aku memeriksa kakinya yang bengkak tersebut.
“Mas kaki kamu dipukul siapa ?” Tanyaku pada mas Sidiq.
Kemudian mas Sidiq menceritakan jika kakinya bukan dipukul tap justru terluka saat dia menyerang musuhnya. Yang ternyata badanya sangat keras bagaikan besi, bahkan julukanya si telapak tangan besi.
“Kaki mas Sidiq retak di bagian telapak kaki mas, dan ini harus segera ditangani kalau tidak bisa cacat nanti.” Kataku pada mas Sidiq.
“Apa bisa cacat, terus harus di apakan ?” Tanya Mas Sidiq.
“Jafar bisa menangani, tapi memang sakitnya luar biasa mas karena harus merekatkan tulang yang retak dengan presisi. Kemudian diikat agar tidak geser sampai tumbuh ‘Kales’ ( sambungan tulang secara alami). Terus sebulan penuh mas Sidiq harus istirahat.” Kataku pada Mas Sidiq.
“Aduh kenapa lama sekali Jafar ?” tanya Mas Sidiq.
__ADS_1
“Sabar mas, ingat kesembuhan mas Sidiq jauh lebih penting dari apapun.” Jawab Jafar.
“Yasudah, tolong obtain biar sembuh.” Kata mas Sidiq.
“Mas Ihsan boleh Jafar minta tolong di sediakan kain dan batang kayu pipih buat bikin spalk ( Pembalut untuk patah tulang )” pintaku pada mas Ihsan.
“Bisa, kain nya kain apa saja bisa ?” tanya mas Ihsan.
“Bisa tapi kalau ada kain stagen ( yang biasa digunakan ibu habis melahirkan ) lebih bagus mas.” Jawabku.
Sementar mas Ihsan dan teman yang lain mencari peralatan aku kembali memeriksa kaki mas Sidiq untuk melihat seberapa parah tulangnya. Karena melihat bengkak yang ada kemungkinan tulang kakinya itu cukup parah. Tapi aku tidak bilang ke mas Sidiq, agar dia tidak jadi drop.
Aku meraba pelan kaki mas Sidiq yang bengkak, karena pasti sakit sekali disentuh pelan sekalipun.
“Sakit banget gak mas kalau bagian ini di tekan ?” Tanyaku.
“Iya sakit sekali.” Jawab Mas Sidiq.
Aku jadi sedih, karena tulang mas Sidiq gak hanya retak tapi patah jadi dua, tentu nanti mas Sidiq akan kesakitan saat tulangnya di satukan lagi. bisa jadi bahkan kemungkinan besar pasti akan menjerit keras sekali.
“Mas Sidiq, harus menahan sakit tapi kakinya nanti jangan melawan atau berusaha digerakkan ya. Agar bisa disatukan tulang yang retak ( dalam hatiku bilang patah ). Jadi mas Sidiq boleh menjerit atau teriak untuk menahan sakitnya. Asal kakinya jangan sampai bergerak, bisa bahaya.” Kataku.
“Aku nurut saja Jafar, yang penting bisa pulih secepatnya.” Jawab mas Sidiq.
“Ini Jafar alat yang dibutuhkan.” Kata mas Ihsan memberikan ranting yang sudah dibuat pipih dan kain selendang pengganti stagen.
“Iya mas makasih ya.” Jawabku.
“Selendang bisa kan ? Itu juga pinjam punya santri wati yang biasa ikut seni tari.” Jawab Mas Ihsan.
“Iya bisa kok mas, tapi tolong nanti jagain mas Sidiq dari belakang yam as jangan sampai mas Sidiq mengangkat pantatnya.” Pintaku pada mas Ihsan.
Aku segera memulai proses pengembalian tulang kaki mas Sidiq yang patah tersebut. Dengan lebih dulu berdoa memohon kesembuhan buat kaki mas Sidiq. Untuk membantu mas Sidiq agar tidak terlalu merasakan sakit. Aku mencoba mengajaknya ngobrol agar saat dia asik cerita aku akan dengan cepat mengembalikan tulang yang patah pada tempatnya dan langsung membalutnya. Agar tidak terlalu lama merasakan sakitnya.
“Tadi mbak Riska tahu gak mas kejadiannya ?” tanyaku pada mas Sidiq sambil mencari patahan tulang untuk dikembalikan ke posisinya. Sambil menyiapkan ranting dan menata selendang untuk menahan dan membalut nanti.
“Kejadian lengkapnya tidak tahu, tapi awal saat aku di tantang dia tahu. Bahkan dia sengaja menggoda Riska sebelum mengajakku berkelahi.” Jawab Mas Sidiq.
“Owh pantas mas Sidiq langsung emosi karena punya pacar yang cantik seperti mbak Riska digoda orang. Terus selanjutnya bagaimana mas ? tanyaku terus pada mas Sidiq dan terus mencari posisi tulang yang patah untuk di reposisi.
“Ya akhirnya aku terima tantangan dia, meski dia sempat menunjukkan ilmunya membengkokkan besi hanya dengan satu telapak tangan dia…AAAAAAAAAAhhhhhh……!” mas Sidiq menjerit keras saat aku mereposisi tulangnya dan dengan cepat membalutnya dengan kain selendang.
“Udah kok mas, sekarang tinggal nunggu tumbuhnya ‘Kales agar tulang mas Sidiq kembali menyatu seperti semula.” Kataku lega karena sukses mereposisi tulang kaki mas Sidiq kurang dari semenit.
Sementar mas Sidiq masih terengah engah setelah tadi menjerit sekeras kerasnya.
“Apa memang begitu cara mengobatinya Jafar ?” tanya mas Sidiq setelah agak tenang.
“Begitu bagaimana mas ?” tanyaku.
“Kamu sengaja ngajak ngobrol dulu sebelum menyambung tulangnya ?” tanya mas Sidiq lagi.
“Maaf mas, soalnya Jafar tahu itu memang sakit banget jadi biar mas Sidiq lupa kalau sedang di obati saja.” Jawabku.
“Padepokan apa mas ?” tanyaku penasaran.
“Aduh aku lupa namanya, nanti aku coba ingat ingat lagi dulu.” Jawab Mas Sidiq.
“Yasudah gapapa mas, mas Sidiq berlatih jalan besok pagi dengan bantuan tongkat. Dicoba buat menapakkan kakinya pelan pelan. Jangan dipaksa tapi juga jangan terlalu dimanja.” Kataku.
“Maksutnya bagaimana ?” tanya mas Sidiq.
“Jangan dipaksa sekedar melemaskan saraf dan melatih otot serta menunggu tumbuhnya ‘kales’. Jangan manja saat mencoba menapak memang sakit tapi harus dilatih menapak sampai sempurna agar darah bisa beredar secara normal.” Penjelasanku kepada mas Sidiq.
“Makasih banget ya Jafar, aku tidak menyangka kamu malah tahu ilmu pengobatan seperti ini.” kata mas Sidiq.
“Alhamdulillah mas, dari Yuyut juga Jafar bisa seperti itu.” jawab Jafar.
“Owh syukurlah, aku bangga punya adik seperti kamu Jafar.” Ucap mas Sidiq.
“Mas Sidiq udah makan belum ? Jafar beliin ya Jafar juga belum makan tadi mau makan malah dapat kabar mas Sidiq sakit jadi langsung kesini.” Kata Jafar karena memang sudah merasa lapar.
“Boleh, ambil uang di dompet mas Sidiq tuh ?” kata mas Sidiq.
“Jafar bawa kok mas, itu buat jaga jaga mas Sidiq saja kalau sewaktu waktu nanti butuh apa apa.” Jawabku.
“Ihsan sekalian beliin gih, juga yang ada di kamar ini beliin semua Jafar.” Pinta mas Sidiq.
“Iya mas, tapi sama siapa belinya kan Jafar belum tahu warung yang biasa jadi langganan ?” tanyaku.
“Ayuk ku antar Jafar, sambil cari kopi ya kebetulan kopi kita habis.” Kata mas Ihsan.
“Siap mas…!” jawabku.
“Beneran duit kamu cukup Jafar, bawa dompetku San buat jaga jaga.” Kata Mas Sidi.
“Cukup mas tenang saja.” Jawabku. Tapi tetap saja mas Ihsan disuruh bawa uang sama mas sidiq.
Kami pun keluar mencari nasi rames dan membeli kopi untuk teman ngobrol, karena aku berniat bermalam disitu juga malam itu.
Setelah makan kami melanjutkan ngobrol di kamar mas Sidiq.
“Mas ijin gak usah kerja dan sekolah dulu saja, paling tidak seminggu setelah itu baru berangkat itupun lihat kondisi dan harus dibantu tongkat dulu jalannya.” Kataku ke mas Sidiq.
“Duh kasihan Riska nanti kerja sendirian ?” jawab ma Sidiq.
Aku jadi heran dengan mas Sidiq, “ apakah mas Sidiq ini sangat mencintai mbak Riska sampai segitunya. Untung saja Jafar gak separah itu, meski suka dengan Nia tapi ya biasa saja kayaknya.” Batinku.
“Demi kesehatan mas Sidiq juga, biar besok Jafar yang minta ijin ke yang punya toko. Sekalian minta izin ke sekolah mas Sidiq juga besok.” Kata Jafar.
“Kamu sendiri gak sekolah Jafar ?” tanya mas Sidiq.
“Ijin juga sehari besok.” Jawabku.
“Kalau ke sekolah biar Ihsan saja yang minta ijin Jafar, gak usah kamu gak papa.” Sahut mas Ihsan.
__ADS_1
“Gapapa mas, anterin saja Jafar besok ke sekolahan mas Sidiq. Setelah dari sekolahan baru ke tempat kerja mas Sidiq dan balik ke pesantren Jafar lagi.” Jawabku.
Mas Ihsan dan Mas Sidiq awalnya tidak mengijinkan, tapi aku tetap memaksa karena ada rencana lain yang tidak bisa aku sampaikan ke mereka. Biarlah ini jadi rahasia Jafar sendiri sementara, batinku.
Kami pun beristirahat setelah cukup larut, namun aku ingat jika belum sholat Isya sehingga aku menuju ke masjid dulu untuk sholat Isya.
Setelah selesai sholat Isya aku hendak kembali ke kamar mas Sidiq, tiba tiba aku dihadang oleh orang yang berjubah putih yang kemarin mendatangi aku saat Ziarah di makam. Aku jadi ingat apa yang disampaikan abah guru, jika itu memang eyang ku.
“Assalaamu ‘alaikum eyang Mustolih…!” sapaku lebih dahulu.
“Wa’alaikummussalaam warahmatullahi… kamu sudah yakin sekarang cucuku…!?!” jawab Eyang Mustolih.
“Iya Eyang maafkan Jafar kemarin masih ragu.” Jawabku.
“Tidak apa apa cu, kamu waspada namanya.” Jawab Eyang Mustolih.
“Ada perintah apa eyang, mengunjungi Jafar di sini ?” Tanyaku.
“Tidak, soal Sidiq mas mu tidak usah khawatir. Memang harus begitu dulu, untuk memadamkan api amarah yang ada di dadanya. Insya Allah tidak lama nanti juga sembuh, tunggu saja setelah tujuh hari nanti.” Kata eyang. Rupanya beliau juga tahu kondisi mas Sidiq namun membiarkan dengan tujuan tertentu.
“Insya Allah eyang, tapi Jafar khawatir jika kekalahan mas Sidiq nanti akan merembet kepada orang orang terdekatnya eyang.” Jawabku.
“Terus kamu mau menghadang orang itu ?” tanya eyang Mustolih. Aku tidak berani menjawab, karena memang aku berencana seperti itu. meski tidak terus terang dengan mas Sidiq.
“Maaf eyang, Jafar hanya tidak ingin orang terdekat mas Sidiq juga jadi sasaran orang itu.” Jawabku.
“Eyang tahu, tapi cara kamu salah ngger !” kata eyang Mustolih.
“Jadi apa yang harus Jafar lakukan eyang ?” tanyaku.
“Jangan tanggung tanggung, kalahkan orangnya dan minta ditunjukkan padepokannya padepokan Marto sentono, karena jika dibiarkan orang itu akan mengancam ayah bundamu juga. Setelah mereka tahu bahwa yang mengalahkan maha guru mereka adalah ayah kamu.” Jawab eyang Mustolih yang membuat aku terkejut. Karena aku mengira akan melarang aku, tapi ternyata tidak.
“Baiklah Eyang.” Jawabku lega.
“Tapi ada syaratnya ngger cucuku…!” jawab Eyang Mustolih.
“Apa itu Eyang ?”
“Kamu datang kesana bukan sebagai Jafar, tapi mengakulah jika kamu adalah Sidiq mas mu. Biar mereka jadi berpikir mengganggu orang orang dekat mas mu dan nantinya akan menuntut balasnya ke mas mu Sidiq.” Kata eyang Mustolih mengejutkan aku.
“Apa itu tidak membahayakan keselamatan Mas Sidiq eyang ?” tanyaku.
“ Jangan khawatir, dalam masa sakitnya Sidiq nanti, eyangmu Jafar Sanjaya yang aku minta melatih Sidiq agar lebih matang. Sementar kamu nanti eyangmu Sidiq Ali yang akan member bimbingan Khusus.” Jawab eyang Mustolih.
“Kenapa di balik Eyang, Jafar dididik eyang Sidiq Ali, sedangkan mas Sidiq didik eyang Jafar Sanjaya ?” tanyaku.
“Itu rahasia langit ngger cucuku, dan sudah tertulisnya seperti itu.Sudahlah eyang masih ada tugas lain eyang pamit dulu.” Kata eyang Mustolih yang langsung lenyap.
Aku bertambah lega, besok aku akan menemui Jaka Santosa jika perlu akan aku obrak abrik padepokan yang ternyata adalah musuh ayahku juga.
Aku segera ke kamar mas Sidiq dan tidur disamping mas Sidiq yang sudah terlelap. “kayaknya sudah tidak merasa kesakitan sudah bisa lelap tidur.” Kataku dalam hati memandangi mas Sidiq, kayak bercermin melihat wajah mas Sidiq. Jadi jika besok aku mengaku mas Sidiq memang akan pada percaya, batinku.
*****
Pagi hari setelah subuh dan jogging sebentar bersama mas Ihsan banyak yang mengira aku adalah mas Sidiq. Ya Allah kamu menciptakan aku dan mas Sidiq meski beda ibu kandung tapi wajah kami sangat mirip. Pasti ada maksut tertentu yang hambamu ini tidak tahu, dan baru satu hal yang hamba sadari dari eyang mustolih semalam.
Singkat cerita, aku diantar Mas Ihsan ke sekolahan mas Sidiq untuk meminta Izin. Dan tujuanku ikut ke sekolah mas Sidiq sebenarnya mau lihat mbak Riska dan mau tahu reaksinya jika mengira aku mas Sidiq. Jafar hanya ingin tahu apakah mbak Riska itu agresif atau tidak.
Dan benar saja, saat aku mau keluar sekolahan setelah menyerahkan surat ijin. Mbak Riska dan mbak Lita tampak baru mau masuk sekolah, kami pun bertemu diluar gerbang sekolah.
“Lo Diq, kamu kok malah mau pulang bawa motor siapa ?” mbak lita dulu yang menyapa aku.
“Iya mas, kenapa malah gak masuk sekolah ? kemarin gak terjadi apa apa kan ?” kali ini baru mbak Riska yang bertanya. Kesan sebentar yng cukup bagiku menilai bahwa mbak Riska tidak agresif, jadi Jafar gak terlalu khawatir pada mas Sidiq, batinku.
“Maaf mbak Riska dan mbak Lita, saya ini Jafar bukan mas Sidiq. Masaka tidak bisa bedain sih mbak ?” kataku sambil tersenyum.
“Owh maaf, ya secara kalian mirip banget sih jadi aku ga bisa bedain.” Ucap mbak Lita.
“Diih kamu Jafar, maaf aku kira mas Sidiq untung belum jadi aku omelin tadi.” Kata mbak Riska.
“Memang mau ngomel kenapa mbak ?” tanyaku.
“Soalnya gak kasih kabar apa apa, padahal kemarin didatangi dua orang yang ngajak berantem.” Jawab mbak Riska sedih.
“Iya mbak, Jafar yang minta maaf atas nama mas Sidiq. Mas Sidiq minggu ini ijin tidak masuk sekolah karena terluka. Kakinya mengalami keretakan kecil, dan butuh waktu untuk beristirahat akibat perkelahian kemarin.” Jawabku.
Aku lihat mbak Lita kaget bahkan mbak Riska malah hampir jatuh karena pingsan. Dalam keadaan darurat (Boleh memegang lawan jenis yang bukan mahram ) begini aku segera menangkap tubuh mbak Riska kemudian dibantu mbak Lita membawa pulang mbak Riska. Mereka pun ikutan iji tidak sekolah, bahkan aku harus menemani mbak Lita menjaga mbak Riska karena kedua orang tuanya juga sedang pergi. Menunggu kedua orang tuanya datang, barulah aku kemudian pergi.
Aku harus bersikap seperti mas Sidiq, aku harus kelihatan garang di depan Jaka nanti. Aku mengingat gaya dan logat mas Sidiq jika bicara agar Jaka mengira mas Sidiq kemarin tidak apa apa. Sehingga tidak lagi berani mengganggu mas Sidiq maupun teman temannya.
Aku segera mendatangi padepokan Marto Sentono tempat Jaka bernaung dan berlatih. Dengan menyamar sebagai mas Sidiq aku menendang sebuah balok kayu yang ku arahkan ke pintu padepokan sehingga mengejutkan beberapa orang dan keluar menghampiriku.
“Hei bocah belum kapok ya kemarin kaki kamu sudah kesakitan, coba kalau kamu gak main curang. Sudah aku habisi kemarin.” Kata orang tersebut.
Aku jadi menyimpulkan pasti itu yang namanya Jaka, aku tidak menjawab namun kembali menendang balok kayu yang kuarahkan ke wajah Jaka. Dan tak ku duga Jaka tidak bisa menghindari sehingga wajahnya terkena balok kayu tersebut. namun aku sedikit kaget karena Jaka tidak terluka apa lagi kesakitan…!?!”
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1