
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Maksutnya Bapak Zulfan yang menjadi korban ?” tanyaku setengah membentak.
“Betul pak, belum juga tujuh harinya saat ini.” ucap pak Suhadi.
“Kok gak ada yang kasih kabar ke saya pak ?” kataku geram. Mengapa Zulfan meninggal aku tidak di kasih tahu. Ada apa ini, apa salahku pada Sena dan Nurul…???
“Tidak ada yang tahu bapak, karena Pak sena dan bu Nurul pun saat ini masih juga belum sadar. Hanya anaknya yang sempat diselamatkan oleh bu Nurul. Namun bu Nurul sendiri sempat terluka oleh kelompok penyerang.” Kata pak Suhadi.
Seketika darahku seperti mendidih, mendengar adik sepupuku menjadi korban serangan kelompok yang tidak bertanggung jawab tersebut.
“Hari ini juga saya akan ke sana pak, saya ingin melihat keadaan Sena dan keluarganya. Ketahuilah mereka dulu banyak membantu saya saat saya menghadapi musuh. Waktu Jafar anak saya masih dalam kandungan.” Kataku.
“Baiklah pak, saya permisi dulu biar nanti teman teman mempersiapkan acara tahlilan di tempat pak Sena juga.” Kata pak Suhadi.
Aku sampai tak sempat menjawab ucapan pak Suhadi, kesedihanku kehilangan adik sepupuku sangat memukul batinku. Aku yang berusaha untuk sabar kali ini sudah tak bisa lagi membendung amarahku. Karena Zulfan adikku juga meninggalkan dua orang anak yang masih kecil kecil.
Aku segera mencari Fatimah setelah pak Suhadi keluar dari rumahku. Dan aku mengatakan apa yang terjadi dengan keluarga Sena. Dan Fatimah pun mengusulkan untuk melibatkan Khotimah dalam hal ini, mengingat kedekatan Khotimah dengan Sena dan Nurul.
“Sore ini juga aku akan berangkat ke rumah Sena, sekalian ikut tahlilan untuk mendoakan Zulfan. Dan juga melihat keadaan Sena juga Nurul yang katanya masih juga belum sadar.” Kataku pada Fatimah.
“Iya mas, biar Khotimah aku yang kasih kabar dan berangkat langsung ke rumah Sena.” Jawab Fatimah.
“Kamu hati hati dirumah ya, jaga anak anak aku tidak bisa menjanjikan kapan pulangnya. Mengingat jasa mereka pada kita dulu yang sampai berhari hari d rumah kita.” Kataku pada Fatimah.
“Iya mas, Fatimah juga gak akan lupa itu. jika dirasa perlu Fatimah juga akan menyusul ke sana nanti.” Jawab Fatimah.
”Soal itu nanti lihat situasi dan kondisi saja, aku penasaran siapa yang bisa melukai Sena dan dengan tipu daya apa bisa sampai mengalahkan Sena.” Kataku pada Fatimah.
“Sebaiknya mas juga hati hati, kalo orang itu bisa mengalahkan Sena berarti bukan orang sembarangan.” Kata Fatimah.
Tiba tiba saja Jafar anakku muncul dan ikut nimbrung bicara.
“Ayah boleh gak Jafar ikut ?” tanya Jafar anakku.
“Tidak nak, terlalu berbahaya untuk kamu saat ini. biarlah ayah saja yang ke sana kamu jaga Bunda kamu dan adik kamu Nisa bersama kakak mu Sidiq.” Jawabku pada Jafar.
Jafar tidak menjawab hanya memandang sedih karena aku tidak mengijinkan dia ikut.
“Hubungi Rofiq juga Fat, bisa datang atau tidak itu urusan nanti. Yang penting dikasih tahu saja, karena Rofiq juga pernah dilatih olah kanuragan oleh Sena.” Kataku sebelum berangkat.
Aku segera berangkat menuju ke rumah Sena sendirian. Setelah berpamitan dengan anak anak dan istriku. Dalam perjalanan aku merasa waktu berjalan sangat lama, dan ingin segera sampai ke rumah Sena. Ingin segera melihat keadaan Sena dan Nurul.
Seakan kondisi juga tidak bersahabat karena banyak kemacetan di jalan, tahu begini tadi pakai motor saja malah lebih cepat, pikirku. Dengan perasaan gelisah namun mau marah dengan siapa karena arus lalu lintas yang memnag sangat padat. Sehingga aku terpaksa mencari jalan memutar untuk menghindari kemacetan parah. Mending lewat jalan lingkar meski lebih jauh tapi tidak sampai macet, batinku. Akhirnya aku memutar arah an bisa lepas dari kemacetan dan mencari jalur lain melewati jalan lingkar barat Yogyakarta agar tidak terjebak kemacetan.
Dan akhirnya aku sampai juga ke rumah Sena, dan banyak orang yang tidak aku kenal disitu.
“Pak lik, maaf saya baru saja tahu kalo Zulfan sudah berpulang ke Rahmatullah !” ucapku sedih kepada bapaknya Zulfan.
“Gak papa ngger, sudah garisnya seperti itu. doakan saja agar Zulfan tenang di alam sana.” Kata bapaknya Zulfan pak lik Dimyati.
“Ngapunten lek, saya salah lama gak sowan ke tempat pak lik.” Kataku pada bapak nya Nurul dan Zulfan almarhum.
“Iya. Lek mu sudah dengar semua perjalanan hidupmu dari Sena suami Nurul. Saat ini Sena masih lemah baru saja sadar tadi setelah beberapa hari pingsan. Dan baru saja tahu jika Zulfan adiknya meninggal.” Kata pak lik Dimyati.
“Bagaimana dengan Nurul pak Lik ?” tanyaku kemudian.
“Dia masih belum sadar juga sekarang.” Jawab pak lik Dimyati sedih.
__ADS_1
“Boleh saya lihat keadaan Sena dan Nurul lek ?” tanyaku.
“Nanti saja barengan ke rumah sakit, saat jam besuk saja.” Jawab pak lik Dimyati.
Pantas saja aku gak dikasih kabar meninggalnya Zulfan, Sena dan Nurul saja ikut terluka dan tidak sadar, batinku. Kemudian aku mencari tahu kronologis kejadian yang menimpa Sena dan keluarga. Pada seorang yang mengikuti kegiatan ritual dan Mujahadah di tempat Sena.
*****
Author POV
Yasin mencari seseorang yang tahu kronologis kejadian saat Zulfan terbunuh, dan ditunjukkan pada salah seorang yang kala itu berada di rumah Sena untuk mengikuti kegiatan Mujahadah di rumah Sena.
“Maaf mas tahu kejadian yang menimpa keluarga ini ?” Tanya Yasin kepada orang yang bernama Aji Santiko.
“Iya pak, waktu itu kami sedang bermujahadah, tiba tiba diserang oleh sekelompok orang yang tidak kami kenal sebelumnya.” Jawab Aji Santika.
Kemudian Aji Santika pun segera menceritakan kronologis kejadian yang menimpa keluarga Sena.
“Saat itu sedang berlangsung Mujahadah seperti biasanya, dan pak Zulfan yang kebetulan juga berada disini juga ikut Mujahadah. Namun di tengah tengah kami bermujahadah datang gerombolan preman bersenjata yang menyerang kami semua.
Sehingga mujahadah menjadi bubar, dan jamaah pada kabur, tinggal beberapa orang yang ikut melawan gerombolan itu dengan tangan kosong. Namun oleh pak Sena kami semua disuruh kabur, dan pak Sena melawan mereka dibantu pak Zulfan.
Tapi saya tidak tega karena jumlah mereka terlalu banyak, sehingga saya dan dua teman saya ikut membantu pak Sena dan pak Zulfan menghadapi mereka dengan senjata seadanya.
Kemudian pak Sena berteriak kepada kami untuk menyelamatkan istri dan anaknya. Dan saya meminta dua teman saya yang menyelamatkan bu Nurul dan anaknya. Namun bu Nurul sempat terkena bacokan senjata tajam di kepalanya. Dan pak Zulfan segera memapah bu Nurul untuk di bawa lari, namun pak Zulfan kurang hati hati sehingga terkena tusukan belati di dadanya yang tembus ke jantungnya. Dan meninggal seketika.
Pak Sena yang melihat itu kemudian jadi marah besar dan mengeluarkan ilmunya untuk memukul musuh. Namun salah satu musuh juga berhasil menebaskan golok ke perut pak Sena hingga pak Sena jatuh dan kemudian masih di pukuli oleh orang orang itu.
Untung saja waktu itu segera terdengar sirine mobil polisi datang, dan gerombolan itu bubar melarikan diri. Hanya anak pak Sena yang berhasil di bawa kabur menyelamatkan diri. Pak Sena dan istrinya terluka. Bahkan pak Zulfan meninggal pada saat itu juga.” Begitu cerita Aji Santika, yang menggambarkan kejadian yang menimpa keluarga Sena kepada Yasin.
“Siapa sebenarnya yang menyerang keluarga Sena dan apa motivasinya ?” Tanya Yasin kepada Aji Santika.
“Tidak bisa di pastikan pak, hanya saja sempat terdengar teriakan. ‘siapa yang berani menghalangi dibangunnya tempat hiburan malam di wilayah ini maka tidak akan berumur panjang.” Jawab Aji Santika.
“Hmm…. Jadi ada rencana membuka tempat hiburan malam di wilayah ini ?” Tanya Yasin kepada Aji Santika.
“Saya juga baru tahu itu pak, kalo pastinya bagaimana belum jelas. Tapi memang ada berita seperti itu dan sebagian besar warga menolak akan hal tersebut. termasuk Pak Sena dan kelompok yang ikut mujahadah di sini.” Jawab Aji Santika.
Ada titik terang yang bisa di jadikan petunjuk untuk mencari pelaku penganiayaan tersebut. namun belum sempat Yasin bertanya lebih lanjut, sudah di panggil oleh Bapaknya Nurul dan alm Zulfan.
“Iya lik, yaudah makasih informasinya nanti saya akan tanya tanya lagi setelah dari rumah sakit.” Kata Yasin pada Aji Santika.
Kemudian Yasin segera mengikuti langkah pak lik nya untuk berangkat menjenguk Sena dan Nurul. Sementara persiapan acara Tahlilan di persiapkan oleh kerabat lain dan di bantu warga sekitar. Acara tahlilan Zulfan di selenggarakan di rumah Sena dan Nurul, mengingat Sena dan Nurul masih di rawat di rumah sakit, sementara bapak ibunya Nurul harus mondar mandir rumah sakit maka tahlilan pun diadakan di rumah Sena yang lebih dekat.
*****
Yasin POV
Setelah mendapat keterangan kronologis yang menimpa keluarga Sena akhirnya aku mendapat sedikit Gambaran, harus mulai dari mana dan dengan cara apa dalam mengusut masalah ini. aku akan usut tuntas pelaku dan actor intelektual di balik peristiwa ini. bahkan jika harus kembali untuk menggunakan cara cara kekerasan pun apa boleh buat. Aku laki laki, mendengar saudaraku terbunuh jelas saja amarahku jadi memuncak. Meski aku juga tidak akan secara brutal dalam menguak kasus ini. namun jika terpaksa harus dengan kekerasan aku pun sudah siap secara lahir dan batinku, pikirku.
Tak lama kemudian sampailah aku dan rombongan pak lik, di ruang perawatan Sena. Yang terpisah dengan Nurul.
“Mas Yasin…?” tanya Sena padaku.
“Iya Sena, maafkan aku yang tidak tahu apa yang menimpa keluargamu. Kenapa ada masalah tidak menghubungi aku ?” ucapku pada Sena.
“Maaf mas, Sena gagal menjaga keselamatan Zulfan. Sena juga tidak menyangka jika gerakan mereka akan secepat dan sebrutal itu. memang sudah ada niat meminta bantuan mas Yasin tapi keburu peristiwa itu terjadi.” Ucap Sena.
“Jadi sudah ada gejala gejala akan adanya tindakan kekerasan dari piha tertentu ?” tanyaku.
“Sudah mas, dan malam itu Zulfan aku undang untuk aku ajak bicara seusai mujahadah. Namun naas bagi Zulfan yang ternyata malam itu menjadi malam terakhirnya.” Ucap Sena sambil menitikkan air mata.
“Sudahlah, gak usah terlalu di sesali. Semua yang sudah terjadi adalah kehendak-Nya Ucapku.
Aku jadi ingat kemarin saat mengajak keluargaku ke pantai, ketika Fatimah bertanya mau mampir di rumah Sena atau tidak. Tap aku justru bilang tidak usah, seandainya waktu itu aku mampir pasti akan tahu lebih dahulu. Tidak seperti ini, batinku. Aku harus mengakui perasaan istriku jauh lebih peka dari aku, mungkin saja saat itu Fatimah sudah mendapatkan firasat tapi tidak diucapkan padaku, pikirku.
“Mas, Sena titip rumah dulu selama Sena masih di rumah sakit.” Ucap Sena membuyarkan lamunanku.
“Iya, gak usah khawatir, aku akan menjaga rumah kamu dan anak kamu sampai kamu sembuh. Jika perlu mbakyu mu Fatimah dan Khotimah juga aku minta datang nanti.” Jawabku.
“Maksih banyak mas.” Jawab Sena.
__ADS_1
“Gak usah bilang makasih, jasa kamu jauh lebih besar dari apa yang akan kami lakukan.” Jawabku pada Sena.
Setelah melihat keadaan Sena yang sudah berangsur membaik aku gantian melihat kondisi Nurul istri Sena. Di sana pak lik Dimyati dan bulik sedang menunggui Nurul yang masih tergolek lemah namun sudah sadar.
“Mas,,,, adikku Zulfan….!?!’ Tangis Nurul yang masih lemah.
“Ikhlaskan saja Nurul, adikmu Sahid dan khusnul Khotimah.” Ucapku pada Nurul.
“Mas tahu dari mana, maafkan Nurul yang tak sempat kasih kabar.” Ucap Nurul.
“Sudahlah, semua sudah kehendak Allah, mas tahu justru dari orang lain tanpa sengaja tadi siang. Yang penting kamu sehat dulu, biar kita bisa berkumpul bersama lagi.” Kataku pada Nurul.
“Le bulik titip adikmu yo…!” kata ibunya nurul yang menyebut aku selalu dengan sebutan ‘Le’ ( nang, ngger, nak ).
“Injih bulik, sudah jadi tanggung jawab saya saat ini.” jawabku.
“Nurul, kamu harus kuat, urusan rumah biar aku yang menyelesaikan. Dan membantu menguak siapa pelakunya.” Kataku pada Nurul.
Diluar dugaan ku jawaban Nurul justru sangat menyentuh hatiku.
“Tidak usah di paksakan mas, Nurul gak mau setelah kehilangan adikku Zulfan akan kehilangan orang orang yang Nurul sayangi lainya. Termasuk mas dan suami Nurul Mas Sena, jangan lagi menggunakan cara kekerasan seperti dulu.” Kata Nurul sedikit meredakan emosiku.
“Iya le, yang sudah terjadi ya sudah, bulik gak mau ada korban lagi.” Sahut bulik ku itu.
“Injih bulik." Jawabku singkat. Meski dalam hati kecilku tidak akan membiarkan pelakunya berkeliaran bebas. Yang salah harus tetap diproses secara hukum, meski aku juga gak akan main hakim sendiri. Aku gak akan menggunakan kekerasan lagi selain sekedar membela diri, pikirku.
“Ngger, kamu mau tetap disini menjaga Nurul dan Sena atau atau mau pulang ikut tahlilan mendoakan Zulfan ?” tanya pak lik Dimyati.
Aku agak ragu melihat keadaan Nurul yang masih lemah, namun aku juga ingin mengirimkan doa secara berjamaah untuk Zulfan. Sesaat aku memandangi wajah Nurul adik sepupuku itu. entah salah atau benar yang aku lakukan aku mendekati Nurul dan menggenggam tangan Nurul sambil berkata.
“Kamu yang kuat ya, aku akan pulang mendoakan Zulfan. Besuk biar Fatimah mbakyu mu dan Khotimah juga ikut kesini. Mereka pasti juga kangen pada mu Nurul.” Ucapku pada Nurul berpamitan untuk ikut pulang mendoakan Zulfan.
Kulihat Nurul menitikkan air matanya, adik sepupuku yang ketika kecilnya sangat dekat denganku itu seperti enggan melepaskan tanganku.
“Mas Ahmad,,, titip jagain suami Nurul juga ya. Jangan sampai dia bertindak sendirian.” Ucap Nurul.
“Iya tenang saja, suamimu akan aku jaga seperti dia dulu juga beberapa kali menyelamatkan aku. Aku tidak akan membiarkan dia terluka sedikitpun.” Kataku pada Nurul.
Aku melangkah keluar menuju ke tempat parkiran, bersama pak lik Dimyati. Sementara Bulik menunggui Nurul juga Sena bergantian karena beda kamar perawatan.
Aku segera berangkat menuju ke rumah Sena untuk mengikuti acara Tahlilan. Dan ternyata sampai di sana Khotimah dan Candra sudah sampai, bersama dengan Rofiq dan Arum.
“Loh mas Yasin baru sampai ?” tanya Khotimah.
“Gak kok, udah dari tadi ini dari Rumah Sakit jenguk Sena dan Nurul.” Ucapku.
Tiba tiba Rofiq langsung mendekati dan menggeret tanganku menyingkir dari tempat itu.
“Zain, gue tahu siapa pelakunya yang telah menganiaya keluarga Sena adik kamu.” Bisik Rofiq membuat aku terbelalak kaget.
“Serius kamu bang ?” tanyaku.
“Iya, kebetulan aku baru dapat kabar dari mantan anggota kita. Dan ini tidak lain adalah ulah sahabat lama kita ‘Si Gembul’.” Ucap Rofiq. Membuat emosiku yang tadinya sudah mereda sekarang kembali naik ke ubun-ubun.
Pantas saja, semua ini masih ada kaitanya dengan para penjahat yang dulu. Dan Gembul memang spesialis penyedia dan pencari wanita penghibur. Yang tidak segan segan menggunakan segala cara dalam menjerat mangsa nya. Ini sih gak bisa dibiarkan begitu saja, harus aku usut sampai tuntas.
*****
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Akan masuk awal Konflik.
__ADS_1
...🙏🙏🙏...