
...Yasin serahkan pedang Lady Ninja 2...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Setelah Yasin melemparkan tiga buah batu ke atas Mutsashi pun dengan cepat melempar batu batu tersebut dengan senjata lemparnya saat batu batu itu meluncur ke udara. Dari benturan batu dan senjata rahasia mutsashi menimbulkan percikan bunga api saking kerasnya. Dan itu merupakan bukti jika lemparan senjata Musashi mengenai sasaran dengan tepat.
“Luar biasa, bahkan dalam penerangan yang minim pun kamu masih bisa melempar dengan cepat dan tepat. Aku mengakui kamu luar biasa nona.” Kata Yasin sambil member salam dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
“Sekarang mana pedang itu ?” Tanya Mutsashi yang sudah tidak sabar ingin mengambil pedang Katana Simbol Klan Ninjanya.
“Ambilah sendiri Nona, pedang itu masih utuh disana.” Kata Yasin menunjuk pada sebuah pohon yang disana tergantung pedang Katana milik Mutsashi.
Mutsashi lebih dahulu menyiapkan sarung pedang tersebut sebelum melempar tali pengikat yang mengikat pedang tersebut. Dan sekali lemparkan senjatanya tali itu pun putus dan Pedang jatuh meluncur ke bawah. Dengan gerakan cepat pula Mutsashi menangkap pedang itu dengan sarung pedangnya hingga masuk ke dalam sarung pedang tersebut.
Yasin dan Steve memberikan tepuk tangan kepada Mutsashi. Kemudian setelah Mutsashi berhasil mendapatkan pedang tersebut. Dia pun duduk bersila dan melakukan sebuah ritual kecil pada pedang tersebut sebelum menyimpan di punggungnya.
Setelah itu Mutsashi menghampiri Steve dan Yasin yang berdiri berdampingan. Kemudian Mutsashi membungkukkan badan memberi hormat pada Yasin dan Steve. Steve pun membalas penghormatan tersebut dengan cara yang sama. Yasin hanya mengikuti apa yang dilakukan Steve karena tidak tahu harus bagaimana.
“Di antara kita tidak ada lagi dendam sekarang, Aku harap kita tidak usah bertemu lagi sebagai lawan. Maaf teman kalian terpaksa aku lumpuhkan, demi menjaga nama Klan kami.” Ucap Mutsashi.
“Tidak masalah Nona dia akan segera pulih dan baik baik saja.” Jawab Yasin lega. Sekarang berkurang satu musuh yang harus dihadapinya. Atau yang harus dihadapi anak anaknya, namun Yasin tidak menduga jika ternyata Mutsashi masih menyimpan rasa penasaran kepada Jafar. Dan hal itu sudah disampaikan kepada Steve dengan bahasa mereka.
Namun Steve yang sudah menguji Jafar merasa Yakin jika Mutsashi juga tidak akan bisa mengalahkan Jafar. Meski Mutsashi juga sekedar ingin menguji kemampuan Jafar tidak ingin membunuhnya. Bahkan Mutsashi berkeinginan Jafar menjadi satu satunya Murid Mutsashi yang akan meneruskan Klan Ninja yang dia ikuti. Tanpa harus menjadikan Jafar sebagai pengikut setianya. Sekedar ingin ada seseorang yang meneruskan atau mewarisi ilmu Ninja klan Yuki. Sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri Klan Yuki Mitsuka. Karena penerus terakhirnya Yukimoto sudah lebih dahulu meninggalkan dunia ini bersama anak buah yang lain.
Sehingga tinggal Mutsashi yang masih bertahan. Dan tanggung jawab Mutsashi mencari penerus akan dijatuhkan kepada Jafar. Pemuda berbakat yang mampu menandingi dirinya saat itu. Dan kepada Jafarlah kelak ‘Pedang Katana khusus’ yang menjadi Simbol Klan nya akan diserahkan.
Mutsashi pun kemudian segera melompat pergi hilang dari pandangan Yasin dan Steve. Yasin dan Steve pun segera menghampiri Ponco yang masih belum sadarkan diri.
Kemudian Dengan kemampuan yang dimiliki Yasin menyadarkan Ponco dengan mengurut urat besar Ponco agar melancarkan kembali peredaran darahnya. Dan setelah Ponco Siuman segera diperintahkan untuk mengembalikan semua saluran nafas dan peredaran darahnya sendiri.
Ponco pun duduk bersila bermeditasi mengatur semua peredaran darah dan nafasnya. Dengan menarik nafas dan menahan kemudian mengeluarkan secara pelan lewat mulutnya. Berkali kali Ponco melakukan itu sampai dirinya benar benar merasakan sudah pulih kembali semua aliran darah dan Nafasnya. Meski masih sedikit merasa pusing di kepalanya karena benturan yang cukup keras tadi.
“Bagaimana Ponco, apakah semua baik baik saja ?” Tanya Steve.
“Iya tetua, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. bagaimana tadi apakah semua berjalan lancar.” Tanya Ponco.
“Alhamdulillah saudara Ponco, semua berjalan sesuai rencana kita.” Jawab Yasin.
“Syukurlah, tidak sia sia jika semua berjalan lancar. Dan itu artinya keberadaan kami disini sudah selesai saudara Zain.” Ucap Ponco.
“Meski begitu aku harap kalian tinggal dulu disini sementara waktu. Mungkin masih ada yang harus kita bicarakan diluar masalah Lady Ninja.” Jawab Yasin.
“Kalau itu nanti saudara Zain yang harus ganti berkunjung ke tempat saya. Anak Istriku juga ingin bertemu denganmu saudara Zain.” Jawab Steve.
__ADS_1
“Baiklah saudara Steve, Aku usahakan untuk ganti berkunjung ke sana jika waktu sudah memungkinkan. Saat ini memang belum bisa meninggalkan rumah lama lama. Ada anak didik yag harus aku awasi setiap hari.” Jawab Yasin.
“Kapanpun itu saudara Zain, jika ada waktu tinggal kontak saja anak anakku sudah besar dan siap menjemput kamu nanti.” Ucap Steve.
“Baiklah waktu sudah cukup malam,, sebaiknya kita masuk ke rumah saja. Jangan sampai istriku berpikir yang tidak tidak jika kita kelamaan di luar begini.” Kata Yasin. Dan mereka bertiga segera kembali ke rumah Yasin.
Sesampai di dalam rumah Yasin, Steve dan Ponco sudah disiapkan hidangan makanan kecil dan minuman.
“Siapa yang menyiapkan hidangan ini ?” Tanya Yasin kepada Isna dan Utari yang sedang mengemasi buku pelajaran mereka.
“Tadi Umi sama bibi Lusy Abi yang buatin minuman.” Jawab Isna.
“Sekarang Umi mana ?” Tanya Yasin.
“Umi di kamar, kalau bi Lusy baru dikamar mandi.” Utari yang menjawab pertanyaan Yasin.
“Yasudah kalian istirahat dulu sana, abi juga sebentar lagi mau istirahat.” Kata Yasin. Namun setelah menawarkan Hidangan Yasin terlebih dahulu menemui Fatimah di kamarnya.
“Fat, kamu yang siapkan hidangan itu ?” Tanya Yasin.
“Iya, sama Lusy juga tadi dia maksa mau bantuin.” Jawab Fatimah.
“Tapi lain kali jangan ya, kita masih tetap harus waspada dengan wanita itu.” Ucap Yasin.
“Iya mas, tadi juga Fatimah awasin terus kok gak Fatimah lepas begitu saja.” Jawab Fatimah berbisik.
“Syukurlah, aku mau menemani Steve dan Ponco karena besok pagi mereka akan kembali ke Jakarta. Biar malam ini mereka bisa ngobrol puas denganku.” Kata Yasin.
“Maksutnya ?” tanya Yasin.
“Kali aja penasaran sama sore hari tadi terus masuk ke kamar Lusy.” Jawab Fatimah sambil tersenyum.
“Jadi kamu tahu cerita semuanya ?” Tanya Yasin Heran.
“Kan tadi mas yang suruh Lusy cerita ke Fatimah tapi mas malah pergi tadi.” Jawab Fatimah.
“Gak lah, gak usah mikir aneh aneh begitu…!” gerutu Yasin.
“Iya Fatimah sih percaya mas, tapi sekedar mengingatkan saja karena bisikan Iblis itu sangat halus.” Kata Fatimah. Dalam hati Yasin menggerutu, “ ngapain juga yang gak penting diceritakan ke istriku. Apa memang wanita itu sengaja membuat hubunganku dengan istri jadi rusak ?” tanya Yasin pada diri sendiri dalam hatinya.
Yasin segera menemui Steve dan Ponco kemudian bersama menikmati hidangan yang sudah disediakan Fatimah. Dan saat mereka sedang ngobrol Lusy keluar dari kamar mandi hendak menuju ke kamar yang disediakan untuknya.
“Lama amat di kamar mandi, makin mencurigakan saja. Apa dia menghubungi seseorang di kamar mandi. Aku harus mita bantuan ISna dan Utari apakah dia menyimpan Ponsel dan disembunyikan. Jika iya, aku harus segera menguak apa maksut dia sebenarnya dan siapa yang menyuruhnya.” Kata Yasin dalam hati.
Sebagai orang yang cukup lama bergaul dengan dunia hitam Yasin cukup hafal dengan trik trik pelaku kejahatan juga. Sehingga jiwa detektifnya selalu muncul jika melihat keanehan sekecil apapun. Apalagi melihat tingkah laku Lusy yang aneh menurut Yasin, dari awal pertemuannya sampai dengan ketika dia berada di rumahnya. Semua tingkah laku Lusy membuat Yasin merasa janggal, hanya saja belum tahu pasti siapa yang menyuruh Lusy menyusup ke rumahnya.
"Saudara Zain, sebaiknya kamu hati hati dengan orang yang anda tolong itu tadi." kata Steve.
"Iya, Ponco juga merasakan ada kejanggalan dalam diri orang itu. Tadi di kamar mandi lama sekali, lebih lama dari orang bab sekaligus mandi. kita ngobrol disini saja sudah hampir setengah jam." Sahut Ponco berbisik.
"Iya, memang itu yang baru aku selidiki. Siapa yang suruh dan apa tujuannya." Jawab Yasin.
"Terlalu berbahaya saudara Zain, piara anak serigala di rumah namanya." Ucap Steve.
__ADS_1
"Bukankah kita memang selalu berdampingan dengan bahaya Saudara Steve?" Tanya Yasin.
"Maksudnya bagaimana saudara Zain?" tanya balik Steve.
"Kalau kita lengah, memang wanita itu akan jadi serigala buas yang membahayakan. Tapi jika kita abadi dan kita kurung terus tidak akan lebih berbahaya jika dibiarkan liar." Jawab Yasin.
"Tapi bahaya juga bagi yang di rumah terus saudara Zain. Sebenarnya apa rencana saudara Zain mengurung dia disini?" tanya Steve.
"Menunggu saat yang tepat, untuk memaksa dia mengakui semuanya. Dan Perhitungan ku gak butuh waktu lebih dari tiga Hari saudara." jawab Yasin.
"Nah selama tiga hari itu sudah memberikan banyak waktu bagi dia untuk berbuat culas saudara Zain." kata Steve.
"Sebaiknya memang saudara Zain pikir lagi, kasihan yang selalu di rumah bisa bisa jadi sasaran nanti." Kata Ponco.
"Jadi begini saudaraku, aku selalu awasi dia bahkan kedua anakku juga ikut mengawasi. Jadi tidak kubiarkan begitu saja." bisik Yasin pada dua Sahabat nya sambil menunjukkan pantauan dari ponselnya.
Barulah kedua sahabatnya itu paham, jika Yasin sengaja menjebak Lusy dan akan merekam tindakan yang mencurigakan. Serta memaksa Lusy agar mengakui semuanya.
"Jadi kita juga ikut diawasi dong saudara Zain!?!" goda Steve.
"Kalau kalian gak sekedar diawasi tapi memang didampingi terus." seloroh Yasin.
Mereka pun terus mengobrol menghabiskan waktu mereka bersama.
.....
Ditempat lain Jalu yang menerima pesan dari Lusy jadi sangat kecewa karena Ludy belum bisa berbuat apapun juga.
Bahkan sekedar membuat minuman pun selalu bersama istrinya Yasin. Sehingga belum memungkinkan untuk memasukkan sesuatu yang bisa membuat Yasin tak sadar.
"Ternyata tak semudah yang kita duga kakang." kata Jalu.
"Sabar adi Jalu, kan juga baru tadi biar wanita itu dapat kepercayaan dulu dari Yasin. baru dia bisa beraksi." Kata Gede Paneluh.
"Apa perlu di perintah, mencuri potongan rambut stau kuku Yasin. Untuk dijadikan media teluh dan Santet saja kakang?!?" kata Jalu yang sudah tidak sabaran.
" Belum perlu, lagian aku juga ragu bisa menembus dia apa tidak. Untuk bisa menyantet harus bisa menembus dirinya dulu. Sementara biar begini dulu, nanti kita tata ulang. Apa perlu gunakan santet atau tidak. biar diselidiki dulu.
"Baiklah, tapi jika sampai besok sore tidak ada perkembangan maka mau gak mau harus pakai cara teluh. jika perlu kita ke makam ki Joyo Maruto." Kata Jalu yang sudah sangat berang.
"Tidak semudah itu Jalu, kita ikuti dulu rencana ki Gede Paneluh. bagaimana pun Wanita bisa jadi senjata yang lebih mematikan dari senjata terhebat sekalipun...!!!" Jaka Santosa ikut angkat bicara....?!?
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1