Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jalu yang berdarah dingin


__ADS_3

...Jalu yang berdarah dingin...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


Semua sepakat penculikan Riska dilakukan dua hari sebelum hari H Pagelaran Akbar. Dan dibuat agar Sidiq dan Jafar tahu Riska diCulik saat pertempuran akan dimulai. Untuk menjatuhkan konsentrasi Sidiq dan Jafar saat melawan Jaka Gledek alias Yasin Ayah mereka sendiri…!


“Baiklah aku mohon pamit dulu, mau segera persiapan melakukan ritual di Tempuran Sungai.” Pamit Jalu. Kemudian segera meninggalkan Padepokan ki Marto Sentono. Sementara  Gede Panelud langsung bergabung dengan ki Marto Sentono di Padepokan tersebut.


Dalam perjalanan Jalu kembali terpikir dengan Jaka Gledek, Jalu tidak tahu jika itu adalah Yasin yang sedang menyamar saja. Jalu hanya percaya dengan Gede Paneluh tidak dengan ki Marto Sentono apalagi Murid muridnya yang dianggap gak level oleh Jalu.


“Aku rasa orang yang bernama Jaka Gledek itu adalah keturunan ki Sapto Atmojo murid kinasih Resi Begawan Sanjaya. Tidak mungkin kakang Gede Paneluh tidak mampu menembus orang itu jika hanya orang sembarangan saja. Aku harus mendekati dia agar mau memberikan tambahan Ilmu padaku.” Kata Jalu dalam hatinya.


Sesampai di rumah Jalu pun segera mempersiapkan diri dan ubo Rampe yang akan digunakan untuk ritual nanti malamnya.


“Semua sudah siap, tinggal menunggu waktu untuk berangkat. Tapi semakin kesini godaan nya semakin berat saja. Ini tinggal dua kali lagi aku melakukan berendam di tempuran. Aku harus kuat tidak boleh gagal di tengah jalan.” Kata hati Jalu menyemangati diri.


Pada menjelang tengah malam Jalu berangkat menuju ke sebuah Tempuran sungai. Dan kali ini Tempuran sungai itu letaknya tidak jauh dari pemukiman penduduk. Sehingga Jalu harus berhati hati agar tidak ketahuan penduduk setempat ketika sedang melakukan ritual berendam. Agar tidak mengganggu konsentrasinya dalam melaksanakan ritualnya tersebut.


Dan sesampai di lokasi, setelah menitipkan kendaraan di salah satu rumah warga Jalu pun berjalan menuju ke Tempuran Sungai tersebut. Dan menyalakan dupa dan menebarkan kembang tujuh rupa untuk mengundang Khodam Jin di tempura itu.


Seperti sebelum sebelumnya setelah ritual berendam ke dua tanpa menggunakan sepasang Ayam untuk sesaji. Hanya malam pertama dan yang ke tujuh atau terakhir nanti sebagai penutupan. Ditambah melarung kepala Kambing yang warnanya Hitam bergaris putih di perut. Sebagai syarat persembahan kepada Khodam khodam dan pengikutnya.


Kali ini Jalu kembali duduk di batu tepat di pertemuan dua arus sungai yang menjadi satu. Dengan melafalkan mantra mantra seperti sebelumnya secara terus menerus.


Lama lama Jalu merasakan airnya mendadak jadi sedingin es sampai Jalu menggigil kedinginan. Namun tak lama Jalu merasakan menggigil kedinginan merasakan keanehan yang lebih. Karena air dari dua sumber mata air itu seperti berbeda suhu yang sangat signifikan.


Air yang disebelah kanan terasa sangat dingin seperti es. Sedangkan air yang disebelah kanan terasa panas seperti air yang hampir mendidih. Sehingga tubuh Jalu sampai bergetar menahan panas dan dingin secara bersamaan.


Untung saja hal itu tidak terlalu lama Jalu rasakan, hanya beberapa detik bahkan air kembali terasa normal. Jalu pun bisa bernafas dengan lega. Dan melafalkan mantra dengan lebih tenang. Namun ketenangan itu juga tidak lama, karena Jalu melihat ada seekor ular besar yang datang menghampirinya. Seakan siap untuk memangsa Jalu, namun Jalu sudah bertekad tidak akan takut apapun. Sehingga saat ular itu mendekat Jalu tetap tidak mau bergerak, hanya mulutnya yang komat kamit membaca mantra mantra seperti sebelumnya.


Hingga jarak ular besar itu tinggal satu meter saja didepan Jalu, Jalu tetap tidak bergeming. Bahkan saat ular itu membuka lebar mulutnya dan mengeluarkan ******* Jalu tetap tidak bergeming sama sekali.


“Hai anak manusia… apa yang kamu cari disini ? kedatanganmu membuat rakyatku kepanasan, berhentilah atau aku makan kamu sekarang ?!?” ternyata ular jelmaan yang bisa bicara yang mendatangi Jalu tersebut.


“Aku tidak akan pergi, sampai aku mendapatkan apa yang aku cari. Kamu siapa berani menghentikan semediku disini ?” Jawab Jalu balik membentak.


“Aku ki Taksaka, penunggu dan Raja di tempat ini. apa yang kamu inginkan ?” Ucap ki Taksaka ( Taksaka \= Ular dalam bahasa jawa kawi, seperti Harimau \= Sardulo kuda \= Turangga dan lain lain )

__ADS_1


“Aku menjalankan ritual sebagai syarat menyempurnakan Aji Gilingwesi. Untuk mengambil susuk emas yang ada pada jasad Ayahku.” Jawab Jalu.


“Hmmm… besar nyali dan tekadmu, ini sudah hampir pagi keluarlah dan pulanglah rakyatku sudah sangat kepanasan.” Ucap Taksaka terbut.


“Aku masih tanggung, dan tiap meninggalkan Tempuran aku harus membawa sesuatu.” Jawab Jalu.


“Baiklah, apa yang kamu inginkan dari ku sekarang ?” tanya si ular Taksaka tersebut.


“Mustika ular agar aku bisa kebal racun.” Jawab Jalu.


“Kamu harus cari dan ambil sendiri, aku hanya bisa kasih tahu ciri dan caranya.” Jawab Taksaka.


“Apa ciri nya dan bagaimana caranya ?” tanya Jalu.


“Carilah ular yang bertarung tapi yang sejenis, Weling dengan weling atau cobra dengan Cobra. Pada saat keduanya saling memandang, lihatlah tepat ditengah dua ular tersebut. ada sebuah mustika yang sedang mereka perebutkan. Ambilah kalau kamu mampu akan menguasai ular itu, tapi jika tergigit maka binasalah kamu.” Kata Taksaka langsung lenyap ari hadapan Jalu.


“Kurang ajar,,, mencari ular bertarung saja sulit apalagi yang sejenis. Belum lagi resikonya jika gagal, tap gak papalah aku harus tetap mencoba.” Kata Jalu dalam hatinya.


Hingga tak terasa waktu sudah menjelang subuh, saatnya Jalu meninggalkan sungai tersebut. Namun lamat lamat Jalu mendengar ada orang datang, rupanya habis menjaga pintu air untuk mengairi Sawah penduduk setempat.


Jalu kepergok dengan dua orang yang habis membuka pintu air parit untuk mengairi sawah tersebut. Jalu yang masih basah kuyup itu pun tak bisa menghindari pertemuan dengan orang tersebut.


“Heeh kamu siapa dan orang mana, ngapain kamu disini malam malam ?” tanya salah satu orang tersebut pada Jalu.


“Saya hanya mandi saja untuk keperluan khusus tidak berniat mencuri atau berbuat jahat.” Jawab Jalu menahan dingin.


“Bukan urusan kalian.” Jawab Jalu jengkel karena sudah menahan dingin belum ganti pakaian kering.


“Dasar orang tidak tahu sopan dibilangin malah jawab begitu…!” bentak orang itu. sambil tanganya mendorong kepala Jalu. Sehingga membuat Jalu jadi makin tersinggung.


“Jangan pancing kemarahan saya, saya tidak mau ribut.” Jawab Jalu.


Tapi kedua orang itu malah ngakak tertawa menyepelekan Jalu yang tampak lemah menggigil kedinginan.


“Mau marah marah saja, memang kenapa kalau kamu marah ?” Tanya orang yang satunya. Membuat Jalu tak lagi bisa menahan emosinya. Sambil melafalkan mantra aji gilingwesi nya Jalu kemudian memukul orang tersebut. dan orang yang menantang itu jatuh tak bergerak, dan mengeluarkan darah dari hidung, mulut dan telinganya, gegar otak dan mati seketika.


Orang yang satunya menjadi ketakutan dan hendak kabur, namun jalu yang sudah sangat marah menarik baju orang tersebut. kemudian membalikkan badan orang tersebut menghadap ke arahnya.


“Ampun ampun saya kapok maafkan saya…!” kata orang tersebut. Jalu hanya memandangi wajah orang tersebut tanpa berkata apapun. Membuat orang tersebut makin ketakutan sampai terkencing di celana, ingat kawan nya sekali pukul pecah kepalanya.


Jalu menatap Tajam wajah orang itu, dan tanpa diduga Jalu mengadu kepalanya dengan kepala orang tersebut dengan tetap melafadzkan aji Gilingwesi nya. Dan seketika itu juga orang tersebut bernasib sama dengan orang sebelumnya.


Jalu yang baru saja membunuh dua orang tak bersalah itu pun hanya membersihkan tangan dan wajahnya dari percikan darah. Kemudian pergi meninggalkan tempat itu seakan tidak terjadi apapun juga. Dua mayat itu pun dibiarkan begitu saja di tempatnya. Setelah mengganti dengan baju kering Jalu pun mengambil kendaraan yang ia titipkan di sebuah rumah warga dengan alasan mau ditinggal memancing, dengan sedikit memberi imbalan. Jalu berpamitan dan kembali ke rumahnya, meninggalkan dua mayat yang barusan dia bunuh gara gara hal sepele.


>>>>> 

__ADS_1


Yasin POV


 


“Yah, Jafar merasa was was ya Yah ?” tanya Jafar padaku.


“Was was kenapa Jafar ?” tanyaku pada Jafar.


“Gak tahu Yah, tiba tiba merasa was was saja…!” Jawab Jafar.


“Udah kamu berdoa saja, banyakin baca tiga surat terakhir dalam AL-Quran biar rasa was was kamu hilang. Was was itu datangnya dari Setan.” Jawabku.


“Tapi ini kayaknya beda Yah, rasanya seperti aka nada bahaya yang mengancam keluarga kita Yah.” Kata Jafar anakku.


“Ya memang saat ini kita baru terancam suatu bahaya Jafar. Kamu agak panik saja mungkin, udah jangan terlalu dipikirkan. Siap siap  sholat Jumat sana sebentar lagi masuk waktu.” Jawabku kepada Jafar.


Kemudian Jafar pergi ke kamar mandi untuk bersiap sholat Jumat. Kemudian Sidiq dan Ihsan pun segera mandi juga, setelah dari pagi mereka berlatih memperdalam jurus Suci Hijaiyah. Aku juga bersiap mau mandi, namun tiba tiba Nisa anakku datang bersama dengan Utari putihnya kang Nurudin.


“Yah boleh gak, Nisa sama mbak Tari jalan jalan mau beli Bakso.” Pinta Nisa.


Seketika aku jadi ingat dengan ucapan Jafar anakku tadi, aku pun merasa agak was was juga jadinya.


“Jangan nak, keadaan belum aman, kalau mau beli bakso nanti habis jumatan ayah anterin saja.” Jawabku. Meski Nisa sedikit kecewa namun dia juga hanya nurut saja.


“Kalau Utari yang beli dibawa pulang boleh gak Abi ?” tanya Utari.


Aku berpikir sejenak.


“Sebaikya jangan keluar keluar dulu nak, aku ingat peristiwa yang dulu soalnya.” Jawabku singkat. Dan Utari pun mau mendengarkan kata kataku, tapi tiba tiba kau malah jadi kepikiran Isna yang baru sekolah. Bagaimana dia nanti kalau pulang sekolah, bawa motor sendiri. Aku jadi ingat jika ki Martono dan anggotanya sedang mencari tahu siapa Yasin. Rasa was wasku jadi semakin tinggi saja.


“Aku harus jemput Isna nanti, jangan sampai kecolongan oleh anak buah Marto sentono. Meskipun kayaknya belum tahu jika Yasin itu adalah aku, tapi dengan hadirnya kerabat dia sapa tahu ada yang bisa menerawang dan tahu jika Yasin itu adalah aku.” Aku berkata dalam hatiku.


Ada benarnya juga perasaan Jafar tadi, aku pun sekarang juga merasa was was begini. Aah sudahlah aku persiapan sholat jumat dulu saja. Segera aku Mandi keramas agar hilang semua gangguan dan bisikan setan yang membuatku was was. Jika itu adalah bisikan setan, namun jika itu adalah firasat dari hati semoga tidak terjadi hal yang membahayakan keluargaku, batinku berdoa…!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2