Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Puber pertama Sidiq


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Begitulah percakapan Ponco dan Steve, mereka kembali ke rumah Ponco dan Steve sambil mengingat ingat dimana menyimpan buku rekeningnya tersebut. dan masih bisa berharap jika tidak ketemu maka terpaksa mengurus ke bank di mana dia menyimpan uangnya dulu. Untuk mengurus buku tabungan dan ATM nya tersebut, namun waktu yang sudah sore dan kebetulan malam minggu, maka mau gak mau mereka harus menunda sampai dengan hari senin. Steve sebenarnya ingin menemui Yasin saat itu juga, namun akhirnya berubah pikiran.lebih baik menunggu sampai mendapatkan kembali hadiah kecil yang disiapkan tersebut.


Steve jadi merasa gundah mendengar kondisi Yasin, sementara Ponco pun menjadi merasa bersalah karena melupakan pesan Steve waktu itu. Kedua orang itu pun lantas beristirahat sejenak sambil memikirkan cara membantu Yasin.


“Kamu mau kerja apa Ponco ?” Tanya Steve.


“Belum terpikirkan olehku saat ini, aku hanya ingin hidup tenang dulu.” Jawab Ponco.


“Gak bisa begitu Ponco, kamu juga kan harus memikirkan berumah tangga. Dan harus menafkahi anak istri kamu nanti.” Ucap Ponco.


“Itu juga yang pernah dibicarakan Zain dulu, bahkan aku disuruh belajar menanam bibit buah dan jualan. Tapi keburu kebun Zain dirusak orang.” Jawab Ponco.


“Sabar Ponco, bagaimana kalau kamu ikut kerja sama aku saja di Jakarta ? Aku buka perusahaan kecil di bidang penyedia bahan baku industri. Bagaimana kalau  kamu ikut gabung saja, tapi memang kerjaannya cukup berat.” Ucap Steve.


“ Kebetulan kalau begitu, aku senang bisa bersama kamu lagi. pekerjaan apapun gak masalah, yang penting ada pemasukan buat hidup.” Jawab Ponco.


“Kalo begitu, setelah urusan kita membantu Zain selesai kamu langsung ikut aku saja ke Jakarta nanti.” Ucap Steve. Rupanya Steve sudah kembali ke Indonesia dan sudah lama merintis usaha di Jakarta. Sebagai supplier bahan baku industri dan sudah cukup berkembang.


“Aku siap saja Steve, semoga saja semuanya lancar.” Jawab Ponco.


“Mudah mudahan Ponco, ternyata bekerja di sektor real itu lebih nyaman. Meski memang butuh kerja keras dan ketekunan. Dan aku sangat menikmati semua proses yang aku jalani selama ini Ponco.” Ucap Steve.


“Memang usaha apa kamu sekarang ?” Tanya Ponco kepada Steve.


“Remeh sih usahaku Ponco, tapi yang penting hasil keringat sendiri dan tidak merugikan orang lain. Hanya mengumpulkan barang bekas berupa botol plastic kemudian di press dan disetorkan ke perusahaan pengolahan biji plastik. Saat ini masih sangat kekurangan bahan baku, rencanaku mau buka cabang di daerah lain.” Ucap Steve menjelaskan bidang usaha yang dia geluti saat ini.


Ponco agak kaget mendengarnya, seorang Steve mau bekerja keras dan boleh dibilang dalam bisnis yang dipandang sebelah mata bagi sebagian orang.


Namun itulah realita hidup, tidak selamanya orang itu di atas kadang juga harus di bawah. Mengikuti perputaran Roda Kehidupan. Tidak bisa hanya sekedar menunggu nasib saja tentunya. Harus dengan usaha dan kerja keras serta menikmati proses tidak sekedar membayangkan hasilnya saja.


Begitulah Steve dan Ponco, Steve yang sudah bangkit dan mencoba hidup secara wajar dalam mencari nafkah. Tidak lagi menggantungkan pada orang lain sebagai Bodyguard, apalagi Bodyguard seorang mafia seperti Rahardian yang saat ini sudah meninggal. Ketika pertama kali mendengar dari Ponco Steve pun kaget, namun dengan cepat bisa mengendalikan diri.


 *****


Yasin POV


“Fat, mau masak apa hari ini ?” Tanya Yasin.


“Fatimah mau bikin sayur dari kebun belakang, tapi…?” ucap Fatimah terputus ragu mengatakan pada suaminya.


“Tapi kenapa ?” Tanya Yasin.


“Persediaan beras hanya cukup buat anak anak yang mau ngaji nanti sore.” Jawab Fatimah.


“Begitu saja kok bingung, siang ini kita makan pakai singkong saja. Gak usah pake nasi, biar nasinya buat anak anak nanti sore.” Jawab Yasin santai. Sebagai orang yang pernah hidup lama di pesantren menghadapi hal seperti itu tidaklah kaget tentunya. Namun yang Fatimah pikirkan adalah untuk anak anak esuk harinya yang belum ada kepastian.


“Buat kita gak papa mas, tapi bagaimana besuk kalo anak anak yang pada ngaji gak ada beras lagi.” Ucap Fatimah.


“Yasin terdiam sejenak, tampak sedikit bingung juga memikirkan anak anak yang tiap sore ngaji di rumahnya. Jika tidak memberikan makan seperti kebiasaan sebelumnya. Karena bagi Yasin dan Fatimah, kondisi yang dialami nya tidak boleh orang tahu. Karena sama halnya menjual iba pada orang jika sampai harus diketahui orang lain.Yasin memutar otak, agar dapat keluar dari masalah yang menghimpitnya itu.


“Sabar saja, nanti aku akan mencoba mengambil hak ku yang belum diberikan oleh pembeli bibit tanaman kita dahulu. Kayaknya masih ada beberapa orang yang punya tunggakan.” Kata Yasin.


Dalam hati Fatimah meragukan ucapan  suaminya, karena orang yang dimaksut sudah beberapa kali ditagih tapi juga gak pernah mau membayar. Meski Fatimah tidak khawatir Yasin akan main kekerasan lagi, setelah tahu persis suaminya sudah benar benar meninggalkan dunia kekerasan.


“Ya, mudah mudahan saja ada hasilnya, asal jangan sampai terjadi keributan mas.” Ucap Fatimah mengingatkan suaminya.


“Iya, aku juga sudah gak mau ribut ribut lagi sekarang, sudah bukan saatnya.” Jawab Yasin datar. Fatimah kemudian mohon diri untuk memasak di dapur, Fatimah yang tahu suaminya sudah lapar segera memasak menu yang tersedia di kebun belakang rumahnya.


Sementara Yasin mencoba membuka buka buku catatan piutang  orang yang dulu mengambil bibit tanaman pada dirinya.


“Sebenarnya, aku masih bisa memulai usaha bibit lagi kalau semua uangku dikembalikan. Tapi kayaknya gak mungkin, ternyata ada saja orang orang yang culas. Sengaja menghilang dan meninggalkan tanggung jawab membayar barang yang sudah dibeli.” Gerutu Yasin dalam hatinya.


Saat sedang membuka buka buku catatan piutang sambil menjaga warung, karena di tinggal masak Fatimah. Tiba tiba Yasin dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah dikenalnya.


“Assalaamu ‘alaikum pak Yasin…!” sapa tamu yang datang menemui Yasin tersebut.


Yasin kaget dan terdiam sesaat, memandang orang yang pernah dikenalnya tersebut.


“Pak Yasin lupa dengan saya ? Kok tidak bisa dihubungi lagi nomornya ?” ucap orang Tersebut.


“Owg gak kok pak, hanya kaget saja kok Pak Zul bisa sampai ke rumah saya ?” jawab Yasin yang tersadar dari bengong sesaat tadi.


“pakah pak Yasin sekarang sudah tidak jualan bibit tanaman buah lagi ?” tanya orang tersebut yang ternyata adalah pak Zulkifly langganan bibit tanaman buah Yasin dulu.

__ADS_1


“Iya pak, maaf gak kasih kabar sama pak Zul.” Jawab Yasin singkat.


“Kenapa pak, apakah ada masalah ?” Tanya pak Zul.


“Aah gak kok pak, hanya saja saya sudah merasa capek kalo terlalu sering keluar rumah dalam jarak jauh. Jadi mending buka warung kecil kecilan begini saja pak, apalagi  saat ini hanya berdua saja dengan istri. Anak anak sudah masuk pesantren semuanya. Owh iya, mau bicara disini atau dirumah pak ?” tanya Yasin pada pak Zul tamunya.


“Di rumah saja kalau boleh, tapi bagaimana dengan warungnya pak ?” tanya pak Zul.


“Gak papa, sebentar lagi juga mau saya tutup hampir masuk waktu dhuhur. Mari ke rumah saja, biar bisa ngobrol dengan nyaman.” Ajak Yasin ke pak Zul.


Dan sesampai di ruang  tamu Yasin segera menemui Fatimah agar membuatkan minuman untuk tamunya.


“Bikin kan minuman ada tamu, pak Zul langganan kita dulu.” Ucap Yasin.


“Owh ia, mau apa dia mas ?” tanya Fatimah pada Yasin.


“Ya belum tahu, kan belum ngobrol.” Jawab Yasin.


Kemudian Fatimah meletakkan singkong yang baru dikupasnya, kemudian mencuci tangan dan membuatkan minuman buat pak Zulkifly tamunya.


Yasin pun segera kembali ke depan menemui tamunya. Dan pak Zul melihat suasana di tempat Yasin sedikit merasa heran. “sepertinya baru mengalami masalah yang tidak mau diceritakan pak Yasin ini.” ucap pak Zul dalam hati.


Belum sempat berpikir lebih jauh tiba tiba Yasin datang kembali.


“Apa kabar pak Zul, bagaimana usahanya, lancar lancar saja kan pak ?” tanya Yasin.


“Alhamdulillah pak lancar, pak Yasin sendiri bagaimana kok malah berhenti usahanya ?” tanya pak Zul.


“Panajng pak ceritanya, jadi saya sementar off dulu saja. Mungkin suatu saat akan mulai lagi, nanti kalo sudah mulai lagi saya kasih tahu bapak.” Ucap Yasin. Yang terhenti karena kedatangan Fatimah membawa minuman buat tamu dan suaminya.


“Silahkan diminum pak, maaf sekedar minuman saja. Istri baru mulai masak itu soalnya tadi gentian jaga warungnya.” Ucap Yasin sambil senyum.


“Iya pak gak papa, sebenarnya saya kesini mau ada perlu soal tanaman pak. Bukan mau beli, tapi sudah beberapa tahun tanaman anggur kami kan kurang dirawat. Jadi tumbuhnya liar, mau minta tolong untuk dirapikan dan sebagian lagi mohon di rombak saja pak.” Ucap pak Zul.


“Kenapa harus dirombak pak, kalau masih bisa dirawat biar bagus dan produktif ?” Tanya Yasin.


“Intinya kami pinging anti suasana baru pak, apa pak Yasin bisa ?” tanya pak Zul.


Dalam hati Yasin bersyukur, masih diberi Job yang artinya masih diberikan rezeki dari hal yang tidak disangka sangka.


“Owh iya pak, bisa dan kalo boleh nanti jika terpaksa di rombak batangnya saya minta pak. Mau sekaligus mulai membuat bibit baru lagi.” Ucap Yasin jujur.


“Silahkan pak, malah kebetulan karena kalo di tinggal di tempat saya malah gak kepakai nanti.” Ucap Pak Zulkifly.


Mereka pun asik ngobrol berdua, sampai dengan Fatimah kembali datang membawa Singkong rebus sebagai teman minum.


“Owh iya bu, terimakasih ini malah makanan tradisional yang sehat.” Jawab pak Zul.


Yasin juga mempersilahkan pak Zul menikmati hidangan sambil ikut memakan singkong rebus dari istrinya. Dan singkat cerita Yasin menyanggupi untuk berangkat ke rumah pak Zul. Dan memilih esuk pa hari minggu, agar bisa berangkat pagi dan diharapkan bisa selesai sehari.


Pak Zul pun segera berpamitan untuk pulang, dan memberikan beberapa lembar uang sebagai uang muka untuk melaksanakan proyek perawatan kebun pak Zul.


Setelah kepergian pak Zul, Yasin pun dengan senang hati menemui Fatimah istrinya dan menyerahkan uang hasil pemberian pak Zul. Dan mengatakan jika besok akan ke rumah pak Zul untuk merawat kebun yang dulu dia tanam.


“Lah buat ongkos mas kesana besok sudah ambil belum ?” Tanya Fatimah.


“Sisakan saja buat beli bensin, yang lain pergunakan untuk keperluan dapur. Biar besuk anak anak yang ngaji ada stok makanan.” Ucap Yasin kepada Fatimah.


Fatimah terharu menerima uang dari Yasin, Sudah cukup lama Fatimah gak pegang uang lebih dari seratus ribu. Dan Hari itu untuk uang muka proyek perawatan kebun pak Zul dapat Dp lima ratus ribu. Yasin pun ikut bahagia melihat Istrinya tersenyum ceria.


“Semoga ini jadi pertanda awal yang baik mas, mudah mudahan memang jalan rejeki kita akan kembali terbuka.” Ucap Fatimah.


“Aamiin, kalo begitu ambil sebagian sedekahkan pada yang membutuhkan. Minimal dua setengah persen kita zakatkan saja supaya lebih berkah.” jawab  Yasin.


“Owh iya mas, nanti Fatimah kasih ke anak anak yatim saja yang dua setengah persen.” Jawab Fatimah bahagia. Yasin bangga dengan sifat istrinya, yang meski dalam kondisi kesulitan ekonomi tidak banyak mengeluh dan tetap mau berbagi. “benar benar istri solehah” ucap Yasin dalam hati.


Suami istri itu pun kemudian melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dan makan berdua dengan singkong rebus dan sayur buatan Fatimah. Baru kemudian Fatimah disuruh belanja ke warung untuk kebutuhan dapur, dan tidak lupa juga Fatimah pun membelikan Kopi buat suaminya. Karena sudah beberapa hari tidak minum kopi.


“Ni mas, aku bikinin kopi kan beberapa hari gak ngopi. Cuma ngeteh aja, biasanya ngopi terus.” Ucap Fatimah menggoda suaminya.


“Ya kita harus bisa menerima kenyataan kita lah, ngopi kan gak harus jadi gak usah dipaksakan juga.” Jawab Yasin samba menyeruput kopi buatan istrinya.


“Ada yang kurang gak mas ?” tanya Fatimah.


“Gak kok, kan aku memang gak pernah ngopi pakai gula.” Jawab Yasin.


“Bukan itu maksutnya…?” sahut Fatimah.


“Terus apaan ?” Tanya Yasin bingung.


Fatimah tidak langsung menjawab tapi menyerahkan sebungkus rokok kepada suaminya.


“Nih,, mumpung ada rejeki aku belikan satu bungkus. Tapi jangan boros boros dulu, buat temen ngopi saja.” Kata Fatimah.


Yasin hanya tersenyum senang menghadapi istri yang penuh pengertian itu. sebenarnya lah Yasin pun sudah ingin minta dibelikan rokok meski hanya beberapa batang. Tapi  Fatimah sudah tanggap dan memberikan satu bungkus utuh. Begitulah keharmonisan Yasin dan Fatimah meski sudah tidak muda lagi bahkan sedang dalam kesulitan, tidak mengurangi kasih sayang mereka berdua.


*****

__ADS_1


Sidiq Pov


“Aku kalo lulus Madrasah Aliyah,, pengen kuliah juga,  Cari kampus yang  bisa sambil kerja, dan baiknya aku bilang mamah Arum saja. Aku gak tega bilang sama Ayah dan Bunda Fatimah, mereka saat ini benar benar sedang kesulitan keuangan.” Kataku


“Untung saja Sidiq bisa bekerja paruh waktu di Counter HP sambil sekolah Aliyah dan ngaji. Sehingga bisa meringankan beban ayah bunda. Meski hasilnya juga gak besar, tapi bisa membiayai Sidiq sendiri dan sedikit membantu Jafar dan Nisa.” Sidiq membetulkan Ponsel pelanggan sambil memikirkan kedua adiknya.


“Assalaamu ‘aalikum mas Sidiq…!” sapa seorang Nasabah.


“Wa’alaikummussalam,,, eeh Riska, mau beli kuota atau mau beli Aksesoris ?” Sapaku  kepada anak yang bernama Riska.


“Emmmmh… mau ketemu mas Sidiq saja boleh gak, kalo gak beli apa apa ?” goda Riska kepadaku.


“Wah nanti ada yang marah lo, kalo Riska ngobrol sama Sidiq.” Jawabku datar.


“Uhhuuk siapa yang marah…?  Pacar mas Sidiq ?” tanya Riska dengan mimik serius.


“Aah kalo aku kan gak punya pacar, jadi gak ada yang marah.  Ya pacar Riska lah yang bakal ngambek nanti.” Jawabku mencoba memancing Riska gadis manis putra seorang lurah tersebut.


“Gak kok, aku juga belum punya pacar kok. Gak ada yang bakalan marah kalo kita ngobrol.” Jawab Riska.


“Masak, gadis cantik seperti kamu gak punya pacar jangan kasih angin surge dong. Nanti kalo aku jadi naksir kamu bagaimana ?” jawabku menggoda Riska. Jujur aku memang suka dengan anak ini, sudah cantik baik hati dan tidak sombong pula. Tapi aku juga sadar diri, sebagai anak orang biasa saja. Sementara dia anak seorang Lurah yang terpandang, jadi aku hanya bisa memendam rasa di hatiku saja. Belum lagi aku memang belum boleh dekat secara khusus dengan cewek oleh ayah bundaku juga mamah Arum.


Namun jujur saja, perasaan dihatiku tidak dapat aku bohongi jika aku memang suka dengan Riska. Meski sekedar suka dan sering ngobrol saat sama sama berangkat ke sekolah. Entah sengaja nunggu atau memang kebetulan. Tiap kali aku lewat depan rumahnya Riska selalu pas mau berangkat juga. Meski kami beda kelas tapi masih satu sekolah dan satu angkatan.


Dan Riska selalu memanggil aku dengan sebutan mas, padahal ke teman yang lain hanya panggil nama saja. Gak tahu juga sih, apa aku yang ke geer an atau memang Riska juga memang suka dengan aku.


Yang jelas kami sering sekali ngobrol berdua seperti ini, baik di sekolah maupun diluar jam sekolah. Riska memang sering datang ke Counter tempat aku bekerja sekedar ngobrol saja.


“Mas Sidiq bisa saja.” Jawab Riska Tersipu malu, pipinya sampai kelihatan merah menahan malu.


“Kenapa Riska, kok pipinya merah begitu ?” godaku pada Riska.


“Mas Sidiq, bikin malu saja masak Riska dibilang cantik ?” jawab Riska sambil tertunduk.


“Lah memang kenyataan seperti itu, kalo gak percaya lihat saja ini cermin coba lihat wajah kamu di cermin, cantik kan ?” kembali aku menggoda Riska.


Riska hanya menahan tawa malu, sambil membuang muka karena wajahnya yang semakin memerah tersebut.


“Jangan menggombal ah mas Sidiq, malu didengar orang tau…!” ucap Riska.


“Owh,,, maunya jangan sampai ada yang denger ya.  Kalau begitu besok aku bilangnya kalo pas gak ada orang lain saja ya.” Jawabku santai membuat Riska jadi makin salah tingkah. Dan tanpa aku duga Riska mencubit tanganku karena jengkel tak bisa menjawab.


“Iiich dasar cowok sukanya ngerayu cewek terus.” Ucap Riska.


“Tapi kamu suka kan….?” Kataku sambil senyum. Membuat Riska pun semakin sewot.


“Bodo,,,, Awas kalo ketahuan bos nya dimarahin kerja sambil ngobrol gitu…!” ucap Riska mengancam.


“Kan kamu yang bikin aku jadi ngobrol, aku kan tinggal bilang hanya melayani konsumen.” Jawabku pada Riska.


“Owh pinter ngeles ya berarti mas Sidiq ini…!” ucap Riska.


“Gak juga sih, hanya kalo di dekat gadis cantik mood ku jadi naik dan mendadak jadi pinter ngomong.” Jawabku.


Dan kembali sebuah cubitan Riska mendarat di tanganku yang hanya memakai kaos. Sehingga lengan ku mendapat cubitan langsung dari tangan Riska. Dan itu  kali pertama Riska menyentuh kulit tangan ku secara langsung. Sehingga aku merasakan ada getaran aneh. Bukan sakit karena dicubit, namun justru merasakan sentuhan lembut seorang gadis membuat aku jadi keluar keringat dingin.


“Kok gemetar begitu, mas Sidiq lagi Sakit ya ?” tanya Riska.


“Gak kok, hanya gerah saja sampai keringatan begini.” Jawabku. Kali ini aku menjadi gugup, setelah tersentuh tangan Riska tiba tiba aku jadi merasakan hal aneh yang belum aku pahami. Selama di pesantren aku bahkan ngobrol dengan santriwati saja gak pernah, tapi sejak kerja paruh waktu mau gak mau aku jadi sering ngobrol dengan cewek. Karena harus melayani pembeli dan orang yang services. Dan kebanyakan nasabahnya adalah cewek.


Dan Jujur saja kedekatanku dengan Riska pun dimulai saat aku jadi pegawai counter ini. setelah pulang sekolah aku langsung ke counter dan sampai jam enam sore kembali ke pesantren untuk mengaji. Dan besoknya harus kembali ke sekolah. Jika hari minggu aku justru kerja sehari penuh di counter ini.


Lama kami saling pandang, entah mengapa aku jadi seringkali terbayang wajah gadis ini.  Dan Riska juga Nampak asik dan ceria jika berdekatan denganku, aah mungkin aku yang Geer saja, batinku.


“Riska, ayo pulang dulu beli pulsa kok lama banget sih ?” sapa seseorang yang ternyata ibunya Riska.


“Di cari ibu kamu tuh, tadi bohong  ya, pamitnya beli pulsa. Ketahuan suka bohongin orang tua tuh…!” godaku pada Riska.


“Ssst jangan bilang bilang dong, Riska kangen ngobrol sama kamu mas Sidiq…!” jawab Riska sambil melangkah menuju ke sepeda motornya dan pulang ke rumahnya.


Aku jadi kepikiran dengan ucapan Riska terakhir tadi, ‘Kangen’ apakah ini sebuah isyarat atau aku saja yang ke geeran. Aduh kenapa aku jadi mikirin hal seperti ini, sementara Ayah bundaku dan kedua adikku butuh bantuan aku. Tidak Sidiq, kamu harus konsen dengan tujuan dan cita cita kamu, jangan tergoda makhluk yang bernama wanita. Tapi Riska terlalu manis untuk diabaikan. Aku merasakan pergolakan batinku sambil menatap Riska hingga menghilang di pengkolan jalan.


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Hari hari menjelang kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2