Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Prioritas Yasin dan Rofiq menangkap Gembul


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Yasin semakin kuat menekan tangan orang itu yang di tekuk ke belakang hingga menjerit kesakitan.


“Kamu pikir aku budek beneran apa, aku sudah dengar apa yang kalian bicarakan tadi, ayo ikut atau ku patahkan tangan kamu sekarang ?” bentak Yasin.


Mau gak mau dua orang itu hanya bisa menuruti Yasin dan Rofiq di gelandang ke kantor Polisi….!!!


Dua orang itu kemudian di ikat tangannya menggunakan tambang seadanya, dua tangan orang itu di ikat menjadi satu agar susah untuk kabur. Sementara yasin mengembalikan peralatan cari rumput itu kepada pemiliknya. Setelah itu bersama Rofiq membawa orang itu pulang ke rumah Sena kemudian menyerahkan ke polisi, di ikuti beberapa warga.


Sesampai di polsek terdekat dua  orang itu di serahkan dan Yasin serta Rofiq menceritakan kronologis kejadian penangkapan dua orang tersebut. sehingga beberapa Polisi heran, mendengar Yasin dan Rofiq dengan begitu cepat dan mudahnya menangkap kedua orang tersebut. hal itu menarik perhatian salah satu personil polisi yang bernama  Adnan Zaini. Yang kemudian memanggil Yasin dan Rofiq ke ruangannya, sambil menunggu hasil interogasi kedua orang itu selesai.


“Perkenalkan pak nama saya Adnan Zaini, biasa di panggil Adnan saja.” Ucap personil  POlisi itu memperkenalkan diri pada Yasin dan Rofiq.


“Nama asli saya Ahmad Sidiq, biasa di panggil Yasin pak. Jauh banget ya dengan nama aslinya.” Jawab Yasin.


“Kalo saya nama asli dan panggilan sama pak, Rofiq. Tapi biasa panggil dia dengan nama Zain, ini lebih jauh lagi dari nama aslinya kan pak !” jawab Rofiq sambil bercanda.


“Lah kok bisa begitu pak, jadi saya harus panggil siapa, pak Ahmad pak Yassin atau pak Zain ?” tanya Adnan sambil senyum mendengar perkataan Rofiq.


“Kalo disini panggil Zain saja pak menemani saya biar ada temen panggil dia Zain.” Ucap Rofiq mendahului Yasin yang belum sempat menjawab.


Adnan dan Rofiq pun kemudian tertawa tawa mendengar gurauan Rofiq. Sementara Yasin hanya melotot pada Rofiq karena mengusik masa lalunya. Namun itu juga hanya sebatas gurauan mereka saja, akhirnya Yasin pun tidak keberatan di panggil Zain oleh Adnan dan beberapa personil Polisi lain pun mengikutinya.


“Boleh tahu sejarah panggilan bapak dipanggil Zain ?” tanya Adnan pada Yasin.


“Aah itu Cuma kerjaan bang Rofiq itu saja pak gak usah di pikir.” Jawab Yasin sewot.


Tapi kemudian Rofiq pun membuka kartu masa lalu mereka, dari awal sampai dengan Yasin akhirnya dibawa ke pesantren dan pertemuan mereka kembali yang awalnya bermusuhan sampai akhirnya bersahabat lagi. Karena adik Rofiq ternyata adalah teman satu pesantren Zain alias Yasin.


Adnan pun mendengarkan dengan sangat serius kadang juga ikut tertawa ketika mendengar hal hal yang lucu menurutnya.


Sementara Yasin sendiri merasa risih ketika Rofiq menceritakan masa lalu mereka, bahkan sampai tertunduk menahan malu terkadang. Ketika Rofiq menceritakan aib aib masa lalu mereka, yang menurut Yasin sebenarnya gak pantas di ceritakan.


“Begini pak, saya tertarik untuk mengajak kerja sama dengan bapak berdua. Untuk mengungkap kasus ini.” kata Adnan.


“Kenapa pak ?” tanya Yasin.


“Maaf sebelumnya, saya harap jangan sampai bapak harus tersinggung. Alasan saya karena bapak berdua pernah terjerumus dalam dunia seperti itu juga. Jadi saya pikir pasti tahu trik dan intrik yang mereka gunakan.” Jawab Adnan.


“Bisa saja mereka juga sudah merubah atau menemukan trik trik baru pak.” Jawab Yasin. Yang sebenarnya lebih suka bergerak sendiri tanpa bersama Polisi meski tetap berkoordinasi.


“Tapi pak Rofiq bilang tadi ada salah satu dari mereka yang dulu adalah teman yang menjadi musuh bapk bapak berdua kan.” Ucap Adnan.


“Iya pak, tapi itu sudah jadi masa lalu kami dan saya gak mau membahas soal yang dulu lagi.” Kata Yasin.


“Saya rasa ini bukan masalah membicarakan masa lalu saja pak. Tapi ini akan membantu dalam mengungkap kasus pembunuhan adik sepupu bapak itu.” Ucap Adnan pada Yasin. Sehingga Yasin cukup terpancing emosinya ketika mendengar untuk mengungkap kasus pembunuh Zulfan.


“Kita bisa koordinasi pak kalo soalan.


 itu, tapi biarlah kami bergerak dengan cara kami meski kami tidak akan meninggalkan bapak sebagai Polisi. Nanti setiap perkembangan informasi yang kami dapat akan saya laporkan pada bapak.” Ucap Yasin kepada Adnan.


“Nah maksud saya juga seperti itu pak, seperti keberhasilan bapak menangkap dua orang yang terlibat itu.” Ucap Adnan.


Beberapa waktu kemudian masuklah personil polisi lain yang melaporkan hasil interogasi pada dua orang itu.


Menurut mereka memang ada yang menyebarkan anak buah ke berbagai wilayah, untuk mengamati pergerakan Padepokan yang menjadi penghalang mereka. Dan Padepokan Sena merupakan Padepokan terkuat yang menjadi sasaran pertama agar yang lain ketakutan. Itu adalah siasat mereka untuk Psy war pada para penentangnya.


Yasin dengan cepat segera menangkap strategi apa yang akan mereka jalankan, dan kemudian segera berpikir cara menghadapi mereka nanti.


“Kita harus pancing mereka menunjukkan kekuatan mereka seberapa !” ucap Yasin spontan.


“Caranya pak ?” Tanya Adnan.


“Nanti pada saatnya akan saya sampaikan pak, saat ini masih mengamati dan mencari strategi yang Tepat untuk itu.” jawab Yasin.


“Baiklah pak, nanti malam saya mau ikut tahlilan juga. Biar bisa melanjutkan obrolan dengan pak Zain dan pak Rofiq.” Ucap Adnan.


Yasin dan Rofiq pun segera berpamitan untuk pulang, karena waktu yang sudah cukup siang. Dan dua orang itu pun sudah di masukan ke dalam penjara.


*****


Sampai dirumah ternyata Candra dan Khotimah sudah pergi menjemput Fatimah dan anak anaknya. Yasin dan Rofiq kemudian istirahat sejenak di teras depan rumah Sena.

__ADS_1


“Gimana Kondisi Sena dan istrinya saat kamu jenguk kemarin Zain ?” tanya Rofiq.


“Udah sadar sih, tapu masih terpukul dengan kematian Zulfan. Mereka masih syok mendengar itu, terutama Nurul.” Jawab Yasin.


“Tadi waktu kamu mengembalikan keranjang aku sempat tanya alamat Gembul sekarang dimana.” Kata Rofiq. Membuat Yasin jadi kaget mendengarnya.


“Terus dapet gak ?” tanya Yasin.


“Dapet lah, soalnya aku ancam tadi kalo gak ngaku mau aku bunuh. Dia pikir aku masih seperti dulu.” Kata Rofiq.


“Kalo itu sih memang beneran dia bang, kamu memang masih seperti dulu Cuma pura pura sadar saja.” Gurauku pada Rofiq.


“Kampret lo, orang bicara serius juga….!” Gerutu Rofiq.


“Wkakaka… tapi beneran bang. Jujur saja menurut penilaianku memang bang Rofiq masih seperti dulu. Ibarat pepatah jawa ‘Sedakep ngawe awe’ yang artinya tidak melakukan maksiat secara lahiriyah tapi hatinya masih ingin. Terbukti tadi matanya masih jelalatan lihat body semok yang pada joging.” Gurauku. Tapi naas saat aku bilang begitu tahu tahu Arum datang membawakan minuman buat Rofiq dan aku, “waduh kayaknya denger nih Arum, bias berantem tuh suami istri.” Kataku dalam hati.


“Dasar laki laki memang begitu…!” komentar Arum sambil meletakkan minuman.


Aku diam saja agak menyesal bilang begitu, tapi biarin saja lah nanti juga mereka akur sendiri. Sementara Rofiq jadi salah tingkah.


“Gak kok mah, bisa bisanya si  Zain saja.” Sahut Rofiq panik.


“Halah bercanda Rum, lagian siapa yang mau sama suamimu yang perutnya buncit begitu.” Gurauku.


“Masalahnya bukan ada yang mau apa gak, tapi mas Rofiq sudah punya niat begitu apa belum ?” sahut Arum.


“Gak lah, bang Rofiq juga tahu diri kok. Aku Cuma bercanda saja tadi, namanya joging ya pasti lihat orang yang lagi joging lainnya.” Kilahku.


Kemudian Arum pergi meninggalkan kami, dalam hati aku tertawa melihat Rofiq jadi pucat begitu.


“Lo sih Zain gak kira kira bercandanya.” Ucap Rofiq jengkel padaku.


“Haalah abang lupa pernah ngejek aku yang di takuti Cuma istrinya, nah sekarang kena juga kan bang…!?!” jawabku yang membuat Rofiq jadi ikut tertawa akhirnya.


“Iya ya, dalam hal hal tertentu kita para suami sering dibuat tak berkutik sama istri.” Ucap Rofiq.


Begitulah obrolan kami dengan rofiq yang sudah cukup lama juga kami tidak bertemu.


*****


Yasin POV


Setelah melaksanakan Sholat  Asar tiba tiba Candra dan Khotimah datang membawa Fatimah dan ketiga anakku. Seperti biasanya yang paling banyak bicara adalah Nisa anak cewekku, yang langsung menghampiri aku dan minta gendong aku.


“Ayah,,, Nisa kangen ayah…!” ucap Nisa meski baru di tinggal semalam juga selalu begitu Nisa Anakku.


“Iya, tapi tetep saja Nisa kangen ayah, biar ngebosenin juga…!” jawab Nisa tetap dengan pendiriannya.


“Bagaimana perkembangannya mas, apa kondisi Nurul dan Sena sudah semakin baik ?” tanya Fatimah istriku.


“Alhamdulillah, mereka sudah semakin baik. mudah mudahan nanti pas Tujuh Harian Zulfan sudah bisa berada di rumah.” Jawabku.


Tiba tiba Arum muncul ketika mendengar rombongan Candra datang. Tentu dia juga kangen dengan Sidiq anak kandungnya itu.


“Eeh Fatimah sudah datang, hati hati suamimu jangan di biarkan pergi  lama lama sama juga seperti suamiku masih suka jelalatan lihat perempuan.” Ucap Arum pada Fatimah.


Untung saja Fatimah sudah terbiasa dengan candaan candaan begitu jadi gak ngaruh.


“Biarin saja Rum, memang dia saja yang bisa begitu. Kita wanita juga bisa kok…!” sahut Fatimah sambil senyum saja.


“Apaan sih Rum. Cemburu sama suami aku di bawa bawa.” Sahutku ke Arum.


“Mah… mamah sidiq kangen mamah…!” ucap Sidiq menghentikan percakapan kami. Sidiq menangis memeluk mamah kandungnya. Begitu juga dengan Arum yang sudah kangen dengan Sidiq anaknya.


“Kok mamah Arum udah gede masih suka nangis ?” ucap Nisa tanpa beban dengan polosnya. Membuat  suasana haru menjadi berubah lucu dan tertawa semua.


Kemudian Arum menghampiri Nisa,dan memeluknya juga bersama Sidiq.


“Mamah Arum menangis karena bahagia Nisa, karena bisa bertemu dengan kalian lagi.” Jawab Arum.


“Kan kalo bahagia itu tersenyum mah, bukan menangis ?” jawab Nisa. Aku tak dapat menahan tawaku melihat Arum dibuat tak berkutik oleh Nisa.


“Uhuuk… rasain tuh, baru sekali kan kamu di kerjain Nisa Rum ?” tawaku tertahan membuat Arum bahkan Fatimah dan Khotimah pun ikut tertawa.


Hanya Rofiq yang masih salah tingkah karena peristiwa sebelumnya. Sedang Candra hanya senyum senyum melihat peristiwa itu. entah apa yang dia pikirkan saat itu.


Udah Yuk masuk dulu, kalian kan pasti capek habis menempuh perjalanan jauh.” Ucap Arum.


Mereka pun akhirnya masuk ke rumah sementara aku dan Rofiq masih di luar. Kemudian kami kedatangan tamu yang sudah aku kenal sebelumnya, yaitu pak Suhadi.


“Assalaamu ‘alaikum pak…!” sapa salam pak Suhadi.


“Wa’alaikummussalaam…!” jawabku dan Rofiq berbarengan.


Aku jadi ingat percakapan dua orang yang aku tangkap tadi bersama Rofiq. Bahwa mereka akan menyusupkan orang dalam acara Tahlilan, untuk melihat siapa saja yang datang. Jika pribadi akan di terror keluarganya, dan jika anggota Padepokan akan di habisi Padepokan nya.

__ADS_1


Tiba tiba aku justru mendapat ide memancing mereka agar mendatangi padepokan pak Suhadi namun dengan persiapan sebelumnya. Termasuk jajaran kepolisian yang nanti menyamar jadi anggota Padepokan, pikirku.


“Wah pak Suhadi kebetulan datang kesini sekarang, saya ada perlu sama bapak sebentar.” Kataku paa pak Suhadi.


“Ada perlu apa pak, apa ada yang bisa saya Bantu ?” tanya pak Suhadi padaku.


“Iya pak, kita harus bekerja sama sekarang ini untuk tujuan seperti yang bapak sampaikan dirumah saya kemarin.” Jawabku.


Kemudian aku menyampaikan apa yang terlintas dalam benakku untuk menjebak gerombolan penjahat tersebut. pak Suhadi awalnya keberatan takut anggotanya jadi korban. Namun setelah aku jelaskan bahwa sebagian besar yang akan ikut adalah polisi yang menyamar dan termasuk aku juga, akhirnya pak Suhadi setuju. Dan malam itu pak suhadi mengundang anggotanya lengkap dengan baju ber identitas Padepokan mereka.


*****


pada saat tahlilan banyak sekali yang datang termasuk anggota Padepokan Pak Suhadi yang berbaju seragam dan justru ikut menyajikan minuman dan snack agar lebih jelas keberadaan kelompok tersebut.


“Biar dari sekian orang yang datang ini, ada mata mata mereka namun apa yang akan mereka rencanakan akan menjadi boomerang bagi mereka sendiri.” Kataku dalam hati.


Aku menamakan strategi ini strategi ‘Pasang Wuwu’ ( Jebakan ikan yang member umpan dalam jebakan bambu. Bisa masuk gak bisa keluar) sebenarnya hanyalah dari hasil pengamatan ku pada orang yang sedang mencari ikan, namun aku aplikasikan untuk menjebak orang orang jahat yang suka bikin rusuh. Semoga saja rencana ku ini bisa berjalan sesuai keinginan.


Dengan harapan masalah ini cepat tuntas, karena di kampung ku sendiri juga sedang menghadapi maslah lain meski bukan maslah kekerasan. Meskipun juga tidak menutup kemungkinan mengarah kepada kekerasan juga, batinku.


Selesai acara Tahlil aku di datangi oleh pak Adnan, yang sudah rencana dari siang tadi untuk membicarakan strategi menangkap mereka. Dan aku pun memperkenalkan pak Suhadi kepada Adnan. Serta mempersilahkan pa Suhadi menceritakan apa yang terjadi di balik incident pembunuhan adik sepupuku tersebut.


Pak Adnan mendengar keterangan pak Suhadi tersebut, dengan sangat serius.


“Berarti kabar yang saya terima selama ini memang benar adanya pak. Saya sudah mendengar ini sebelumnya. Sekarang bagaimana menurut pak Yasin ?” tanya pak Adnan.


“Tadi saat saya mendekati dua orang itu, sempat mendengar jika mereka masih berkeliaran di sekitar wilayah ini.” kataku membuka penjelasan.


“Kemudian bagaimana pak ?” Tanya pak Adnan.


“Mereka mengirim orang untuk ikut Tahlilan sebagai mata mata untuk mengawasi siapa saja yang datang. Dan akan menghabisi  jika  yang datang itu adalah anggota padepokan. Makanya saya minta pak Suhadi datang dengan baju seragam Padepokan nya." Lanjut Ku.


“Rencana selanjutnya bagaimana pak ?” tanya pak Adnan.


“Awasi padepokan pak Suhadi sewaktu waktu mendapat serangan siapkan personil bapak dan saya juga siap untuk membantu. Makanya saya juga harus tahu lokasi Padepokan pak suhadi.” Jawabku pada Pak Adnan.


“Baiklah pak, saya setuju dengan Strategi bapak tersebut. semoga saja mala mini mata mata itu juga ikut datang.” Ucap pak Adnan.


“Iya pak.,Setelah itu nanti kita harus mengembalikan keberanian warga yang saat ini ketakutan.” Kataku kemudian.


“Caranya bagaimana pak, mengingat peristiwa pembunuhan itu cukup menakutkan warga masyarakat sini yang selama ini adem adem saja.” Sahut pak Yadi.


“Minta tolong seseorang untuk menyampaikan kepada kelompok kelompok masyarakat Berikan motivasi pada mereka. Jika mereka yang demi kemaksiatan saja rela masuk penjara dan tidak takut mati, kenapa kita yang demi kebenaran justru takut ?” kataku pada pak Adnan.


“Benar juga ya pak ? saya sangat setuju dengan semua itu. Biar nanti saya sebarkan hal tersebut, agar warga tidak ketakutan dan berani mendukung kebenaran Jujur terror yang dilakukan mereka kemarin cukup efektif membuat ketakutan warga dan tidak peduli dengan keadaan social.” Ucap pak Adnan.


“Tapi saya punya permintaan satu hal saja pak ?” kataku pada pak Adnan.


“Apa itu pak ?” tanya pak Adnan.


“Salah satu dari mereka yang berjuluk Gembul, biar aku dan bang Rofiq yang menangani karena kami punya urusan pribadi dengan dia ?” kataku pada pak Adnan.


“Tapi pak, jangan sampai bertindak di luar batas karena bisa melanggar hukum.” Jawab pak Adnan.


“Tidak pak, saya usahakan agar semua tetap procedural.” Jawabku pada pak Adnan.


“tapi jangan sampai meninggal pak, soalnya saya bisa repot kalo sampai pada korban meninggal harus membuat laporan kejadian.” Jawab pak Adnan.


“Bisa tidak pak, satu orang itu saja dianggap tidak masuk daftar ?” tanya Rofiq yang sudah kelihatan emosi.


“Tidak bisa pak,semua sudah masuk Black list kami.” Jawab Pak Adnan.


“Sudah bang, gak usah menuruti emosi kita juga harus mematuhi hukum, agar tidak menjadi masalah nantinya.” Ucapku.


“Baiklah pak, namun saya tetap memohon kerja samanya agar semua berjalan lancar sesuai prosedur.” Kata pak Adnan. Kemudian beliau minta ijin untuk pulang dan mempersiapkan besuk agar mulai memasang orang untuk mengawasi padepokan pak Suhadi. Dan kami pun juga sudah saling bertukar no Ponsel, agar mudah untuk berkomunikasi.


*****


Saat menghadapi Gembul nanti Yasin justru ikut emosi, karena ternyata Gembul lah yang telah membunuh Zulfan Adik sepupunya. Mampukah Yasin menahan amarahnya untuk tidak sampai membunuh Gembul ? dan bagaimana dengan Rofiq yang sudah memendam dendam lama kepada Gembul ? Haruskah mengotori tangan mereka dengan membunuh Gembul ?


mohon dukungan reader semua ya.


Terimakasih.


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.

__ADS_1


Akan masuk awal Konflik.


...🙏🙏🙏...


__ADS_2