Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Aksi Sidiq dan Jafar hadapi orang Dewasa


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


"Sudah bang, gak usah menuruti emosi kita juga harus mematuhi hukum, agar tidak menjadi masalah nantinya.” Ucapku.


“Baiklah pak, namun saya tetap memohon kerja samanya agar semua berjalan lancar sesuai prosedur.” Kata pak Adnan. Kemudian beliau minta ijin untuk pulang dan mempersiapkan besuk agar mulai memasang orang untuk mengawasi padepokan pak Suhadi. Dan kami pun juga sudah saling bertukar no Ponsel, agar mudah untuk berkomunikasi.


“Bagaiman menurut kamu Zain ?” tanya Rofiq.


“Apanya bang ?” jawabku pada Rofiq.


“Soal si Gembul ?” kata Rofiq kemudian.


“Aku juga bingung, dia licin bagai belut. Dan seandainya tertangkap pun gak akan lama di penjara dan bisa kembali beroperasi lagi. Tapi kalo kita bertindak gegabah juga melanggar hukum nantinya.” Jawabku pada Rofiq.


“Itulah kenapa aku punya pemikiran berbeda, aku maunya si Gembul kita kasih pelajaran biar jera.” Ucap Rofiq.


Aku terdiam sejenak, tidak sepenuhnya ucapan Rofiq itu keliru. Namun sulit juga jika harus bertindak sesuai keinginan Rofiq itu. kemudian aku merenung sejenak mencari jalan keluar, agar bila gembul tertangkap menjadi jera tidak menimbulkan korban wanita lainnya lagi. Namun juga tidak melanggar hukum yang berlaku. Jelas gak mungkin menghadapi Gembul dengan duel, dia gak akan berani untuk itu. yang ada dia hanya akan menyerah dan mending di penjara tapi masih bisa menjalankan kegiatannya dari dalam penjara. Dan jika dia tidak melawan mana mungkin ada alasan untuk melenyapkan dia.


“Kok lo diem aja Zain ?” tanya Rofiq lanjut.


“Ya aku bingung juga menghadapi Gembul, kalo dia berhadapan dengan kita mau melawan sih enak kita punya alasan untuk menghajarnya. Tapi mana mungkin dia berani melawan kita atau salah satu dari kita bang ?” kataku pada Rofiq.


“Lalu apa yang harus kita lakukan kalo begitu ?” tanya Rofiq.


“Memancing dia agar kabur dan tertembak Polisi biar tewas.” Kataku.


“Polisi juga gak mungkin langsung menembak ke arah tubuh, paling juga mengincar kakinya kalo dia tidak melawan langsung.” Kata Rofiq.


“Itulah yang baru aku pikirkan, bagaimana caranya Gembul terkesan melawan dan di tembak mati saja.” Kataku.


“Gak mungkin Zain, kayak gak ngerti Gembul saja !” ucap Rofiq.


“Gak ada yang gak mungkin, hanya belum ketemu caranya saja.” Ucapku.


“Kalo menurutku kita habisin saja Gembul, dan kita singkirkan dia dari kasus ini.” Kata Rofiq kemudian.


“Itu justru gak mungkin, nama Gembul sudah masuk daftar hitam dan daftar orang dalam pencarian. Beda cerita kalo belum masuk daftar pencarian.” Jawabku.


“Iya juga ya, terus bagaimana dong ?” kata Rofiq.


“Ini baru aku pikirkan bang, apa lagi besuk juga ada rencana mengawasi padepokan pak Suhadi. Jadi masih banyak yang harus kita pikirkan saat ini.” ucapku pada Rofiq.


“Ya sudah, kita istirahat saja kayaknya yang lain sudah pada tidur.” Ucap Rofiq. Sebenarnya aku pun mau mengikuti ajakan Rofiq. Namun justru ingat dengan Jafar dan Sidiq. Apakah mala mini juga dia akan kembali di latih oleh Yuyut dan sosok Ahmad Muhammad itu. timbul rasa penasaranku yang membuat aku mengurungkan niatku untuk tidur.


Aku memeriksa kedua anak lelakiku itu yang tidur sekamar dengan Fatimah istriku. Sedangkan Nisa tidur bersama anaknya Nurul di temani Khotimah. Candra tertidur di tempat tadi Tahlilan di temani Rofiq.


Hanya tinggal aku yang masih terjaga belum bisa tidur, menunggu apakah Sidiq dan Jafar akan mengalami hal yang serupa seperti saat di rumah. Aku memutuskan untuk nongkrong saja di teras rumah sambil ngopi dan merokok, sekaligus mencari inspirasi untuk menghadapi masalah ini.


“Gembul… kalo aku biarkan akan menambah jumlah korban wanita yang akan di jadikan pekerja Prostitusi. Tapi sangat sulit menjerat manusia satu ini, dia selalu bisa menghilangkan jejak dalam setiap aksinya.” Kataku dalam hati. Aku merenung mencari cara untuk menjebak dan menjeratnya agar punya alasan bagi Polisi untuk menembaknya.


Entah sudah berapa batang rokok aku hisap, namun mataku juga belum terasa mengantuk. Bahkan justru semakin melotot saja ini mata, batinku. Suasana di tempat Sena yang cenderung panas di bandingkan dengan di rumahku yang dingin membuat aku merasa gerah. Kemudian bangkit dan berjalan tanpa tujuan untuk mengamati keadaan yang ada.


Suasana memang cukup mencekam, kata Aji Santika setelah acara Tahlil tak lagi ada orang yang berani keluar rumah. Mereka masih Trauma dengan kejadian yang menimpa keluarga Sena. Ini harus segera aku pulihkan, sementara biar aku sendiri yang melakukan patroli malam, pikirku.


Suasana jalan memang begitu sepi, tak seorangpun yang lewat. Padahal meski di pedesaan biasanya ada saja orang yang keluar rumah. Entah mengaliri sawahnya ataupun keluar mencari ikan dengan mengobor atau bahkan mancing namun sejak peristiwa itu berubah drastis, malam jadi sangat sepi tidak ada kehidupan sama sekali di luar rumah.


Ini justru berbahaya karena orang yang berniat jahat akan semakin leluasa melakukan aksi kejahatan nya, pikirku. Sudah cukup jauh aku berjalan akhirnya memutuskan kembali ke rumah. Aku baru sadar jika misi utamaku mala mini adalah mengamati Sidiq dan Jafar. Buru buru aku kembali ke rumah namun aku terhenti oleh suara suara yang mencurigakan.


Seperti mendengar suara orang sedang bertarung, batinku.

__ADS_1


Kemudian aku mencari sumber suara secar hati hati dan waspada. Tidak lupa juga tetap dengan membuka mata batinku untuk antisipasi jika suara itu adalah suara mahkluk astral. Meski feeling ku tetap mengatakan jika itu adalah suara nyata orang bertarung.


Ternyata suara itu muncul dari belakang rumah Sena yang biasa di gunakan untuk anak anak Padepokan berlatih kanuragan. Tapi mengapa malam malam begini, kataku dalam hati. Aku semakin hati hati mendekati lokasi tempat suara orang berlatih kanuragan tersebut.


Dan aku menjadi kaget karena yang sedang berlatih kanuragan tersebut adalah Sidiq dan Jafar. Yang keduanya berduel sebagai sparing partner saling serang dan saling pukul dibawah pengawasan Yuyut Siti Aminah.


Hampir saja aku meneriakkan nama kedua anak ku tersebut, karena mereka dalam berlatih seperti sungguhan berkelahi. Namun terhenti karena Sosok Yuyut mengawasi mereka, dan kehadiranku pun di sadari oleh Yuyut. Yang kemudian mendekati aku dan berkata.


“Adik mu Zulfan memang sudah di garis kan seperti itu. itu lah jalan bagi dia untuk Syahid gugur dalam rangka memegang kebenaran. Kamu tidak usah sedih dan merasa dendam, justru kamu harusnya bangga dengan adik kamu itu.” ucap Yuyut yang langsung kembali menghampiri Sidiq dan Jafar serta member aba aba dalam melakukan latihan kanuragan.


“Wah ternyata, kemanapun anak anakku pergi akan selalu di ikuti dan di latih oleh Yuyut.” Kataku dalam hati. Setelah tahu itu, aku pun masuk ke rumah dan mencoba untuk memejamkan mataku.


Meski susah teringat apa kata Yuyut dan teringat semua yang barusan saja terjadi. Namun akhirnya aku pun tertidur juga hingga kumandang adzan subuh terdengar.


*****


Saat ngopi pagi di teras, Jafar anakku menyusul aku dan ikut ngopi juga. Tumben gak tidur lagi kayak biasanya, batinku.


“Yah, Jafar boleh minum kopi ya ?” tanya Jafar.


“Boleh saja, asal jangan sering sering Jafar kan masih kecil.” Jawabku.


“Semalam Jafar mimpi lagi yah, mimpi berlatih kanuragan sama mas Sidiq.” Kata Jafar, seperti mau menyampaikan sesuatu yang aku sudah tahu.


“Berlatih berdua dan dibimbing Yuyut lagi ?” tanyaku pada Jafar.


“Iya yah, Jafar dan Mas Sidiq disuruh bertanding untuk saling menguatkan.” kata Jafar.


Aku jadi semakin bersyukur meskipun Jafar dan Sidiq beda ibu tapi keduanya tetap akur dan saling melindungi. Tidak terbayang jika keduanya saling bersaing, selain keduanya bisa ribut tiap hari tentunya juga bikin pusing ayah dan Bundanya.


“Kok kamu tumben gak tidur lagi, biasanya habis subuh langsung tertidur sampai dibangunin mau sekolah.” Ucapku mengalihkan pembicaraan.


“Iya yah, sekarang Jafar sudah tidak terlalu kelelahan seperti dulu.” Jawab jafar.


Ditengah obrolanku dengan Jafar Rofiq datang ikut nimbrung sambil membawa kopi  juga.


“Wah hebat, ayah dan anak pagi pagi ngopi bareng. Jafar suka ngopi juga ?” tanya Rofiq ke Jafar anakku.


“Tadi Om denger kamu bilang berlatih kanuragan sama Sidiq kakak kamu, dimana latihannya. Biar Panji juga aku suruh ikut berlatih.” Ucap Rofiq.


“Gak kok om, Cuma mimpi bukan beneran.” Jawab Jafar.


Untunglah Rofiq tidak bertanya lebih jauh, minim dia juga sudah tahu ketika aku datang ke rumah Candra dan membahas Jafar di Samah bersama Khotimah dan lainnya.


“Jafar, bangunin mas mu sana ajak lari pagi bersama jangan Cuma tidur saja.” Ucapku pada Jafar.


“Iya ajak Panji sekalian sana, bilang mamah arum kalo suruh bangunin Panji juga.” Ucap Rofiq.


“Iya Om.” Jawab Jafar singkat. Kemudian Jafar segera masuk ke rumah dan membangunkan Sidiq dan Panji untuk di ajak lari pagi.


*****


Jafar POV


Aku membangunkan Panji lebih dulu sebelum membangunkan mas Sidiq. Karena kalo ada Panji tentu mas Sidiq lebih mudah dibangunkan. Jadi aku menemui mamah Arum lebih dulu.


“Mah Jafar minta ijin mau ajak Panji lari pagi ya.” Tanyaku pada Mamah Arum.


“Sama siapa saja Jafar ?” tanya mamah Arum.


“Sama Mas Sidiq juga, disuruh Ayah dan Om Rofiq tadi.” Jawabku.


“Iya boleh, Jafar bangunin saja Panji sana.” Kata Mamah Arum.


“Kemudian aku membangunkan Panji dan ku ajak membangunkan mas Sidiq setelahnya.  Dan kami  pun bertiga lari pagi bersama, dan di jalan aku berusaha mengajak mas Sidiq untuk mencoba jurus  jurus yang diajarkan nenek galak. Sekalian olah raga pagi, juga untuk mencoba jurus jurus baru.


“Mas Sidiq, ajarin Jafar pencak Silat dong biar kalo diganggu bisa melawan kayak mas Sidiq.” Pancingku pada mas sidiq. Agar mau menunjukkan jurus jurusnya.


“Eeh boleh, o iya semalam Sidiq mimpi lagi berlatih sama Dik Jafar. Dan di tunjukkan jurus baru oleh Yuyut.” Jawab mas Sidiq.


“Panji juga ajarin ya mas ?” rengek Panji yang kurang lebih setahun di bawahku  usianya.

__ADS_1


“Iya dik Panji kan adik mas Sidiq juga, pasti mas Sidiq ajarin nanti. Kapan jadi mau tinggal sama mas Sidiq di tempat Ayah dan Bunda ?” tanya mas Sidiq ke Panji.


“Nunggu papah dulu siapnya kapan, kalo mamah sih nuru sama papah saja.” Kata Panji.


“Jafar kamu gak capek apa, kita sudah jauh nih. Balik lagi saja yuk kasihan dik Panji..!” ajak mas Sidiq.


“Iya ayuk kita balik saja, takut nanti pulangnya juga salah jalan kalo kejauhan.” Jawabku ke mas Sidiq.


Kebetulan di depan sana juga Jafar lihat ada orang yang mencurigakan melihat kami bertiga dengan tatapan tajam. Untung saja mas Sidiq mengajak pulang duluan, jadi Jafar gak kuatir lagi. Namun baru  saja kami berbalik arah Jafar merasakan dua orang yang tadi seakan mengikuti  kami. Sepertinya memang bukan orang baik.


“Agak cepat yuk Jafar tiba tiba kerasa mules mau ke belakang.” Ucap jafar berbohong pada mas Sidiq.


“Jafar duluan saja sama dik Panji, mas Sidiq mau agak santai aja pulangnya.” Jawab mas Sidiq. Jafar jadi bingung, karena gak mungkin bilang alasan Jafar yang sesungguhnya. Atau mungkin mas Sidiq juga mengetahui kalo di ikuti orang, Jafar jadi kuatir kalo mas Sidiq nekat mau melawan orang itu yang sudah dewasa.


“Gak mau mas, kita barengan saja.” Jawabku pada mas Sidiq.


“Gak papa kalian duluan mas Sidiq masih pingin santai saja kok.” Ucap mas Sidiq makin membuat Jafar kuatir. Karena jarak orang orang itu semakin dekat. Sementara ada Panji yang harus dilindungi juga, semoga saja Ayah dan Om Rofiq menyusul Jafar, batin Jafar.


Benar saja tiba tiba kedua orang itu sudah berada di depan kami dan menghentikan langkah kami.


“Eeh tunggu tunggu, kalian ini siapa dan disini tinggal dimana ?” tanya orang yang tangan nya penuh gambar aneh.


“Saya Sidiq, om siapa kenapa menghentikan kami. Kami hanya lari pagi biasa saja kok.” Jawab mas Sidiq.


Ku lirik Panji ketakutan melihat dua orang asing itu, dia bersembunyi di balik mas Sidiq.


“Iya aku tahu, kan cuman nanya saja apa gak boleh ?” jawab orang itu. sementara yang satunya hanya melihat kami dengan tatapan yang aneh tapi serem matanya.


“Saya tinggal di tempat om kami di depan sana. Yang kemarin adiknya baru meninggal.” Jawab mas Sidiq.


“Owh iya kami tahu, main ke rumah om dulu yuk. Nanti om kasih hadiah buat kalian kalo mau ke rumah om sebentar saja.” Kata orang yang penuh gambar di tangannya itu.


“Gak mau om, kita sudah di tunggu ayah di rumah.” Jawab mas Sidiq.


“Gak papa kok, sebentar saja ayahmu pasti gak akan marah sama kalian.” Jawab orang itu seperti memaksa dan hendak menggandeng tangan mas Sidiq.


Namun mas Sidiq menepis tangan orang itu dan menyuruh Panji menyingkir dan mendekat  padaku. Panji pun akhirnya bersama aku menjauh dari mas Sidiq. Aku terpaksa menyingkir dulu, biar mas Sidiq yang hadapi orang itu. tapi aku juga bersiap jika sesuatu terjadi  nanti. Aku ambil beberapa kerikil untuk berjaga jaga. Jika mas Sidiq terdesak aku harus bertindak, kalo pun mas Sidiq jadi tahu pun gak papa.


“Eeh bocah gak ada sopan sama orang yang lebih tua ya !” bentak orang itu.


“Om yang maksa, kan Sidiq gak mau ke rumah om.” jawab Mas Sidiq tidak kelihatan takut sedikitpun.


Mas ku ini memang sangat pemberani tapi kadang justru membahayakan dirinya juga, batinku. Beberapa kerikil sudah aku persiapkan jika terjadi sesuatu.


“Dasar anak tidak tahu di untung, mau aku tempeleng kamu !” bentak orang itu.


“Dasar om omo beraninya sama anak kecil, aku adakan ke ayah ku baru tahu nanti.” Jawab Mas Sidiq. Dan kedua orang itu pun marah dan hendak menangkap mas Sidiq. Untung mas Sidiq cepat melompat kesamping. Sehingga bisa lepas dari tangannya.


Kedua orang itu pun justru makin marah, dan hendak memukul mas Sidiq. Dan saat mereka memukul mas Sidiq bersamaan mas Sidiq masih bisa menghindar bahkan bisa membalas dengan menendang kaki salah satu orang tersebut hingga jatuh.


Sehingga yang satunya makin marah dan kembali mau memukul mas Sidiq yang tidak menyadari. Sehingga aku terpaksa melempar kerikil itu kepada orang itu. Dan akibatnya orang itu kaget dan merasa sakit di punggungnya.


“Siapa yang memukul aku tadi ?” bentak orang itu sambil melotot ke arahku dan Panji yang ketakutan. Sehingga member kesempatan mas Sidiq untuk memukul orang itu dari belakang. Dan orang itu pun terjatuh saat terkena pukulan mas Sidiq. Dan akhirnya kami bertiga kabur, namun kedua orang itu masih juga mengejar kami.


Sementara langkah kami terhambat karena Panji tidak bisa berlari dengan cepat, sehingga jarak kedua orang itu semakin dekat dengan kami…???


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2