Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Menguji Sidiq dan Wisnu


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Menguji Sidiq dan Wisnu...


"Ada diantara kita yang bisa menaklukan khodam Golok Hitam tersebut. Tanpa harus mengerahkan banyak tenaga dalam.” Kata Tabib Ali tiba tiba menyahut pembicaraan.


“Siapa orang itu ?” tanya semua serentak…???


“Salah satu dari anak kalian Kang Yasin yang akan mewarisi Stambul Al-Quran kakek buyutnya. Dialah yang akan mampu memegang Golok Hitam tanpa tersedot tenaganya. ” Jawab Tabib Ali tidak menyebutkan nama.


“Stambu A-Quran ?” Tanya Tohari tertua dari saudara saudara Yasin.


“Iya Stambul Al-Quran, yang sekarang ini belum ada yang mampu memilikinya.” Jawab Tabib Ali.


“Apakah sebelum memiliki Stambul itu berarti belum kuat untuk memegang Golok Hitam itu ?” Tanya Fatimah pada Tabib Ali.


“Insya Allah meski Stambul Al-Quran itu belum dimiliki tetap kuat memegang Golok itu. Dengan Kata Lain yang kuat Memegang Golok itu dialah yang akan menjadi ‘Pewaris Stambul Al\=Quran’ nantinya.” Jawab Tabib Ali.


“Berarti salah satu anak kami yang laki laki ?” Tanya Tohari.


“Iya, bahkan jika sudah memiliki dan mengamalkan Stambul Al- Quran tersebut jangankan Ilmu karang. Ilmu diatas ilmu karang pun tidak akan berarti baginya. Karena Pemegang Stambul Al-Quran itu saratnya juga harus Hafal Al-Quran. Dan akan di jaga oleh Kalimah Suci dari Ayat ayat Quran tersebut.” Jawab Tabib Ali.


“Kamu kenapa diam saja Yasin ?” Tanya Tohari.


Yasin kaget ditanya Tohari begitu, karena dia sudah tahu jika yang kuat menerima sebagai Pewaris Stambul Aquran tersebut adalah Jafar. Anaknya dengan Fatimah, sedangkan Sidiq anaknya dengan Arum akan diberi ajian Waringin Sungsang sebagai benteng pertahanan terakhir Sidiq.


“Aku hanya heran dari mana Kang Ali bisa tahu semua itu. Sementara kita saja belum semua tahu.” Kata YAsin menjawab pertanyaan Tohari.


“Ha itu sudah kita bicarakan dengan Kang Syuhada dan Kang Nurudin. Mereka selalu memantau setiap perkembangan yang terjadi. Dan menunggu saat yang tepat untuk mempersiapkan anak yang akan menjadi Pewaris Stambul Ak-Quran tersebut.” Jawab Tabib Ali.


“Saat ini siapa yang sudah mulai menghafal Ayat ayat Al-Quran ?” Tanya Tohari.


Tidak satu pun yang menjawab pertanyaan Tohari. Mereka hanya saling berpandangan seperti sedang melihat kemungkinan siapa yang akan menjadi Pewaris Stambul A-Quran tersebut.


“Saat ini mungkin belum ada, jadi tidak ada salahnya anak anak kita diajarkan untuk menjadi Hafidz ( Penjaga ). Agar ada penerus dari leluhur kita yang dulu banyak Hafidznya.” Kata Yasin.


“Maaf Sufi ikut nimbrung, Kata Eyang Putri Dawiyah dulu. Stambul Al-Quran itu yang pegang terakhir kali adalah Eyang Sidiq Ali. Sementara disini penerus Eyang Sidiq Ali adalah Mas Yasin atau Mas Ahmad Sidiq. Tentunya Mas Yasin tahu akan hal itu.” Kata Sufi.


“Makanya tadi saya tanya, kenapa Yasin malah diam saja dari tadi.” Kata Tohari.


“Biasa kalau Mas Yasin begitu, pintar sekali berakting seperti tidak tahu apa apa.” Kata Sena.


“Maaf aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu. Tapi sedang berpikir bagaimana sebaiknya menghadapi lawan yang sekarang justru semakin kuat.” Jawab Yasin.


“Apakah keberadaan Ki Munding Suro lebih bahaya dengan Ki Joyo Maruto dahulu ?” Tanya sena.

__ADS_1


“Jika saja Ki Munding suro itu tidak menganut Bhairawa Tantra dan memiliki Ilmu karang memang lebih bahaya Ki Joyo Maruto. Tapi kenyataannya sekarang justru lebih berbahaya Ki Munding Suro.” Jawab Yasin.


“Apa mungkin Ki Munding Suro harus dihadapi oleh anak anak seperti Jafar atau Sidiq bahkan Wisnu ?” Tanya Tohari.


“Minimal kita harus seleksi dari anak anak tersebut, yang siap menerima Aji Waringin Sungsang. Sebelum Ki Munding Suro sembuh dan melaksanakan Pancamakarapuja. Karena setelah itu kekuatannya akan berlipat lipat.” Jawab Yasin.


“Bagaimana caranya ?” Tanya Sena.


“Kita Abaikan Jafar dulu, karena dia sudah akan memegang Golok Hitam. Karena memang dia yang dipilih  Eyang Sidiq Ali menjadi Pewaris Stambul Alquran. Jafar sudah menerima tongkat tanda sebagai  Pewaris Stambul tersebut. Kita uji Sidiq dan Wisnu, apakah mereka bisa mengendalikan diri untuk mengalah jika berhadapan dengan orang yang lebih lemah.” Kata Yasin.


“Lau siapa yang akan dijadikan penguji mereka ?” Tanya Tohari.


“Aku juga belum tahu, tapi harus kita cari secepatnya jangan sampai keburu Ki Munding Suro sembuh total.” Jawab Yasin.


“Berat juga kalau begitu, waktu terus berjalan kita pun harus bergerak cepat. Sena kita harus meminta Pak suhadi membawakan Golok Hitam itu kemari.” Kata Tohari.


“Tidak masalah, kan Pak suhadi juga sudah pernah kesini menemui Mas Yasin. Jadi tidak ada kendala membawa Golok Hitam itu kemari.” Jawab Sena.


“Ada hal lain yang tidak kalah penting dari itu.” Ucap Tabib Ali.


“Apa itu Tabib Ali ?” Tanya Tohari.


“Kang Yasin Harus di bekam untuk mengeluarkan darah bekunya. Kemudian harus banyak konsumsi makanan dan obat penambah darah. Bagaimanapun dia harus tetap bugar, antisipasi jika ada lawan yang menyerang ke rumah ini.” Jawab Tabib Ali.


“Lakukan saja Tabib, untuk kesembuhan Adikku Yasin aku percayakan kamu untuk mengikhtiarkan kesembuhannya.” Jawab Tohari.


Tabib Ali pun segera mengajak Yasin untuk menjalani proses Bekam, mengeluarkan darah kotor dan beku yang mengganggu peredaran darah Yasin.


Sidiq dan Jafar yang tahu jika ayahnya sedang diobati Tabib Ali dan tahu kondisi ayahnya seperti itu memutuskan untuk bermalam di rumahnya. Menjaga Ayahnya dan sekaligus mengamankan keluarga besarnya, karena kondisi ayahnya yang seperti itu.


Bahkan Lita pun ikut bermalam di situ mengikuti Arlita mamanya yang juga bermalam di rumah Yasin Ayah Sidiq. Sehingga rumah Yasin pun kembali meriah.


Di tempat Ki Marto Sentono


“Bagaimana keadaan Ki Munding Suro, apakah sudah lebih baik ?” Tanya Ki Marto pada Ki Munding Suro setelah berhasil menyembuhkan anak buahnya yang terkena totokan.


“Sudah Agak mendingan, yang pasti beberapa hari ke depan sudah siap mengadakan upacara  Pancamakarapuja. Untuk meminta kekuatan agar kekuatan kita semua menjadi berlipat lipat.” Ucap Ki Munding Suro.


“Baik Ki Munding, tapi sayangnya masih kurang tumbal Gadis suci yang belum memasuki masa haid. Dan juga jumlah wanita yang akan diikutkan upacara masih kurang jumlahnya.” Kata Ki Marto Sentono.


“Usahakan mencari tambahan, nanti yang ikut upacara harus sejumlah Wanita yang didapat. Kalau tidak maka harus rela istri dan anak kalian dijadikan wanita untuk berbagi.” Jawab Ki Munding Suro.


“Iya Ki Munding, terus diusahakan agar dapat sebanyak mungkin.” Jawab Ki Marto Sentono.


“Apakah dua Muridku sudah berangkat menjemput kakak seperguruannya Wiratmojo ?” Tanya Ki Munding Suro.


“Sudah Ki Munding, sepeninggal dua murid Ki Munding tadi kita diserang oleh dua orang anak Yasin.” Kata Ki Marto.


“Dasar Licik, menyerang saat kedua Muridku tidak ada.” Ucap Ki Munding suro.


“Tapi tiak apa Ki, Semua masih bisa terkendali dan rencana upacara Pancamakarapuja tetap bisa dilaksanakan.” Jawab Ki Marto.


Kemudian Ki Marto pun meminta Jalu dan kawan kawannya untuk mencari tambahan Wanita dan mencari calon Korban untuk acara Pancamakarapuja.

__ADS_1


“Jalu, segera kamu mencari Korban Gadis suci. Sedangkan Jaka bayu dan lainya mencari tambahan wanita agar seluruh anggota kita bisa ikut acara PancaMakarapuja.” Kata Ki marto Sentono.


“Baik Ki Marto malam ini Jalu akan mencari sampai dapat gadis suci yang dimkasut.” Jawab Jalu.


“Kami juga akan mencari wanita sebagai syarat proses acara Maithuna.” Jawab Jaka.


Semua sudah mendapat tugas sendiri sendiri untuk mensukseskan acara Pancamakarapuja. Setiap anggota diberi pilihan mencari wanita atau mengajak istri atau anak gadisnya nya untuk proses tersebut. Dan yang lebih gilanya lagi dalam proses Maithuna dilakukan secara acak tidak boleh memilih atau menghindari atau menolak jika yang dihadapi adalah saudara bahkan anak sendiri. Serta harus rea jika istri jatuh ke pelukan lelaki lain dan bercinta di hadapan mereka.


Sebuah acara yang sangat menjijikan sebenarnya, namun begitu ada juga orang yang rea melakukan semua itu demi mencari kesaktian atau sebuah ilmu yang sebenarnya tidaklah ada artinya. Justru akan menyeret manusia ke dalam sebuah kesesatan yang nyata.


Malam hari pun tiba, maka tiba pula waktu bagi mereka untuk menjalankan tugas masing masing. Jalu dengan segala upaya juga berusaha mencari gadis suci sebagai tumbal. Sementara yang lain juga mencari tambahan wanita sebagai kelengkapan proses Maithuna.


Jaka bersama dengan Gede Paneluh sedangkan Bayu Aji ditemani Kala Srenggi. Sementara Ki Bujang bersama Otang dan Lembayung bertiga. Masing masing kelompok berjalan ke arah yang berbeda beda untuk mencari wanita yang akan dijadikan alat ritual gila mereka.


Perjalanan Jaka dan Gede Paneluh sudah memasuki ke sebuah perkampungan yang cukup sepi. Keadaan dusun yang sepi membuat Jaka dan Gede Paneluh lebih leluasa mencari korban wanita. Gede Paneluh menggunakan ajian pelet dan gendam untuk membuat wanita tidak sadar. Sementara Jaka menggunakan Aji welut putih untuk masuk ke rumah Korban dan membawa wanita yang sudah terkena Gendam tersebut tanpa diketahui oleh keluarganya. Perjalanan Jaka dan Gede Paneluh pun bisa berjalan mulus tanpa kendala.


Sementara perjalanan Ki Bujang Otang dan Lembayung yang tidak paham daerah atau wilayah tersebut justru salah memilih wilayah yang dekat dengan tempat tinggal Yasin. Sementara Lembayung menggunakan Ajian gendam dan Peletnya. Kemudian Otang menggunakan Sirep Megananda untuk membuat orang orang pulas tertidur. Dengan Maksut agar Ki Bujang dapat dengan mudah menculik wanita yang sudah dalam pengaruh gendam an sirep Lembayung dan Otang.


Namun rencana mereka gagal karena angkah Ki Bujang dapat diketahui oleh salah seorang warga. Sehingga Kampung pun menjadi Heboh karena ada warga yang Berteriak minta Tolong dengan adanya berita Penculikan.


Langkah Ki Bujang pun terhenti karena dihadang beberapa warga yang mengejarnya, saat sedang membawa korban terakhir yang akan dibawa ke Markas mereka.


Sayangnya Otang dan Lembayung yang melihat itu lebih memilih melarikan diri  dan membawa gadis yang sudah dibawa Ki Bujang sebelumnya. Ki Bujang pun harus menghadapi puluhan warga seorang diri.


“Lepaskan wanita itu, dan cepat menyerah sekarang juga. Kalau tidak jangan salahkan kami jika kamu sampai terluka ataupun sampai dijemput maut.” Teriak Seorang warga.


Ki bujang pun menurunkan wanita yang dia culik yang masih dalam keadaan tidak sadar tersebut.


“Ambil Wanita itu, singkirkan ke tempat yang aman.” Kata Jogoboyo wilayah tersebut.


“Biarkan aku pergi, bukankah sudah aku serahkan kembali wanita itu.” Kata Ki Bujang seperti tidak ada masalah. Sehingga membuat para pengepung semakin marah.


“Enak saja kamu ngomong, kalau bukan karena kami maka kamu pasti sudah bawa pergi wanita tersebut.” Ucap Seorang Warga.


“Kalau tidak maka jangan salahkan aku jika kalian semua akan tewas di tanganku.” Ucap Ki Bujang semakain membuat kesabaran warga hampir habis. Bahkan ada satu warga yang langsung menyerang Ki Bujang tanpa ba bi tu, langsung menyerang Ki Bujang dengan mengeluarkan sebuah golok.


Namun belum juga serangan orang tersebut mengenai Ki Bujang. Ki Bujang justru dapat memukul orang tersebut hingga orang itu terpental jauh…?!?


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


  

__ADS_1


__ADS_2