
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Anak Maheso Suro yang bernama Sawung Panjalu sekilas anaknya sopan dan halus. Namun dia bisa membunuh orang sambil tersenyum dan tanpa ekspresi. Sampai mendapat julukan manusia berdarah dingin.
Aku merinding mendengarkan cerita orang tersebut, bagaimana jika suatu saat nanti harus berurusan dengan dia….???
Aku merinding mendengar penjelasan orang orang tua tersebut, bahkan diriku yang dinilai temperamental ini pun ikut ngeri. Bagaimana mungkin orang bisa sejahat itu, kalo aku ingat dulu saat diajak ayahku bertempur melawan Lady Ninja itu sudah sangat mengerikan. Tapi ini ada yang lebih dari itu, bagaimanapun aku tidak akan membiarkan ayahku turun tangan lagi. Biar aku dan adikku Jafar saja yang nanti menggantikan peran ayah.
“Yah, berarti orang yang tadi kabur adalah musuh ayah ? Dan ini adalah teman teman mereka, sebaiknya kita apakan yah ?” tanyaku pada ayah.
“Sudahlah, lepaskan saja mereka kali ini. dengan catatan kalo mereka masih mencoba ganggu kita maka tidak ada ampun untuk yang kedua kalinya.” Jawab ayah.
“Terimakasih, kami berdua janji tidak berani lagi mengganggu keluarga kalian.” Ucap salah satu dari mereka.
Orang orang yang tadinya sombong itu pun saat ini menjadi tak berkutik di hadapan ayah. Dan dari mereka aku jadi tahu jika masih ada orang orang yang membenci ayah serta akan balas dendam dengan ayah. Hal ini harus aku bicarakan dengan Jafar adikku. Agar aku dan dia bisa sering menjenguk ayah bunda. Jika perlu akan melibatkan pemuda pemuda dusunku untuk membantu mengawasi kondisi rumah. Biar sewaktu waktu ada peristiwa aku dan Jafar bisa langsung mendengar.
“Ya sudah kalian pulang saja sana, nanti bilang ke damar kalau yang tadi menghajar nya adalah anak Arum yang dulu mau dia culik. Jadi kalo mau macam macam lagi silahkan saja kalau mau kembali babak belur.” Ucap ayah sambil mengancam. Entah apa permasalahan apa antara ayah dengan orang yang bernama Damar tadi. Kenapa ayah dengan orang itu Nampak benci sekali, apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu ayah. Atau sekedar dia dulu adalah salah satu musuh yang berhadapan langsung dengan ayah, tapi kenapa harus menyebut nama mamah Arum ?, aku bertanya dalam hati.
Kemudian setelah kedua orang itu dibiarkan pergi oleh ayah, aku memberanikan diri bertanya kepada Ayah.
“Ayah, kenapa ayah harus menyebut nama mamah ? Apakah orang yang bernama Damar itu juga mengenal mamah ?” tanyaku.
Ayah tampak kaget ketika aku tanya begitu, bahkan agak kesulitan menjawab. Sampai sampai bunda Fatimah yang ikut bicara.
“Dia dulu yang mau menculik kamu dan mamah kamu, saat masih kecil Sidiq. Dan dia memang tinggalnya di dekat rumah mamah kamu.” Jawab bunda.
“Owh begitu ya bunda, pantas saja ayah sampai sebut nama mamah. Berarti mamah juga kenal dengan orang itu ya bunda ?” tanyaku lagi.
“Ya mungkin kenal, tapi pastinya gak tahu mungkin juga dia tahu mamah kamu tapi mamah kamu gak kenal dia.” Jawab bunda Fatimah.
Aku berpikir memang mungkin saja seperti itu, ada seseorang yang mengenal kita tapi kita tidak mengenalnya. Tapi sudahlah, aku juga gak ada waktu buat menanyakan ke mamah. Karena harus siap siap kembali ke pesantren, sebentar lagi.
“Iya bunda, sebentar lagi Sidiq akan kembali ke pesantren mohon doa restunya ya ayah dan bunda.” Kataku kepada ayah bundaku.
“Sudah pasti ayah bunda mu merestui kamu nak.” Ucap ayah yang selalu menyebut aku dengan sebutan nak, apa bila sedang bicara halus. Sedangkan kalo lagi marah selalu sebut namaku saja, aku hafal sifat ayahku dari waktu aku kecil begitu.
“Owh iya yah, ayah kan mau mulai usaha grafting lagi. Kira kira masih perlu apa lagi yah untuk memulai usaha ?” tanyaku.
“Udah cukup semuanya, tinggal memulainya saja besok serta menunggu pertumbuhannya nanti.” Jawab ayah.
“Maksud Sidiq begini yah, kan tadi SIdiq dikasih uang sama om Steve dan isinya cukup besar. Kalau ayah masih perlu ayah pakai dulu saja.” Ucapku hati hati agar ayah tidak tersinggung.
“Gak kok, udah cukup bahkan ayah tadi juga bertemu dengan Steve dan Ponco. Jadi kamu pakai saja, adik adik kamu dibagi.” Jawab Ayah.
Memang sudah ada dalam benakku untuk berbagi dengan kedua adikku, mungkin besok sepulang sekolah sebelum kerja aku mampir ke pondok adik adikku dulu, kataku dalam hati.
“Iya yah, pasti mereka aku bagi Sidiq juga kangen dengan mereka berdua.” Jawabku.
Kemudian aku segera berpamitan agar tidak terlalu sore sampai ke pondok pesantren. Besok hari senin ada ulangan di sekolah dan setelah itu harus bekerja di counter juga banyak HP yang harus Sidiq perbaiki. Meski berat berpisah dengan ayah bundaku, dan berat juga mereka melepas ku namun semua ini demi masa depan Sidiq. Dan juga memenuhi keinginan mereka sebagai Ayah bundaku, Sidiq tahu persis meski bunda Fatimah bukan ibu kandungku. Tapi jelas beliau sangat berharap aku jadi anak yang berguna.
Dengan menahan tetes air mata kami. Aku bersalaman dengan ayah bundaku sebelum berangkat ke pondok pesantren lagi. Ayah yang berusaha tampak tegar pun masih kulihat matanya agak sembab. Sementara Bunda Fatimah memelukku dan berkata.
“Makasih ya Sidiq, kamu tadi sudah menjaga kehormatan bunda kamu ini.” ucap bunda Fatimah sambil meneteskan air mata.
Secara spontan aku jadi ikut terharu mendengarnya, karena bagi Sidiq itu hal yang lumrah. Apalagi Sidiq merasa tidak dianggap sebagai anak tiri. Tidak dibedakan dengan Jafar dan Nisa, jadi yang Sidiq lakukan tadi belum apa apa dibanding dengan kebaikan bunda Fatimah kepadaku.
*****
Author POV
Setelah Sidiq jauh Yasin pun menggoda Fatimah istrinya yang masih Nampak menangis.
“Eheem kok kamu jadi nangis begitu, nangis karena Sidiq atau ingat Jafar dan Nisa ?” goda Yasin pada istrinya.
“Astaghfirullah mas,,, masak kamu gak percaya kalau Fatimah juga sangat menyayangi Sidiq ?” Jawab Fatimah.
“Iya aku percaya kok, hanya iseng saja sudah lama kita gak pakai bertengkar begini.” Jawab Yasin.
“Owh jadi mas ini suka kalau bertengkar dengan istrinya ya ?” jawab Fatimah.
“Kadang kadang sih, karena kalau habis bertengkar kan jadi tambah Mesra.” Jawab Yasin sambil tersenyum menggoda Fatimah.
“Yee udah tua juga masih genit saja…!” kata Fatimah Sewot.
“Lah kan meski tua tetap harus mesra, lagian genit dan manja sama istri sendiri ini bukan sama orang lain.” Jawab Yasin.
“Gak gitu juga kali mas, sekarang kita harus fokus mikirin anak anak kita itu yang lebih utama.” Jawab Fatimah.
“Iya aku tahu itu, tapi setidaknya jangan sampai melupakan kodrat kita sebagai suami istri. Paling tidak harus ada waktu untuk kita bercanda begini, agar tidak jenuh dengan keadaan.” Ucap Yasin.
“Fatimah haru dengan Sidiq, dia sangat peduli dengan Fatimah meski bukan ibu kandungnya.” Ucap Fatimah.
“Ya pastilah, kan kamu juga sangat baik dengan Sidiq tidak menganggapnya anak tiri kamu.” Ucap Yasin.
“Iya mas, aku sangat bersyukur atas itu semua. Owh iya tau gak tadi Sidiq kasih uang buat belanja kebutuhan warung kita agar lebih komplit.” Tanya Fatimah.
“Tahu, tadi Sidiq juga cerita kalo dikasih uang sama Steve. Dan tadi Steve juga menyusul aku ke rumah makan pak Zul dan akan memberi hadiah katanya.” Jawab Yasin.
“Iya mas, tadi juga bilang ke Fatimah tapi Fatimah bilang itu terserah suamiku saja. Mau dan tidaknya Fatimah gak bisa memutuskan.” Ucap Fatimah.
“Setelah aku pikir pikir gak baik juga menolak rezeki, yang penting kita tidak pernah berharap imbalan dari mereka.” Jawab Yasin.
__ADS_1
“Iya mas, terserah mas saja kalo aku gak masalah. Hidup begini juga sudah bersyukur, meski kadang kekurangan tapi hubungan keluarga kita tidak pernah goyah.” Jawab Fatimah.
“Betul, itu pula yang buat aku makin sayang sama kamu Fat.” Ucap Yasin.
“Mulai deh gombalnya, ditiru Sidiq tuh tadi juga merayu aku sebagai bundanya dengan bahasa yang mirip sama kamu mas.” Sahut Fatimah.
“Masak sih, tapi aku serius kok Fat bukan menggombal. Saat kita terpuruk kemarin kalau istriku bukan kamu pasti sudah ngomel, protes Bahkan bisa jadi minta cerai. Karena kadang sehari saja hanya bisa makan sekali.” Ucap Yasin dengan mimik serius.
“Kalau itu kan sudah terlatih saat masih sama sama di pesantren dulu mas. Kan sering juga kiriman dari bapak ibu telat, sehingga harus makan seadanya.” Jawab Fatimah.
“Meski begitu tidak semua orang bisa mengambil hikmah Fat, yang dulu pernah susah saat kaya raya jadi semena mena dengan orang tak punya juga banyak. Lupa dengan apa yang dia pernah alami dulu.” Ucap Yasin.
“Biarinb saja, yang penting kita tidak seperti itu mas. Dan seandainya kita bangkit lagi secara ekonomi pun gak usah berubah. Tetap hidup biasa saja, gak usah berpenampilan dan bergaya beda.” Ucap Fatimah.
Begitulah percakapan sepasang suami istri yang saling mencintai dan menyayangi. Fatimah Istri yang setia yang tidak pernah menuntut sesuatu yang diluar batas kemampuan suaminya. Dan Yasin suami yang bertanggung jawab, terus berusaha menyenangkan hati istri dan anaknya. Tanpa diminta akan memberikan sesuatu yang dibutuhkan istri dan anaknya jika memang bisa memberikannya.
Sungguh gambaran keluarga yang harmonis meski awal pernikahan mereka penuh dengan dinamika. Karena menikah tanpa ada rasa cinta sebelumnya, bahkan masing masing sudah memiliki kekasih hati. Tapi berjalanya waktu cinta diantara keduanya pun tumbuh subur yang semakin lama justru semakin berkembang.
*****
Sidiq POV
“Alhamdulillah, akhirnya aku sampai lagi di pondok pesantren.” Ucapku sambil merebahkan diri di kamar yang aku gunakan bertiga dengan santri santri yang lain.
“Jadi pulang ke rumah kamu tadi Diq ?” tanya Ihsan teman satu kamar dan satu sekolah denganku.
“Jadi lah, kangen sama ayah bundaku.” Jawabku.
“Tapi ada yang kangen kamu apa kamu gak tahu ?” goda Ihsan kepadaku.
“Siapa maksud kamu ?” tanyaku pada Ihsan.
“Itu yang tiap hari menemui kamu di counter, tadi nyariin kamu gak ketemu. Terus nanya aku minta no HP kamu.” Ucap Ihsan.
“Terus kamu kasih ?” tanyaku.
“Gak, aku belum nanya kamu boleh gak kasih nomor kamu ke Riska. Jadi aku bilang minta sendiri saja besok ke anaknya.” Jawab Ihsan.
“Owh syukurlah, aku gak enak saja soalnya dulu aku bilangnya gak punya HP.” Jawabku.
“Gak papa Diq, kamu kasih tapi hati hati ada beberapa orang yang naksir dia. Dan salah satunya adalah orang yang cukup punya pengaruh di sekolah kita.” Ucap Ihsan.
“Aah Sidiq gak mikir soal itu dulu, mau konsen sekolah dan ngaji dulu saja.” Jawabku.
“Alaah Sidiq, jangan bohongi hati kamu sendiri, kamu juga suka kan sama Riska. Gak papa kali asal gak berduaan saja.” Ucap Ihsan.
“Udah istirahat saja, sebelum nanti kita ngaji habis maghrib.” Ucapku pada Ihsan sekaligus menghentikan pembicaraan.
*****
Dan tidak berubah, Riska pun segera tampak membuka pintu rumahnya dan menyapa aku.
“Mas Sidiq, tunggu aku ikut jalan bareng.” Ucap Riska setiap aku lewat depan rumahnya.
Aku pun berhenti sebentar menunggu Riska yang berlari menghampiriku. Namun tiba tiba instingku merasa ada bahaya saat kudengar sebuah raungan knalpot yang keras mendekatiku. Secara reflek aku melompat menjauh dari jalan, dan ternyata ada seorang berkendara yang hendak menendang aku sambil berboncengan sepeda motor.
“Awas mas Sidiq..!” teriak Riska, namun aku sudah terlebih dulu melompat menjauh dari jalan raya.
“Siapa sih mereka, kok tiba tiba menyerang aku ?” tanyaku pada Riska.
“Udah gak usah dipikirin mas, memang dia suka bikin masalah di kampung dan di sekolah.” Jawab Riska.
“Tapia pa urusannya denganku, kan tidak pernah saling bertemu dan berbicara.” Protes ku. .
“Namanya juga biang onar, gak perlu ada alasan untuk membuat onar. Karena membuat onar sudah menjadi pekerjaan nya.” Jawab Riska.
Kami pun melanjutkan berjalan kaki menuju sekolah yang tinggal beberapa puluh meter lagi. Dan sampai di gerbang sekolah kami pun berpisah karena berbeda kelas. Riska ambil jalan ke ke kiri dan aku ke kanan menuju ke ruang kelas kami masing masing.
Saat aku berjalan ke kelas tiba tiba ada seorang yang mendekati aku dan mengancam aku.
“Hei, kamu jangan sekali sekali mendekati Riska. Riska itu pacarnya bos kami, kalau kamu nekat maka aku gak akan segan menghajar kamu.” Ucap orang itu.
Sebenarnya aku sangat emosi diancam seperti itu apalagi di depan orang banyak. Ingin rasanya membalas ancaman dengan menerima tantangan nya. Tapi sebagai anak yang dikenal tinggal di pesantren, untuk menjaga nama baik di pesantren aku harus bersabar.
“Aku tidak pernah mendekati Riska kok.” Jawabku datar.
“Kamu ngeyel ya, sudah jelas ketahuan tiap hari nyamperin Riska saat berangkat sekolah. Kemudian tiap hari juga ngobrol sama Riska di counter Hp masih mau mengelak juga !” bentak orang itu.
“Kalau berangkat sekolah kan kebetulan aku lewat depan rumahnya, jadi sekalian Riska minta bareng. Kalo di Counter HP memang aku sambil kerja di sana dan Riska beli pulsa dan sebagainya jadi otomatis harus ngobrol dong.” Jawabku mulai terpancing emosi.
“Kamu menantang aku ya, kamu berani sama kami ?” ucap orang itu yang didukung dua teman lainya.
“Tidak….!” Jawabku singkat.
“Tidak apa, tidak menantang atau tidak berani ?” tanya yang lain.
“Tidak menantang dan tidak berani, kalo……!” ucapku sengaja ku jeda.
“Kalau apa ?” tanya mereka bareng.
Dengan tenang ku jawab,
“Kalau sekarang dan di sekolah, tapi kalau di luar jam sekolah dan tidak disekolah. Kalian bertiga akan kuhajar sampai minta ampun.” Jawabku setengah berbisik agar tidak di dengar yang lain, sudah lepas kendali karena mereka sudah mulai mendorong dorong aku.
__ADS_1
“Kurang ajar kamu ya, belum tahu siapa kami ya ?” bentak seorang di antaranya.
“Kalau mau saling kenal nanti saja sepulang sekolah, buat melawan kalian bertiga aku rasa gak butuh waktu lama kok.” Jawabku.
Tanpa menjawab mereka malah pergi meninggalkan aku, sehingga orang orang yang melihat kami tadi hanya bengong. Karena selama ini tidak ada yang berani melawan mereka. Namun aku juga tidak peduli, mungkin saja mereka hanya berani menggertak karena merasa ditakuti. Kalau ketemu yang berani melawan mereka juga berpikir ulang, batinku.
Aku pun segera menuju ke kelas ku untuk segera mengikuti pelajaran, karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Dan saat sedang buru buru tiba tiba ada gadis yang mencegat aku.
“Tunggu dulu, kamu teman Riska kan. Jangan kau layani mereka tadi. Mereka punya geng dan pimpinan mereka sudah cukup dewasa dan sangat di takuti semua orang.” Ucap gadis itu yang aku tidak kenal namanya. Meski tahu satu sekolah denganku.
“Iya makasih saran nya, tapi aku gak bermaksud menantang kok. Hanya mempertahankan diri saja agar tidak direndahkan orang lain.” Jawabku sambil tetap melangkah.
“Sidiq, nama kamu Sidiq kan ? Nanti jam Istirahat aku tunggu di kantin saja, banyak yang harus aku bicarakan dengan kamu. Owh iya, panggil saja namaku Lita kalau berkenan nanti kutunggu di kantin, penting.” Ucap Gadis itu.
“Aku usahakan ya, tapi aku belum berani janji.” Ucapku.
“Tenang saja, nanti juga kau ajak Riska biar dia gak salah paham.” Ucap gadis bernama Lita tersebut.
Aku sudah tidak menjawab hanya member kode ok dengan jariku. Segera aku masuk kelas sebelum guru terlebih dahulu memasuki kelasku, agar tidak terkena hukuman nanti. Jam pertama ulangan Matematika, aku jadi kurang konsen karena peristiwa pagi tadi, dan kepikiran ajakan Lita jam istirahat untuk bertemu di kantin.
Aku jadi tidak sabar menunggu jam istirahat ada rasa kangen juga sama Riska, aduh apakah ini artinya aku beneran sudah jatuh cinta dengan Riska. Tapi aku sudah janji tidak akan pacaran dulu, bagaimana ini ? aku jadi gelisah memikirkan hal itu, sampai ditegur oleh ibu guru.
“Kamu kenapa Sidiq, kok kayaknya gelisah gak seperti biasanya ?” tanya bu Lasmini guru Matematika.
“Gak kok bu, hanya agak capek kemarin habis pulang ke rumah orang tua.” Jawabku sekenanya.
“Owh, ya sudah sekarang kerjakan soal ulangan nya.” Ucap bu Lasmini.
Semua soal sudah aku kerjakan meski agak tidak konsentrasi, dan aku juga gak yakin nilai ulanganku hari ini bagus karena sulit untuk konsentrasi. Dan tak terasa bel istirahat pun berbunyi, segera aku menemui Lita dan Riska di kantin.
Sesampai di kantin ku lihat Lita dan Riska sudah duduk menunggu aku dan segera melambaikan tangan memanggil aku.
“Hai Diq sini, aku dan Riska sudah menunggu kamu dari tadi.” Ucap Lita.
“Memang kalian gak ikut pelajaran kok sudah dari tadi di sini ? “ Tanyaku.
“Gak, kebetulan kelas kita kosong, guru berhalangan hadir jadi kami gunakan nongkrong di warung saja.” Ucap LIta.
“Kamu satu kelas dengan Riska ?” tanyaku.
“Iya, kenapa mang ?” tanya balik Lita.
“Kok tadi ada di kompleks kelasku, kelas kamu kan agak jauh dari kelasku ?” jawabku.
“Sengaja, karena tadi ada perlu sama temen dan kebetulan kulihat kamu di ganggu anak anak tadi. Aku sudah cerita sama Riska.” Jawab Lita.
“Iya mas, kamu gak usah ladeni mereka. Mereka itu jahat dan kasar, dia punya geng yang ditakuti banyak orang. Karena pimpinan geng mereka adalah seorang yang sangat di takuti. Dia terkenal kejam dan berdarah dingin.” Ucap Riska.
“Terus apa hubunganya dengan aku, kan aku gak berurusan dengan geng itu ?” jawabku.
“Meski begitu mas, ada kemungkinan kalau anak anak itu nanti kalah sama kamu ngadu ke pimpinan gang tersebut, dan pimpinan mereka sudah dewasa dan terkenal kejam sekali. Orang dengar namanya saja sudah pada takut mas.” Kata Riska ketakutan sekali.
“Haah baru denger namanya saja sudah takut memang namanya genderuwo atau pocong ?” kataku sambil senyum. Membuat Riska agak manyun, karena aku seperti tidak percaya ucapan nya.
“Jangan bercanda lah mas, Riska serius jujur saja deh Riska gak mau mas Sidiq kenapa napa. Riska care sama mas Sidiq Riska Sayang sama Mas Sidiq. Gak peduli mas Sidiq mau bagaimana dengan Riska, tapi Riska sayang sama Mas Sidiq.” Ucap Riska yang membuat jantungku justru berdegup kencang tidak tahu apa yang ku alami ini.
“Iya aku juga peduli kok sama Riska, maaf aku hanya bercanda tadi jangan marah.” Jawabku agak gugup.
“Cuma peduli saja kah, apa gak ada yang lain ? Kan Riska udah ngaku kalau Riska sayang sama Mas Sidiq. Masak mas Sidiq gak kasih kepastian gitu ?” kata Riska.
Aku jadi bingung harus bicara apa, ingat janjiku ke ayah bunda tapi sebenarnya aku juga sayang sama Riska. Ada peperangan batin di hatiku saat itu, sampai Riska kembali menanyakan hal yang sama.
“Mas, jujur saja mas Sidiq sekedar peduli atau ada rasa sayang sama Riska, jangan digantung seperti ini mas. Riska butuh ketegasan.” Ucap Riska lagi. Aku jadi ingat kata kata Ihsan, ‘asal jangan berduaan gak papa Diq.’ Aku jadi makin bingung.
“Eeeh iya gini Riska, sebenarnya aku juga ada rasa sayang dengan Riska. Namun Sidiq sudah janji sama ayah bunda untuk tidak berpacaran dulu. Jadi rasa sayang Sidiq ya hanya bisa sampai seperti ini Riska.” Ucapku pada Riska. Riska tersenyum jadi bertambah manis, dan membuat hatiku semakin berdebar debar saja.
“Riska mau nunggu sampai mas Sidiq menyatakan siap punya pacar.” Ucap Riska kemudian. Malah membuat aku semakin bingung saja.
“Ya sudah, kalian jalani saja berdua aku ikut senang mendengarnya. Meski Sidiq gak berani berpacaran dulu tapi paling tidak Sidiq juga udah bilang kalau dia juga sayang elo Ris.” Ucap Lita tiba tiba.
“Owh jadi yang kamu maksud penting tadi ini ya Lita ?” tanyaku pada Lita.
“Salah satunya, tapi ada lagi yaitu soal anak anak tadi dan pimpinan gengnya yang sangat berbahaya, seperti yang dikatakan Riska tadi, orang denger nama pimpinan mereka saja sudah ketakutan.” Ucap Lita.
“Memang siapa namanya kok kayaknya menakutkan sekali.” Tanyaku pada Lita.
“Nama aslinya gak tahu, tapi orang menyebutnya ‘Jalu’” ucap Lita pelan.
Aku hampir saja tersedak mendengar nama itu, apakah ini kebetulan nama yang mirip atau nama ‘Jalu’ itu adalah Sawung Panjalu orang yang diceritakan kemarin itu. Kalau benar dia aku harus hati hati dan harus kontak Jafar dan semua orang yang sekiranya bisa membantu.
“Nah kaget kan….!” Ucap Riska.
“Gak kok, hanya heran kok namanya mirip anggota tubuh ayam jantan.” Gurauku meski sebenarnya aku juga agak panik jika itu adalah Sawung Panjalu. Meski juga tidak terlalu takut, namun harus waspada saja, pikirku…!!!
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
Vote nya ya Reader tercinta.
...🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1