
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Rahasia raja Khodam Dalang Anyi Anyi 2...
Sidiq dan Jafar terkejut, tidak menduga sama sekali jika jaman dahulu Raja khodam itu justru merupakan Khodam yang dipakai pleh leluhurnya sendiri.
“Pantas, tadi Jin Qorin Ki Joyo Maruto membujuk aku mau menjadi temannya,” kata Jafar dalam hatinya.
Â
“Jadi Dalang Anyi Anyi itu dulunya adalah Khodam Eyang Begawan Sanjaya, Bah?” tanya Sidiq.
“Begitulah, dulunya Dalang Anyi Anyi adalah Khodam dari Begawan Sanjaya. Pernah  sempat mengikuti anak muridnya juga, untungnya sebagian Besar ilmu Begawan Sanjaya tidak diturunkan pada murid muridnya.” kata Kyai Syuhada.
Â
Sidia dan Jafar mendengarkan kisah dari Begawan Sanjaya, entah kakek ke berapa dari eyang Jafar Sanjaya. Karena Endang Pertiwi istri kedua dari Eyang Mustholih yang akhirnya pada generasi sekitar ketiga menurunkan Eyang Jafar Sanjaya. Yang akhirnya berbesanan dengan Eyang Sidiq Ali. Dari perkawinan anak-anak mereka  melahirkan Yasin orang tua Sidiq dan Jafar.
Â
“Rumit juga ya Bah, ceritanya kalau begitu,” jawab Sidiq.
“Yang harus kalian ketahui, dari keturunan  kerabat Begawan Sanjaya entah adik atau kakaknya, ada yang saat ini menjadi musuh ayahmu. Artinya juga musuh kalian juga. Ajaklah dia berdamai dan bertaubat, minimal jangan bermusuhan dengan kalian,” kata Kyai Syuhada.
Â
“Siapa Bah?” tanya Jafar.
“Kalian nanti akan menemukan sendiri, pada saat yang tepat.” jawab Kyai Syuhada.
Â
Sidiq dan Jafar jadi merenung, memikirkan siapa kira kira yang dimaksud oleh Kyai Syuhada. Keturunan dari kerabat Begawan Sanjaya, leluhur mereka dari jalur Eyang Jafar Sanjaya.
Setelah terdengar kumandang Adzan Subuh Kyai Syuhada pun mengajak semua berjamaah Sholat Subuh.
Â
“Kita Sholat Subuh dulu, nanti Sidiq berangkat sekolah dari sisni saja. Masih ada yang akan aku sampaikan,” ucap Kyai Syuhada.
Setelah sholat subuh Sidiq dan Jafar pun kembali dipanggil Kyai Syuhada.
Â
“Kalian harus bisa bekerjasama dengan baik. jangan terbawa emosi darah muda kalian. Gunakan kelembutan dahulu, untuk mengajak kebaikan. Kekerasan hanya digunakan untuk pertahanan, atau melindungi dari penindasan,” kata Kyai Syuhada singkat.
“Iya Bah.” Jawab Sidiq dan Jafar.
Kemudian keduanya pun beristirahat sebentar sebelum berangkat sekolah.
Â
*****
Â
Di rumah Yasin
Â
Pagi hari saat keluarga Yasin sedang bersantai, dan anak anak asuh Yasin sudah berangkat ke sekolah, Yasin mengjaka Farhan dan Sufi mengobrol santai.
Â
“Bagaimana Farhan, sudah mulai bisa mempelajari penanaman bibit tanaman?” tanya Yasin.
“Alhamdulillah sudah Mas,” jawab Farhan.
“Syukurlah, artinya kamu sudah siap untuk memulai usaha nanti. Sebagai kepala rumah tangga, sudah kewajiban kamu memberi nafkah anak istrimu kelak,” kata Yasin.
Â
“Iya Mas, tapi belum ada tanda tanda Sufi hamil nih,” jawab Farhan.
“Sabar lah, mungkin belum rejeki saja,” sahut Fatimah.
“Baru juga kemarin nikah, masak iya langsung hamil. Ada satu hal yang mau aku sampaikan pada kalian, sebagai pengantin baru,” kata Yasin.
“Apa itu Mas?” tanya Farhan.
“Saat ini mungkin kalian belum merasakan, apa itu kasih sayang. Karena kalian masih pengantin baru,” ucap Yasin.
“Maksudnya bagaimana sih Mas?” Sufi tiba tiba ikut bertanya.
“Saat usia pernikahan kalian sudah lama, nanti baru akan terasa. Di antara kalian ada kasih sayang atau sekedar Nafsu semata,” kata Yasin.
“Jangan ditakut takutin begitu Mas,” sahut Fatimah.
“Gak, ini bukan nakut nakutin. Tapi mengingatkan saja, agar mereka tahu,” jawab Yasin.
“Iya Mas, maksudnya bagaimana?” Sela Farhan.
“Suatu ketika kalian akan tahu. Saat dimana kasih sayang harus lebih dominan dari nafsu,” kata Yasin.
“Maksudnya bagaimana Mas?” tanya Sufi.
“Ini memang hal yang sensitif. Tapi bagi yang sudah berumah tangga tidak masalah dibicarakan,” jawab Yasin.
Â
Kemudian Yasin memberikan penjelasan, atas apa yang dia katakan. Jika kebanyakan pasangan suami istri kadang melupakan hal kecil yang sebenarnya sangat penting. Hal kecil yang kadang disepelekan, bahkan ada yang menganggap lebay. Namun itu justru menjadi sebuah kunci keluarga yang Harmonis.
Â
Yasin mengatakan pentingnya perhatian kecil berupa pelukan dan lainya. Karena kebanyakan suami istri yang sudah mempunyai anak kadang melupakan itu. Bisa dikatakan menyentuh Istri atau suaminya saat hendak berhungan saja. Jika yang terjai seperti itu, maka yang dominan adalah Nafsu. Akan tetapi melakukan di saaat lain, saat tidak sedang ingin maka itu merupakan wujud perhatian dan kasih sayang.
Â
Saat suami memberi pelukan pada istri atau sebaliknya, disaat santai bukan karena ingin merupakan wujud perhatian dan kasih sayang. Begitu juga sebaliknya, dan hal itu bisa menambah rasaa sayang pada pasangan. Bukan menyentuh saat Nafsu yang muncul saja, karena itu akan ada masa jenuhnya kalau sekedar nafsu.
__ADS_1
Â
“Jadi begitu ya Mas?” tanya Farhan.
“Untuk saat ini mungkin bagi kalian belum terasa, karena masih baru. Tapi suatu saat kalian akan merasakan hal itu,” ucap Yasin.
Â
Sufi dan Farhan mendengarkan penjelasan Yasin dengan serius.
Â
“Eheem…kok Fatimah jarang mendapatkan itu Mas?” goda Fatimah.
“Wah kamu aja yang mintanya terlalu tinggi kalau begitu,” jawab Yasin
“Yee gak juga kok, maksud Fatimah selama ini ka Mas Yasin lebih sering ninggalin Fatimah,” kata Fatimah.
“Itu kan kemarin, saat ini kan aku dirumah terus,” jawab Yasin.
“Wah bikin iri saja kalau lihat Mas Yasin dan Mbak Fatimah begitu,”  ucap Sufi.
“Inikan kasih contoh kamu dan Farhan, Sufi,” jawab Yasin.
“Nanti Farhan jadi pengen Mas?” ucap Farhan sambil senyum.
“Ya gapapa, kan ada istri kamu sekarang,” jawab Yasin.
“Ini Mas, Farhan mau nanya tapi agak malu. Soalnya ini memang masalah privasi dan tabu juga,” kata Farhan.
“Tanya saja, daripada kamu bicara ke orang lain akan beda hasilnya,” jawab Yasin.
“Maksudnya bagaimana Mas?” tanya Sufi.
Pandai pandailah memilih orang untuk bicara masalah rumah tangga. Jangan pada sembarang orang,” jawab Yasin.
Â
Farhan dan Sufi mengangguk, mereka paham maksud Yasin. Masalah rumah tangga adalah ranah Privasi, cerita kepada orang yang salah, bisa jadi malah makin membesarkan masalah.
Â
“Bukan ada masalah sih Mas, tapi lebih kepada pemahaman tentang kaidah hunungan suami istri,” kata Farhan.
“Bilang saja, kalau aku bisa bantu jawab akan aku jawab,” kata Yasin.
Â
Farhan tampak ragu ragu, untuk mengatakan. Farhan menghela nafas, mengumpulkan keberanian untuk berbicara lebih dahulu.
Â
“Kayaknya berat banget, apa aku perlu menyingkir dahulu, kalau malu ada aku?” tanya Fatimah.
“Bukan begitu sih Mbak, Farhan hanya malu saja mau berbicara,” ucap Farhan.
Â
Yasin memandang wajah Farhan seperti ingin memahami apa yang dipikirkan Farhan.
Â
Â
Farhan hanya mengangguk, tampak berat mau mengucapkan sesuatu. Sehingga Yasin memberi support agar Farhan mau bicara terus terang. Karena Yasin justru khawatir, Farhan bicara ke orang lain.
Â
“Yang ada disini semua sudah dewasa, asal kamu bicaranya gak vulgar gak masalah. Demi kebaikan kalian berdua,” kata Yasin.
Â
Farhan kembali menghela nafas sebelum memulai bercerita.
Â
“Farhan pernah dengar, jika Istri harus bersedia melayani suami kapanpun itu. Jujur saja, Farhan masih bingung tentang itu, maksud dari Kaidah itu,” kata Farhan.
Â
Yasin tersenyum  menahan geli, agar tidak sampai tertawa. Takut Farhan dan Sufi jadi malu, jika Yasin sampai tertawa.
Â
“Owh soal itu, kenapa bilang begitu saja malu malu,” kata Yasin.
“Ya malu saja Mas,” jawab Farhan.
“Jadi kaidah itu berlaku atau lebih tepatnya diterapkan apabila si suami di jalan lihat seseorang yang penampilannya mengundang birahi. Maka lebih baik dia pulang, dan menyalurkan pada istrinya. Kalau sudah begitu si istri harus mau, kecuali saat sedang libur,” jawab Yasin.
Â
Kemudian Yasin menambahkan dengan penjelasan berikutnya.
Â
“Jangan itu dijadikan dalil untuk memaksa istri, jika istri sedang capek atu kurang sehat misalnya. Itu namanya salah menempatkan dalil, bisa berbahaya,” lanjut Yasin.
“Kok bisa berbahya, maksudnya?” sahut Fatimah.
“Bahaya salah menempatkan dalil, bukan soal yang itu,” jawab Yasin.
Â
Kembali Yasin harus menjelaskan apa maksud ucapan Dia tersebut.
Salah dalam memempatkan dalil yang dimaksud digambarkan dengan sebuah perumpamaan. Dalil buat orang Kaya adalah, harus dermawan jangan sampai ada tetangga yang meminta minta. Kalau bisa memberi sebelum orang meminta.
Â
Sedangkan dalil bagi orang miskin adalah, jangan sampai meminta minta. Tidak boleh malas dan mengharap pemberian orang.
Â
“Kebanyakan orang salah dalam menempatkan Dalil. Orang miskin memakai dalil orang kaya. Orang kaya memakai dalil orang miskin. Akhirnya saling menyalahkan, karena semua salah menempatkan dalil,” kata Yasin.
“Iya Mas,”
__ADS_1
Â
Farhan dan Sufi cukup jelas menerima penjelasan dari Yasin.
Â
“Ini soal lain Farhan, kamu kan punya kelebihan dalam hal menangani sawan atau gangguan makhluk Astral pada orang. Aku titip Farayaka, sampai dia dijemput nanti,” ucap Yasin.
“Memang Farayaka kenapa Mas?” tanya Farhan.
“Seperti yang kamu lihat sebelumnya, Farayaka diincar dengan ilmu Panggiring Sukma. Sehingga hampir kehilangan kendali,” jawab Yasin.
Â
Farhan melirik kepada Sufi istrinya, seperti meminta pendapat istrinya.
Â
“Bukan berarti kamu harus mengawasi Farayaka dua puluh empat jam. Tapi membantu menjaga, dan melindungi dari gangguan makhluk Astral saja, maksudku,” jawab Yasin.
“Iya Mas, gapapa kok Sufi gak cemburu,” sahut Sufi.
Â
Yasin dan Fatimah pun hanya tersenyum, sementara Farhan tertunduk malu. Karena jawaban Sufi membuat Yasin dan Fatimah jadi tahu apa yang dipikirkan.
*****
Â
Di Pondok Pesantren Al-Huda
Â
Kyai syuhada sedang berdiri di Gerbang pondok Pesantren, satu hal yang hampir tidak pernah Kyai Syuhada lakukan. Sehingga menimbulkan tanda tanya besar, bagi santri santrinya. Tak seorangpun yang berani bertanya, bahkan sekedar keluar Pesantren pun jadi agak sungkan.
Â
Kyai Syuhada seperti sedang mengamati sesuatu dan menyimpan sebuah rahasia besar, Seakan ada sesuatu yang akan terjadi. Para Santri pun hanya bisa menduga duga, apa yang akan terjadi. Biasanya bila Sang Kyai melakukan hal yang tidak biasa, itu pertanda akan muncul sesuatu yang luar biasa. Meskipun tidak tahu apa itu, namun hampir bisa dijadikan sebuah pertanda.
Â
Bagi santri yang sudah lama, bahkan sampai mengamati ke warna pakaian dan sikap Kyiai Syuhada dan sebagaimya. Yang dalam istilah jawa itu disebut ilmu “Titen”. Kholis Santri Senior sekaligus lurah pondok, diminta teman teman santri lain untuk menanyakan kepada Kyai Syuhada. Ada apa sampai, berdiri di Gerbang Pesantren lama.
Â
“Assalaamu’alaikum Bah…!” ucap Kholis kepada Kyai Syuhada.
“Wa’alaikummussalaam,” jawab Kyai Syuhada singkat.
Kholis pun menjadis sedikit ragu untuk bertanya, karena Kyai Syuhada seakan sedang memendam perasaan yang entah apa. Namun Kholis sebagai Lurah Pondok pun, merasa harus bisa meringankan beban seorang Guru. Sehingga memberanikan diri untuk bertanya.
Â
“Apakah ada yang bisa Kholis kerjakan Bah?” tanya Kholis ragu –ragu.
“Mulai saat ini, entah sampai kapan. Jangan ada yang boleh keluar dari pesantren, kecuali sekolah. Juga pulang tidak boleh mampir kemanapun, meski hanya ke warung,” jawab Kyai Syuhada.
“Iya Bah, kalau boleh tau apakah ada sesuatu sehingga harus demikian Bah?” tanya Kholis.
“Ada banyak mungkin ratusan makhluk gaib, yang dikirimkan kemari. Makanya Abah disini memagari dengan doa, bukan Abah tidak punya maksud,” jawab Kyai Syuhada.
“Apakah ada yang bisa kami lakukan untuk membantu Bah?” tanya Kholis.
“Awasi Nisa adiknya Jafar, khusus dia harus diawasi dua puluh empat Jam. Jangan sampai lengah. Tugaskan santri putri, untuk mengawasi secara khusus,” jawab Kyai Syuhada.
“Baik Bah, setahu Kholis yang paling dekat dengan Nisa saat ini adalah Vina,” jawab Kholis.
“Jangan Vina, cari yang lain saja,” ucap Kyai Syuhada.
“Kenapa dengan Vina Bah?” tanya Kholis.
“Ikuti saja kataku, jika Vina yang mengawasi Nisa justru malah semakin berbahaya bagi Vina juga nantinya,” jawab Kyai Syuhada.
Â
Kholis terdiam. Mencoba mencerna perkataan Kyai Syuhada tersebut.
Â
“Mulai nanti malam aktifakn keamanan lingkungan pondok. Buat jadwal Ronda bergantian untuk Santri laki laki,” ucap Kyai Syuhada.
Â
Kemudian Kyai Syuhada meninggalkan tempat tersebut, wajah muram nampak pada Kyai Syuhada. Sehingga Kholis tak lagi berani bertanya lebih Lanjut.
“Akan ada apa ya, kenapa Abah Guru tampak sedih. Apakah akan terjadi sesuatu pada Nisa adiknya Jafar?” tanya Kholis dalam hati.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Rekomendasi Novel
Â
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1
Â
Â