
Fatimah justru jadi agak cemas, “kalau kang Tohari dan Farhan kesini pasti ada sesuatu yang disembunyikan suamiku ini.” Kata Fatimah dalam hati.
“Mas pasti menyembunyikan sesuatau lagi ya ?” Tanya Fatimah….!!!
“Menyembunyikan apa ? Gak ada yang kusembunyikan !” Jawab Yasin.
“Gak Pasti mas sembunyikan sesuatu yang tidak diseritakan ke Fatimah.” Sahut Fatimah sambil cemberut.
“Sembunyikan apa coba, kan semua juga Fatimah udah lihat dan dengar sendiri dari kemarin kemarin.” JAwab Yasin berkilah.
“Enggak,,, masih ada yang mas sembunyikan dari Fatimah. Fatimah bisa merasakan itu, kalau mas Yasin sembunyikan sesuatau yang dianggap rahasia.” Jawab Fatimah.
Sebenarnya Yasin hampir mneyerah dan mau menceritakan apa yang dialami Sidiq disekolah, namun Yasin tidak mengingikan Fatimah jadi panik. Yasin agak kesusahan menyembunyikan sesuatu dari Fatimah. Seorang wanita yang mempunyai Naluri yang kuat sebagai seorang ibu dari anak anaknya dan sebagai seorang Istri bagi Yasin.
“Gak ada,,, gak ada hanya Steve dan Ponco kesini mau mencari keberadaan Lady Ninja yang kemarin menyerang kamu. Dan aku mungkin akan mengantarkan dia mencari keberadaan Lady Ninja itu.” Jawab Yasin berbohong.
“Tuh kan,,, Namanya masih merahasiakan sesuatu namanya.” Kenapa gak terus terang saja sih dari awal tadi.” Gerutu Fatimah.
“Aku kan gak mau membuat istriku tercinta jadi panik…!” jawab Yasin menggoda Fatimah untuk mengalihkan pembicaraan.
“Ciye ciyeee… Abi dan Umi pagi pagi sudah rayu merayu, bikin pengen yang muda muda saja nih.” Tiba tiba Isna sudah muncul dari olah raga pagi bersama Utari.
“Abi dan umi gak papa Nia merayu begitu, kan udah halal. Kalau kamu kangan kang Sidiq bilang saja biar nanti di telponkan Abi dan Umi.” Goda Utari pada Isna.
“Yeee ngarang kamu Tari, jangan jangan kamu yang suka sama kang Sidiq ya terus nglempar ke aku.” Balas Isna gak mau kalah.
“Sudah sudah kalian cepat mandi sana, nanti Abi tanyain Sidiq sama Jafar biar pilih kalian berdua.” Kata Yasin menggoda keduanya.
“Isna gak kok bi, Tari aja tuh yang dah ngebet…!” Jawab Isna.
“Diih kok Tari. Kan kamu yang naksir Sidiq hayo ngaku saja…!” Sahut Tari.
“Gak kok, Isna tahu kang Sidiq udah punya pacar namanya Riska teman sekolahnya week…!” ledek Isna ke Tari.
“Wuaduh ada yang patah hati dong jadinya…!?!” balas Tari.
Fatimah tersenyum geli melihat tingkah dua anak didiknya yang lucu lucu itu.
“Buruan pada mandi gih, nanti kesiangan masuk sekolahnya.” Kata Fatimah.
Utari dan Isna pun segera beranjak menuju ke kamar mandi. Kenudian bersiap berangkat sekolah bersama karena keduanya dsekolah di tempat yang sama. Kedekatan Utari dan Isna memang sudah sejak lama. Sehingga keduanya begitu Akrab dan saling bisa mengerti satu dengan lainnya. Meski kadang bercandanya seperti orang yag sedang bertengkar ramainya. Tapi begitulah ekspresi keduanya dalam menunjukkan kepedulian satu sama lain.
Setelah kedua anak didiknya berangkat Yasinn dan Fatimah pun melanjutkan obrolannya yang sempat terpotong sebelumnya karena kehadiran Isna dan Utari.
Obrolan sepasang suami istri yang saling mencintai dan menyayangi, Yasin yang seringkali harus keluar untuk berbagai urusan masih selalu menyempatkan waktu untuk berbicara dengan istrinya. Karena Yasin sadar diusia yang sudah tidak muda lagi, kehangatan rumah tangga sebagai suami istri itu harus diujudkan dengan perhatian perhatian kecil seperti itu. agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga selamanya.
Saat Fatimah pamitan akan membuka warungnya pun Yasin membantu membuka warung dan menata warung bersama Fatimah. Sebelum Yasin bersiap untuk melihat kebun yang ditanami untuk pembibitan Anggur.
“Mas gak ke kebun apa, malah ikut menata Warung ?” Tanya Fatimah.
“Nanti saja, takutnya Steve dan Ponco datang lebih awal. Gak enak kalau mereka datang aku malah di kebun.” Jawab Yasin.
“Kalau begitu Fatimah ke pasar dulu saja menyiapkan hidangan untuk tamu kita nanti.” Kata Fatimah.
Yasin terdiam sejenak, mempertimbangkan lebih aman mana jika Fatimah kepasar sendiri dengan Fatimah sendiri di rumah dia yang ke pasar.
__ADS_1
“Kayaknya aku saja yang ke pasar, kamu dirumah saja. Aku masih khawatir dengan peristiwa kemarin sore. Untung ada Sena kalau tidak aku bisa menyesal seumur hidup kalau kamu kenapa napa.” Kata Yasin.
“Aah lebay banget sih mas, tapi sama saja kan kalau aku dirumah sendirian juga ?” Tanya Fatimah.
“Enggak lah, kalau kamu dirumah kan bisa kunci pintu kalau ada apa apa. Tapi kalau kamu keluar sendiri lebih berbahaya nanti.” Jawab Yasin.
Dalam hati Fatimah kagum dengan Yasin suaminya, yang begitu memperhatikan dirinya sampai ke kemungkinan kemungkinan kecil seperti itu.
“Memang mas gak malu belanja kebutuhan dapur, termasuk belanja sayuran segala ?” Tanya Fatimah.
“Memang belum pernah apa ? Gak ingat waktu dulu kamu dikarantina dirumah saja saat rumah kita di satroni musuh. Kan aku juga yang belanja tiap hari ?” Jawab Yasin.
Fatimah jadi ingat peristiwa dulu, dan juga ingat jika dulu suaminyalah yang selalu belanja ke pasar. Karena Fatimah dan Khotimah yang juga tinggal seatap dilarang keluar rumah. Waktu itu bahkan juga ada Arum ibu kandungnya Sidiq yang juga disatroni musuh musuh suaminya.
“Iya deh, Fatimah bawakan catatan saja biar nanti mas gak bingung pilih belanjaan.” Kata Fatimah.
“Boleh, biar cepat…!” jawab Yasin.
Kemudian Yasin pun segera berangkat ke pasar setelah menerima catatan belanjaan dari Fatimah. Dan saat sampai di pasar Yasin lamat lamat mendengar kabar tentang sebuah Pondok Pesantren yang didatangi oleh orang yang berilmu tinggi dan akan menyusup ke pesantren.
Yasin terpaksa mencari tahu berita itu untuk mengetahui Pasantren mana dan bagaimana kabar selanjutnya.
“Pesantren mana yang di serang orang itu bu ?” Tanya Yasin pada penjual yang membuka cerita tersebut.
“Aduh lupa namanya pakai Huda Huda apa ya tadi ?” Jawab pedagang pasar itu.
“Apa maksud ibu Pondok Pesantren Al-Huda ?” Tanya Yasin memastikan.
“Nah iya Al-Huda, tapi kabarnya Yang nyerang itu seorang wanita pakai topeng dan baju serba Hitam dan bawa pedang.” Kata ibu pedagang itu.
“Ada korban gak bu dalam kejadian itu ?” Tanya Yasin kemudian.
“ibu gak tahu pasti, tapi menurut kabar sih gak ada hanya ada yang sedikit terluka karena melawan orang tersebut.” Jawab ibu pedagang itu.
Yasin sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai rumah dan mencari tahu kabar ke pesantren Al-Huda. Kabar adanya yang sedikit terluka sudah membuat Yasin menjadi sangat khawatir. Siapa yang terluka tersebut, dan Siapa yang melawan Ninja tersebut. dalam Hati kecilnya Yasin memikirkan Jafar dan Nisa yang juga tinggal di Pesantren tersebut.
Yasin pun segera pulang setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk kebutuhan Dapur dan warung istrinya. Dalam perjalanan pulang pun Yasin masih terus memikirkan tentang informasi yang dia dengar tersebut.
Dan sesampai dirumah setelah menyerahkan barang belanjaan kepada Istrinya Yasin segera masuk ke rumah untuk mengambil Ponselnya dan menelpon Pihak Pesantren. Karena Jam sekolah tentu Jafar dan Nisa juga sedang sekolah.
Dan dari keterangan pengurus Pesantren Yasin jadi tahu jika yang melawan Ninja itu dan tergores senjata rahasianya adalah Jafar anaknya. Jafar terluka karena melindungi Nisa adik kesayangan Jafar.
Yasin sedikit merasa lega karena dengar Jafar dan Nisa tidak kenapa napa hanya Jafar mengalami luka kecil di lengan yang terserempet senjata rahasia Ninja tersebut. Dan Pihak Pesantren ( Pengurus ) Belum tahu motif dari penyerang tersebut. Meski belum melapor ke Polisi juga, karena masih menunggu persetujuan dari Kyai Syuhada mau dilaporkan atau tidaknya.
“Habis telpon siapa mas, pulang dari pasar kok langsung masuk rumah gak bilang apapun ?” Tanya Fatimah yang sudah berada di belakang Yasin.
Yasin pun menceritakan berita yang dia dapat dari pasar tadi kemudian mencari Informasi ke pihak Pesantren Al-Huda. Tanpa menyebut Jafar dan Nisa, apa lagi menceritakan jika Jafar lah yang mengusir Ninja tersebut.
“Terus dari pihak pesantren bilang apa ? Anak anak kita bagaimana ?” Tanya Fatimah sifat gampang paniknya muncul.
“Tadi pengurus bilang gak ada korban, perusuh tersebut bisa diusir oleh anak anak Santri.” Jawab Yasin.
“Syukurlah, siapa juga yang berani menyerang Pasantren tersebut. Dan apa tujuannya menyerang Pesantren ?”
Ucap Fatimah.
__ADS_1
“Kalau itu masih dalam penyelidikan juga, coba nantikan jadwalku melatih anak anak disana. Aku akan
cari informasi lebih lanjut. Dan sementara kamu dan anak anak nanti jangan keluar rumah dulu. Kunci pintu jika perlu, warung tutup awal saja jika aku gak dirumah.” Kata Yasin.
“Lah Katanya mas nanti janjian sama Steve dan Ponco ?” Jawab Fatimah.
“Iya sih, mungkin malah ku ajak sekalian nanti ke pesantren” Jawab Yasin.
“Tapi Steve kan non Muslim mas apa dia mau nanti dan apa gak jadi masalah ?” Tanya Fatimah.
“Kayaknya Steve gak masalah kuajak ke pesantren. Dan dari pihak Pesantren juga gak ada masalah, tamu pesantren tidak harus Muslim kok. Bahkan pemuka agama lain juga sering datang ke pesantren.” Jawab Yasin.
“Masak sih, terus apa yang mereka bicarakan kalau di pesantren mas jika beda keyakinan ?” Tanya Fatimah.
“Ya bicara tentang kemanusiaan lah, tentang membangun dan mensejahterakan umat atau hal yang lain. Yang jelas tidak pernah membicarakan soal keyakinan, karena jelas berbeda keyakinan dan saling menghargai dan menghormati keyakinan masing masing saja.” Jawab Yasin.
“Owh begitu ya, kalau semua bisa begitu pasti hidup ini bisa damai hidup berdampingan meski berbagai macam perbedaan budaya, suku bahkan Agama.” Ucap Fatimah.
“Memang seharusnya begitu, itu juga yang dulu diperjuangkan Hadrotus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari. Yang menyarankan menghapus usulan tambahan sila pertama dengan di tambahi berdasarkan Syariat Islam. Karena beliau tahu di Negara kita tidak semua muslim dan semua juga dulunya ikut berjuang merebut kemerdekaan.” Jawab Yasin.
Obrolan mereka terhenti dengan kedatangan Steve dan Ponco.
“Assalaamu ‘alaikum….!” Salam Ponco yang sudah sampai di depan rumah Yasin.
“Wa’alaikummussalaam… Selamat datang saudara saudaraku terimakasih sudah menyempatkan waktu datang ke rumah ini lagi. maaf aku malah belum sempat berkunjung kesana.” Ucap Yasin.
Steve dan Ponco pun segera dipersilahkan duduk oleh Yasin. Dan sambil menunggu Fatimah menyiapkan sajian minuman dan hidangan lain Yasin mengajak Ngobrol Steve dan Ponco setelah menanyakan kabar masing masing. Sampai denga kedatangan Fatimah yang menyediakan minuman dan Hidangan makanan kecil.
“Silahkan di minum dulu, maaf saya tinggal jaga warung dulu.” Ucap Fatimah.
“Iya bu, silahkan Terimakasih hidangannya.” Sahut Steve Hansaimura.
“Bagaimana Saudara Zain, langsung saja dengan permasalahan munculnya Lady Ninja yang kemungkinan adalah sisa anak buah Yukimoto.” Tanya Steve setelah Fatimah pergi.
“Sudah sampai pada Tindakan terror yang membahayakan, terakhir semalam menyerang Pondok Pesantren anak keduaku. Untuk tidak sampai menelan Korban.” Jawab Yasin.
“Lantas apa yang saudara Zain harapkan dari kami, terutama saya Pribadi ?” Tanya Steve.
“Aku hanya ingin dibantu bicara dengan Lady Ninja tersebut. Agar dia tidak salah paham mengira jika akulah yang
meneybabakan Yukimoto dan lainya bunuh diri.” Jawab Yasin.
Steve terdiam Sesaat, Nampak ada semacam keraguan diwajah Steve tersebut.
“Sebenarnya Klan Yukimoto
dengan Klan saya itu musuh bebuyutan. Takutnya sisa anak Buah Yukimoto itu tahu
siapa diriku sehingga tidak mungkin untuk menjadi mediator bagi kalian.” Jawab steve.
Yasin jadi bingung, satu sisi memahami Steve yang juga berdarah Ninjutsu tapi di sisi lain Yasin sebenarnya enggan bertempur dengan Wanita meskipun dia seorang Ninja sekalipun. Tapi jika
tidak turun tangan juga mengkhawatirkan anak anaknya, terllebih kepada Nisa anak Gadisnya yang punya sifat justru mirip Sidiq…!?!”
Bersambung...
__ADS_1