
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Gagak Seta Tewas di tangan Kholis...
“Kalau begitu, kita hancurkan saja pohon ini sekalian,” kata Jafar.
Kemudian keduanya bersiap untuk menghancurkan pohon tersebut agar sosok Dalang Anyi Anyi muncul. Sementara Nisa berada di belakang Sidiq dan Jafar untuk berlindung.
Sidiq dan Jafar bersiap untuk menyerang Dalang Anyi anyi yang diduga sembunyi di dalam pohon. Sementara Nisa berdebar debar menunggu apa yang akan terjadi.
Namun tiba tiba Dalang Anyi Anyi muncul dari arah yang berbeda, dan bersiap menyerang Sidiq dan Jafar. Nisa yang mengetahui hal tersebut, tanpa pikir panjang justru menyambut serangan Dalang Anyi Anyi tersebut. Â
“Nisa, jangan…!” teriak Yasin, sambil melompat mau melindungi Nisa.
Namun yang terjadi diluar dugaan Yasin, Dalang Anyi Anyi yang terpental sebelum menyentuh Nisa. Nisa sendiri tidak tau kenapa Dalang Anyi Anyi terpental sebelum menyentuh dirinya.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…jika memang Begawan tega menyerangku. Aku juga akan tega menyerang cicit Begawan, Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…” kata Dalang Anyi Anyi.
“Nisa, kamu gapapa Nak?” tanya Yasin, di tengah riuhnya pertempuran yang semakin meluas.
Saat itu semua sudah terlibat pertempuran, karena Dalang Anyi Anyi sudah mengerahkan semua Khodam anak buahnya ditambah mengendalikan anak buah Ki Ajar Panggiring bahkan Farayaka. Suasana di tempat itu benar benar semakin memanas.
“Tidak apa apa Yah,” jawab Nisa.
“Tapi saat ini Raja Jin tersebut sudah mau menyerang kamu Nisa. Sebaiknya kamu menyingkir sekarang juga,” ucap Sidiq.
“Iya Nisa, biar kali ini aku dan Mas Sidiq yang menyelesaikan pertempuran,” sahut Jafar.
“Tidak Mas, kata Abah Guru aku harus ada diantara kalian,” jawab Nisa.
“Kenapa begitu Nisa?” tanya Yasin.
Belum sempat Nisa menjawab Dalang Anyi Anyi sudah bersiap melancarkan serangan kembali.
“Ayah, Nisa diajak minggir dulu saja,” kata Sidiq.
Yasin pun segera membawa Nisa menepi di tengah pertempuran yang terjadi. Sehingga Sidiq dan Jafar kembali berjibaku dengan Dalang Anyi Anyi.
*****
“Nisa, sebenarnya apa pesan Abah gurumu?” tanya Yasin.
“Abah Guru bilang, jika Makhluk itu dulunya adalah Khodam Eyang Begawan Sanjaya. Dan Nisa memiliki tanda keturunan Eyang Begawan Sanjaya, berupa tahi lalat di tumit Nisa ini Yah,” kata Nisa.
“Lalu apa hubungannya dengan pertempuran ini?” tanya Yasin kembali.
“Menurut Abah Guru, Makhluk itu tidak akan mampu melawan orang yang punya tanda seperti ini Yah,” jawab Nisa.
Yasin berpikir sejenak, mencoba mengurai apa makna dari tanda lahir Nisa dan hubungannya dengan Eyang Begawan Sanjaya.
“Apa Abah Gurumu bilang kalau Eyang begawan Sanjaya dulu punya tanda lahir seperti punya Nisa juga,” kata Yasin.
“Iya Yah, Abah Guru bilang begitu,” jawab Nisa.
__ADS_1
“Kalau begitu, mungkin kaki kamu lah yang menjadi pengapesan ( Kelemahan) Jin itu. Kamu harus bisa menyerang Jin itu dengan Tumit kamu yang ada tanda tahi lalat tersebut,” ucap Yasin
“Jadi Nisa harus menendang dengan tumit Nisa, Yah?” tanya Nisa.
“Maafkan Ayah, Ayah gak terlalu yakin. Tapi perlu dicoba, Ayah sendiri tak bisa berbuat banyak saat ini,” kata Yasin.
Nisa pun akhirnya kembali mendekat ke pertempuran Sidiq dan Jafar melawan Dalang Anyi Anyi.
Di tempat lain Gagak Seta yang mengejar Jaladara di hadang oleh Kholis dan Ihsan. Sementara Jaladara berada berada di belakang Kholis dan Ihsan.
“Minggir kalian semua, ini urusan pribadi kami,” bentak Gagak Seta.
“Tidak bisa, Paman Jaladara sudah menjadi bagian keluarga kami,” jawab Kholis.
“Persetan dengan ucapanmu, kalau tak mau menyingkir akan kalian rasakan Ilmu Karang dariku,” ucap Gagak Seta.
Kholis da Ihsan sempat grogi mendengar nama Ilmu Karang. Namun Jaladara berbisik, “Tidak usah takut, Ilmu karangnya sudah melemah, karena punggungnya kamu lukai,” bisik Jaladara.
“Bagaimana, mau menyingkir atau tidak,” teriak Gagak Seta.
“Sepertinya kamu tidak akan mampu mengeluarkan ilmu karang karena terluka,” jawab Kholis.
“Bagus, usahakan agar Punggung kirinya kembali kamu lukai. Tapi saat aku sudah pergi, aku tidak akan tega melihatnya kesakitan nanti,” kata Jaladara berbisik.
Kholis hanya mengangguk saja, kemudian Ihsan yang kemudian nimbrung pembicaraan dengan Gagak seta.
“Paman Gagak seta, sebaiknya paman ikuti langkah Paman Jaladara saja. Kalian kan Kakak beradik, kenapa harus bermusuhan,” kata Ihsan.
“Diam kau…!” bentak Gagak Seta.
Gagak seta pun langsung menyerang Kholis dan Ihsan, tanpa banyak membuang waktu. Kholis dan Ihsan pun segera melawan Gagak Seta dengan menggunakan jurus suci Hijaiyah ajaran Yasin. Gagak Seta yang sedang terluka agak kerepotan melawan dua orang, Kholis dan Ihsan. Namun dengan tekad yang sudah bulat Gagak seta tetap berusaha mengalahkan Kholis dan Ihsan, agar segera bisa memburu Jaladara.
“Kurang Ajar kalian, jangan senang dulu, Aku memang tidak bisa menggunakan Ilmu Karang, tapi aku masih punya Kundalini untuk menghabisi kalian,” kata Gagak Seta.
Jaladara langsung berteriak, “Jangan biarkan dia sampai duduk bersila, kalian harus segera lakukan yang aku bilang tadi. Sekarang sudah waktunya aku pergi,” kata Jaladara langsung meninggalkan lokasi pertempuran.
Kholis dan Ihsan segera menyerang kembali Gagak Seta, agar tidak sempat bermeditasi menggunakan Kundalininya. Kundalini adalah ajian atau sering disebut Chakra yang sumber kekuatannya dari tulang ekor manusia. Yang dialirkan naik ke atas tubuh manusia dan menyebar ke seluruh tubuh. Namun Gagak Seta tak punya waktu untuk melakukan meditasi.
Kholis dan Ihsan bertempur saling bergantian menyerang Gagak Seta. Sehingga Gagak Seta sama sekali tidak dapat berdiam diri sebentar sekalipun. Kemudian Kholis memberi isyarat pada Ihsan untuk menggempur Gagak Seta beruntun. Kholis mencari kesempatan untuk melukai punggung Gagak Seta lagi, sesuai pesan Jaladara.
“Rupanya cukup aku seorang yang melawan mu saat ini. Agar kamu tidak kerepotan, biar kawanku cari lawan yang lain saja,” ucap Ihsan memancing Gagak seta agar fokus melawan dirinya.
Gagak Seta pun sangat marah, sehingga emosinya makin tidak terkontrol. Dengan sekuat tenaga Gagak Seta menggempur Ihsan. Ihsan pun posisinya jadi terdesak, ketika hanya sendirian melawan Gagak Seta. Namun memang seperti itulah rencana yang dibuat Kholis.
Saat Gagak Seta mendesak Ihsan dan berniat menghabisi Ihsan, di saat itulah Kholis melompat dan menancapkan sebuah belati ke punggung Gagak Seta. Gagak Seta pun menjerit kencang, dan akhirnya terjatuh tak bisa bangkit lagi.
Mulutnya seakan hendak mengucap sesuatu, namun tak mampu mengeluarkan suara.
“Bagimana ini, sepertinya dia hendak menyampaikan sesuatu,” kata Kholis.
“Baik lah Kang, aku akan cari paman Jaladara sekarang,” kata Ihsan.
Namun belum sempat Ihsan melangkah, Jaladara sudah berdiri di tempat tersebut. Tampak air mata Jaladara pun menetes, melihat kondisi kakaknya yang sedang berjuang melawan maut.
“Maaf Paman, terpaksa kami harus melakukan itu,” kata Kholis.
Jaladara tidak menjawab, hanya mengangguk kemudian duduk di samping Gagak Seta kakaknya.
“Maaf Kakang Gagak seta, Kakang melanggar sumpah leluhur kita. Aku terpaksa melawan Kakang, apa permintaan terakhir Kakang?” kata Jaladara.
Gagak Seta pun berusaha untuk dapat mengeluarkan suara, memberi pesan terakhir kepada Jaladara.
__ADS_1
“Aku pilih jalanku sendiri…aku hargai pilihan jalanmu,” kata kata Gagak Seta tersendat sendat.
“Apa yang akan Kakang sampaikan?” ucap Jaladara dengan air mata yang semakin tidak terbendung.
“Kamu bantu anak gadis Yasin, bukankah kamu juga punya darah Begawan Sanjaya. Jangan tanggung jika menempuh jalan,” ucap Gagak Seta semakin melemah.
“Apa lagi Kakang?” tanya Jaladara.
“Kelemahan Dalang Anyi Anyi ada di pusarnya, aku ingin dikremasi di sini nanti usai pertempuran…!” ucapan Gagak Seta yang merupakan ucapan terakhirnya. Karena Gagak Seta sudah menghembuskan Nafas terakhirnya.
*****
Sidiq dan Jafar yang sudah dibantu Nisa kembali masih kesulitan mengalahkan Dalang Anyi Anyi. Bahkan Sidiq dan Jafar beberapa kali terdesak, karena stamina mereka sudah sedikit menurun.
“Mas, kalau begini terus Mas Sidiq dan Mas Jafar akan kehabisan tenaga. Biar Nisa yang coba lawan makhluk itu,” kata Nisa.
“Bagaimana cara kamu?” bisik Sidiq.
“Beri kesempatan Nisa untuk menyerang Makhluk itu sendirian,” jawab Nisa.
“Aku yang tidak akan tega Nisa,” kata Jafar.
Saat mereka sedang berunding kembali Dalang Anyi Anyi menyerang mereka, Dan saat itu juga Tohari kembali muncul, setelah mengalahkan makhluk astral yang ada. Kemudian Tohari berteriak, kepada Yasin dan Sena.
“Yasin Kumandangkan Adzan, cari tujuh orang. Agar awan hitam bisa menghilang, jika tidak kekuatan makhluk itu tidak akan berkurang.
Yasin dan Sena segera mencari Ihsan dan Kholis, untuk mencari orang tambahan agar mencapai tujuh orang. Namun ditambah Tohari pun baru lima orang, Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin belum menampakkan diri.
“Baru terkumpul Lima orang dengan Kang Tohari,” kat Yasin.
“Aku datang, kita berpencar di tujuh titik mengepung Dalang Anyi Anyi untuk mengumandangkan Adzan bersama,” ucap Kyai Syuhada yang datang bersama Kyai Nurudin.
Keduanya pun baru saja menyelesaikan pertempuran dengan musuh musuhnya. Pasukan Farayaka juga sudah mulai sadar, namun mereka dipersilahkan untuk istirahat. Tubuh yang dirasuki Jin memang akan merasakan capek setelah sadar.
Kemudian mereka berpencar, mengepung Dalang Anyi Anyi untuk mengumandangkan Adzan bersama tujuh orang tersebut.
Sementara Yasin semakin khawatir, karena Sidiq dan Jafar sudah semakin kehilangan Stamina. Bahkan keduanya terpukul hingga Jatuh bersama. Sementara Nisa melihat kedua Kakaknya Jatuh, tanpa pikir panjang melompat menyerang Dalang Anyi Anyi dengan sekuat tenaganya.
Di saat Yang Sama Dalang Anyi Anyi pun mengerahkan seluruh tenaga hendak menghabisi Sidiq dan Jafar yang sudah terjatuh. Sehingga yang terjadi kemudian meluncur Nisa dan dalang Anyi Anyi yang sudah siap untuk saling menggempur.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1