Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Riska minta Sidiq kenalkan keluarganya


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


"Dia gak terima kemarin mas pukul, dan Riska dengar dia mau mencari orang buat balas dendam pada mas Sidiq. Dan orang yang akan disuruh itu orangnya serupa dengan Jalu juga mas.” Kata Riska.


Aku jadi semakin berpikir, kenapa dari masalah kecil bisa membesar seperti ini. dan apakah masih akan ada kelanjutan pertempuran berikutnya lagi,Pikirku…!!!


Aku jadi ingat saat masih kecil dulu, betapa ayahku selalu menghadapi musuh saat Jafar adikku masih dalam kandungan hingga sudah terlahir. Bahkan rasanya belum lama ayahku menghadapi musuh dari sisa sisa musuh ayah yang dahulu. Tapi yang paling berkesan bagiku ketika Ayah sampai terluka lama hingga jalanya jadi pincang.


Saat ini keturunan dari musuh Ayah juga masih akan membalaskan dendam mereka. Sudah saatnya Aku dan Jafar adikku yang sekarang harus turun tangan. Biarlah ayah bunda hidup tenang menikmati masa tuanya, tidak perlu lagi turun tangan dalam hal seperti ini, batinku.


“Mas Sidiq melamunkan apa ?” Tanya Riska mengejutkan aku.


“Owh gak kok, ini aku jadi ingat ayahku dulu saat berjuang menghadapi musuh musuhnya.. dan jujur Jalu yang kamu bilang itu kemungkinan adalah Sawung Panjalu anak dari musuh ayahku dulu yang mau balas dendam ke ayahku.” Jawabku.


Riska mendengarkan penjelasanku dan agak kaget ketika aku mengatakan kemungkinan Jalu adalah anak dari musuh ayahku.


“Riska jadi makin penasaran dengan keluarga kamu mas, mau dong Riska dikenalkan dengan keluarga kamu.” Kata Riska malah membuat aku jadi semakin bingung. “apakah wanita memang seperti ini,  sudah aku kasih tahu jika aku belum boleh punya pacar malah minta dikenalkan keluarga segala. Bagaimana mungkin itu aku lakukan.” Kataku dalam hati.


“Belum bisa sekarang dong Ris, bisa bisa aku diomelin ayah bunda kalau tahu aku punya pacar.” Jawabku.


“Kan kita juga gak pernah berbuat yang melanggar mas, gak papa kali zaman sekarang kayaknya biasa orang punya pacar. Meski Riska juga tahu kalau harus menjaga diri agar tidak kelewat batas.” Jawab Riska.


“Tapi masalahnya batasannya itu yang semu Ris !” jawabku.


“Maksutnya batasan semu bagaimana mas ?” tanya Riska.


Aku memahami jika Riska bertanya begitu, namun agak sulit bagiku menjelaskan. Karena dalam islam memang tidak ada istilah pacaran, yang ada adalah ta'aruf atau mengenal sebelum nikah. Itu yang aku pelajari, jadi kalau bicara batasan pacaran batasan yang seperti apa ? Karena beda orang akan beda dalam membuat batasan.


“Karena memang tidak ada istilah Pacaran dalam agama Ris, jadi otomatis gak ada keterangan batasan orang pacaran itu sampai mana.” Jawabku.


“Lah terus kalau orang saling mencintai apa gak boleh mas ?” tanya Riska.


“Ya tentu saja boleh, hanya saja cukup saling cinta dan tetap menjaga norma sebagai lawan jenis yang bukan mahramnya.” Jawabku.


“Owh begitu, tapi yang bener itu mahram atau muhrim sih mas ?” tanya Riska.


“Kalau yang benar Mahram yang artinya orang yang haram dinikahi kalau muhrim itu sebenarnya artinya orang yang berpakaian Ihram. Tapi memang sudah jadi istilah dalam bahasa kita sering disebut muhrim, gak papalah maksudnya tetap mahram.” Aku menjelaskan pada Riska.


“Jadi begitu ya, Riska sendiri tahunya muhrim juga. Untung kenal mas Sidiq jadi tahu yang benar bagaimana.” Ucap Riska sambil senyum membuat aku jadi agak gemetar.


“Kamu juga bisa kok belajar Ris nanti, agar lebih memahami agama.” Aku mencoba memancing agar Riska mau lebih mendalami agama.


“Pengen sih mas, tapi Riska malu dan bingung mau belajar sama siapa ?” tanya Riska.


“Kalau mau kan bisa cari tempat tempat majlis Ta'lim yang mengajarkan ilmu ilmu agama Ris.” Kataku.


“Iya deh, nanti Riska coba cari mas. Tapi ini kok sepi memang bos nya mas Sidiq kemana ?” tanya Riska.


“Baru keluar kota jenguk saudara, mungkin pulangnya juga besok.” Jawabku.


“Kok diam saja, kamu menyembunyikan sesuatu ?” tanyaku.


“Riska malu mau ngomong mas, takut juga nanti mas Sidiq berpikir yang gak gak.” Jawab Riska.


“Bilang saja, kalau kamu gak bilang mana aku ngerti apa yang ada di benakmu Ris.” Kataku.


“Apa mas Sidiq mau janji gak akan marah ?” tanya Riska.


“Memangnya kamu mau bilang apa ?” tanyaku lagi.


Riska jadi terdiam lagi, kayaknya berat banget mau menyampaikan sesuatu. Kemudian Riska menghela nafas beberapa kali untuk mengumpulkan keberanian bicara.


“Riska gak tahu mau mulai dari mana bicara, tapi Riska jadi pengen bertemu Adik adik mas. Gak tahu kenapa tiba tiba Riska punya keinginan seperti itu.” kata Riska.


Giliranku yang jadi terdiam, bingung harus bicara apa. Sementara aku melihat Riska tampak jujur dalam bicara. Mungkin juga karena penasaran dengan adik adikku setelah mendengar cerita dari Nadhiroh teman satu pesantren Jafar tadi.


“Kok bisa kamu jadi punya pemikiran atau keinginan seperti itu ?” tanyaku pada Riska.


“Gak tahu mas, Riska juga sadar diri sebenarnya kalau Riska belum jadi apa apanya mas Sidiq. Tapi rasa ingin tahu Riska terlalu besar, ini salah Riska mungkin.” Kata Riska tertunduk sedih.


Aku jadi tidak tega melihat Riska yang mendadak sedih seperti itu. Tapi aku juga bingung harus bagaimana.


“Terus maunya Riska bagaimana ?” tanyaku, mencoba memahami keinginan Riska. Entah kenapa semakin hari aku juga semakin merasa sayang dengan Riska, Terutama semenjak menolong Riska saat terkena siraman air cabai kemarin. Bayangan wajah Riska pun setiap saat selalu menghantui pikiranku. Wajah dan senyum manisnya begitu mempesona aku, ditambah dengan kesederhanaan dia meski anak seorang Lurah yang terpandang di Desanya.


“Temuin Riska dengan adik adik mas Sidiq dong, Kenalin Riska sebagai teman juga gak papa kalau gak berani mengakui Riska sebagai pacar mas Sidiq.” Ucap Riska membuat aku semakin iba kepadanya.


 Bahkan aku jadi berpikir jika memang aku menyukai Riska dan sudah saling membuat komitmen kenapa harus aku tutup tutupi. Seandainya ayah, bunda ataupun mamah Arum marah itu adalah resiko Sidiq. Kasihan juga Riska kalau jadi pacarku tapi aku sembunyi sembunyi mengakui dia jadi pacarku. Mungkin juga dia merasa sedikit sakit hati, batinku.


“Bagaimana ya caranya mempertemukan kamu dengan adik adikku, kan mereka juga tinggal di pesantren. Masak kamu ku ajak kesana ?” ucapku pada Riska.


“Jauh gak sih mas pesantren adik adik kamu itu ?” tanya Riska.


“Gak terlalu jauh sih, tapi juga gak deket.” Jawabku.


Gimana kalau besok ajak mereka bertemu di suatu tempat mas. Kita temui mereka, Riska pengen banget kenal adik adik kamu.” Kata Riska.

__ADS_1


Obrolan kami berhenti sejenak karena ada pembeli yang datang.


“Mas mau servis HP, ini tidak bisa di buka sama sekali. Kira kira apanya yam as, sama biayanya mahal gak ?” tanya orang tersebut.


“Coba saya lihat dulu mas.” Jawabku.


Aku mencoba membuka beberapa aplikasi yang ada, tapi semua tidak ada respon.


“Mungkin ini memorinya terlalu penuh atau bisa jadi juga karena kena virus dan kemungkinan terburuknya touchscreennya yang harus ganti mas.” Jawabku.


“Terus biayanya berapa mas ?” tanya orang tersebut.


“Kemungkinan terburuk jika ganti touchscreen sekitar empat ratus ribu mas. Soalnya harus ganti Touchscreen nya. Kalau gak ganti memang gak sampai dua ratus ribu, tergantung kerusakanya nanti mas.” Jawabku.


“Lama tidak mas ?” tanya orang tersebut.


“Paling cepat dua hari paling lama lima hari mas, nanti soal kerusakannya apa dan arus ganti sparepart apa serta biayanya saya kabari sebelum kita ganti sebagai persetujuan.” Jawabku.


“Berarti harus ditinggal dulu HP nya ?” tanya orang itu.


“Ya harus mas, karena masih banyak juga servis yang haru segera selesai.” Jawabku.


“Gak papa deh, saya tinggal dulu. Nanti kabari nya ke nomor ini saja.” Kata orang itu memberikan no kontak person.


“Baik, nanti saya hubungi sekiranya dirasa mahal tidak jadi servis gak papa asal belum ganti sparepart nya.” Kataku.


Kemudian setelah orang itu pergi aku mencoba menyambungkan HP itu  dengan layar komputer melalui kabel data. Dan tanpa sengaja aku membuka chat percakapan setelah aku mencoba masuk melalui layar monitor Prosesor komputer toko.


Dan ada sebuah percakapan yang menyebut nyebut nama Jafar, tapi aku agak ragu itu Jafar adikku atau Jafar yang lain. Aku jadi kepo, sehingga aku membuka seluruh percakapan yang menyebut nama Jafar tadi.


Aku jadi kaget, karena nama Jafar yang disebut memang nama Jafar adikku. Dan disitu orang itu merencanakan akan mencelakai Jafar adikku. Karena dianggap merebut cewek yang disukai seseorang.


“Kenapa mask ok tegang begitu ?” Riska menegurku dan mengagetkan aku.


“Owh gak kok, hanya merasa aneh dengan kerusakan HP ini saja. Mungkin ini kasus baru yang belum pernah aku temui, jadi besok saja aku lanjutkan.” Jawabku berbohong.


“Kenapa gak di lanjutkan saja mas, gak papa Riska nungguin. Riska juga sendirian dirumah jadi bosen, mending ikut nongkrong disini.” Jawab Riska.


Ayah ibunya memang sibuk banget dengan urusan kemasyarakatan, sehingga Riska yang anak tunggal itu pun sering kali ditinggal sendirian di rumahnya.


“Gak ah, aku juga lagi gak mood nih, tiba tiba hilang konsentrasi. Kalau udah gini diterusin bukanya HP jadi bener malah bisa makin parah. Kita keluar yuk cari makan saja, kamu bawa motor kan ?” tanyaku.


Riska agak kaget aku bilang seperti itu, karena ini kali pertama aku mengajak Riska jalan berdua dengan motornya. Aku sendiri juga heran tiba tiba saja punya ide seperti itu, meski sekedar membuang rasa kesal membuka chat yang membicarakan Jafar adikku tadi.


Bahkan aku juga heran, apa benar Jafar adikku sudah punya pacar juga. Anak seperti Jafar yang pendiam dan gak pernah macem macem begitu masak sudah pacaran. Terus siapa pacarnya, kenapa memilih orang yang sudah punya pacar.


Aah gak, gak mungkin Jafar adikku seperti itu, pasti ini hanya salah paham saja. Sayangnya aku gak sempat tanya nama orang itu tadi, sekedar mencatat no Kontak Person untuk konfirmasi biaya servis saja. Tapi dari situ mungkin aku bisa tanya nama dia, pikirku.


Aku yang memang  sedang banyak problem pun tidak mau ambil pusing.


“Yakin, kita kan sekedar makan saja sambil cari suasana lain, kayaknya aku butuh refreshing hari ini.” Jawabku.


Riska justru tersenyum gembira mendengar itu, aku paham sebagai gadis yang statusnya sudah punya pacar pasti Riska juga ingin sekali sekali jalan bareng denganku.


“Sungguh…? Kalau yakin Riska ajak ke warung makan yang enak yuk, gak jauh dari sini kok.” Kata Riska.


“Terserah Riska saja mau kemana, aku hanya ingin cari suasana yang santai biar pikiran gak kalut.” Jawabku.


Kemudian aku menutup toko dulu sebelum mengajak Riska jalan. Dan aku mulai menghidupkan motor Riska serta menjalankan motor bersama Riska.


“Boleh pegangan gak nih mas Sidiq.” Tanya Riska.


“Boleh, tapi gak pegangan juga gak papa aku gak akan ngebut kok.” Jawabku.


Kamipun berboncengan dengan motor Riska mencari warung yang dimaksud Riska. Ternyata Riska mengajak aku ke sebuah warung penyetan, yang menjajakan lele dan berbagai macam menu lainya.


Aku yang sekedar cari suasana lain gak begitu mempermasalahkan soal menu, aku minta Riska saja yang memesan menu makanan yang sama.


Tiba tiba ada orang yang nyeletuk.


“Hari gini, masih ada cowok yang jajan di bayarin cewek berangkat pun pakai motor ceweknya.” Kata seorang pengunjung warung itu juga. Aku hampir membalas omongannya, tapi Riska mencegahku dengan memegang tanganku member isyarat agar aku diam.


Coba gak sama Riska, sudah kusumpal mulut orang itu, pikirku.


“Percuma diomongin, ternyata orangnya budek sia sia saja kamu ngomong.” Kata orang yang di sebelahnya.


“owh ternyata berdua, pantas omongan nya gak enak banget di dengar.” Batinku masih tetap diam.


“Ris, cari cowok yang bener kenapa malah cowok budek saja kamu mau. Mending juga sama aku, ngapain malah pilih dia ?” kata orang pertama tadi, yang rupanya mengenal Riska juga.  Aah bodo amat lah, mungkin tetangga Riska kalau aku layani malah bisa jadi masalah nanti, batinku.


“Bukan urusan kamu, yang jalani Riska bukan kamu.” Tiba tiba justru Riska yang menjawab.


“Siapa dia Ris ?” tanyaku pela ke Riska.


“Anak kampung sebelah, dia pernah ngejar ngejar Riska tapi Riska gak mau.” Jawab Riska.


Aku hanya diam, selama tidak menyentuh Riska biarin sajalah. Aku lebih konsen ke Jalu saja, sama satu orang lagi yang akan disewa Herman untuk balas dendam denganku.


“Kan mending juga jalan sama aku Ris, dari pada kamu piara dia makan saja kamu yang bayar nanti. Kelihatan kesini saja pakai motor kamu. Dia kan hanya pecundang yang manfaatin kamu Ris.” Ucap orang itu, membuat emosiku sudah sampai ke ubun ubun mendengarnya.


“Hari gini ada cowok ditolak cewek terus melampiaskan kekesalan ke orang lain, pecundang…!” sahutku.


Riska jadi kaget karena aku sudah tidak bisa menahan diri lagi, jelas Riska Nampak khawatir.

__ADS_1


“Bungku saja mas, kita bawa pulang saja.” Kata Riska Nampak ketakutan.


“Iya, aku juga kehilangan selera makan disini ada pecundang begitu.” Jawabku.


“Kampret lo, belum tahu saja siapa gue lo.” Kata orang yang suka dengan Riska tersebut.


“Gak penting juga tahu siapa kamu, gak ada untungnya kenal sama pecundang.” Jawabku dengan tak kalah galak.


“Ris ajarin cowok kamu sopan santun atau aku hajar di depan kamu sekarang juga.” Ucap orang itu.


“Maaf mas, jangan ribut di warung nanti yang mau beli pada takut.” Ucap penjualnya.


“Iya mas, bungkus saja dari pada kami ribut disini nanti kalau makan di sini.” Kataku.


Penjual itu pun memberikan pesanan yang kami minta, kemudian aku dan Riska segera meninggalkan tempat itu.


“Untung saja tadi gak sampai ribut mas, terus mau dimakan dimana ini ?” tanya Riska.


“Kita ke taman saja yuk, kan banyak orang disana jadi gak ditemani setan.” Guraku sambil setir motor.


Dan tibalah kami di sebuah taman di dekat sebuah lapangan Golf di kawasan lereng merapi. Aku dan Riska menikmati makan sambil melanjutkan obrolan tentang orang yang akan disewa Herman tadi. Aku belum berani membicarakan soal adik adikku, karena Riska belum tahu jika Jafar dan Nisa adalah adik satu ayah beda ibu. Aku takut  Riska jadi kaget dan mendadak ilfil padaku.


“Kamu tau gak siapa nama orang yang akan di suruh Herman untuk balas dendam denganku ?” tanyaku pada Riska.


“Belum tahu namanya, tapi katanya orang itu juga sepantaran Jalu. Dan punya ilmu kesaktian juga, katanya dia gak mempan senjata tajam.” Kata Riska.


“Aah itu kan baru katanya, kadang orang hanya melebih lebihkan cerita saja.” Jawabku.


“Ya kan tetap saja khawatir mas, bisa jadi kan memang itu benar. Kan bahaya mas kalau seperti itu, bisa jadi mas yang bakal celaka kalau lawan dia nanti.” Jawab Riska.


Aku jadi ingat, cerita Bunda Fatimah dan mamah Arum kalau ayah juga pernah melawan orang yang kebal senjata tajam. Tapi bisa mengalahkan sampai tulang sikunya remuk. Artinya orang kebal senjata tajam tetap bisa dikalahkan juga, meskipun kulit dan dagingnya tidak terluka. Aku harus bisa meniru siasat ayah, jika memang harus berhadapan dengan orang yang kebal senjata nanti, pikirku.


“Kalau waspada itu harus Ris, tapi gak boleh berkecil hati.” Jawabku.


Riska hanya terdiam dan kami hanya saling bertatapan saling memandangi wajah. Dan Riska kemudian tersenyum.


“Mas Sidiq ngapain lihat Riska begitu ?” tanya Riska.


“kamu juga ngapain lihat aku begitu .” Jawabku.


Kami pun bersenda gurau menikmati suasana, sambil menunggu waktu pulang ke pesantren. Hari itu aku manfaatkan untuk mencari hiburan bersama Riska. Selagi bos juga keluar kota, soal servis besok bisa aku lanjutkan lagi, pikirku.


Namu di tengah kami sedang asyik ngobrol, datang pengacau yang tadi bertemu di warung penyetan.


“Wah datang pengacau lagi Ris, ayo kita pulang saja sekarang.” Ajakku pada Riska.


Dan tanpa menjawab Riska pun langsung mengikuti aku  menuju ke tempat kami memarkir motor.


“Heu tunggu pengecut…!” teriak salah seorang di antaranya.


Namun aku dan Riska tetap berjalan tidak mau menanggapi orang tersebut. dan orang itu malah semakin melajukan motornya semakin cepat menyusul aku yang masih berjalan kaki. Dan langsung menghentikan motornya tepat di depan aku dan Riska.


“Wah gak bisa dihindari lagi nih, kayaknya memang harus menggunakan kontak fisik.” Batinku.


Namun mengingat Riska yang harus aku lindungi, aku gak akan memperlama urusan ini. jika dua orang tersebut memang mau ngajak ribut. Aku harus dengan cepat melumpuhkan mereka, aku gak mau kejadian sama seperti saat dengan Ari kemarin terulang lagi pada Riska.


“Apa sih mau kalian sebenarnya ?” tanyaku pada dua orang tersebut.


“Mau menghajar kamu, memangnya mau apa lagi kalau tidak menghajar kamu yang bermulut besar.” Jawabnya menggertak.


“Kalian kok beraninya keroyokan ?” ucap Riska.


“Sudah Ris biarin saja, kamu minggir dulu saja. Biar aku bereskan dua pecundang ini.” kataku kemudian.


Riska pun menyingkir agak jauh dari kami, masih agak trauma dengan kejadian pas aku duel dengan Ari kemarin kayaknya.


“Kurang ajar kamu, masih berani bertingkah juga rupanya ?” bentak orang itu.


“Gak usah banyak bicara, siapa yang mau maju duluan atau keduanya sekalian biar cepat selesai urusan ini.” Jawabku sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan serangan mereka.


Dan benar saja salah seorang diantaranya langsung melompat dan mengarahkan tinjunya ke wajahku. Dari gerakanya ternyata dia memang punya jurus juga, kalau tidak salah dari PS macan Putih. Tapi geraknya juga masih kaku, mungkin juga pemula batinku.


Dan dengan cepat aku tangkap pergelangan tangan nya dan langsung aku banting ke tanah. Sementara yang satunya sebelum menyerang aku langsung memberikan hadiah tendangan ke perutnya tepat di bawah pusarnya. Sehingga dia langsung jatuh tertunduk menahan sakit di perutnya.


Sementara satunya yang tadi aku banting hendak bangkit, langsung pinggangnya aku berikan tendangan juga sampai terguling beberapa meter ke samping.


Orang itu tidak dapat bangun, hanya meringis kesakitan. Saat aku hendak melangkah pergi tiba tiba aku jadi kaget, ternyata sudah banyak orang yang melihat perkelahian tadi. Sehingga mau tidak mau aku ditahan dulu untuk di interogasi. Karena di situ juga ada beberapa orang yang berpakaian seragam keamanan, mungkin keamanan taman tersebut. Aku pasrah ketika digelandang ke sebuah Pos untuk di Interogasi…!!!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reders...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2