
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Jafar dan Sidiq membawa Farayaka...
“Wa’alaikummussalaam…Jafar, kok kamu malah ke sini ?” tanya Sidiq Heran. Farayaka dan anak buahnya pun bengong melihat Sidiq dan Jafar yang bagai pinang dibelah dua tersebut.
“Itu Jafaro kembaran kamu ya ?” tanya Farayaka, yang menyebut Jafar dengan Jafaro.
Jafar hanya tersenyum, karena Jafar lebih paham jika Farayaka masih kental dengan logat Jepangnya.
“Iya aku Jafar dan itu kakakku Mas Sidiq namanya,” jawab Jafar.
“Owh nama kamu Masidiqu ?” tanya Farayaka pada Sidiq.
“Iya,” jawab Sidiq dari pada bingung menjelaskan.
“Sudah, perkenalannya nanti dilanjutkan lagi. Ada hal yang lebih penting obati Kano lebih dulu,” kata Kyai Nurudin.
“Kenapa bisa sampai ada yang terluka begitu Kang Nurudin ?” tanya Kyai Syuhada.
“Aku tadi terlambat mengikuti mereka Kang, aku merasakan akan hadirnya Raja Khodam jadi aku berhenti sesaat,” jawab Kyai Nurudin.
“Memang, tanda tanda kehadirannya sudah semakin dekat. Tadi sudah bisa melakukan serangan dari jauh dan hampir mengenai Jafar juga,” Jawab Kyai Syuhada.
“Pantas, tadi begitu kuat aku merasakan auranya,” kata Kyai Nurudin.
Kemudian Kyai Nurudin menceritakan pertemuannya dengan Sidiq dan rombongannya, yang sudah kembali dari Markas Ki Marto. Saat itu Gundolo Sosro meski tidak secara langsung. Hanya efek benturan dengan ilmu Lembu Sekilan, yang dipadukan dengan jurus Hijaiyah Sidiq.
“Jafar, kalau masih punya wudhu gunakan Stambul Al-Quran untuk mengobati orang itu,” ucap Kyai Syuhada.
“Iya Bah,” jawab Jafar.
Kemudian, Jafar pun mendekati Kano yang terbaring pingsan. Jafar memejamkan mata sebentar dan saat membuka mata sudah terpampang Ayat ayat Al-Quran yang berisi dan fadhilah sebagai Syifa ( obat ). Jafar pun kemudian meminta air putih sebagai media doa untuk obat.
Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin ikut mendampingi, dan membimbing Jafar dalam mengobati Kano. Setelah selesai Jafar menyerahkan air putih yang sudah dibacakan Doa tersebut kepada Farayaka.
“Tolong air putih ini, dioleskan kepada teman kamu Nona Farayaka,” ucap Jafar.
“Apa aku bisa, kamu saja sekalian,” jawab Farayaka.
“Maaf, karena saya laki-laki dia perempuan jadi tidak boleh,” jawab Jafar.
Akino saudara Ikano yang terluka menjelaskan pada Farayaka, jika Agama yang dianut Jafar melarang bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan. Farayaka mengangguk angguk, kemudian memerintahkan Akino yang melakukan.
Akino pun segera mengolesi tubuh Ikano saudaranya tersebut. Sementara Jafar dan lainya menyingkir karena Akino mau membuka pakaian Ikano.
….
“Sabar, mereka memang memiliki tradisi dan keyakinan yang berbeda dengan kita,” ucap Kyai Syuhada.
“Iya Bah, Jafar Paham kok,” jawab Jafar.
“Bagaimana tadi perjalanan di pantai selatan ?” tanya Kyai Nurudin.
“Sepertinya Ki Marto gagal Moksa dan berubah jadi Jenglot. Itu bahaya jika jika Jenglot itu jatuh pada kedua muridnya yang lain,” jawab Kyai Syuhada.
“Berarti itu akan menjadi tantangan bagi kalian berdua kelak, Jafar dan Sidiq..!” ucap Kyai Nurudin.
“Iya Bah,” jawab Sidiq dan Jafar kompak.
Kedua kakak beradik itu sudah sepakat, untuk tetap bahu membahu dalam meneruskan perjuangan Yasin ayah mereka.
“Maaf tuan sudah selesai, tuan diharap masuk kembali Kano sudah sadar,” ucap Akino.
Sidiq dan Jafar bersama kedua Kyai itu pun segera melihat kondisi Kano.
“Kamu pemuda hebat, aku berhutang nyawa padamu,” Ucap Kano dengan pelan.
“Sama sama, Aku yang berterima kasih karena sudah dibantu menangkap mereka,” Jawab Sidiq.
__ADS_1
“Maaf, apakah sudah disinggung soal Pedang Simbol Klan kalian ?” tanya Jafar.
“Sudah, tadi aku berjanji mengajak mereka ke rumah untuk menyerahkan Pedang tersebut,” Jawab Sidiq.
“Nanti saya yang akan ikut bersama Farayaka, karena Kano masih sakit,” kata Akino.
“Kalau begitu, kami pulang dulu biar selanjutnya menjadi urusan Jafar dan Sidiq,” ucap Kyai Syuhada.
Kemudian Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin mengajak Jafar dan Sidiq keluar. Jafar dan Sidiq menerima beberapa pesan dari Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin, sebelum keduanya meninggalkan tempat tersebut.
“Terutama kamu Sidiq, jangan sampai tergoda oleh kecantikan Farayaka. Kalau perlu ajak dia ke jalan yang baik. Klan yang dia bawa itu keliru jalan,” ucap Kyai Nurudin.
“Iya Bah, Insya Allah Sidiq akan berusaha,” jawab Sidiq.
“Jafar juga, kalian berdua harus bahu membahu dan saling bekerja sama,” sambung Kyai Syuhada memberi wejangan kepada kedua anak Yasin tersebut.
Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin pun segera meninggalkan Sidiq dan Jafar. Mereka menuju ke pondoknya masing masing. Dua Kyai yang memiliki Ilmu ‘Nglipet Bumi’ dalam satu langkah tahu tahu sudah berada di Pondok Pesantren masing masing.
…..
“Bagaimana, apakah aku bisa mengambil Pedang Klan kami itu ?” tanya Akino.
“Bisa, jadi siapa yang akan ikut ke rumah kami ?” tanya Jafar.
“Saya dan Farayaka,” jawab Akino.
“Kamu gak khawatir dengan keadaan Kano ?” tanya Sidiq.
“Aku percaya dengan Suzuma dan Gina Ayumi,” jawab Akino.
“Kita berangkat sekarang, takut kesorean,” ucap Sidiq.
“Mas bilang jangan memakai pakaian terbuka begitu kalau ke rumah,” bisik Jafar.
“Nanti saja biar ayah yang bilang, aku gak bisa bilangnya,” jawab Sidiq berbisik.
“Malu lah dilihat orang di jalan kita berjalan dengan wanita pakainya seperti itu,” Ucap Jafar pelan.
“Udah gapapa, di jalan yang lebih terbuka juga banyak,” jawab Sidiq sekenanya.
“Maaf, apa kalian tadi mendengar pembicaraanku dengan Adikku Jafar ?” tanya Sidiq yang heran melihat penampilan Farayaka dan Akino yang berpakaian rapat. Dengan Busana khas Jepang. Tidak seperti sebelumnya pakaian mini yang sedikit terbuka.
“Tidak, kami memang berpakaian seperti ini jika ada urusan penting,” jawab Akino.
“Gak usah ditanya Mas, malah jadi gak enak,” ucap Jafar.
“Ini pakaian tradisi kami, tidak jadi kenapa kan ?” tanya Farayaka.
“Iya, gapapa malah bagus begitu kalau disini lebih sopan tertutup semua begitu,” ucap Jafar.
“Ini namanya Kimono, pakaian tertua di negeri kami sana. Kamu suka Masidiqu ?” tanya Farayaka.
“jangan pakai Mas Sidiq saja,” protes Sidiq.
“Tadi kata Jafaro nama kamu Masidiqu,” jawab Farayaka.
“Terserah kamu saja lah,” jawab Sidiq.
Jafar hanya tersenyum melihat Sidiq jadi salah tingkah, karena persepsi yang salah Farayaka.
“Iya gapapa memang ini Mas Sidiq namanya,” Goda Jafar.
Sidiq jadi sewot digoda adiknya begitu. Sementara Farayaka mengambil tas kain sebagai bawaan wanita. Demikian juga Akino, mereka melangkah pergi menuju ke rumah Sidiq dan Jafar.
Jafar meminta Akino dan Farayaka berjalan di belakang Sidiq dan Jafar. Untunglah Akino dan Farayaka hanya nurut tidak banyak tanya. Sepanjang jalan pun Jafar menggoda Sidiq, dan mengatakan jika Farayaka lebih cantik dari Riska. Sehingga Sidiq jadi agak kesal dengan Jafar. Karena membandingkan Riska pacarnya dengan Farayaka.
“Buat kamu aja, kalau kamu mau,” kata Sidiq.
“Bukan begitu Mas, Jafar jadi ingat pesan Bah Nurudin tadi. Kamu gak boleh tergoda kecantikan Farayaka. Kan yang disebut Mas Sidiq bukan aku,” jawab Jafar.
“Gak lah, kamu jangan begitu. Baru juga semalam kita bicarakan tentang itu,” jawab Sidiq.
“iya iya, bercanda kali Mas. Tapi tetap harus ingat pesan abah guru kita berdua tadi,” ucap Jafar.
Candaan Sidiq dan Jafar yang begitu akrab itu pun menjadi pusat perhatian Farayaka. Yang Hampir menginjak usia Tujuh Belas tahun. Farayaka sedikit ada ketertarikan pada keduanya, itu membuat Farayaka sampai tek berkedip memandangi Sidiq dan Jafar.
“Kalian lucu, suka sekali melucu,” ucap Farayaka.
__ADS_1
Sidiq dan Jafar jadi kaget, Farayaka berkomentar seperti itu.
“Gak kok, biasa saja kami memang akrab dari kecil,” Jawab Sidiq.
“Aku mau jadi pasangan kalian,” ucap Farayaka.
Sidiq dan Jafar jadi sangat terkejut, hal itu dirasa tabu oleh Sidiq dan Jafar yang belum paham maksud Farayaka tersebut. Sidiq dan Jafar pun jadi lebih banyak Diam takut Farayaka semakin membuat mereka jadi salah tingkah. Sampai tak terasa mereka pun hampir sampai di rumah orang tuanya.
…..
…..
…..
Di tempat lain, Gagak Seta dan Jaladara berada di padepokan Asli Ki Munding Suro, Mereka sedang berbincang bincang seputar gurunya Ki Munding Suro.
“Bagaiman dengan Guru dan kakang Wiratmojo, Apakah perlu kita cari ?” tanya Gagak Seta pada adiknya Jaladara.
“Baru semalam Jaladara mimpi Kakang,” jawab Jaladara.
“Mimpi apa ?” tanya Gagak Seta.
“Mimpi disuruh mengambil Jimat batara Karang,” jawab Jaladara.
“Dimana kita harus mengambilnya ?” tanya Gagak Seta.
“Apakah Kakang Wiratmojo tidak dikasih tau guru lewat mimpi ?” tanay balik Jaladara.
“Selama inikan Kamu , yang lebih dekat dengan guru,” Jawab Jaladara.
“iya Kakang, tapi aku pikir kali ini kakang juga dikasih tahu,” ucap Jaladara.
“Tidak, Kakang tidak dikasih tahu apapun,” Jawab Gagak Seta.
“Kita disuruh menyusuri pantai selatan, ada dua batara Karang di sana. Kakang Wiratmojo tak kuat membawa. Sehingga kita yang disuruh memakai untuk kekuatan ilmu karang kita,” jawab Jaladara.
Akhirnya keduanya pun sepakat untuk mengikuti petunjuk lewat mimpi Jaladara tersebut. Mereka segera berangkat saat itu juga.
“Kalau sudah mendapatkan Batara Karang, tujuan pertamaku mengajak Duel dengan kedua bocah itu,” Ucap Gagak Seta.
“Aku juga kakang, kita berdua ajak mereka bertempur satu lawan satu saja,” sahut Jaladara.
Dalam perjalanan pun mereka memutuskan, jika Gagak Seta akan melawan Sidiq dan Jaladara akan melawan Jafar. Kedua murid Ki Mnding Suro tersebut sudah siap menguji Batara Karang dan ilmu karang di pantai laut selatan nanti.
“Aku yakin bisa kalahkan anak Yasin yang besar Jika sudah menguasai Batara Karang dan Ilmu karang yang sempurna,” ucap Gagak Seta.
“Iya Kakang, Batara Karang akan memperkuat ilmu karang kita nanti. Dendam kita akan terbalaskan, kita akan kuasai dunia persilatan,” sahut Jaladara.
... Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Rekomendasi Novel :
__ADS_1