Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Peran Sidiq dan Jafar


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Untung Ponco dan Yasin segera Tiba.


“Ponco gunakan senjata mu bantu Steve, aku lumpuhkan yang dari belakang Steve kamu lumpuhkan yang dari depan Steve.” Ucap Yasin. Dengan cepat menghunus goloknya, namun begitu melihat Steve sudah sangat terdesak Yasin segera melempar doble stiknya lagi ke arah salah satu Lady Ninja hingga terjatuh.


Dan itu mengurangi kekuatan yang mendesak Steve, dan Yasin juga Ponco serempak menyerang lady Ninja yang ada. Sehingga mereka berpencar meninggalkan Steve, untuk menghadapi Yasin dan Ponco.


“Steve….! Segera ke planning ke tiga….!” Ucap Yasin memberi kode Steve untuk melepaskan anak dan Istrinya….!!!   


Steve sudah faham maksut Yasin dan segera berlari untuk membebaskan anak istrinya. Sementara Yasin dan Ponco bertempur melaan beberapa Lady Ninja yang tersisa. Ponco berhasil merobohkan beberapa Lady Ninja dengan jurus andalanya yang mampu mematahkan tulang lawan. Demikian juga Yasin yang dengan sabar mencari kelemahan lawan lawanya dan merobohkan lawan lawannya.


 Tak berapa lama kemudian terdengar ledakan ke tiga. Steve yang sudah berhasil melepaskan anak istrinya segera mengajak mereka kabur untuk kembali ke tempat semula. Sementara Yasin dan Ponco masih menahan beberapa Lady Ninja yang hendak menghalangi Steve dan anka istrinya.


Yasin memberi kode kepada Ponco untuk segera menyusul Steve sambil menahan Lady Ninja yang hendak mengejar Steve. Ponco dan Yasin bergerak mundur sambil menahan serangan Lady Ninja yang masih tersisa. Mereka tidak bermaksut menghabisi para Lady Ninja tersebut. cukup menyelamatkan anak istri Steve saja.


Dan Steve sudah berhasil keluar dari ruangan kemudian berlari menuju ke tempat mereka masuk tadi. Dengan bimbingan Steve anak istrinya sudah berhasil keluar dari pagar tembok markas tersebut. namun masih ada seorang Lady Ninja yang mengawasi Steve dan melemparkan senjata rahasianya ke  arah Steve.


Steve yang tidak konsentrasi terkena senjata itu di bagian punggungnya. Istri Steve Mitsuga menjerit melihat Steve terjatuh dari tembok pagar tersebut. Sebuah senjata berbentuk bintang enam yang runcing, menembus kulit dan daging punggung Steve.


Untunglah Steve adalah seorang yang kuat, sehingga segera bangkit dan melepas senjata Rahasia yang menancap di punggungnya. Dan bersamaan dengan itu, Sidiq yang sudah stay di dalam mobil segera menghampiri Steve.


“Masuk ke mobil om…!” ucap Sidiq menghentikan mobilnya tepat di samping keluarga Steve.


“Ajak anak istriku dulu, masih ada orang yang mengejar tadi.” Ucap Steve.


Sidiq yang diam diam menyiapkan panah segera keluar memapah Steve dan menyuruh anak istri Steve masuk Mobil.


“Om masuk mobil dulu semuanya, biar Sidiq yang lihat kondisi. Sambil nunggu ayah juga.” Ucap Sidiq yang ikut masuk ke mobil dan mematikan mesin mobil. Kemudian Sidiq membuka sedikit kaca jendela mobil sambil bersiap mengarahkan anak panah. Berjaga jaga jika melihat ada orang tak dikenal datang.


Dan Lady Ninja yang melempar Steve dengan senjata Rahasia tadi pun Nampak mengejar Steve ke arah Mobil. Sidiq dengan agak gemetar membidik Lady Ninja itu yang memegang pedang dari dalam mobilnya . Kondisi mobil yang sudah di matikan dan juga lampu mobil juga dimatikan membuat Lady Ninja yang mengejar Steve tidak menyangka. Jika ada anak panah yang mengarah ke dirinya. Dan Sidiq melepaskan anak panah tersebut .


Sleeeep…


Anak panah meluncur kencang dan mampu menembus pangkal lengan Lady Ninja tersebut. dan membuat Pedang nya terlepas. Sebuah jeritan mengiringi lepasnya pedang tersebut. Namun Lady Ninja itu cukup kuat, meski pangkal lengannya tertembus anak panah. Dia masih mengejar ke arah mobil dengan memegang senjata lain sebuah trisula dengan tangan kirinya.


Steve yang melihat itu kemudian bangkit  hendak menyambut lady Ninja tersebut. Steve tidak akan membiarkan Sidiq menghadapi Lady Ninja tersebut.


“Menyingkirlah sebentar, aku masih sanggup menghadapi Ninja itu. bawa pergi anak istriku menjauh dulu dari sini.” Ucap Steve.


Sidiq pun mengikuti perintah Steve, menjalankan mobilnya menjauh sementara dari tempat itu.


“Terimakasih nak, jangan cepat cepat bawa mobilnya.” Ucap Mitsuga istri Steve.


“Iya tante, tapi kita harus menjauh dulu bahaya.” Jawab  Sidiq. Yang merasa aneh dengan dialek Mitsuga. Meski dengan bahasa Indonesia tapi dialeknya terdengar asing.


“Sejak kapan kamu bawa mobil bisa setir ?” tanya Mitsuga.


“Sejak kelas lima SD, tapi sama ayah gak boleh di jalan raya dulu.” Jawab Sidiq.


Setelah agak jauh Sidiq menghentikan mobilnya dan mengawasi Steve yang sedang bertempur dari jarak jauh.


Terlihat dua orang yang sama sama sedang terluka itu sedang bertempur. Steve dengan pisau kembar, dan lengan dan punggung terluka. Sementara Lady Ninja itu dengan Trisula dan lengan kanan tertembus anak panah yang masih menempel.


Meski sama sama terluka namun keduanya tampak bertempur tanpa kenal takut dan rasa sakit. Sehingga pertempuran yang sengit kembali terjadi. Putaran pisau kembar milik Steve beberapa kali hampir menambah jumlah luka Lady Ninja tersebut. namun demikian Lady Ninja itu masih mampu menghindar dan menangkis serangan Steve dengan Trisulanya.


Darah dari kedua orang yang bertempur itupun semakin banyak keluar karena jantung memompa lebih cepat akibat gerakan mereka.


Lambat laun makin terlihat Steve yang lebih unggul Stamina dan kekuatannya. Sehingga tak lama kemudian Trisula Lady Ninja tersebut ikut terlepas. Sebuah sayatan panjang melukai lengan kiri Lady Ninja tersebut. Steve yang sudah kehilangan kesabaran  hampir saja mengakhiri pertempuran itu dan berniat menusuk dada kiri Lady Ninja tersebut dengan pisau kembarnya.


Namun sebuah senjata Rahasia berhasil menghentikan Steve. Senjata rahasia Ninja mengenai pisau kembar Steve hingga terlempar jatuh. Dan Steve segera berpaling melihat siapa yang telah melempar dia.


Ternyata seorang Lady Ninja juga, yang penutup bagian wajahnya terbuka sehingga Nampak wajahnya. Dan dia adalah Yukimoto. Steve kaget melihat kehadiran Yukimoto yang secara tiba tiba tersebut.


“Apakah dia dari menculik keluarga Zain ?” ucap Steve dalam hati.


Perlahan lahan Yukimoto berjalan mendekat ke arah Steve. Dan Steve pun siap menghadapi Yukimoto, meski dia dalam keadaan terluka, dan sudah banyak mengeluarkan darah.


Mitsuga yang melihat itu hendak keluar untuk membantu suaminya yang terluka. Namun di cegah oleh Sidiq.


“Jangan Tante, itu justru berbahaya bisa mengganggu konsentrasi suami Tante.” Ucap Sidiq.


Mitsuga pun menghentikan niatnya untuk keluar dari mobil. Sidiq hanya berharap ayahnya dan Ponco segera datang untuk membantu Steve yang sudah banyak terluka. Doa Sidiq pun terkabulkan, tak berapa lama kemudian Yasin dan Ponco sudah tampak berjalan mendekati Steve. Yasin dan Ponco berjalan cukup santai, Sidiq berpikir berarti aman. Karena ayahnya hanya berjalan dengan santai saat keluar dari markas Ninja tersebut.


Sehingga Sidiq menjalankan mobilnya mendekati Steve dan yang lainya. Kedatangan Sidiq bersama anak istri Steve membuat Lady Ninja tersebut kaget, melihat tawanannya sudah lepas.


Dari penerangan Mobil yang di kendarai Sidiq tampak jelas wajah Yukimoto yang penutup wajahnya terbuka itu. dan akhirnya semua bisa melihat bahwa Yukimoto pun terluka dalam. Tampak dari bibir dan hidungnya habis mengeluarkan darah yang sudah mongering. Dan beberapa kali Yukimoto memegangi dadanya yang terasa sakit.


“Apakah Ninja itu terkena Lebur saketinya Khotimah ?” kata Yasin dalam hati.


“Kalo benar begitu, berarti dia tadi beneran hendak menculik keluargaku. Kurang ajar itu Rahardian, harus diberi pelajaran.” Batin Yasin.

__ADS_1


“Kau… kita tentukan klan mana yang lebih unggul diantara kita…!” ucap Yukimoto kepada Steve.


“Kita sama sama terluka, aku masih siap bertempur. Tapi kamu kayaknya sudah tak kuat lagi bertahan lebih lama.” Ucap Steve membalas ucapan Yuki.


Namun bukan seorang Ninja namanya jika menyerah begitu saja pada orang yang dianggap lawan. Maka Yuki pun segera mencabut pedang katana nya dan mengajak Steve bertempur sampai salah satu diantaranya mati.


Yasin dan yang lainya tidak berkata apapun, karena itu urusan pribadi keduanya. Namun Yasin ingin tahu apakah Yuki dari rumahnya hendak menculik keluarganya.


“Tunggu dulu,,,, Nona…! Apakah kamu tadi hendak menculik keluargaku juga atas perintah Rahardian ?” tanya Yasin.


Yukimoto yang mendengar ucapan Yasin menghentikan langkahnya untuk menyerang Steve.


“Kamu… ?!?” ucap Yuki tertahan seperti menahan sakit yang amat sangat.


“Kamu punya anak yang hebat, tapi jangan ganggu urusanku dengan dia.” Jawab yuki kemudian.


Yasin jadi bingung, apakah Ninja ini terluka karena Jafar anaknya, batin Yasin. Tapi bagaimana mungkin, anak sekecil Jafar bisa mengalahkan seorang Lady Ninja sekelas Yukimoto. Yasin menjadi bertambah penasaran apa yang terjadi di rumahnya.


“Apa maksut kamu, apa kamu terluka oleh anak ku ?” tanya Yasin lagi.


“Yukimoto sudah tampak kesulitan untuk menjawab pertanyaan Yasin. Bahkan terlihat langkahnya menjadi sempoyongan. Meski masih memegang pedangnya, namun jelas sekali kaki Yuki gemetar hebat dan tiba tiba Yuki jatuh pingsan dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Pedang Yuki terlepas, kemudian Steve memeriksa keadaan Yukimoto.


“Dia menghirup racun buatan nya sendiri, jadi tenaganya melemah dan seperti terkena pukulan keras di dadanya.” Ucap Steve.


“Menghirup racun sendiri ? maksutnya bagaimana ?” tanya Yasin.


“Tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia terkena racun yang biasa digunakan Ninja untuk melemahkan lawan lawannya. Kecil kemungkinan ada Ninja lain yang menyerang dia, jadi kemungkinan terbesar dia terkena racunnya sendiri.” Ucap Steve.


“Kalo begitu, ikat saja dia kita segera pulang aku kuatir dengan keadaan rumahku.” Kata Yasin.


“Betul, pantas dia tadi tidak Nampak, berarti dia mau menculik keluarga Zain.” Ucap ponco yang hendak mengikat Yukimoto sebagai tawanan.


“Periksa semua sakunya, dia pasti menyimpan senjata. Kalo hanya diikat biasa sangat mudah untuk dia melepaskan diri saat sudah sadar.” Ucap Steve. Kemudian mengambil semua senjata rahasia, dari yang dikantong di kaos kaki sampai di lipatan baju yang digunakan.


Setelah itu Ponco mengikat Yukimoto dengan bimbingan Steve dengan cara mengikat musuh ala Ninja. Dengan simpul khusus, yang apabila tangan dan kaki bergerak hendak melepasakan justru akan mencekik lehernya karena gerakannya.


Akhirnya Yukimoto dapat di tawan dalam keadaan pingsan dan di bawa ke rumah Yasin.


*****


Flashback di rumah Yasin.


Setelah kepergian Yasin, Fatimah segera meminta adik sepupunya Khotimah datang kerumahnya. Fatimah meminta Khotimah datang sendirian tidak mengajak anak dan suaminya. Dengan pertimbangan agar bisa menghadapi kemungkinan jika ada musuh datang. Karena kalo dengan Candra suami Khotimah atau anaknya justru malah jadi repot nantinya.


Dan saat Khotimah datang Fatimah segera menceritakan apa yang terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi malam nanti. Sehingga Khotimah pun bersiap diri untuk membantu keluarga kakak sepupunya itu. dan saat itu, Nisa dititipkan ke rumah Arum yang paling dekat dengan rumah Yasin, karena Nisa lah yang paling mungkin di incar. Dan mereka belum tahu rumah Arum dan Rofiq.


“Jafar, kamu hati hati ya nak. Meski kamu sering dilatih yuyut, tapi kamu kan masih anak anak.” Ucap Khotimah kepada Jafar.


Mereka pun segera mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan. Dan Jafar meminta disiapkan beberapa cermin bahkan dalam jumlah yang cukup banyak. Juga minta disediakan kipas angin yang kencang untuk persiapan sesuatu yang mungkin terjadi.


Baik Fatimah maupun Khotimah agak janggal dengan permintaan Jafar tersebut. buat apa cermin yang banyak dan kipas angin  kencang itu, pikir Fatimah dan Khotimah. Namun keduanya ingat Jafar adalah anak Yasin yang cerdik dan juga didikan Yuyut. Mereka hanya mengikuti saja apa permintaan Jafar.


Setelah semua permintaan Jafar disediakan, Jafar pun tampak sibuk menempatkan cermin di beberapa titik. Bahkan hampir di setiap sudut dipasang cermin oleh Jafar. Dan cukup lama Jafar memutar mutar cermin tersebut. bahkan beberapa kali Jafar membenahi letak cermin yang di pasangnya tersebut.


Fatimah dan Khotimah yang awalnya hanya diam tak lagi mampu menahan rasa penasaran mereka.


“Buat apa cermin cermin itu Jafar ?” tanya Fatimah bundanya Jafar.


Stelah merasa cukup barulah jafar menjelaskan apa maksutnya memasang banyak cermin di beberapa titik tersebut.


“Bunda, Bulek ikut Jafar ke ruang Mujahadah dulu yuk. Biar Jafar kasih tahu maksutnya.” Jawab Jafar.


Fatimah dan Khotimah saling berpandangan dulu sebelum mengikuti kata Jafar.


Sesampai di ruang Mujahadah, barulah jafar menjelaskan apa maksutnya memasang banyak cermin tersebut.


Jafar meminta Bunda dan buleknya melihat salah satu cermin yang di tempatkan Jafar di salah satu tempat. Kemudian Fatimah memandangi cermin tersebut, sementara Khotimah diminta Jafar melihat cermin yang lain. Keduanya menjadi kaget sekaligus takjub dengan akal Jafar. Anak yang selama ini dianggap pendiam tidak banyak bicara tersebut.


Fatimah memandang salah satu cermin yang ditunjuk  Jafar, dan yang tampak di cermin adalah pintu masuk halaman rumahnya. Sementara Khotimah memandang cermin yang satunya, yang tampak di cermin adalah keadaan belakang rumah mereka.


Ternyata Jafar menggunakan hukum pemantulan cermin untuk dapat mengawasi keadaan diluar rumah. Sehingga dapat memantau keadaan diluar rumah dari dalam rumah, bahkan di satu tempat bisa melihat depan dan belakang rumah sekaligus.


“Jafar kamu belajar dari mana bisa membuat seperti ini ?” Ucap Khotimah bangga dengan kecerdasan ponakannya tersebut.


“Jafar baca baca buku pencerminan dan pantulan bulek.” Jawab Jafar singkat.


Sementara Fatimah juga geleng geleng kepala melihat hasil karya anaknya tersebut.


“Kamu kayak bikin CCTV saja nak, tapi ibu bangga sama kamu. Masih kecil sudah secerdas ini nak, bunda saja gak kepikiran sama sekali. Bahkan ayah kamu saja pasti heran, karena dulu saja ayah kamu gak kepikiran bikin seperti ini.” ucap Fatimah.


“Iya ya mbak, padahal kita sudah menilai Ayah Jafar itu cerdas. Ternyata masih lebih cerdas anaknya, padahal waktu dulu juga butuh seperti ini waktu rumah ini di intai musuh.” Sahut Khotimah.


“Kalo CCTV kan mahal bunda, jadi Jafar bikin yang murah murah saja.” Ucap Jafar.


Fatimah dan Khotimah tak dapat menahan perasaan kagumnya pada Jafar. Dan Jafar pun mendapat pelukan dan kecupan hangat dari bunda dan buleknya yang sangat bahagia waktu itu.


Namun sayangnya, saat petang datang mereka harus bersiap untuk menghadapi musuh yang punya ilmu kanuragan tinggi. Sehingga suasana bahagia itu harus tertunda minimal beberapa saat sampai bahaya itu pergi.


Dan Setelah Sholat Maghrib, masing masing menjadi sedikit tegang. Membayangkan apakah benar akan ada orang yang berbuat jahat dirumah ini nanti. Dan Jafar pun segera mengajak bunda dan buleknya masing masing mengawasi cermin yang sudah di set sedemikian rupa oleh Jafar.


Fatimah mengawasi cermin yang memonitor depan rumahnya, sementara Khotimah mengawasi cermin yang memonitor belakag rumahnya.


“Lah kamu sendiri kok gak ikut ngawasin nak ?” ucap Fatimah sambil bercanda mengurangi ketegangan.

__ADS_1


“Jafar ngawasin atap rumah bunda.” Jawab Jafar sambil menunjukkan cermin yang di pegangnya.


“Mengawasi atap Rumah bagaimana ?” Tanya Fatimah.


Kemudian Jafar menunjukkan cara mengawasi atap rumah dengan cermin tanpa harus mendongak ke atas. Cermin di datarkan bagian yang untuk bercermin dihadapkan ke atas. Kemudian digerakan untuk mengawasi setiap titik atap rumah. Jika ada yang mau masuk dari atap bisa ketahuan dari cermin tersebut.


Sekali lagi, Fatimah dan Khotimah kagum dengan kecerdasan yang dimilik Jafar tersebut. Dan mereka kembali mengawasi keadaan sekitar rumah sesuai dengan cermin yang dihadapinya masing masing.


“Apa sudah ada yang mencurigakan bunda ?” tanya Jafar berbisik.


“Bunda belum lihat.” Jawab Fatimah ikut berbisik.


“Kalo Bulek ?” Tanya Jafar masih berbisik.


“Sebentar Jafar, itu orang apa bukan  bulek agak ragu.” Ucap Khotimah juga berbisik.


Kemudian Jafar dan Fatimah ikut memandangi cermin yang dilihat Khotimah.


“Iya bulek, itu orang berpakaian serba Hitam dan menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.” Ucap Jafar.


“Owh Iya, itu yang sering disebut Ninja seperti dalam film film itu, beneran ada ternyata.” Ucap Fatimah agak gemetar.


“Awas orang itu bergerak, tidak terpantau di cermin lagi.” Ucap Khotimah.


“Orang itu sudah naik ke atap bulek, hati hati kalo orang itu nanti jatuh langsung diserang saja bulek.” Ucap Jafar.


“Jatuh, maksutnya jatuh bagaimana ?” tanya Khotimah.


“Kipas ini yang akan membuat dia jatuh bulek.” Jawab Jafar.


Fatimah dan Khotimah justru semakin tidak mengerti dengan maksut Jafar. Atau dengan kata lain mereka belum bisa mengikuti arah pemikiran Jafar, yang beberapa langkah di depan pemikiran mereka.


Jafar terus menggerakkan cermin yang di pegangnya, dan dari cermin itu tampak Lady Ninja itu mencoba membuka salah satu genting diatas mereka sedikit agak ke timur. Kemudian Jafar mengarahkan kipas besar yang ditidurkan dilantai menghadap ke atas. Bersiap menghidupkan dengan memasukkan ke terminal di rol kabel yang sudah disiapkan. Sementara  posisi saklar kipas sudah pada posisi on, dan pada level kecepatan tertinggi.


Kemudian Jafar melihat Lady Ninja itu meniupkan sesuatu yang mengeluarkan asap tipis yang semakin lama semakin banyak dan bergerak lambat turun ke  arah Jafar dan lainya. Setelah dirasa sudah banyak asap yang turun pelan pelan. Dengan cepat Jafar memasukan kabel penghubung kipas ke arus listrik pada rol kabel dibawahnya. Dan putaran kipas yang kencang itu meniup asap tipis beracun kembali ke pemiliknya dengan tiupan kencang. Sehingga sang penebar asap beracun itu pun kaget, dan tak dapat menghindari racunnya sendiri. Akibat  tiupan kencang dari kipas yang dinyalakan Jafar tersebut. Mau gak mau sang pemilik asap beracun itu pun harus mencicipi racunnya endiri. Dan seketika jadi terbatuk dan pening serta hilang keseimbangan. Sehingga Lady Ninja itupun harus terjatuh karena bergerak menginjak atap rumah Yasin pada bagian yang salah.


Lady Ninja tersebut Jatuh dan terbatuk mengisap racun miliknya sendiri. Dan saat  jatuh menimpa sebuah meja maka secepat Kilat Khotimah menyerang Lady Ninja tersebut yang berusaha bangkit dan kabur. Sehingga dada Lady Ninja tersebut terkena ajian Lebur saketinya Khotimah meski masih sempat kabur dengan segenap sisa sisa kekuatan yang di milikinya.


Dengan susah payah Yukimoto pun akhirnya bisa kabur dari rumah Yasin, meski pulang dengan tangan kosong dan terkena pukulan Khotimah serta menghirup racun miliknya sendiri.


Itulah yang terjadi di rumah Yasin, berkat kecerdikan Jafar tidak harus terjadi baku hantam dengan Lady Ninja tersebut. cukup dengan sekali pukulan dari Khotimah, Lady Ninja tersebut sudah KO dan lari terbirit birit.


Fatimah dan Khotimah sangat bersyukur,serta kembali menciumi Jafar dengan perasaan lega dan bahagia. Semua keluarga di rumah tidak ada yang terluka sedikitpun. Dan Penjahat berbahaya itu kabur, dengan tangan kosong bahkan terluka cukup parah.


Flashback Off


*****


“Dengan apa aku harus mengucapkan terimakasih kepada keluarga kamu Zain.” Tanya Steve.


“Tidak perlu, kita sudah impas sekarang. Kamu memberi  tahu bahwa keluargaku dalam bahaya. Aku anggap itu sebagai hutang, dan sekarang anggap saja aku bayar hutang ke kamu. Jadi di antara kita tidak ada lagi yang berhutang Steve.” Ucap Yasin datar.


“Owh iya, aku heran sama anak kamu yang sangat berani itu. tadi dia berhasil melukai satu Lady Ninja dengan Panahnya. Hebat anak kamu Zain, aku ingin ajari dia jurus boleh kan ?” tanya Steve.


“Boleh sih, tapi sebentar lagi anak ku akan masuk ke pesantren jadi gak tinggal di rumah lagi.” Jawab Yasin.


“Apa itu pesanteren ?”Tanya Mitsuga yang menyebut pesantren dengan pesan teren karena dialeknya.


“Tempat belajar agama bagi orang muslim seperti kami.” Jawab Yasin.


“Owh saya kira kuil atau pagoda.” Ucap Mitsuga.


“Ya Semacam itu, tapi kalo dalam Islam namanya Pesantren.Sidiq menepi sebentar…!” ucap Yasin tiba tiba kepada Sidiq.


Sidiq pun melambatkan laju mobilnya dan menepikan mobilnya dan berhenti.


“Iya yah…!” jawab Sidiq.


“Kamu ini, sudah di bilangin kalo di jalan raya belum boleh.  Sudah masuk jalan Raya diam saja, Mentang mentang ayah lupa mengingatkan…!” gerutu Yasin pada ulah kenakalan Sidiq.


“Maaf yah, Sidiq kira ayah dan lainya masih kelelahan atau masih sakit.” Jawab Sidiq berdiplomasi.


Yasin hanya berani menggerutu dalam hati, melihat Sidiq menahan senyum merasa bisa mengelabuhi ayahnya.


 Dan sesaat kemudian gantian Yasin yang menjalankan kemudi mobil tersebut. Baik Ponco Steve maupun Mitsuga hanya menahan tawa melihat percakapan dan candaan Ayah dan anak tersebut. meski merasa lucu tapi mereka tidak enak untuk tertawa, takut membuat Yasin makin memarahi Sidiq anaknya.


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2